Mereka Bicara Salafy & Wahabi

nGumpulin Tulisan Menyorot Salafy Wahabi

Saya Resah

Posted by bicarasalafy pada Januari 28, 2008

Saya Resah

Ditulis Oleh: Blogger amed.wordpress.com

http://amed.wordpress.com/2007/03/28/saya-resah/

Banjarmasin, 28 Maret 2007

PLANG PERINGATAN: TULISANNYA PANJANG DAN BANYAK LINK! BIKIN OVERLOAD JUGA!
Anda telah diperingatkan.

Sebagai blogger, sekali lagi saya tekankan, SEBAGAI BLOGGER Saya resah. Sungguh. Kenapa? Begini, blogosphere (atau WordPress) yang baru saya kenal beberapa bulan ini, telah memperluas wawasan dan sudut pandang saya mengenai berbagai hal. Saya juga banyak tambah teman serta membuka pikiran saya yang cupet dan kerap memandang sesuatu secara hitam-putih. Ada diskusi yang selalu menarik di sini, dengan blogger-blogger serta komentar-komentar cerdas yang boleh saling dukung maupun saling bantah, apapun temanya. Saya suka mengikutinya, terkadang ikut nimbrung sedikit-sedikit walau komennya sering gak mutu.

Akan tetapi ada hal yang, terus terang saja, tidak saya sukai. Hal tersebut adalah adanya sekelompok blogger (INGAT LOH SAYA LAGI NGOMONG DALAM KONTEKS BLOGOSPHERE!) yang kerap menebarkan kebencian dalam komentarnya, merasa benar sendiri dan meng”kafir-kafir”kan blogger yang mereka anggap berseberangan pandangan. Mereka seolah ingin terkesan eksklusif di blogosphere yang heterogen, di ranah wordpress yang seharusnya egaliter. Siapa mereka? Well, di blog mereka sering terpajang istilah Salaf, lengkap dengan segala atributnya. Okay, kita panggil saja mereka Blogger Salafy.

Lalu mengapa saya tidak suka? Berikut saya coba menuliskan secara kronologis, insiden yang melibatkan para blogger Salaf ini:
– Di Bogor, Wadehel membahas pro-kontra ucapan Selamat Natal yang katanya haram itu.
– Seorang blogger Salafy bernama Antosalafy menghujat wadehel dan mengatakan isi websitenya jelek sekali.
– Komentar pedas itu dijawab dengan sangat sopan namun “cerdas” oleh wadehel.
– Libero kemudian memberi gambaran umum awal tentang isi blog Antosalafy.
– Dari Jogja, Joe terlihat tertarik sekali menginvestigasi si blogger dan isi blognya, dan secara frontal mendebat mereka dan berkomentar di blognya.
– Terjadi perdebatan seru di sana, sayang sekarang sudah dihapus, entah kenapa, jadi Her(m)an deh…
– kembali terjadi perdebatan seru, intinya kata mereka jangan mengedepankan akal (Dan jadi goblok saja! Biar gampang dicuci otak dan dimanfaatkan).
– Joe kemudian mempermasalahkan ummat (Islam) yang malas berpikir, apa jadinya kalau kita begitu.
– Sementara Di Groningen, Belanda, Kang Adhi sibuk ngrasanin Wadehel D karena terinspirasi oleh Pak Arif yang menjawab komentar Guh. Beliau mengaitkan Wadehel dengan teori strukturalisme vs dekonstruksi.
– Kembali, orang yang sama muncul, dan (kembali) mengumbar kata-kata kasar di blog Kang Adhi.
– Menyambung tulisan Kang Adhi, dari Kebumen Bang Tajib menyarankan Wadehel agar mendelete Blog-nya. Alasannya karena menurut Bang Tajib nantinya pola diskusinya akan “begitu-begitu saja”, dan sebaiknya dia membuat Blog baru dengan ide-ide baru.
– Eh, ada yang menafsirkan tulisan ini sebagai “tambahan amunisi” untuk menyerang wadehel! Dan Bang Tajib membahasnya secara khusus.
– Uniknya, yang diomongin kok ya malah ndak muncul-muncul? Yang muncul malah seorang bernama Rudisalaf yang mempertanyakan loyalitasmu terhadap Rasul.
– Pertanyaannya Rudysalaf dijawab oleh Sora9n dengan sangat cerdas, dan diangkat kembali menjadi sebuah artikel oleh Bang Tajib.
– Sementara itu Antosalafy dengan gayanya yang khas melontarkan tulisan yang sungguh “menyejukkan”. Semoga diam betul-betul bisa dijadikan hikmah. (UPDATE: TULISANNYA TIBA-TIBA SAJA MENGHILANG! TANYA KENAPA?)
– Wadehel mengcounter tulisannya di postingan yang kotor, emosional dan mentah, tapi kok ya banyak yang mendukung? Wah, antek-antekmu yang membebek buta pada dirimu banyak betul, Hel? Pokoknya™ Kafir™ kelian semua!
– Sementara Abu Bakr Ahmad al Makassariy (wah namanya benar-benar menerapkan tips ini rupanya) sibuk juga mendiamkan gonggongan si “anjing” wadehel. Weh, main diam-diaman nih?

Oke, sampai di sini tertarikkah anda untuk mengetahui siapa sebenarnya mereka? Kenapa mereka selalu menebarkan kebencian dan berhambur kata-kata kasar dan makian kepada orang lain? Apa maksud terselubung dari gerakan ini? Berikut sedikit yang saya temukan:
Ressay menganalogikan mereka sebagai orang-orang yang perpendapat Pokoknya™ Kambing Walaupun Bisa Terbang.
– Ressay juga menceritakan pengalamannya dengan yang ia sebut muslim teroris.
– Ressay kemudian juga memuat dua artikel (di sini dan di sini) yang mengaitkan salafy dan Paham Wahabi.
– Loh memangnya apa hubungan Salafy dengan Wahabi? Dua blog tersebut secara khusus berusaha membuka kedok mereka yang suka meng-anjingkan manusia itu.

OK, jadi begitu ya? Tapi apa sih sebenarnya yang bikin kamu ilfil sama mereka?
– Sungguh saya tadinya malas membahas tentang hal ini, sampai saya menemukan momentum, yaitu bahwa mereka mentaklid buta fatwa bahwa matahari mengelilingi bumi! Sampai di sini saya akhirnya sampai pada satu kesimpulan: KONYOL!
– OK, kita memang tidak boleh menuhankan akal. TAPI JANGAN PULA MENGINJAK-INJAK AKAL PEMBERIAN ALLAH! Lihat baik-baik bagaimana diskusi di sana mengalir.
– Penjelasan untuk menyanggah fatwa konyol itu bisa saya dapatkan di blog Mas Agor, yang menjelaskan kalau yang namanya pusat itu bisa dalam bermacam-macam pengertian. Makanya mikir!
– Tafsir tekstual? Lihat ini: Kami Berada Di Atas Manhaj Salaf: Saya juga bisa menafsirkan kalimat ini sebagai Kami lebih tinggi dari manhaj salaf, karena frase “di atas” secara tekstual berarti “lebih tinggi” sesuai dengan konsep orientational metaphor (teori skripsi saya terpaksa saya keluarkan deh), menempatkan kata kami di posisi yang lebih tinggi dan potensial untuk menginjak kata manhaj.

Huff… Ngaso sebentar.
OK, lalu apa maksud saya menulis ini?
– Menebarkan fitnah?
+ Tidak, yang benar menebar ping. sungguh tidak ada niat untuk memfitnah atau menjelek-jelekkan, hanya katarsis keresahan saya. Lagian kan saya bawa banyak link pendukung. Apa kurang banyak?
– Kenapa banyak ping?
+ Saya seorang blogger. Baca lagi deh apa itu blog oleh mantan Bapak Blog Indonesia! Link-link itu dalam dunia per-blog-kan bisa disamakan dengan dalil-dalil yang juga bisa di copy paste seenaknya.
– Nyari sensasi? Nyari hits?
+ HAHAHA, memang saya ini jablay blog. Tapi kepindahan Om Super ke WP sudah cukup mendongkrak statistik saya kok. Saya tidak mempermasalahkan hal itu.
– Mau cari masalah dengan Those Salaf Bloggers?
+ Silakan kalau mereka mau mempermasalahkannya. Tulis saja komentar di posting ini. Tuh, semuanya bebas nulis, tidak akan saya edit apalagi saya hapus. Silakan memperlihatkan seberapa hebat anda dalam menghujat. Ingat, kita selalu siap untuk mengritik orang lain, tapi apakah kita sendiri sudah siap dikritik?
– Jadi maksud kamu apa?
+ Saya pernah bilang, makna menjadi blogger buat saya adalah saya bisa share, care and aware. Dan saat ini saya sedang sharing keresahan ke kawan-kawan blogger yang saya care, agar kita semua bisa selalu aware akan niat segelintir orang yang berusaha melakukan pembodohan massal, dengan pendirian Pokoknya™ Kami Yang Paling Benar.
– DALIL DONG! DALIL! Kalau cuma omong doang tanpa dalil, semua ini hanyalah hoax!
+ OK, ini saya ikut-ikutan asal copy paste, kutipan dari Buku Sirah Nabawiyah, oleh Muhammad Husain Haikal:

Dalam segala hal akallah patokan dalam Islam
Dalam segala hal akal pikiran oleh Islam telah dijadikan patokan. Juga dalam hal agama dan iman ia dijadikan patokan. Dalam firman Tuhan:

“Perumpamaan orang-orang yang tidak beriman ialah seperti (gembala) yang meneriakkan (ternaknya) yang tidak mendengar selain suara panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, sebab mereka tidak menggunakan akal pikiran.” (Qur’an, 2: 171)

Oleh Syaikh Muhammad Abduh ditafsirkan, dengan mengatakan: “Ayat ini jelas sekali menyebutkan, bahwa taklid (menerima begitu saja) tanpa pertimbangan akal pikiran atau suatu pedoman ialah bawaan orang-orang tidak beriman. Orang tidak bisa beriman kalau agamanya tidak disadari dengan akalnya, tidak diketahuinya sendiri sampai dapat ia yakin. Kalau orang dibesarkan dengan biasa menerima begitu saja tanpa disadari dengan akal pikirannya, maka dalam melakukan suatu perbuatan, meskipun perbuatan yang baik, tanpa diketahuinya benar, dia bukan orang beriman. Dengan beriman bukan dimaksudkan supaya orang merendah-rendahkan diri melakukan kebaikan seperti binatang yang hina, tapi yang dimaksudkan supaya orang dapat meningkatkan daya akal pikirannya, dapat meningkatkan diri dengan ilmu pengetahuan, sehingga dalam berbuat kebaikan itu benar-benar ia sadar, bahwa kebaikannya itu memang berguna, dapat diterima Tuhan. Dalam meninggalkan kejahatan pun juga dia mengerti benar bahaya dan berapa jauhnya kejahatan itu akan membawa akibat.”
Inilah yang dikatakan Syaikh Muhammad Abduh dalam menafsirkan ayat ini, yang di dalam Qur’an, selain ayat tersebut sudah banyak pula ayat-ayat lain yang disebutkan secara jelas sekali. Qur’an menghendaki manusia supaya merenungkan alam semesta ini, supaya mengetahui berita-berita sekitar itu, yang kelak renungan demikian itu akan mengantarkannya kepada kesadaran tentang wujud Tuhan, tentang keesaanNya, seperti dalam firman Allah:

“Bahwasanya dalam penciptaan langit dan bumi, dalam pergantian malam dan siang, bahtera yang mengarungi lautan membawa apa yang berguna buat umat manusia, dan apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan air itu dihidupkanNya bumi yang sudah mati kering, kemudian disebarkanNya di bumi itu segala jenis hewan, pengisaran angin dan awan yang dikemudikan dari antara langit dan bumi – adalah tanda-tanda (akan keesaan dan kebesaran Tuhan) buat mereka yang menggunakan akal pikiran.” (Qur’an, 2: 164)”

Dan sebagai suatu tanda buat mereka, ialah bumi yang mati kering. Kami hidupkan kembali dan Kami keluarkan dari sana benih yang sebagian dapat dimakan. Disana Kami adakan kebun-kebun kurma dan palm dan anggur dan disana pula Kami pancarkan mata air – supaya dapat mereka makan buahnya. Semua itu bukan usaha tangan mereka. Kenapa mereka tidak berterima kasih. Maha Suci Yang telah menciptakan semua yang ditumbuhkan bumi berpasang-pasangan, dan dalam diri mereka sendiri serta segala apa yang tiada mereka ketahui. Juga sebagai suatu tanda buat mereka – ialah malam. Kami lepaskan siang, maka mereka pun berada dalam kegelapan. Matahari pun beredar menurut ketetapan yang sudah ditentukan. Itulah ukuran dari Yang Maha Kuasa dan Maha Tahu. Juga bulan, sudah Kami tentukan tempat-tempatnya sampai ia kembali lagi seperti mayang yang sudah tua. Matahari tiada sepatutnya akan mengejar bulan dan malam pun tiada akan mendahului siang. Masing-masing berjalan dalam peredarannya. Juga sebagai suatu tanda buat mereka – ialah turunan mereka yang Kami angkut dalam kapal yang penuh muatan. Dan buat mereka Kami ciptakan pula yang serupa, yang dapat mereka kendarai. Kalau Kami kehendaki, Kami karamkan mereka. Tiada penolong lagi buat mereka, juga mereka tak dapat diselamatkan. Kecuali dengan rahmat dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai pada waktunya.” (Qur’an, 36: 33-44.)

Qur’an dan ilmu pengetahuan
Qur’an bicara tentang ciptaan Tuhan yang ada dalam alam ini dengan suatu pengarahan yang hendak mengantarkan kita sejauh mungkin dapat kita ketahui. Ia bicara tentang bulan hari Pertama, tentang matahari dan bulan, tentang siang dan malam, tentang bumi dan apa yang dihasilkan bumi, tentang langit dan bintang-bintang yang menghiasinya, tentang samudera, dengan kapal yang berlayar supaya kita dapat menikmati karunia Tuhan, tentang binatang untuk beban dan ternak, tentang ilmu dan segala cabangnya yang terdapat dalam alam ini. Qur’an bicara tentang semua ini, dan menyuruh kita merenungkan dan mempelajarinya, supaya kita menikmati segala peninggalan dan hasilnya itu sebagai tanda kita bersyukur kepada Allah. Apabila Qur’an telah mengajarkan etika Qur’an kepada manusia, menganjurkan mereka supaya berusaha terus untuk mengetahui segala yang ada dalam alam ini, sudah sepatutnya pula bila dari pengamatan mereka dengan jalan akal pikiran itu, mereka akan sampai ke tujuan sejauh yang dapat ditangkap oleh akal pikirannya itu. Sudah sepatutnya pula mereka membangun sistem ekonominya itu atas dasar yang sempurna.

Gimana? Puwas? Puwas? Mau menghujat Syaikh Muhammad Abduh dan Muhammad Husain Haikal juga?
– Hmm..
+ Semoga tidak menambah overload data di otak anda. Terima Kasih.

2 Tanggapan to “Saya Resah”

  1. annisa said

    Ingin rumah di surga?…gampang..tinggalkan perdebatan..meskipun engkau dipihak yang benar!

    • Kami said

      Maunya sih begitu kepada makhluk pengkafir yg bangga dengan namanya ‘Salafi’ (Wahabi sebenernya sih..)

      Cuma………………. menurut mereka, kami kan ‘anjing’. Anjing pun membalas ketika terus menerus dipukul.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: