Mereka Bicara Salafy & Wahabi

nGumpulin Tulisan Menyorot Salafy Wahabi

Dari Muhammad bin Abdul Wahab hingga Kerajaan Arab Saudi

Posted by bicarasalafy pada November 20, 2011

Dari Muhammad bin Abdul Wahab hingga Kerajaan Arab Saudi

SUMBER: http://salafyindonesia.wordpress.com

Pada tahun 1800 seluruh Jazirah Arab telah dikuasai. Dan keamiran pun berubah menjadi kerajaan Saudi Arabia. Untuk kesekian kalinya kita dibuat kagum sekaligus benci. Dua sikap psikologis itu beradu. Kita kagum karena lagi-lagi mayoritas muslim dapat menjaga persatuan dalam menghadapi imperialis Inggris yang berusaha menguasai berbagai wilayah-wilayah Arab.

Kita juga benci karena lagi-lagi Salafisme (Wahabisme edisi hard cover) memperagakan ‘teologi horor’ dengan mengusung jargon jihad, membajak kata ‘Ahlussunnah wal Jamaah’. Mazhab ‘kaca mata kuda’ –karena tidak melihat dan menganggap kelompok lain- ini didirikan Muhammad bin Abdul Wahab dari keluarga klan Tamim yang menganut mazhab Hanbali. Ia lahir di desa Huraimilah, Najd, yang kini bagian dari Saudi Arabia, tahun 1111 H [1700 M] masehi, dan meninggal di Dar’iyyah pada tahun 1206 H [1792 M.].

Ia sangat terpengaruh oleh tulisan-tulisan seorang ulama besar bermazhab Hanbali bernama Ibnu Taimiyah yang hidup di abad ke 4 M.. Untuk menimba ilmu, ia juga mengembara dan belajar di Makkah, Madinah, Baghdad dan Bashrah [Irak], Damaskus {Syria], Iran, Afghanistan dan India. Di Baghdad ia mengawini seorang wanita kaya. Ia mengajar di Bashrah selama 4 tahun. Ketika pulang ke kampung halamannya ia menulis buku yang kemudian menjadi rujukan kaum pengikutnya, “Kitabut’Tauhid“. Para pengikutnya menamakan diri mereka dengan sebutan kaum Al-Muwahhidun (para pengesa Tuhan). Seakan hanya kelompok itulah yang pengesa Allah secara murni tanpa terpolusi dengan kesyirikan. Sedang kelompok-kelompok lain yang tak sepaham mereka anggap sebagai kelompok pelaku syirik, bid’ah dan khurafat yang sesat.

Kemudian Muhammad bin Abdul Wahab pindah ke Uyaynah. Dalam khotbah-khotbah Jumat di Uyaynah, ia terang-terangan mengkafirkan semua kaum Muslimin yang dianggapnya melakukan bid’ah [inovasi], dan mengajak kaum Muslimin agar kembali menjalankan agama seperti di zaman Nabi. Di kota itu ia mulai menggagas dan meletakkan teologi ultra-puritannya. Ia mengutuk berbagai tradisi dan akidah kaum Muslimin, menolak berbagai tafsir Al-Qur’ân yang dianggapnya mengandung bid’ah atau inovasi. Mula-mula ia menyerang mazhab Syiah (di luar Ahlusunah), lalu kaum Sufi, kemudian ia mulai melanjutkan penyerangan terhadap kaum Ahlusunah secara keseluruhan dengan cara yang brutal. Dengan mengecap mereka dengan berbagai julukan buruk seperti Quburiyuun (pemuja kubur) dikarenakan mereka semua sepakat bahwa kuburan para nabi, rasul dan para kekasih Ilahi (Waliyullah) harus dihormati sesuai ajaran pendahulu (Salaf) yang sesuai dengan ajaran Rasul, para Sahabat setia beliau, juga para Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in.

Tatkala masyarakat mulai merasa seperti duduk di atas bara, Muhammad bin Abdul Wahab diusir oleh penguasa [amir] setempat pada tahun 1774. Ia lalu pindah ke Al-Dar’iyyah, sebuah oase ibu kota keamiran Muhammad bin Sa’ud, masih di Najd Tahun 1744. Di situlah Muhammad bin Abdul Wahab mendapat angin segar dalam menyebarkan ajaran sesatnya. Ia dihidupi, diayomi dan dilindungi langsung oleh sang Amir Dar’iyah, Muhammad bin Saud. Akhirnya Amir Muhammad bin Saud dan Muhammad bin ‘Abdul Wahab saling membaiat dan saling memberi dukungan untuk mendirikan negara teokratik dan mazhab Muhammad bin Abdul Wahab pun dinyatakan sebagai mazhab resmi wilayah kekuasaan Ibnu Saud. Dan Muhammad bin ‘Abdul Wahab akhirnya diangkat menjadi qadhi (hakim agama) wilayah kekuasaan Ibnu Saud. Hubungan keduanya semakin dekat setelah Ibnu Saud berhasil mengawini salah seorang putri Muhammad bin ‘Abdul Wahab.

Penaklukan dan pembantaian pun dilakukan, terutama terhadap kabilah-kabilah dan kelompok Ahlusunah yang menolak mazhab mereka (Wahaby), hingga terbentuklah sebuah emirat lalu diubah menjadi monarki dengan nama keluarga, Saudi Arabia, sejak tahun 1932 hingga kini.

Pada bulan April tahun 1801, mereka membantai kaum Syi’ah di kota Karbala’ (salah satu kota suci kaum Syiah di Irak). Seorang penulis Wahabi menuliskan: “Pengikut Ibnu Saud mengepung dan kemudian menyerbu kota itu. Mereka membunuh hampir semua orang yang ada di pasar dan di rumah-rumah. Harta rampasan [ghanimah] tak terhitung Mereka hanya datang pagi dan pergi tengah hari, mengambil semua milik mereka. Hampir dua ribu orang dibunuh di kota Karbala”.

Muhammad Finati, seorang muallaf Italia yang ikut dalam pasukan Khalifah daulah Usmaniyyah yang mengalahkan kaum Wahabi menulis : “Sebagian dari kami yang jatuh hidup-hidup ke tangan musuh yang kejam dan fanatik itu, dipotong-potong kaki dan tangan mereka secara semena-mena dan dibiarkan dalam keadaan demikian. Sebagian dari mereka, aku saksikan sendiri dengan mata kepala tatkala kami sedang mundur. Mereka yang teraniaya ini hanya memohon agar kami berbelas kasih untuk segera mengakhiri hidup mereka”.

Kabilah-kabilah yang tidak mau mengikuti mazhab mereka dianggap kafir, ‘yang halal darahnya’. Dengan demikian mereka (Wahaby) tidak dinamakan perampok dan kriminal lagi, tapi kaum ‘mujahid’ yang secara teologis dibenarkan membunuh kaum ‘kafir’ termasuk wanita dan anak-anak, merampok harta dan memperkosa istri dan putri-putri mereka yang dianggap sah sebagai ghanimah (rampasan perang). Hanya sedikit yang dapat melarikan diri.

Setelah lebih dari 100 tahun kemudian, kekejaman itu masih juga dilakukan. Tatkala memasuki kota Tha’if tahun 1924, mereka menjarahnya selama tiga hari. Para qadhi dan ulama diseret dari rumah-rumah mereka, kemudian dibantai dan ratusan yang lain dibunuh

Kerajaan Inggris membantu Wahabisme dengan uang, senjata dan keterampilan, sehingga kekuasaan Ibnu Saud menyebar ke seluruh jazirah Arab yang pada masa itu berada dalam kekhalifahan Usmaniyah dengan tujuan melemahkan khilafah itu. Jadi yang menggembosi kekuasaan daulah dan kekhalifahan Usmani adalah kelompok yang terkenal dengan sebutan Wahaby yang sekarang ini mengaku sebagai kelompok Salafy. Orang bisa membacanya dalam buku Hempher, ‘Confession of a British Spy’. Hampher seorang orientalis yang menjalin persahabatan dengan Ibnu Abdul Wahab. Tahun 1800 seluruh Jazirah Arab telah dikuasai dan keamiran berubah menjadi kerajaan Saudi Arabia.

Umumnya kaum intelektual dan ulama Ahlusunah – penganut 4 mazhab ‘resmi’ Hanafi, Syafi’i, Maliki dan Hanbali– menganggap kaum Wahhabi, termasuk pendirinya, sebagai orang-orang yang berpikir sangat linier, literer sambil menolak metafoar [Majaz], sangat denotatif dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadis. Mereka menganggap mazhab selainnya (Wahaby) sebagai sesat dan menyesatkan dengan berpatokan pada hadis: “Kullu bid’ah dhalaalah wa kullu dhalaalah fî n-naar”. (semua inovasi itu sesat dan semua yang sesat itu masuk neraka). Kata “bid’ah” yang mereka tuduhkan hanyalah kata pelembut, untuk ‘kafir’, dan menganggap berziarah ke kubur termasuk kubur Nabi, tawassul, baca qunut, talqin, tahlil, istighatsah, berzikir berjamaah, membaca maulid diba’ ataupun burdah yang berupa puji-pujian pada Nabi yang biasa dilakukan kaum Muslimin adalah sebagai bid’ah, dan pelakunya akan masuk neraka, alias kafir. Dari sinilah akhirnya kaum Wahaby yang mengaku sebagai pengikut Salafy ini layak diberi gelar “Kelompok Takfir” (jama’ah takfiriyah), kelompok yang suka mengkafirkan golongan lain yang tidak sepakat dengan ajarannya.

Oleh karena itu, tempat-tempat bersejarah Islam seperti rumah tempat lahir Nabi, rumah Ummul Mu’minin Khadijah tempat tinggal Nabi dan banyak tempat-tempat bersejarah lain yang masuk wilayah kerajaan Arab Saudi kini telah dihancurkan. Kalau tidak mendapat protes dari segenap kaum Muslimin sedunia niscaya kuburan Nabi pun sudah diratakan dengan tanah, sebagaimana yang terjadi di makam para sahabat dan syuhada’ Uhud di Baqi’ (Madinah) dan para keluarga Rasul di Ma’la (Makkah).

Di Indonesia, misalnya, kaum Nahdhiyyin (NU) ‘kebingungan’, karena kaum Wahabi ‘membajak’ atribut Ahlussunnah Wal Jamaah, padahal istilah ini yang biasa dipakai oleh penganut keempat mazhab Sunnah; mazhab Syafi’i, Hanbali, Hanafi dan Maliki. Akhir-akhir ini mereka ikut-ikutan memakai jubah dan serban seperti yang dikenakan kaum Nahdhiyin. Walau demikian, sangat mudah untuk melihat tanda-tanda zahir dari kelompok tersebut. Mereka suka mesyirikkan dan membid’ahkan kelompok muslim lainnya. Dari sisi penampilan pun mereka mempunyai ciri khas sendiri. Selain suka mencukur rambut kepala, mereka juga berlomba dalam masalah panjang-panjangan jenggot dan tinggi-tinggian celana bahkan bisa sampai ke pertengahan betis.

Belakangan ini kita sering mendengar berita tentang eskalasi kekerasan di Saudi Arabia, termasuk penghancuran pipa minyak yang dilakukan oleh kaum fundamentalis Wahhabi, yang disebut-sebut sebagai tempat kelahiran Al-Qaeda. Bin Laden sang ketua al-Qaedah adalah seorang Wahabi tulen kelahiran Arab Saudi. Ia dibesarkan dan dijadikan anak angkat oleh CIA – USA. Konon anak angkat itu kini telah menjadi anak durhaka terhadap ibu angkatnya, USA. Bidan yang melahirkan wahabisme adalah kekuatan Imperialis Inggris, dan kini menjadi ‘kartu as’ pemerintahan biadab USA untuk menciptakan perpecahan dalam tubuh umat Islam. Nampaknya, skenario keji ini mulai menunjukkan hasil yang menggembirkan bagi USA dan kekuatan anti Islam lainnya ketika isu-isu tentang ancaman perang saudara di Irak menjadi headline seluruh media Barat yang diikuti secara ‘latah’ oleh media-media Indonesia. Jadi antara Inggris (pembonceng Zionis di Tim-Teng), keluarga Saud, Wahabisme dan USA (sekutu Inggris dan Israel) adalah mata rantai yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karenanya tidak terlalu mengherankan jika Wahaby selalu menghamba terhadap kerajaan Saudi. Dan sementara keluarga Saudi selalu  bertekuk lutut di hadapan USA saudara kembar Inggris (penyokong kekuasaan keluarga Saud) dalam banyak masalah, termasuk memberi dukungan secara sembunyi-sembunyi terhadap Zionisme Internasional dan turut membenci negara-negara yang anti Israel. Hal itu karena Israel mendapat dukungan penuh dari USA dan Inggris.

Wallahu A’lam

8 Tanggapan to “Dari Muhammad bin Abdul Wahab hingga Kerajaan Arab Saudi”

  1. Ana said

    Semoga kita berada dlm jalan yng dibenarkan islam,tdak seperti Wahabi yg jelas mengkafirkan sesama, pdal Allah melarang umatnya untuk mengkafirkan orang lain,karena sesungguhnya yang mengkafirkan justru kafir…

  2. […] Sejarah Faham Wahhabisme. […]

  3. Websitedada said

    Kni aku sedang menunggunya dan dia selalu akan aku tunggu walau setiap detik telah berlalu!

    Aku tak bisa hidup tanpa dia dan dia adalah pujaan hati ku yang terdalam!

    .

    Maka izinkanlah aku untuk bernyanyi!:

    “Aku ingin engkau selalu;
    Hadir dan temani aku;
    Di setiap langkah yang meyakiniku;
    Kau tercipta untukku.
    Meski waktu akan mampu;
    Memanggil seluruh raga ku;
    Ku ingin kau tahu ku selalu milik mu;
    Yang mencintaimu;
    Sepanjang hidup ku!”.

    “Aku inginkan dirimu;
    Datang dan temui aku;
    Kan ku katakan padamu;
    Aku sangat mencintai dirimu.
    Aku inginkan dirimu;
    Datang dan temui aku;
    Kan ku katakan padamu;
    Aku sangat mencinta!”.

    “Takkan pernah ada yang lain di sisi;
    Segenap jiwa hanya hanya untukmu;
    Dan takkan mungkin ada yang lain disisi;
    Ku ingin kau disini;
    Habiskan hidup ku bersamamu;
    Hingga akhir waktu!”.

    “Meskipun hatimu tak lagi;
    Menemani diriku ini;
    Aku bisa yakinkan;
    Cintaku takkan hilang.
    Sisa hati tetap ku simpan;
    Melewati ribuan malam;
    Aku bisa bertahan;
    Cintaku takkan hilang!”.

    “Biarkan waktu teruslah berputar;
    Mencintai kamu penuh rasa sabar;
    Meski sakit hati ini kau tinggalkan;
    Ku ikhlas tuk bertahan.
    Meninggalkan ku tanpa perasaan;
    Hingga ku jatuhkan air mata;
    Kekecewaanku sungguh tak berarah;
    Biarkan ku harus bertahan.
    Jangan pernah kau coba untuk berubah;
    Tak relakan yang indah hilanglah sudah;
    Jangan pernah kau coba untuk berubah;
    Tak relakan yang indah hilanglah sudah!”.

    “Tak pernah terfikir olehku;
    Tak sedikitpun ku bayangkan;
    Kau akan pergi tinggalkan ku sendiri.
    Begitu sulit ku bayangkan;
    Begitu sakit ku rasakan;
    Kau akan pergi tinggalkan ku sendiri!”.

    “Andai bisa ku mengulang waktu hilang dan terbuang;
    Andai bisa ku kembali hapus semua pedih;
    Andai mungkin aku bisa kembali tulus padanya;
    Tapi hidup takkan bisa meski dan air mata!”.

    “Detik waktu terus berjalan;
    Berhias gelap dan terang;
    Suka dan duka, tangis dan tawa;
    Tergores bagai lukisan.
    Seribu mimpi berjuta sepi;
    Hadir bagai teman sejati;
    Diantara lelahnya jiwa;
    Dalam resah dan air mata;
    Ku persembahkan kepadamu;
    Yang terindah dalam hidupku.
    Meski ku rapuh dalam langkah;
    Dan tak setia kepadamu;
    Namun cinta dalam jiwa hanyalah padamu.
    Ma’afkanlah bila hati;
    Tak sempurna mencintaimu;
    Dalam dada ku harap hanya dirimu yang bertahkta!”.

    .

    Sampai detik ini, dia tetep belum kembali kepadaku dan belum bersama aku lagi.

    Namun aku akan tetap setia menunggunya, dan aku akan selalu mendoakan agar dia cepat-cepat kembali kepadaku lagi seperti sedia kala!

    Semoga Allah yang maha pengabul doa, mau secepatnya mengabulkan doa ku ini, karena aku sudah tidak tahan lagi ingin secepatnya bersama dia kembali dan menghilangkan segala keresahan didalam batin ku!

    Amin!

  4. mau nanya nih, sp aj nih ulamanya wahabi?

  5. iman said

    wahai saudaraku… hati2 dlm berkata,engkau mencerca seorang ulama,siapa dirimu di bnding beliau.???? jngan termakan oleh takiyahnya orang2 syi’ah laknatullahalaih,atau pendistorsian sejarah oleh orang2 orientalis,atau fitnahnya kaum zindik,penulis blog ini hanya manusia pendengki yg tidak faham kedudukan dirinya di antara mereka,mereka telah berjuang sedang anda???? hanya duduk manis sambil makan buah dan bertelekan di atas dipan kemudian mengambil ayat alqur’an dan menafsirkan seenak perutnya yg bodong penuh sampah dunia dengan menjual agamanya…

    • irfan syahroni said

      Wahai saudaraku…kalian berdua yang hati-hati.
      yang sunni menuduh wahabi sesat. yang wahabi menuduh selain golongan mereka sesat. padahal sama-sama mu’min (bersaksi tiada tuhan selain ALLAH dan Muhammad utusan ALLAH) bagaimana orang yang benar-benar tidak mu’min ??? yang menyekutukan ALLAH, tidak Percaya Muhammad Utusan ALLAH ????. mari ummat islam, bersatulah, jangan saling meng kafirkan.

      wallahu a’lam

  6. Abu lebay said

    Buat iman

    Sudah baca sejarah islam??????? Saran saya bacalah sejarah versi siapapun jangan pilih2 itu biar wawasan anda luaaassssssss…..tapi ingat bacanya jangan nafsu yaaaa….

  7. Eel said

    tulisan ini akan lebih bermutu jika disertai dengan rujukan yang jelas.🙂
    Wallahu muwaafiq ilaa aqwaamith thariiq.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: