Mereka Bicara Salafy & Wahabi

nGumpulin Tulisan Menyorot Salafy Wahabi

J Algar (SP) Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza: Kedudukan Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk” [1]

Posted by bicarasalafy pada November 18, 2009

Kedudukan Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk” [1]

SUMBER: http://secondprince.wordpress.com/

Di tulis Oleh: J Algar

Sebagian orang mempercayai bahwa Allah SWT bisa dilihat di dalam mimpi, mereka berdalil dengan hadis bahwa Nabi SAW pernah melihat Allah SWT dalam sebaik-baik bentuk di dalam mimpi. Sayang sekali keyakinan mereka itu tidak berlandaskan hadis-hadis yang shahih. Hadis-hadis seputar masalah ini ternyata bersanad dhaif mudhtharib dan tidak dapat dijadikan hujjah apalagi jika hal itu berkaitan dengan aqidah atau keyakinan. Dalam tulisan ini kami akan membawakan hadis-hadis tersebut [yang dapat kami temukan] dan memaparkan illat atau penyakit dalam setiap hadisnya.

Hadis tersebut diriwayatkan oleh berbagai sahabat dengan lafaz yang bermacam-macam dan semuanya dhaif

  • Riwayat Ibnu Abbas
  • Riwayat Abdurrahman bin Aaisy Al Hadhrami
  • Riwayat Muadz bin Jabal
  • Riwayat Abu Umamah
  • Riwayat Jabir bin Samurah
  • Riwayat Tsauban
  • Riwayat Abu Rafi’

Dengan mengumpulkan hadis-hadis tersebut maka lafaz-lafaz hadis tersebut dapat dibagi menjadi dua

  • Lafaz hadis yang menunjukkan bahwa Melihat Allah SWT terjadi di dalam mimpi
  • Lafaz hadis yang tidak memuat keterangan tentang mimpi

Membedakan kedua lafaz ini jelas sangat penting untuk melihat sejauh mana klaim sebagian orang bahwa fenomena ini terjadi di dalam mimpi bukan dalam keadaan sadar. Berikut akan dibahas terlebih dahulu riwayat Ibnu Abbas
.

.

Hadis Ibnu Abbas

Hadis Ibnu Abbas ini memiliki matan yang bermacam-macam diantaranya ada yang menyebutkan lafal pemuda amrad, ada yang menyebutkan Nabi melihat Allah SWT saja tanpa lafal “sebaik-baik bentuk” dan ada yang menyebutkan lafal “sebaik-baik bentuk”. Yang akan dibahas disini adalah hadis dengan lafal “sebaik-baik bentuk”

ثنا عبد الرزاق أنا معمر عن أيوب عن أبي قلابة عن بن عباس ان النبي صلى الله عليه و سلم قال أتاني ربي عز و جل الليلة في أحسن صورة أحسبه يعني في النوم فقال يا محمد هل تدري فيم يختصم الملأ الأعلى قال قلت لا قال النبي صلى الله عليه و سلم فوضع يده بين كتفي حتى وجدت بردها بين ثديي أو قال نحري فعلمت ما في السماوات وما في الأرض ثم قال يا محمد هل تدري فيم يختصم الملأ الأعلى قال قلت نعم يختصمون في الكفارات والدرجات قال وما الكفارات والدرجات قال المكث في المساجد والمشي على الاقدام إلى الجمعات وإبلاغ الوضوء في المكاره ومن فعل ذلك عاش بخير ومات بخير وكان من خطيئته كيوم ولدته أمه وقل يا محمد إذا صليت اللهم اني أسألك الخيرات وترك المنكرات وحب المساكين وإذا أردت بعبادك فتنة ان تقبضني إليك غير مفتون قال والدرجات بذل الطعام وإفشاء السلام والصلاة بالليل والناس نيام

Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Ma’mar  dari Ayub dari Abi Qilabah dari Ibnu Abbas bahwa Nabi SAW bersabda “RabbKu Azza wa Jalla datang kepadaku malam tadi dalam sebaik-baik bentuk” –Aku mengira maksudnya adalah dalam tidur- Lalu Dia berfirman “Wahai Muhammad, apakah kamu tahu mengenai apa Al Mala’ul A’la (para malaikat) bertengkar?. Beliau berkata “tidak”. Nabi SAW bersabda “Lalu Dia meletakkan tangan-Nya diantara dua pundakku hingga aku dapati dinginnya antara dua dadaku. Atau Beliau bersabda “antara tenggorokanku”. Maka tahulah aku apa yang ada di langit dan di bumi. Kemudian Dia berfirman “Wahai Muhammad, apakah kamu tahu mengenai apa Al Mala’ul A’la (para malaikat) bertengkar?”. Beliau bersabda ‘Aku berkata “ya , mereka bertengkar mengenai Al Kafarat dan Ad Darajat?”. Apa itu Al Kafarat dan Ad Darajat?. Diam di masjid, berjalan kaki untuk berjama’ah, menyempurnakan wudhu dalam kondisi tidak menyenangkan, barangsiapa melakukan hal itu maka ia hidup dengan baik dan mati dengan baik. Dia bersih dari dosa seperti baru dilahirkan Ibunya. Dan katakanlah wahai Muhammad bila kamu selesai shalat “Ya Allah sesungguhnya aku memohon KepadaMu kebaikan-kebaikan, meninggalkan hal yang mungkar dan cinta kepada orang-orang miskin. Dan bila Engkau menginginkan fitnah bagi para hambamu maka cabutlah nyawaku kepadaMu dengan tanpa fitnah”. Dan Ad Darajah adalah dengan memberikan makanan, meyebarkan salam dan shalat malam saat manusia tidur”. [Hadis riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad 1/368 no 3484 dan Sunan Tirmidzi 5/366 no 3233]

Syaikh Ahmad Syakir menyatakan bahwa hadis ini shahih sedangkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth mendhaifkannya. Hadis ini tidaklah shahih karena sanadnya munqathi’ (terputus). Abu Qilabah tidak mendengar dari Ibnu Abbas. Hal ini sebagaimana yang disebutkan Ibnu Hajar dalam Tahdzib At Tahdzib juz 5 no 388 dan disebutkan pula oleh Al Hafiz Abu Sa’id Al ‘Alaiy dalam Jami’ Al Tahsil Fi Ahkam Al Marasiil no 362.

حدثنا محمد بن بشار حدثنا معاذ بن هشام حدثني أبي عن قتادة عن أبي قلابة عن خالد بن اللجلاج عن ابن عباس عن النبي صلى الله عليه و سلم قال أتاني ربي في أحسن صورة فقال يا محمد قلت لبيك ربي وسعديك قال فيم يختصم الملأ الأعلى ؟ قلت ربي لا أدري فوضع يده بين كتفي فوجدت بردها بين ثديي فعلمت ما بين المشرق والمغرب قال يا محمد فقلت لبيك رب وسعديك قال فيم يختصم الملأ الأعلى ؟ قلت في الدرجات والكفارات وفي نقل الأقدام إلى الجماعات وإسباغ الوضوء في المكروهات وانتظار الصلاة بعد الصلاة ومن يحافظ عليهن عاش بخير ومات بخير وكان من ذنوبه كيوم ولدته امه

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar yang berkata telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku dari Qatadah dari Abi Qilabah dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW yang bersabda “RabbKu mendatangiku dalam sebaik-baik bentuk”. Kemudian Dia berfirman “Wahai Muhammad”. Aku menjawab “Aku penuhi panggilanMu Ya Rabb”. Dia berfirman “tentang apakah Al Mala’ul A’la (para malaikat) bertengkar?. Aku menjawab “Wahai RabbKu aku tidak tahu”. Maka Dia meletakkan tangan-Nya diantara kedua pundakku, ketika itu aku merasakan dingin diantara kedua dadaku dan aku mengetahui apa yang ada antara timur dan barat. Kemudian Dia berfirman “Wahai Muhammad”. Aku menjawab “Aku penuhi panggilanMu Ya Rabb”. Dia berfirman “tentang apakah Al Mala’ul A’la (para malaikat) bertengkar?. Aku menjawab “Tentang Ad Darajat dan Al Kafarat, melangkahkan kaki menuju shalat berjama’ah, menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang tidak disukai, duduk menunggu setelah shalat. Maka barangsiapa yang melakukan itu maka ia hidup dengan baik dan mati dengan baik serta bersih dari dosa seperti baru dilahirkan oleh ibunya. [Sunan Tirmidzi 5/367 no 3234]

Hadis di atas diriwayatkan juga oleh Abu Ya’la dalam Musnad Abu Ya’la 4/475 no 2608 dan Al Ajuri dalam Asy Syari’ah no 1025 dan 1026. Al Ajuri membawakan dua sanad yaitu dari Qatadah dari Abu Qilabah dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Ibnu Abbas kemudian sanad Abbad bin Manshur dari Ayub Dari Abu Qilabah dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Ibnu Abbas.

Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi no 3234 telah menshahihkan hadis Ibnu Abbas di atas. Hal ini tentu saja keliru, hadis tersebut tidaklah shahih karena sanadnya terputus atau munqathi’. Dalam At Tahdzib juz 8 no 637 Ibnu Hajar mengutip Amru bin Ali yang berkata “Qatadah tidak mendengar dari Abu Qilabah”. Dalam Al Marasil Ibnu Abi Hatim 1/171-172 Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Ma’in juga menyatakan kalau Qatadah tidak mendengar dari Abu Qilabah. Hal yang sama juga disebutkan Al Hafiz Abu Sa’id Al ‘Alaiy dalam Jami’ Al Tahsil Fi Ahkam Al Marasiil no 633.

Sedangkan riwayat Abbad bin Manshur dalam kitab Asy Syari’ah juga dhaif karena Abbad. Dalam At Tahdzib juz 5 no 172 disebutkan kalau ia dilemahkan oleh Ibnu Ma’in, Abu Zar’ah, Abu Hatim, Ibnu Sa’ad, Ibnu Abi Syaibah, Abu Dawud, Nasa’I, Daruquthni dan yang lainnya. Selain itu disebutkan pula bahwa ia melakukan tadlis dan mengalami kekacauan pada hafalannya. Dalam At Taqrib 1/468 ia dinyatakan shaduq melakukan tadlis dan mengalami kekacauan hafalan di akhir umurnya, tetapi dinyatakan dalam Tahrir At Taqrib no 3142 kalau ia seorang yang dhaif bukan shaduq. Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 2575 menyatakan ia dhaif. Ibnu Hajar menyebutkannya dalam Thabaqat Al Mudallisin no 121 yaitu pada martabat keempat yang berarti ia melakukan tadlis dari para perawi dhaif. Jadi hadis Abbad di atas dhaif karena kelemahan Abbad dan ‘an ‘anah Abbad dimana ia seorang mudallis.

.

.

Ibnu Abi Ashim dalam kitabnya As Sunnah juga meriwayatkan hadis Ibnu Abbas tetapi dengan lafaz yang betul-betul ringkas, dimana tidak ada keterangan atau petunjuk bahwa penglihatan itu terjadi di dalam mimpi

ثنا أبو موسى ثنا معاذ بن هشام ثنا أبي عن قتادة عن أبي كلابة عن خالد بن اللجلاج عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم رأيت ربي عز وجل في أحسن صورة

Telah menceritakan kepada kami Abu Musa yang berkata telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Qatadah dari Abi Qilabah dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Aku melihat RabbKu Azza wa Jalla dalam sebaik-baik bentuk”. [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 469]

Syaikh Al Albani dalam Zhilal Al Jannah no 469 menyatakan hadis ini shahih. Syaikh dalam hal ini hanya melihat kedudukan perawinya saja tetapi tidak melihat ketersambungan sanad tersebut. Seperti yang kami katakan sebelumnya hadis ini munqathi’ karena Qatadah tidak mendengar dari Abu Qilabah. Jadi hadis tersebut juga dhaif.

Selain itu kami ingin mengajak pembaca untuk memperhatikan salah seorang perawi yang bernama Khalid bin Al Lajlaaj. Biografinya disebutkan dalam At Tahdzib juz 3 no 215 bahwa dia seorang perawi Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa’i. Tidak ada satupun ulama yang menyatakan ia tsiqat kecuali Ibnu Hibban yang memasukkannya ke dalam kitab Ats Tsiqat. Salafy (termasuk  Syaikh Al Albani) biasanya tidak menghiraukan tautsiq Ibnu Hibban karena menurut mereka Ibnu Hibban sering mentsiqahkan perawi majhul tetapi aneh sepertinya Syaikh Al Albani tidak mempermasalahkan Khalid bin Al Lajlaaj, beliau malah menyatakan ia tsiqat dan menegaskan kalau hadisnya shahih. Apakah ini suatu kontradiksi? Silakan dinilai

.

.

Kesimpulan

Jika kita mengumpulkan semua sanad hadis Ibnu Abbas di atas maka akan kita lihat bahwa sanad tersebut mudhtharib

  • Dari Ma’mar dari Ayub dari Abu Qilabah dari Ibnu Abbas [riwayat Ahmad dan Tirmidzi]
  • Dari Muadz bin Hisyam dari ayahnya dari Qatadah dari Abu Qilabah dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Ibnu Abbas [riwayat Tirmidzi, Abu Ya’la, Ibnu Abi Ashim dan Ajuri]
  • Dari Abbad bin Manshur dari Ayub dari Abu Qilabah dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Ibnu Abbas [riwayat Al Ajuri]

Secara sendiri-sendiri, riwayat tersebut dhaif karena inqitha’ dan perawi yang dhaif sedangkan jika dikumpulkan bersama-sama maka sanadnya mudhtharib. Oleh karena itu pendapat yang benar tentang hadis Ibnu Abbas ini adalah seperti yang dikatakan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth yaitu hadis tersebut dhaif .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: