Mereka Bicara Salafy & Wahabi

nGumpulin Tulisan Menyorot Salafy Wahabi

Abu Salafy Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza “Hadis Melihat Tuhan” (5)

Posted by bicarasalafy pada November 17, 2009

Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhabiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn!

SUMBER: abusalafy.wordpress.com

Bincang Bersama Abu Jauza -Hadis Melihat Tuhan- (5)

.

Di tulis oleh Abu Salafy

Meneliti Takhrîj Hadis Oleh Albani !!

Dalam kesempatan ini saya ajak pembaca memperhatikan hasil penelitian tidak teliti oleh Syeikh ahli dan pakar hadis kebanggaan Abu Jauzâ’ dan para Salafiyyun Mujassimun; Syeikh Nâshiruddîn al Albâbi… bagaimana penshahihan atau menetapan status hasan atas hadis-hadis yang mendukung hadis Shûrah yang sedang ia takhrîj benar-benar tidak berdasar dan hanya didorong oleh kecenderungannya untuk menandaskan kesesatan akidah tajsîm yang sedang diperjuangkan untuk disebar-luaskan oleh kaum Salafi Wahhabi Mujassim.

Sebelumnya, dalam paparan keterangan dalam artikel sebelumnya telah kami soroti beberapa takhrij hadis oleh Albani tersebut. Dan kini kami akan menyoroti sisanya. Untuk lebih menyingkat, saya langsung akan mengajak Anda memperhatikan beberapa contoh hadis yang ia takhrîj dan itu pun dengan meneliti sebagian perawi –tidak seluruhnya- pada setiap sanad.[33]

 

Saya berkata dan hanya kepada Allah SWT kami memohon bimbingan ke jalan kebenaran-:

Abu Jauzâ’ berkata:

Saya berkata:

Al-Imam Ibnu Abi ‘Aashim membawakan riwayat dalam kitab As-Sunnah (melalui Dhilaalul-Jannah oleh Asy-Syaikh Al-Albani, hal. 205 no. 471) sebagai berikut:

471 – ( صحيح لغيره ) ثنا اسماعيل بن عبدالله ثنا نعيم بن حماد ويحيى بن سليمان قالا حدثنا عبدالله بن وهب عن عمرو بن الحارث عن سعيد بن أبي هلال حدثه أن مروان بن عثمان حدثه عن عمارة بن عامر عن أم الطفيل امرأة أبي بن كعب قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول رأيت ربي في المنام في أحسن صورة وذكر كلاما

“471 – (Shahih lighairihi)

Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin ‘Abdillah: Telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammaad dan Yahya bin Sulaimaan, mereka berdua berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb, dari ‘Amr bin Al-Haarits, dari Sa’iid bin Abi Hilaal telah menceritakannya: Bahwasannya Marwaan bin ‘Utsmaan telah menceritakannya, dari ‘Umaarah bin ‘Aamir, dari Ummu Ath-Thufail istri Ubay bin Ka’b, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku telah melihat Rabb-ku dalam mimpiku dalam wujud/bentuk yang paling baik” dan kemudian beliau menyebutkan satu perkataan [selesai].

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah kemudian memberikan komentar atas hadits tersebut sebagai berikut:

حديث صحيح بما قبله وإسناده ضعيف مظلم عمارة بن عامر أورده ابن أبي حاتم من هذه الرواية ولم يذكر فيه جرحا ولا تعديلا ومروان بن عثمان هو ابن أبي سعيد بن المعلى الأنصاري الزرقي ضعيف كما في التقريب وذكر المزي في التهذيب أنه روى عن أم الطفيل امرأة أبي بن كعب فتعقبه تهذيبه بقوله: وفيه نظر فإن روايته إنما هي عن عمارة بن عمرو بن حزم عن أم الطفيل امرأة ابي في الرؤية وهو متن منكر كذا قال ابن عمرو بن حزم وإنما هو ابن عامر كما تراه في الكتاب وكذلك هو عند ابن أبي حاتم كما سبقت الإشارة إليه

“Hadits shahih dengan penguat hadits-hadits sebelumnya; sanadnya dla’if lagi gelap. Mengenai ‘Umaarah bin ‘Aamir, Ibnu Abi Haatim membawakan riwayat ini tanpa menyebutkan di dalamnya celaan (jarh) ataupun pujian (ta’dil).

Marwaan bin ‘Utsmaan, ia adalah Ibnu Abi Sa’iid bin Al-Ma’alliy Al-Anshariy Az-Zarqiy, seorang perawi dla’if, sebagaimana terdapat dalam At-Taqriib. Al-Mizziiy menyebutkannya dalam At-Tahdziib bahwasannya ia meriwayatkan dari Ummu Ath-Thufail istri Ubay bin Ka’b. Atas perkataan ini Ibnu Hajar memberikan kritikan dalam Tahdziibut-Tahdziib: “Pada perkataannya tersebut ada yang perlu diperhatikan. Sesungguhnya riwayat Marwaan berasal dari ‘Umaarah bin ‘Amr bin Hazm, dari Ummu Ath-Thufail, istri Ubay bin Ka’b dalam hadits ru’yah, dan ia adalah matan yang munkar”.

Begitulah, ia mengatakan: Ibnu ‘Amr bin Hazm, yang benar adalah Ibnu ‘Aamir, seperti yang Anda lihat dalam kitab. Begitu pula ia di sisi Ibnu Abi Haatim sebagaimana telah lalu penunjukkannya atasnya”.

[selesai perkataan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah]

Hadits yang dibawakan Al-Imam Ibnu Abi ‘Aashim rahimahullah ini sebenarnya satu riwayat dengan riwayat yang menjadi bahasan kita, dimana sanad keduanya bertemu pada ‘Abdullah bin Wahb (Ibnu Wahb). Ibnu Abi ‘Aashim membawakan secara ringkas dengan perkataannya: “wa dzakara kalaaman. Maksud “wa dzakara kalaaman” di sini adalah lafadh:

في صورة شباب موفر في خضر على فراش من ذهب في رجليه نعلان من ذهب

“dalam wujud seorang pemuda berambut lebat yang memakai pakaian berwarna hijau di atas tempat tidur yang terbuat dari emas, pada kedua kaki-Nya memakai sandal yang terbuat dari emas”.

Abu Salafy berkata:

Pertama-tama yang perlu kita mengerti bahwa para ulama ahli hadis tidak semberono dalam menaikkan status hadis dari hasan menjadi shahih, apalagi dari dha’if atau sangat dha’if menjadi hasan apalagi menjadi shahih. Mereka sangat memperhatikan dan memasukkan dalam pertimbangan mereka tingkat dan jenis kedha’ifan/kelemahan sebuah riwayat akibat kedha’ifan perawinya yang hendak mereka naikkan statusnya dengan bantuan mutâbi’ dan/syawâhid (riwayat-riwayat dari jalur lain yang mengandung makna serupa). Di antara yang sangat mereka perhatikan adalah apakah si perawi dalam mata rantai riwayat yang hendak didongkrak statusnya itu lemah kerena sebab cacat pada kejujuran atau cacat dalam sisi lain?

Para ulama dan pakar ilmu hadis menegaskan jika kedha’fan itu dikarenakan sebab cacat pada kualitas kejujuran si perawi maka ia tidak dapat didongkrak statusnya betapapun ia datang dalam riwayat-riwayat lain dengan jalur lain baik yang bertemu dalam mata rantai syeikh (gurunya) atau tidak (hanya serupa dalam matannya saja).

Para ahli hadis biasanya membicarakan masalah ini dalam pasal tentang redaksi yang digunakan dalam mencacat para perawi, di mana terdapat tingkatan yang beragam dalam kelemahan yang ditunjukkan oleh redaksi-redaksi pencacatan tersebut. Imam Nawawi berkata dalam kitab at Taqrîb-nya yang kemudian disyarahi oleh as Suyuthi dalam tadrîb ar Râwi, “Redaksi penta’dilan (penilaian baik) tingkat keempat: Shaleh hadisnya. Hadisnya boleh ditulis untuk I’tibâr.[34]

Adapun redaksi pencacatan ( al jarh) ia bertingkat-tingkat. Jika para ulama berkatta (tentang status seorang perawi): ia layyin (lembek) hadisnya, maka hadisnya boleh ditulis dan diperhatikan sebagai I’tibâr….

Dan ucapan mereka: Laisa bi qawiyyin (tidak kuat), hadisnya boleh ditulis, maka ia tingkatan di bawah redaksi layyin.

Dan jika mereka berkata: Dha’îful hadîts (lemah hadisnya), ia tingkatan di bawah redaksi Dha’îful hadîts, hadisnya tidak dibuang tetapi boleh ditulis sebagai i’tibâr.

Jika mereka berkata: Matrûkul hadîts (ditinggalkan hadisnya), Wâhi hadisnya, atau kadzdzâb (pembohong), maka ia jatuh (gugur), tidak layak ditulis hadisnya (tidak dapat dijadikan i’tibâr tidak juga dijadikan syahid.”[35]

Ketika membahas tingkatan hadis hasan, para ulama biasa berbicara panjang lebar tentang apa-apa yang dapat mendongkrak status hadis dha’if menjadi hasan (perhatikan bukan menajdi shahih). Imam Nawawi berkata, “Cabang Ketiga: “Jika sebuah hadis diriwayatkan bergabai jalur dha’if maka tidak harus dari total jalur itu ia menjadi hadis hasan, akan tetapi jika kedha’ifannya disebabkan lemahnya hafalan si perawi yang jujur (shadûq) lagi terpercaya maka hilanglah kedha’ifan itu dengan datangnya hadis itu dari jalur lain dan ia menjadi hadis hasan”.

Demikian pula jika kedha’ifannya diakibatkan oleh kemursalan, maka akan hilang kedha’ifannya dengan datangnya hadis itu dari jalur lain. Adapun kedha’ifannya diakibatkan kefasikan (atau kedustaan) si perawi maka kesesuaian perawi lain dalam meriwayatkan hadis itu tidak berpengaruh apa-apa dalam meningkatkan statusnya! (karena begitu kuatnya kedha’ifannya dan ketidak-mampuan hadis pendukung itu dalam mendongkrak status hadis yang hendak ia dongkrak). Benar, bahwa dengan berbilangnya jalur-jalur periwayatan (walau pun seluruhnay dha’if) ia akan naik tingkatan menjadi bahwa hadis itu tidak munkar atau hadis yang tidak punya asal muasal…. Demikian ditegaskan Syeikhul Islam[36]. Ia berkata, “Bisa jadi jalur sangat banyak sehingga menyampaikannya kepada tingkat mastûr yang jelek hafalannya, sekira jika ada hadis dari jalur lain yang juga dha’if yang masih ditoleransi… bisa jadi ia dinaikkan statusnya menjadi hadis hasan!.”[37]

Setelah itu mari kita perhatikan status shahih yang disematkan oleh Syeikh Albani terhadap sebuah hadis yang ia sendiri mengakui bahwa sanadnya lemah dan gelap gulita.

Hadis dengan nomer 471 yang ia shahihkan itu adalah hadis yang mengidap penyakit kronis dan sangat bermasalah pada sanadnya. Sehingga sulit rasanya membayangkan ia dapat naik status menjadi dh’aif biasa apalagi hasan dan apalagi shahih!!

Dalam jalur riwayat di atas terdapat seorang parawi bernama Nu’aim ibn Hammâd.[38] Tentang parawi yang satu ini, perlu diperhatikan beberapa perkara:

Pertama, Syeikh al Albani sendiri mencacatnya dalam berbagai kesempatan dalam kitab Silsilah al Ahâdîts adh Dha’îfah wa al Maudhû’ah-nya. Lalu mengapakah sekarang mendadak ia dengan begitu gegabah dan mudah menaikkannya menjadi berstatus shahih dengan bantuan hadis lain?! Sepertinya  Muhaddis Wahhabi Salafy yang satu ini terlalu royal dalam membagi-bagi status shahih kepada hadis di atas! mungkin karena ia menyesuai akidah yang sedang ia pertahankan sehingga kecintaan itu membutakan dan menulikannya?!

Betapa sering ia membantai hadis dikarenakan di dalam mata rantai sanadnya terdapat perawi yang satu ini; Nu’iam ibn Hammâd! Saya tidak punya banyak waktu dan kesempatan untuk meneliti seluruh ketarangan Syeikh al Albani tentang status perawi yang satu ini. Namun saya akan mebuktikan kepada Anda bahwa betapa sering Syeikh Wahhabi Salafy ini kontradiksi antara satu pernyataan dan sikapnya dengan pernyataan dan sikapnya yang lain di kesempatan lain bahkan anehnya masih dalam satu kitab!!

Syeikh al Albani menilai Nu’aim ibn Hammâd demikian:

Ketika menerangkan status hadis dengan nomer 60: Nabi saw. bersabda: “Aku memohon kepada Tuhanku tentang apa yang diperselisihkan oleh sahabat-sahabatku sepeninggalku nanti, maka Allah mewahyukan kepadaku, ‘Hai Muhammad, sesungguhnya para sahabatmu di sisi-Ku seperti kedudukan bintang-bintang, sebagiannya lebih terang dari sebagian lainnya. Maka barang siapa mengambil dengan apapu yang mereka jalankan dari perselisihan mereka maka di sisi-Ku ia berada di atas petunjuk.”

Ia berkata, di antaranya:

“Hadis itu maudhû’ (palsu) ….

“Sanad ini palsu. Nu’aim ibn Hammâd dha’if. Al Hafidz berkata, ‘Ia sering salah.”[39]

Kertika menerangkan hadis dengan nomer 231 ia mencacatnya karena di antara perawinya adalah Nu’aim ibn Hammâd. Ia berkata, “Hadis palsu/maudhû’.

.. Nu’aim ibn Hammâd memutaba’ai hadis Abu Zakaria, dan ia (Nu’aim) laisa bitsiqati (tidak tsiqah).”[40]

Ketika mentakhrij hadis dengan nomer 684 ia berkata, “Hadis dha’if… hadis itu didha’ifkan oleh at Turmudzi dengan kata-kata, ‘Ia hadis gharîb, kami tidak mengenalnya kecuali dari riwayat Nu’aim ibn Hammâd.’ Abu Nu’aim berkata, ‘Nu’aim menyendiri dengan meriwayatkannya.’

Aku (Albâni) berkata, ‘Ia adalah parawi yang dha’if karena banyak kesalahan dan kekeliruannya, sampai-sampai Abu Daud berkata, ‘Ia punya sekitar dua puluh hadis yang tidak punya asal muasalnya… ‘[41]

Ketika mentakhrij hadis dengan nomer 782 ia menegaskan kembali bahwa Nu’aim adalah dha’if.[42]

Ketika mentakhrij hadis dengan nomer 825 ia menegaskan bahwa hadis itu munkar. Aku (Albani) berkata, ‘Sanad hadis ini sangat rapuh/wâhin jiddan. Disamping kemursalannya, di dalamnya terdapat Nu’aim ibn Hammâd, ia sangat dha’if/dha’îfun jiddan.’”[43]

Dan ketika mentakhrij hadis dengan nomer957 ia juga menegaskan bahwa Nu’aim dha’if.[44]

Kedua, para pakar ulama ahli hadis yang menyebut biodata Nu’aim ibn Hammâd hampir semua mencacat kualitas dan kepribadiannya.

Nu’aim ibn Hammâd di Mata Ulama Ahli Hadis

Imam an Nasa’i berkata, “Ia dha’if.”[45] Ia juga berkata, “Ia tidak tsiqah.”

Shaleh ibn Jazrah, “Ia memiliki banyak hadis munkar. Ia tidak dimutaba’ai atas hadis-hadisnya itu.” Demikian disebutkan al Khathib dalam Târîkh Baghdâd,13/306.

Ibnu Ma’in berkata, “Dalam (duna periwayatan) hadis ia bukan apa-apa/tidak bernilai.”[46]

Bebepara ulama lainnya, seperti al Azdi –sebagaimana dinukil Ibnu Jauzi dalam adh Dh’afâ’ wa al Matrûkîn,3/163- dan Mighlâthi –sebagaimana termaktub dalam Ikmâl Tahdzîb al Kamâl,12/65 berkata, “Adalah Nu’aim memalasu hadis untuk menguatkan sunnah (mazhabnya) dan kisah-kisah yang mengecam Abu Hanifah.”

Lebih lanjut baca: Mîzân al I’tidâl dan at Tahdzîb!

Setelah ini semua adalah sikap yang sangat aneh dan mengundang tanda tanya besar apabila sekarang Syeikh Albani mengantrol secara berlebihan status hadis tersebut menjadi shahih lighairihi, sebuah istilah yang digunakan untuk status hadis hasan yang dikatrol dengan beberapa alasan menjadi hadis shahih. Bukan hadis dha’if yang sangat bermasalah karena di antara para perawinya dha’if jiddan!!

Apa yang saya paparkan di sini sekali mempertegas kenyataan bahwa memang Syeikh ahli hadis kebanggaan para alim, setengah alim setengah awam dan kaum awam yang sok alim dari sekte Salafi Wahhabi Mujassim benar-benar sering linglung!! Apa yang saya katakana ini bukan berlebihan dan bukan mengejak! Tapi ia menjelaskan hakikat sesungguhnya!!

Dan selain Nu’aim ibn Hammâd yang bermasalah dalam sanad riwayat di atas, juga terdapat nama lain seperti Sa’îd ibn Abu Hilâl yang juga dikenal dha’if dan sebagai mudallis, sengaja tidak saya bicarakan di sini demi ringkasnya kajian.

Apa yang dilakukan Syeikh Albani dengan hanya menfokuskan perhatiannya kepada Marwan ibn Utsman dan Umarah adalah usaha melarikan diri dari borok asli riwayat di atas! selain itu, Syeikh Albani mendasarkan pemberian status shahih lighairihi untuk hadis di atas kepada hadis sebelumnya yaitu hadis yang ia takhrij dengan nomer 470. pendongkrakan status selain menayalahi aturan yang telah dibangun dengan rapi oleh para pakar dan ulama hadis, juga terkesan kucing-kucingan, di mana di sini ia berkata, Hadits shahih dengan penguat hadits sebelumnya.” Sebab hadis itu ternyata ia shahihkan dengan bantaun hadis-hadis lain juga. Atau jika redaksi Albani bermakna seperti yang diterjemahkan oleh saudara Abu jauzâ’: “Hadits shahih dengan penguat hadits-hadits sebelumnya.” maka ia juga tidak berdasar. Selain itu kita pun perlu meneliti apakah ternyata penshahihan atau penetapan status hasan untuk beberapa hadis yang ia takhrij itu sudah memenui standar baku yang ditetapkan para ulama dan berlaku di kalangan mereka atau ia sekedar penelitian yang kurang teliti atau terkesan memaksakan?

Saya berharap para ustadz Wahhabi Salafy tidak keberatan dan balik menghujat dengan berkata –seperti kebiasaan kekanak-kanakan sebagian dari mereka-: Apakah engkau hai Abu Salafy merasa lebih alim dari Syeikh kami Albani? Masalahnya bukan siapa lebih atau kalah di banding siapa! Tetapi –seperti sering kali dinasihatkan oleh Syeikh Albani sendiri- agar pencari kebanaran tidak bertaklid buta mengikuti kesalahan ulama betapapun ia agung dan mulia, sebab kebenaran lebih berhak diikuti!

Karenanya kami akan meneliti hadis-hadis  tersebut.

Sebelumnya telah kami sebutkan panjang lebar pernyataan para ulama dan pakar tentang kualitas Nu’aim ibn Hammâd, Marwân ibn Utsman dan Umârah, jadi tidak perlu lagi diulang di sini.

Hanya saja yang perlu dipertanyakan adalah menyematakn status shahih ligharihi untuk hadis di atas oleh Albani adalah kesalahan besar!

Abu Jauzâ’ berkata:

Kembali kepada Asy-Syaikh Al-Albani,…… untuk memahami perkataan beliau bahwa riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah (no. 471) menjadi kuat atas hadits-hadits yang disebutkan sebelumnya, tentu saja kita harus melihat beberapa hadits yang dianggap menguatkan tersebut. Tujuannya adalah untuk menentukan: Apakah riwayat shahih (li-ghairihi) yang dimaksudkan itu sebatas kalimat: “Aku telah melihat Rabb-ku dalam mimpiku dalam wujud/bentuk yang paling baik” ; ataukah dengan lafadh lengkap sebagaimana disebutkan di awal perbincangan ?

Akan saya sebut hadits-hadits tersebut secara ringkas [tanpa menuliskan komentar Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah untuk masing-masing hadits– dan silakan memperhatikan kalimat yang saya cetak tebal]:

465 – ( حسن ) ثنا أبو بكر بن أبي شيبة ثنا يحيى بن أبي بكير ثنا إبراهيم ابن طهمان ثنا سماك بن حرب عن جابر بن سمرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله تعالى تجلى لي في أحسن صورة فسألني فيما يختصم الملأ الأعلى قال قلت ربي لا أعلم به قال فوضع يده بين كتفي حتى وجدت بردها بين ثديي أو وضعهما بين ثديي حتى وجدت بردها بين كتفي فما سألني عن شيء إلا علمته

465 – (Hasan)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bakiir: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Thahmaan: Telah menceritakan kepada kami Sammaak bin Harb, dari Jabir bin Samurah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: Sesungguhnya Allah ta’ala menampakkan diri kepadaku dalam sebaik-baik bentuk. Maka Dia bertanya kepadaku: ‘Apakah yang diperbantahkan oleh Al-Malaul-A’la (para malaikat)?’ Aku berkata: “Wahai Rabb-ku, aku tidak mengetahuinya’. Maka Dia meletakkan tangan-Nya di antara dua pundakku hingga aku merasakan dinginnya di antara dua dadaku’. Atau: Dia meletakkan dua tangan-Nya di antara dua dadaku hingga aku merasakan dinginnya di antara dua pundakku. Tidaklah Dia bertanya kepadaku tentang sesuatu kecuali aku mengetahuinya”.

Abu Salafy berkata:

Pada jalur riwayat di atas setidaknya terdapat dua parawi cacat bermasalah, yaitu Ibrahim ibn Thahmân dan Simâk ibn Harb.

Ibrahim ibn Thahmân Di Mata Ulama

Al hafidz Muhammad ibn Abdullah ibn Ammar al Mûshili berkata, “Ia dha’if, muththaribul hadîts/ia lemah, kacau hadisnya.”[47] Dalam kitab at Tahdzîb dinukil pernyataan Ibnu Hibbân bahwa ia sering menyendiri dalam meriwayat atas nama orang-orang tsiqât (jujur lagi tterpercaya) hadis-hadis ruwet/mu’dhalât.”[48]

Simâk ibn Harb Di Mata Ulama

Adapun tentang Simâk ibn Harb, Sufyan ts Tsauri dan Syu’bah mendha’ifkannya. Demikian diterangkan al Khathib al Baghdadi dan Ibnu Jauzi.[49] Imam Ahmad berkata, “Ia muththarib hadisnya.”[50] Shaleh ibn Jazrah berkata, “Ia didha’ifkn/yadha’af.”[51]

Ibnu Mubarak berkata, “Ia dha’if.”[52]

Al bazzâr berkata, “Sebelum mati ia berubah hafalannya.”[53]

Ibnu Hibbâb berkata, “Ia banyak salah.”[54]

Selengkapnya keterangan dan komentar ulama tentang keduanya dapat Anda baca dalam Mîzân al I’tidâl dan Tahdzîb at Tahdzîb.

Abu Salafy berkata:

Dengan memerhatikan keterangan para ulama sulit rasanya membenarkan ketetapan status hasan yang diberikan Syeikh Akbani untuk hadis ini.

Jadi benarlah apa yang ditegaskan para ulama seperti Ibnu Jauzi, al Baihaqi dan lainnya bahwa hadis ini dari berbagai jalurnya adalah dh’aif dan muththarib!!

Kekacauan Sikap Syeikh Albani Dalam Mentakhrij Hadis!

Banyak ulama melihat bahwa Syeikh Albani sering kali berbenturan antara keterangan-keterangannya tentang satu hadis atau satu parawi. Di sebuah kali ia mendha’ifkan dan/atau mencacat parawinya kemudian di kesempatan lain ia memuji dan atau menshahihkan hadisnya.

Mungkin apa yang saya katakana ini dirasa berat oleh kaum Salafiyah yang muta’ashshibîn (fanatik buta) kepada Syeikh mereka! Namun inilah kenyataannya!

Di bawah ini saya ajak Anda memerhatikan dua ketarangan yang ganjil dari Syeikh Albani tentang dua hadis yang diriwayatkan dari jalur yang sama, namum untuk yang satu ia katakana: Shahih lighairih (seperti pada hadis dengan nomer 471 yang disebutkan saudara kami Abu Jauzâ’) sementara di tempat lain ia menvonis maudhû’ (palsu) hadis dengan jalur yang sama tersebut.

Perhatikan apa yang dikatakan Abu Jauzâ’:

Begitu pula dengan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah menegaskan kepalsuannya dalam kitab Adl-Dla’iifah:

6371 – ( رأيتُ ربي – وفي لفظٍ: رأى ربَّه تعالى – في المنام في أحسنِ صورةٍ ، شاباً موقَّراً ، رِجلاه في خُفٍّ ، عليه نعلانِ من ذهبٍ ، على وَجْهِهِ فراشٌ من ذهبٍ ).

موضوع .

أخرجه الخطيب في “التاريخ” (13 / 311) من طريق نعيم بن حماد: حدثنا ابن وهب: حدثنا عمرو بن الحارث عن سعيد بن أبي هلال عن مروان بن عثمان عن عمارة بن عامر عن أم الطفيل – امرأة أُبَيّ – أنها سمعت النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يذكر أنه رأى ربه … الحديث .

“6371 – “Aku telah melihat Rabb-ku – dalam lafadh yang lain: “Beliau telah melihat Rabb-nya ta’ala – dalam mimpinya sebaik-baik bentuk: seorang pemuda terhormat, kedua kakinya memakai sandal yang terbuat dari emas, di atas wajah-Nya terdapat faraasy dari emas”.

Maudlu’ (palsu)

Dikeluarkan oleh Al-Kahthiib dalam At-Taariikh (13/311) dari jalan Nu’aim bin Hammad: Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Al-Haarits, dari Sa’iid bin Abi Hilaal, dari Marwaan bin ‘Utmaan, dari ‘Umaarah bin ‘Aamir, dari Ummu Ath-Thufail – istri Ubay – bahwasannya ia pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan diri beliau pernah melihat Rabb-nya….. (al-hadits)”

[lihat selengkapnya dalam Silsilah Adl-Dla’iifah 13/819-823 no. 6371].

Di sini hadis dengan jalur tersebut ia vonis sebagai palsu/maudhû’! Kemudian coba perhatikan sanad/jalur hadis dengan nomer 471 yang disebutkan Abu Jauzâ’ di bawah ini:

 

471 – ( صحيح لغيره ) ثنا اسماعيل بن عبدالله ثنا نعيم بن حماد ويحيى بن سليمان قالا حدثنا عبدالله بن وهب عن عمرو بن الحارث عن سعيد بن أبي هلال حدثه أن مروان بن عثمان حدثه عن عمارة بن عامر عن أم الطفيل امرأة أبي بن كعب قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول رأيت ربي في المنام في أحسن صورة وذكر كلاما

“471 – (Shahih lighairihi)

Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin ‘Abdillah: Telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammaad dan Yahya bin Sulaimaan, mereka berdua berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb, dari ‘Amr bin Al-Haarits, dari Sa’iid bin Abi Hilaal telah menceritakannya: Bahwasannya Marwaan bin ‘Utsmaan telah menceritakannya, dari ‘Umaarah bin ‘Aamir, dari Ummu Ath-Thufail istri Ubay bin Ka’b, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku telah melihat Rabb-ku dalam mimpiku dalam wujud/bentuk yang paling baik” dan kemudian beliau menyebutkan satu perkataan [selesai].

Abu Salafy berkata:

Coba perhatikan sekali lagi nama-nama perawi dalam dua sanad tersebut! Pada keduanya kita menemukan nama-nama:

1)    Nu’aim ibn Hammâd.

2)    Abdullah ibn Wahab (Ibnu Wahab).

3)    Amr ibn al Hârits.

4)    Sa’id ibn Abi Hilâl.

5)    Marwân ibn Utsman.

6)    Umârah.

Keenam nama parawi ini juga yang terlibat dalam meriwayatkan hadis yang ia shahihkan! Bukankah aneh di sana ia menshahihkan dan di sini ia menvonis maudhû’!!

Anda berhak bertanya kepada Syeikh dan para pemujanya, sebenarnya yang ia andalkan dalam menetapkan status sebuah hadis itu apa? Apakah sanad/jalur periwayatannya yang menentukan status itu? Atau matan dan kandungannya? Jika sanad yang menjadi pengandalannya maka dalam kedua jalur itu sanadnya telah tercoreng dengan nama-nama parawi super bermasalah! Jika matannya, maka pada kedua riwayat itu juga memuat kemustahilan bagi Dzat Allah SWT!

Untuk sementara saya tidak menvonis bahwa Syeikh Albani sedang kontradiksi antara dua sikap dan keputusannya itu. Saya serahkan kepada para pemujanya dan saya nantikan keterangan lebih lanjut dari mereka khususnya saudara kami yang terhormat Abu Jauzâ’.

Akhirul Kalam

Akhirnya untuk sementara kami cukupkan tanggapan kami atas keberatan sebagian teman-taman Salafi Wahhabi atas artikel kami.

Wallahu A’lam .

(Selesai)


[33] Pada awalnya saya bermaksud menyoroti hasil takhrîj Syeikh Albani seperti yang dinukil saudara kita Ustadz Abu Jauzâ’, akan tetapi untuk menghemat waktu dan tenaga saya untuk pekerjaan yang lebih berguna, niatan itu saya batalkan dan saya hanya akan menyoroti beberapa saja.

[34] I’tibâr adalah upaya yang dilakukan untuk mengenali kondisi dan status hadis, apakah ia hanya riwayata tunggal tidak ada riwayat lain yang menyamainya atau mendukungnya. Tindakan itu dilakukan dengan meneliti hadis riwayat seorang parawi dengan membandingkannya dengan riwayat para parawi lain apakah ada yang menyertainya dalam meriwayatkan hadis tersebut dari gurunya atau tidak? Tindakan ini disebut dengan istilah mutâba’ah. Jika tidak ada, maka diperhatikan kembali apakah ada hadiis erupa walaupun tidak dari gurunya yang juga diriwayatkan oleh parawi lain? Jika ditemukan maka ia disebut syâhid, dan berarti hadis yang sedang diteliti itu bunya syâhid (bentuk jamaknya syawâhid). Lebih lanjut perhatikan Tadrîb ar Râwi,1/242 dan berbagai kitab Mushthalahul Hadits lainnya.

[35] Tadrîb ar Râwi,1/345-347.

[36] Ibnu Hajar al Asqallani maksudnya.

[37]Tadrîb ar Râwi,1/177.

[38] Seperti telah saya katakan sebelumnya bahwa saya akan kembali membincangkan kualitas Nu’aim ibn Hammâd dan beberapa perawi lain dalam sanad riwayat tersebut!

[39] Silsilah al Ahâdîts adh Dha’îfah wa al Maudhû’ah,1/81.

[40] Ibid.265.

[41] Ibid,2/129.

[42] Ibid.199.

[43] Ibid.227.

[44] Ibid.374.

[45] Adh Dhu’afâ’ wa al Matrûkîn:234/617.

[46] Tahdzîb al Kamâl; al Mizzi,29/466.

[47] Adh Dhu’afâ’ wa al Matrûkîn,1/36.

[48] Baca juga ats Tsiqaât,6/27.

[49] Târîkh Baghdâd,3/236 dan adh Dhu’afâ’ wa al Matrûkîn,2/26.

[50] Al Jarh wa at Ta’dîl; Ibnu Abi Hatim,4/279.

[51] Demikian disebutkan al Khathib dalam Târîkh-nya,9/214 dan al Mizzi dalam Tahdzîb al Kamâl,12/115.

[52] Tahdzîb al Kamâl,12/115.

[53] Ikmâl Tahdzîb al Kamâl,6/109.

[54] Ats Tsiqât,4/339.

__________________________________

Artikel Sebelumnya

  1. Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhâbiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (1)
  2. Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhâbiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (2)
  3. Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhâbiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (3)
  4. Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhâbiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: