Mereka Bicara Salafy & Wahabi

nGumpulin Tulisan Menyorot Salafy Wahabi

Dialog Dengan Salafy/Wahabi Tentang Hadis Tawassul Malik Ad Daar (4)

Posted by bicarasalafy pada September 30, 2009

Shahih Hadis Tawassul Malik Ad Daar : Jawaban Atas Matan Dengan Perawi Mubham

SUMBER TULISAN: secondprince.wordpress.com

Penulis: J Algar

Hadis Malik Ad Daar Mubham

Anda mengatakan

Saya katakan : Perkataan Anda bahwa tidak ada keraguan mengenai sanad hadits tersebut telah lalu penjelasan akan kekeliruannya. Adapun tentang mubham, maka yang Anda katakan tidaklah mutlak. Perawi mubham tidaklah memberikan pengaruh terhadap riwayat jika ia tidak membawakan riwayat, kisah, dan yang sejenisnya dalam matan. Namun jika ia membawakan satu riwayat, kisah, dan yang sejenisnya; maka ini perlu dilihat.

Telah berlalu pula penjelasan saya akan kekeliruan anda. Adapun tentang mubham maka dalam hadis di atas ternyata tidak hanya memuat perkataan perawi mubham. Dalam matannya apa yang dibawa perawi mubham adalah mimpinya dimana ia mengadukan mimpinya kepada Khalifah Umar RA. Mari kita analisis dengan cermat. Malik Ad Daar, Perawi Mubham dan Khalifah Umar berada pada satu masa. Ini sudah sangat jelas. Dalam hadis di atas kita dapati

  • Kesaksian Malik yaitu Ia berkata “Orang-orang mengalami kemarau panjang saat pemerintahan Umar. Kemudian seorang laki-laki datang ke makam Nabi SAW dan berkata “Ya Rasulullah SAW mintakanlah hujan untuk umatmu karena mereka telah binasa”.
  • Kesaksian Perawi Mubham yaitu orang tersebut mimpi bertemu Rasulullah SAW dan dikatakan kepadanya “datanglah kepada Umar dan ucapkan salam untuknya beritahukan kepadanya mereka semua akan diturunkan hujan. Katakanlah kepadanya “bersikaplah bijaksana, bersikaplah bijaksana”.
  • Kembali kesaksian Malik bahwa Maka laki-laki tersebut menemui Umar dan menceritakan kepadanya akan hal itu. Kemudian Umar berkata “Ya Tuhanku aku tidak melalaikan urusan umat ini kecuali apa yang aku tidak mampu melakukannya”.

Kesaksian Malik benar karena kredibilitasnya yang sudah saya bicarakan. Dan apa yang dibawa oleh perawi mubham yaitu berupa mimpinya bisa jadi benar ataupun salah karena ketidaktahuan kita akan kredibilitasnya. Tetapi disini yang harus dicamkan adalah kesaksian Malik bahwa Umar tidak mengingkari atau mencela apa yang dilakukan perawi mubham yaitu pergi kekubur Nabi dan meminta Nabi untuk mendoakan (perhatikan saya tidak bicara soal isi mimpi perawi tersebut).

Anda berkata

Salah satu hal yang menunjukkan adanya ‘illat tersebut dalam pembicaraan ini adalah bahwasannya orang yang tidak disebutkan namanya tersebut (mubham) membawakan satu kisah sekaligus menceritakan mimpinya. Dan mimpi, tidaklah sampai kepada perawi kecuali orang yang mempunyai mimpi tersebut menceritakannya. Ini yang harus Anda catat. Ada dua kemungkinan mengenai diterimanya riwayat ini pada Maalik :
a.    Maalik melihat peristiwa dan sekaligus percakapan antara orang tersebut dengan ‘Umar.
b.    Maalik menerima khabar/riwayat dari orang tersebut tentang kisahnya, mimpinya, sekaligus proses menghadap ‘Umar bin Al-Khaththab.

Dengan melihat matan hadisnya maka kemungkinan pertamalah yang benar. Malik melihat peristiwa dan sekaligus percakapan orang tersebut dengan Umar. Jika memang Malik menerima kabar dari perawi mubham maka ia akan mengatakan dari atau telah menceritakan kepadanya tetapi ternyata dalam hadisnya ia membawakan hadis tersebut secara langsung yang mengindikasikan ia menyaksikan persitiwa tersebut. Sebagai bendahara Umar tentu sangatlah mungkin baginya menyaksikan percakapan antara perawi mubham dan Umar. Disini saya ulangi Malik menyaksikan kalau Umar tidak mencela apalagi menyatakan syirik perilaku perawi mubham tersebut.

Anda berkata

Andaikata perawi mubham tersebut termasuk jajaran shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tentu saja pembicaraan kita mudah. Dua kemungkinan yang saya sebutkan di atas tidaklah berpengaruh pada keshahihan riwayat. Tapi di sini masalahnya adalah bahwa orang yang mubham itu bukan shahabat Nabi yang kemudian ia menceritakan mimpinya. Tentu saja dua kemungkinan di atas layak menjadi pertimbangan dalam tashhih. Hanya orang yang membutakan diri saja kiranya yang tidak bisa menerima ini.

Jika perawi mubham itu sahabat Nabi maka kredibilitasnya jelas diakui, oleh karena itu tak ada alasan untuk menolak kesaksian perawi mubham soal mimpinya. Jika anda mengatakan ia bukan sahabat Nabi maka Khalifah Umar RA tidak mengingkari atau menyatakan syirik perilaku perawi mubham tersebut, inilah yang disaksikan Malik. Syaikh-syaikh Ahlussunah yang membolehkan tawasul berhujjah dengan riwayat Saif bahwa perawi mubham itu adalah sahabat sedangkan posisi saya disini adalah tidak berhujjah dengan riwayat Saif. Harap anda bisa membedakan itu. Terlepas dari siapa perawi mubham itu maka apa yang disaksikan Malik adalah shahih. Maaf, saya rasa tidak ada yang membutakan diri disini.

Ketika saya mengatakan bahwa apa yang dibawakan Saif adalah sejarah bukannya hadis, anda malah berkata

Saya katakan : Inilah kesimpulan yang sungguh sangat aneh yang menyelisihi kaidah-kaidah ma’ruf. Anda katakan bahwa riwayat Saaif dalam hal ini adalah hanya merupakan sejarah. Hanya begitukah analisa cermat Anda ?
Perhatikan kembali matan riwayat yang sedang kita perbincangkan. Bukankah di situ dinyatakan ada orang yang mimpi bertemu Nabi di kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan kemudian Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada orang tersebut agar mendatangi ‘Umar. Dan yang lebih penting dari itu, Anda mempergunakan riwayat ini sebagai dasar diperbolehkannya tawassul ke kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau meninggal dunia. Apakah ini hanya merupakan catatan sejarah saja ? Justru pernyataan-pernyataan yang Anda sampaikan di atas secara eksplisit membatalkan perkataan Anda sendiri – yang bersamaan dengan itu menunjukkan bahwa Anda tidak memahami apa yang sedang Anda tuliskan dan katakan. Tentu saja kita menolak penisbatan orang tersebut kepada shahabat Bilaal bin Al-Haarits tentang masyru’-nya tawassul model quburiy tersebut.

Lalu apakah penjelasan anda itu sendiri cermat?. Perhatikan dengan cermat bagian mana dari riwayat tersebut yang merupakan hadis Rasulullah SAW. Jika belum jelas mari saya bantu bagian yang merupakan hadis Rasulullah adalah apa yang disampaikan perawi mubham karena perkataan Rasulullah SAW ada padanya. Lalu apa yang dikatakan Saif, Saif mengatakan bahwa laki-laki yang datang ke kubur itu adalah Bilal bin Harits Al Muzanni. Apakah pernyataan Saif bahwa laki-laki yang datang ke kubur itu adalah Bilal bin Harits Al Muzanni adalah hadis Rasulullah? Jawablah dengan jujur, bagi saya informasi tambahan Saif yang tidak ada pada riwayat Malik adalah bagian nama orang yang pergi ke kubur yaitu Bilal bin Harits.
.

Anda berpikir secara terbalik yaitu dengan melihat hasil atau konsekuensi hadisnya kemudian karena hadis tersebut berkonsekuensi syirik dalam anggapan anda maka anda mencari-cari kelemahan hadis tersebut baik sadar maupun tidak. Mengenai pertanyaan anda Dan yang lebih penting dari itu, Anda mempergunakan riwayat ini sebagai dasar diperbolehkannya tawassul ke kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau meninggal dunia. Apakah ini hanya merupakan catatan sejarah saja? saya katakan khalifah Umar tidak melarang atau mengoreksi apa yang dilakukan perawi mubham tersebut dan adanya laki-laki yang menurut Saif adalah Bilal bin Harits pergi bertawassul ke kubur Nabi itu merupakan catatan sejarah. Saya katakan sekali lagi adanya laki-laki yang pergi bertawassul ke kubur Nabi SAW pada zaman khalifah Umar dimana khalifah Umar tidak mencelanya adalah shahih dari kesaksian Malik (di sini saya tidak berhujjah sedikitpun dengan Saif).
Anda mengatakan

Saya katakan : Di sini lagi-lagi Anda menunjukkan ketidakpahaman akan ilmu ini – sebagaimana penjelasan ulama’. Para ulama telah membedakan antara riwayat hadits dengan sejarah atau peperangan/maghaziy. Sebenarnya perkataan para imam yang telah ternukil tentang diri Saaif telah mencukupi bahwa ia pakar sejarah, namun ditinggalkan dalam bidang hadits. Sama halnya dengan Al-Waqidiy, ia lemah dalam hadits namun ahli dalam bidang sejarah. Hal yang sama menimpa Ibnu Ishaq. Para ulama telah membedakan hal itu, dan ternyata antum berada di sisi yang berseberangan dengan para ulama. Riwayat-riwayat mereka ini diterima selama tidak ada pertentangan dengan riwayat-riwayat yang tsabit. Dan juga, dengan syarat bahwa riwayat tersebut tidak ada kaitannya dengan ‘aqidah dan syari’at. [lihat selengkapnya keterangan kaidah ini dalam penjelasan Prof. Dr. Akram Dliyaa’ Al-‘Umariy dalam As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahiihah 1/32-70, Maktabah Al-‘Ulum wal-Hikaam, 1415].

Saya tidak menafikan kalau ada ulama yang membedakan antara riwayat hadis dengan sejarah dan saya rasa sejarah tidak hanya melibatkan peperangan saja. Saya masih belum dapat menerima metode jarh wat ta’dil yang membedakan sejarah dengan hadis. Kita ambil contoh si Saif ini, para ulama telah memberikan jarh yang sangat keras padanya. Ada yang mengatakan dia dhaif, matruk, pendusta sampai pada pemalsu hadis. Jadi Saif ini adalah seorang perawi yang berani memalsukan hadis dan pendusta, hal ini sangat jelas meruntuhkan kepercayaan kabar atau riwayat yang ia bawa. Jika seseorang dengan mudahnya berdusta mengenai hadis Rasulullah SAW yang merupakan perkara berat apalagi untuk hal-hal yang lebih ringan dari itu maka tentu akan jauh lebih mudah baginya untuk berdusta. Dengan dasar inilah saya masih belum bisa mengikuti metode seperti yang anda anut.

.
Lagipula apakah jarh wat ta’dil yang tertera dalam kitab-kitab rijal itu berkaitan dengan khusus hadis atau bersifat umum sebagai tanda kredibilitas seseorang untuk meriwayatkan sesuatu. Kalau anda membedakan antara sejarah dan hadis maka jarh wat ta’dil yang ada di dalam kitab-kitab tersebut berkaitan dengan hadis atau dengan sejarah? Atau untuk keduanya sehingga tidak ada perbedaan?. Kalau anda katakan untuk hadis saja maka bagaimana bisa ulama-ulama menilai kitab sejarah dengan menggunakan jarh wat ta’dil yang ada dalam kitab rijal. Dan kalau dilihat lagi para ulama terdahulu yang memberikan jarh wat ta’dil itu juga tidak membuat pemisahan khusus misalnya ia berkata fulan matruk hadisnya tapi tsiqat dalam sejarah atau fulan matruk baik dalam hadis maupun sejarah atau fulan tsiqat dalam hadis tapi pendusta dalam sejarah.
.
Kemudian bagaimana anda mengartikan apa yang disebut dengan Matruk. Bukankah pengertian matruk diantaranya adalah orang yang tertuduh dusta dalam arti berdusta dalam ucapan sehari-harinya dan belum pasti berdusta dalam periwayatan hadis. Justru jika Saif ini matruk maka ucapannya tidak layak diambil karena ia terbiasa berdusta dalam ucapan sehari-harinya.
.
Dalam perkara Saif ini, Ibnu Hajar bersikap konsisten, beliau mengatakan dalam At Taqrib kalau Saif lemah dalam hadis tetapi pegangan dalam sejarah. Jika anda dan ulama anda konsisten dengan metode pemisahan sejarah dan hadis maka anda harus menerima keterangan Saif bahwa nama laki-laki itu adalah Bilal bin Harits karena informasi mengenai nama laki-laki itu adalah sejarah. Bagaimana bisa ulama anda menolak dengan mudahnya riwayat Saif dengan dalih seperti Syaikh Al Albani yang mengutip jarh Ibnu Hibban terhadap Saif. Padahal menurut metode anda, jarh Ibnu Hibban berlaku jika Saif meriwayatkan hadis Rasulullah SAW. Sedangkan dalam hal ini Saif memberikan informasi siapa nama laki-laki tersebut. Perhatikan apa yang dikatakan Ibnu Hajar
Saif telah meriwayatkan dalam kitab Al-Futuuh bahwasannya orang yang bermimpi tersebut adalah Bilaal bin Al-Haarits Al-Muzanniy, salah seorang shahabat
.

Apa yang dikutip oleh Ibnu Hajar dari Saif adalah keterangan kalau nama laki-laki tersebut adalah Bilal bin Harits seorang sahabat. Jadi disini Saif tidak sedang meriwayatkan hadis Rasulullah SAW dan dia sedang meriwayatkan kalau nama laki-laki itu adalah Bilal, inilah yang diambil oleh Ibnu Hajar sebagai pegangan karena bagi Ibnu Hajar Saif adalah pegangan dalam Tarikh. Anehnya anda tidak mengerti hal ini malah berkata

Saya katakan : Inilah kesimpulan yang sungguh sangat aneh yang menyelisihi kaidah-kaidah ma’ruf. Anda katakan bahwa riwayat Saaif dalam hal ini adalah hanya merupakan sejarah. Hanya begitukah analisa cermat Anda ?

Kalau begitu mari kita lihat analisa cermat anda.

Perhatikan kembali matan riwayat yang sedang kita perbincangkan. Bukankah di situ dinyatakan ada orang yang mimpi bertemu Nabi di kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan kemudian Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada orang tersebut agar mendatangi ‘Umar.

Matan hadis tersebut benar dan ini tertera dalam hadis di atas yang jelas tidak terpampang nama Saif. Matan yang anda sebutkan adalah keterangan dari hadis Malik. Jadi bagian mana yang anda anggap sebagai keterangan dari Saif

Dan yang lebih penting dari itu, Anda mempergunakan riwayat ini sebagai dasar diperbolehkannya tawassul ke kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau meninggal dunia. Apakah ini hanya merupakan catatan sejarah saja ?


Maaf, ini logika terbalik anda. Orang mau menggunakan hadis tersebut sebagai apa, sebagai pembenaran, atau sebagai hujjah itu sama sekali tidak akan mengubah isi hadis yang merupakan teks-teks yang tetap terjaga.

Justru pernyataan-pernyataan yang Anda sampaikan di atas secara eksplisit membatalkan perkataan Anda sendiri – yang bersamaan dengan itu menunjukkan bahwa Anda tidak memahami apa yang sedang Anda tuliskan dan katakan. Tentu saja kita menolak penisbatan orang tersebut kepada shahabat Bilaal bin Al-Haarits tentang masyru’-nya tawassul model quburiy tersebut.

Kita memang menolak penisbatan nama orang tersebut dengan nama Bilal, tetapi disini dasar kita berbeda. Dasar saya menolak karena saya pribadi tidak menerima pemisahan seperti yang dilakukan Ibnu Hajar bagi Saif yaitu lemah dalam hadis dan pegangan dalam sejarah. Bagi saya Saif orang yang tidak kredibel untuk meriwayatkan baik hadis maupun sejarah. Sedangkan dasar anda apa? Kalau anda menerima metode pemisahan hadis dan sejarah maka tidak ada alasan anda untuk menolak Saif karena keterangan tambahan Saif yang berupa nama Bilal adalah sejarah.
.

Anda dan ulama anda seyogianya mengikuti Ibnu Hajar yang berhujjah dengan riwayat Saif bukan malah mendustakannya. Apalagi kalau anda mengambil jarh para ulama dari kitab rijal sebagai penolakan terhadap Saif. Menurut metode anda sendiri maka anda sudah salah tempat. Bukankah jarh itu berlaku untuk hadis Rasulullah yang diriwayatkan Saif sedangkan disini riwayat Saif soal nama Bilal adalah sejarah. Jadi siapa yang tidak cermat disini. Yang saya lihat anda seenaknya menolak riwayat Saif padahal anda termasuk orang yang memisahkan periwayatan hadis dengan sejarah.
.

Riwayat-riwayat Abdullah bin Saba’ yang anda bawa itu tidak menjadi penguat bagi riwayat Saif. Mengapa anda tidak menampilkan bagaimana riwayat Abdullah bin Saba’ versi Saif. Kalau dari hadis-hadis yang anda bawa maka sifat Abdullah bin Saba’ adalah dia seorang pendusta yang mencela Abu Bakar dan Umar serta menyembah Ali. Apakah ini juga yang disampaikan oleh Saif?. Tidak, Saif membawakan cerita lain soal Abdullah bin Saba’ dimana dia menjadi dalang terhadap peristiwa fitnah terhadap Usman, Saif meriwayatkan kalau Abdullah bin Saba’ mengakui Ali sebagai washi Rasul, tidak ada sedikitpun riwayat Saif yang mengatakan Abdullah bin Saba’ menyembah Ali. Jadi bagaimana bisa anda mengatakan riwayat yang anda bawa sebagai penguat bagi riwayat Saif.
.

Satu-satunya kesamaan dari riwayat yang anda bawa dengan riwayat Saif hanyalah Ada orang bernama Abdullah bin Saba’. Mengenai apa yang dilakukan oleh Ibnu Saba’ maka riwayat yang anda bawa melaporkan hal yang berbeda dengan riwayat Saif jadi jelas tidak bisa jadi penguat.

Sekarang ganti saya tanya kepada Anda : “Adakah riwayat yang menguatkan bahwa shahabat Bilaal bin Al-Haarits melakukan tawassul di kubur Nabi sebagaiamana di atas selain dari riwayat Saaif ?”

Kalau anda cermat maka anda akan mengetahui bahwa riwayat Saif kalau laki-laki yang datang ke kubur Nabi adalah Bilal bin Harits adalah sejarah. Mari kita analisis dengan cermat. Hadis Malik Ad Daar memuat kesaksian Malik terhadap peristiwa yang terjadi di masa khalifah Umar (ini adalah sejarah). Peristiwa tersebut berupa ada laki-laki yang datang ke kubur Nabi untuk  bertawassul dan percakapan Umar dengan laki-laki tersebut (ini juga sejarah). Laki-laki ini mengatakan bahwa ia menyampaikan kata-kata Rasulullah SAW (ini adalah hadis) kemudian Umar menjawab laki-laki tersebut dengan perkataan (ini adalah peristiwa yang disaksikan Malik, berarti juga sejarah). Kemudian apa yang ditambahkan Saif?. Saif menambahkan bahwa nama laki-laki yang pergi ke kubur itu adalah Bilal bin Harits (ini adalah persitiwa sejarah).
Mengenai perkataan anda

Apakah Anda pikir syari’at Islam yang diturunkan melalui Muhammad bin ‘Abdillah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ini hanya berwujud qaul (perkataan) perintah, anjuran, atau larangan ? (sebagaimana yang Anda sangkakan). Bagaimana mungkin Anda katakan bahwa satu ibadah yang ditunjukkan kebolehannya maka disitu tidak bermakna anjuran ataupun perintah ? Apalagi riwayat yang sedang kita bicarakan termasuk bagian dari ibadah mahdlah (khusus). Apakah taqrir Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam atas perbuatan para shahabat yang melakukan shalat sunnah sebelum Maghrib itu tidak berkonsekuensi anjuran ? Apakah perbuatan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika berangkat dan pulang memilih jalan yang berbeda ketika hari ‘Ied bukan merupakan sunnah/anjuran ? toh di situ Nabi tidak menggunakan perintah ? Juga persetujuan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam terhadap perbuatan Bilaal yang selalu mendawamkan shalat dua raka’at setelah wudlu ? Haihata haihata…………… Jika memang benar demikian, sungguh dangkal sekali pemahaman Anda tentang makna Sunnah dan syari’at.

Apa sebenarnya yang anda bicarakan?. Mengapa anda berbicara tak tentu arah dan menisbatkan kepada saya hal yang tidak pernah saya katakan. Adakah saya mengingkari syariat Nabi?. Saya sarankan anda untuk memahami dengan baik apa maksud perkataan orang lain sebelum menjawab. Poin yang saya jadikan hujjah dari Hadis Malik Ad Daar adalah khalifah Umar tidak melarang atau mencela atau mengatakan syirik terhadap perilaku laki-laki tersebut.
Saya tidak berhujjah dengan perkataan kalau laki-laki itu adalah sahabat, Saya juga tidak berhujjah dengan apa yang disampaikan laki-laki tersebut dimana ia menyampaikan kata-kata Rasulullah SAW dalam mimpinya, hal ini dikarenakan bagi saya masih belum jelas siapa laki-laki ini. Jadi hujjah saya terletak pada diamnya khalifah Umar (bahkan terdapat indikasi beliau percaya dengan laki-laki tersebut) yang itu mengindikasikan Sesuatu yang diperbolehkan atau tidak berbahaya bagi aqidah. Disini saya tidak melihat sedikitpun adanya perintah Nabi karena perkataan Nabi dalam hadis diatas dikatakan oleh seseorang yang saya tidak tahu siapa ia dan disini saya bertawaqquf. Jadi kesimpulan saya hanya pada sebatas itu perbuatan yang boleh, saya tidak dapat menyimpulkan bahwa perbuatan itu dianjurkan atau diperintahkan atau dilarang.

Dengan membaca tulisan Anda dan orang-orang yang semisal dengan Anda, secara implisit dan eksplisit menegaskan masyru’nya tawassul ke kubur Nabi shallallaau ‘alaihi wa sallam. Apakah Anda mengira bahwa orang-orang di belakang Anda yang mendukung model tawassul seperti ini tidak menganjurkan kepada orang lain untuk berbuat seperti riwayat di atas (mendatangi kubur Nabi atau orang-orang yang dianggap shalih) ? Apakah Anda pikir mereka melakukan semua itu tidak mengharap pahala dan memasukkannya pada amal-amal yang disunnahkan ?

Apa urusan saya dengan bagaimana maunya orang lain?. Cukuplah analisis saya tidak terpengaruh oleh kepentingan orang lain, murni bersandar pada hadis dan hujjahnya.

Saya katakan bahwa perkataan Anda inilah yang sesungguhnya mengada-ada.
Telah shahih dalam hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa jika terjadi paceklik musim kemarau, yang dianjurkan untuk dilakukan adalah shalat istisqaa’. Bukan mendatangi kubur Nabi dan bertawassul agar diturunkan hujjan melalui perantaraan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada satupun riwayat shahih yang menegaskan bahwa jika musim kemarau para shahabat datang ke kubur Nabi dan bertawassul di sana, kecuali beberapa riwayat bermasalah yang mungkin coba Anda shahihkan. Termasuk riwayat ini. Melakukan sesuatu hal yang berbeda dengan apa yang dicontohkan dan dianjurkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam termasuk perbuatan menyelisihi sunnah beliau shallallaahu ’alaihi wa sallam

Andalah yang mengada-ngada, karena pada kenyataannya khalifah Umar tidak mengingkari apa yang dilakukan oleh laki-laki tersebut. Sedangkan keshahihan hadis Malik sudah berlalu penjelasan panjang saya soal ini.

Penukilan Anda tentang tashhih Ibnu Hajar dan Ibnu Katsir perlu di-tahqiq kembali, kecuali jika Anda hanya berprinsip ‘pokoknya’ dengan meninggalkan pembahasan ilmiah sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu hadits yang ma’ruf. Adapun tashhih Ibnu Hajar, telah berlalu komentar Asy-Syaikh Al-Albani mengenainya. Sementara Ibnu Katsir, maka beliau telah keliru dengan menshahihkan riwayat ini. Wallaahu a’lam.

Pentashihan Ibnu Hajar dan Ibnu Katsir adalah benar. Sedangkan perkataan Syaikh Al Albani telah berlalu penjelasan saya atas kekeliruannya. Jadi pendapat anda dan ulama-ulama anda keliru dan perlu ditahqiq kembali.

Jika Anda mengatakan bahwa Anda sedang malas menulis sehingga terkesan ‘memaksakan’ diri untuk menulis bahasan ini, saya harapkan itu semata-mata hanya karena faktor diri saya pribadi. Bosan, jengah, atau kesal terhadap saya. Saya tidak mengharap bahwa kemalasan itu disebabkan karena malas untuk belajar yang kemudian melahirkan beberapa kekeliruan (fatal) sebagaimana di atas.

Maaf waktu itu saya memang sedang bosan menulis dan perkara seperti tawassul ini tidak menarik bagi saya. Saya juga tidak bosan, jengah atau kesal kepada anda, kenapa pula saya harus seperti itu. Saya rasa anda juga harus memperhatikan apa yang saya jelaskan sebagai kekeliruan anda.

Terakhir, saya perlu katakan bahwa sanggahan Anda dalam hal ini secara keseluruhan sangat lemah, kecuali pada point satu di atas – yang jumhur ulama hadits Salafiy mu’tabar (termasuk Asy-Syaikh Al-Albani) tidak mempergunakannya – yang merupakan ta’lil lemah di antara yang disebutkan. Dan itu sudah Anda komentari dengan cukup baik. Namun yang lain, maka itu adalah ‘illat yang jaliy (jelas/terang) yang melemahkan riwayat sehingga tidak boleh dipakai untuk hujjah dalam masalah syari’at.

Terakhir saya katakan illat-illat yang anda tampilkan secara keseluruhan sangat lemah dan telah berlalu penjelasan panjang saya soal itu. Mungkin anda jauh lebih pintar dari saya oleh karena itu saya mohon maaf jika ada kesalahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: