Mereka Bicara Salafy & Wahabi

nGumpulin Tulisan Menyorot Salafy Wahabi

Blogger Dialog Dengan Salafy/Wahabi: Analisis Hadis Tabarruk : Berkah Kubur Nabi SAW (1)

Posted by bicarasalafy pada Juni 28, 2010

Analisis Hadis Tabarruk : Berkah Kubur Nabi SAW (1)

SUMBER: Analisis Pencari Kebenaran

.

Oleh: J Algar

Analisis Hadis Tabarruk : Berkah Kubur Nabi SAW

Tabarruk atau mencari barakah adalah hal yang ma’ruf dalam syariat walaupun tentu sudah seharusnya kita tidak asal-asalan dalam mencari barakah. Salafiyun mengatakan bahwa berkah Nabi SAW itu terjadi ketika Nabi SAW masih hidup sedangkan setelah Beliau SAW wafat maka tidak bisa lagi mendapat berkah dari Beliau SAW. Kami hanya ingin membawakan sebuah hadis yang menunjukkan bahwa mereka keliru. Diriwayatkan oleh Ad Darimi dalam Sunan Ad Darimi 1/56 no 92

حدثنا أبو النعمان ثنا سعيد بن زيد ثنا عمرو بن مالك النكري حدثنا أبو الجوزاء أوس بن عبد الله قال قحط أهل المدينة قحطا شديدا فشكوا إلى عائشة فقالت انظروا قبر النبي صلى الله عليه و سلم فاجعلوا منه كووا إلى السماء حتى لا يكون بينه وبين السماء سقف قال ففعلوا فمطرنا مطرا حتى نبت العشب وسمنت الإبل حتى تفتقت من الشحم فسمي عام الفتق

.

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’man yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Zaid yang berkata telah menceritakan kepada kami Amru bin Malik An Nukri yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Jauzaa’ Aus bin Abdullah yang berkata “Suatu ketika penduduk Madinah dilanda kekeringan yang hebat, maka mereka mengadukan hal tersebut kepada Aisyah. Kemudian ia berkata “pergilah ke kubur Nabi SAW buatlah lubang ke arah langit dan jangan sampai ada penghalang diantaranya dengan langit”. Ia (Aus bin Abdullah) berkata “Kemudian penduduk Madinah melakukan apa yang diperintahkan Aisyah, setelah itu turunlah hujan, tanaman-tanaman tumbuh dan hewan ternak menjadi sehat. Oleh karena itu tahun tersebut disebut tahun kemenangan”.

Syaikh Husain Salim Asad pentahqiq kitab Sunan Ad Darimi berkata

رجاله ثقات وهو موقوف على عائشة

Para perawinya tsiqat dan ini mauquf dari Aisyah

Atsar di atas kedudukannya shahih dan memang itu mauquf. Atsar ini menunjukkan bahwa Aisyah RA memerintahkan penduduk Madinah untuk mengambil berkah dari kubur Nabi SAW. Apakah perilaku ini bisa dibilang syirik?. Silakan kita kembalikan permasalahan itu kepada para salafiyun.

Ternyata para salafiyun itu mencari-cari dalih untuk melemahkan atsar ini. Mereka membuat berbagai syubhat seputar para perawi hadis ini. Untuk membantah syubhat-syubhat salafy seputar atsar ini maka akan kami tunjukkan analisis singkat mengenai para perawi hadis tersebut. Syubhat salafy yang dimaksud adalah

  • Ikhtilat (kekacauan hafalan) Abu Nu’man Arim Muhammad bin Fadhl
  • Kelemahan Sa’id bin Zaid
  • Kelemahan Amru bin Malik An Nukri
  • Inqitha’ Abul Jauzaa’ Aus bin Abdullah dari Aisyah

Lihatlah baik-baik salafy begitu bersemangat untuk mencacatkan atsar ini, semua perawi atsar ini dicari-cari cacatnya, untung Aisyah RA tidak dicacat oleh salafiyun. Syubhat-syubhat yang dimaksud diantaranya dapat dilihat dalam kitab Tawasul Al Albani dan Hadzihi Mafaahimunaa Syaikh Shalih Alu Syaikh.

.

.

.

Ikhtilat Abu Nu’man Arim Muhammad bin Fadhl

Muhammad bin Fadhl As Sadusi dengan kuniyah Abu Nu’man atau yang lebih dikenal dengan sebutan ‘Arim. Ia adalah seorang yang dikenal tsiqat. Telah meriwayatkan darinya para Hafiz seperti Bukhari, Abu Hatim, Abu Dawud, Al Hafiz Ad Darimi, Ahmad bin Hanbal dan yang lainnya. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/124 menyatakan ia tsiqat. Syaikh Al Albani mengatakan kalau Arim mengalami ikhtilat di akhir umurnya dan tidak diketahui apakah Ad Darimi meriwayatkan sebelum atau sesudah ikhtilat. Arim memang dinyatakan oleh para hafiz seperti Abu Hatim, Bukhari dan Abu Dawud bahwa ia mengalami kekacauan pada akhir masa tuanya. Dalam At Tahdzib juz 9 no 659 Abu Hatim menyebutkan bahwa Arim mengalami ikhtilat pada tahun 220 H dan ia wafat pada tahun 224 H.

Tetapi menjadikan ikhtilat Arim sebagai cacat sungguh tidak beralasan karena diketahui bahwa Arim tidak meriwayatkan hadis ketika ia ikhtilath. Hal ini sebagaimana yang dikatakan Daruquthni dalam At Tahdzib juz 9 n0 659 dan Al Mizan no 8057

.

وقال الدارقطني تغير بآخرة وما ظهر له بعد اختلاطه حديث منكر وهو ثقة

Daruquthni berkata “dia mengalami kekacauan pada hafalan pada akhir umurnya tidaklah ia memiliki hadis yang diingkari setelah ia ikhtilat, dan ia seorang yang tsiqat”.

.

Adz Dzahabi dalam Al Mizan no 8057 membenarkan pernyataan Daruquthni dan menyatakan keliru pada Ibnu Hibban yang mengatakan “Arim punya riwayat-riwayat mungkar setelah ikhtilat”. Pernyataan Ibnu Hibban memang keliru karena tidak ada satupun riwayat mungkar yang muncul dari Arim dan Ibnu Hibban pun tidak bisa menunjukkannya. Oleh karena itu Adz Dzahabi berkata dalam Al Kasyf no 5114

.

تغير قبل موته فما حدث مات224

Ia mengalami taghayyur (kekacauan hafalan) sebelum wafat dan tidaklah ia meriwayatkan hadis setelah itu, wafat tahun 224 H.

.

Pernyataan Adz Dzahabi ini dibenarkan pula oleh Al Iraqi dalam Taqyid Wal Iidah hal 461. Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalam Tahrir At Taqrib no 6226 juga menguatkan Adz Dzahabi dan Daruqutni dengan alasan  tidak dikenal adanya hadis-hadis Arim yang diingkari dan tidak ada satu orangpun dari kalangan mutaqaddimin (terdahulu) menyatakan ada kesalahan pada hadis Arim. Jadi melemahkan Atsar ini karena ikhtilat Arim sungguh tidak beralasan karena para Hafiz meriwayatkan hadis dari Arim sebelum ia mengalami ikhtilath.

.

.

.

Kelemahan Sa’id bin Zaid

Syaikh Al Albani dalam kitabnya Tawassul hal 74 telah melemahkan Atsar ini karena Sa’id bin Zaid, Syaikh berkata

.

أن سعيد بن زيد وهو أخو حماد بن زيد فيه ضعف. قال فيه الحافظ في “التقريب”: صدوق له أوهام. وقال الذهبي في “الميزان”: (قال يحيى بن سعيد: ضعيف، وقال السعدي: ليس بحجة، يضعفون حديثه، وقال النسائي وغيره: ليس بالقوي، وقال أحمد: ليس به بأس، كان يحيى بن سعيد لا يستمرئه

.

Sa’id bin Zaid, dia adalah saudara Hammad bin Zaid terdapat kelemahan padanya. Al Hafiz berkata dalam At Taqrib “jujur terkadang salah” dan Adz Dzahabi dalam Al Mizan berkata “Yahya bin Sa’id berkata “ia dhaif”, As Sa’di berkata “tidak bisa dijadikan hujjah” dan ia melemahkan hadis-hadisnya. Nasa’i dan yang lainnya berkata “tidak kuat”. Ahmad berkata “tidak ada masalah dengannya dan Yahya bin Sa’id tidak menerimanya”.

.

Tentu saja jika kita melihat kutipan Syaikh maka seolah-olah Sa’id bin Zaid adalah perawi yang dhaif dan hanya Ahmad bin Hanbal yang menta’dilkannya. Padahal kenyataan sebenarnya jauh dari yang demikian. Sa’id bin Zaid adalah perawi tsiqah dan kelemahan yang ada padanya jika memang terbukti hanya mendudukkannya dalam derajat hasan. Minimal Sa’id bin Zaid adalah perawi yang shaduq (jujur) hasanaul hadis (hadisnya baik). Kami lebih cenderung pada pernyataan tsiqah pada Sa’id bin Zaid karena terbukti banyak yang memberi predikat tsiqah dan menta’dilkannya.

Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam At Tahdzib juz 4 no 51 dan dia adalah perawi Bukhari dalam At Ta’liq Shahih Bukhari, Muslim, Abu dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Disebutkan tidak hanya Ahmad bin Hanbal yang menta’dilkannya

.

وقال الآجري عن أبي داود كان يحيى بن سعيد يقول ليس بشيء وكان عبد الرحمن يحدث عنه وقال البخاري حدثنا مسلم هو بن إبراهيم ثنا سعيد بن زيد أبو الحسن صدوق حافظ وقال الدوري عن بن معين ثقة

Al Ajuri berkata dari Abu Dawud “Yahya bin Said mengatakan tidak ada apa-apanya dan Abdurrahman telah meriwayatkan hadis darinya”. Bukhari berkata telah menceritakan kepada kami Muslim (dia Ibnu Ibrahim) yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Zaid Abu Hasan seorang hafiz yang shaduq (jujur). Ad Dawri berkata dari Ibnu Ma’in “tsiqat”.

Walaupun Yahya bin Said melemahkannya tetapi Abdurrahman bin Mahdi malah meriwayatkan hadis Said bin Zaid, itu berarti Ibnu Mahdi menyatakan tsiqah padanya. Perhatikan dengan baik mereka yang menyatakan tsiqah kepada Sa’id bin Zaid adalah dari kalangan mutaqaddimin yang memang mengenal dan meriwayatkan hadis dari Sa’id bin Za’id

وقال بن سعد روى عنه وكان ثقة مات قبل أخيه وقال العجلي بصري ثقة وقال أبو زرعة سمعت سليمان بن حرب يقول ثنا سعيد بن زيد وكان ثقة وقال أبو جعفر الدارمي ثنا حبان بن هلال ثنا سعيد بن زيد وكان حافظا صدوقا قال بن عدي وليس له منكر لا يأتي به غيره وهو عندي في جملة من ينسب إلى الصدق

Dan berkata Ibnu Sa’ad (yang meriwayatkan darinya) ia seorang  yang tsiqat wafat  sebelum saudaranya. Al Ajli berkata “orang Bashrah yang tsiqat”. Abu Zar’ah berkata “aku mendengar Sulaiman bin Harb berkata telah menceritakan kepada kami Said bin Zaid dan dia tsiqat”. Abu Ja’far Ad Darimi berkata telah menceritakan kepada kami Hibban bin Hilal yang berkata telah menceritakan kepada kami Said bin Zaid dan dia seorang hafiz yang shaduq (jujur). Ibnu Ady berkata “tidaklah ia memiliki riwayat yang diingkari kecuali diikuti oleh yang lain, dalam pandanganku ia termasuk kelompok orang yang jujur”.

.

Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/353 memberikan predikat “jujur terkadang salah”. Hal ini merupakan kesalahan dari Ibnu Hajar. Pernyataan Ibnu Hajar dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib no 2312 bahwa Sa’id bin Zaid seorang yang shaduq hasanul hadis (jujur dan hadisnya hasan). Kami lebih cenderung dengan pendapat yang menyatakan ia tsiqah dikarenakan

  • Mereka yang menyatakan tsiqah termasuk dari kalangan mutaqaddimin yang memang megenal dan meriwayatkan dari Sa’id bin Zaid seperti Abdurrahman bin Mahdi, Sulaiman bin Harb, Ibnu Sa’ad dan Hiban bin Hilal
  • Mereka yang melemahkan Sa’id bin Zaid tidak menyebutkan alasan pencacatannya seperti Yahya bin Sa’id dan Daruquthni. Tentu saja pencacatan yang tidak beralasan tidak diterima jika Sa’id telah dinyatakan tsiqat oleh banyak ulama lain.

.

.

.

Kelemahan Amru bin Malik An Nukri

Cacat lain yang dikatakan oleh salafiyun adalah Amru bin Malik An Nukri. Hal ini dinyatakan oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh dalam kitabnya Hadzihii Mafahiimuna hal 43. Syaikh berkata

.

أن راويه عمرو بن مالك النكري ضعيف بمرة قال ابن عدي في “الكامل”(5/1799): (منكر الحديث عن الثقات، ويسرق الحديث سمعت أبا يعلى يقول: عمرو بن مالك النكري: كان ضعيفاً

Riwayat Amru bin Malik An Nukri dhaif, Ibnu Ady dalam Al Kamil 5/1799 berkata “ia meeriwayatkan hadis-hadis mungkar dari para perawi tsiqat dan dia mencuri hadis, aku mendengar Abu Ya’la mengatakan “Amru bin Malik An Nukri dhaif”.

Pernyataan ini benar-benar keliru dan sungguh suatu keanehan seorang Syaikh bisa melakukan kesalahan seperti ini. Ibnu Ady yang diikuti Syaikh Shalih telah melakukan campur aduk terhadap perawi yang bernama Amru bin Malik. Amru bin Malik yang dimaksud oleh Ibnu Ady tersebut bukanlah Amru bin Malik An Nukri tetapi Amru bin Malik Ar Rasibi. Ibnu Ady telah melakukan kesalahan dalam hal ini seperti yang dikatakan Ibnu Hajar dalam biografi Amru bin Malik Ar Rasibi At Tahdzib juz 8 no 152. Pernyataan Ibnu Ady tersebut ditujukan pada Amru bin Malik Ar Rasibi bukan Amru bin Malik An Nukri.

Amru bin Malik An Nukri adalah seorang perawi yang tsiqat. Biografinya disebutkan dalam At Tahdzib juz 8 no 154 dan ia dimasukkan Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats Tsiqat dan telah meriwayatkan darinya sekelompok perawi tsiqat seperti Nuh bin Qais, Hammad bin Zaid, Sa’id bin Zaid dan yang lainnya. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/744 memberikan predikat “jujur terkadang salah” dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib no 5104 bahwa Amru bin Malik An Nukri “shaduq hasanul hadis”. Menurut kami Amru bin Malik An Nukri seorang yang tsiqah sebagaimana yang dikatakan Ibnu Ma’in. Pernyataan tsiqat Ibnu Main ini tidak dikutip dalam At Tahdzib dan juga dalam Tahrir At Taqrib. Baik At Tahdzib maupun Tahrir At Taqrib hanya mengutip pentsiqahan Ibnu Hibban mungkin karena itu dia dinilai shaduq. Adz Dzahabi dalam Tarikh Al Islam 8/198 berkata

.

عمرو بن مالك النكرى، أبو يحيى وقيل أبو مالك. بصري صدوق

Amru bin Malik An Nukri Abu Yahya dikatakan juga Abu Malik, orang Bashrah yang shaduq (jujur).

Ibnu Hibban dalam kitabnya Masyahiir Ulama Al Amshar no 1223 menyatakan bahwa Amru bin Malik An Nukri seorang yang shaduq dan hujjah. Ibnu Ma’in menyatakan bahwa Amru bin Malik An Nukri tsiqat. Dalam Su’alat Ibnu Junaid 1/420 no 710 Ibnu Junaid berkata

سألت يحيى عن عمرو بن مالك النكري فقال ثقة

Aku bertanya kepada Yahya tentang Amru bin Malik An Nukri dan dia berkata “tsiqat”.

Pengikut salafiyun mengutip dari Ats Tsiqat bahwa Ibnu Hibban berkata tentang Amru bin Malik An Nukri ia sering melakukan kesalahan. Sama seperti Syaikhnya, mereka juga melakukan kesalahan yang sama yaitu mencampuraduk antara Amru bin Malik Ar Rasibi dan Amru bin Malik An Nukri. Ibnu Hibban menuliskan dua nama Amru bin Malik An Nukri dalam kitabnya Ats Tsiqat yaitu

Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat juz 7 no 9802 berkata

عمرو بن مالك النكري كنيته أبو مالك من أهل البصرة يروى عن أبى الجوزاء روى عنه حماد بن زيد وجعفر بن سليمان وابنه يحيى بن عمرو ويعتبر حديثه من غير رواية ابنه عنه

Amru bin Malik An Nukri dengan kuniyah Abu Malik, termasuk penduduk Bashrah yang meriwayatkan dari Abul Jauzaa’ dan meriwayatkan darinya Hammad bin Zaid, Ja’far bin Sulaiman dan anaknya Yahya bin Amru, diikuti hadis-hadisnya kecuali riwayatnya dari anaknya.

Inilah Amru bin Malik An Nukri dalam riwayat Darimi di atas karena ia yang meriwayatkan dari Abul Jauzaa’. Tidak ada Ibnu Hibban menyatakan bahwa Amru bin Malik An Nukri ini sering salah. Pernyataan sering salah ditujukan untuk perawi lain

Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat juz 8 no 14585 berkata

عمرو بن مالك النكري من أهل البصرة يروى عن الفضيل بن سليمان ثنا عنه إسحاق بن إبراهيم القاضى وغيره من شيوخنا يغرب ويخطىء

Amru bin Malik An Nukri dari penduduk bashrah meriwayatkan dari Fudhail bin Sulaiman dan meriwayatkan darinya Ishaq bin Ibrahim Al Qadhi dan yang lainnya, meriwayatkan hal-hal gharib dari para syaikhnya dan sering salah.

Disini Ibnu Hibban melakukan kesalahan, Amru bin Malik yang dimaksud bukan An Nukri tetapi Amru bin Malik Ar Rasibi. Ibnu Hajar dalam At Tahdzib juz 8 no 152 menyebutkan bahwa yang meriwayatkan dari Fudhail bin Sulaiman adalah Amru bin Malik Ar Rasibi bukan Amru bin Malik An Nukri. Kesalahan inilah yang dengan seenaknya diikuti oleh salafiyun. Amru bin Malik An Nukri tidak diragukan lagi seorang yang tsiqah seperti yang dikatakan Ibnu Ma’in.

.

.

.

Inqitha’ Abul Jauzaa’ Aus bin Abdullah dari Aisyah RA

Aus bin Abdullah adalah seorang tabiin yang tsiqat seperti yang dikatakan Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/112 dan Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 489. Salafiyun mencacatkan atsar Darimi di atas bahwa sanadnya terputus.  Abul Jauzaa’ tidak mendengar dari Aisyah. Pernyataan ini bathil, terputusnya sanad atau mursal ditentukan oleh dua hal

  • Analisis tahun lahir dan tahun wafat perawi
  • Pernyataan Ulama mu’tabar bahwa itu mursal.

Disebutkan dalam At Tahdzib juz 1 no 702 bahwa Abul Jauzaa’ wafat tahun 83 H dan sebagaimana diketahui bahwa Aisyah RA wafat tahun 57 H atau 58 H. Hal ini masih memungkinkan Abul Jauzaa’ untuk bertemu dan meriwayatkan hadis dari Aisyah RA. Diantara Ulama mutaqaddimin yang menyatakan Abul Jauzaa’ memursalkan hadis adalah Abu Zar’ah dan yang ia maksudkan adalah riwayat Abul Jauzaa’ dari Ali RA dan Umar RA seperti yang dikutip Ibnu Abi Hatim dalam Al Marasil 1/16-17 dan Al Hafiz Abu Said Alaiy dalam Jami Al Tahsil Fi Ahkam Al Marasil no 49. Tidak ada keterangan ulama terdahulu yang menyatakan riwayat Abul Jauzaa’ dari Aisyah RA mursal.

Mereka yang menyatakan riwayat Abul Jauzaa’ dari Aisyah RA mursal berasal dari kalangan muta’akhirin seperti Ibnu Ady (Al Kamil 1/411) dan Ibnu Abdil Barr (At Tamhid 20/205) dan dasar hujjah mereka hanyalah kenyataan bahwa Abul Jauzaa’ tidak dikenal penyimakannya dari Aisyah. Hujjah ini sudah jelas bathil, Abul Jauzaa’ Aus bin Abdullah memang meriwayatkan hadis dengan lafal ‘an dari para sahabat termasuk Aisyah tetapi bukan berarti bisa seenaknya dikatakan mursal. Menurut persyaratan Imam Muslim hadis lafal ’an dari perawi tsiqah dapat dianggap muttashil. Kami menolak pencacatan Inqitha’ Abul Jauzaa’ dari Aisyah dengan alasan

  • Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim 1/357 no 498 telah berhujjah dengan hadis Abul Jauzaa’ dari Aisyah. Begitu pula Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya 2/427 biografi Aus bin Abdullah, ia telah menyatakan shahih dan tsabit riwayat Abul Jauzaa’ dari Aisyah RA.
  • Al Qaysarani Al Hafiz Muhammad bin Thahir dalam kitabnya Jami’ Baina Rijal Shahihain 1/46 menyatakan bahwa Abul Jauza’ mendengar langsung dari Aisyah RA.

Bukti paling kuat bahwa Abul Jauzaa’ bertemu dan mendengar dari Aisyah RA adalah berdasarkan kesaksian Abul Jauzaa’ sendiri seperti yang diriwayatkan Bukhari dalam Tarikh Al Kabir juz 2 no 1540

قال لنا مسدد عن جعفر بن سليمان عن عمرو بن مالك النكري عن أبي الجوزاء قال أقمت مع بن عباس وعائشة اثنتي عشرة سنة ليس من القرآن آية إلا سألتهم عنها

Telah mengatakan kepada kami Musaddad dari Ja’far bin Sulaiman dari Amru bin Malik An Nukri dari Abul Jauzaa’ yang berkata “Aku bersama Ibnu Abbas dan Aisyah selama 12 tahun dan tidak ada satu ayat dalam Al Qur’an kecuali aku tanyakan kepada mereka”.

Bukhari berkata setelah membawa atsar ini “di dalam sanadnya perlu diteliti lagi”. Pernyataan Bukhari layak diberikan catatan. Atsar ini shahih, Musaddad bin Musarhad disebutkan dalam At Taqrib 2/175 bahwa ia Syaikh Bukhari seorang hafiz yang tsiqat dan Ja’far bin Sulaiman disebutkan dalam Al Kasyf no 792 bahwa ia tsiqat dan disebutkan dalam At Taqrib 1/162 bahwa ia shaduq. Sedangkan Amru bin Malik An Nukri telah berlalu penjelasannya bahwa dia seorang yang tsiqah, bahkan Bukhari sendiri memuat biografi Amru bin Malik An Nukri dalam Tarikh Al Kabir juz 6 no 2672 tanpa sedikitpun menyebutkan cacatnya. Sedangkan Abul Jauzaa’ seorang tabiin tsiqah yang dijadikan hujjah oleh Bukhari dan Muslim.

Menurut kami pernyataan Bukhari bisa jadi didasari keraguannya pada Ja’far bin Sulaiman. Bukhari berkata dalam Tarikh Al Kabir juz 2 no 2161 bahwa Ja’far bin Sulaiman diperselisihkan beberapa hadisnya. Sayangnya Ja’far telah dinyatakan tsiqat atau shaduq oleh banyak ulama lain, sehingga keraguan yang tidak beralasan tidak menjadi cacat untuk Ja’far bin Sulaiman.

Kesaksian Abul Jauzaa’ sendiri justru membantah anggapan bahwa hadis Abul Jauzaa’ dari Aisyah RA adalah terputus atau mursal. Oleh Karena itu pencacatan yang dilakukan oleh salafiyun benar-benar tidak berdasar.

.

.

.

Kesimpulan

Atsar Sunan Darimi di atas tidak diragukan lagi keshahihannya. Sebelum menutup tulisan ini kami akan membawakan hadis dengan sanad yang sama persis dengan atsar Sunan Darimi di atas yaitu diriwayatkan dalam Musnad Ahmad 6/72 no 24478

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا عارم ثنا سعيد بن زيد عن عمرو بن مالك عن أبي الجوزاء عن عائشة

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku (Ahmad bin Hanbal)  yang berkata telah menceritakan kepada kami Arim yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Zaid dari Amru bin Malik dari Abul Jauzaa’ dari Aisyah.

Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengomentari bahwa hadis ini shahih ligahirihi dan sanad ini hasan. Syaikh Syu’aib tidak sedikitpun menyatakan adanya cacat pada sanad ini. Dalam Musnad Ahmad tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan Hamzah Zain no 24315 dinyatakan bahwa sanad tersebut shahih. Itu membuktikan bahwa pada dasarnya sanad atsar Sunan Darimi jayyid (baik) tetapi salafy tidak rela kalau ada hadis shahih yang memberatkan keyakinan mereka sehingga yang harus mereka lakukan adalah mencari-cari cara untuk mencacatkan hadis tersebut.

Salam Damai

___________________________________

Jika Berminat Berdialog Dengan Penulis Artikel Diatas Secara Langsung Silahkan KLIK DISINI

4 Tanggapan to “Blogger Dialog Dengan Salafy/Wahabi: Analisis Hadis Tabarruk : Berkah Kubur Nabi SAW (1)”

  1. Abdullah said

    Alhamdulillah. 1 bukti lagi terungkap bahwa para imam wahabi banyak melakukan kesalahan dan bahkan manipulasi hadits.
    Semoga Allah SWT membalas dengan sebaik-baik balasan bagi orang yg mengungkap kebenaran.
    Dan semoga ini bisa menjadi asbab hidayah bagi orang-orang wahabi utk segera bertobat

  2. budi said

    ada kejanggalan.saya orang awam tapi saya suka memperhatikan.kalo memang benar tabarruk seperti yang dicontohkan di atas,mengapa kesyirikan dan perdukunan menjamur.padahal kan islam menghapus kesyirikan.ini hadits mauquf hanya sampai pada Aisyah, kalo benar perawinya tdk ada keraguan kok matannya bertentangan dengan hadits shahih yang sampai kepada Rasulullah yang bisa dilihat dalam arbain anNawawi. bagaimana mendudukan kedua matan tsb?

  3. Ahlus sunnah said

    هذا سند ضعيف لا تقوم به حجة لأمور ثلاثة:
    أولها: أن سعيد بن زيد وهو أخو حماد بن زيد فيه ضعف. قال فيه الحافظ في “التقريب”: صدوق له أوهام. وقال الذهبي في “الميزان”: (قال يحيى بن سعيد: ضعيف، وقال السعدي: ليس بحجة، يضعفون حديثه، وقال النسائي وغيره: ليس بالقوي، وقال أحمد: ليس به بأس،

    وثانيهما: أنه موقوف على عائشة وليس بمرفوع إلى النبي

    ولو صح لم تكن فيه حجة، لأنه يحتمل أن يكون من قبيل الآراء الاجتهادية لبعض الصحابة، .

  4. Ahlus sunnah said

    وثالثها: أن أبا النعمان هذا هو محمد بن الفضل، يعرف بعارم، وهو وإن كان ثقة فقد اختلط في آخر عمره.
    وقد قال شيخ الإسلام ابن تيمية : (وما روي عن عائشة رضي الله عنها من فتح الكوة من قبره إلى السماء، لينزل المطر فليس بصحيح، ولا يثبت إسناده، ومما يبين كذب هذا أنه في مدة حياة عائشة لم يكن للبيت كوة، بل كان باقياً كما كان على عهد النبي ، بعضه مسقوف وبعضه مكشوف، وكانت الشمس تنزل فيه، كما ثبت في “الصحيحين” عن عائشة أن النبي  كان يصلي العصر والشمس في حجرتها، لم يظهر الفيء بعد، ولم تزل الحجرة النبوية كذلك في مسجد الرسول .. ومن حينئذ دخلت الحجرة النبوية في المسجد، ثم إنه يُبنى حول حجرة عائشة التي فيها القبر جدار عال، وبعد ذلك جعلت الكوة لينزل منها من ينزل إذا احتيج إلى ذلك لأجل كنس أو تنظيف.وأما وجود الكوة في حياة عائشة فكذب بين لو صح ذلك لكان حجة ودليلاً على أن القوم لم يكونوا يقسمون على الله بمخلوق ولا يتوسلون في دعائهم بميت، ولا يسألون الله به، وإنما فتحوا على القبر لتنزل الرحمة عليه، ولم يكن هناك دعاء يقسمون به عليه، فأين هذا من هذا، والمخلوق إنما ينفع المخلوق بدعائه أو بعمله، فإن الله تعالى يحب أن نتوسل اليه بالإيمان والعمل والصلاة والسلام على نبيه  ومحبته وطاعته وموالاته، فهذه هي الأمور التي يحب الله أن نتوسل بها إليه، وإن أريد أن نتوسل إليه بما تُحَبُ ذاته، وإن لم يكن هناك ما يحب الله أن نتوسل به من الإيمان والعمل الصالح، فهذا باطل عقلاً وشرعاً، أما عقلاً فلأنه ليس في كون الشخص المعين محبوباً له ما يوجب كون حاجتي تقضى بالتوسل بذاته إذا لم يكن مني ولا منه سبب تقضى به حاجتي، فإن كان منه دعاء لي أو كان مني إيمان به وطاعة له فلا ريب أن هذه وسيلة، وأما نفس ذاته المحبوبة فأي وسيلة لي منها إذا لم يحصل لي السبب الذي أمرت به فيها.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: