Mereka Bicara Salafy & Wahabi

nGumpulin Tulisan Menyorot Salafy Wahabi

Membaca Salafy, Wahabi Dan Khawarij

Posted by bicarasalafy pada Februari 9, 2008

Membaca Salafy, Wahabi Dan Khawarij

Oleh: Muchtar Luthfi

Sumber: Muslim Bintaro Jaya

Dalam melihat faktor kemunculan pemikiran untuk kembali kepada pendapat Salaf
menurut Imam Ahmad bin Hambal dapat diperhatikan dari kekacauan zaman saat itu.
Sejarah membuktikan, saat itu, dari satu sisi, kemunculan pemikiran liberalisme
yang diboyong oleh pengikut Muktazilah yang meyakini keturutsertaan dan
kebebasan akal secara ekstrim dan radikal dalam proses memahami agama. Sedang
disisi lain, munculnya pemikiran filsafat yang banyak diadopsi dari budaya luar
agama, menyebabkan munculnya rasa putus asa dari beberapa kelompok ulama Islam,
termasuk Ahmad bin Hambal. Untuk lari dari pemikiran-pemikiran semacam itu,
lantas Ahmad bin Hambal memutuskan untuk kembali kepada metode para Salaf dalam
memahami agama, yaitu dengan cara tekstual.

AKHIR-AKHIR INI, di Tanah Air kita muncul banyak sekali kelompok-kelompok
pengajian dan studi keislaman yang mengidentitaskan diri mereka sebagai pengikut
dan penyebar ajaran para Salaf Saleh. Mereka sering mengatasnamakan diri mereka
sebagai kelompok Salafi. Dengan didukung dana yang teramat besar dari negara
donor, yang tidak lain adalah negara asal kelompok ini muncul, mereka
menyebarkan akidah-akidah yang bertentangan dengan ajaran murni keislaman baik
yang berlandaskan al-Quran, hadis, sirah dan konsensus para salaf maupun khalaf.

Dengan menggunakan ayat-ayat dan hadis yang diperuntukkan bagi orang-orang
kafir, zindiq dan munafiq, mereka ubah tujuan teks-teks tersebut untuk
menghantam para kaum muslimin yang tidak sepaham dengan akidah mereka. Mereka
beranggapan, bahwa hanya akidah mereka saja yang mengajarkan ajaran murni
monoteisme dalam tubuh Islam, sementara ajaran selainnya, masih bercampur
syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul yang harus dijauhi, karena sesat dan
menyesatkan. Untuk itu, dalam makalah ringkas ini akan disinggung selintas
tentang apa dan siapa mereka. Sehingga dengan begitu akan tersingkap kedok
mereka selama ini, yang mengaku sebagai bagian dari Ahlusunnah dan penghidup
ajaran Salaf Saleh.

DEFINISI SALAFI

Jika dilihat dari sisi bahasa, Salaf berarti yang telah lalu.[2] Sedang dari
sisi istilah, salaf diterapkan untuk para sahabat Nabi, tabi’in dan tabi’
tabi’in yang hidup di abad-abad permulaan kemunculan Islam.[3] Jadi, salafi
adalah kelompok yang ‘mengaku’ sebagai pengikut pemuka agama yang hidup dimasa
lalu dari kalangan para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in. Baik yang berkaitan
dengan akidah, syariat dan prilaku keagamaan.[4] Bahkan sebagian menambahkan
bahwa Salaf mencakup para Imam Mazhab, sehingga salafi adalah tergolong pengikut
mereka dari sisi semua keyakinan keagamaannya.[5] Muhammad Abu Zuhrah menyatakan
bahwa Salafi adalah kelompok yang muncul pada abad ke-empat hijriyah, yang
mengikuti Imam Ahmad bin Hambal. Kemudian pada abad ketujuh hijriyah dihidupkan
kembali oleh Ibnu Taimiyah.[6]

Pada hakekatnya, kelompok yang mengaku sebagai salafi yang dapat kita temui di
Tanah Air sekarang ini, mereka adalah golongan Wahabi yang telah diekspor oleh
pamuka-pemukanya dari dataran Saudi Arabia. Dikarenakan istilah Wahabi begitu
berkesan negatif, maka mereka mengatasnamakan diri mereka dengan istilah Salafi,
terkhusus sewaktu ajaran tersebut diekspor keluar Saudi. Kesan negatif dari
sebutan Wahabi buat kelompok itu bisa ditinjau dari beberapa hal, salah satunya
adalah dikarenakan sejarah kemunculannya banyak dipenuhi dengan pertumpahan
darah kaum muslimin, terkhusus pasca kemenangan keluarga Saud -yang membonceng
seorang rohaniawan menyimpang bernama Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi- atas
semua kabilah di jazirah Arab atas dukungan kolonialisme Inggris. Akhirnya
keluarga Saud mampu berkuasa dan menamakan negaranya dengan nama keluarga
tersebut. Inggris pun akhirnya dapat menghilangkan dahaga negaranya dengan
menyedot sebagian kekayaan negara itu, terkhusus minyak bumi. Sedang pemikiran
Muhammad bin Abdul Wahab, resmi menjadi akidah negara tadi yang tidak bisa
diganggu gugat. Selain menindak tegas penentang akidah tersebut, Muhammad bin
Abdul Wahab juga terus melancarkan aksi ekspansinya ke segenap wilayah-wilayah
lain diluar wilayah Saudi.[7]

Sayyid Hasan bin Ali as-Saqqaf, salah satu ulama Ahlusunnah yang sangat getol
mempertahankan serangan dan ekspansi kelompok wahabisme ke negara-negara muslim,
dalam salah satu karyanya yang berjudul “as-Salafiyah al-Wahabiyah” menyatakan:
“Tidak ada perbedaan antara salafiyah dan wahabiyah. Kedua istilah itu ibarat
dua sisi pada sekeping mata uang. Mereka (kaum salafi dan wahabi) satu dari sisi
keyakinan dan pemikiran. Sewaktu di Jazirah Arab mereka lebih dikenal dengan
al-Wahhabiyah al-Hambaliyah. Namun, sewaktu diekspor keluar (Saudi), mereka
mengatasnamakan dirinya sebagai Salafy”. Sayyid as-Saqqaf menambahkan: “Maka
kelompok salafi adalah kelompok yang mengikuti Ibnu Taimiyah dan mengikuti ulama
mazhab Hambali. Mereka semua telah menjadikan Ibnu Taimiyah sebagai imam, tempat
rujukan (marja’), dan ketua. Ia (Ibnu Taimiyah) tergolong ulama mazhab Hambali.
Sewaktu mazhab ini berada di luar Jazirah Arab, maka tidak disebut dengan
Wahabi, karena sebutan itu terkesan celaan”. Dalam menyinggung masalah para
pemuka kelompok itu, kembali Sayyid as-Saqqaf mengatakan: “Pada hakekatnya,
Wahabiyah terlahir dari Salafiyah. Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang yang
menyeru untuk mengikuti ajaran Ibnu Taimiyah dan para pendahulunya dari mazhab
Hambali, yang mereka kemudian mengaku sebagai kelompok Salafiyah”. Dalam
menjelaskan secara global tentang ajaran dan keyakinan mereka, as-Saqqaf
mengatakan: “Al-Wahabiyah atau as-Salafiyah adalah pengikut mazhab Hambali,
walaupun dari beberapa hal pendapat mereka tidak sesuai lagi (dan bahkan
bertentangan) dengan pendapat mazhab Hambali sendiri. Mereka sesuai (dengan
mazhab Hambali) dari sisi keyakinan tentang at-Tasybih (Menyamakan Allah dengan
makhluk-Nya), at-Tajsim (Allah berbentuk mirip manusia), dan an-Nashb yaitu
membenci keluarga Rasul saw (Ahlul-Bait) dan tiada menghormati mereka”.[8] Jadi,
menurut as-Saqqaf, kelompok yang mengaku Salafi adalah kelompok Wahabi yang
memiliki sifat Nashibi (pembenci keluarga Nabi saw), mengikuti pelopornya, Ibnu
Taimiyah.

PELOPOR PEMIKIRAN “KEMBALI KE METODE AJARAN SALAF”

Ahmad bin Hambal adalah sosok pemuka hadis yang memiliki karya terkenal, yaitu
kitab “Musnad”. Selain sebagai pendiri mazhab Hambali, ia juga sebagai pribadi
yang menggalakkan ajaran kembali kepada pemikiran Salaf Saleh. Secara umum,
metode yang dipakai oleh Ahmad bin Hambal dalam pemikiran akidah dan hukum
fikih, adalah menggunakan metode tekstual. Oleh karenanya, ia sangat keras
sekali dalam menentang keikutsertaan dan penggunaan akal dalam memahami ajaran
agama. Ia beranggapan, kemunculan pemikiran logika, filsafat, ilmu kalam
(teologi) dan ajaran-ajaran lain -yang dianggap ajaran diluar Islam yang
kemudian diadobsi oleh sebagian muslim- akan membahayakan nasib teks-teks agama.

Dari situ akhirnya ia menyerukan untuk berpegang teguh terhadap teks, dan
mengingkari secara total penggunaan akal dalam memahami agama, termasuk proses
takwil rasional terhadap teks. Ia beranggapan, bahwa metode itulah yang dipakai
Salaf Saleh dalam memahami agama, dan metode tersebut tidak bisa diganggu gugat
kebenaran dan legalitasnya. Syahrastani yang bermazhab ‘Asyariyah dalam kitab
“al-Milal wa an-Nihal” sewaktu menukil ungkapan Ahmad bin Hambal yang
menyatakan: “Kita telah meriwayatkan (hadis) sebagaimana adanya, dan hal
(sebagaimana adanya) itu pula yang kita yakini”.[9] Konsekwensi dari ungkapan
Ahmad bin Hambal di atas itulah, akhirnya ia beserta banyak pengikutnya
-termasuk Ibnu Taimiyah- terjerumus kedalam jurang kejumudan dan kaku dalam
memahami teks agama. Salah satu dampak konkrit dari metode di atas tadi adalah,
keyakinan akan tajsim (anthropomorphisme) dan tasybih dalam konsep ketuhanan,
lebih lagi kelompok Salafi kontemporer, pendukung ajaran Ibnu Taimiyah
al-Harrani yang kemudian tampuk kepemimpinannya dilanjutkan oleh Muhammad bin
Abdul Wahhab an-Najdi.

Suatu saat, datang seseorang kepada Ahmad bin Hambal. Lantas, ia bertanya
tentang beberapa hadis. Hingga akhirnya, pertanyaan sampai pada hadis-hadis
semisal: “Tuhan pada setiap malam turun ke langit Dunia”, “Tuhan bisa dilihat”,
“Tuhan meletakkan kaki-Nya kedalam Neraka” dan hadis-hadis semisalnya. Lantas ia
(Ahmad bin Hambal) menjawab: “Kita meyakini semua hadis-hadis tersebut. Kita
membenarkan semua hadis tadi, tanpa perlu terhadap proses pentakwilan”.[10]

Jelas metode semacam ini tidak sesuai dengan ajaran al-Quran dan as-Sunnah itu
sendiri. Jika diperhatikan lebih dalam lagi, betapa al-Quran dalam ayat-ayatnya
sangat menekankan penggunaan akal dan pikiran dalam bertindak.[11] Begitu juga
hadis-hadis Nabi saw. Selain itu, pengingkaran secara mutlak campur tangan akal
dan pikiran manusia dalam memahami ajaran agama akan mengakibatkan kesesatan dan
bertentangan dengan ajaran al-Quran dan as-Sunnah itu sendiri. Dapat kita
contohkan secara singkat penyimpangan yang terjadi akibat penerapan konsep tadi.
Jika terdapat ayat semisal “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas
Arsy”,[12] atau seperti hadis yang menyatakan “Sesungguhnya Allah turun ke
langit dunia pada setiap malam”[13], lantas, disisi lain kita tidak boleh
menggunakan akal dalam memahaminya, bahkan cukup menerima teks sebagaimana
adanya, maka kita akan terbentur dengan ayat lain dalam al-Quran seperti ayat
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia”.[14] Apakah ayat dari surat Thoha
tadi berartikan bahwa Allah bertengger di atas singgasana Arsy sebagaimana Ibnu
Taimiyah duduk di atas mimbar, atau turun ke langit dunia sebagaimana Ibnu
Taimiyah turun dari atas mimbarnya, yang itu semua berarti bertentangan dengan
ayat dari surat as-Syuura di atas. Jadi akan terjadi kontradiksi dalam memahami
hakekat ajaran agama Islam. Mungkinkah Islam sebagai agama paripurna akan
terdapat kontradiksi? Semua kaum muslimin pasti akan menjawabnya dengan negatif,
apalagi berkaitan dengan al-Quran sebagai sumber utama ajaran Islam.

Melihat kelemahan metode dasar yang ditawarkan oleh Ahmad bin Hambal semacam
ini, meniscayakan adanya pengeroposan ajaran-ajaran yang bertumpu pada metode
tadi. Dalam masalah ini, kembali as-Sahrastani mengatakan: “Berbagai individu
dari Salaf telah menetapkan sifat azali Tuhan, semisal; sifat Ilmu, Kemampuan
(Qudrat)…dan mereka tidak membedakan antara sifat Dzati dan Fi’li. Sebagaimana
mereka juga telah menetapkan sifat khabariyah buat Tuhan, seperti; dua tangan
dan wajah Tuhan. Mereka tidak bersedia mentakwilnya, dan mengatakan: itu semua
adalah sifat-sifat yang terdapat dalam teks-teks agama. Semua itu kita sebut
sebagai sifat khabariyah”. Dalam kelanjutan dari penjelasan mengenai kelompok
Salafi tadi, kembali as-Sahrastani mengatakan: “Para kelompok Salafi kontemporer
meyakini lebih dari para kelompok Salaf itu sendiri. Mereka menyatakan,
sifat-sifat khabari bukan hanya tidak boleh ditakwil, namun harus dimaknai
secara zahir. Oleh karenanya, dari sisi ini, mereka telah terjerumus kedalam
murni keyakinan tasybih. Tentu, permasalahan semacam ini bertentangan dengan apa
yang diyakini oleh para salaf itu sendiri”.[15] Jadi sesuai dengan ungkapan
Syahrastani, bahwa mayoritas para pengikut kelompok Salafi kontemporer telah
menyimpang dari keyakinan para Salaf itu sendiri. Itu jika kita telaah secara
global tentang konsep memahami teks. Akibatnya, mereka akan terjerumus kepada
kesalahan fatal dalam mengenal Tuhan, juga dalam permasalahn-permasalahan
lainnya. Padahal, masih banyak lagi permasalahan-permasalahan lain yang
jelas-jelas para Salaf meyakininya, sedang pengaku pengikut salaf kontemporer
(salafi) justru mengharamkan dengan alasan syirik, bidah, ataupun khurafat.
Perlu ada tulisan tersendiri tentang hal-hal tadi, dengan disertai kritisi
pendapat dan argumentasi para pendukung kelompok Wahabisme.[16] Itulah yang
menjadi alasan bahwa para pengikut Salafi (kontemporer) itu sudah banyak
menyimpang dari ajaran para Salaf itu sendiri, termasuk sebagian ajaran imam
Ahmad bin Hambal sendiri.[17]

FAKTOR MUNCULNYA KELOMPOK SALAFI

Dalam melihat faktor kemunculan pemikiran untuk kembali kepada pendapat Salaf
menurut Imam Ahmad bin Hambal dapat diperhatikan dari kekacauan zaman saat itu.
Sejarah membuktikan, saat itu, dari satu sisi, kemunculan pemikiran liberalisme
yang diboyong oleh pengikut Muktazilah yang meyakini keturutsertaan dan
kebebasan akal secara ekstrim dan radikal dalam proses memahami agama. Sedang
disisi lain, munculnya pemikiran filsafat yang banyak diadopsi dari budaya luar
agama, menyebabkan munculnya rasa putus asa dari beberapa kelompok ulama Islam,
termasuk Ahmad bin Hambal. Untuk lari dari pemikiran-pemikiran semacam itu,
lantas Ahmad bin Hambal memutuskan untuk kembali kepada metode para Salaf dalam
memahami agama, yaitu dengan cara tekstual.

Syeikh Abdul Aziz ‘Izzuddin as-Sirwani dalam menjelaskan factor kemunculan
pemikiran kembali kepada metode Salaf, mengatakan: “Dikatakan bahwa penyebab
utama untuk memegang erat metode itu -yang sangat nampak pada pribadi Ahmad bin
Hambal- adalah dikarenakan pada zamannya banyak sekali dijumpai fitnah-fitnah,
pertikaian dan perdebatan teologis. Dari sisi lain, berbagai pemikiran aneh,
keyakinan-keyakinan yang bermacam-macam dan beraneka ragam budaya mulai
bermunculan. Bagaimana mungkin semua itu bisa muncul di khasanah kelimuan Islam.
Oleh karenanya, untuk menyelamatkan keyakinan-keyakinan Islam, maka ia
menggunakan metode kembali kepemikiran Salaf”.[18] Hal semacam itu pula yang
dinyatakan oleh as-Syahrastani dalam kitab al-Milal wa an-Nihal.

Fenomena semacam ini juga bisa kita perhatikan dalam sejarah hidup Abu Hasan
al-Asy’ari pendiri mazhab al-Asyariyah. Setelah ia mengumumkan diri keluar dari
ajaran Muktazilah yang selama ini ia dapati dari ayah angkatnya, Abu Ali
al-Juba’i seorang tokoh Muktazilah dizamannya. Al-Asy’ari dalam karyanya yang
berjudul “al-Ibanah” dengan sangat jelas menggunakan metode mirip yang digunakan
oleh Ahmad bin Hambal. Namun karena ia melihat bahwa metode semacam itu
terlampau lemah, maka ia agak sedikit berganti haluan dengan mengakui otoritas
akal dalam memahami ajaran agama, walau dengan batasan yang sangat sempit. Oleh
karenanya, dalam karya lain yang diberi judul “al-Luma’ ” nampak sekali betapa
ia masih mengakui campur tangan dan keturutsertaan akal dalam memahami ajaran
agama, berbeda dengan metode Ahmad bin Hambal yang menolak total keikutsertaan
akal dalam masalah itu. Dikarenakan al-Asy’ari hidup di pusat kebudayaan Islam
kala itu, yaitu kota Baghdad, maka sebutan Ahlusunnah pun akhirnya didentikkan
dengan mazhabnya. Sedang mazhab Thohawiyah dan Maturidiyah yang kemunculannya
hampir bersamaan dengan mazhab Asyariyah dan memiliki kemiripan dengannya,
menjadi kalah pamor dimata mayoritas kaum muslimin, apalagi ajaran Ahmad bin
Hambal sudah tidak lagi dilirik oleh kebanyakan kaum muslimin. Lebih-lebih pada
masa kejayaan Ahlusunnah, kemunculan kelompok Salafi kontemporer yang dipelopori
oleh Ibnu Taimiyah yang sebagai sempalan dari mazhab imam Ahmad bin Hambal, pun
tidak luput dari ketidaksimpatian kelompok mayoritas Ahlusunnah. Ditambah lagi
dengan penyimpangan terhadap akidah Salaf yang dilakukan Salafi kontemporer
(pengikut Ibnu Taimiyah) -yang dikomandoi oleh Muhammad bin Abdul Wahab
an-Najdi- serta tindakan arogansi yang dilancarkan para pengikut Salafi tersebut
terhadap kalompok lain yang dianggap tidak sependapat dengan pemikiran mereka.

KECURANGAN KELOMPOK SALAFI

Setiap golongan bukan hanya berusaha untuk selalu mempertahankan kelangsungan
golongannya, namun mereka juga berusaha untuk menyebarkan ajarannya. Itu
merupakan suatu hal yang wajar. Akan tetapi, tingkat kewajarannya bukan hanya
bisa dinilai dari sisi itu saja, namun juga harus dilihat dari cara dan sarana
yang dipakai untuk mempertahankan kelangsungan dan penyebaran ajaran golongan
itu. Dari sisi ini, kelompok Salafi banyak melakukan beberapa kecurangan yang
belum banyak diketahui oleh kelompok muslim lainnya. Selain kelompok Ahlusunnah
biasa, kelompok Ahli Tasawwuf dari kalangan Ahlusunnah dan kelompok Syiah (di
luar Ahlusunnah) merupakan kelompok-kelompok di luar Wahabi (Salafi) yang sangat
gencar diserang oleh kelompok Salafi. Kelompok Salafi tidak segan-segan
melakukan hal-hal yang tidak ‘gentle’ dalam menghadapi kelompok-kelompok selain
Salafi, terkhusus Syiah. Menuduh kelompok lain dari saudara-saudaranya sesama
muslim sebagai ahli bid’ah, ahli khurafat, musyrik adalah kebiasaan buruk kaum
Salafi, walaupun kelompok tadi tergolong Ahlusunnah. Disisi lain, mereka sendiri
terus berusaha untuk disebut dan masuk kategori kelompok Ahlusunnah. Berangkat
dari sini, kaum Salafi selalu mempropagandakan bahwa Syiah adalah satu kelompok
yang keluar dari Islam, dan sangat berbeda dengan pengikut Ahlusunnah. Mereka
benci dengan usaha-usaha pendekatan dan persatuan Sunnah-Syiah, apalagi melalui
forum dialog ilmiah. Mereka berpikir bahwa dengan mengkafirkan kelompok Syiah,
maka mereka akan dengan mudah duduk bersama dengan kelompok Ahlusunnah. Padahal
realitanya tidaklah semacam itu. Karena mereka selalu menuduh kelompok
Ahlusunnah sebagai pelaku Bid’ah, Khurafat, Takhayul dan Syirik. Mereka
berpikir, sewaktu seorang pengikut Ahlusunnah melakukan ziarah kubur, tahlil,
membaca shalawat dan pujian terhadap Nabi, istighotsah, bertawassul dan
mengambil berkah (tabarruk) berarti ia telah masuk kategori pelaku syirik atau
ahli bid’ah yang telah jelas konsekwensi hukumnya dalam ajaran Islam.

Singkat kata, kebencian itu bukan hanya dilancarkan kepada Ahlusunnah, namun
terlebih pada kelompok Syiah. Kebencian kaum Salafi terhadap Syiah, bahkan
dilakukan dengan cara-cara tidak ilmiah bahkan cenderung arogan dan premanisme,
sebagaimana yang dilakukannya di beberapa tempat. Mereka tahu bahwa kelompok
Syiah sangat produktif dalam penerbitan buku-buku, terkhusus buku-buku agama.
Karya-karya ulama Syiah mampu mengikuti perkembangan zaman dan dapat memberi
masukan dalam menyelesaikan problem intelektual yang sedang dibutuhkan oleh
masyarakat. Ulama Syiah mampu mengikuti wacana yang sedang berkembang, plus cara
penyampaiannya pun dilakukan dengan cara ilmiah. Hal itulah yang menyebabkan
kecemburuan kelompok Salafi terhadap Syiah kian menjadi. Akhirnya, sebagai
contoh perbuatan licik yang mereka lakukan, sewaktu diadakan pameran
Internasional Book-Fair di Mesir, dimana kelompok Syiah pun turut memeriahkan
dengan membuka beberapa stand di pameran tersebut, melihat hal itu, kelompok
Salafi (Wahabi) memborong semua kitab-kitab Syiah di stand-stand yang ada, yang
kemudian membakar semua kitab yang dibelinya.[19]

Jika mereka berani bersaing dengan kelompok Syiah dari sisi keilmiahan, kenapa
mereka melakukan hal itu? Perlakuan mereka semacam itu sebagai salah satu bukti
kuat, bahwa mereka tidak terlalu memiliki basis ilmiah yang cukup mumpuni
sehingga untuk menghadapi Syiah, mereka tidak memiliki jalan lain kecuali harus
menggunakan cara-cara emosional yang terkadang cenderung arogan itu. Cara itu
juga yang mereka lakukan terhadap para pengikut tasawuf dan tarekat yang banyak
ditemui dalam tubuh Ahlusunnah sendiri, khususnya di Indonesia.

Segala bentuk makar dan kebohongan untuk mengahadapi rival akidahnya merupakan
hal mubah dimata pengikut Salafi (Wahabi), karena kelompok Salafi masih terus
beranggapan bahwa selain kelompoknya masih dapat dikategorikan pelaku syirik,
bid’ah, khurafat dan takhayul. Perlakuan mereka terhadap kaum muslimin pada
musim haji merupakan bukti yang tidak dapat diingkari.

Yang lebih parah dari itu, para pendukung kelompok Salafi -yang didukung dana
begitu besar- berani melakukan perubahan pada kitab-kitab standart Ahlusunnah,
demi untuk menguatkan ajaran mereka, yang dengan jelas tidak memiliki akar
sejarah dan argumentasi (tekstual dan rasional) yang kuat. Dengan melobi para
pemilik percetakan buku-buku klasik agama yang menjadi standart ajaran -termasuk
kitab-kitab hadis dan tafsir- mereka berani mengeluarkan dana yang sangat besar
untuk merubah beberapa teks (hadis ataupun ungkapan para ulama) yang dianggap
merugikan kelompok mereka. Kita ambil contoh apa yang diungkapkan oleh Syeikh
Muhammad Nuri ad-Dirtsawi, beliau mengatakan: “Merubah dan menghapus hadis-hadis
merupakan kebiasaan buruk kelompok Wahabi. Sebagai contoh, Nukman al-Alusi telah
merubah tafsir yang ditulis oleh ayahnya, Syeikh Mahmud al-Alusi yang berjudul
Ruh al-Ma’ani. Semua pembahasan yang membahayakan kelompok Wahabi telah dihapus.
Jika tidak ada perubahan, niscaya tafsir beliau menjadi contoh buat kitab-kitab
tafsir lainnya. Contoh lain, dalam kitab al-Mughni karya Ibnu Qodamah
al-Hambali, pembahasan tentang istighotsah telah dihapus, karena hal itu mereka
anggap sebagai bagian dari perbuatan Syirik. Setelah melakukan perubahan
tersebut, baru mereka mencetaknya kembali. Kitab Syarah Shohih Muslim pun (telah
dirubah) dengan membuang hadis-hadis yang berkaitan dengan sifat-sifat (Allah),
kemudian baru mereka mencetaknya kembali”.[20]

Namun sayang, banyak saudara-saudara dari Ahlusunnah lalai dengan apa yang
mereka lakukan selama ini. Perubahan-perubahan semacam itu, terkhusus mereka
lakukan pada hadis-hadis yang berkaitan dengan keutamaan keluarga (Ahlul-Bait)
Nabi. Padahal, salah satu sisi kesamaan antara Sunni-Syiah adalah pemberian
penghormatan khusus terhadap keluarga Nabi. Dari sinilah akhirnya pribadi
seperti sayyid Hasan bin Ali as-Saqqaf menyatakan bahwa mereka tergolong
kelompok Nashibi (pembenci keluarga Rasul).

Dalam kitab tafsir Jami’ al-Bayan, sewaktu menafsirkan ayat 214 dari surat
as-Syu’ara: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabat-mu yang terdekat”,
disitu, Rasulullah mengeluarkan pernyataan berupa satu hadis yang berkaitan
dengan permulaan dakwah. Dalam hadis yang tercantum dalam kitab tafsir tersebut
disebutkan, Rasul bersabda: “Siapakah diantara kalian yang mau menjadi wazir dan
membantuku dalam perkara ini -risalah- maka akan menjadi
saudaraku…(kadza…wa…kadza)…”. Padahal, jika kita membuka apa yang
tercantum dalam tarikh at-Thabari kata “kadza wa kadza” (yang dalam penulisan
buku berbahasa Indonesia, biasa digunakan titik-titik) sebagai ganti dari sabda
Rasul yang berbunyi; “Washi (pengganti) dan Khalifah-ku”. Begitu pula
hadis-hadis semisal, “Aku adalah kota ilmu, sedang Ali adalah pintunya” yang
dulu tercantum dalam kitab Jaami’ al-Ushul karya Ibnu Atsir, kitab Tarikh
al-Khulafa’ karya as-Suyuthi dan as-Showa’iq al-Muhriqoh karya Ibnu Hajar yang
beliau nukil dari Shohih at-Turmudzi, kini telah mereka hapus. Melakukan
peringkasan kitab-kitab standard, juga sebagai salah satu trik mereka untuk
tujuan yang sama. Dan masih banyak usaha-usaha licik lain yang mereka lancarkan,
demi mempertahankan ajaran mereka, terkhusus ajaran kebencian terhadap keluarga
Nabi. Sementara sudah menjadi kesepakatan kaum muslimin, bahwa mencintai
keluarga Nabi adalah suatu kewajiban, sebagaimana Syair yang pernah dibawakan
oleh imam Syafi’i:
“Jika mencintai keluarga Muhammad adalah Rafidhi (Syiah), maka saksikanlah wahai
ats-Tsaqolaan (jin dan manusia) bahwa aku adalah Rofidhi”.[21]

SALAFI (WAHABI) DAN KHAWARIJ

Tidak berlebihan kiranya jika sebagian orang beranggapan bahwa kaum Wahabi
(Salafi) memiliki banyak kemiripan dengan kelompok Khawarij. Melihat, dari
sejarah yang pernah ada, kelompok Khawarij adalah kelompok yang sangat mirip
sepak terjang dan pemikirannya dengan kelompok Wahabi. Oleh karenanya, bisa
dikatakan bahwa kelompok Wahabi adalah pengejawantahan kelompok Khawarij di masa
sekarang ini. Disini, secara singkat bisa disebutkan beberapa sisi kesamaan
antara kelompok Wahabi dengan golongan Khawarij yang dicela melalui lisan suci
Rasulullah saw, dimana Rasul memberi julukan golongan sesat itu (Khawarij)
dengan sebutan “mariqiin”, yang berarti ‘lepas’ dari Islam sebagaimana lepasnya
anak panah dari busurnya.[22]

Paling tidak ada enam kesamaan antara dua golongan ini yang bisa disebutkan.
Pertama, sebagaimana kelompok Khawarij dengan mudah menuduh seorang muslim
dengan sebutan kafir, kelompok Wahabi pun sangat mudah menuduh seorang muslim
sebagai pelaku syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul. Yang semua itu adalah
‘kata halus’ dari pengkafiran, walaupun dalam beberapa hal memiliki kesamaan
dari konsekwensi hukumnya. Abdullah bin Umar dalam mensifati kelompok Khawarij
mengatakan: “Mereka menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang
kafir, lantas mereka terapkan untuk menyerang orang-orang beriman”.[23]
Ciri-ciri semacam itu juga akan dengan mudah kita dapati pada pengikut kelompok
Salafi (Wahabi) berkaitan dengan saudara-saudaranya sesama muslim. Bisa dilihat,
betapa mudahnya para rohaniawan Wahabi (muthowi’) menuduh para jamaah haji
sebagai pelaku syirik dan bid’ah dalam melakukan amalan yang dianggap tidak
sesuai dengan akidah mereka.

Kedua, sebagaimana kelompok Khawarij disifati sebagaimana yang tercantum dalam
hadis Nabi: “Mereka membunuh pemeluk Islam, sedang para penyembah berhala mereka
biarkan”,[24] maka sejarah telah membuktikan bahwa kelompok Wahabi pun telah
melaksanakan prilaku keji semacam itu. Sebagaimana yang pernah dilakukan pada
awal penyebaran Wahabisme oleh pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab. Pembantaian
berbagai kabilah dari kaum muslimin mereka lakukan dibeberapa tempat, terkhusus
diwilayah Hijaz dan Iraq kala itu.

Ketiga, sebagaimana kelompok Khawarij memiliki banyak keyakinan yang aneh dan
keluar dari kesepakatan kaum muslimin, seperti keyakinan bahwa pelaku dosa besar
dihukumi kafir, kaum Wahabi pun memiliki kekhususan yang sama.

Keempat, seperti kelompok Khawarij memiliki jiwa jumud (kaku), mempersulit diri
dan mempersempit luang lingkup pemahaman ajaran agama, maka kaum Wahabi pun
mempunyai kendala yang sama.

Kelima, kelompok Khawarij telah keluar dari Islam dikarenakan ajaran-ajaran yang
menyimpang, maka Wahabi pun memiliki penyimpangan yang sama. Oleh karenanya, ada
satu hadis tentang Khawarij yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab
Shahihnya, yang dapat pula diterapkan pada kelompok Wahabi. Rasul bersabda:
“Beberapa orang akan muncul dari belahan Bumi sebelah timur. Mereka membaca
al-Quran, tetapi (bacaan tadi) tidak melebihi batas tenggorokan. Mereka telah
keluar dari agama (Islam), sebagaimana terkeluarnya (lepas) anak panah dari
busurnya. Tanda-tanda mereka, suka mencukur habis rambut kepala”.[25]
Al-Qistholani dalam mensyarahi hadis tadi mengatakan: “Dari belahan bumi sebelah
timur” yaitu dari arah timur kota Madinah semisal daerah Najd.[26] Sedang dalam
satu hadis disebutkan, dalam menjawab perihal kota an-Najd: “Di sana terdapat
berbagai goncangan, dan dari sana pula muncul banyak fitnah”.[27] Atau dalam
ungkapan lain yang menyebutkan: “Disana akan muncul qorn setan”. Dalam kamus
bahasa Arab, kata qorn berartikan umat, pengikut ajaran seseorang, kaum atau
kekuasaan.[28]

Sedang kita tahu, kota Najd adalah tempat lahir dan tinggal Muhammad bin Abdul
Wahab an-Najdi, pendiri Wahabi. Kota itu sekaligus sebagai pusat Wahabisme, dan
dari situlah pemikiran Wahabisme disebarluaskan kesegala penjuru dunia.
Banyak tanda zahir dari kelompok tersebut. Selain mengenakan celana atau gamis
hingga betis, mencukur rambut kepala sedangkan jenggot dibiarkan bergelayutan
tidak karuan adalah salah satu syiar dan tanda pengikut kelompok ini.

Keenam, sebagaimana kelompok Khawarij meyakini bahwa “negara muslim” (Daar
al-Salam) jika penduduknya banyak melakukan dosa besar, maka dapat dikategorikan
“negara zona perang” (Daar al-Harb), kelompok radikal Wahabi pun meyakini hal
tersebut. Sekarang ini dapat dilihat, bagaimana kelompok-kelompok radikal Wahabi
-seperti al-Qaedah- melakukan aksi teror diberbagai tempat yang tidak jarang
kaum muslimin juga sebagai korbannya.

Tulisan ringkas ini mencoba untuk mengetahui tentang apa dan siapa kelompok
Salafi (Wahabi). Semoga dengan pengenalan ringkas ini akan menjadi kejelasan
akan kelompok yang disebut-sebut sebagai Salafi ini, yang mengaku penghidup
kembali ajaran Salaf Saleh. Sehingga kita bisa lebih berhati-hati dan mawas diri
terhadap aliran sesat dan menyesatkan yang telah menyimpang dari Islam Muhammadi
tersebut.

Satu Tanggapan to “Membaca Salafy, Wahabi Dan Khawarij”

  1. SABIQ said

    tulisan yang bagus !!
    matur-nuwun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: