Mereka Bicara Salafy & Wahabi

nGumpulin Tulisan Menyorot Salafy Wahabi

Sekte Wahhabiyah Pewaris Konsep Mujassimah

Posted by bicarasalafy pada Maret 12, 2008

Sekte wahhabiyah Pewaris Konsep Mujassimah

Sumber: abusalafy.wordpress.com

Dalam beberapa artikel telah kami sebutkan bahwa Wahhâbiyah dalam pokok-pokok pikiran dasarnya, khususnya dalam masalah teks-teks keislaman tentang “Sifât Allah” berseberangan dengan para Salaf ash-Shaleh…. Kaum Wahhâbiyah lebih mewarisi pikiran dan pandangan kaum Mujassimah walaupun mereka menolak disebut sebagai berpikiran tajsîm.

Di antara rentetan masalah terkait dengan masalah “Sifât” Allah SWT. kaum Mujassimah, seperti juga Wahhâbiyah meyakini bahwa Allah berada di sebuah tempat tepatnya di langit.

Sederetan ayat disebut-sebut sebagai dasar keyakinan ini. Dan usaha menafsirkan apapun yang dilakukan para ulama untuk memahami ayat-ayat tersebut dalam koridor majâzi dituduhnya sebagai mempermainkan ayat-ayat suci Al Qur’an… para pelakunya mereka tuduh sebagai kaum Mu’aththilah (yang mengosongkan Allah dari menyandang sifat-sifat). Sebagaimana banyak hadis yang diatas-namakan Nabi saw. juga dibawa-bawa, dari mulai hadis yang dari sisi sanadnya shahih hingga hadis-hadis palsu pun mereka usung!

Diantara hadis terkuat yang mereka selalu andalkan dalam mendasarkan keyakinannya dan tidak jarang karenanya mereka mengafirkan siapa saja yang tidak menyetujui keyakinan mereka itu, adalah hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahih-nya.

Imam Muslim dalam afrâd-nya [1] meriwayatkan dari jalur Mu’awiyah ibn al Hakam, ia berkata, “Aku memiliki seorang budak wanita yang mengembala kambing-kambingku. Lalu pada suatu hari ia pergi mengembala, maka tiba-tiba seekor srigala memangsa seekor kambingku. Aku ini anak Adam (manusia biasa) menyesali seperti hal mereka juga menyesali (jika kehilangan hartanya), maka aku pukul budak itu dengan keras. Kemudian aku mendatangi Rasulullah saw. Dan beliau pun menegurku dengan keras. Aku berkata, “Apa aku perlu memerdekakannya?

Nabi saw. Bersabda kepadaku:

إئْتِنِيْ بِها!

فَأَتَيْتُ بها.

فقال لها: أيْنَ اللهُ؟

قالتْ: في السماءِ.

قال: مَنْ أنا؟

قالتْ: أنتَ رسولُ اللهِ.

قال: إِعْتِقْها فَإِنَّها مُؤْمِنَةٌ.

Nabi saw. Bersabda: “Bawalah dia kepadaku!

Maka aku bawa ia menemui beliau.

Beliau bertanya kepadanya, “Di manakah Allah?”

Budak itu menjawab, “Di langit.”

Nabi saw. Bersabda, “Siapa aku?”

Ia menjawab, “Engkau adalah Rasul, utusan Allah.”

Nabi saw. Bersabda, “Merdekakan dia, sesungguhnya ia seorang mukminah.”

(HR. Muslim,1/382-384/hadis no: 537)

Inilah hadis yang paling diandalkan kaum Wahhâbiyah, tidak terkecuali Mufti Agung Wahhabi Syeikh Abdul Aziz ben Bâz, seperti disebutkan dalam fatwanya, dan yang atas dasar itu ia menvonis kafir dan sesat-menyesatkan serta telah membohongkan Allah dan Rasul-Nya!!

Abu Salafy berkata:

Pertama-tama yang harus kita cermati ketika mengangkat sebuah riwayat/hadis sebagai hujjah/bukti adalah bahwa kesahihan hadis dari sisi sanadnya saja belum cukup. Sebab dalam hal kayakinan perlu ditegakkan di atas dasar pondasi yang kokoh… hadis yang dijadikan dasar hendaknya mutawâtir sehingga ia memberikan kepastian informasi, ilm. Demikian yang ditegaskan para ulama Islam.

Al Hafidz Ibnu Abdil Barr berkata, “Para ulama kami dan selainnya berselisih pendapat tentang hadis/khabar wâhid yang adil (yang belum mencapai derajat mutawâtir), apakah ia memberikan kepastian ilmu dan amal (boleh menjadi dasar pengamalan) atau hanya amal saja? Menurut mayoritas ulama kami (mazhab Malikiyah), ia hanya menentukan amal saja tidak memberikan kesimpulan ilmu pasti! Ini adalah pendapat (Imam) Syafi’i dan jumhûr Ahli Fikih dan Teologi. Menurut mereka tidak-lah memberikan kepastian ilmu kecuali yang dikuatkan dari Allah dan memutus semua uzur sebab ia telah datang dari jalur pasti yang tidak diperselisihkan lagi.

Setelahnya ia menyebutkan pendapat ulama yang berpendapat bahwa ia meberikan kepastian ilmu dzâhir (bukan sekedar dzan, yaitu hanya dalam furû’) dan juga memberikan kepastian diamalkan.

Kemudian ia menutup dengan kata-kata, “Dan pendapat yang kami yakini adalah ia hanya memberikan ketentuan amal saja tidak memberikan kepastian ilmu, seperti empat orang saksi. Dan atas pendapat ini kebanyakan Ahli Fikih dan Hadis.” [2]

Dalam Shahihnya, Imam Bukahri menuliskan sebuah bab dengan judul:

بابٌ: ما جاءَ فِيْ إجازَةِ خَبَرِ الواحِدِ الصًّدُوقِ في الأذانِ و الصلاةِ و الصومِ و الفرائِضِ و الأحكامِ.

Bab: Apa-apa yang datang tentang dibolehkannya bersandar dengan khabar seorang yang jujur dalam masalah adzan, shalat, puasa dan kewajiban-kewajiban serta hukum.

Ibnu Hajar mengomentari kata-kata Imam Bukhari di atas dengan, “Kata-katanya dan kewajiban-kewajiban setelah menyebut adzan, shalat, puasa temasuk menyambung kata umum dengan kata khusus. Dan disebutkan secara khusus tiga kewajiba/hukum itu sebagai bukti perhatian atasnya. Al Kirmâni berkata, ‘Hal itu agar diketahui bahwa ia (khabar seorang yang jujur) itu hanya berkalu dalam masalah amalan saja tidak dalam hal keyakianan.’” (Fath al Bâri,13/231)

Serta banyak komentar lainya dari para ulama seperti al Khathib al Baghdadi dalam al Kifâyah Fi ‘Ilmi ad Dirâyah:432, al Hafidz al Baihaqi dalam al Asmâ’’’ wa ash Shifâf:357, Imam an Nawawi dalam Syarah Muslim,1/131 dll.

Bahkan Ibnu Taimiyah –panutan kaum Wahhâbiyah pun- mengakui kaidah ini. Ia berkata dalam Minhâj as Sunnah-nya,2/133:

“Hadis yang ia bawa ini adalah hadis âhad, maka bagaimana dapat ditetapkan dengannya sebuah ashl, prinsip agama yang tidak sah keimanan tanpanya?!”

Dari ini semua dapat ditegaskan di sini bahwa hadis âhad hanya memberikan dzan/dugaan bukan ilm/kepastian ilmu. Karenannya tidak boleh dasar akidah ditegakkan di atas pondasi hadis âhad!

Kedua, Seperti diketahui para santri yang rajin bergelut dalam dunia ilmu hadis, apalagi Pakar dan Ahli Hadis bahwa bisa jadi sebuah hadis itu dari sisi sanadnya shahih; sanadnya bersambung melalui perantara para perawi yang adil dan punya dhabth/ketepatan hafalan, akan tetapi ia sebenarnya sedang mengidap penyakit, illah atau mengalami keganjilan, syudzûdz.

Biasanya adanya keganjilan dan penyakit itu hanya diketahui oleh pakar Ahli Hadis yang memiliki ketelitian tinggi. Adapun selain mereka, pasti akan kesulitan mengidentifikasi adanya cacat tersembunyi tersebut.

Al Hafidz Ibnu al Jawzi berkata, “Ketahuilah bahwa hadis-hadis itu memiliki kedetailan-kedetailan dan cacat-cacat yang tidak diketahui kecuali oleh para pakar, ulama dan fukaha, terkadang dalam susunannya dan terkadang dalam kupasan kandungannya… “ (Daf’u Syubah at Tasybîh:143)

Dan bagi Anda yang berminat mengetahui lebih lanjut dipersilahkan merujuk kitab Ma’rifah ‘Ulûm al Hadîts; al Hâkim an Nisyaburi:112, naw/habasan: 27 dan Tadrîb ar Râwi; Jalaluddin as Suyuthi,1/233.

Setelah Anda ketahui dua mukaddimah di atas, Anda kami ajak untuk meneliti hadis andalah kaum Wahâbiyah dalam menetapkan konsep “Allah Bersemayam di Langit” dan barang siapa menolaknya maka ia kafir dan sesat menyesakan!! Demikian vonis sadis Ben Bâz!!

Hadis Muslim Adalah Hadis Ahâd!

Untuk dijadikan sebuah hujjah dalam masalah i’tiqâd, hadis Imam Muslim di atas menghadapi sederatan masalah serius yang menghadangnya.

Pertama, Hadis itu adalah hadis ahâd. Sehingga belum cukup kuat untuk dijadikan dasar untuk menetapkan sebuah kayakinan, apalagi sepenting dan seagung itu, yang karenanya keimanan dan atau kekafiran seorang akan ditentukan!

Kedua, hadis ini mengidap penyakit dan keganjilan dalam kandungannya, di mana dalam riwayat para muhaddis lain dan dengan jalur yang shahih juga ia diriwayatkan dengan redaksi berbeda yang tidak mengandung keganjilan.

Para ulama hadis, telah meriwayatkan hadis tersebut dengan redaksi:

قال: أَ تَشْهَدِيْنَ أنْ لاَ إلَهَ إلاَّ الله؟

قالتْ: نعم.

قال: : أَ تَشْهَدِيْنَ أنِّيْ رسولُ اللهِ؟

قالتْ : نعمْ.

قال : أَ تُؤْمِنِيْنَ بالبَعْثِ بعدَ المةتِ؟

قالتْ : نعمْ.

قال: فَاعْتِقْها.

“Nabi bertanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah?”

Ia menjawab, “Ya.”

Beliau saw. bertanya lagi, “Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?”

Ia menjawab, “Ya.”

Nabi bertanya, “Apakah engkau beriman akan adanya kebangkitan setelah kematian?”

Ia menjawab, “Ya.

Nabi sa. Bersabda, “Merdekakan dia!”

Hadis di atas telah diriwayatkan oleh:

1. Imam Ahmad dalam Musnad,3/452.

2. Al Haitsami dalam Majma’ az Zawâid,4.244 dan seluruh perawinya adalah perawi hadis shahih.

3. Abdurrazzaq dalam Mushannaf,9/175.

4. Al Bazzâr dalam Kasyfu al Astâr,1/14.

5. Ad Dârimi dalam Sunan,2/187.

6. Al Baihaqi dalam Sunan,10/57.

7. Ath Thabarâni, 12/27 dengan sanad yang shahih.

8. Ibnu al Jârûd dalam al Muntaqâ:931.

9. Ibnu Abi Syaibah dalam Musnad,11/20.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa riwayat Muslim itu secara ma’nan (tidak dengan redaksi asli sabda Nabi saw.) atau paling tidak diduga demikian! Dan dengan adanya dugaan, ihtimâl, maka gugurlah beristidlâl/berhujjah dengannya! Sebab bagaimana kita akan membangun sebuah keyakinan dasar di atas dasar hadis yang diduga mengalami perubahan?!

Seperti telah kami singgung sebelumnya, bahwa kaum Mujassimah, temasuk tokoh-tokoh Wahhâbiyah, seperti Ben Bâz begitu getol berpegangan denga riwayat dengan redaksi Muslim di atas: أيْنَ اللهُ dengan tanpa menyadari bahwa redaksi ini adalah hasil kreasi dan olah kata perawi tertentu dalam meriwayatkan teks sabda suci Nabi saw.! Tetapi sayangnya penyampaian dengan mengedepankan ma’na bukan terks asli itu salah! Khususnya setelah kita temukan redaksi hadis itu dalam sumber-sumber lain yang sepakat meriwayatkan dengan redaksi yang tidak mengandung keganjilan dan penyakit!

Redaksi riwayat Imam Muslim dapat dipastikan salah dengan alasan-alasan di bawah ini:

A) Hadis Riwayat Muslim iu bertentangan dengan bukti-bukti yang mutawâtir dari Nabi saw. bahwa setiap kali ada seorang datang untuk memeluk Islam. Beliau memintanya untuk bersaksi dengan syahâdatain bahwa “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah” . jika ia menerimanya maka Islamnya diterima.

B) Nabi saw. Telah menerangkan prinsip-prinsip dasar keimanan dalam hadis Jibril as. Dan di dalamnya tidak disebut-sebut tentang keberadaan Allah di langit seperti yang diyakini kaum Wahhabiyah!

C) Kayakinan yang ditetapkan dalam hadis Muslim: أيْنَ اللهُ؟ -في السماءِ. tidak menetapkan keimanan akan keesaan Allah SWT dan tidak menafikan sekutu dari-Nya! Lalu dengan demikian bagaiamana dikatakan bahwa Nabi saw. mengatakan bahwa si wanita itu telah beriman?! Bukankah kaum Musyrikun juga meyakini bahwa Allah di langit?! Namun demikian mereka menyekutukan-Nya dengan tuhan-tuhan di bumi!!

D) Keyakinan bahwa Allah itu berada di langit adalah keyakinan Fir’aun yang telah dikecam habis Al Qur’an. Allah berfirman:

وَ قالَ فِرْعَوْنُ يا هامانُ ابْنِ لي صَرْحاً لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبابَ * أَسْبابَ السَّماواتِ فَأَطَّلِعَ إِلى إِلهِ مُوسى وَ إِنِّي لَأَظُنُّهُ كاذِباً وَ كَذلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ وَ صُدَّ عَنِ السَّبيلِ وَ ما كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلاَّ في تَبابٍ .

“Dan berkatalah Firaun:” Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu- pintu, (yaitu) pintu- pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”. Demikianlah dijadikan Firaun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar) ; dan tipu daya Firaun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian.” (QS.Ghafir;3-37)

Dalam ayat di atas tegas-tegas dikatakan bahwa sesiapa yang menganggap Allah itu berada di langit adalah telah terhalangi dari ma’rifah, mengenal Allah SWT dengan sebenar arti pengenalan.

Jadi penyakit kayakinan bahwa Allah berada di langit atau ditempat tertentu adalah penyakit kronis. Semoga Alah menyelamatkan kita dari keyakinan itu. Amîn.

E) Yang tampak dari nash-nash yang menyebut secara lahiriyah bahwa Alah SWT di langit jelas bukan demikian maksud sebenarnya. Ia mesti dita’wil sebab Allah tidak bisa ditanyakan dengan kata tanya: Di mana Dia? Kata di mana? Tidak pernah disabdakan Nabi saw., seperti telah kami buktikan. Dan siapa saja yang meyakini dengan makna lahiriyah teks-teks tersebut berarti ia meyakini bahwa Allah SWT bertempat di sebagian makhluk-Nya sendiri? Mungkinkah itu?! Sebab langit adalah ciptaan Allah SWT! Jadi jika diyakini bahwa Allah berada di langit dan pada sepertiga malam turun ke langit terdekat –seperti diyakini kaum Mujassimah dan Wahhâbiyah- berarti mereka meyakini bahwa Allah bertempat pada sebagian makhluk-Nya. Dan itu artinya makhluk-Nya lebih besar dari Allah SWT Sang Pencipta! Maha Suci Allah dari ocehan kaum jahil!

Jika Al Qur’an menyebutkan bahwa Arsy Allah saja lebih luas darti langit-langit dan bumi, lalu bagaimana langit dapat menjadi tempat bagi bersemayamnya Allah?! Maha Suci Allah dari ocehan kaum jahil!

Penutup:

Di sini kami hanya mengingatkan bahwa apabila Anda mengharap dari para Baduwi Arab yang belum mampu melepas diri dari jeratan takhayyul kuno mereka atau mengharap mereka berfikr secara lincah, cerdas dan filosofis…. maka Anda pasti akan dikecewakan. Sebab untuk memahami rahasia keagungan Tuhan Pecipta semesta alam dibutuhkan kecerdasan akal dan kejernihan jiwa dan spiritual.

Akhirnya kami akan tutup artikel ini dengan mengutip komentar Ibnu Hajar al Asqallani dalam Fath al Bâri-nya,1/220:

“Sesungguhnya jangkauan akal-akal terhadap rahasis-rahasia Ketuhanan adalah tidak sampai, karenanya tidak semestinya ditanya mengapa Dia menetapka huku begini atau begitu, sebagaimana tidak boleh ditanyakan tentang Wajud-Nya dengan: Di mana? dan: Bagaimana?.”

Jadi tidak benar keyakinan yang mensifati Allah SWT dengan di atas atau di bawah sesuatu! Bahwa Allah SWT dengan Dzat-Nya berada atas Arsy-Nya. Kendati setiap pernyataan itu di akhir dengan kata-kata penghias: “Tetapi tidak seperti bersemayamnya makhluk-Nya! Allah turun dari langit tetapi tidak seperti turunnya makhluk! dll. Sebab kata-kata hiasan seperti itu hanya menambah panjang kata-kata dagelan yang tidak lucu!

_______________________

[1] Afrâd adlah bentuk jamak kata fard, artinya tunggal. Maksud dari sitilah ini ialah bahwa hadis itu hanya diriwayatkan Imam Muslim seorang, Imam Bukhari tidak meriwayatkannya dalam Shahih-nya.

[2] At Tamhîd,1/7.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: