Mereka Bicara Salafy & Wahabi

nGumpulin Tulisan Menyorot Salafy Wahabi

Abu Salafy Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza “Hadis Melihat Tuhan” (3)

Posted by bicarasalafy pada November 17, 2009

Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhabiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn!

SUMBER: abusalafy.wordpress.com

Bincang Bersama Abu Jauza -Hadis Melihat Tuhan- (3)

.

Di tulis oleh Abu Salafy

Status Hadis: Aku Melihat Tuhan dalam Bentuk Postur Pemuda Abg Berambut Lebat!

Sebelumnya perlu saya ingatkan bahwa apa yang dilakukan oleh para masyâikh kaum Mujassimah dengan ’ngotot’ memperhatankan keshahihan hadis tentangnya dengan segela konsekuensi yang dilahirkannya adalah sebuah bukti nyata kekentalan mereka dalam akidah tajsîm dan tasybîh yang sering kali mereka tutup-tutupi dengan kata-kata menipu, seperti misalnya:

  • Allah itu berambut lebat tetapi tidak seperti rambut makhluk-Nya!
  • Allah berkaki, tetapi tidak seperti kaki makhluk-Nya!
  • Allah mempunyai telapak tangan yang ketika ditempelkan di pundak Rasul-Nya, lalu ia merasakan dinginnya tangan Allah tersebut, hanya saja telapak tangan Allah tidak menyerupai telapak tangan makhluk-Nya dan demikian seterusnya!

Kaum Mujassimah banyak meriwayatkan hadis-hadis yang menegaskan posturisasi bentuk Allah SWT. Mereka juga punya hobi memburu riwayat-riwayat “miring” seperti itu di mana pun ia dapat ditemukan, sebab hal demikian akan menguatkan akidah tajsîm dan tasybîh mereka dan sekaligus sebagai senjata ampuh untuk menawan kaum awam yang sering kali menjadi korban gertakan para “Masyâikh Galak”: Awas! Jangan sekali-kali Anda menolak hadis Nabi saw.! Anda bisa kafir karenanya! Ini adalah hadis shahih! Bukti keimanan adalah menerimanya! Jangan banyak tanya tentangnya, yang penting imani dan setelahnya non aktifkan akal sehat kamu! Hati-hati dari bahaya senjata kaum kafir yang anti nash! Dan kalimat-kalimat ancaman lainnya!

Tetapi anehnya, jika Anda mengatakan bahwa mereka adalah mujassimah/musyabbihah mereka mengelaknya dengan mengatakan kami bukan seperti yang kalian tuduhkan! Kami Ahlusunnah! Kami menjunjung tinggi Sunnah Nabi saw.! Kami mewarisi akidah ini dari kaum Salaf Shaleh! Kami mengimani hadis-hadis itu dengan tanpa bertanggung jawab akan konsekuensi dari nash-nash itu!

Pengelakan mereka ini sangat menggelikan, seperti ketika mereka selalu menetapkan sifat-sifat dan anggota badan tertentu untuk Allah SWT kemudian mereka mengakhirinya dengan kata-kata dungu, “Semua itu dimiliki/disandang Allah dengan bentuk yang sesuai dengan Kemaha Agungan Dzat-Nya/kama yalîqu bi jalâlihi.

Sebuah lelucan dan dagelan yang akan membuat tertawa kaum bisu sekali pun! Bagaimana mereka (Wahhâbiyah; Mujassimah/Musyabbihah) setelah menolak ta’wil -yang mereka tuduh sebagai sejelek-jelaknya aliran Ahli Bid’ah dan kaum ateis-  dan juga menolak tafwîdh, dan juga menolak adanya majâz dalam teks bahasa Arab serta menetapkan makna zahir dari setiap kata… bagaimana setelah itu semua mereka mengelak dari konsekuensi tajsîm dan tasybîh yang akan ditimbulkannya secara logis! Kalian pasti akan terjatuh kepada akidah tajsîm dan tasybîh tersebut, kalian mau atau tidak! Kalian setuju atau mengelak!

Coba beri kami jawaban yang memuaskan, bagaimana kalian meyakini bahwa Tuhan yang kalian imani bersemayam di atas Arsy-Nya di atas langit sana, dan Dia memliki wajah, mata, tangan, kaki (dan rajin mengenakan sandal terbuat dari bahan emas murni), dan setiap malam turun ke langit dunia, Dia bergembira, tertawa, marah, terposona oleh sesuatu tertentu, menciptakan Adam seperti bentuk/shûrah-Nya dan Dia seperti bentuk/shûrah Adam …. (dan berbagai sifat lain yang mereka tetapkan untuk Allah SWT) semua itu kalian maknai dengan makna zahir, tanpa menakwilnya, kemudian kalian mengelak bahwa kalian adalah kaum Mujassimah Musyabbihah?!

Apakah kata-kata kama yalîqu bi jalâlihi yang sering kalian jadikan tameng untuk mengelak  dari konsekuensi itu sudah cukup merubah kenyataan akidah tajsîm dan tasybîh kalian?

Apakah kalian berkhayal bahwa kata-kata: seperti yang sesuai dengan Kemaha Agungannya/kamâ yalîqu bi jalâlihi yang kalian sebutkan setelah menetapkann sifat-sifat Tuhan itu kalian telah mengurai masalah filsafat rumit atau telah mendobrak pintu Khaibar?!

Perumpamaan kalian dalam hal ini seperti seorang yang makan dan minum di siang bolong pada bulan Ramadhan kemudian tetap ngotot mengatakan bahwa dia puasa dan belum mencicipi apapun! Sebab ia puasa seperti yang layak dan sesuai baginya kama yalîqu bihi! Ia makan kama yalîqu bihi! Dia minum kama yalîqu bihi!

Atau seperti seorang yang dikatakan kepadanya tentang Syeikh kebanggaannya: Kami menyaksikan Syeikh kebanggaanmu menenggak arak dan minuman keras! Lalu ia mengelak dengan mengatakan: Tidak! Sebab dengan sekedar menempel ke bibirnya arak itu berubah menjadi air zam-zam atau air sungawi!

Atau seperti perumpamaan, kami menyaksikan Syeikh kebanggaanmu asal kota Najd (Saudi Arabia) memasuki lokalisasi prostitusi di Cisarua! Ia sekali lagi mengelaknya dengan mengatakan: Dengan sekedar digauli oleh Syeikh kebanggaan kami, wanita-wanita lacur berubah seketika menjadi bidadari surga yang suci!

Itu mungkin kira-kira permisalan mereka yang mengelak dari kenyataan akidah tajsîm dan tasybîh yang mereka yakini tapi enggan menamainya dengan nama sebenarnya! Dalam istilah ahli mantiq (logika) sikap mereka itu biasa disebut dengan: Menerima mukaddimah dan menolak konsekuensinya/qabûlul muqaddimah wa rafdhu an natîjah. Dan dalam bahasa ahli teologi Islam diistilahkan dengan: adamul iltizâm bilawâzim al madzhab/tidak loyal terhadap kosekuensi-konsekuensi pendapat/mazhabnya. Atau dengan bahasa modern kita sekaraang ini diistilahkan dengan: Mengadopsi konsep Tajsîm dan Tasybîh tetapi lari dari penamaannya!

Semua itu tidak akan mengubah hakikat kenyatan akidah menyimpang mereka sedikit pun!

Setelah mukaddimah di atas saya ajak Anda memperhatikan keterangan di bawah ini:

Ibnu Jauzi Menolak Hadis Ra aitu Rabbi Fî Ahsanish Shûrah!

Pertama-tama perlu saya sampaikan bahwa Ibnu Jauzi telah menolak keras hadis di atas dengan beragam versi riwayatnya dalam kitab khusus berjudul Da’f’u Syubahi at Taasybîh yang ia tulis untuk membongkar penyimpangan akidah kaum Mujassimah/Musyabbihah yang banyak tumbuh di kalangan pengikut mazhab teologi Hanbali (seperti juga kaum Wahhabi/Salafy, yang mengaku mengikuti mazhab Hanbali), di antara mereka adalah ulama kebanggaan kaum Wahhabi Salafi seperti Abu Abdillah ibn Hamid ibn Ali al Baghdadi al Hanbali, Qadhi Abu Ya’la dan az Zâghûni al Hanbali. Kata Ibnu Juazi mereka itu benar-benar telah mencoreng nama harum mazhab Hanbali dan telah turun derajat ke tingkatan kaum awam dalam berpikir tentang konsep ketuhanan. Mereka memaknai sifat-sifat Allah SWT dengan makna material/hissi!

Dan pada keterangan hadis no. 3 Ibnu Jauzi mengkiritik faham tersebut dengan mengatakan:

“Ummu Thufail, istri Ubay ibn Ka’ab ra. Meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah saw. menyebut bahwa beliau:

رأى ربه عز و جل فِي المنام فِي أحسن صورة: شاباً موفرا،رجلاهُ فِي خضرة، عليه نعلانِ من ذهبٍ، على وجْهِهِ فراشٌ من ذهبٍ.

“Menyaksikan Tuhannya dalam mimpi dalam bentuk seorang pemuda yang berambut lebat, kedua kakinya berada di Khadhrah dan ia memakai sepasang sandal terbuat dari emas, dan di wajahnya terdapat kupu-kupu dari emas.”

Aku (Ibnu Jauzi) berkata: Hadis ini telah diriwayatkan oleh Nu’aim ibn Hammâd ibn Mu’awiyah al Marwazi.[15]

Ibnu Adi berkata, “Dia ia memalsu hadis.”

Ibnu Main berkata, “Nu’aim tidak bernilai sedikit pun dalam periwayatan hadis.”

Dan dalam sanadnya juga terdapat perawi bernama Marwân ibn Utsman dari Umârah ibn ‘Âmir.

Ia seorang kadzdzâb (pembohong besar)! Demikian ditegaskan Jalaluddîn as Suyuthi dalam al Laâli al Mashnû’ah,1/29. sebuah pencacatan yang sangat dahsyat!

Abu jauzâ’ juga menerima kenyataan bahwa Marwân ibn Utsman adalah perawi matrûkun (ditinggalkan)!

Redaksi itu adalah redaksi pencatatan tingkat kedua setelah redaksi kadzdzâb, sebagaimana akan disebutkan di bawah ini.[16]

Para ulama menyebutkan bahwa redaksi pencacatan atas seorang parawi itu bertingkat-tingkat, yang paling parah adalah dengan redaksi:

فلانٌ كَذابٌ _ فلانٌ يَكْذِبُ – فلانٌ يَضَعُ الحديثَ – فلانٌ وَضَّاعٌ – وَضَع حديثًا -فلانٌ دجَّالٌ.

“Si fulan itu pembohong besar- ia berhohong- si fulan itu memalsu hadis – si fulan itu pemalsu hadis- si fulan memalsu sebuah hadis- si fulan itu dajjal.”[17]

Di sini , baik Marwan maupun Nu’aim ibn Hammâd telah dicacat dengan redaksi pencatatan tingkat tertingggi!

Abu Abdurrahman an Nasa’i berkata:

وَ مَنْ مروانُ حَتَّى يُصَدَّقَ علىَ (عن) اللهِ عز و جَلَّ؟!

“Siapa Marwân itu sehingga ia layak dipercaya (berbicara) tentang Allah –Azza wa jalla-?.”

Muhanna ibn Yahya berkata, “Aku bertanya kepada Ahmad tentang hadis ini, maka ia berpaling dengan wajahnya dan berkata, ‘Ini adalah hadis munkar majhûl/tidak dikenal.’ Maksdunya adalah Marwân ibn Utsman. Ia juga berkata, ‘Umârah juga tidak dikenal.’”

Abu Salafy berkata:

Sepertinya dalam menerjemahkan pernyataan an Nasa’i (yang di sini ia sebut sebagai komentar Ibnu Ma’in), saudaraku Ustadz Abu Jauzâ’ mengalami kesalahan sehingga terjemahannya menjadi kacau tak bermakna! Perhatikan ia menerjemahkan demikian:

Ibnu Ma’in berkata : “Dari Marwaan, hingga ia dibenarkan ? (isyarat pelemahan)”. Begitulah yang tercantum dalam Al-Ishaabah.

Saya dapat memaklumi penyebab kesalahan itu, mungkin dia salah membaca kalimat:  وَ مَنْ مروانُ dengan meng-kasrah harakat pada huruf : مِنْ yang artinya: dari, sedangkan kata: مَنْ adalah kata tanya yang artinya: siapa!

Jadi saran saya agar Ustasz Abu Jauzâ’ lebih berhati-hati dalam mengeja bacaan teks Arab, atau sebaiknya membeli kitab berbahasa Arab yang beraharakat biar tidak salah lagi!

Dan walaupun demikian saya tidak akan mengatakan bahwa seorang yang serendah itu kwalitas pemahaman teks Arabnya semestinya jangan sok menjadi “Pakar Hadis”bdan menyandingkan namanya di antara nama-nama ulama dan pakar ilmu hadis, seperti ketika menyebutkan keterangan ulama Umârah ibn Amir!

Selain itu, saudara Abu Jauzâ’ melakukan kesalahan penerjemahan pada kata: صورة (bentuk) yang ia terjemahkan dengan wujud!

………….telah melihat Rabb-nya dalam mimpinya dalam wujud..……

Terjemah itu jelas-jelas salah, walaupun dalam teks-teks riwayat lain terkadang ia terjemahkan dengan bentuk/wujud! Mungkin kata tersebut sengaja ia terjemahkan demikian untuk sedikit mengurangi parahnya akidah posturisasi yang diyakini kaum Mujasimah! Sebab Allah Maha Suci dari shûrah/bentuk! Dzat Allah adalah Ahadun Wâhidun/Maha Esa dari segala sisinya; Dia Maha Esa dari berbilang dan Maha Esa dari terbentuk dari bagian-bagian/ajzâ’! Perhatikan ini baik-baik!

Hadis di atas tidak diragukan adalah palsu munkar bukan sekedar dha’if sepeti yang disimpulkan Abu Jauzâ![18] Para ulama dan pakar hadis telah mencacatnya. Ibnu Jauzi juga telah memasukkannya dalam daftar hadis-hadis palsu dalam kitab al Maudhû’at-nya,1/80. cetakan Dâr  al Kotob ai Ilmiah. Lebanon. As Suyuthi juga memasukkannya dalam kitab al Laâli al Mashnû’ah,128-29 dan juga ulama lainnya seperti asy Syaukani dalam al Fawâid al Majmû’ah:448-449.

Dalam kitab al Maudhû’at-nya,1/81, Ibnu Jauzi menegaskan: “Adapun Nu’aim ia ditsiqahkan oleh sekelompok kaum. Ibnu Adi berkata, ‘Ia memalsu hadis.’ Dan adalah Yahya ibn Ma’in menilainya jijik dalam riwayatnya hadis dari Ummu Thufail, ia berkata, ‘Tidak sepantasnya hadis itu ia sampaikan. Nu’aim bukan apa-apa dalam periwayatan hadis!” Kemudian ia menyebutkan komentar Imam Ahmad seperti disebut di atas.

Dan tidak sedikit pun merubah status ke-maudhu’-an dan/atau ke-munkaran hadis di atas betapa pun Syeikh Nâshiruddîn al Albâni (muhaddis kebanggaan kaum Wahhabi seperti juga saudara kita Abu Jauzâ’) berusaha menyelamatkannya dengan menyebut syawâhid (hadis-hadis pendukung dari jalur lain), seperti yang ia lakukan dalam catatannya atas kitab as Sunnah karya Ibnu Abi ‘Âshim hadis no.471 dan kemudian mengatrol status hadis palsu itu dengan mengatakan:

حديثٌ صحيحٌ بِما قبلَهُ، و إسناده ضعيفٌ مظلِمٌ.

“Hadis shahih dengan penguat hadis sebelumnya dan sanadnya dha’if lagi gelap.”

Penyebutan syawâhid dengan maksud untuk mengatrol status hadis munkar yang palsu itu sama sekali tidaklah berguna sedikit pun, sebab, selain hadis itu pada matannya terdapat ke-munkaran nyata, seluruh jalurnya adalah lemah! Lalu apakah hadis munkar yang palsu akan berubah statusnya menjadi shahih lighairihi (shahih dengan bantaun hadis/riwayat lain) sementara seluruh syahâhid/riwayat pendukungnya adalah dha’if!

Bagaimana hadis yang ia akui sendiri sebagai bersanad lemah lagi gelap dengan serta merta dan sekonyong-konyong mendadak berubah status menjadi hadis shahih?! Sebuah lompatan luar biasa melebihi pelompat jauh juara olimpiade! Andai Albani mengatakan bahwa dengan bantuan syahâhid/riwayat pendudkungnya, hadis itu melompot ke peringkat hadis hasan mungkin masih dapat dimaklumi! Akan tetapi mengatrol paksa hadis palsu yang sanadnya gelap gelegam bagai batu celak menjadi bersanad putih bak salju adalah upaya pemaksaan yang diilhami oleh keganderungan kepada keyakinan Tajsîm dan Tasybîh yang menyandera akal dan pikiran kaum Mujassimîn!

Imam al Baihaqi dalam kitab ash Shifât wa al Asmâ’:300 (dengan tahqîq Syeikh al Muhaddis al Kautsri) menegaskan, “Dan hadis ini telah diriwayatkan dari jalur lain dan seluruhnya adalah dha’if.”

Jadi seluruh jalur hadis di atas adalah dha’if! Maka tidaklah berguna sedikitpun kebaikan hati Syeikh Albani dengan menyematkan status shahih atau hasan bagi jalur-jalur lain hadis ini!

Catatan Penting Tantang Pembelaan Abu Jauzâ’ Atas Syeikh Albani!

Abu Jauzâ’ menyimpulkan bahwa penshahihan Syeikh al Albâni itu hanya sebatas pada hadis dengan redaksi: “Aku telah melihat Rabb-ku dalam mimpiku dalam wujud/bentuk yang paling baik bukan dengan lafadz (redaksi) lengkap sebagaimana disebutkan di awal perbincangan yaitu dengan lanjutan yang sengaja dipangkas Ibnu Abi ‘Âshim!

Akan tetapi anggapannya  itu tidaklah berdasar. Apalagi ia (Abu Jauzâ’) sendiri mengakui bahwa apa yang dipangkas Ibnu Abi ‘Âshim itu adalah tambahan yang disebutkan dalam riwayat lain secara lengkap yaitu dengan redaksi yang menyebut bahwa Tuhan berambut lebat dan … dan ….

Perhatikan Abu Jauzâ’ berkata:

Hadits yang dibawakan Al-Imam Ibnu Abi ‘Aashim rahimahullah ini sebenarnya satu riwayat dengan riwayat yang menjadi bahasan kita, dimana sanad keduanya bertemu pada ‘Abdullah bin Wahb (Ibnu Wahb). Ibnu Abi ‘Aashim membawakan secara ringkas dengan perkataannya: “wa dzakara kalaaman. Maksud “wa dzakara kalaaman” di sini adalah lafadh:

في صورة شباب موفر في خضر على فراش من ذهب في رجليه نعلان من ذهب

“dalam wujud seorang pemuda berambut lebat yang memakai pakaian berwarna hijau di atas tempat tidur yang terbuat dari emas, pada kedua kaki-Nya memakai sandal yang terbuat dari emas”.

Jadi upaya ngotot melelahkan yang ia lakukan untuk membela Muhaddis kebanggaan Misionaris sekte Wahabi; Albâni tidaklah bergunna di sini!

Dan nanti kami akan kembali dengan menyoroti kekacauan penelitian tidak teliti Muhaddis kebanggaan kaum Wahhabi; al Albâni!

*********

Setelah panjang lebar kita bincangkan masalah ini, mari kita kembali menyemimak keterangan Ibnu Jauzi. Ia melanjutkan:

“Dan hadis ini telah diriwayatkan Abaidullah ibn Abi Salamah, ia berkata, ‘Ibnu Umar mengutus (seseorang) untuk menemui Ibnu Abbas menanyakan kepadanya, ‘Apakah Muhammad melihat Tuhannya?’ Maka ia mengutus seorang untuk menjawab, ‘Ya. Dia telah melihat-Nya. Utusan itu kembali dan bertanya, ‘Bagaimana melihat-Nya?’ Ia menawab, “Dia (Nabi Muhammad saw.) melihat-Nya di atas kursi terbuat dari emas yang dipikul oleh empat malaikat dalam bentuk laki-kali….”

Aku (Ibnu Jauzi) berkata, “Ibnu Ishaq menyendiri dalam meriwayatkan hadis ini. Hadis ini dibohongkan oleh sekelompok ulama.

Abu Salafy berkata:

Hadis ini juga tidak diragukan kepalsuannya atas nama Ibnu Umar dan Ibnu Abbas ra. ia telah mencoreng kitab as Sunnah yang diatas-namakan Abdullah putra Imam Ahmad. Dalam kitab tersebut: 42 hadis  dengan no.204 terdapat lanjutan demikian:

“Dia (Nabi Muhammad saw.) melihat-Nya di atas kursi terbuat dari emas yang dipikul oleh empat malaikat, satu dalam bentuk laki-kali, satu dalam bentuk singa, satu dalam bentuk sapi dan keempat dalam bentuk burung elang/garuda. Dia berada di kebun hijau yang berhamparkan emas.”

Selain hadis ini jelas-jelas bermasalah pada kandungannya, ia juga berpenyakit dengan banyaknya cacat pada sanadnya, baik kerana kualitas parawinya, seperti: 1)Yunus ibn Bukair, 2) Ibnu Ishaq (seorang mudallis) dan 3) Abdurramah ibn Harits -seorang parawi yang matrûk (ditingalkan/dibuang), maupun cacat pada ketidak bersambungan sanadnya.!

*****

Ibnu Jauzi melanjutkan:

“Dan dalam riwayat (lain) dari Ibnu Abbas: “Dia melihat-Nya seakan pada kedua kaki-Nya ada hiasan warna hijau dibaliknya ada kain penutup dari sutra.”

Aku (Ibnu Jauzi) berkata: “Hadis ini telah diriwayatkan oleh Ibrahim ibn Hakam ibn Abân. Hadis ini telah dilemahkan oleh Yahya ibn Ma’in  dan ulama lainnya.

Abu salafy berkata:

Hadis ini juga sebuah kepalsuan belaka. Al Baihaqi meriwayatkannya dalam al Asmâ’ wa ash Shifât :445 dan Ibnu Jauzi dalam al ‘Ilal al Mutanâhiyah,1/36 dan ia menegaskan, “Hadis ini tidak tetap. Seluruh jalurnya adalah Hammâd ibn Salamah. Ibnu Adi berkata, ‘Telah dikatakan bahwa Ibnu Abi al ‘Ajâ’ –anak asuh Hammâd- telah menyisipkan dalam catatannya hadis-hadis (seperti) ini.”

Selain itu pada jalurnya terdapat ‘an’anah (periwayatan dengan redaksi ‘an [dari]) yang mengindikasikan ketidak bersambungan sanad yang dilakukan oleh Qatadah, sementara ia sangat diragukan periwayatannya dengan redaksi seperti itu!

Pendha’ifan adz Dzahabi!

Saudara Abu Jauzâ menuduh kami mengada-ngada ketika kami menyebut nama adz Dzahabi sebagai yang juga menerima hadis-hadis tajsîm di atas! khususnya pada hadis. Ia berkata menghujat kami:

“Dan memang benar bahwa Abu Salafy telah berdusta saat Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata ketika menyebutkan hadits ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas:

أنبأنا عبدالرحمن بن محمد الفقيه، أخبرنا أبو الفتح المندائي، أخبرنا عبيدالله بن محمد بن أحمد، أخبرنا جدي أبو بكر البيهقي في كتاب ” الصفات ” له، أخبرنا أبو سعد الماليني، أخبرنا عبد الله بن عدي، أخبرني الحسن بن سفيان، حدثنا محمد بن رافع، حدثنا أسود بن عامر، حدثنا حماد بن سلمة، عن قتادة، عن عكرمة، عن ابن عباس، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” رأيت ربي – يعني في المنام -..” وذكر الحديث. وهو بتمامه في تأليف البيهقي، وهو خبر منكر، نسأل الله السلامة في الدين، فلا هو على شرط البخاري ولا مسلم، وراوته وإن كانوا غير متهمين، فما هم بمعصومين من الخطأ والنسيان،

“Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdurrahman bin Muhammad Al-Faqiih: Telah mengkhabarkan kepada kami Abul-Fath Al-Mandaaiy: Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Ubaidullah bin Muhammad bin Ahmad: Telah mengkhabarkan kepada kami kakekku, Abu Bakr Al-Baihaqiy dalam kitabnya Ash-Shifaat: Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Sa’d Al-Maaliniy: Telah ‘Abdullah bin ‘Adiy: Telah mengkhabarkan kepadaku Al-Hasan bin Sufyan: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Raafi’: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Aamir: Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Qatadah, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ‘Aku melihat Rabb-ku – yaitu dalam mimpi – kemudian ia menyebutkan hadits tersebut.

Hadits itu selengkapnya ada dalam tulisan Al-Baihaqiy, dan ia adalah khabar munkar. Kami memohon kepada Allah keselamatan dalam agama. Tidaklah hadits tersebut (shahih) memenuhi persyaratan Al-Bukhari maupun Muslim. Para perawinya, jika mereka tidak tertuduh (berdusta),[19] maka tidaklah mereka terbebas dari kesalahan dan lupa (saat meriwayatkan)” [selesai – lihat Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 10/113-114 – biografi Syadzaan].

Abu Salafy berkata:

Sepertinya saudara Abu Jauzâ perlu memahami dengan baik istilah hadis munkar dalam pengistilahan adz Dzahabi sebelum kemudian ia menyimpulkan bahwa pernyataan itu darinya adalah pendha’ifan! Sebab yang menjadi fokus bidikan penelitian sebagia ulama dalam hadis di atas adalah apakah Nabi saw. melihat Allah di kala jaga  atau dalam mimpi.

Coba perhatikan, ketika menghujat al ‘Uqaili karena sikapnya mencacat seorang perawi yang menyendiri dalam membawakan sebuah riwayat, adz Dzahabi berkata;

“ … maka jika seorang perawi tsiqah yang kokoh hafalannya menyendiri dalam membawakan sebuah riwayat maka ia digolongkan hadis shahih yang gharib. Dan jika seorang perawi shadûq menyendiri dalam membawakan sebuah riwayat maka ia digolongkan hadis munkar.”

Adz Dzahabi tidak menyendiri dalam pendefenisian itu, Imam Ahmad juga memaknai hadis munkar itu sebagai hadis yang hanya diriwayatkan oleh seorang parawi tidak dibarengi perawi lain! Abu Thalib bertanya kepada Imam Ahmad tentang hadis istikhârah dari riwayat Ibnu Munkadir dari Jabir, Ahmad berkata, “Ia hadis munkar!” Aku berkata; munkar?! Ahmad berkata, “Ia tidak diriwayatkan oleh selainnya.”[20]

Padahal hadis itu telah diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kedua kitab Shahih mereka. Lalu apakah kita akan menvonis hadis itu lemah dikarenakan ucapan Imam Ahmad di atas?! serta banyak contoh lain yang dapat ditemukan peneliti jika mau meluangkan waktu dalam penelitian dan komentar-komnetar adz Dzahabi, seperti ketika menyebut biogfari Walîd ibn Muslim –salah seorang perawi yang diandalkan enam penulis kitab hadis standar-, “Dan termasuk paling munkar yang ia riwayatkan adalah hadis tentang menghafal AL Qur’an!”[21] padahal hadis itu telah diriwayatkan oleh Imam at Turmudzi dan ia hasankan, dan al Hakim dan ia tegaskan bahwa ia berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim.

Dari keterangan singkat di atas, perkataan adz Dzahabi seperti yang dikutip saudara Abu Jauzâ belum menunjukkan bahwa adz Dzahabi sedangmen -dha’if-kannya, walaupun bisa jadi demikian! Wallahu A’lam.

*****

Ibnu Jauzi melanjutkan:

“Dan dalam riwayat (lain) Ibnu Abbas ra. dari Rasulullah saw.: “Aku melihat Tuhanku berambut keriting, amrad (remaja belum tumbuh kumis dan janggutnya), Dia mengenakan hiasan berwarna hijau.”

Aku (Ibnu Jauzi) berkata;

“Hadis ini diriwayatkan dari jalur Hammâd ibn Salamah. Dan Ibnu Abi al ‘Aujâ’ si ateis itu adalah anak asuhnya Hammad, dialah yang menyelundupkan dalam kitab-kitab catatannya hadis-hadis seperti ini. Selain itu yang disebutkan dalam hadis itu adalah mimpi bekala. Dan mimpi itu khayal!”

Abu Salafy berkata:

Hadis ini juga munkar dan palsu! Ibrahim ibn Hakam –parawi hadis ini- adalah tidak bernilai. Demikian dikatakan Yahya ibn Ma’in, an Nasa’i, Abu Zur’ah, al Ajuri, al Azdi, Abu Daud dkk. Al Fasawi menegaskan, “Dan para ulama tidak berselisih pendapat akan kelemahannya.”[22]

Kemudian Ibnu Jauzi meneruskan:

“Hadis-hadis seperti itu tidak punya ketetapan sama sekali, dan hadis-hadis setingkat itu tidak pantas dijadikan hujjah untuk masalah wudhu’! Abu Ya’la al Qadhi si Mujassim yang memposturisasi Allah itu telah menetapkannya sebagai sifat bagi Allah, ia berkata, ‘Allah itu adalah berperawakan remaja, tidak berkumis dan berjanggut, rambutnya keriting, ia mengenakan hiasan kupu-kupu, sandal dan mahkota….

Ia (Ibnu Jauzi) juga berkata: “Ibnu Aqil berkata, ‘Hadis ini dipastikan akan kepalsuannya.”

Setelahnya Ibnu Jauzi menutup telaahnya dengan menetapkan sebuah kaidah penting lagi berkualitas, ia berkata;

“Kemudian tidak bermanfaat ketsiqahan para perawi jika matan (kandungan) hadis itu sesuatu yang musatahil. Hal itu seperti andai ada sekelompok orang yang jujurmengabarkan bahwa ontanya si pedagang sayur itu masuk ke dalam lubang jarum si penjahit! Maka tidak ada makna bagi kejujuran tutur kata para parawi itu selagi berita mereka itu mustahil![23]

Dan inilah yang harus terfahami dengan baik oleh kaum Mujassimah sebelum mereka bersusah payah dan menghabiskan umur mereka dalam mencari dukungan dan penguat bagi hadis-hadis yang mengandung makna mustahil seperti di atas!

(Bersambung Insya Allah)



[15] Pada bagian lain artikel ini saya akan kembali menyoroti lebih tajam tentang sanad hadis ini, khususnya Nu’aim ibn Hammâd dan kekacauan sikap Syeikh Albani. Nantikan![16] At Tabshirah wa at Tadzkirah, syarah Alfiyah al ‘Irâqi,2/10-11.[17] At Tabshirah wa at Tadzkirah, syarah Alfiyah al ‘Irâqi,2/10-11. juga buku-buku   mushthalahul hadist lainnya.[18] Abu Jauzâ’ berkata: Kesimpulan: Hadits di atas adalah dla’if karena kelemahan yang ada pada Marwaan bin ‘Utsmaan dan ‘Umaarah bin ‘Aamir serta adanya inqitha’ (keterputusan sanad) antara ‘Umaarah dan Ummu Thufail…”

[19] Di sini sepertinya terjemahan saudara Abu Jauzâ dalam hemat kami kurang tepat, yang tepat adalah: walaupun para parawinya tidak tertuduh, akan tetapi mereka bukan orang-orang yang makshum dari kesalahan dan lupa.Wallahu A’lam.

[20] Lebih lanjut baca al Kâmil; Ibnu Adi ketika menyebut sejarah hidup Abu Mawal,4/1616.

[21] Mîzân al I’tidâl,4/347.

[22] Baca Tahdzîb at Tahdzîb,1/100.

[23] Baca Daf’u Syubah at Tasybîh Bi Akuffi at Tanzîh:152-156. Terbitan Dâr al Imam an Nawawi. Yordan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: