Mereka Bicara Salafy & Wahabi

nGumpulin Tulisan Menyorot Salafy Wahabi

J Algar (SP) Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza: Kedudukan Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk” [3]

Posted by bicarasalafy pada November 18, 2009

SUMBER: http://secondprince.wordpress.com/

Di tulis Oleh: J Algar

Hadis Muadz bin Jabal

Hadis Muadz bin Jabal ini sebenarnya hadis yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhramy dimana pada tulisan sebelumnya telah dibahas tentang kedudukannya. Kami membuat pembahasan khusus hadis ini karena hadis Muadz adalah hadis yang dijadikan hujjah oleh salafiyun bahwa Nabi SAW melihat Allah SWT dalam sebaik-baik bentuk di dalam mimpi. Hadis Muadz bisa dikatakan hadis paling jelas yang menunjukkan bahwa Ru’yah tersebut terjadi di dalam mimpi.

حدثنا محمد بن بشار حدثنا معاذ بن هائئ أبو هانئ اليشكري حدثنا جهضم بن عبد الله عن يحيى بن أبي كثير عن زيد بن سلام عن أبي سلام عن عبد الرحمن بن عائش الحضرمي أنه حدثه عن مالك بن يخامر السكسكي عن معاذ بن جبل رضي الله عنه قال احتبس عنا رسول الله صلى الله عليه و سلم ذات غداة عن صلاة الصبح حتى كدنا نتراءى عين الشمس فخرج سريعا فثوب بالصلاة فصلى رسول الله صلى الله عليه و سلم وتجوز في صلاته فلما سلم دعا بصوته قال لنا على مصافكم كما أنتم ثم انفتل إلينا ثم قال أما إني سأحدثكم ما حبسني عنكم الغداة إني قمت من الليل فتوضأت وصليت ما قدر لي فنعست في صلاتي حتى استثقلت فإذا أنا بربي تبارك وتعالى في أحسن صورة فقال يا محمد قلت لبيك رب قال فيم يختصم الملأ الأعلى ؟ قلت لا أدري قالها ثلاثا قال فرأيته وضع كفه بين كتفي حتى وجدت برد أنامله بين ثديي فتجلى لي كل شيء وعرفت فقال يا محمد قلت لبيك رب قال فيم يختصم الملأ الأعلى ؟ قلت في الكفارات قال ما هن ؟ قالت مشي الأقدام إلى الحسنات والجلوس في المساجد بعد الصلوات وإسباغ الوضوء حين الكريهات قال فيم قلت إطعام الطعام ولين الكلام والصلاة بالليل والناس نيام قال سل قلت اللهم إني أسألك فعل الخيرات وترك المنكرات وحب المساكين وأنت تغفر لي وترحمني وإذا أردت فتنة قوم فتوفني غير مفتون أسألك حبك وحب من يحبك وحب عمل يقرب إلى حبك قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إنها حق فادرسوها ثم تعلموها

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar yang berkata telah menceritakan kepada kami Muadz bin Hani’ Abu Hani’ Al Yasykuri yang berkata telah menceritakan kepada kami Jahdham bin Abdullah dari Yahya bin Abi Katsir dari Zaid bin Salam dari Abi Salam dari Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhramy [ia menceritakan kepadanya] dari Malik bin Yakhamir As Saksaki dari Muadz bin Jabal RA yang berkata suatu hari Rasulullah SAW terlambat melakukan shalat Shubuh bersama kami, hingga kami hampir melihat munculnya matahari. Kemudian beliau SAW datang dengan tergesa-gesa lalu mengerjakan shalat sunnah, kemudian melakukan shalat shubuh, dan beliau meringankan shalatnya. Selesai salam, Beliau SAW berkata “tetaplah di shaf kalian seperti keadaan kalian” kemudian Beliau menghadap kami dan bersabda ”Ketahuilah, aku akan menyampaikan kepada kalian sesuatu yang membuatku terlambat shalat shubuh berjama’ah bersama kalian. Semalam aku bangun dan melakukan shalat sesuai kemampuanku, lalu aku mengantuk dalam shalat, hingga akhirnya aku tertidur . Tiba-tiba aku berjumpa Rabbku-tabaaraka wa ta’aala- dalam sebaik-baik bentuk. Dia berfirman “Wahai Muhammad”. Aku menjawab “aku penuhi panggilanMu wahai Rabbku”. Dia berfirman “apakah engkau tahu tentang apa Al Malaul A’laa (para malaikat) bertengkar?’. Aku menjawab ‘Aku tidak tahu, wahai Rabbku’. Beliau mengucapkan sebanyak tiga kali. Lalu aku melihat Dia meletakkan telapak tangan-Nya di antara kedua bahuku, sehingga aku merasakan dinginnya jari-jemari-Nya di antara kedua dadaku. kemudian tampaklah bagiku segala sesuatu dan akupun menjadi tahu. Dia berfirman ‘Wahai Muhammad’ Aku menjawab “aku penuhi panggilanMu wahai Rabbku”. Dia berfirman “apakah engkau tahu tentang apa Al Malaul A’laa (para malaikat) bertengkar?’Aku menjawab ‘Tentang Al Kafarat’. Dia berfirman ‘Apakah Al Kafarat itu ?’. Aku menjawab ‘Berjalan kaki untuk shalat berjama’ah, duduk di masjid setelah shalat, dan menyempurnakan wudhu pada waktu yang tidak disukai’. Dia berfirman‘ kemudian apa lagi’. Aku menjawab ‘Memberi makanan, berkata yang santun, dan shalat malam di saat manusia tidur’. Dia berfirman ‘Mintalah’. Aku berkata  ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu untuk dapat melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, dan agar Engkau mengampuni serta menyayangiku. Dan jika Engkau menghendaki fitnah bagi suatu kaum, maka wafatkanlah aku tanpa terkena fitnah. Aku memohon kepadaMu kecintaan kepadaMu, kecintaan kepada orang yang mencintaiMu, dan kecintaan kepada amal yang mendekatkanku kepada kecintaanMu’. Rasulullah SAW bersabda ‘Sesungguhnya hal ini adalah kebenaran, maka pelajari dan kuasailah’. [Sunan Tirmidzi 5/368 no 3235]

Hadis Muadz bin Jabal di atas diriwayatkan pula oleh Ahmad dalam Musnad Ahmad 5/243 no 22162, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 34/465-468 no 7071-7075, Al Ilal Tirmidzi no 435 dan Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir 20/109 no 216.

At Tirmidzi setelah membawakan hadis ini, ia berkata

هذا حديث حسن صحيح سألت محمد بن إسماعيل عن هذا الحديث فقال هذا حديث حسن صحيح وقال هذا أصح من حديث الوليد بن مسلم عن عبد الرحمن بن يزيد بن جابر قال حدثنا خالد بن اللجلاج حدثني عبد الرحمن بن عائش الخضرمي قال سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم فذكر الحديث وهذا غير محفوظ هكذا ذكر الوليد في حديثه عن عبد الرحمن بن عائش قال سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم وروى بشر بن بكر عن عبد الرحمن بن يزيد بن جابر هذا الحديث بهذا الإسناد عن عبد الرحمن بن عائش عن النبي صلى الله عليه و سلم وهذا أصح و عبد الرحمن بن عائش لم يسمع من النبي صلى الله عليه و سلم

Hadis ini hasan shahih, aku bertanya kepada Muhammad bin Isma’il tentang hadis ini. Ia berkata ‘hadis hasan shahih’ dan ia juga berkata ‘hadis ini lebih shahih dari hadis Walid bin Muslim dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Lajlaaj yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhramy  yang berkata aku mendengar Rasulullah SAW –menyebutkan hadis ini-. Riwayat ini tidak terjaga dan begitulah Walid menyebutkan hadisnya dari Abdurrahman bin ‘Aaisy yang berkata mendengar langsung dari Rasulullah SAW. Dan diriwayatkan dari Bisyr bin Bakr dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir hadis ini dengan sanad dari Abdurrahman bin ‘Aaisy dari Nabi SAW [tanpa lafaz mendengar langsung] dan inilah yang lebih shahih karena Abdurrahman bin ‘Aaisy tidak mendengar dari Nabi SAW.

Pernyataan shahih terhadap hadis ini sungguh jauh dari kebenaran karena pada dasarnya hadis ini mudhtharib dan Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhramy tidak diketahui keadaannya. Telah dijelaskan sebelumnya kalau ia bukanlah sahabat Nabi SAW . Perhatikan, Abdurrahman bin ‘Aaisy hanya dikenal keberadaannya melalui hadis ini dan hadis ini sudah terbukti mengandung kekacauan maka lebih tepat untuk dikatakan kalau ia seorang yang majhul dan hadisnya dhaif mudhtharib.

Ad Daruquthni dalam Al Ilal Al Waridah no 973 telah menjelaskan panjang lebar bahwa hadis ini mudhtharib dan ia pada akhirnya menyatakan tidak shahih. Pendapat yang benar mengenai kedudukan hadis Muadz bin Jabal adalah seperti yang dikatakan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Musnad Ahmad 5/243 no 22162 bahwa hadis ini dhaif karena mudhtharib.

.

.

Hadis Tsauban

Hadis Ru’yatullah juga diriwayatkan oleh Tsauban maula Rasulullah SAW

ثنا عبيد الله بن فضالة ثنا عبدالله بن صالح ثنا معاوية بن صالح عن أبي يحيى عن أبي يزيد عن أبي سلام الأسود عن ثوبان قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن ربي أتاني الليلة في أحسن صورة وفي هذه الأخبار ووضع يده بين كتفي

Telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Fudhalah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Shalih yang berkata telah menceritakan kepada kami Muawiyah bin Shalih dari Abi Yahya dari Abi Yazid dari Abi Salam Al Aswad dari Tsauban yang berkata Rasulullah SAW bersabda “bahwa Rabbku mendatangiku suatu malam dalam sebaik-baik bentuk”. Dalam khabar ini disebutkan “Dan Dia meletakkan tanganNya di antara kedua bahuku”. [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 470]

Hadis ini dhaif karena Abdullah bin Shalih ia diperselisihkan, sebagian ulama melemahkannya karena hafalannya yang buruk. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/501 menyatakan ia jujur tetapi melakukan banyak kesalahan. Dalam Tahrir At Taqrib no 3388 disebutkan bahwa ia jujur tapi hafalannya buruk. Selain itu hadis ini dhaif karena munqathi’ atau terputus sanadnya. Abu Salam Al Aswad tidak mendengar dari Tsauban. Ibnu Hajar dalam At Tahdzib juz 10 no 516 dalam biografi Abu Salam Al Aswad berkata

قال بن معين وابن المديني لم يسمع من ثوبان

 

Ibnu Ma’in dan Ibnu Madini berkata “ia tidak mendengar dari Tsauban”.

Abu Hatim dan Ahmad bin Hanbal juga menyatakan hal yang serupa sebagaimana disebutkan dalam Al Marasil Ibnu Abi Hatim 1/215 no 388 dan Jami’ Ahkam Al Marasil Al Hafiz Abu Sa’id ‘Alaiy no 797. Syaikh Al Albani dalam Zhilal Al Jannah no 470 mengakui kelemahan Abdullah bin Shalih bahkan beliau menambahkan bahwa Abu Yahya tidak dikenal dan Abu Yazid adalah Ghailan bin Anas yang menurut manhaj Syaikh Al Albani maka ia seorang majhul hal karena menurut Syaikh tidak ada yang menyatakan ta’dil padanya. Syaikh memang tidak menyebutkan kalau sanad hadis ini terputus dan tentu kenyataan bahwa sanad tersebut munqathi’ malah memperberat status sanad hadisnya. Oleh karena itu kami cukup heran dengan Syaikh Al Albani yang menyatakan bahwa hadis ini shahih dengan syawahid.

.

.

Kesimpulan

Hadis Muadz bin Jabal dalam masalah ini adalah hadis yang dhaif karena mudhtharib dan Ibnu ‘Aaisy tidak diketahui keadaannya sedangkan hadis Tsauban dhaif karena kelemahan hafalan salah seorang perawinya dan sanadnya terputus.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: