Mereka Bicara Salafy & Wahabi

nGumpulin Tulisan Menyorot Salafy Wahabi

BERTEMU SALAFY, BANTAI SALAFY

Posted by bicarasalafy pada November 21, 2008

BERTEMU SALAFY, BANTAI SALAFY

DITULIS OLEH BLOGGER: http://joesatch.wordpress.com/

Ini sebuah cerita tentang wawancaraku dengan Majalah Bobo (BOhong-BOhongan, -red.) beberapa jam yang lalu. Jadi ceritanya, tiba-tiba saja wawancara ini dilakukan sehubungan dengan keuring-uringanku beberapa waktu terakhir ini. Ternyata teman-teman pers berhasil mengendus keganjilan pikiranku meski berusaha kututup-tutupi. Begini wawancaranya:

Mas Joe, Mas Joe, bisa minta waktunya sebentar?

Eee… Bisa… Bisa. Ada apaan? Wawancara? Tapi ndak lama-lama, ya! Saya lagi ngantuk, capek, mau tidur siang. Duh, padahal saya udah terlanjur bilang pamit sama teman-teman di blogosphere.

Oke, Mas. Jadi begini, beberapa waktu terakhir ini kayaknya Mas lagi banyak problem. Kalau boleh tau, Mas, sebenarnya ada masalah apa? Bukan apa-apa, Mas. Soalnya biar bagaimana pun, kami pikir, uring-uringannya Mas ini merembet kepada performa panggungnya Mas sendiri.

Ndak ada apa-apa, kok, sebenarnya. Tapi memang betul kalau ada pikiran yang lagi mengganjal di otak saya. Ya berkaitan dengan hubungan saya dengan Pencipta saya yang akhirnya merembet ke hubungan saya dengan sesama manusia…

Lho, saya pikir juga gitu, Mas. Hubungan dengan Pencipta saya pikir juga berbanding lurus dengan hubungan antar sesama manusia. Jadi?

Ya itu tadi, hubungan saya dengan beberapa manusia kayaknya lagi kacau…

Cewek?

Oh, bukan… Bukan. Untuk kali ini bukan. Yeah, meskipun saya rasa situ juga tau kalau saya ini jarang bermasalah sama cewek, tapi kali ini memang bukan benar-benar karena cewek.

Tidak ada masalah dengan gadis-gadis di kampus itu?

Nggak. Nggak ada. Mereka semua sehat, kok. Yang di Jakarta juga sehat. Lha wong kemarin saya malah baru aja keluar sama teman cewek di kampus. Makan bareng. Biasa. Tapi jangan mikir yang ndak-ndak. Rame-rame, kok. Berlima.

Lha, terus?

Oke, oke, saya ngaku. Tapi, maaf, Mbaknya ini muslim?

Iya, Mas. Saya muslim. Lha kok?

Nggak. Nggak bermaksud menyinggung SARIP. Bukan itu. Maksud saya, Suku, Agama, Ras, dan Indeks Prestasi. Tapi memang kayak yang saya bilang itu tadi, saya lagi ada masalah dengan beberapa manusia yang dibungkus koridor keagamaan.

Lanjut, Mas.

Mbaknya tau tentang manhaj salaf, kan? Harusnya iya, dong. Nah, masalah saya ini berhubungan dengan beberapa oknum yang mengaku menganut manhaj salaf tapi kerjanya suka menghujat dan mencacat orang lain. Hobinya mengklaim orang lain – bahkan yang sama-sama muslim – sebagai ahli bid’ah atau bahkan al-kafirun. Padahal, setau dan menurut saya, hal itu nggak sesuai dengan akhlak yang diajarkan Nabi, karena juga, ternyata dalam dakwah versi mereka, mereka nggak jarang menggunakan kata-kata kasar dan caci-maki.

Jadi Mas Joe merasa akidahnya Mas Joe selama ini disalah-salahkan?

Kasarannya begitu, Mbak. Ya, memang saya ngaku kalau shalat saya sendiri belum jejeg. Tapi ini ternyata bukan sekedar penyerangan kepada akidah, saya pikir. Sebelumnya, saya juga berpendapat kalau mereka itu hobi banget memecah-belah dan mengkotak-kotakkan umat. ‘Kami ini golongan salafush shaleh, kamu bukan. Hanya golongan kamilah yang bakal selamat, kamu tidak. Kalau kamu mau selamat, masuklah kepada golongan kami.’ Biasanya mereka mengkotak-kotakkan umat muslim seperti itu. Merasa paling benar sendiri dan dijamin masuk surga. Belum lagi ditambah pemikiran-pemikiran mereka yang sangat konyol, misalnya dalil versi mereka tentang matahari mengelilingi bumi.

Nah, lanjutannya, ketika ada yang mencoba berpikir dari sudut pandang lain untuk membantah argumen mereka, biasanya jawaban mereka tidak elegan, bahkan lebih cenderung bersifat personal-attack. Yang diserang bukan pemikiran si pembantah, tapi justru ke pribadinya, disertai hujatan-hujatan dan caci maki. Sangat tidak sesuai dengan gembar-gembor mereka yang mengaku sebagai penegak sunnah Nabi. Mereka, menurut saya, jauh sekali dari akhlak Nabi, bahkan akhlak Khulafaur Rasyidin dan sahabat-sahabat Nabi yang lainnya.

Menurut Mas, shalafush shaleh ini sesat, begitu?

Nggak. Bukan itu poinnya. Shalafush shaleh, kalau menurut pengertian mereka sendiri adalah orang-orang yang berusaha mengikuti jejak generasi terdahulu, generasi yang diklaim sebagai generasi terbaik dalam Islam.

Kalau pengertiannya seperti itu, ya artinya nggak ada yang salah dengan salafush shaleh-nya. Bahkan setiap muslim yang benar-benar berniat muslim pastilah salafush shaleh, pastilah berusaha mengikuti jejak generasi terbaik itu. Tapi menurut mereka, hanya merekalah yang termasuk golongan salafush shaleh. Orang lain, meskipun dia juga muslim, bukan berarti shalasuh shaleh kalau belum tunduk kepada paham mereka.

Sebentar, Mas. Kenapa, sih, kok tiba-tiba ada kecelakaan seperti ini yang melanda Mas. Kronologisnya gimana?

Panjang kalau diceritakan. Inti ceritanya, suatu hari ada seorang dari mereka yang mencacat orang lain, saya yang kebetulan melihat jadi sedikit terusik. Maka mencobalah saya untuk berargumen dengan mereka. Tapi hasilnya ya itu tadi, bukan pemikiran saya yang diserang, tapi pribadi saya. Mana menyerangnya pakai keroyokan lagi. Keroyokan orang itu bareng teman-temannya.

Dikeroyok banyak orang gitu jadinya?

Nggaklah. Cuma sekitar 3 orang rasanya.

Boleh tau siapa aja?

Ehm, bolehlah. Ada yang nama aliasnya Abu Maulid, lalu Abu Aqil, terus ada juga Abu Bakr Ahmad.

Lanjutin ceritanya, dong, Mas.

Ya gitu. Pertama kali saya mencoba berargumen dan berargumen dengan Abu Maulid itu. Lalu datang kawannya yang Abu Aqil itu. Nah, si Abu Aqil ini yang menurut saya sedikit kampret dalam hal personal-attack-nya.

Nama saya kan Joesatch. Nah, sama Abu Aqil, ketika saya mencoba berargumen dengannya, nama saya ditambahin kata “bang” di tengahnya, jadinya “Joebangsatch”. Tapi kayaknya, sih, sekarang barang buktinya sudah dilenyapkan sama dia. Mungkin gara-gara saya jadi sedikit terprovokasi sama kata-katanya. Yah, untunglah masih ada pihak ketiga yang ikut berargurmen yang sempat saya simpan komentarnya:

pertama buka, sepertinya komentar di sini ada banyak. ada yang pakai bangsat-bangsatan segala ^_^
kok sekarang begitu di refresh jadi hilang ya?
sedang dimoderatori mungkin?

Iya, kami hanya menampilkan komentar yang tidak disertai foto atau gambar makhluq hidup.

saya menyesalkan kalau sampai pemilik web ini memakai kata makian seperti bangsat. sungguh tidak sesuai perilaku nabi seperti yang anda gembar-gemborkan.

Anda mungkin pernah mendengar kisah tentang Khawarij, Rosululloh pernah mengatakan tentang mereka dengan, Anjing-anjing Neraka. Dan tentunya hal ini merupakan jalan akhir setelah upaya menasehati mereka namun tidak diambil pelajaran bahkan mereka bertambah parah dengan kelakuan mereka, semoga kita diberikan petunjuk kepada jalan yang lurus, yakni jalan orang-orang yang telah diberi nikmat atas mereka, mereka para pendahulu kita yang shalih.

Terus ada juga, Mbak.

Emang susah kalo aqal udah ndak mau tunduk ama Ayat. Kalau aqal emang loe-loe pada pake sebagai dalil, kalao udah berwudhu loe kentut maka jangan basuh muka loe, tapi pantat loe…!! pantat loe tu yang salah, kenapa udah wudhu kok kentut,
nah, kalao loe basuh muka juga ya gak masuk aqal ?

Wekz, Mas disamakan dengan anjing neraka. Terus, waktu Mas dibilang bangsatch gimana reaksi Mas?

Waktu itu, sih, saya jelas kepancing sedikit. Saya bilang ke dia, kalau mau bangsatch-bangsatchan datang aja ke Jokja sekalian. Biar tau gimana rasanya dibangsatchin beneran sama orang bangsatch kayak saya. Gitu, Mbak. Pokoknya rasanya pengen saya bantai aja waktu itu.

Meh gelut, Mas? Yakin po?

Wehehehehe… Lho, situ meragukan saya, ya? Mbak belum tau ya kalau saya ini Kyu IV Shorinji Kempo?

Elelhah… Kyu IV? Dahsyat berarti…

Wah, Mbak’e ngawur. Kyu IV itu tingkatan paling rendah sebagai seorang kenshi. Urutannya kalau di kempo justru dari yang besar ke yang kecil. Jadi, Kyu IV-Kyu III-Kyu II-Kyu I-Dan 1-Dan 2-Dan 3-dan seterusnya. Gitu lho, Mbak. Mbaknya hobi ngawur, ah!

Wooo… Jebule mung atlit rendahan. Lha kalau gitu, misalnya Mas nanti didatengin beneran terus dikeroyok, digorok lehernya, terus darahnya Mas dihalalkan, bahkan diminum gara-gara dianggap berkhasiat kayak darahnya Biksu Tong, kepriben ceritane?

Wew, kalau gelagatnya bakal kayak gitu, apa boleh buat, saya ya mending lari saja.

Eh, lari?

Lho, Mbak meragukan saya lagi, ya? Asal tau aja Mbak, jaman esema dulu, waktu paru-paru saya belum degerogoti racun tembakau, saya punya rekor lari cepat 11,7 detik untuk 100 meter.

Halah, angel ngomongan karo Mas’e kie. Gini aja, Mas, balik ke topik kita tadi tentang mereka-mereka yang bangsatch-bangsatchin Mas.

Oke!

Jadi, Mas sekarang merasa terganggu dengan si Abu Aqil ini?

Wah, nggak 100% bener. Nanti saya dianggap nggak solider sama mereka, dong, kalau saya nggak ikut serta melibatkan teman-temannya Mas Abu Aqil ini juga.

So, jadi mereka juga nyolot? Mbok udahlah Mas, jangan berantem terus. Ndak baik. Apalagi Mas Joe ini kan cuma kenshi kelas rendah. Nek digorok beneran gimana hayo?

Ehehehe, si Abu Bakr Ahmad tinggalnya juga di Jokja, kok. Jadi kalau dia mau nggorok saya, dia bisa nyegat saya di jalan kapan aja.

Dia juga nyebelin tho, Mas?

Buat orang yang pernah dicacat sama dia mungkin iya. Tapi buat saya dia justru menggelikan. Dia pernah komentar kayak gini soale:

Tobat ya akhi…
Takutlah terhadap siksaan Allah…
Kamu pikir kamu bisa lari dari siksaannya?
Tidak, bahkan tidak satupun yang luput dari pandangan-Nya

Wakakaka, padahal tau nggak, apa penyebab dia komentar kayak gitu?

Ya ndak tau, Mas. Wong saya di sini itu niatnya nanya sama Mas, kok malah balik ditanya? Dening Mas’e goblok, yak?

Waktu itu saya nulis, yeah, bisa dibilang resensi buku yang judulnya “Iblis Menggugat Tuhan” karangannya Daud Shawni. Cuma, untuk judul resensinya saya pilih kalimat yang saya rasa bakalan bikin orang-orang geblek kebakaran jenggot! Saya pakai judul “Salahkan Saja Allah”. Nah, saya rasa si Abu Bakr ini cuma nonton judulnya aja, ndak dibaca isinya, tau-tau udah nyuruh saya tobat. Tipikal orang yang nggak teliti tapi ngeyel. Cuma menilai komputer dari casing-nya aja.

Itulah, padahal cuma gara-gara judul resensi buku, kalau nggak mau dibilang bajakan, soalnya isi resensi saya cuma berisi kutipan-kutipan dialog yang saya senangi dari buku itu yang isinya sama persis.

Wew, Mas membajak juga berarti. Wooo… Dasar tukang mbajak!

Lho, ndak pa-pa tho? Toh saya sudah dicap sebagai ahli bid’ah, bahkan mungkin darah saya memang sudah dihalalkan, hehehe. Wong mereka-mereka itu ketika saya tanya apa hukumnya pakai barang bajakan juga pada mingkem nggak njawab. Saya nggak yakin mereka bersih dari barang bajakan dalam hidupnya yang berarti sama-sama mengkonsumsi barang haram. Saya nggak percaya kalau sistem operasi komputer mereka bukan bajakan. Saya juga nggak percaya kalau browser mereka, software-software mereka itu original semua. Mereka teriak-teriak nggak ridho kalau misalnya karya mereka dibajak, tapi menutup mata apakah orang lain yang mereka bajak karya-karyanya itu ridho atau tidak. Payah! Maling teriak maling. Masih mending saya kan, yang di rumah pake Open Suse 10?

Udah tho. Jangan gelut.

Yeah, dokter gigi pribadi saya juga bilang gitu.

Dokter gigi pribadi?

Eh, maksud saya dokter gigi kita semua, ding. Hehehe…

Cinta damai aja, Mas.

Lho, saya ini selalu cinta damai. Cuma ya kosik-kosik kalau saya didhisik’i. Saya masih sama, kok, kayak jaman esema dulu, cuma meradang kalau diserang!

Iya, ya. Serangan yang lainnya lagi emangnya apa aja, Mas?

Lhah, ini dia, Mbak. Kuantitas serangannya yang paling banyak memang si Abu Maulid. Tapi dia masih bisa sedikit lebih elegan dari Abu Aqil. Caciannya nggak langsung pakai kata-kata kotor, misalnya aja yang ini:

To: Joesath dan yang lainnya yang sepaham/yang netral

Kalau sesepuh itu mbahmu ya mungkin saja. Hahaha. Kalau kita hidup di zaman Rasulullah, tepat dan cukup kalau bilang saya Islam. Tapi bergulirnya waktu dan penyimpangan yang dilakukan manusia setelah zaman tersebut, maka muncullah aliran-aliran baru dalam Islam, seperti Khawarij, Jahmiyah, Mu’tazilah, Qadariyah, ada lagi Syiah. Mereka ini juga mengaku Islam. Bagaimana kamu akan membedakan diri dengan kelompok mereka? Khawarij, ibadahnya masya Allah, puasanya, shalatnya, saya yakin kamu kalah dibanding mereka. Tapi meskipun “dahsyatnya” ibadah mereka,panutan kita Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tetap menjuluki khawarij dengan “Khawarij adalah anjing-anjing neraka.” (HW Ibnu Majah)Mengapa demikian? Maukah kamu disebut kelompok Khawarij?

Kemudian, kelompok Syiah juga mengaku Islam. Tapi, mereka ubah-ubah Alquran. Mereka mengkafirkan para shahabat Rasulullah, kecuali beberapa saja. Mereka juga menganggap imam mereka ma’shum dan derajatnya lebih tinggi dari para nabi. Mereka ini seperti Yahudi. Para ulama mengkafirkan kelompok Syiah ini. Maukah kamu disebut penganut Syiah?

Belum lagi kelompok Jahmiyah, Qodariyah, dll banyak sekali. Mereka ini mengaku Islam, pegangannya juga Alquran Hadist. Apa mau kamu disebut/dicap dengan kelompok-kelompok sesat ini. Sekarang, pertanyaannya: “Cukup berpatokan pada cara beliau berdakwah (ikon mringis) nggak perlu salafush shaleh. Lalu, pertanyaan saya: Apa dan bagaimana cara Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam berdakwah? Mungkin, kamu yang nggak kelar-kelar kuliah komputer ini bisa menjelaskan dengan dalil Alquran dan Hadist shahih melalui keahlian komputermu? Wallahul musta’an

Perlu diketahui bahwa shalafush shaleh adalah para pendahulu yang shaleh, yakni para shahabat Rasulullah yang hidup di zaman turunnya wahyu, tahu kapan turunnya wahyu, mengerti bagaimana ayat turun, tahu di mana ayat turun, paham bagaimana maksud ayat itu, kemudian mereka langsung mempraktikannya di depan Rasulullah, ketika salah Rasulullah menegur dan membetulkannya, dan Rasulullah ridha kepada mereka para shahabat sehingga beliau shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian…dst.” (HR Ahmad shahih). Kalau dikatakan sebaik-baik manusia, berarti baik dari segala sisi, yakni akidahnya, manhajnya, dakwahnya, ibadahnya, akhlaknya, muammalahnya, dst. Berarti, kalau kita ini ingin baik dan bener serta ingin lurus jalan kita, ya mau tidak mau harus kudu wajib mengikuti para shahabat (shalafus shaleh). Allahu yahdikum

Al Imam Al Albani dalam diskusinya dengan seseorang (Abdul Halim Abu Syakkah, yang direkam dalam kaset yang berjudul “Ana Salafi”, dan inilah sebagian hal yang penting dari diskusi itu:

Syaikh Al Albani berkata: “Jika dikatakan padamu, apa madzhabmu, maka apa jawabanmu?”
Abdul Halim Abu Syakkah: “Muslim”
Syaikh Al Albani: “Ini tidaklah cukup”
Abdul Halim Abu Syakkah: “Allah telah menamai kita dengan muslim (kemudian dia membaca firman Allah), ‘Dia lah yang telah menamai kalian orang-orang muslim dari dahulu (Al Haj 78)’”
Syaikh Al Albani: “Ini merupakan jawaban yang tepat, jika berada pada saat Islam itu pertama kali muncul, sebelum firqah-firqah bermunculan dan bersebaran. Tapi jika tanyakan, pada saat ini, pada setiap muslim dari berbagai macam firqah yang berbeda dengan kita dalam masalah aqidah, maka jawabannya tidaklah jauh dari kalimat ini. Mereka semua, seperti Syi’ah, Rafidlah, Khawarij, Nusayri Alawi (dan lain-lain), akan berkata ’saya muslim’. Oleh karena itu, penamaan muslim tidak cukup pada saat ini.”
Abdul Halim Abu Syakkah: “Kalau begitu, (saya akan berkata) saya adalah muslim berdasarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah”
Syaikh Al Albani: “Ini juga tidak cukup”
Abdul Halim Abu Syakkah:”Kenapa?”
Syaikh Al Albani: “Apakah kamu menemukan dari mereka yang telah kita sebutkan tadi, akan mengatakan ,’kami adalah adalah muslim yang tidak berdasarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah?’ atau seorang dari mereka berkata “saya adalah muslim yang tidak berdasarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah?”

Kemudian Syaikh Al Albani menjelaskan dengan jelas akan pentingnya berada di atas Al Qur’an dan As Sunnah dengan cahaya pemahaman Salafush Shalih.

Abdul Halim Abu Syakkah: “Kalau begitu, saya akan menyatakan bahwa saya adalah muslim yang berdasarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan mengikuti pemahaman salafus shalih”
Syaikh Al Albani: “Jika seseorang bertanya padamu tentang madzhabmu, apakah ini yang akan kamu katakan?”
Abdul Halim Abu Syakkah: “Ya”
Syaikh Al Albani: “Bagaimana pendapatmu, bila kita menyingkat kalimat ini (muslim yang berdasarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan mengikuti pemahaman salafus shalih), bukankah sebaik-baik perkataan adalah yang singkat namun mempunyai arti yang sangat bermakna, maka kita katakan ini dengan ‘Salafi’”. (Selesai penukilan)

Maka intisari dari percakapan itu adalah penamaan muslim atau sunni tidaklah cukup, sebab semua orang akan menyatakan demikian. Dan Imam Al Albani telah menekankan pentingnya Al Haq untuk membedakan diri dari kebathilan, dengan berdasarkan pada aqidah dan manhaj, yang diambil dari salafus shalih, yang merupakan lawan dari macam-macam firqah dan hizbi yang memahami dien ini dengan berdasarkan pada pemikiran guru-guru mereka atau pemimpin-pemimpin mereka dan tidaklah mereka mengambilnya dari salaf, secara fundamental.

cari juga sumbernya di: http://www.salafipublications.com, artikel ID: SLF010007

SEMOGA ALLAH MEMBERIKAN TAUFIK DAN HIDAYAHNYA KEPADA KITA SEMUA. AMIN

Waduh, masalah kuliah Mas disinggung-singgung tuh!

Lha iya. Padahal Mbak tau sendiri, kan, biasanya saya selalu sumeh, gampang senyum-senyum. Tapi kalau saya ditanya masalah kapan saya bakal wisuda, saya pasti bakal ngamuk, hehehe. Overall, sebenarnya ndak pa-pa, sih. Toh yang ngomongin saya kayak gitu belum tentu juga punya kemampuan untuk lolos seleksi buat kuliah di Ilmu Komputer UGM. Saya paling cuma mesam-mesem, kok, kalau yang ngerendahin saya ternyata adalah orang yang tidak punya kemampuan seperti saya, kekeke!

Ada lagi, Mas?

Ada, Mbak. Tata bahasa saya dinilai kacau.

Buat J: Belajar lagi, linguistiknya masih payah.
Buat AB: Belajar lagi, semantiknya amburadul.

Hehehe, menurut saya nggak kacau, Mas. Beliaunya aja yang nggak paham gaya tulisannya Mas dan beberapa teman Mas yang punya gaya tulisan satire.

Itu dia, Mbak. Wong pelajaran makna satire, denotasi-konotasi, majas-majas seperti hiperbola, ironi, litotes, eufimisme, totem-proparte, pars prototo, sinekdok, metafora, dan lain-lain, juga penyempitan dan perluasan bahasa yang kita dapat waktu esempe dulu aja dia ndak paham, kok coba-coba ngomongin linguistik dan semantik? Aneh, tho?

Makanya kadang-kadang saya judeg, Mbak. Maklum dong, meskipun tampan, saya kan juga manusia. Bisa sedih, bisa judeg, bisa marah. Apalagi kalau sampai nama ibu saya dibawa-bawa.

Eh, bawa-bawa kanjeng ibu panjenengan, Mas?

Iya, Mbak

Buat Joe:
Kamuflase! Kalau nggak terima, mengapa engkau menyulitkan ibumu dengan tindak-tandukmu yang kurang terpuji? Bukankah ibumu yang paling utama yang harusnya engkau jaga perasaan dan kehormatannya. Dengan menjadi anak yang baik (nggak slengek-an), patuh (nggak ngecengin cewek yang bukan mahram di kantin karena nasihat ibu untuk belajar bukan untuk nongkrong dikantin-kantin), dan selalu mendoakan ibunya (dengan menjadi anak shaleh, taat agama, dan selalu sibuk dengan majelis taklim) berarti telah memberikan kebanggaan kepada sang ibunda. Allahu yahdikum

Padahal dia kan ndak tau ibu saya kayak gimana. Dia nggak tau karakter ibu saya. Dia mana tau kalau ibu saya nggak suka anak slengekan, ya kan? Nyatanya, kalau saya pulang ke Denpasar, begitu ketemu ibu saya, saya pasti dipeluk dan diciumi meskipun celana jeans saya robek-robek dan rambut saya gondrong kayak John Taylor jaman dulu.

Ibu saya lebih tau juga kalau saya dari kecil akrab dengan teater. Jadinya dia pasti paham dengan karakter saya yang cenderung nyentrik, kata anak-anak.

Dia juga mana tau kalau ibu saya mesenin saya buat belajar dan nggak boleh ngeceng. Dia kan nggak tau kalau ibu saya merestui saya di Jokja buat belajar hidup, bukan sekedar kuliah. Sama ibu saya, saya dipersilahkan bergaul dengan siapa pun, asal saya bisa bertanggung-jawab pada diri saya sendiri. Ibu saya itu hebat. Ibu saya sudah percaya dengan bekal agama yang beliau tanamkan kepada saya sejak saya kecil bakal mampu mengontrol diri saya, setidaknya untuk saya sendiri. Ibu saya, waktu saya esema, nggak pernah ngelarang saya ke Hard Rock, Kamasutra, dan pulang malam. Yang penting saya harus pulang sebelum adzan subuh, punya rumah soale. Shalat subuh harus sudah ada di rumah.

Kok malah curhat, Mas?

Hikz… Maaf, Mbak. Saya kangen ibu di Denpasar…

Ya, Mas. Sing sabar wae, Mas.

Iya, Mbak. Doa’in saya cepet wisuda juga makanya, Mbak.

Udah enakan tho, sekarang?

Much better, Mbak. Lagipula, dari blog yang mengklaim sebagai salafy sesungguhnya, dan dari blog yang lain juga, saya jadi tahu sedikit-banyak kenapa dan latar belakang mereka begitu ekstrim dan fanatik.

Mungkin memang pengaruh imam mereka, sih, Mbak. Konon imam mereka itu memang kharismatik sekali. Bahkan sudah beribadah dan taat kepada Allah sejak 6000 tahun sebelum Adam diciptakan, gyekekeke!

6000 tahun sebelum Adam diciptakan? Oh, saya paham maksud Mas. Mas ini bisa aja. Ngawur, ah, si Mas ini.

Hahaha, saya kan memang suka ngawur. Mbak kayak baru pertama kali wawancara sama saya aja. Nah, ada lagi yang mau ditanyain?

Ndak, Mas. Dah cukup. Gara-gara Mas, saya juga jadi kangen ibu. Udah, Mas. Makasih. Dah cukup. Kan katanya Mas mau bobo siang? Disambung kapan-kapan lagi aja, Mas.

Sama-sama, Mbak.

8 Tanggapan to “BERTEMU SALAFY, BANTAI SALAFY”

  1. gendut said

    wuakakakakka, wah persis banget mas, di forum tempat gw nongkrong juga ada penganut salafy yg persis ama lawan sampeyan, sukanya kalo kepepet ngomong linguistik, denotasi, semantik dLL, sensi dan kekanakan paling ditonjolkan, sukanya nyerang pribadi bukan pendapat, jgn jgn orgnya sama pulak, hehehehehe

    gw juga di jokja nih mas, salam kenal yo 🙂

  2. a jihan said

    buat joe kamu tdk tahu sedikitpun ttg salafy tapi udah berani ngomong macem2 . puih…

  3. f.... salafi & wahabi said

    Iya mas..
    Wahabi dengan wadahnya salafi sekarang sedang invasi ke indonesia.
    seperti sebuah partai yang di danai oleh kerajaan arab yang notabennya sekarang di pimpin oleh kaum wahabbi!! nama partainya Partai Kerajaan Saudi.

    Ganyang salafi ..

  4. nail said

    mas joe ini rada aneh dan inkonsisten (waduh boso opo maneh kui..)
    ini terbukti dari perkataan sampeyan
    “Itu dia, Mbak. Wong pelajaran makna satire, denotasi-konotasi, majas-majas seperti hiperbola, ironi, litotes, eufimisme, totem-proparte, pars prototo, sinekdok, metafora, dan lain-lain, juga penyempitan dan perluasan bahasa yang kita dapat waktu esempe dulu aja dia ndak paham, kok coba-coba ngomongin linguistik dan semantik? Aneh, tho?”

    nah sama anehnya dngan smpeyan yang ndak paham agama, tp berkomentar ttg agama. spt jaka sembung makan permen, gak nyambung men..
    masalah pembajakan, menurut sy yg ikutan nyelenh, hak cipta itu hanya punya Allah, jd g papa pake bajakan, apalagi software nya bill gate, kate org jkt di bajak org se- indonesia aja ga bakal miskin mendadak die..

  5. http://ahmadfajarqomarudin.blogspot.com/2009/04/wahabi-siapa-takut.html

  6. yudhy said

    Allah Yahdikum….seperti kata pepatah ” tak kenal maka tak sayang “…jadi kenalilah salafy,engkau akan mendapatkan kebenaran yang hakiki…barakallahu fikum!!

    ____________
    -bicarasalafy-

    Afwan mas yudhy blog ini tidak menerima copy-paste !
    sebaiknya anda kutip URL artikelnya saja

  7. opix said

    hehehehe…saya malah lebih parah kalau sudah kepepet…nudingnya bukan kafir saja..JILlah, orientalislah…agen baratlah…agen yahudilah..syiahlah..pokoknya macem macem…memang benar menghadapi wahabi dengan tidak menghadapinya..karena mereka sudah yakin seyakin yakinnya bahwa mereka “benar” padahal itukan tafsiran mereka saja…Alquran dan khadist sama kalau cara penafsiran berbeda..hasilnya berbeda..capeeeek deeh

  8. Salafi(Salah Fikir) said

    Di indonesia tumbuh subur trutama di jogja(byk jd takmir di mesjid jogja krn dana yg kuat dari SAUDI)…golongan yg mngaku “salafi” yg hobinya mngkafirkan/bid’ah/sesatkan sesama saudara muslim yg tdk sepahamam dg tafsirnya…mereka seolah-olah Tuhan yg bisa mngkafirkn sesama muslim. Pemikiranny kolot n kaku bin bodoh. Sangat simbolistik..celana ngatung…jengot gak keurus…cadar…yg tdk brpenampilan seperti mereka disebut kroni yahudi(kafir). Mereka adalah cucu KHAWARIJ bin ZIONIS bertopeng nama “salafi”. Hati2lah dgn ajaran dari keluarga SAUDI antek zionis ini…Waspadalah saudaraku..mereka sdh menjamur dimana-mana krn dana yg kuat dari SAUDI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: