Mereka Bicara Salafy & Wahabi

nGumpulin Tulisan Menyorot Salafy Wahabi

Analisis Hadis Tawassul : Hadis Utsman bin Hunaif

Posted by bicarasalafy pada Agustus 14, 2010

Analisis Hadis Tawassul : Hadis Utsman bin Hunaif

SUMBER: Analisis Pencari Kebenaran

.

Oleh J Algar

Hadis Utsman bin Hunaif merupakan hadis yang menjadi bantahan telak bagi para pengingkar tawassul yang lebih dikenal dengan sebutan “salafy”. Hadis ini menjadi dasar dibolehkannya tawassul kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam baik ketika Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam hidup maupun wafat.

.

حدثنا طاهر بن عيسى بن قيرس المصري التميمي حدثنا أصبغ بن الفرج حدثنا عبد الله بن وهب عن شبيب بن سعيد المكي عن روح بن القاسم عن أبي جعفر الخطمي المدني عن أبي أمامة بن سهل بن حنيف عن عمه عثمان بن حنيف أن رجلا كان يختلف إلى عثمان بن عفان رضي الله عنه في حاجة له فكان عثمان لا يلتفت إليه ولا ينظر في حاجته فلقي عثمان بن حنيف فشكا ذلك إليه فقال له عثمان بن حنيف ائت الميضأة فتوضأ ثم ائت المسجد فصلي فيه ركعتين ثم قل اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبينا محمد صلى الله عليه و سلم نبي الرحمة يا محمد إني أتوجه بك إلى ربك ربي جل وعز فيقضي لي حاجتي وتذكر حاجتك ورح إلي حتى أروح معك فانطلق الرجل فصنع ما قال له عثمان ثم أتى باب عثمان فجاء البواب حتى أخذ بيده فأدخله عثمان بن عفان فأجلسه معه على الطنفسة وقال حاجتك فذكر حاجته فقضاها له ثم قال له ما ذكرت حاجتك حتى كانت هذه الساعة وقال ما كانت لك من حاجة فأتنا ثم ان الرجل خرج من عنده فلقي عثمان بن حنيف فقال له جزاك الله خيرا ما كان ينظر في حاجتي ولا يلتفت إلي حتى كلمته في فقال عثمان بن حنيف والله ما كلمته ولكن شهدت رسول الله صلى الله عليه و سلم وأتاه ضرير فشكا عليه ذهاب بصره فقال له النبي صلى الله عليه وآله وسلم أفتصبر فقال يا رسول الله إنه ليس لي قائد وقد شق علي فقال له النبي صلى الله عليه و سلم إئت الميضأة فتوضأ ثم صل ركعتين ثم ادع بهذه الدعوات قال عثمان فوالله ما تفرقنا وطال بنا الحديث حتى دخل علينا الرجل كأنه لم يكن به ضرر قط

Telah menceritakan kepada kami Thahir bin Isa bin Qibarsi Al Mishri At Tamimi yang berkata menceritakan kepada kami Asbagh bin Faraj yang berkata menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb dari Syabib bin Sa’id Al Makkiy dari Rawh bin Qasim dari Abu Ja’far Al Khatami Al Madini dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif dari pamannya Utsman bin Hunaif bahwa seorang laki-laki berkali-kali datang kepada Utsman bin ‘Affan radiallahu ‘anhu untuk suatu keperluan [hajat] tetapi Utsman tidak menanggapinya dan tidak memperhatikan keperluannya. Kemudian orang tersebut menemui Utsman bin Hunaif dan mengeluhkan hal itu. Maka Utsman bin Hunaif berkata “pergilah ke tempat berwudhu’ dan berwudhu’lah kemudian masuklah ke dalam masjid kerjakan shalat dua raka’at kemudian berdoalah “Ya Allah aku memohon kepadamu dan menghadap kepadamu dengan Nabi kami, Nabi pembawa rahmat. Ya Muhammad aku menghadap denganmu kepada TuhanMu Tuhanku agar memenuhi keperluanku” kemudian sebutkanlah hajat atau keperluanmu, berangkatlah dan aku dapat pergi bersamamu. Maka orang tersebut melakukannya kemudian datang menghadap Utsman, ketika sampai di pintu Utsman penjaga pintu Utsman memegang tangannya dan membawanya masuk kepada Utsman bin ‘Affan maka ia dipersilakan duduk disamping Utsman. Utsman berkata “apa keperluanmu” maka ia menyebutkan keperluannya dan Utsman segera memenuhinya. Utsman berkata “aku tidak ingat engkau menyebutkan keperluanmu sampai saat ini” kemudian Utsman berkata “kapan saja engkau memiliki keperluan maka segeralah sampaikan”. Kemudian orang tersebut pergi meninggalkan tempat itu dan menemui Utsman bin Hunaif, ia berkata “Semoga Allah SWT membalas kebaikanmu, ia awalnya tidak memperhatikan keperluanku dan tidak mempedulikan kedatanganku sampai engkau berbicara kepadanya tentangku”. Utsman bin Hunaif berkata “Demi Allah, aku tidak berbicara kepadanya, hanya saja aku pernah menyaksikan seorang buta menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengeluhkan kehilangan penglihatannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “bersabarlah”. Ia berkata “wahai Rasulullah, aku tidak memiliki penuntun yang dapat membantuku dan itu sungguh sangat menyulitkanku”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “pergilah ke tempat wudhu’, berwudhu’lah kemudian shalatlah dua rakaat kemudian berdoalah” yaitu doa ini. Utsman bin Hunaif berkata “demi Allah kami tidaklah berpisah dan berbicara lama sampai ia datang kepada kami dalam keadaan seolah-olah ia tidak pernah kehilangan penglihatan sebelumnya” [Mu’jam As Shaghir Ath Thabrani 1/306 no 508]

.

Hadis ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam As Shaghir 1/306 no 508 dan Mu’jam Al Kabir 9/30 no 8311 dengan jalan dari Abdullah bin Wahb dari Syabib bin Sa’id Al Makki dari Rawh bin Qasim dari Abu Ja’far Al Khatami dari Abu Umamah bin Sahl dari Utsman bin Hunaif. Dan diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Dala’il An Nubuwah 6/167 dengan jalan dari Ismail bin Syabib dari ayahnya Syabib bin Sa’id Al Makki dari Rawh bin Qasim dari Abu Ja’far Al Khatami dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif. Kemudian diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Dala’il An Nubuwah 6/168 dan Abdul Ghani Al Maqdisi dalam At Targhib fi Du’a no 61 dengan jalan dari Ahmad bin Syabib bin Sa’id dari ayahnya Syabib bin Sa’id Al Makki dari Rawh bin Qasim dari Abu Ja’far Al Khatami dari Abu Umamah bin Sahl dari Utsman bin Hunaif.

Kedudukan hadis ini adalah shahih. Hadis ini diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya dimana Syabib bin Sa’id seorang yang tsiqat dan telah meriwayatkan hadis ini darinya Abdullah bin Wahb seorang yang tsiqat dan kedua anaknya Ahmad bin Syabib yang tsiqat dan Ismail bin Syabib yang tidak dikenal kredibilitasnya. Berikut para perawi Thabrani

  • Thahir bin Isa At Tamimi adalah syaikh Thabrani yang tsiqat dimana Ath Thabrani sendiri telah menshahihkan hadisnya dalam Mu’jam As Shaghir. Ibnu Makula menyatakan ia tsiqat [Al Ikmal 1/296]
  • Asbagh bin Faraj adalah seorang yang tsiqat. Ia adalah perawi Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i. Al Ijli berkata “tsiqat”. Abu Hatim berkata “shaduq”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Abu ‘Ali bin Sakan berkata “tsiqat tsiqat” [At Tahdzib juz 1 no 657]. Ibnu Hajar menyatakan “tsiqat” [At Taqrib 1/107]
  • Abdullah bin Wahb bin Muslim adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Abu Hatim berkata “shalih al hadits, shaduq lebih saya sukai daripada Walid bin Muslim”. Abu Zur’ah menyatakan tsiqat. Al Ijli berkata “tsiqat”. As Saji berkata “shaduq tsiqat”. Al Khalili berkata “disepakati tsiqat”. [At Tahdzib juz 6 no 141]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat ahli ibadah dan hafizh [At Taqrib 1/545]
  • Syabib bin Sa’id At Tamimi adalah perawi Bukhari dan Abu Dawud yang tsiqat. Ali bin Madini menyatakan ia tsiqat. Abu Zur’ah dan Abu Hatim berkata “tidak ada masalah padanya”. Daruquthni menyatakan tsiqat. Adz Dzuhli menyatakan tsiqat. Ath Thabrani menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 4 no 534]. Al Hakim berkata “tsiqat ma’mun” [Al Mustadrak no 1929]. Ibnu Hajar berkata “tidak ada masalah pada hadisnya jika yang meriwayatkan darinya adalah anaknya Ahmad tetapi tidak untuk riwayatnya dari Ibnu Wahb” [At Taqrib 1/411]. Dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau ia seorang yang tsiqat kecuali riwayatnya dari Ibnu Wahb [Tahrir At Taqrib no 2739].
  • Rawh bin Qasim At Tamimi adalah perawi Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i yang dikenal tsiqat. Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah, Abu Hatim dan Ahmad bin Hanbal menyatakan tsiqat. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 3 no 557]. Ibnu Hajar menyatakan “tsiqat hafizh” [At Taqrib 1/305]
  • Abu Ja’far Al Khatami adalah Umair bin Yazid Al Anshari perawi Ashabus Sunan yang tsiqat. Ibnu Ma’in, Nasa’i, Ibnu Hibban, Ibnu Numair, Al Ijli dan Ath Thabrani menyatakan “tsiqat” [At Tahdzib juz 8 no 628]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 1/756] dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau ia seorang yang tsiqat [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 5190]
  • Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Diperselisihkan apakah ia sahabat atau bukan. Ia dinyatakan hidup di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetapi tidak mendengar hadis darinya. Ibnu Sa’ad menyatakan tsiqat dan Abu Hatim berkata “tsiqat” [At Tahdzib juz 1 no 497]

Tidak diragukan lagi para perawi riwayat Thabrani di atas adalah para perawi tsiqat. Tetapi sanad tersebut mengandung illat [cacat] yaitu yang meriwayatkan dari Syabib bin Sa’id At Tamimi adalah Ibnu Wahb dan Ibnu Ady mengatakan kalau telah meriwayatkan Ibnu Wahb dari Syabib hadis-hadis munkar [Al Kamil Ibnu Ady 4/30]. Ibnu Ady membawakan hadis-hadis yang menjadi bukti bahwa riwayat Ibnu Wahb dari Syabib adalah mungkar tetapi setelah kami teliti hadis-hadis tersebut tidaklah tsabit untuk dikatakan mungkar. Tetapi kami tidak perlu membahas hal ini karena pada hadis ini perawi yang meriwayatkan dari Syabib bin Sa’id At Tamimi tidak hanya Abdullah bin Wahb tetapi juga anaknya yaitu Ahmad bin Syabib bin Sa’id At Tamimi.

Ahmad bin Syabib bin Sa’id At Tamimi adalah salah satu guru Bukhari yang tsiqat. Abu Hatim menyatakan ia tsiqat [Al Jarh Wat Ta’dil 2/54-55 no 70]. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 8 no 12050]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 1/36] tetapi dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau ia seorang yang tsiqat [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 46]

Oleh karena itu tidak diragukan lagi kalau kedudukan hadis ini shahih. Dan seperti biasa salafy yang mengingkari tawasul berusaha mencacatkan hadis ini dengan melemahkan Syabib bin Sa’id At Tamimi seperti yang dilakukan Syaikh Al Albani dan pengikutnya. Syaikh Al Albani dan pengikutnya mengatakan hadis Syabib bin Sa’id shahih jika memenuhi dua syarat yaitu pertamayang meriwayatkan darinya adalah Ahmad bin Syabib dan kedua: Syabib meriwayatkan dari Yunus bin Yazid dan yang tidak memenuhi kedua persyaratan tersebut maka riwayatnya dhaif. Sudah jelas persyaratan yang mereka tetapkan itu ngawur dan tidak ada dasarnya sama sekali.

Syabib bin Sa’id telah mendapat predikat ta’dil dari para ulama terdahulu, tidak ada dari mereka ulama yang menta’dilkan Syabib mencacatkan hadisnya Syabib bin Sa’id atau membuat persyaratan-persyaratan aneh. Satu-satunya cacat yang ada padanya adalah apa yang dinukil dari Ibnu Ady bahwa hadisnya yang diriwayatkan dari Ibnu Wahb terdapat hadis-hadis mungkar. Tentu saja bukan berarti semua hadis Ibnu Wahb dari Syabib dinilai mungkar, jika perkataan Ibnu Ady ini dijadikan pegangan maka hadis Ibnu Wahb dari Syabib itu mengandung keraguan sehingga memerlukan pendukung dari yang lain. Nah hadis ini ternyata dikuatkan oleh Ahmad bin Syabib yang juga meriwayatkan dari Syabib bin Sa’id. Jadi sudah jelas tidak ada lagi cacat yang bisa dipermasalahkan. Persyaratan yang diajukan salafy itu sudah jelas mengada-ada dan tentu saja mereka bersikeras mengada-ada daripada menerima keshahihan hadis yang bertentangan dengan keyakinan mereka.

.

.

Penjelasan Hadis

Hadis di atas mengandung faedah bahwa tawasul kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berdoa atau memohon kepada Allah SWT adalah perkara yang dibolehkan dalam syariat Islam. Dan pembolehan ini tidak dibatasi baik saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup atau sudah wafat. Buktinya adalah pada hadis di atas dengan jelas Utsman bin Hunaif mengajarkan doa tawasul kepada seorang laki-laki di masa pemerintahan khalifah Utsman bin ‘Affan. Sudah jelas pada saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah wafat. Lafaz hadisnya pun sangat jelas menyebutkan tawasul kepada Nabi yaitu dengan lafaz doa “Ya Allah aku memohon kepadamu dan menghadap kepadamu dengan Nabi kami, Nabi pembawa rahmat. Ya Muhammad aku menghadap denganmu kepada TuhanMu Tuhanku agar memenuhi keperluanku”. Jika lafaz doa seperti ini dikatakan syirik oleh salafiyun maka orang-orang seperti mereka tidak pantas mengaku-ngaku sebagai pengikut sunnah.

Bisa dikatakan salafiyun itu tidak mengerti apa yang dinamakan tawasul. Tawasul dalam islam adalah memohon kepada Allah SWT, menghadap kepada Allah SWT dengan perantara dalam hal ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena kedudukan Beliau yang tinggi di sisi Allah SWT. Nah kalau mereka memahami ini dengan baik maka mereka tidak akan membedakan soal masih hidup atau sudah wafat. Baik ketika hidup ataupun sudah wafat kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetaplah tinggi di sisi Allah SWT. Bahkan dalam perkara doa pun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bisa berdoa kepada Allah SWT baik ketika masih hidup ataupun setelah wafat. Yang berkuasa dan memiliki kekuasaan hanyalah Allah SWT oleh karena itu tidak ada bedanya baik hidup maupun wafat.

Bagaimana mungkin ada orang yang mau mengatakan karena sudah wafat maka tidak bisa lagi diminta bantuan, meminta bantuan itu hanya kepada yang hidup. Ini sangat tidak benar, ketika seseorang berdoa memohon kepada Allah SWT maka disini hanya Allah SWT sebagai pemegang kuasa. Seorang muslim harus meyakini bahwa tiada daya dan upaya selain milik Allah SWT, tawasul berarti menganggap orang yang mulia tersebut sebagai wasilah atau perantara bukan sebagai yang punya kemampuan atau yang berkuasa mengabulkan doa. Kedudukan sebagai wasilah ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang memang mulia dan tinggi kedudukannya di sisi Allah SWT dan ini sekali lagi tidak terkait hidup dan mati. Justru salafy yang meributkan atau membedakan soal hidup dan mati, seolah-olah mereka meyakini kalau orang yang hidup memiliki kuasa sedangkan yang mati tidak. Lha sudah jelas batil, apa perlu diingatkan bahwa tiada daya dan upaya selain milik Allah SWT yang Maha Agung.

Sungguh yang membuat perkara ini semakin aneh adalah salafy begitu bersemangat menjadikan ini sebagai masalah akidah dan tidak jarang mensesat-sesatkan dan menyatakan syirik kepada mereka yang melakukan tawasul. Tingkah salafy ini mengingatkan kami pada kaum yang disebut sebagai tidak memahami tetapi berbicara hal-hal besar seolah-olah mereka yang paling paham dan paling ahli. Pendapat yang kami yakini dalam perkara ini adalah seorang muslim diberikan pilihan dalam berdoa atau memohon kepada Allah SWT, boleh melakukannya dengan tawasul dan boleh juga tidak.

Salam damai

______________________________________________________________________________

ARTIKEL TERKAIT:

  1. Dialog Dengan Salafy/Wahabi Tentang Hadis Tawassul Malik Ad Daar (1)

  2. Dialog Dengan Salafy/Wahabi Tentang Hadis Tawassul Malik Ad Daar (2)

  3. Dialog Dengan Salafy/Wahabi Tentang Hadis Tawassul Malik Ad Daar (3)

  4. Dialog Dengan Salafy/Wahabi Tentang Hadis Tawassul Malik Ad Daar (4)

  5. Dialog Dengan Salafy/Wahabi Tentang Hadis Tawassul Malik Ad Daar (5)

  6. Dialog Dengan Salafy/Wahabi Tentang Hadis Tawassul Malik Ad Daar (6)

Analisis Hadis Tawassul : Hadis Utsman bin Hunaif

Hadis Utsman bin Hunaif merupakan hadis yang menjadi bantahan telak bagi para pengingkar tawassul yang lebih dikenal dengan sebutan “salafy”. Hadis ini menjadi dasar dibolehkannya tawassul kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam baik ketika Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam hidup maupun wafat.

حدثنا طاهر بن عيسى بن قيرس المصري التميمي حدثنا أصبغ بن الفرج حدثنا عبد الله بن وهب عن شبيب بن سعيد المكي عن روح بن القاسم عن أبي جعفر الخطمي المدني عن أبي أمامة بن سهل بن حنيف عن عمه عثمان بن حنيف أن رجلا كان يختلف إلى عثمان بن عفان رضي الله عنه في حاجة له فكان عثمان لا يلتفت إليه ولا ينظر في حاجته فلقي عثمان بن حنيف فشكا ذلك إليه فقال له عثمان بن حنيف ائت الميضأة فتوضأ ثم ائت المسجد فصلي فيه ركعتين ثم قل اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبينا محمد صلى الله عليه و سلم نبي الرحمة يا محمد إني أتوجه بك إلى ربك ربي جل وعز فيقضي لي حاجتي وتذكر حاجتك ورح إلي حتى أروح معك فانطلق الرجل فصنع ما قال له عثمان ثم أتى باب عثمان فجاء البواب حتى أخذ بيده فأدخله عثمان بن عفان فأجلسه معه على الطنفسة وقال حاجتك فذكر حاجته فقضاها له ثم قال له ما ذكرت حاجتك حتى كانت هذه الساعة وقال ما كانت لك من حاجة فأتنا ثم ان الرجل خرج من عنده فلقي عثمان بن حنيف فقال له جزاك الله خيرا ما كان ينظر في حاجتي ولا يلتفت إلي حتى كلمته في فقال عثمان بن حنيف والله ما كلمته ولكن شهدت رسول الله صلى الله عليه و سلم وأتاه ضرير فشكا عليه ذهاب بصره فقال له النبي صلى الله عليه وآله وسلم أفتصبر فقال يا رسول الله إنه ليس لي قائد وقد شق علي فقال له النبي صلى الله عليه و سلم إئت الميضأة فتوضأ ثم صل ركعتين ثم ادع بهذه الدعوات قال عثمان فوالله ما تفرقنا وطال بنا الحديث حتى دخل علينا الرجل كأنه لم يكن به ضرر قط

Telah menceritakan kepada kami Thahir bin Isa bin Qibarsi Al Mishri At Tamimi yang berkata menceritakan kepada kami Asbagh bin Faraj yang berkata menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb dari Syabib bin Sa’id Al Makkiy dari Rawh bin Qasim dari Abu Ja’far Al Khatami Al Madini dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif dari pamannya Utsman bin Hunaif bahwa seorang laki-laki berkali-kali datang kepada Utsman bin ‘Affan radiallahu ‘anhu untuk suatu keperluan [hajat] tetapi Utsman tidak menanggapinya dan tidak memperhatikan keperluannya. Kemudian orang tersebut menemui Utsman bin Hunaif dan mengeluhkan hal itu. Maka Utsman bin Hunaif berkata “pergilah ke tempat berwudhu’ dan berwudhu’lah kemudian masuklah ke dalam masjid kerjakan shalat dua raka’at kemudian berdoalah “Ya Allah aku memohon kepadamu dan menghadap kepadamu dengan Nabi kami, Nabi pembawa rahmat. Ya Muhammad aku menghadap denganmu kepada TuhanMu Tuhanku agar memenuhi keperluanku” kemudian sebutkanlah hajat atau keperluanmu, berangkatlah dan aku dapat pergi bersamamu. Maka orang tersebut melakukannya kemudian datang menghadap Utsman, ketika sampai di pintu Utsman penjaga pintu Utsman memegang tangannya dan membawanya masuk kepada Utsman bin ‘Affan maka ia dipersilakan duduk disamping Utsman. Utsman berkata “apa keperluanmu” maka ia menyebutkan keperluannya dan Utsman segera memenuhinya. Utsman berkata “aku tidak ingat engkau menyebutkan keperluanmu sampai saat ini” kemudian Utsman berkata “kapan saja engkau memiliki keperluan maka segeralah sampaikan”. Kemudian orang tersebut pergi meninggalkan tempat itu dan menemui Utsman bin Hunaif, ia berkata “Semoga Allah SWT membalas kebaikanmu, ia awalnya tidak memperhatikan keperluanku dan tidak mempedulikan kedatanganku sampai engkau berbicara kepadanya tentangku”. Utsman bin Hunaif berkata “Demi Allah, aku tidak berbicara kepadanya, hanya saja aku pernah menyaksikan seorang buta menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengeluhkan kehilangan penglihatannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “bersabarlah”. Ia berkata “wahai Rasulullah, aku tidak memiliki penuntun yang dapat membantuku dan itu sungguh sangat menyulitkanku”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “pergilah ke tempat wudhu’, berwudhu’lah kemudian shalatlah dua rakaat kemudian berdoalah” yaitu doa ini. Utsman bin Hunaif berkata “demi Allah kami tidaklah berpisah dan berbicara lama sampai ia datang kepada kami dalam keadaan seolah-olah ia tidak pernah kehilangan penglihatan sebelumnya” [Mu’jam As Shaghir Ath Thabrani 1/306 no 508]

Hadis ini diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam As Shaghir 1/306 no 508 dan Mu’jam Al Kabir 9/30 no 8311 dengan jalan dari Abdullah bin Wahb dari Syabib bin Sa’id Al Makki dari Rawh bin Qasim dari Abu Ja’far Al Khatami dari Abu Umamah bin Sahl dari Utsman bin Hunaif. Dan diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Dala’il An Nubuwah 6/167 dengan jalan dari Ismail bin Syabib dari ayahnya Syabib bin Sa’id Al Makki dari Rawh bin Qasim dari Abu Ja’far Al Khatami dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif. Kemudian diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Dala’il An Nubuwah 6/168 dan Abdul Ghani Al Maqdisi dalam At Targhib fi Du’a no 61 dengan jalan dari Ahmad bin Syabib bin Sa’id dari ayahnya Syabib bin Sa’id Al Makki dari Rawh bin Qasim dari Abu Ja’far Al Khatami dari Abu Umamah bin Sahl dari Utsman bin Hunaif.

Kedudukan hadis ini adalah shahih. Hadis ini diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya dimana Syabib bin Sa’id seorang yang tsiqat dan telah meriwayatkan hadis ini darinya Abdullah bin Wahb seorang yang tsiqat dan kedua anaknya Ahmad bin Syabib yang tsiqat dan Ismail bin Syabib yang tidak dikenal kredibilitasnya. Berikut para perawi Thabrani

  • Thahir bin Isa At Tamimi adalah syaikh Thabrani yang tsiqat dimana Ath Thabrani sendiri telah menshahihkan hadisnya dalam Mu’jam As Shaghir. Ibnu Makula menyatakan ia tsiqat [Al Ikmal 1/296]
  • Asbagh bin Faraj adalah seorang yang tsiqat. Ia adalah perawi Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i. Al Ijli berkata “tsiqat”. Abu Hatim berkata “shaduq”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Abu ‘Ali bin Sakan berkata “tsiqat tsiqat” [At Tahdzib juz 1 no 657]. Ibnu Hajar menyatakan “tsiqat” [At Taqrib 1/107]
  • Abdullah bin Wahb bin Muslim adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Abu Hatim berkata “shalih al hadits, shaduq lebih saya sukai daripada Walid bin Muslim”. Abu Zur’ah menyatakan tsiqat. Al Ijli berkata “tsiqat”. As Saji berkata “shaduq tsiqat”. Al Khalili berkata “disepakati tsiqat”. [At Tahdzib juz 6 no 141]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat ahli ibadah dan hafizh [At Taqrib 1/545]
  • Syabib bin Sa’id At Tamimi adalah perawi Bukhari dan Abu Dawud yang tsiqat. Ali bin Madini menyatakan ia tsiqat. Abu Zur’ah dan Abu Hatim berkata “tidak ada masalah padanya”. Daruquthni menyatakan tsiqat. Adz Dzuhli menyatakan tsiqat. Ath Thabrani menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 4 no 534]. Al Hakim berkata “tsiqat ma’mun” [Al Mustadrak no 1929]. Ibnu Hajar berkata “tidak ada masalah pada hadisnya jika yang meriwayatkan darinya adalah anaknya Ahmad tetapi tidak untuk riwayatnya dari Ibnu Wahb” [At Taqrib 1/411]. Dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau ia seorang yang tsiqat kecuali riwayatnya dari Ibnu Wahb [Tahrir At Taqrib no 2739].
  • Rawh bin Qasim At Tamimi adalah perawi Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i yang dikenal tsiqat. Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah, Abu Hatim dan Ahmad bin Hanbal menyatakan tsiqat. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 3 no 557]. Ibnu Hajar menyatakan “tsiqat hafizh” [At Taqrib 1/305]
  • Abu Ja’far Al Khatami adalah Umair bin Yazid Al Anshari perawi Ashabus Sunan yang tsiqat. Ibnu Ma’in, Nasa’i, Ibnu Hibban, Ibnu Numair, Al Ijli dan Ath Thabrani menyatakan “tsiqat” [At Tahdzib juz 8 no 628]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 1/756] dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau ia seorang yang tsiqat [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 5190]
  • Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Diperselisihkan apakah ia sahabat atau bukan. Ia dinyatakan hidup di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetapi tidak mendengar hadis darinya. Ibnu Sa’ad menyatakan tsiqat dan Abu Hatim berkata “tsiqat” [At Tahdzib juz 1 no 497]

Tidak diragukan lagi para perawi riwayat Thabrani di atas adalah para perawi tsiqat. Tetapi sanad tersebut mengandung illat [cacat] yaitu yang meriwayatkan dari Syabib bin Sa’id At Tamimi adalah Ibnu Wahb dan Ibnu Ady mengatakan kalau telah meriwayatkan Ibnu Wahb dari Syabib hadis-hadis munkar [Al Kamil Ibnu Ady 4/30]. Ibnu Ady membawakan hadis-hadis yang menjadi bukti bahwa riwayat Ibnu Wahb dari Syabib adalah mungkar tetapi setelah kami teliti hadis-hadis tersebut tidaklah tsabit untuk dikatakan mungkar. Tetapi kami tidak perlu membahas hal ini karena pada hadis ini perawi yang meriwayatkan dari Syabib bin Sa’id At Tamimi tidak hanya Abdullah bin Wahb tetapi juga anaknya yaitu Ahmad bin Syabib bin Sa’id At Tamimi.

Ahmad bin Syabib bin Sa’id At Tamimi adalah salah satu guru Bukhari yang tsiqat. Abu Hatim menyatakan ia tsiqat [Al Jarh Wat Ta’dil 2/54-55 no 70]. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 8 no 12050]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 1/36] tetapi dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau ia seorang yang tsiqat [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 46]

Oleh karena itu tidak diragukan lagi kalau kedudukan hadis ini shahih. Dan seperti biasa salafy yang mengingkari tawasul berusaha mencacatkan hadis ini dengan melemahkan Syabib bin Sa’id At Tamimi seperti yang dilakukan Syaikh Al Albani dan pengikutnya. Syaikh Al Albani dan pengikutnya mengatakan hadis Syabib bin Sa’id shahih jika memenuhi dua syarat yaitu pertamayang meriwayatkan darinya adalah Ahmad bin Syabib dan kedua: Syabib meriwayatkan dari Yunus bin Yazid dan yang tidak memenuhi kedua persyaratan tersebut maka riwayatnya dhaif. Sudah jelas persyaratan yang mereka tetapkan itu ngawur dan tidak ada dasarnya sama sekali.

Syabib bin Sa’id telah mendapat predikat ta’dil dari para ulama terdahulu, tidak ada dari mereka ulama yang menta’dilkan Syabib mencacatkan hadisnya Syabib bin Sa’id atau membuat persyaratan-persyaratan aneh. Satu-satunya cacat yang ada padanya adalah apa yang dinukil dari Ibnu Ady bahwa hadisnya yang diriwayatkan dari Ibnu Wahb terdapat hadis-hadis mungkar. Tentu saja bukan berarti semua hadis Ibnu Wahb dari Syabib dinilai mungkar, jika perkataan Ibnu Ady ini dijadikan pegangan maka hadis Ibnu Wahb dari Syabib itu mengandung keraguan sehingga memerlukan pendukung dari yang lain. Nah hadis ini ternyata dikuatkan oleh Ahmad bin Syabib yang juga meriwayatkan dari Syabib bin Sa’id. Jadi sudah jelas tidak ada lagi cacat yang bisa dipermasalahkan. Persyaratan yang diajukan salafy itu sudah jelas mengada-ada dan tentu saja mereka bersikeras mengada-ada daripada menerima keshahihan hadis yang bertentangan dengan keyakinan mereka.

.

.

Penjelasan Hadis

Hadis di atas mengandung faedah bahwa tawasul kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berdoa atau memohon kepada Allah SWT adalah perkara yang dibolehkan dalam syariat Islam. Dan pembolehan ini tidak dibatasi baik saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup atau sudah wafat. Buktinya adalah pada hadis di atas dengan jelas Utsman bin Hunaif mengajarkan doa tawasul kepada seorang laki-laki di masa pemerintahan khalifah Utsman bin ‘Affan. Sudah jelas pada saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah wafat. Lafaz hadisnya pun sangat jelas menyebutkan tawasul kepada Nabi yaitu dengan lafaz doa “Ya Allah aku memohon kepadamu dan menghadap kepadamu dengan Nabi kami, Nabi pembawa rahmat. Ya Muhammad aku menghadap denganmu kepada TuhanMu Tuhanku agar memenuhi keperluanku”. Jika lafaz doa seperti ini dikatakan syirik oleh salafiyun maka orang-orang seperti mereka tidak pantas mengaku-ngaku sebagai pengikut sunnah.

Bisa dikatakan salafiyun itu tidak mengerti apa yang dinamakan tawasul. Tawasul dalam islam adalah memohon kepada Allah SWT, menghadap kepada Allah SWT dengan perantara dalam hal ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena kedudukan Beliau yang tinggi di sisi Allah SWT. Nah kalau mereka memahami ini dengan baik maka mereka tidak akan membedakan soal masih hidup atau sudah wafat. Baik ketika hidup ataupun sudah wafat kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetaplah tinggi di sisi Allah SWT. Bahkan dalam perkara doa pun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bisa berdoa kepada Allah SWT baik ketika masih hidup ataupun setelah wafat. Yang berkuasa dan memiliki kekuasaan hanyalah Allah SWT oleh karena itu tidak ada bedanya baik hidup maupun wafat.

Bagaimana mungkin ada orang yang mau mengatakan karena sudah wafat maka tidak bisa lagi diminta bantuan, meminta bantuan itu hanya kepada yang hidup. Ini sangat tidak benar, ketika seseorang berdoa memohon kepada Allah SWT maka disini hanya Allah SWT sebagai pemegang kuasa. Seorang muslim harus meyakini bahwa tiada daya dan upaya selain milik Allah SWT, tawasul berarti menganggap orang yang mulia tersebut sebagai wasilah atau perantara bukan sebagai yang punya kemampuan atau yang berkuasa mengabulkan doa. Kedudukan sebagai wasilah ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang memang mulia dan tinggi kedudukannya di sisi Allah SWT dan ini sekali lagi tidak terkait hidup dan mati. Justru salafy yang meributkan atau membedakan soal hidup dan mati, seolah-olah mereka meyakini kalau orang yang hidup memiliki kuasa sedangkan yang mati tidak. Lha sudah jelas batil, apa perlu diingatkan bahwa tiada daya dan upaya selain milik Allah SWT yang Maha Agung.

Sungguh yang membuat perkara ini semakin aneh adalah salafy begitu bersemangat menjadikan ini sebagai masalah akidah dan tidak jarang mensesat-sesatkan dan menyatakan syirik kepada mereka yang melakukan tawasul. Tingkah salafy ini mengingatkan kami pada kaum yang disebut sebagai tidak memahami tetapi berbicara hal-hal besar seolah-olah mereka yang paling paham dan paling ahli. Pendapat yang kami yakini dalam perkara ini adalah seorang muslim diberikan pilihan dalam berdoa atau memohon kepada Allah SWT, boleh melakukannya dengan tawasul dan boleh juga tidak. Salam damai

13 Tanggapan to “Analisis Hadis Tawassul : Hadis Utsman bin Hunaif”

  1. sholihin said

    Artikel yang luar biasa mengungkap kebodohan cara berpikir salafy
    betul apa urusan orang hidup dan mati dalam tawasul? jadi salafy berpikir kalo kita bertawsul kepada orang hidup itu oke2 saja karena orang hidup bisa kita mintai bantuan, tapi salafy lupa bahwa berdoa’a baik dengan tawasul atau tidak yang kita mintai adalah Allah SWT bukan yang kita tawasuli karen sesungguhnya -tiada daya dan upaya selain milik Allah SWT yang Maha Agung.-!

    terima kasih kepada pemilik blog ini yang menghadirkan artikel bermutu ini…
    tanggapan ilmiah dari salafy/wahabi kok nggak ada ya?

  2. maspiemz said

    aku baca artikel di http://slimsalabim.net/tinjauan-hadits-nabi-adam-bertawasul/ mohon tanggapannya

  3. Aria said

    Bismillahir Rahmaanir Rahiim Keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk dan tiada petunjuk yang benar selain petunjuk Allah, dan tidak lah datang petunjuk itu selain melalui Rasulullah. Untuk itu kita umat yang mengaku Islam seharusnya berpegang pada Al Quran dan Sunnah Rasulullah, tapi banyak ulama 2 yang kacau dan bangga dengan pandangan sendiri dengan membuat perkara baru dalam agama padahal jelas kita diperintah menjauhi (berhati-hati ) terhadap segala perkara baru dalam agama. Islam sudah sempurna (al quran Al Maidah:3) tapi banyak orang menilai agama ini belum sempurna termasuk yang bikin blog ini dan kebanyakan orang yang mengaku Ahlu Sunnah tapi dalam kenyataan mereka ahlul bid’ah, seharusnya kalau kita ada perbedaan cukup kita kembalikan pada quran dan sunnah nabi, bukan saling hujat dan saling ejek. dengan kembali kpada quran dan sunnah maka kebenaran akan terbuka sesuai perintah Allah dalam Al Quran

    marilah cari kebenaran dengan berpegang pada quran sunnah sehingga tidak tersesat, cari kebenaran bukan cari yang paling benar. pelajari lagi Al Quran ,shirotol mustaqim yang Allah tunjukan adalah satu ,tolong para ahlul bid’ah jangan kotori Islam dengan kotoran yang dibuat sendiri emangnya kita siapa jangan sampai Islam keadaanya sama dengan Agama sebelumnya, apa bedanya kita dengan nasoro dan yahudi yang mencampur aduk kan yang haq (agama atas petunjuk Allah) dengan sesuatu yang dibuat manusia.

    • Rustam Al Batawi said

      Selamat sore kakak Aria,
      Kakak kan mengajak agar sesuai dengan Al Qu’an dan Assunnah, Kalo mengancurkan makam ibunda Rosul SAW, Istri Rosul SAW, paman Rosul SAW, Makam para Sahabat dan Mujahid itu udah benar dan sesuai dengan akhlak Rosulullah SAW gak ya kak..?!

  4. anan said

    pengen tau wahaby buka http://www.youtube.com/watch?v=44JwJLe9_Sw&NR=1

  5. kebasi said

    tareeqat wahabi ingkarmusic antinasyeed antimiladinnabi antiibubapanabi inkartahlil inkartalqin antiziarahkubornabi antisifatpadadzat wahabi are dangerous they have political agenda be careful the old religion of sodom and gommorah are also dangerous they teach homosexual lesbian gangsterism evev to schoolchildren pls take note

  6. Ibnu Siddiq said

    @ Aria :
    Sebaiknya anda baca dengan seksama dulu artikel diatas, kemudian silakan berargumen kalau tidak seseuai dg pendapat anda.

    Kalau anda menulis spt diatas spt nya mengulang2 hal yg itu2 saja (bid’ah, sesat dll) yg sudah banyak dikupas di artikel2 lain. Silakan anda cari dan baca juga.

    Anda menulis :
    ….tapi banyak orang menilai agama ini belum sempurna termasuk yang bikin blog ini dan kebanyakan orang yang mengaku Ahlu Sunnah tapi dalam kenyataan mereka ahlul bid’ah…

    Berarti anda menyatakan bahwa kaum aswaja “menilai Islam belum sempurna” Masya Allah, itu penafsiran yang sangat dangkal. Islam tidak sekaku yang anda bayangkan.
    Amalan kaum ahlussunnah waljama’ah berdasarkan dalil-dalil pd alQur’an & Hadits.Termasuk dalam hal tawassul, topik artikel ini. Coba baca dan simak dulu..! Berkomentarlah yang ilmiah dan relevan.

    • Solihin said

      @Ibnu Siddiq
      kalo wahabiyun/salafiyun mau pendapat lawan dan menggunakan akalnya serta tidak hanya taqlid buta kepada ustad dan masyaiknya…. maka mereka sudah pasti meninggalkan manhajnya yang nyeleneh ini!
      jadi jangan harap mereka mau membaca dan memfikirkan argumen lawan… karena doktrin mereka mengharamkan akal (walau al-qur’an memuji akal) ustad serta masyaik mereka mengharamkan pengikutnya membaca buku-buku selain dari golongan mereka…! maka mereka ya seperti itu dungu dan ngotot walau bahlol!

  7. Solihin said

    Abu Jauza si wahabi bin salapy si tukang ngeyel…. harus menerima kenyataan pahit alias KO en nyungsep!
    hanya yang berakal waras yang mau menerima kenyataan bahwa manhajnya keropos argumen.
    makasih dengan artikel dialognya mas.
    kalo perlu di tambah lagi yang beginian biar orang awam tau apa hakikat salafy/wahabi dan tidak tertipu mereka!

  8. Mantan penyembah Kuburan said

    Pokok permasalahannya terdapat pada perawi Syabiib bin Sa’iid al-Makki. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaani menyatakan di dalam Muqaddimah Fath al-Baari (hal 133) bahwa periwayatan yang di dalamnya ada Syabiib bin Sa’iid al-Makki bisa diterima hanya jika melalui Yunus (bin Yaziid al-Aylii). Namun, di dalam hadits tersebut perawi yang menerima khabar dari Syabiib adalah Abdullah bin Wahb, sehingga lemahlah periwayatannya. Selain itu, sekalipun jalan periwayatan hadits tersebut ditunjang oleh perawi yang bernama Ahmad bin Syabiib, hadits ini semakin menunjukkan kelemahannya, karena sedemikian banyaknya perbedaan padanya. Terbukti, ketika Ibnus Sunni meriwayatkan hadits dalam kitab Amalul Yaum wal-Lailah (hal 202) dan al-Haakim (1/526) dari 3 jalan melalui Ahmad bin Syabiib tanpa menyebutkan kisah tersebut.

  9. Mantan Penyembah Kuburan said

    Pokok permasalahannya terdapat pada perawi Syabiib bin Sa’iid al-Makki. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaani menyatakan di dalam Muqaddimah Fath al-Baari (hal 133) bahwa periwayatan yang di dalamnya ada Syabiib bin Sa’iid al-Makki bisa diterima hanya jika melalui Yunus (bin Yaziid al-Aylii). Namun, di dalam hadits tersebut perawi yang menerima khabar dari Syabiib adalah Abdullah bin Wahb, sehingga lemahlah periwayatannya. Selain itu, sekalipun jalan periwayatan hadits tersebut ditunjang oleh perawi yang bernama Ahmad bin Syabiib, hadits ini semakin menunjukkan kelemahannya, karena sedemikian banyaknya perbedaan padanya. Terbukti, ketika Ibnus Sunni meriwayatkan hadits dalam kitab Amalul Yaum wal-Lailah (hal 202) dan al-Haakim (1/526) dari 3 jalan melalui Ahmad bin Syabiib.

    • Rustam Al Batawi said

      Selamat sore kakak Mantan Penyembah Kubur,
      Kalo mengancurkan makam ibunda Rosul SAW, Istri Rosul SAW, paman Rosul SAW, Makam para Sahabat dan Mujahid itu sesuai dan benar dengan akhlak Rosulullah SAW gak ya kak..?!

  10. halilintar gelegar said

    Tentang Wasilah ada dalam Qur’an Surat Al Ma’idah 35. Selanjutnya Hadits Sahih Muslim juga ada menerangkan bahwa Sayyidina Umar pernah berdoa memohon hujan ketika terjadi musim kemarau panjang, dengan berwasilah kepada Abbas paman Rasulullah SAW. Abbas pada waktu itu memang masih hidup.Tetapi jika ini dijadikan pegangan dengan mengatakan bahwa orang hidup saja yang boleh dijadikan wasilah sementara yang meninggal tidak bisa atau tidak boleh, maka lihatlah peristiwa Isro’ Mi’roj dimana Rasululloh SAW berwasilah kepada Nabi Musa As saat tawar menawar jumlah waktu Sholat dengan Allah SWT.Padahal nabi Musa As sudah meninggal dunia ribuan tahun yang lalu sebelum Nabi Muhammad SAW lahir. Wasilah juga dilakukan Rasululloh SAW ketika naik ke langit ketujuh yakni dengan berwasilah(berperantara) kepada Malaikat Jibril As.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: