Mereka Bicara Salafy & Wahabi

nGumpulin Tulisan Menyorot Salafy Wahabi

Mengapa Mereka Enggan Disebut Wahabi? (2)

Posted by bicarasalafy pada Januari 28, 2008

Mengapa Mereka Enggan Disebut Wahabi? (2)

Ditulis Oleh: Blogger abusalafy.wordpress.com

http://abusalafy.wordpress.com/2007/11/11/sekte-wahhabiyah-di-mata-ulama-ahlusunnah/#more-107

Bantahan Atas Siapakah Wahabi (2)Wahhâbiyah Dan Doktrin Pengkafiran Kaum Muslimin

Secara umum penentang Syeikh Muhammad ibn Abdil Wahhâb -pendiri sekte Wahhâbiyah- dan aliran bentukannya dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok.

Pertama, Mereka yang berlebihan dalam mencaci-maki aliran ini sehingga mengafirkannya dan juga pendirinya. Dengan tidak mereka sadari mereka telah terjatuh dalam jurang pengafiran sebagaimana Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb dan para pengikutnya terjatuh di dalamnya. Walaupun jarang kita temukan Ulama Ahlusunnah yang mengafirkan Sekte Sempalan ini.

Kedua, Mereka yang menggolongkan Wahhâbiyah sebagai “Sekte bid’ah yang sesat”, namun mereka tidak mengafirkannya. Mereka mengecam doktrin Sekte ini yang tak segan-segan menjulurkan lidah mereka untuk mengafirkan sesama Muslim dengan alasan-alasan yang naïf.

Ketiga, Mereka yang mengakui sebagian jasa-jasa sekte ini dan tidak menggolongkannya dala daftar hitam sekte sesat apalagi kafir, akan tetapi mereka mengkritik doktin pendirinya yang terlalu memperlebar peta pengafiran atas sesama Muslim dan menghalalkan memerangi dan mencucurkan darah-darah suci mereka dengan tuduhan bahwa mereka telah kafir/musyrik.

Kelompok ketiga ini sebenarnya tidak layak digolongkan sebagai musuh-musuh dan penentang aliran Wahhâbiyah, namun disayangkan bahwa kaum Wahhâbiyah sendiri menggolongkan mereka dalam daftar musuh-musuh mereka dan tidak segan-segan mengafirkan mereka!

Tuduhan Para Ulama Islam Terhadap Syeikh Muhammad ibn Abdil Wahhâb

Banyak sekali tuduhan dan kecaman ulama Islam atas Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb dan doktrin-doktrinnya, di antara tuduhan yang paling akurat dan paling berbahaya adalah mereka menuduh Syeikh terlalu melebarkan peta pemusyrikan dan pengafiran sesama Muslim yang tidak sependapat dengannya, sampai-sampai, mereka yang simpatik dengan da’wah dan ajakan Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb-pun serta para pendukung setianya dari kalangan ulama Salafiyyîn tidak mampu menolak tuduhan ini. Seperti Syeikh asy Syawkani, misalnya, kendati dalam sisi konsep Tauhid ia sangat Salafy sesuai dengan pengakuan kaum Wahhâbi sendiri, dan sangat fanatik membela ajakan Wahhâbiyah dan pujiannya terhadap pendirinya; Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb-, namun demikian ia tak kuasa kecuali mengatakan:

و لَكِنَّهُم يَرَوْنَ أنَّ مَنْ لَمْ يَدْخُلْ تَحْتَ دَوْلَةِ طاحِبِ نَجْد، مُمَثِّلاً لأَوامِرِهِ، فَهُوَ خارِجٌ عَنِ الإسْلامِ.

“Akan tetapi mereka berpandangan bahwa siapa yang tidak masuk/bergabung di bawah kekauasaan penguasa Najd (keluarga Sau’d) dengan melaksanakan perintah-perintahnya maka ia keluar dari Islam.” (Al Badru ath Thâli’,2/5)

Demikian juga dengan Manshûr al Hâzimi-seorang ulama Salafy-, kendati ia banyak memuji Syeikh Ibnu Abdil Wahhâbi, akan tetapi ia mengeritknya dalam dua hal, pertama, pengafiran Ahli Kiblat (Kaum Muslimin) dengan sekedar pemelintiran terhadap masalah yang sedang disengketakan…., kedua, pencucuran darah-darah kaum Muslimin yang seharusnya dihormati, dengan tanpa hujjah yang jelas dan bukti yang membenarkannya. (Abjad al ‘Ulûm,3/193).

Begitu juga halnya dengan Syeikh Muhammad Hasan Shadiq Khan -seorang Salafy- ia telah terang-terangan menyatakan bahwa Ahli Hadis telah berlepas diri dari Wahhâbiyah dikarenakan mereka tidak dikenal melainkan dengan sikap keras dan gegabah dalam mencucurkan darah-darah suci kaum Muslimin. (baca Daâwi al Munâwi’în:160)

Tentunya kaum Wahhâbi, dulu dan sekarang pasti akan menolak tuduhan ini dengan berbagai alasan, mulai dari menuduh sumber tuduhan itu adalah sumber Kristen, seperti dilakukan Doktor Abdul Aziz Al Abdil Lathîf! Sementara itu sumber-sumber sejarah yang ditulis para penulis Wahhâbiyah sendiri mengakuinya, seperti yang diakui Ibnu Ghunnâm dalam kitab Tarikh-nya, bahwa lebih dari 300 kali peperangan dikobarkan kaum Wahhâbi atas kaum Muslimin dari kelompok lain; Ahlusunnah maupun Syi’ah, dan pada setiap kalinya ia mengatakan demikian, “Pada tahun ini kaum Muslimin telah berperang melawan kaum kafir…”

seperti kita maklumi bahwa peperangan yang dikobarkan kaum Wahhâbi itu adalah peperangan antara gerombolan pengikut Wahhâbiyah dan kaum Muslimin di berbagai daerah di sekitar kota Najd, Hijaz, Ahsâ’, Iraq. Dan sejarah tidak pernah mencatat bahwa kaum Wahabiyah ini mengangkat senjata mereka melawan kaum kafir; Yahudi dan atau Nashrani. Ini adalah sebuah kenyataan yang tidak seharusnya dibantah oleh para Ghulât; Ekstirimis Wahhâbiyah sekarang! Sebab membela para pendahulu mereka dalam setiap sepak terjang mereka adalah ghuluw atau sikap berlebihan dalam mengultus!!

Tetapi apa hendak dikata Para Ekstirimis Wahhâbiyah tidak pernah mau menerima penukilan data sejarah selain dari kelompok mereka sendiri, mereka menolak semua bukti sejarah yang dibawakan ulama Ahlusunnah yang berselisih pandangan dengan Wahhâbiyah… seakan mereka akan memaksa kita untuk memahami apa yang terjadi saat itu di sana dengan kaca mata Wahhâbiyah! Seakan kaum Muslimin dari kelompok lain itu adalah kaum Kafir Quraisy di hadapan Nabi saw.!!! Ini adalah sikap berlebihan, ghuluw. Jadi pada akhirnya, apa yang dikatakan para penentang Wahhâbiyah itu benar dalam tuduhan mereka bahwa Wahhâbiyah adalah kaum Penebar Teror Pengafiran dan Pengobar Peperangan Sesama Kaum Muslimin!!!

Di antara mereka yang masih tergolong netral dalam menyikapi Wahhâbiyah adalah Syeikh Anwar Syah Kasymiri… namun demikian ia tidak bisa mendiamkan sikap gegabah Wahhâbiyah dalam menvonis kafir atas kaum Muslimin selain kelompok mereka! (baca Daâwi al Munâwi’în:160).

Komentar Para Ulama Sunni

Adapun komentar-komnetar ulama Sunni tentang Sekte Wahhâbiyah sangat banyak sekali, karenanya kami akan batasi dengan menyebutkan beberapa saja darinya:

1. Syeikh Sunni Hanbali Ibnu ‘Afâliq berkata tentang Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb, “Ia bersumpah dengan sumpah palsu bahwa kaum Yahudi dan Musyrikin lebih baik keadaan keberagamaan mereka dibanding kaum Muslimin.” (Daâwi al Munâwi’în:164)

Dan tuduhan ini bukan tidak berdasar, ia dapat dengan mudah kita temukan dalam penegasan-penegasan Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb sendiri, seperti ketika ia mengatakan bahwa “Kaum Musyrikin zaman kita (maksudnya adalah kamu Muslimin dari kelompk lain yang berbeda dengannya) itu lebih kafir dari kaum kafir Quraisy…” yang jelas bahwa kaum kafir Quraisy itu lebih kafir dari Ahlil Kitab; Yahudi dan Nashrani! Jadi kaum Muslimin lebih jelak dari Ahlil Kitab!!

Karenanya tidaklah heran jika Abdul Aziz Al Abdil Lathîf mengolongkan Syeikh mulia Ibnu ‘Afâliq yang Sunni dan Hanbali itu sebagai pembohong besar!!! Mengapa harus begitu, sementara penegasan-penegasan Ibnu Abdil Wahhâb sendiri sangat jelas dalam masalah ini, seperti dapat Anda jumpai dalam kitab Kasyfu asy Syubuhât.

2. Syeikh Sunni Hanbali Sulaiman ibn Sahîm berkata tentang Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb, “Barang siapa tidak menyetujinya dalam semua yang ia katakan dan bersaksi bahwa apa yang ia bawa itu haq, maka ia pastikan orang itu adalah kafir! Dan barang siapa membenarkannya dalam semua yang ia katakan, maka ia berkata, ‘Engkau adalah seorang pengesa Allah, muwahid! walaupun ia seorang yang fasik total!” (Daâwi al Munâwi’în:164)

Syeikh Sunni Hanbali, Salafy, Najdy Utsman ibn Manshûr-salah seorang qadhi pada masa kekuasan Dinasti Keluarga Sa’ud Kedua-[1] berkata tentang Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb, “Allah telah menimpakan balâ’/cobaan/bencana atas penduduk Najd bahkan seluruh penduduk Jazirah Arabiyah dengan bangkitnya seorang atas mereka dan upaya getolnya dalam mengafirkan umat Islam, yang khusus maupun yang umum… dengan menghias alasan yang tidak pernah diwahyukan Allah!” Ia juga berkata, “Tetapi orang ini (Ibnu Abdil Wahhâb) menjadikan keta’atan kepadanya adalah salah sebuah rukum Islam.” (Daâwi al Munâwi’în:166)

3. Syeikh Sulaiman ibn Abdil Wahhâb -saudara kandung Muhammad ibn Abdil Wahhâb, pendiri sekte Wahhâbiyah– berkata tentang saudaranya; Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb, “Berapa rukun Islam hai Muhammad ibn Abdil Wahhâb? Ia menjawab ‘Lima.’ Ya tetapi engkau menjadikannya enam, yang keenam adalah: Barang siapa tidak mengikutimu maka ia bukan seorang Muslim. Ini adalah rukun Islam keenam milikmu.” (Daâwi al Munâwi’în:166)

Apa yang dikatakan Syeikh Sulaiman tentunya bukan sebuah dialoq yang berlangsung antara kedua saudara ini. Ibnu Abdil Wahhâb tidak mengatakan dengan redaksi terang seperti itu, akan tetapi ia adalah kesimpulan dari syarat-syarat rumit yang ditetapkannya untuk menjadi seorang Muslim! Dan kesimpulan itu dapat dibuktikan dari pernyataan pendiri Sekte Wahhâbiyah ini!

4. Syeikh az Zahhâwi berkata, “Jika ada yang bertanya, ‘apa mazhabnya kaum Wahhâbiyah? Apa tujuannya? Lalu kami jawab kedua pertanyaan itu dengan; Pengafiran seluruh kaum Muslimin. Pastilah jawaban itu sangat tepat untuk memperkenalkan sejatinya mazhab Wahhâbiyah kendati ia ringkas!!” (Daâwi al Munâwi’în:167)

5. Syeikh Ahmad Zaini Dahlân -mufti Mazhab Syafi’iyah di kota Makkah- berkata tentang Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb dan para penganutnya, “Mereka tidak meyakini adanya seorang muwahhid (yang mengesakan Allah SWT) selain yang mengikuti mereka dalam pandangan-pandangan mereka.” (Daâwi al Munâwi’în:166)

6. Sayyid Sunni Alawi ibn Ahmad al Hadad al Hadhrami berkata, “Jika ada seorang ingin masuk ke dalam agamanya, ia akan mengatakan, ‘Bersaksilah bahwa engkau dahulu adalah kafir dan bersaksilah bawa kedua orang tuamu mati dalam keaadaan kafir, bersaksilah bahwa si alim fulan anu dan anu itu kafir… jika ia bersaksi atas itu semua maka ia (Ibnu Abdil Wahhâb) akan menerimanya, dan jika tidak ia akan membunuhnya… . setelahnya Sayyid al Haddad melanjutkan, “Bagaimana engkau tidak puas dengan orang yang masih hidup dengan menuduh mereka Musyrikûn, sehingga engkau meneruskannya kepada yang sudah mati bertahun-tahun dengan engkau mengatakan bahwa mereka mati dalam keadaan sesat yang menyesatkan sampai-sampai engkau menyebut nama-nama ulama-ulama besar dan para muhaqqîn.” (Daâwi al Munâwi’în:165)

7. Syeikh Sunni Hasan asy Syatha ad Dimasyqi berkata, “Poros da’wah Wahhâbiyah adalah pengafiran kaum Muslimin… .” (Daâwi al Munâwi’în:165)

Demikianlah kita saksikan bagaimana semua penentang Syeikh baik dari kalangan Asya’irah maupun Salafiyîn, seperti Asy Syawkâni, Ash Shan’âni dan Utsman ibn Manshûr telah bersepakatan mengatakan bahwa Syeikh Muhammad ibn Abdil Wahhâb dan para pengikutnya sangat berlebihan dalam sikap pengafiran sesama kaum Muslimin, baik para ulama maupun kaum awam. Dan na’asnya, apa yang mereka katakan itu dapat dengan mudah kita temukan dalam kitab-kitab Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb sendiri.

Begitu juga dengan para ulama dari mazhab selain Ahlusunnah, seperti Syi’ah dan Ibadhiyah juga menegaskannya!

Jadi, harapan kami ialah hendaknya para Misionaris dan juru da’wah Sekte Wahhâbiyah mengakui kenyataan ini dan tidak menampakkan keengganan menerimanya apalagi berusaha membelanya… doktrin pengafiran sesama Kaum Msulimin adalah sangat kental dalam ajaran Ibnu Abdil Wahhâb dan para pelanjutnya… Ini adalah sebuah kenyataan yang tak mungkin dipungkiri!!!

Mengakui kesalahan itu lebih baik dari pada mempertahankannya dengan menampakkan kedegilan sikap dan fanatisme membabi-buta… Akui saja itu sebagai sebuah kesalahan Syeikh kalian, dan kalian tidak akan mengikuti kesalahan sikap dan pendapatnya… Bukankan Syeikh Muhammad ibn Abdil Wahhâb -pendiri Sekte Wahhâbiyah- itu manusia biasa yang bisa salah dan tergelincir?! Bukankah ia juga mengecam mengikuti dan bertaqlid kepada para ulama dan fuqaha’ dalam seluruh pendapat dan sikapnya?! Kami yakin bahwa ia juga tidak akan setuju dengan sikap kaum Wahhâbiyah sekarang yang masih bersikeras mengikutinya dalam kesalahan doktrin pengafiran kaum Muslimin selain Wahhâbi!

Itu adalah sikap ghuluw yang tak henti-hentinya dikecam Syeikh sendiri semasa hidupnya!

Salam sehajtera atas yang mau merendahkan hatinya mengikuti kebenaran Allah!

****************************************

Siapakah Wahhabi?

Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc
Tuduhan: Mengkafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah mereka.[7]

Bantahan: – Ini merupakan tuduhan dusta terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, karena beliau pernah mengatakan: Kalau kami tidak (berani) mengkafirkan orang yang beribadah kepada berhala yang ada di kubah (kuburan/ makam) Abdul Qadir Jaelani dan yang ada di kuburan Ahmad Al-Badawi dan sejenisnya, dikarenakan kejahilan mereka dan tidak adanya orang yang mengingatkannya. Bagaimana mungkin kami berani mengkafirkan orang yang tidak melakukan kesyirikan atau seorang muslim yang tidak berhijrah ke tempat kami…?! Maha suci Engkau ya Allah, sungguh ini merupakan kedustaan yang besar.” (Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlihun Mazhlumun Wa Muftara ‘Alaihi, hal. 203)

lihat: blog muhawiid.wordpress.com

Abu Salafy berkata:

Coba Anda perhatikan wahai saudaraku, bagaimana Syaikh Ibnu Abdil Wahhab ketika mengelak dan membela diri dari tudingan Pengkifarn kaum Muslimin, ia justru masih tak kuasa menyembunyikan kayakinnya dalam mengafirkan kaum Muslimin dengan menuduh mereka menyembah berhala yang ada di kuburan Syaikh Abdul Qadir al Jilani di Iraq dan Sayyid Ahmad al Badawi di Mesir! Padahal seperti dimaklumi bahwa kaum Muslimin pecinta para wali Allah dan hamba-hamba-Nya yang shaleh yang dengan penuh kerinduan menziarahi makam mereka dan mungkin banyak di antara mereka yang mencium batu nisan makam-makan para Wali Allah dituduhnya sebagai menyembah berhala!!! Dan menyebut nisan itu sebagai berhala!!

Adakah pengafiran yang lebih terang dari itu? sementara itu ia dengan kata-kata dusta mengatakan tidak mengafirkan mereka? Lalu bagaimana bayangan kita ketika ia berkata-kata ketika tidak sedang membala diri?! Pasti lebih tegas lagi menyeramkan! Dapatkah Ibnu Abdil Wahhab dan para Muqallid butanya mengatakan bahwa di kuburun para Waliyullah itu terdapat berhala yang disembah para peziarahnya? Berhala yang ia maksud tiada lain adalah batu nisam…. Dan praktik mengusap dan atau menciumnya di golongkannya sebagai menyembah selain Allah SWT. Jadi merek adalah kaum Musyrikûn! Kendati disini ia mengatakan bahwa mereka diselamatkan dari hukum kemusyrikan (ala Wahhabiyah ) itu dikarenakan kejahilan mereka akan hkikat apa yang mereka kerjakan, namun dalam banyak kesempatan dan komentarnya, Ibnu Abdil Wahhâb tidak mengecualikan mereka yang jahil/bodoh dari hukum dan status kemusyrikan!!

Syeikh Utsman ibn Manshûr adalah seorang ulama Wahhabiyah bermazhabkan Hanbali dan berpikiran salafy, serta bekerja untuk Dinasti Keluarga Sa’ud. Ia banyak mendapatkan pujian dari para ulama Wahhabiyah seperti al Bassâm, Bakr Abu Zaid dan Shaleh al Qâdhi, akan tetapi akhirnya ia harus menuai kecaman keras dari Ekstrimis Wahhabiyah, semua kedekatan dan kelutusan serta keteguhannya terhadap Da’wah Wahhabiyah tidak mampu menyelamatkannya, sebab mereka hanya akan berdamai dengan siapa yang memuja dan menyanjung Ibnu Abdil Wahhab -pendiri Sekte Wahhabiyah- saja!

Adapun yang mengkritiknya maka nasib mereka adalah kecaman dan laknatan. Sementara itu para Ekstrimis Wahhabiyah tidak akan malu-malu berhujjah dengan komentar seorang seperti al Qashîmi -yang pada akhir hayatnya menjadi seoranmg Ateis-, sebab ia memuji Ibnu Abdil Wahhab!! Itulah logika Ekrtimisme Wahhabiyah yang sedang gentanyangan sekarang mengatas namakan Salafy pemurni ajaran Nabi saw.! Semoga umat Islam diselamatkan dari kejahatnnya, amin.!

4 Tanggapan to “Mengapa Mereka Enggan Disebut Wahabi? (2)”

  1. Dedy Jogja said

    Wah, wah wah… tulisan2 terakhir kok jadi ikutan emosi…..
    He he he… Sabar Bung! Semoga Ummat Islam dunia dapat menjadi satu, setelah Kaum Wahabi sadar, dan bisa saling menghormati….

    Setidaknya bisa dimulai dari Indonesia dulu…
    Marilah kita tunjukkan adanya ukuwah Islamiyah….
    di Indonesia…

    Wah, klo ini berhasil…
    Syeih2 Wahabi di arab-pun akan terheran2….
    Krn sy sangat yakin, bahwa saudara2 kita yang Islam di Indonesia, walau mereka Wahabi, sebenarnya mereka tidak bener2 Wahabi. Pecaya deh…
    Mereka masih menggunakan budaya Islam Indonesia (ahlussunnah wal jamaah). Entah mereka sadari atau tidak. Jiwanya masih tetep Indonesia… tetap beda dengan Orang Arab. He he he…
    Semoga Indonesia menjadi lebih baik. Amin.

  2. SYAHRIL said

    Terserah muanya mao ngomong apa…
    yang penting berpegang pada Al-Qu’an & As-Sunnah sesuai denan pemahaman para salafuna asSholih
    kalau ada ajaran wahabi yang berdasarkan al-Qur’an & asSunnah sesuai dengan pemahaman salafus sholih Aku ikut deh…rela co dikatan wahabi.
    tapi kalo belok…. ya berpegang dengan al-Qur’an dan asSunnah donk…kkkkkkk

  3. Yedi Triyatna said

    Aku gak mau ah ikutan orang arab yg kejam dan suka menjahili tkw yg pengikut an nadj dan penguasa dari yamamah.lebih suka ikut syekh al sayyid ‘Alwi bin Abbas al Maliki al Hasani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: