Mereka Bicara Salafy & Wahabi

nGumpulin Tulisan Menyorot Salafy Wahabi

J Algar (SP) Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza: Apakah Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami Seorang Sahabat Nabi SAW?

Posted by bicarasalafy pada April 24, 2011

Apakah Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami Seorang Sahabat Nabi SAW?

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran

Di tulis Oleh: J Algar (SP)

Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami adalah seorang yang diperselisihkan status persahabatannya dan diperselisihkan sanad-sanad hadisnya. Sebagian ulama mengatakan ia sahabat Nabi dan sebagian yang lain menolak status persahabatannya. Satu-satunya hadis yang diriwayatkan olehnya adalah hadis Ru’yatullah dimana Nabi SAW melihat Allah SAW dengan sebaik-baik bentuk di dalam mimpi. Dalam pembahasan sebelumnya kami telah membuktikan bahwa hadis Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami tersebut mudhtarib. Oleh karena itu pendapat yang rajih dalam hal ini adalah Ia bukan seorang sahabat Nabi dan hadisnya mudhtharib.

Sebagian orang yang bersikeras mempertahankan keshahihan hadis “Melihat Allah SWT dalam sebaik-baik bentuk di dalam mimpi”Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami seorang sahabat. menolak bahwa hadis tersebut mudhtharib dan menyatakan bahwa Orang tersebut berhujjah dengan hadis-hadis yang menurutnya menjadi bukti persahabatan Ibnu ‘Aaisy karena dalam hadis-hadis tersebut terdapat lafaz “mendengar langsung dari Rasulullah SAW” atau lafaz yang menyiratkan pertemuan Ibnu ‘Aaisy dengan Nabi SAW.

Hujjah orang tersebut adalah hujjah yang batil bahkan tidak bernilai hujjah karena hadis-hadis yang dimaksud tidaklah tsabit sebagai bukti persahabatan Ibnu ‘Aaisy Al Hadhrami. Kami akan membahas hadis-hadis tersebut dan membuktikan bahwa satu-satunya hadis yang dimiliki Ibnu ‘Aaisy Al Hadhrami adalah hadis ru’yah yang mudhtharib. Sebelum memasuki pembahasan hadis-hadis tersebut, kami akan mengulas sedikit mengenai bagaimana seorang perawi itu dinyatakan oleh ulama sebagai Sahabat Nabi. Seorang ulama tidaklah bertemu langsung dengan sahabat Nabi sehingga pernyataan mereka bukanlah hujjah yang mutlak akan persahabatan seorang perawi dengan Nabi SAW. Sehingga hujjah ulama juga perlu dinilai dengan kritis. Ada beberapa cara yang digunakan ulama diantaranya

  • Melalui kabar yang mutawatir baik dari kitab hadis maupun kitab sirah seperti para sahabat besar yaitu Ali, Abu Bakar, Umar, Utsman, Thalhah dan yang lainnya.
  • Melalui kabar shahih baik dalam hadis maupun sirah, disini bisa sahabat itu sendiri yang meriwayatkan hadis langsung dari Nabi SAW atau kesaksian sahabat lain bahwa orang tersebut adalah sahabat Nabi SAW.
  • Melalui kesaksian seorang tabiin tsiqat yang meriwayatkan langsung dari sahabat tersebut.

Seandainya seorang perawi diperselisihkan status persahabatannya maka yang harus dilakukan adalah menilai dasar-dasar yang digunakan oleh ulama tersebut. Apa dasarnya ulama yang menetapkannya sebagai sahabat dan apa dasarnya ulama yang menolak status persahabatannya. Dasar dan hujjah yang kuat itulah yang kita jadikan pegangan bukannya taklid semata terhadap perkataan ulama dan seenaknya menafikan ulama lain yang menyelisihinya.

Jika kita memperhatikan dengan cermat, Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami tidak disebutkan baik dalam kitab hadis maupun kitab sirah kecuali dari hadis yang ia riwayatkan. Tidak ada keterangan sejarah mengenai kehidupannya baik tahun lahir maupun tahun wafat . Satu-satunya bukti keberadaan dirinya adalah hadis yang ia riwayatkan sendiri yaitu hadis Nabi SAW melihat Allah SWT dalam sebaik-baik bentuk di dalam mimpi. Oleh karena itu satu-satunya cara mengetahui persahabatannya dengan Nabi SAW adalah dengan menilai hadis yang diriwayatkannya Apakah tsabit atau tidak.

Kami telah katakan bawa satu-satunya hadis yang dimiliki Ibnu ‘Aaisy Al Hadrami  adalah hadis Ru’yah yang mudhtharib tetapi sebagian orang menolaknya dan mengatakan kalau Ibnu ‘Aaisy memiliki hadis-hadis lain sebagai bukti persahabatannya. Sayang sekali hadis yang mereka maksud tidak tsabit(kuat) milik Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami

.

.

Hadis-hadis Yang Dinisbatkan pada Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhramy

Hadis Pertama Ibnu ‘Aaisy
Hadis pertama yang dijadikan hujjah persahabatan Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami adalah hadis yang dikutip Ibnu Hajar dalam Al Ishabah 4/324 no 5152 biografi Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Nu’aim Al Ashbahani dalam Ma’rifat As Shahabah no 1886

حدثنا محمد بن أحمد بن الحسن ثنا محمد بن عثمان بن أبي شيبة  ثنا أبي  ثنا أبو معاوية  عن سهيل  عن أبيه  عن عبد الرحمن بن عائش  قال  قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  من نزل منزلا  فقال  أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق ، لم ير في منزله ذلك شيئا يكرهه حتى يرتحل عنه  قال سهيل  قال أبي  فلقيت عبد الرحمن بن عائش في المنام  فقلت له  حدثك النبي صلى الله عليه وسلم هذا الحديث ؟ قال  نعم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah dari Suhail dari Ayahnya dari Abdurrahman bin ‘Aaisy yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa yang singgah di suatu tempat kemudian mengucapkan ‘Aku berlindung dengan Kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa-apa yang diciptakanNya’ maka tidak ada sesuatu yang ia benci di tempat itu sampai ia meninggalkannya”. Suhail berkata “Ayahku berkata ; Aku bertemu Abdurrahman bin ‘Aaisy di dalam mimpi kemudian aku bertanya ‘Apakah Nabi SAW menceritakan hadis ini kepadamu?’. Ia menjawab “benar”.

Hadis ini baik dari segi sanad maupun matannya tidak dapat dijadikan hujjah persahabatan Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami. Dari segi matannya hadis ini tidak menunjukkan adanya pendengaran langsung dari Rasulullah SAW, di hadis ini lafaz hadis tersebut “Abdurrahman bin ‘Aaisy berkata Rasulullah SAW bersabda”. Lafaz qala qala ini adalah lafaz yang tidak menunjukkan pendengaran langsung [dimana seorang tabiin bisa memursalkan hadis dengan lafaz ini]. Sedangkan pernyataan Abdurrahman bin ‘Aaisy di akhir hadis kalau Nabi SAW menceritakan hadis tersebut kepadanya berasal dari mimpi Abu Shalih dan mimpi tentu tidak bisa menjadi hujjah.

Dari segi sanadnya [terlepas dari kontroversi kedudukan salah satu perawinya] hadis ini bukanlah milik Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami. Abu Shalih As Saman tidak meriwayatkan hadis dari Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami. Dalam Tahdzib Al Kamal 17/202 no 3864 Al Mizi berkata tentang Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami

روى عنه خالد بن اللجلاج وربيعة بن يزيد وأبو سلام الأسود

Telah meriwayatkan darinya Khalid bin Al Lajlaaj, Rabi’ah bin Yazid dan Abu Sallam Al Aswad.

Sebenarnya yang meriwayatkan dari Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami hanyalah Khalid Al Lajlaaj dan Abu Sallam Al Aswad sedangkan Rabi’ah bin Yazid tidak tsabit meriwayatkan dari Abdurrahman bin ‘Aaisy [sebagaimana yang akan dijelaskan nanti]. Kedua perawi tersebut [Khalid dan Abu Sallam] meriwayatkan hadis Abdurrahman bin ‘Aaisy  yaitu hadis ru’yah dimana jika dikumpulkan periwayatan mereka akan tampak adanya idhthirab (kekacauan). Tidak ada keterangan yang menyatakan bahwa Dzakwan Abu Shalih As Saman [Ayahnya Suhail] meriwayatkan hadis dari Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami baik dalam biografi Ibnu ‘Aaisy atau biografi Dzakwan dalam Tahdzib Al Kamal 8/513-514 no 1814.

Hadis ini sebenarnya bukan milik Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami tetapi milik Ibnu ‘Aaisy Al Juhani. Ibnu Makula dalam Al Ikmal 6/19 telah membedakan Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami dengan Ibnu ‘Aaisy Al Juhani. Ia menyebutkan

ابن عائش الجهنى له صحبة روى عن النبي صلى الله عليه وسلم روى حديثه سهيل بن أبى صالح عن أبيه عن ابن عائش

Ibnu ‘Aaisy Al Juhani seorang sahabat, meriwayatkan dari Nabi SAW, hadisnya diriwayatkan oleh Suhail bin Abi Shalih dari Ayahnya dari Ibnu ‘Aaisy.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Daruquthni dalam Al Mu’talif Wal Mukhtalif 2/156, ia menulis keterangan tentang Ibnu ‘Aaisy Al Juhani tepat setelah menyebutkan keterangan tentang Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami. Daruqutni berkata

ابن عائش الجهني له صحبة روى حديثه سهيل بن أبي صالح عن أبيه عن ابن عائش واختلف فيه

Ibnu ‘Aaisy Al Juhani seorang sahabat hadisnya diriwayatkan oleh Suhail bin Abi Shalih dari Ayahnya dari Ibnu ‘Aaisy, padanya ada perselisihan.

Abu Nu’aim melakukan kekeliruan dalam kitabnya Ma’rifat As Shahabah. Abu Nu’aim mencampuraduk perawi yang bernama Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami dan Ibnu ‘Aaisy Al Juhani. Abu Nu’aim menganggap keduanya adalah satu orang yang sama. Dalam Ma’rifat As Shahabah no 1886 ia menyatakan

عبد الرحمن بن عائش الحضرمي وقيل الجهني يعد في الشاميين مختلف في صحبته وفي سند حديثه

Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadrami dikatakan juga Al Juhani termasuk penduduk Syam, diperselisihkan status persahabatannya dan dalam sanad hadisnya.

Padahal Ibnu ‘Aaisy Al Hadhrami dan Ibnu ‘Aaisy Al Juhani adalah dua orang yang berbeda. Sehingga para ulama ketika menuliskan keterangan tentang mereka menempatkannya dalam tempat yang berbeda.

  • Adz Dzahabi menuliskan nama Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami dalam Tajrid Asma As Shahabah 1/350 no 3712[dimana ia berkata “diperselisihkan persahabatannya”] dan menuliskan nama Ibnu ‘Aaisy Al Juhani dalam Tajrid Asma Shahabah 2/214 no 2473.
  • Ibnu Atsir dalam Usudul Ghabah 3/479 menyebutkan biografi Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami [dimana ia berkata “tidak shahih kalau ia sahabat”] kemudian dalam Usudul Ghabah 6/360 menyebutkan keterangan tentang Ibnu ‘Aaisy Al Juhani.
  • Ibnu Nashiruddin Ad Dimasyq dalam Taudhih Al Musytabih 6/37 juga membedakan kedua orang ini Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadrami dan Ibnu ‘Aaisy Al Juhani.

.

.

Hadis Kedua Ibnu ‘Aaisy
Hadis kedua yang dijadikan hujjah untuk membuktikan persahabatan Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami adalah hadis yang disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya Al Ishabah 4/324 no 5152. Ibnu Hajar berkata

وروينا في الذكر للفريابي من طريق إسماعيل بن جعفر أخبرني سهيل بن أبي صالح عن أبيه عن بن عائش أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من قال حين يصبح لا إله إلا الله وحده لا شريك له الحديث وفيه فكان ناس ينكرون ذلك ويقولون لابن عائش لأنت سمعت هذا من رسول الله صلى الله عليه وسلم قال نعم فأرى رجل ممن كان ينكر ذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم في المنام فقال يا رسول الله أنت قلت كذا وكذا فقص عليه حديثه فقال صلى الله عليه وسلم صدق بن عائش

Diriwayatkan dalam Adz Dzikr Al Faryabi dengan jalan Ismail bin Ja’far yang berkata telah mengabarkan kepadaku Suhail dari Ayahnya dari Ibnu ‘Aaisy bahwa Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa yang membaca di waktu pagi ‘Tidak ada Tuhan selain Allah dan tiada sekutu bagi-Nya –al hadis-. Dan orang-orang mengingkari hal itu, mereka berkata kepada Ibnu ‘Aaisy “Apakah kamu mendengar hadis ini dari Rasulullah?”. Ia menjawab “benar”. Kemudian seorang laki-laki dari kalangan mereka melihat Rasulullah SAW di dalam mimpi, ia berkata “Wahai Rasulullah apakah anda berkata begini begitu dan ia menyebutkan hadisnya. Rasulullah SAW menjawab “Ibnu ‘Aaisy benar”.

Hadis ini juga sebenarnya bukan milik Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami. Ibnu ‘Aaisy yang dimaksud dalam hadis ini adalah Abu ‘Ayyasy Az Zuraqi. Ia seorang sahabat dan hadis yang dikutip oleh Ibnu Hajar itu sebenarnya telah disebutkan dalam Sunan Abu Dawud 2/741 no 5077 dan Sunan Ibnu Majah 2/1272 no 3867, berikut lafaz Abu Dawud

حدثنا موسى بن إسماعيل ثنا حماد ووهيب نحوه عن سهيل عن أبيه عن ابن أبي عائش وقال حماد عن أبي عياش أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ” من قال إذا أصبح لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير كان له عدل رقبة من ولد إسماعيل وكتب له عشر حسنات وحط عنه عشر سيئات ورفع له عشر درجات وكان في حرز من الشيطان حتى يمسي وإن قالها إذا أمسى كان له مثل ذلك حتى يصبح ” قال في حديث حماد فرأى رجل رسول الله صلى الله عليه و سلم فيما يرى النائم فقال يارسول الله إن أبا عياش يحدث عنك بكذا وكذا قال ” صدق أبو عياش ” قال أبو داود رواه إسماعيل بن جعفر وموسى الزمعي وعبد الله بن جعفر عن سهيل عن أبيه عن ابن عائش

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad dan Wuhaib seperti itu dari Suhail dari Ayahnya dari Ibnu Abi ‘Aaisy dan Hammad berkata dari Abi Ayyasy bahwa Rasulullah SAW bersabda barang siapa membaca di waktu pagi “Tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Maka orang tersebut akan mendapatkan pahala seperti memerdekakan budak dari keturunan Isma’il, akan dituliskan sepuluh kebaikan untuknya, akan dihapus darinya sepuluh dosa, dan dinaikkan kedudukannya sepuluh derajat. Dia juga akan dijaga dari setan hingga datang waktu sore. Jika pada waktu sore ia membaca doa itu maka ia akan mendapatkan yang seperti itu pula hingga datang waktu pagi.” Dalam hadits Hammad disebutkan, “Seorang laki-laki melihat Rasulullah SAW di dalam mimpi, kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah, Abu Ayyasy menceritakan tentangmu begini dan begitu!” Beliau bersabda: “Abu Ayyasy benar.” Abu Dawud berkata, ” Isma’il bin Ja’far, Musa Az Zam’i dan Abdullah bin Ja’far meriwayatkannya dari Suhail, dari Ayahnya, dari Ibnu ‘Aaisy.

Jika kita memperhatikan dengan baik maka sudah jelas Ibnu ‘Aaisy yang dimaksud disini adalah Abu Ayyasy Az Zuraqi bukannya Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami. Para ulama memasukkan hadis ini dalam biografi Abu Ayyasy Az Zuraqi seperti yang disebutkan Bukhari dalam Tarikh Al Kabir juz 3 no 1280. Dalam biografi Zaid bin Shamit Abu Ayyasy Az Zuraqi tersebut Bukhari juga menyebutkan hadis dengan sanad dengan nama Ibnu ‘Aaisy, artinya Bukhari mengakui kalau orang yang dimaksud Ibnu ‘Aaisy dalam hadis ini adalah Zaid bin Shamit Abu Ayyasy Az Zuraqi.

Anehnya Ibnu Hajar sendiri dalam Al Ishabah 7/295 no 10310 menyebutkan kalau Ibnu ‘Aaisy yang dimaksud dalam hadis ini adalah Abu Ayyasy. Ibnu Hajar berkata

أبو عياش وقيل بن عائش وقيل بن أبي عياش روى عن النبي صلى الله عليه وسلم من قال إذا أصبح لا إله إلا الله الحديث من رواية سهيل بن أبي صالح عن أبيه عنه أخرج حديثه أبو داود والنسائي وابن ماجة

Abu Ayyasy dikatakan juga Ibnu ‘Aaisy, dikatakan juga Ibnu Abi Ayasy meriwayatkan dari Nabi SAW  “barangsiapa yang di waktu pagi membaca “Tiada Tuhan Selain Allah-al hadis- . Ini riwayat Suhail bin Abi Shalih dari Ayahnya yang meriwayatkan darinya[Abu Ayyasy]. Hadis ini dikeluarkan oleh Abu Dawud, Nasa’i dan Ibnu Majah.

Hal yang sama [bahwa Abu Ayyasy disebut juga Ibnu ‘Aaisy] juga diungkapkan oleh Ibnu Hajar dalam At Tahdzib juz 12 no 895 biografi Abu Ayyasy Az Zuraqi dan dalam At Taqrib 2/446 dan disepakati oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth bersama Bashar Awad Ma’ruf dalam Tahrir At Taqrib no 8291. Jadi bisa dikatakan bahwa menjadikan hadis ini sebagai hujjah persahabatan Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadrami merupakan kecerobohan yang sangat dan tidak bernilai sama sekali.

.

.

Hadis Ketiga Ibnu ‘Aaisy
Hadis terakhir yang dijadikan hujjah bahwa Abdurrahman bin ‘Aaisy sahabat adalah hadis dalam Sunan Daruquthni no 2183 [tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth]. Hadis tersebut adalah hadis mauquf yang mengandung pernyataan bahwa Abdurrahman bin ‘Aaisy sahabat Nabi.

حدثنا أبو القاسم ابن منيع ثنا داود بن رشيد أبو الفضل الخوارزمي ثنا الوليد بن مسلم عن الوليد بن سليمان قال سمعت ربيعة بن يزيد قال سمعت عبد الرحمن بن عائش صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول

Telah menceritakan kepada kami Abu Qasim bin Mani’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Daud bin Rasyd Abu Fadhl Al Khawarizmi yang berkata telah menceritakan kepada kami Walid bin Muslim dari Walid bin Sulaiman yang berkata aku telah mendengar Rabi’ah bin Yazid berkata aku telah mendengar Abdurrahman bin ‘Aaisy  sahabat Rasulullah SAW mengatakan-al hadis-

Hadis ini juga tidak tsabit sanadnya ke Abdurrahman bin ‘Aaisy karena salah seorang perawinya yaitu Walid bin Muslim adalah seorang mudallis yang terkenal dengan tadlis taswiyah. Ibnu Hajar memasukkannya dalam Thabaqat Al Mudallisin no 127 pada martabat keempat. Sedangkan hadis di atas adalah riwayat ‘an ‘an ah Walid bin Muslim sehingga hadis tersebut sanadnya dhaif. Maka dari itu kami katakan hadis tersebut bukan milik Abdurrahman bin ‘Aaisy karena sanad tersebut tidak tsabit sampai kepadanya.

Lagipula hujjah persahabatan Ibnu ‘Aaisy dalam hadis ini hanya berdasarkan lafaz yang menyebutkan bahwa Abdurrahman bin ‘Aaisy adalah sahabat. Lafaz tersebut kemungkinan besar adalah tambahan dari Walid bin Muslim. Dalam pembahasan hadis ru’yah Ibnu ‘Aaisy, Walid bin Muslim adalah perawi yang masyhur dikenal meriwayatkan hadis ru’yah dengan lafal Ibnu ‘Aaisy mendengar langsung dari Rasulullah SAW. Tentu saja setelah mengetahui hadis ru’yah maka Walid bin Muslim beranggapan kalau Abdurrahman bin ‘Aaisy adalah sahabat Nabi sehingga ketika ia meriwayatkan hadis Daruquthni ia menambahkan lafaz “sahabat Rasulullah SAW”. Padahal hadis ru’yah yang dimaksud adalah hadis yang mudhtharib dan sumber mudhtharibnya adalah Abdurrahman bin ‘Aaisy maka tidak ada alasan menjadikan hadis yang mudhtarib sebagai hujjah persahabatan.

.

.

Hadis Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhramy Adalah Hadis Ru’yah Yang Mudhtarib

Satu-satunya hadis yang tersisa dan dikatakan sebagai milik Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami adalah hadis ru’yah yang terbukti mudhtarib. Hadis Abdurrahman bin ‘Aaisy ini memiliki tiga jalan sanad yang menunjukkan kekacauan periwayatannya yaitu

Abdurrahman bin ‘Aaisy mengaku mengambil hadis tersebut langsung dari Rasulullah SAW. Hadis tersebut diriwayatkan Al Ajuri dalam Asy Syari’ah no 1027, Sunan Ad Darimi 2/170 no 2149, Al Ilal Tirmidzi no 434, Mukhtasar Qiyamul Lail Muhammad bin Nashr Al Marwadzi 1/33 no 26, dan Mu’jam As Shahabah Al Baghawi hadis no 1924. Berikut sanad hadis tersebut dalam Al Ilal Tirmidzi no 434

حدثنا يحيى بن موسى حدثنا الوليد بن مسلم حدثني عبد الرحمن بن يزيد بن جابرحدثنا خالد بن اللجلاج قال حدثني عبد الرحمن بن عائش الحضرمي قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Musa yang berkata telah menceritakan kepada kami Walid bin Muslim yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Yazid bin Jabir yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Lajlaaj yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Aaisy Al Hadhramy yang berkata aku mendengar Rasulullah SAW

Walid bin Muslim diikuti oleh Hammad bin Malik, Walid bin Yazid, Isa bin Yunus dan yang lainnya dalam menegaskan penyimakan Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami. Mereka semua meriwayatkan dengan jalan sanad dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Abdurraman bin ‘Aaisy Al Hadrami. Walaupun begitu di hadis lain Khalid bin Al Lajlaaj meriwayatkan tanpa menegaskan sima’ nya Ibnu ‘Aaisy.

Abdurrahman bin ‘Aaisy mengaku mengambil hadis tersebut dari seorang sahabat Nabi SAW. Hadis tersebut diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dalam At Tauhid no 55 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 34/464 no 7069 dan Tarikh Dimasyq 34/465 no 7070. Berikut sanad hadis Ibnu Kuzaimah

ثنا أبو موسى محمد بن المثنى قال حدثني أبو عامر عبد الملك بن عمرو قال ثنا زهير وهو ابن محمد عن يزيد قال أبو موسى وهو يزيد بن جابر عن خالد بن اللجلاج عن عبدالرحمن بن عائش عن رجل من أصحاب النبي

Telah menceritakan kepada kami Abu Musa Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepadaku Abu Amir Abdul Malik bin Amru yang berkata telah menceritakan kepada kami Zuhair dan dia Ibnu Muhammad dari Yazid, berkata Abu Musa dia Yazid bin Jabir dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Abdurrahman bin ‘Aaisy dari seorang sahabat Nabi -secara marfu’-

Dalam hadis lain disebutkan pula kalau Abdurrahman bin ‘Aaisy mengambil hadis tersebut dari beberapa orang  sahabat Nabi. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Mandah dalam Radd Al Jahmiyah no 74 dan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad 4/66 no 16672 dan Musnad Ahmad 5/378 no 23258. Berikut sanad Ahmad bin Hanbal

ثنا أبو عامر ثنا زهير يعنى بن محمد عن يزيد بن يزيد يعنى بن جابر عن خالد بن اللجلاج عن عبد الرحمن بن عائش عن بعض أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم

Telah menceritakan kepada kami Abu Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Zuhair yakni bin Muhammad dari Yazid bin Yazid yakni bin Jabir dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Abdurrahman bin ‘Aaisy dari beberapa orang sahabat Nabi SAW –secara marfu’-

Abdurrahman bin ‘Aaisy mengambil hadis tersebut dari seorang tabiin yaitu Malik bin Yakhaamir dari Muadz bin Jabal secara marfu’. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi 5/368 no 3235, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 34/465-468 no 7071-7075,  Al Ilal Tirmidzi no 435 dan Musnad Ahmad 5/243 no 22162. Berikut sanad Ahmad

ثنا أبو سعيد مولى بنى هاشم ثنا جهضم يعنى اليمامي ثنا يحيى يعنى بن أبي كثير ثنا زيد يعنى بن أبي سلام عن أبي سلام وهو زيد بن سلام بن أبي سلام نسبه إلى جده أنه حدثه عبد الرحمن بن عائش الحضرمي عن مالك بن يخامر أن معاذ بن جبل قال

Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla Bani Hasyim yang berkata telah menceritakan kepada kami Jahdham yakni Al Yamami yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abi Katsir yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid yakni bin Abi Salam dari Abi Salam [dan dia Zaid bin Salam bin Abi Salam nasabnya bersambung kepada kakeknya] yang berkata telah menceritakan kepadanya Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami dari Malik bin Yakhaamir bahwa Muadz bin Jabal berkata –secara marfu’-.

Jika kita meringkas semua sanad hadis tersebut maka kita dapati tiga jalan sanad yaitu

  • Jalan Khalid bin Al Lajlaaj dari Abdurraman bin ‘Aaisy dari Rasulullah SAW
  • Jalan Khalid bin Al Lajlaaj dari Abdurrahman bin ‘Aaisy dari seorang atau beberapa sahabat dari Rasulullah SAW
  • Jalan Abi Salam dari Abdurrahman bin ‘Aaisy dari Malik bin Yakhaamir dari Muadz bin Jabal dari Rasulullah SAW

Siapapun yang mengenal ilmu hadis pasti mengetahui bahwa keadaan sanad yang seperti ini disebut mudhtarib yaitu kekacauan periwayatan yang tidak bisa dikompromikan. Aneh bin ajaib ada yang mau mengatakan bahwa ketiga sanad tersebut memang benar artinya Abdurrahman bin ‘Aaisy memang mendengar langsung dari Rasulullah juga dari sahabat dan juga dari tabiin. Tentu saja pernyataan ini muncul dari mereka yang tidak paham artinya idhthirab karena dengan logika mereka ini maka tidak akan ada yang namanya idhthirab. Contoh

  • Jika A meriwayatkan suatu hadis dari B kemudian ternyata
  • A meriwayatkan hadis yang sama dari C dari B dan ternyata
  • A meriwayatkan hadis yang sama dari D dari C dari B

Dengan logika aneh mereka maka Itu tidak akan dihukum idhthirab karena bisa saja A memang meriwayatkan dari B, C dan D padahal sangat ma’ruf inilah yang dikenal sebagai mudhtharib dalam ilmu hadis. Mereka berhujjah dengan perkataan “tidak semua idhthirab dhaif” karena ada kasus dimana seorang perawi mungkin meriwayatkan dengan banyak sanad. Ini termasuk kesesatan berpikir yang tidak bisa membedakan umum dan khusus. Ada orang yang ditangkap polisi karena mencuri terus temannya berkomentar “ah tidak setiap yang ditangkap pencuri itu benar-benar mencuri”. Apakah hanya dengan perkataan temannya itu maka orang tersebut bukan pencuri?. Perkataan teman tersebut jelas tidak memiliki makna apapun kecuali omongan basa basi yang bisa keluar dari mulut siapapun.

Nah begitu pula dengan logika mereka itu, kalau memang mereka ingin menyatakan bahwa idhthirabnya Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadrami itu tidak dhaif ya silakan dibawakan buktinya bukannya malah berbasa basi. Tunjukkan buktinya dan tidak perlu mengklaim atau menuduh orang lain mengklaim.

Mereka mau menganalogikan kasus tersebut dengan kasus riwayat Az Zuhri. Kalau mau menganalogikan dengan sesuatu maka carilah analogi yang tepat dan memang persis dengan kasus Ibnu ‘Aaisy bukannya kasus Az Zuhri dalam Shahih Muslim no 1691

وحدثني أبو الطاهر وحرملة بن يحيى. قالا: أخبرنا ابن وهب. أخبرني يونس. ح وحدثنا إسحاق بن إبراهيم. أخبرنا عبدالرزاق. أخبرنا معمر وابن جريج. كلهم عن الزهري، عن أبي سلمة، عن جابر ابن عبدالله، عن النبي صلى الله عليه وسلم، نحو رواية عقيل عن الزهري، عن سعيد وأبي سلمة، عن أبي هريرة

Telah menceritakan kepadaku Abu Thaahir dan Harmalah bin Yahyaa, mereka berdua berkata telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Wahb telah mengkhabarkan kepadaku Yuunus. Dan telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibraahiim telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdurrazzaaq telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar dan Ibnu Juraij. Mereka semua (Yuunus, Ma’mar, dan Ibnu Juraij) dari Az-Zuhriy, dari Abu Salamah, dari Jaabir bin ‘Abdillah, dari Nabi SAW -semisal riwayat ‘Uqail, dari Az-Zuhriy, dari Sa’iid dan Abu Salamah, dari Abu Hurairah.

Jika kita ringkas maka sanad ini adalah sebagai berikut

  • Az Zuhri dari tabiin [Abu Salamah] dari sahabat [Abu Hurairah]
  • Az Zuhri dari tabiin [Sa’id Al Musayyab] dari sahabat [Abu Hurairah]
  • Az Zuhri dari tabiin [Abu Salamah] dari sahabat [Jabir RA]

Muhammad bin Syihab Az Zuhri adalah seorang hafiz yang dikenal tsiqat dan ia meriwayatkan hadis ini dari dua orang tabiin yaitu Sa’id bin Al Musayyab dan Abu Salamah. Periwayatan Az Zuhri dari keduanya jelas diterima karena dua alasan

  • Az Zuhri seorang tsiqat dan tsabit [dikenal memiliki banyak guru] sehingga kesaksian ia meriwayatkan dari dua orang bisa diterima
  • Az Zuhri memang bertemu dengan Sa’id bin Al Musayyab dan Abu Salamah. Az Zuhri lahir antara tahun 50-75 H sedangakan Sa’id wafat setelah tahun 90 H dan Abu Salamah wafat tahun 94 H. Berdasarkan tahun lahir tahun wafat Az Zuhri mungkin untuk bertemu keduanya.

Begitu pula dengan Abu Salamah, ia adalah seorang tabiin yang memang dikenal meriwayatkan dari Abu Hurairah dan Jabir. Jadi sanad tersebut memang tsabit dan tidak mudhtharib.

Kasus Ibnu ‘Aaisy sangat berbeda dengan Az Zuhri. Tidak ada alasan kuat yang membuat periwayatan Ibnu ‘Aaisy harus diterima semuanya.

  • Ibnu ‘Aaisy tidak dikenal tsiqat dan ia tidak terbukti sahabat sehingga tidak ada alasan kalau semua periwayatannya harus diterima.
  • Apalagi tidak ada bukti dalam tarikh soal tahun lahir dan wafatnya sehingga kita tidak tahu apakah Ibnu ‘Aaisy memang bertemu baik dengan Rasulullah SAW, sahabat ataupun tabiin. Bisa saja disini ia berdusta, keliru atau ikhtilat soal periwayatannya.

Ada hal lain yang patut diperhatikan. Jika seorang sahabat telah mendengar suatu hadis langsung dari Rasulullah SAW maka sungguh aneh sekali ia perlu repot-repot untuk meriwayatkan hadis tersebut [hadis yang sama] dari sahabat apalagi dari tabiin. Bukan berarti kami menolak ada sahabat yang meriwayatkan dari tabiin tetapi masalahnya jika ia sudah mendengar hadis tersebut langsung dari Rasulullah maka tidak ada perlunya ia meriwayatkan hadis tersebut dari sahabat atau tabiin. Adanya periwayatan melalui tabiin atau sahabat justru menimbulkan keraguan soal ia mendengar langsung hadis tersebut dari Rasul SAW, dengan kata lain mungkin saja terjadi waham atau kekeliruan pada lafal “sami’tu”.

Analogi yang lebih tepat dengan kasus Ibnu ‘Aaisy adalah jika kasusnya seperti ini

  • Az Zuhri yang dimaksud terkadang meriwayatkan dari Abu Salamah atau Said bin Musayyab dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW
  • Az Zuhri terkadang meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW
  • Az Zuhri terkadang meriwayatkan dari Rasulullah SAW

Nah silakan saja kalau ada kasus seperti ini dan mau dihukumi tidak idhthirab. Mudhtharib atau tidak dilihat dari sanad hadisnya. Kalau suatu sanad memang terbukti mudhtarib maka tidak ada jalan untuk mengingkarinya, kecuali kalau memang bisa dibuktikan sanad tersebut bisa ditarjih atau dijama’.

.

.

.

Kekeliruan Ulama Yang Menetapkan Ibnu ‘Aaisy Shahabat

Hal aneh lain ada orang yang berhujjah bahwa Ibnu ‘Aaisy sahabat berdasarkan perkataan ulama yang berdalil dengan hadis Walid [lafaz sima’ langsung Ibnu ‘Aaisy]. Ini jelas cara berpikir yang keliru. Justru yang sedang kita permasalahkan adalah apakah riwayat Walid tersebut memang tsabit dan bisa diterima karena terbukti kalau Ibnu ‘Aaisy mengalami idhthirab?.

Sama halnya dengan kasus begini si A sedang berada di suatu rumah. Kemudian si B dan si C berdebat mengenai siapa pemilik rumah tersebut. Kata si B “siapa yang tinggal di sana?”. Si C menjawab “ya si A lah”. Si B bertanya “kamu tahu dari mana”. Si C menjawab “lha dia yang punya rumah itu”. Si B bertanya lagi “lho memangnya dia yang punya rumah itu?”. Si C menjawab “lha iya toh, kan dia yang tinggal di sana”. Wah wah muter-muter aja terus.

Mengapa hadis Ru’yah Ibnu ‘Aaisy tidak dikatakan mudhtharib?. Ya karena Ibnu ‘Aaisy  sahabat. Kok bisa Ibnu ‘Aaisy dikatakan sahabat?. Ya kan dari hadis Ru’yah yang ia dengar dari Rasul SAW. Lho bukannya hadis itu mudhtarib?. nggak dong kan Ibnu ‘Aaisy itu sahabat. Kok bisa Ibnu ‘Aaisy dikatakan sahabat?. Ya dari hadis Ru’yah yang ia dengar dari Rasul SAW. Mana bisa, hadis itu kan mudhtharib. Nggak dong kan Ibnu ‘Aaisy itu sahabat jadi hadis itu gak mudhtharib. Apa buktinya Ibnu ‘Aaisy sahabat?. Buktinya Hadis ru’yah itu yang ia dengar dari Rasul SAW. Hadis itu jelas mudhtharib. Gak lah Ibnu ‘Aaisy itu sahabat jadi gak mungkin mudhtharib. Kok bisa Ibnu ‘Aaisy dikatakan sahabat?. Terus berputar tanpa henti….

Tentu saja cara berpikir seperti ini tidak usah kita hiraukan, biarkanlah ia tenggelam dalam dunianya sendiri. Jika ia tidak mau menerima hujjah orang lain maka tidak perlulah kita memperhatikan apa yang dikatakannya. Ilmu itu tidak hanya banyak membaca tetapi juga berpikir dengan jernih dan logika berpikir yang baik. Banyak membaca tetapi logikanya gak beres ya tidak berguna juga kan. Kalau memang mau membuktikan suatu hadis tidak mudhtharib dengan alasan perawinya sahabat. Maka buktikan dulu kalau ia sahabat, dan kalau mau membuktikan ia sahabat jangan menggunakan hadis pertama yang justru ingin dibuktikan bahwa ia tidak mudhtharib. Hadis itu membutuhkan bukti agar ia tidak mudhtharib bukannya menjadi bukti. Inikan logika sirkuler yang menyesatkan.

Selain itu kami akan menanggapi pernyataan bahwa Ibnu ‘Aaisy itu adalah orang yang ma’ruf bukannya tidak dikenal. Pernyataan ini jelas keliru. Ibnu ‘Aaisy keberadaannya hanya dikenal dari hadis ini saja. Hal yang ma’ruf adalah statusnya yang diperselisihkan apakah sahabat atau tidak?. Mereka yang menetapkan ia sahabat hanya bersandar pada hadis ru’yah ini. Nah jika telah dibuktikan hadis tersebut mudhtharib maka tidak shahih statusnya sebagai sahabat dan jadilah ia sebagai orang yang tidak dikenal.

Mereka yang mengumpulkan sanad hadis Ibnu ‘Aaisy mengakui kalau hadis tersebut mudhtharib oleh karena itu mereka menolak status persahabatan Ibnu ‘Aaisy. Dalam hal ini ulama yang berpendapat bahwa Ibnu ‘Aaisy sahabat seperti Al Baghawi, Ibnu Qani’, Ibnu Sakan, Abu Nu’aim [Abu Nu’aim dalam Ma’rifat As Shahabah menyebutkan kalau ia diperselisihkan status persahabatannya] dan yang lainnya keliru karena mereka tidak mengumpulkan sanad-sanad hadisnya sehingga mereka tidak tahu kalau hadis tersebut mudhtharib.

.

.

.

Kritik Hujjah Ibnu Hajar Dalam Al Ishabah Yang Menetapkan Ibnu ‘Aaisy Shahabat

Tetapi ada juga ulama yang mengumpulkan sanad-sanadnya seperti Ibnu Hajar dalam Al Ishabah no 5152 dan disini Ibnu Hajar melakukan tarjih dengan menguatkan hadis sima’ langsung Ibnu ‘Aaisy dari Rasulullah yaitu hadis Walid. Kami katakan tarjih yang dilakukan Ibnu Hajar itu tidak benar dan terkesan dipaksakan.

Mengenai hadis Walid yang menegaskan Ibnu ‘Aaisy mendengar langsung dari Rasulullah SAW. Ibnu Hajar menolak pernyataan Ibnu Khuzaimah, Bukhari dan Tirmidzi bahwa lafal itu kesalahan Walid. Ibnu Hajar mengatakan bahwa Walid diikuti oleh yang lain seperti Walid bin Yazid, Hammad, Isa bin Yunus dan yang lainnya.

Kami katakan : Ibnu Hajar benar tetapi mereka semua tetap meriwayatkan dengan jalan dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Ibnu ‘Aaisy. Khalid bin Al Lajlaaj hanya ditsiqahkan oleh Ibnu Hibban. Khalid bin Al Lajlaaj dimasukkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat juz 4 no 2513 dan berkata “dia tergolong orang yang utama di zamannya”. Kami tidak menolak predikat ta’dil terhadap Khalid bin Al Lajlaaj tetapi jika Walid bin Muslim yang tsiqah saja bisa dikatakan salah oleh para ulama maka apalagi Khalid bin Al Lajlaaj yang hanya mendapat predikat shaduq dari Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/262. Tidak menutup kemungkinan Khalid bin Al Lajlaaj melakukan kesalahan dan jika bukan dia maka yang melakukan kesalahan adalah Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami sendiri.

Mengenai hadis dimana Ibnu ‘Aaisy mendengar dari seorang atau beberapa sahabat Nabi. Ibnu Hajar membuat keraguan dengan melemahkan salah seorang perawinya yaitu Zuhair bin Muhammad. Ibnu Hajar mengutip bahwa Zuhair bin Muhammad riwayatnya lemah jika yang meriwayatkan darinya penduduk Syam. Kami katakan : Tentu saja keraguan ini tidak bermakna karena dalam hadis ini yang meriwayatkan dari Zuhair bin Muhammad adalah Abdul Malik bin Amru dan dia bukan penduduk Syam melainkan penduduk Bashrah yang tsiqat [At Tahdzib juz 6 no 764]. Pada dasarnya Ibnu Hajar hanya mengutip Bukhari dan Ahmad yang berkata mengenai Zuhair bin Muhammad dalam At Tahdzib juz 3 no 645. Lengkapnya Bukhari berkata

قال البخاري ما روى عنه أهل الشام فإنه مناكير وما روى عنه أهل البصرة فإنه صحيح

Bukhari berkata “jika yang meriwayatkan darinya penduduk Syam maka terdapat banyak riwayat mungkar dan jika yang meriwayatkan darinya penduduk Bashrah maka riwayat itu shahih”.

Mengenai hadis dimana Ibnu ‘Aaisy meriwayatkan dari Malik bin Yakhaamir dari Muadz. Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadis ini diperselisihkan, ia mengutip hadis lain riwayat Musa bin Khalaf bahwa yang meriwayatkan dari Malik bin Yakhaamir adalah Abu Abdurrahman As Saksaki selanjutnya Ibnu Hajar mengutip pernyataan Ahmad bahwa hadis ini lebih shahih dan pernyataan Ibnu Sakan kalau Abu Abdurrahman As Saksaki bukanlah Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami. Intinya Ibnu Hajar mencoba untuk membuktikan bahwa riwayat Ibnu ‘Aaisy dalam hadis Muadz itu tidak tsabit dan yang benar adalah riwayat Abu Abdurrahman As Saksaki.

Kami katakan : perkataan Ibnu Hajar itu terlalu dipaksakan. Kami akan mencermati dua hal, yang pertama yaitu pernyataan bahwa hadis dengan lafaz Abu Abdurrahman As Saksaki itu shahih. Hadis tersebut sebenarnya diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir 20/109 no 216 dengan sanad berikut

حدثنا حفص بن عمر بن الصباح الرقي ثنا محمد بن سنان العوقي ثنا جهضم بن عبد الله اليمامي وحدثنا محمد بن محمد التمار البصري ثنا محمد بن عبد الله الخزاعي ثنا موسى بن خلف العمي [ قالا ] ثنا يحيى بن أبي كثير عن زيد بن سلام عن جده ممطور عن أبي عبد الرحمن السكسكي عن مالك بن يخامر عن معاذ بن جبل قال

Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar bin Ash Shabaah Ar Raqy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sinan Al Uuqy yang berkata telah menceritakan kepada kami Jahdham bin Abdullah Al Yamami. Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muhammad At Tammar Al Bashri yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah Al Khuza’i telah menceritakan kepada kami Musa bin Khalaf Al ‘Ammy. Keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abi Katsir dari Zaid bin Sallam dari kakeknya Mamthur dari Abi Abdurrahman As Saksaki dari Malik bin Yakhaamir dari Muadz bin Jabal yang berkata –secara marfu’-.

Jika kita memang harus mentarjih atau memilih salah satu antara hadis dengan nama Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami dan hadis dengan nama Abu Abdurrahman As Saksaki maka yang pertama jelas lebih shahih.

  • Mengenai jalan pertama Thabrani dari Jahdham bin Abdullah maka dalam sanadnya ada Hafsh bin Umar bin Ash Shaabah dia adalah seorang Syaikh shaduq yang dikatakan Ibnu Hibban “melakukan kesalahan” dan Abu Ahmad Al Hakim berkata “hadisnya tidak diikuti” [Lisan Al Mizan juz 2 no 1342]. Dalam hadis ini ia bertentangan dengan Muadz bin Hanii [tsiqah At Taqrib 2/193] dan Abu Sa’id maula bani Hasym [tsiqah Tahrir At Taqrib no 3918]  yang keduanya lebih tsiqah dari dirinya.
  • Mengenai jalan kedua Thabrani dari Musa bin Khalaf, Musa bin Khalaf adalah seorang yang shaduq hasanul hadis tetapi ia dikatakan juga tidak kuat oleh Abu Daud dan Daruquthni, didhaifkan oleh Ibnu Ma’in. Sedangkan Musa bertentangan dengan riwayat yang tsabit dari Jahdhaam bin Abdullah [Musnad Ahmad dan Sunan Timidzi] dimana ia seorang yang tsiqah [Tahrir At Taqrib no 982]
  • Kedua jalan Thabrani riwayat Jahdham dan Musa mereka meriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir dan Yahya meriwayatkan dari Zaid bin Sallam dengan an ‘an ah. Yahya disebutkan juga bahwa ia seorang mudallis martabat kedua dalam Thabaqat Al Mudallisin no 63. Sedangkan riwayat Ahmad yang menyebutkan nama Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami, Yahya meriwayatkan dengan lafal “tsana” sehingga riwayat Ahmad ini kedudukannya jelas lebih shahih dari riwayat Ath Thabrani.

Pada dasarnya kami tidak menolak riwayat Thabrani, bagi kami Abu Abdurrahman As Saksaki yang dimaksud dalam hadis ini adalah Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadrami seperti yang dikatakan Daruquthni dalam Al Ilal no 973. Walaupun Ibnu Hajar berhujjah bahwa kedua orang ini berbeda maka ia tidak bisa menafikan bahwa riwayat Muadz dengan nama Abdurrahman bin ‘Aaisy itu memang ada dan sanadnya sampai ke Ibnu ‘Aaisy itu memang shahih [ini hal kedua yang harus dicermati]. Jadi kita anggap ada dua orang yang meriwayatkan dari Malik bin Yakhaamir yaitu

  • Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami [riwayat Ahmad dan Tirmidzi]
  • Abu Abdurrahman As Saksaki [riwayat Thabrani]

Seandainya kedua orang ini berbeda maka apakah itu berarti hadis yang ada nama Ibnu ‘Aaisy menjadi bukan milik Ibnu ‘Aaisy tetapi milik As Saksaki?. Lha kan katanya dua orang itu berbeda maka hadis Ibnu ‘Aaisy ya tetap milik Ibnu ‘Aaisy dan tetap menunjukkan bahwa hadis Ibnu ‘Aaisy idhthirab. Apa yang dilakukan Ibnu Hajar itu terkesan dipaksakan, ia ingin melemahkan riwayat Muadz sehingga baginya yang tsabit hanya riwayat Walid bahwa Ibnu ‘Aaisy mendengar langsung dari Rasulullah. Dengan begitu maka Ibnu Hajar dapat menyingkirkan illat mudhtharib hadis tersebut. Padahal telah kami tunjukkan bahwa tarjih yang dilakukan Ibnu Hajar itu tidaklah benar. Riwayat tersebut tidak bisa dikompromikan atau dipilih salah satu, sehingga tetaplah ia sebagai mudhtharib.

Hadis Ru’yah Ibnu ‘Aaisy sudah jelas mudhtharib dan hadis ini tidak bisa dijadikan hujjah akan persahabatan Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami sehingga pendapat yang benar dalam hal ini Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami bukan sahabat Nabi SAW. Sebelum kami menutup pembahasan ini kami akan menampilkan para Ulama yang menyatakan bahwa Abdurrahman bin ‘Aaisy bukan sahabat Nabi [sebagai tambahan]

  • Al Bukhari menyatakan “Abdurrahman bin ‘Aaisy tidak bertemu dengan Nabi SAW” [ Al Ilal Tirmidzi no 435].
  • Abu Hatim berkata “keliru yang mengatakan ia sahabat” [At Tahdzib juz 6 no 417 dan Al Jarh Wat Ta’dil 5/262 no 1240]
  • At Tirmidzi berkata “ia tidak mendengar dari Nabi SAW” [At Tahdzib juz 6 no 417]
  • Ibnu Khuzaimah berkata “ia tidak mendengar dari nabi SAW” [At Tauhid no 54]
  • Abu Zur’ah berkata “ia tidak dikenal” [At Tahdzib juz 6 no 417 dan Al Jarh Wat Ta’dil 5/262 no 1240]
  • Ibnu Atsir berkata “tidak shahih kalau ia sahabat karena hadisnya mudtharib” [Usudul Ghabah 3/465]
  • Ibnu Abdil Barr berkata “tidak shahih kalau ia sahabat karena hadisnya mudhtharib” [Al Isti’ab 2/838]
  • Abu Sa’id Al  Alaiy memasukkan nama Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhramy dalam Jami’ Al Tahsil Fi Ahkam Al Marasil no 435 dan mengakui kalau hadisnya mudhtharib.
  • Al Hafiz Ala Ad-Din Ibnu Qalij menyatakan “tidak shahih kalau ia sahabat karena hadisnya mudhtharib” [Al Inabah Ila Ma’rifat Al Mukhtalaf Fiim Min As Shahabah no 666]
  • Syaikh Syu’aib Al Arnaut dan Bashar Awad Ma’ruf menyatakan “tidak shahih kalau ia sahabat” dan mereka juga menyebutkan kalau ia mastur [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 3911]

Dan diantara para ulama yang mengakui kalau hadis Ibnu ‘Aaisy dhaif karena mudhtharib adalah

  • Ad Daruqutni menyatakan “tidak shahih karena semuanya mudhtharib” [Al Ilal Daruquthni no 973]
  • Ibnu Jauzi menyatakan hadis Ibnu ‘Aaisy tersebut mudhtharib [Al Ilal Al Mutanahiyah kitab Tauhid hadis ke-13]
  • Muhammad bin Nashr Al Marwadzi menyatakan hadis tersebut mudhtharib dan tidak tsabit sanadnya di sisi orang-orang yang mengenal ilmu hadis [Mukhtasar Qiyamul Lail 1/33 no 26]
  • Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam tahqiqnya terhadap Musnad Ahmad telah menyatakan hadis Ibnu ‘Aaisy dhaif karena mudhtharib [Musnad Ahmad tahqiq Syaikh Al Arnauth no 16672, no 22162, dan no 23258]

Tentu saja mereka yang mengakui hadis tersebut mudhtharib akan mengakui bahwa hadis ini dhaif karena mudhtharib tersebut. Sebagai catatan terakhir kami katakan riwayat Ibnu ‘Aaisy ini tidak akan naik derajatnya dengan hadis-hadis lain semisal hadis Simmak bin Harb karena terdapat perbedaan yang mendasar pada kedua lafaz hadis tersebut [selain itu hadis penguat yang dimaksud sanadnya bermasalah]. Hadis Ibnu ‘Aaisy menyebutkan secara rinci soal kejadian melihat Allah SWT tersebut yang terjadi di dalam mimpi sedangkan hadis Simmak bin Harb dan yang lainnya tidak menyebutkan soal mimpi padahal justru yang menjadi hujjah adalah mimpinya. Bukankah yang menjadi keyakinan Salafy itu penglihatan (ru’yah) tersebut terjadi di dalam mimpi. Hal ini yang ternyata tidak bisa dilihat oleh para pengikut salafiyun sehingga dengan mudahnya mereka berkata bahwa hadis tersebut saling menguatkan. Kesimpulan : tetap seperti yang berulang kali kami katakan Abdurrahman bin “Aaisy Al Hadhrami bukan sahabat Nabi karena hadis bukti persahabatannya mudhtharib dan tidak bisa dijadikan hujjah.

__________________________

ARTIKEL TERKAIT

  1. J Algar (SP) Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza: Pembahasan Sanad Hadis Ummu Thufail “Nabi Melihat Allah Dalam Bentuk Pemuda Berambut Lebat”
  2. J Algar (SP) Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza: Ibnu Taimiyyah Menshahihkan Hadis “Nabi Melihat Allah SWT Dalam Bentuk Pemuda Amrad”.
  3. J Algar (SP) Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza: Kedudukan Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk” [1]
  4. J Algar (SP) Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza: Kedudukan Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk” [2]
  5. J Algar (SP) Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza: Kedudukan Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk” [3]
  6. J Algar (SP) Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza: Kedudukan Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk” [4]
  7. J Algar (SP) Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza: Bantahan Terhadap Salafy : Hadis Dhaif Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk [6]
  8. J Algar (SP) Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza: Kekacauan Salafy Dalam Membela Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk” [7]
  9. Abu Salafy Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza “Hadis Melihat Tuhan” (1)
  10. Abu Salafy Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza “Hadis Melihat Tuhan” (2)
  11. Abu Salafy Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza “Hadis Melihat Tuhan” (3)
  12. Abu Salafy Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza “Hadis Melihat Tuhan” (4)
  13. Abu Salafy Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza “Hadis Melihat Tuhan” (5)


2 Tanggapan to “J Algar (SP) Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza: Apakah Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami Seorang Sahabat Nabi SAW?”

  1. MASRUR said

    ASSALAMU ALAIKUM
    ADA SEBUAH PERTANYAAN YANG MENGGANJAL BAGI SAYA JUGA
    KALAU ANDA BERTANYA BERTANYA Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami Seorang Sahabat Nabi SAW, JAWABNYA BUKAN
    MAKA SAYA BERTANYA ANDA, APAKAH ANDA SAHABAT RASULLUH SAW,?
    KALAU BUKAN JUGA BERARTI ANDA KELURU, KALAU “YA” JUGA BUKAN
    DAN APAKAH ANDA PERNAH BERTEMU LANGSUNG DENGAN RASUL DAN KEMUDIAN RASUL BERSABDA KALAU Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami Seorang Sahabat Nabi SAW BUKAN SAHABATNYA.
    DAN APAKAH ZAMAN ANDA LEBIH LAMA DENGAN Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami Seorang Sahabat Nabi SAW?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: