Mereka Bicara Salafy & Wahabi

nGumpulin Tulisan Menyorot Salafy Wahabi

Abu Salafy Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza “Hadis Melihat Tuhan” (2)

Posted by bicarasalafy pada November 3, 2009

Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhâbiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (2)

SUMBER: http://abusalafy.wordpress.com

Bincang Bersama Abu Jauza -Hadis Melihat Tuhan- (2)

Di tulis Oleh: Abu Salafy

Kaidah Kedua:

Kedua, Seperti diketahui para santri yang rajin bergelut dalam dunia ilmu hadis, apalagi Pakar dan Ahli Hadis bahwa bisa jadi sebuah hadis itu dari sisi sanadnya shahih; sanadnya bersambung melalui perantara para perawi yang adil dan punya dhabth/ketepatan hafalan, akan tetapi ia sebenarnya sedang mengidap penyakit, illah atau mengalami keganjilan, syudzûdz.

Biasanya adanya keganjilan dan penyakit itu hanya diketahui oleh pakar Ahli Hadis yang memiliki ketelitian tinggi. Adapun selain mereka, pasti akan kesulitan mengidentifikasi adanya cacat tersembunyi tersebut.

Al Hafidz Ibnu al Jawzi berkata,

“Ketahuilah bahwa hadis-hadis itu memiliki kedetailan-kedetailan dan cacat-cacat yang tidak diketahui kecuali oleh para pakar, ulama dan fukaha, terkadang dalam susunannya dan terkadang dalam kupasan kandungannya…” [8]

Jalaladdîn as Suyuthi ketika menjelaskan makna hadis Syâdz yang disampaikan al Hakim, yaitu

“Hadis yang seorang parawi menyendiri dalam meriwayatkannya dan ia tidak punya pendukung/mutâbi’”, ia mencontohkannya dengan hadis riwayat al Hakim sendiri dalam al Mustadrak dari jalur: Ubaid ibn Ghunnâm an Nakha’i dari Ali ibn Hakîm dari Syarîk dari Atha’ ibn Sâib dari Abu Dhuha dari Ibnu Abbbas, ia berkata, “Di setiap bumi ada nabi seperti nabi kalian dan ada Adam seperti Adam kalian, ada Nuh seperti Nuh kalian, ada Ibrahim seperti Ibrahim kalian dan ada Isa seperti Isa kalian.” Ia berkata hadis itu shahih sanadnya. Aku (as- Suyuthi) senantiasa terheran-heran atas penshahihan al Hakim terhadap hadis itu, sehingga aku menyaksikan bahwa al Baihaqi berkata, ’Hadis itu shahih sanadnya akan tetapi matannya sangat syâdz.” [9]

Dan untuk mengetahui kondisi hadis seperti ini dibutuhkan kejelian dan ketelitian ekstra, tidak semua ahli hadis memiliki kemampuan untuk itu. Karenanya Ibnu Hajar seperti dinukil as Suyuthi menegaskan, “Dan tidak akan mampu menetapkan status itu melainkan seorang alim yang menggeluti disiplin ilmu ini dengan sepenuhnya, dan ia berada di atas puncak kefahaman yang tajam dan kekokohan dalam disiplin ini.” Dan setelahnya as Suyuthi mengomentari, “Karenanya tidak seorang pun yang menulis buku secara khusus dalam masalah ini.” kemudian as Suyuthi menyebutkan contoh di atas.

Dan bagi Anda yang berminat mengetahui lebih lanjut dipersilahkan merujuk kitab Ma’rifah ‘Ulûm al Hadîts; al Hâkim an-Nisyaburi:112, naw/bahasan: 27 dan lainnya.

Dan apabila para ulama hadis telah mendefenisikan hadis Syâdz adalah hadis riwayat perawi tsiqah yang menyalai riwayat para tsiqat lainnya, dan karenanya hadisnya digolongkan syadz dan cacat, lalu apa bayangan kita jika sebuah hadis riwayat perawi tsiqah menyalahi nash Al Qur’an?! Menyalahi nash yang pasti?! Tidak diragukan lagi bahwa riwayat seperti itu harus dibuang. Dan yang akan mengenali kondisi itu hanyalah para pakar yang teliti dan tercerahkan pikirannya dengan kedalam dan ketelitian penyimpulan masalah-masalah agama bukan sekedar menghafal teks atau sanad riwayat semata!

Dari sini dapat diketahui pula bahwa tidak jarang ada hadis yang dihukumi shahih oleh sebagian ahli hadis dengan sekedar memerhatikan sanadnya semata tanpa meneliti matan/kandungannya. Sebagaimana dalam masalah ini tidak ada perbedaan antara hadis-hadis riwayat Bukhari dan Muslim dan hadis-hadis riwayat ulama lain dalam kitab-kitab hadis mereka, kecuali yang sudah mencapai kualitas mutawatir!

Untuk lebih jelasnya dan agar Anda tidak hanya mengenali konsep tanpa mengenali contoh kasus, maka kami akan sebutkan beberapa contoh kasus hadis-hadis Bukhari dan/atau Muslim yang ditegaskan para ulama bahwa ia sedang bermasalah/cacat.

Contoh Pertama:

Muslim dalam kitab Shahih-nya,4/2149 hadis no. 2789 meriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfû’an (sabda Nabi saw.):

“Sesungguhnya Allah –Azza wa Jalla- menciptakan tanah hari sabtu, menciptakan gunung-gunung hari minggu, menciptakan pepehonan hari senin, menciptakan yang jelak/yang tidak disukai hari selasa, menciptakan cahaya hari rabu, dan menebarkan makhlukm melata hari kamis, dan menciptakan Adam pada akhair waktu di hari jum’at yaitu antara ashar dan malam.”

Dalam hadis ini ditegaskan bahwa Alllah SWT menciptakan langit-langit dan bumi dalam tujuh hari. Dan ini sangat bertentangan dengan Al Qur’an yang menegaskan bahwa proses penciptaan terjadi selama enam hari bukan tujuh hari! Allah SWT berfirman:

إنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الذي خَلَقَ السمَاواتِ و الأرضَ فِيْ سِتَّةِ أيَّامٍ.

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Alalh yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari… .” (QS. Al A’râf [7]54)

Sebagian misionaris sekte Wahhabiyah seperti Syeikh Nâshiruddîn al Albâni memperthankan keshahihan hadis ini dan menolak anggapan bahwa bertentangan dengan Al Qur’an, sebab dalam hematnya hadis ini sedang memerinci prosesi perkembangan pencitaan bumi dan apa-apa yang diciptakan di atasnya. Semua itu terjadi selama tujuh hari.

Akan tetapi sangat disayangkan pembelaan itu hanya sia-sia dan tidak berguna, sebab:

Pertama, Nabi Adam as. tidak diciptakan di bumi akan tetapi diciptakan di surga setalahnya baru diiturunkan ke bumi. Jadi hadis di atas tidak hanya berbicara tentang perkembangan penciptaan di bumi seperti yang mereka angap! Demikian dengan: menciptakan yang jelak/yang tidak disukai hari selasa tidak dimengerti maknanya!! Sementara yang dapat dibuktikan bahwa makrûh atau syar itu diciptakan sa’at terjadi!

Kedua, Al Qur’an terang-terangan membantah anggapan pendekar Wahhabiyah di atas, sebab Allah SWT telah menegaskan bahwa proses penciptaan bumi itu terjadi dalam dua hari:

“Katakanlah: ”Sesungguhnya patutlah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua hari (masa) dan kamu adakan sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam. Dan Dia menciptakan di bumi gunung-gunung yang kokoh di antaranya. Dia memberlakukannya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat hari (masa). (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.” (QS. Fushshilat [41];9-10)

Ketiga, Sebagian ulama dan pakar hadis telah mengenali cacat pada matan/kandungan riwayat di atas. Ibnu Kastsir berkata, “Hadis ini adalah termasuk hadis-hadis aneh Shahih Muslim. Ali ibn Madîni, Bukhari dan ulama ahli hadis lain telah mencacatnya. Mereka menjadikan hadis itu sebagai ucapan Ka’ab al Ahbâr. Dan sesunguhnya Abu Hurairah mendengarnya dari ucapan Ka’ab al Ahbâr, dan telah rancu atas sebagian parawi lalu ia menjadikannya sabda Nabi saw.” [10] Sepertinya kesimpilan mereka bahwa ucapan Abu Hurairah itu ia ambilnya dari omongan Ka’ab, sebab Abu Hurairah telah berguru kepada Ka’ab dan banyak duduk belajar hadis dari Ka’ab! Seperti disebutkan dalam riwayat di bawah ini.

Dan penyimpangan berbahaya seperti itu dalam hadis Abu Hurairah sering ditemukan ulama, di antara apa yang juga dibongkar Ibnu Katsir, setelah menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Hurairah, ia mengatakan, “Mungkin Abu Hurairah menerima omongan ini dari Ka’ab al Ahbâr, sebab sesungguhnya ia (Ka’ab) sering sekali duduk bersamanya dan menyampaikan hadis [11] kepadanya, lalu kemudian Abu Hurairah menyampaikannya, dan sebagian perawi darinya salah duga dan menganggapnya dari Nabi saw, lalu ia merafa’kannya (menegaskan bahwa ia adalah sabda Nabi saw. bukan omongan Ka’ab)… [12]

Dan sepertinya, entah memang sengaja atau tidak, Abu Hurairah sering mengkombinasi dalam tablingnya antara sabda suci Rasulullah saw. dan bualan Ka’ab al Ahbâr, yang akibatnya para periwayat yang menukil langsung darinya sering terjebak dalam kesalahan fatal seperti di atas. Adz Dzahabi melaporkan dari Busr ibn Said, ia berkata, “Bertaqwalah kalian kepada Allah, dan berhati-hatilah dalam berhadis. Demi Allah aku telah menyaksikan ketika duduk berguru kepada Abu Hurairah, lalu ia menyampaikan hadis dari Rasulullah saw. dan juga menyampaikan ucapan Ka’ab, kemudian ia berdiri (pergi), maka aku mendengar sebagian orang yang bersama kami menjadikan sabda Rasulullah sebagai dari Ka’ab dan menjadikan omongan Ka’ab sebagai hadis dari Rasulullah saw.” [13]

Entah benar kesalahan itu dari para periwayat yang menukil dari Abu Hurairah atau memang Abu Hurairah yang mencampur-adukkan antara keduanya, yang pasti hadis seperti itu sangat bermasalah bagi kemurnian akidah kaum Muslim, dan sebagai buktinya sekarang ialah kaum Wahhabiyah sangat mempercayainya sebagai sabda suci Nabi Islam, sementara ia hanya sekedar bualan palsu pendeta Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam!!

Contoh Kedua:

Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya pada Kitab Fadhâil ash Shahabah, Bab  Fadhâil Sufyân, hadis no 2501 dari jalur Ikrimah ibn Ammar dari Abu Zamîl dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Dahulu kaum Muslimin tidak memandang dan mengajak duduk bersama Abu Sufyan, maka ia berkata kepada Nabi saw., ’Wahai Nabi, tiga perkara aku meminta agar engkau memberikannya kepadaku.’ Nabi saw. menjawab, ’Ya.’ Abu Sufyan berkata, ’Aku punya anak perempuan paling cantiknya wanita-wanita Arab; Ummu Habibah, maukanh aku nikahkan denganmu? Nabi saw. menjawab, ’Ya.’ Abu Sufyan berkata lagi, ’Kedua, Mu’awiyah maukan engkau menjadikan ia penulis/sekretaris pribadimu? Nabi saw. menajwab, ’Ya.’ [14] Abu Sufyan melanjutkan, ’Sudikah engkau menjadikanku penglima pasukanmu untuk memerangi kaum Musyrikin, sebagaiamana dahulu aku memerangi kaum Muslimin? Nabi  saw. pun menjawab, ’Ya.’”

Tidak diragukan lagi bahwa hadis di atas termasuk di antara hadis palsu/mawdhû’ yang lolos sensor sehingga masuk dalam koleksi Shahih Muslim. Di antara bukti kepalsuannya adalah bahwa sejarah otentik –semua mengetahuinya, termasuk santri-santri ibitidaiah sekalipun- bahwa Ummu Habibah telah dinikahi Rasululllah saw. sebelum Fathu Mekkah sementara Abu Sufyan masih musyrik. Dan ketika Abu Suyfan mengunjunginya di kota suci Madinah dalam keadaan musyrik, Ummu Habibah menarik tikar yang diduduki ayahnya dengan alasan bahwa ia masih musyrik yang najis.

Adz Dzahabi berkomentar dalam Siyar A’lâm-nya7/137 tentang hadis di atas yang Ikrimah ibn Ammar adalah salah satu perawinya, “Aku (adz Dzahabi) berkata, ’Muslim telah menyebutkan sebuah hadis munkar dalam buku induknya, yaitu yang ia riwayatkan dari Sammâk al Hanafi dari Ibnu Abbas tentang tiga perkara yang diminta Abu Sufyan dari Nabi saw.”

Imam Nawawi dalam syarahnya atas Shahih Muslim,16/63 menukil penegasan Ibnu Hazm bahwa hadis ini adalah hadis mawdhû’/palsu.

Serta banyak lagi contoh lainya seperti hadis riwayat Muslim yang mengatakan bahwa isrâ’ dan mi’râj itu terjadi sebelum kenabian Nabi Muhammad saw. hal mana jelas-jelas tidak ada yang membenarkannya! Semua vonis itu dijatuhkan ke atas hadis-hadis tersebut dari sisi matan/kandungannya yang menyalahi kenyataan dan menyimpang dari kebenaran! Hal mana menguatkan apa yang kami tegaskan bahwa hadis âhâd itu rawan kesalahan dan kekeliruan.

Untuk sementara agar tidak makin melebar dan keluar dari tema inti kita, maka kami cukupkan sampai di sini. Dan setelahnya, mari kita meneliti hadis yang menjadi kebanggaan kaum Mujassimah Musyabbihah/Wahhâbiyah bahwa Tuhan mereka berbentuk dan dapat dilihat dalam mimpi dalam bentuk terindah, bak seorang pemuda amrad (yang belum tumbuh subur kumis dan janggutnya) yang berambut lebat yang sedang duduk di atas ranjang/singgasana-Nya yang terbuat dari bahan emas! Dan Dia mengenakan sepasang sandal terbuat dari emas murni! Maha suci Allah dari penggambaran dan pensifatan kaum jahil yang menyerupakan-Nya dengan dewa-dewa sesembahan kaum musuryik penyembah berhala berbentuk!

(Bersambung Insya Allah)

CATATAN KAKI

[8] Daf’u Syubah at Tasybîh:143 dengan tahqîq dan komentar oleh Sayyid Hasan ibn Ali as Seqqaf.

[9] Tadrîb ar Râawi,1/233.

[10] Tafsir Ibnu Katsîr,1/99.

[11] Jangan salah faham! Hadis yang disampaikan Ka’ab kepada Abu Hurairah bukan sabda suci Nabi saw. akan tetapi adalah bualan para pendeta dan doktrin ajaran Yahudi yang ia warisi dari kitab taurat yang sudah terkontaminasi oleh kepalsuan dan penyelewengan.

[12] Ibid.,3/104 dan 105.

[13] Siyar A’lâm al-Nubalâ’.2,606. dan dalam catatan kaki oleh Syu’aib Arnauth disebutkan bahwa dokumen itu juga diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidâyah,8/109 dari jalur Imam Muslim, dengan sanad yang sahih. Dan juga dalam Tarikh Ibnu ’Askir,19/121/2.

[14] Maka berdasarkan hadis palsu bermasalah di atas kaum Nawâshib; antek-antek bani Umayyah menyebarklan isu palsu bahwa Mu’awiyah adalah penulis wahyu. Sementara Ibnu Hajar dalam al Ish^abah-nya, adz Dzahabi dalam Siyar A’lam-nya dan ulama lainnya menolak isu palsu tersebut.

__________________________________

TULISAN SEBELUMNYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: