Mereka Bicara Salafy & Wahabi

nGumpulin Tulisan Menyorot Salafy Wahabi

Beberapa Bukti Pengkafiran Muhammad bin Abdul Wahhab

Posted by bicarasalafy pada April 21, 2008

Beberapa Bukti Pengkafiran Muhammad bin Abdul Wahhab

Ditulis Oleh: Blogger salafyindonesia.wordpress.com

Dan ternyata, sayangnya, kebiasaan buruk (sunnah sayyi’ah) itu masih terus dilestarikan oleh para pengikut setia dan orang-orang yang taklid buta terhadap Muhammad bin Abdul Wahhab yang mengatasnamakan diri sebagai Salafy, bahkan mengaku sebagai Ahlusunah wal Jamaah. Jikalau sekte sempalan ini tidak mendapat dukungan dana, kekuatan militer dan perlindungan penuh dari negara kaya minyak seperti Saudi niscaya nasibnya akan sama dengan nasib sekte-sekte sempalan lainnya, binasa. Awalnya, sekte ini tidak jauh berbeda dengan sekte seperti al-Qiyadah al-Islamiyah yang baru-baru ini dinyatakan sesat oleh para ulama di Indonesia.

———————————————————-

    Beberapa Bukti Pengkafiran Muhammad bin Abdul Wahhab
    (Pencetus Wahabisme)

Setelah kita mengetahui realita yang ada bahwa, para pengikut Salafy (yang pada hakekatnya adalah Wahhaby) yang selama ini selalu menyebut sesat kelompok lain dengan dalih akidah mereka (non Wahaby) masih bercampur dengan keyakinan Syirik, Khurafat dan Bid’ah sehingga menyebabkan mereka merasa paling benar sendiri dan hanya sekte merekalah yang mewakili Islam sejati. Semua keyakinan dan prilaku sekte itu ternyata merupakan hasil taklid buta mereka terhadap pencetus Wahabisme, Muhammad bin Abdul Wahhab yang selama hidupnyapun telah melakukan pengkafiran semacam itu. Pada kesematan ini, kita akan sebutkan beberapa contoh dari pengkafiran yang dilakukan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap kelompok lain yang tidak sepaham dengan keyakinan barunya (baca: Bid’ahnya).

Dalam kitab “Ar-Rasa’il as-Syakhsyiah li al-Imam as-Syeikh Muhammad Abdul Wahhab” dalam surat ke 11 halaman 75 disebutkan bahwa; “Fatwaku adalah menyatakan bahwa Syamsaan beserta anak-anak mereka dan siapapun yang menyerupai mereka. Aku menamai mereka dengan Toghut (sesembahan selain Allah, red)…”. dan yang lebih dahsyat lagi adalah apa yang dnyatakannya dalam kitab yang sama (Ar-Rasa’il as-Syakhsyiah li al-Imam as-Syeikh Muhammad Abdul Wahhab) dalam surat ke 34 halaman 232 dimana Ibn Wahhab menuliskan: “…kami telah menyatakan kafir terhadap thoghut-thoghut para penghuni al-Kharj dan selainnya”. Dan kita tahu bahwa, al-Kharj adalah nama satu daerah yang berjarak kurang lebih delapan puluh kilo meter dari kota Riyadh. Daerah al-Kharj membawahkan beberapa desa dengan banyak penduduk. Hal itu sebagaimana yang telah tercantum dalam kitab “al-Mu’jam al-Jughrafi lil Bilad al-Arabiyah as-Saudiyah” jilid 1/392 atau kitab “Mu’jam al-Yamamah” jilid 1/372. Jelas sekali bahwa betapa Muhammad bin Abdul Wahhab tanpa ragu lagi menyatakan kaum muslimin yang tidak menerima ajaran sesat sektenya dengan vonis “KAFIR”, sebagaimana yang pernah kita singgung dalam singungan surat yang ditulis Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab al-Hanbali saudara tua dan sekandung Muhammad bin Abdul Wahhab, yang selalu menegur kesesatan adiknya.

Bukan hanya pengkafiran yang dilakukan Muhammad bin Abdul Wahhab, cacian, makian dan hinaan pun terlontar dari otak dan hatinya yang kotor yang ditujukan untuk para tokoh dan pembesar Ahlusunah, yang tidak setuju dengan ajarannya. Dalam kitab “Ar-Rasa’il as-Syakhsyiah li al-Imam as-Syeikh Muhammad Abdul Wahhab” surat ke 34 halaman 232 dalam mengata-ngatai seorang tokoh yang bernama Syeikh Sulaiman bin Sahim, ia mengatakan: “Akan tetapi sang hewan ternak (bahim, arab) Sulaiman bin Sahim tidak memahami makna ibadah”. Seakan hanya Muhammad bin Abdul Wahhab saja yang memahamai ajaran tauhid dengan benar dan tidak menganggap benar dan menyatakan sesat pemahaman kelompok lain diluar Wahabismenya. Dan dalam kitab “Majmu’ Mu’allafaat al-Imam as-Syeikh Muhammad Abdul Wahhab” jilid1 halaman 90-91 disebutkan bahwa ia (Muhammad bin Abdul Wahhab) mengata-ngatai Syeikh Sulaiman dan menjulukinya dengan julukan “Sapi”, dengan ungkapannya: “Orang ini seperti Sapi yang tidak dapat membedakan antara tanah dan kurma”. Padahal dosa Syeikh Sulaiman bin Sahim adalah menolak dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab yang dianggap sesat dari ajaran dan ijma’ ulama Islam, terkhusus Ahlusunah wal Jamaah. Hal ini yang dinyatakan sendiri oleh Bin Abdul Wahhab dalam lanjutan kitab tersebut dengan ungkapan: “Karena mereka telah berusaha…untuk mengingkari dan berlepas tangan dari agama ini” (Kitab ar-Rasa’il as-Syakhsyiah5/167). Agama mana yang dimaksud oleh Muhamad bin Abdul Wahhab? Agama baru yang dibawanya, ataukah agama Islam yang dibawa oleh Muhammad Rasulullah SAW yang –dalam masalah tauhid dan syirik- dipahami dan disepakati oleh semua kelompok Islam, termasuk pemahaman kakaknya yang tergolong ulama mazhab Hambali? Apakah orang seperti Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab al-Hambali (kakaknya) atau Syeikh al-Allamah Sulaiman bin Muhammad bin Ahmad bin Sahim (wafat tahun 1181 H) yang salah seorang ulama dan tokoh besar di zamannya (sebagaimana yang telah disebutkan dan diakui sendiri oleh seorang Wahhaby kontemporer Abdullah bin Abdurrahman Aali Bassam dalam kitabnya “Ulama’ an-Najd Khilala Sittata Quruun” dalam jilid ke 2 halaman 381 pada Tarjamah nomer 191, cetakan Maktabah an-Nahdhatul Haditsah di Makkah al-Mukarramah, cetakan pertama tahun 1398 H), juga tidak memahamai konsep tauhid dan syirik yang dibawa oleh Islam Muhamad bin Abdullah (Rasulullah)? Apakah layak dia mengata-ngatai seorang ulama besar semacam itu dengan ungkapan-ungkapan kotor yang tidak layak diungkapkan oleh seorang muslim awam sekalipun, apalagi ini yang mengaku sebagai mujaddid (pembaharu) agama Islam? Lantas mana akhlak Rasulullah, akhlak Islam dan akhlak mulia agama Allah? Jika pengolok-olok semacam ini disebut sebagai “Pembaharu Islam“ maka jangan salahkan jika Islam menjadi obyek olok-olokan musuh-musuhnya. Untuk lebih mengetahui kenapa Syeikh Sulaiman bin Sahim mengingkari dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab dan apa saja yang diungkapkan Muhammad bin Abdul Wahhab kepadanya dengan bahasa yang kasar dan menunjukkan kebaduian prilaku Muhammad bin Abdul Wahhab, bisa dilihat dalam buku yang dikarya oleh seorang penulis Wahhaby kontemporer Dr Abdullah al-Utsaimin dalam buku karyanya; “Mauqif Sulaiman bin Sahim min Dakwah as-Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab” dari halaman 91 hingga 113 yang dicetak di Riyadh-Saudi tahun 1404 H.

Belum lagi kalau kita membaca buku “Al-Fitnatul Wahhabiyah” (Fitnah Wahabisme) karya Syeikhul Islam dan Mufti Besar Mazhab Syafi’i yang berdomisili di kota suci Makkah, Syeikh al-Allamah Ahmad bin Zaini Dahlan (wafat tahun 1304 H dan dimakamkan di Madinah) dimana beliau hidup di masa-masa ekspansi pemaksaan ajaran Wahabisme ke segenap jazirah Arab. Syeikhul Islam Zaini Dahlan menjelaskan bagaimana para pengikut setia Bin Abdul Wahhab (meniru pencetusnya) dalam pengkafiran kaum muslimin yang bukan hanya sekedar melalui ungkapan dan tulisan, bahkan dengan tindakan yang sewenang-wenang, bahkan pembantaian. Dan ternyata, sayangnya, kebiasaan buruk (sunnah sayyi’ah) itu masih terus dilestarikan oleh para pengikut setia dan orang-orang yang taklid buta terhadap Muhammad bin Abdul Wahhab yang mengatasnamakan diri sebagai Salafy, bahkan mengaku sebagai Ahlusunah wal Jamaah. Jikalau sekte sempalan ini tidak mendapat dukungan dana, kekuatan militer dan perlindungan penuh dari negara kaya minyak seperti Saudi niscaya nasibnya akan sama dengan nasib sekte-sekte sempalan lainnya, binasa. Awalnya, sekte ini tidak jauh berbeda dengan sekte seperti al-Qiyadah al-Islamiyah yang baru-baru ini dinyatakan sesat oleh para ulama di Indonesia. Dan ternyata kaum Salafypun ikut-ikutan menyesatkan al-Qiyadah al-Islamiyah, padahal mereka mempunyai kendala yang sama, sekte sempalan yang dahulu diangap sesat. “Maling teriak maling”, itulah kata yang layak dinyatakan kepada kaum Wahaby yang mengaku Salafy dan Ahlusunah itu. Wahai kaum Wahaby, sesama sekte sesat dilarang saling mendahului dan saling menyesatkan.

Sekarang, masihkah pengikut Wahaby (yang berkedok Salafy) menanyakan bahwa Syeikh mereka tidak mengkafirkan kaum muslimin dan menampik kenyataan yang tidak bisa mereka pungkiri ini? Apa yang kita sebutkan di atas tadi adalah sedikit dari apa yang dapat disebutkan dalam blog yang sangat terbatas ini. Masih banyak hal yang dapat kita sebutkan untuk membuktikan pengkafiran Wahabisme terhadap kaum muslimin, disamping prilaku mereka yang sebagai bukti konkrit lain dari pengkafiran tersebut. Lihat bagaimana prilaku mereka pada setiap musim haji yang mengobral murah dengan membanting harga kata “Syirik” dan “Bid’ah” bahkan dibagi dengan cuma-cuma pada jamaah haji. Seakan para rohaniawan Wahhaby pada musim haji melakukan “Cuci Gudang” kata bid’ah dan syirik untuk saudara-saudara mereka sesama muslim.

Jika orang muslim telah dikafirkan dan orang besar (baca: ulama) seperti Syeikh Sulaiman bin Sahim dicaci-maki dan dihina oleh orang seperti Muhammad bin Abdul Wahhab maka jangan heran jika sekarang ini para pengikut setia dan fanatiknya (kaum Wahaby) juga turut mengikuti jejak langkah manusia tak beradab seperti Muhammad bin Abdul Wahhab itu. Ungkapan dan tuduhan jahil (bodoh), munafik, zindik bahkan sebutan anjing atau hewan-hewan lain dari kelompok Wahaby terhadap pengikut muslim lain merupakan hal biasa yang telah mereka dapati secara turun-temurun. Makanya, jangan heran jika orang seperti Sastro ini lantas dibilang bodoh, munafik, zindik bahkan dinyatakan sebagai anjing. Itulah watak preman kaum Wahaby yang jelas tidak cocok dengan budaya Timur yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia yang sangat menjujung tinggi etika dan adab (sopan santun), tidak seperti masyarakat Arab.

[Sastro H]

6 Tanggapan to “Beberapa Bukti Pengkafiran Muhammad bin Abdul Wahhab”

  1. Joko said

    Saya tidak mengenal Saudara Sastro H, tapi saya sarankan ubah nama saudara menjadi H. Sastro ( Haji Sastro ), mudah2an barokah.
    ” Memang banyak hujatan ditujukan kepada Syaikh M. bin Abdul Wahhab, tapi kebenaran hanya milik Alloh SWT,sedangkah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah Ulama penegak Sunnah ( menjunjung tinggi Ajaran Alloh SWT dan Rosululloh Muhammad SAW dgn pemahaman para Sahabat ),
    Syaikh M bin Abdul Wahhab adalah penegak hukum2 Alloh dan RosulNya dikala manusia/ jaman sudah lupa akan hukum2 Alloh & RosulNya.Hukum Islam berlaku sejak diutusnya Muhammad SAW sebagai Rosul sampai akhir jaman ( tidak boleh dikurangi atau ditambah ) karena Islam telah Sempurna ( lihat QS. Al Maidah 1-5 ) turuh saat Haji Wada’ Rosululloh.
    ” Jadi di Indonesia belum berhukum pada hukum Alloh SWT, tapi masih berhukum pada norma2 buatan manusia ( peninggalan keyakinan Hindu Budha ),
    Adat Ketimuran adalah adat nenek moyang ( belum mutlak kebenarannya ) tapi Hukum Islam adalah mutlak kebenarannya ), Sesuatu itu baik bagi mahluknya belum tentu baik dihadapan Alloh SWT,dan sebaliknya.
    Maka bertaubatlah wahai saudaraku,cari tahu apa Taklid Buta itu, jangan dikuasai Nafsu. Ingat Apa lyang disampaikan Rosululloh adalah dari Robb-nya bukan dari hawa nafsunya.Begitupun apa yang dilakukan oleh Syaik Muhammad bin Abdul Wahhab yaitu bersandar kepada Al Quran dan Al Hadist. wallohu’alam

    • prabu minakjinggo said

      mas joko jangan gegabah membuat pernyataan, ingat ya … semua ulama dan orang islam didunia ini pasti bersandar pada Al Qur’an dan Hadits Nabi, anda saja yang kurang pemahamannya.

  2. Makhfud said

    capek deh…..

    daripada capek2 ngurusin WAhabi yang nggak jelas juntrungnya, mendingan kita perbaiki diri kita. KIta cari pemimpin yang dapat memimpin kita mengenal Allah, mencintai Allah dan takut kepada Allah. Dengan demikian kita dapat mengasihi sesama manusia dna membuat kemajuan dunia akhirat🙂

    salam kenal,
    http://whasid.wordpress.com/2008/05/20/jalan-keluar-dari-kehinaan-2/

  3. baru_belajar said

    Saya kira artikel ini menggiring opini ke satu tujuan, yaitu pembunuhan karakter, namun tidak disertai dengan data-data yang adil. Coba dicek biografi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, mulai dari kecil hingga beliau wafat. Cek juga latar belakang mengapa beliau “dengan mudah” mengkafirkan si fulan dan si fulan. Sebab kita tidak akan adil jika tidak melihat latar belakang suatu permasalahan. Jangan-jangan perilaku si fulan atau si fulan memang menunjukkan ke arah kekafiran dan beliau Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah memberi hujjah kepadanya, tetapi tidak dihiraukan, dsb.

    Kalau tidak begitu, berbahaya! Kelak akan ada tokoh-tokoh lain dalam agama ini yang mengalami pembunuhan karakter membabi buta seperti ini. Mau dibawa ke mana umat ini???

    Salah satu sebab saya menulis ini adalah, saya pernah membaca artikel di sebuah situs (lupa-lupa ingat nama situsnya, maaf), bahwa beliau Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab membantah tuduhan tentang sembarangan mengkafirkan, dengan kata-kata:

    “Kalau kami tidak mengkafirkan orang yang beribadah kepada berhala yang ada di kubah (kuburan/makam) Abdul Qodir Jaelani dan yang ada di kuburan Ahmad Al-Badawi dan sejenisnya, bagaimana mungkin kami berani mengkafirkan orang yang tidak melakukan kesyirikan atau seorang muslim yang tidak berhijrah ke tempat kami…?! Maha suci Engkau ya Allah, sungguh ini merupakan kedustaan yang besar.” (bisa dilihat di buku: Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlihun Mazhlumun Wa Muftaro ‘Alaihi, hal. 203)

    Mohon untuk lebih objektif lagi dalam menilai seseorang. Maaf. Terima kasih.

    __________________
    -bicara salafy-

    Salah satu sebab saya menulis ini adalah, saya pernah membaca artikel di sebuah situs (lupa-lupa ingat nama situsnya, maaf),

    Coba anda ingat-ingat situs tersebut dan anda baca ulang artikel disitus yang anda sebut itu, kemudian anda baca ulang buku-buku Ibin Abdul wahab setelah itu anda kritik artikel diatas.

    tuduhan adanya berhala di makam Syekh abdul Kadir Jaelani dan Ahmad al-Badawi adalah bukti kebohongan Ibnu abdul Wahab. mana ada di makam umat Islam didapati adanya berhala? yang benar aja dong!

    mau bukti pengkafiran nyata dan terang-terang oleh Ibnu Abdul wahab coba anda baca tulisan blogger abu salafy yang membantah khusus kitab Doktrin pengkafiran Ibnu Abdul wahab “Kasyfu Asy-Syubuhat” yang sampai hari ini telah mencapai 34 seri.

    Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 34


    dan lengkapnya mulai seri 1 hingga ke 34 bisa anda baca disini

  4. Muslim said

    Semoga Allah azza wa jalla memberikan hidayahNya kepada kita semua, membuka hati kita untuk menerima kebenaran meskipun itu menyakitkan. Yaa Allah hanya engkaulah yang bisa membuka hati-hati mereka yang tertutup. Jauhkanlah kami semua dari talbis Iblis yang terkutuk. Hilangkanlah kesombongan dihati kami. Hanya engkaulah yang bisa mengabulkan ini semua. Aamiin

  5. islam said

    saya tidak terlalu kenal dengan muhammad bin abdul wahab apalagi dengan wahabi, apalagi untuk menjadi pengikutnya. saya hanya orang pelajar pencari kebenaran. saya banyak membaca artikel2 yg ada di blog ini, saya tidak tau pasti tujuan blog ini apa??!! apakah untuk memberikan pembelajaran untuk umat islam yg lain, atau untuk menghujat si wahab agar tidak ada lagi orang yg sepaham dengan dia, atau untuk mencari massa agar org sepaham dengan yg punya blog ini.atau semua ini adalah tujuannya..!!
    ketika saya membaca banyak artikel di blog ini tentang wahabi, saya sama sekali tidak menemukan hal yang ilmiah dalam penulisannya. dalam semua pemaparannya tentang abdul wahab tidak ada bukti yang kongkrit semua yg di lemparkan ke si wahab itu sifatnya umum. contoh saja dalam pengkafiran..
    setahu saya pengkafiran itu ada dua kafir mutlak dan kafir muqoyyad atau aini..
    kafir mutlaq itu contohnya:1. orang yang tidak salat itu kafir, kenapa? karena salat itu tiang agama. barang siapa yang menunaikannya maka dia telah menegakkan agama, dan barang siapa yg meninggalkannya maka dia telah menghancurkan agama. tetapi, ketika anda melihat kawan anda atau org lain tidak solat, apakah lantas anda mengkafirkan dia??? tidak!!! kita tidak boleh mengkafirkan dia, kenapa? karena untuk sampai ke derajat kafir itu harus melalui seleksi yg ketat, ada dowabit nya. tidak ngasal ngafirin. maka harus di pelajari dahulu kenapa dia tidak solat, mungkin karena lupa, dalam hal ini tidak bisa di katakan kafir…mungkin karena dia malas, dan malas bukan penyebab kekafiran seseorang. masih banyak lagi hal2 yg perlu di ketahui kenapa dia tidak solat. selama seseorang muslim msh mengakui bahwa solat itu salah satu rukun islam yang wajib di lakukan oleh umat islam, walaupun dia tidak mengerjakannya, setahun sekali solat misalnya. maka dia tetap syah menjadi muslim. berbeda dengan seseorang yang mengatakan bahwa solat itu tidak ada dalam agama, allah tidak pernah memerintahkan kita untuk solat, nah. maka org yg mengingkari adanya salat, dan setelah kita beri dia nasihat dan penjelesan bahwa solat itu rukun islam, dan dia tetep ngotot dengan pendapat dia, maka dia boleh di kafirkan. dan perlu di ketahui bahwa yang memvonis dia kafir atau tidak itu adalah hakim yg berwewenang menentukannya. bukan manusia biasa, karena kalau setiap orang memiliki otoritas untuk mengkafirkan seseorang akan mengakibatkan bahaya yang besar.akan terjadi pertumpahan darah.
    2. orang yang menyembah, meminta kepada selain allah itu juga kafir, dan ini akan kita banyak dapatkan dalam alquran..penjelasannya sama dengan di atas, perlu di tegakan hukum terlebih dahulu, saya kira bisa di pahami.
    nah, itu adalah pengkafiran secara mutlak.
    adapun kafir muqoyyad atau aini adalah menunjuk atau memvonis seseorang kafir.
    ini sangat bahaya contohnya, si fulan itu KAFIR karena dia begini, ini tidak boleh sebelum ada kejelasan kekufurannya dari al quran dan sunnah, dan setelah sampai penjelasan ke dia. karena kalo tidak kekafiran itu akan kembali kepada dirinya, sebagaimana sabda rosul: barang siapa yg mengatakan kepada saudaranya wahai kafir maka kekafiran itu kembali kepada dirinya.
    makanya banyak ulama yang menulis tentang dowabit takfir (aturan dalam pengkafiran)…
    dan inilah yang saya baca dari buku2 yang katanya wahabi, karena penasaran saya untuk meneliti kembali, dan ternyata menyimpang dari apa yg ada di blog2 ini, saya kira terlalu berlebihan.
    adapun pengkafiran yang di nisbatkan ke si wahab itu kalau saya lihat dan saya pelajari itu sifatnya mutlak (umum) bukan aini (secara langsung)..seperti pengkafiran toghut..yaa wajar dan harus kita “kafirin” toghut itu, karena itu perintah alquran..toghutkan berhala2 yang di sembah selain allah. banyak dalil alqurannya.
    saya ingin minta daftar list orang2 yang di kafirkan (secara aini, yg langsung ke orangnya) oleh wahab itu.
    saya hanya orang biasa yagn ingin tau kebenaran, sebelum saya ikuti satu pendapat saya kaji dulu kebenarannya, makanya saya minta data lagi ke anda,
    terkadang kita tidak suka melihat seseorang yang sok benar, akhirnya, karena kejengkelan kita, ketidak sukaan kita. kita terus berusaha untuk menjatuhkan dia, pendapat dia dan semua perilaku dia, kita berusaha nyari buku2 yang sangat kontra dengan dia untuk melawan pikiran dia, bahkan kita mencari penulis yang benci dan anti terhadap dia. tetapi tanpa kita sadari akhirnya kita sendiri menjadi orang yg merasa paling benar juga, semua yg kita katakan kita tulis tidak kita pertimbangkan lagi yangpenting kita serang dia, benar atau nggaknya urusan belakang..
    yang menjadi korban adalah kita orang yang membacanya, yg tidak tau menau pastinya apa. akhirnya dia berani menyuarakan allahu akbar, si fulan neo khawarij si fulan ini dan itu.lagi2 tdk terasa akhirnya kita yang mudah menghukumi seorang kafir, seorang khawarij dll.dari awalnya yang tidak suka ngafirin akhirnya jd ngafirin juga.
    ketika saya membaca tulisan ini, yang saya rasakan adalah hujtan saja, sekali lagi saya tidak terlalu kenal dengan si wahab itu, saya baca buku wahabi karena untuk menilti apa yg penulis tulis. dan sebenarnya ga gitu banget ternyata mereka msh punya kaidah atau dowabit yg selektif.(baca dowabit takfir) ga mudah ngafirin perindifidu.
    dan kita yang membaca jangan mudah terprofokasi oleh isi tulisan apapun sebelum kita kaji terlebih dahulu.
    semoga allah menunjukan kita jalan yang bener.

    masalah yang kedua masalah bid’ah.
    yang katanya wahabi suka memvonis org bid’ah.
    kalau orang wahabi nuduh saya melakukan hal bidah, maka pertama yang saya lakukan adalah melihat apa yang sebenaranya yang saya lakukan ini??!! lantas kenapa kok bisa jadi bid’ah??!!apa dalil2 dia mengatakan saya bid’ah??!!dan apa landasan saya melakukan perbuatan itu?!! sapa yang nyuruh saya berbuat begini??!!
    salah satu contoh permasalahan umat islam di indonesia adalah masalah mauludan dan tahlilan…
    waktu kecil saya sampe dewasa kalo ada tahlilan ga boleh ketinggalan, pasti hadirnya. namun setelah saya belajar agama, hati saya bertanya2 siapa yang nyuruh saya tahlilan, kenapa kita tahlilan??!! untuk apa??!! dan paling aneh kenapa umat islam indonesia saja yg melakukan tahlilan, kalau emang itu dari islam, kenapa umat islam lainnya sedunia tidak ikut serta seperti solat. teruuuus saya kaji dan bertanya2 orang yang sudah pandai baca kitab kuning, dan yang paling saya inginkan adalah mengumpulkan pendapat2 dan perkataan ulama syafi’iyah sampai saya menemukannya.:
    1. Pendapat Imam asy-Syafi’i rahimahullah:
    Berkata Imam an-Nawawi di dalam kitabnya Syarah Shahih Muslim :
    ((وَأمَّا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فَالْمَشْهُوْرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أنَّهُ لاَ يَصِلُ ثَوَابُهَا إِلَى الْمَيَّتِ … وَدَلِيْلُ الشَّافِعِيِّ وَمُوَافِقِيْهِ قَوْلُ اللهِ تَعَالَى: وَأَنْ لَّيْسَ لِلإِْنْسَانِ إِلاَّ مَا سَعَى. وَقَوْلُ النَّبِيِّ:  “إِذِا مَاتَ ابْنَ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ؛ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ”)).
    “Adapun bacaan al-Qur’an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit), maka yang masyhur dalam madzhab Syafi’i, pahalanya tidak sampai kepada mayit yang dikirimi … adapun dalil Imam asy-Syafi’i dan yang sependapat dengannya, adalah firman Allah  (yang artinya): “Dan seseorang tidak akan memperoleh, melainkan pahala usahanya sendiri”, juga sabda Nabi : “Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal, yaitu: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang berdoa untuknya” .
    Juga as-Subki di dalam kitab Takmilah al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab mengatakan:
    ((وَأمَّا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ وَجَعْلُ ثَوَابِهَا لِلْمَيِّتِ وَالصَّلاَةُ عَنْهُ وَنَحْوُهَا فَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ وَالْجُمْهُوْرُ أنَّهَا لاَ تَلْحَقُ الْمَيِّتَ وَكَرَّرَ ذَلِكَ فِيْ عِدَّةِ مَوَاضِعَ فِيْ شَرْحِ مُسْلِمٍ)).
    “Adapun bacaan al-Qur’an dan mengirimkan pahalanya untuk mayit, mengganti shalatnya mayit dan sebagainya, Imam asy-Syafi’i dan jumhur (sebagian besar ulama) berpendapat bahwa pahalanya tidak akan sampai kepada mayit yang dikirimi, dan keterangan seperti ini telah berulangkali disebutkan (oleh Imam an-Nawawi) di dalam kitab Syarah Muslim” .

    2. Al-Haitsami, di dalam kitabnya: Al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyah, menjelaskan:
    ((الْمَيِّتُ لاَ يُقْرَأُ عَلَيْهِ, مَبْنِيٌّ عَلَىمَا أطْلَقَهُ الْمُتَقَدِّمُوْنَ مِنْ أَنَّ الْقِرَاءَةَ لاَ تَصِلُهُ -أَيْ الْمَيِّتَ- ِلأنَّ ثَوَابَهَا لِلْقَارِئِ، وَالثَّوَابُ المُرَتَّبُ عَلَى عَمَلٍ لاَ يُنْقَلُ عَنْ عَامِلِ ذَلِكَ الْعَمَلِ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَأَنْ لَّيْسَ لِلإِْنْسَانِ إِلاَّ مَا سَعَى النجم: 39)).
    “Mayit tidak boleh dibacakan atasnya, berdasarkan keterangan yang mutlak dari ulama mutaqaddimin (terdahulu); bahwa bacaan (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit) adalah tidak akan sampai kepadanya, sebab pahala bacaan itu adalah untuk pembacanya saja. Adapun pahala hasil amalan tidak dapat dipindahkan dari ‘amil (yang mengamalkan) perbuatan itu, adalah berdasarkan firman Allah  (yang artinya): “Dan manusia tidak memperoleh kecuali pahala dari hasil usahanya sendiri” An-Najm: 39″ .

    3. Imam al-Muzani, di dalam Hamisy Al-Umm, mengatakan demikian:
    ((فَأَعْلَمَ رَسُوْلُ اللهِ  كَمَا أعْلَمَ اللهُ مِنْ أَنَّ جِنَايَةَ كُلِّ امْرِئٍ عَلَيْهِ كَمَا أَنَّ عَمَلَهُ لَهُ لاَ لِغَيْرِهِ وَلاَ عَلَيْهِ)).
    “Rasulullah  telah memberitahukan sebagaimana yang diberitahukan Allah ; bahwa (ganjaran atas) dosa seseorang akan menimpa dirinya sendiri, sebagaimana pahala amalnya adalah untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain” .

    4. Imam al-Khazin di dalam tafsirnya mengatakan sebagai berikut:
    ((وَالمَشْهُوْرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أَنَّ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ لاَ يَصِلُ لِلْمَيِّتِ ثَوَابُهَا)).
    “Dan yang masyhur dalam madzab Syafi’i, bahwa bacaan Qur’an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit) tidak sampai kepada mayit yang dikirimi” .

    5. Di dalam Tafsir al-Jalalain disebutkan demikian:
    ((فَلَيْسَ لَهُ مِنْ سَعِيِ غَيْرِهِ الْخَيْرِ شَيْء ٌ)).
    “Maka seseorang tidak memperoleh pahala sedikit pun dari amal kebaikan orang lain” .

    6. Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-‘Adzim menjelaskan (ketika menafsirkan ayat 39 dari surat an-Najm):
    ((أيْ كَمَا لاَ يُحْمَلُ عَلَيْهِ وِزْرُ غَيْرِهِ؛ كَذَلِكَ لاَ يَحْصُلُ مِنَ اْلأجْرِ إِلاَّ مَا كَسَبَ هُوَ لِنَفْسِهِ. وَمِنْ هَذِهِ اْلآيَةِ الْكَرِيْمَةِ اسْتَنْبَطَ الشَّافِعِيُّ (رَحِمَهُ اللهُ) وَمَنِ اتَّبَعَهُ, أنَّ الْقِرَاءَةَ لاَ يَصِلُ إهْدَاءُ ثَوَابِهَا إِلَى الْمَوْتَى لأَِنَّهُ لَيْسَ مِنْ عَمَلِهِمْ وَلاَ كَسْبِهِمْ. وَلِهَذَا لَمْ يَنْدُبْ إلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ  أُمَّتَهُ وَلاَ حَثَّهُمْ عَلَيْهِ وَلاَ أرْشَدَهُمْ إلَيْهِ بِنَصٍّ وَلاَ إيْمَاءٍ, وَلَمْ يُنْقَلْ ذَلِكَ عَنْ أحَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ , وَلَوْكَانَ خَيْرًا لَسَبُقُوْنَا إلَيْهِ. وَبَابُ الْقُرُبَاتِ يُقْتَصَرُ فِيْهِ عَلَى النُّصُوْصِ وَلاَ يُتَصَرَّفُ فِيْهِ بأَنْوَاعِ اْلأقْيِسَةِ وَاْلآرَاءِ)).
    “Yakni, sebagaimana dosa seseorang tidak akan menimpa orang lain, demikian juga manusia tidak dapat memperoleh pahala melainkan dari hasil amalnya sendiri. Dan dari ayat yang mulia ini, Imam asy-Syafi’i rahimahullah dan ulama-ulama yang mengikutinya, mengambil kesimpulan bahwa bacaan (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit) tidak akan sampai, karena bukan dari hasil usahanya sendiri. Oleh karena itu Rasulullah  tidak pernah menganjurkan umatnya untuk mengamalkan (pengiriman pahala bacaan), tidak pernah memberikan bimbingan, baik dengan nash maupun dengan isyarat, dan tidak ada seorang sahabat pun yang pernah mengamalkan perbuatan tersebut. Kalau amalan semacam itu memang baik, tentu mereka telah mendahului kita dalam mengerjakannya. Dan amalan qurbah (mendekatkan diri kepada Allah ) hanya terbatas dengan yang ada nash-nashnya (dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah) saja, serta tidak boleh di’otak-atik’ dengan berbagai macam qiyas (analogi) dan ra’yu (rasio)” .
    demikian tulisan singkat ini, mohon maaf klo ada kesalahan dan kekurangan..
    semua ini karena saya ingin belajar mencari yang sebenarnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: