Mereka Bicara Salafy & Wahabi

nGumpulin Tulisan Menyorot Salafy Wahabi

Mengapa Mereka Enggan Disebut Wahabi? (1)

Posted by bicarasalafy pada Januari 28, 2008

Mengapa Mereka Enggan Disebut Wahabi? (1)

Ditulis Oleh: Blogger abusalafy.wordpress.com

http://abusalafy.wordpress.com/2007/11/11/bantahan-abu-salafy-atas-siapakah-wahhabi/#more-106

Bantahan Abu Salafy Atas Artikel Blog muwahiid.wordpress.com:

Siapakah Wahhabi? (1)

Mengapa Mereka Enggan Disebut Wahhâbi?

Sering kita dengar atau baca, kebanyakan penganut sekte bentukan Muhammad ibn Abdil Wahhâb merasa begitu gusar disebut sebagai kaum Wahhâbi alias bermadzhab Wahhâbi, seperti yang ditampakkan juga oleh seorang Misionaris Wahhabiyah bernama Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc -(lihat tulisannya dibawah dan disini)-, sementara kalimat/istilah/penyebutan itu tidak mengandung konotasi pujian atau celaan. Ia bukan celaan, andai mereka mengku bahwa apa yang mereka anut itu adalah sebuah mazhab. Sebab sebuah mazhab yang ditegakkan di atas dalil-dalil yang shahihah tidak akan dicemari dengan nama baru yang disandangnya atau penamaan baru yang disematkan orang kepadanya!

Saya benar-benar terheran-heran terhadap para muqallidin (yang hanya pandai bertaqlid buta, tanpa kefahaman, namun tidak pernah mau mengakuinya) yang tak henti-hentinya menampakkan kegusaran mereka dan mengeluhkan bahwa istilah Wahhâbi itu sengaja digelindingkan “musuh-musuh da’wah” dengan konotasi mengejek, sementara itu perlu mereka sadari bahwa penamaan itu di luar area pertikaian. Ini yang pertama.

Kedua, berapa banyak ulama Wahhâbi sendiri menerima dengan lapang dada penamaan itu. Mereka tidak malu-malu atau enggan menyebut diri mereka sebagai Wahhâbi, bahkan sebagian mereka menulis buku atau risalah bertemakan Akidah Wahhâbiyah. Itu semua tidak semestinya dirisaukan.

Di antara ulama Wahhâbi yang menggunakan istilah atau menamakan aliran/mazhab mereka dengan nama Wahhâbi adalah Sulaiman ibn Sahmân, dan sebelumnya Muhammad ibn Abdil Lathîf. Baca kitab ad-Durar as Saniyyah,8/433, serta masih banyak lainnya. Demikian juga para pembela Wahhâbi, seperti Syeikh Hamid al Faqi, Muhammad Rasyid Ridha, Abdullah al Qashîmi, Sulaiman ad Dukhayyil, Ahmad ibn Hajar Abu Thâmi, Mas’ud an Nadawi, Ibrahim ibn Ubaid –penulis kitab at Tadzkirah– dan banyak lagi selain mereka. Mereka semua menggunakan istilah atau nama tersebut untuk merujuk kepada aliran yang dibawa Muhammad ibn Abdil Wahhâb at Tamimi an Najdi. Kendati Syeikh Hamid al Faqi terkesan meragukan i’tikad baik mereka yang menggunakan nama itu dan ia mengusulkan lebih tepatnya ajakan Muhammad ibn Abdil Wahhâb itu dinamai dengan Da’wah Muhammadiyah mengingat nama pendirinya adalah Muhammad bukan Abdul Wahhâb! Dan sikap ini diikuti oleh sebagian Misinioris dan jugu da’wah serta aktifis sekte ini, seperti Shaleh ibn Fauzân ketika ia mengecam Abu Zuhrah dan lainnya.

Tuntutan Syeikh Fauzân dan Hamid al Faqi agar nama Wahhâbi dijauhkan dari penggunaan dan sebagai gantinya nama Da’wah Muhammadiyah mengingat pendiri sekte ini adalah Muhammad adalah tuntutan yang aneh bin ajaib, dengan satu alasan yang sederhana, yaitu bahwa kebanyakan mazhab-mazhab yang ada di kalangan kaum Muslimin tidak dinisbatkan kepada nama pendirinya, akan tetapi dinisbatkan kepada nama ayah-ayah atau kakek-kakek mereka.

Mazhab Hanbali misalnya, dinisbatkan kepada kakek Imam Ahmad, sebab nama beliau adalah Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal. Sementara itu syeikh Fauzân dan al Faqi serta para penganut Wahhâbi tidak sediktpun memprotes penamaan tersebut, mereka tidak mengatakan bahwa mazhab Imam Ahmad itu seharusnya dinamakan dengan nama Mazhab Ahmadi!

Begitu juga dengan Mazhab Syafi’i, ia dinisbatkan kepada Syafi’ -kakek keempat Imam Syafi’i –sebab nama lengkap beliau adalah Muhammad ibn Idris ibn Abbas ibn Utsman ibn Syafi’. Lalu mengapa mereka tidak memprotesnya dengan mengatakan penamaan itu tidak benar, sebab nama pendiri mazhab itu adalah Muhammad, jadi penamaan yang tepat adalah Mazhab Muhammadi!

Begitu juga dengan Mazhab Hanafi, ia dinisbatkan kepada Abu Hanifah, sementara Hanifah itu sendiri bukan nama pendirinya, nama pendirinya adalah Nu’mân ibn Tsabit.

Hal yang sama kita jumpai dalam penamaan Mazhab Teoloqi/Kalam Asy’ari, para penganut mazhab tersebut dipanggil dengan nama Asyâ’irah (bentuk jamak Asy’ari) dengan dinisbatkan kepada Abu al Hasan al Asy’ari, sementaa nama Asy’ar adalah nama kakek Abu al Hasan yang kesekian sejak masa jahilah sebelum kedatangan Islam yang menjadi moyang bani Asya’irah, yaitu Asy’ar ibn Adad ibn Zaid ibn Yasyjab ibn Arîb ibn Zaid ibn kahlan ibn Saba’. Dapat kita perhatikan bahwa antara Abu al Hasan –pendiri mazhab- dan Asy’ar terdapat puluhan ayah… begitu pula dengan Mazhab Ibadhiyah –salah satu sekte Khawarij yang masih eksis hingga sekarang- ia dinisbatkan kepada Abdullah ibn Ibâdh…. Dan begitu seterusnya. Anda tidak akan menemukan sebuah mazhab yang dinamai dengan nama pendirinya kecuali sangat sedikit sekali, seperti Mazhab Maliki yang dinisbatkan kepada Imam Malik ibn Anas, atau Mazhab Zaidiyah yang dinisbatkan kepada Imam Zaid ibn Ali ibn Husain ibn Ali ibn Abi Thalib ra. atau Mazhab Ja’fariyah yang dinisbatkan kepada Imam Ja’far ibn Muhammad ibn Ali ibn Husain ibn Abi Thalib ra. (imam keenam mereka).

Jadi ringkas kata, mereka yang menisbatkan Mazhab Syeikh Muhammad ibn Abdil Wahhâbi dengan menyebut Mazhab Wahhâbi tidak lebih dekat kepada kebenaran dibanding mereka yang menamakan para pengkiut Imam Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal dengan nama al- Hanabilah (bentuk jamak kata Hanbali)!!

Selain itu, sering kita saksikan bahwa para Wahhâbiyun dengan seenaknya sendiri menyebut kelompok-kelompok tertentu dengan sebutan dan gelar dengan kesan kental mengejek, seperti al Jâmiyyîn, Al Bâziyyîn, al Quthbiyyîn, al Bannaiyyîn, al Albâniyyîn, al-Sururiyyin dan lain-lain.

Bahkan yang mengherankan ialah ternyata Shaleh ibn Fazân –yang keberatan digunakannya istilah Wahhabi- ternyata dengan serampangan menggunakan istilah Surûriyah untuk pengikut Muhammad ibn Surûr ibn Nâyif ibn Zainal Âbidîn. Mengapa ia tidak menamainya dengan nama Muhammadiyah/Muhammadi mengingat pendirinya/pimpinan kelompok itu bernama Muhammad dan bukan Surûr?!!

Namun, apa hendak dikata, kaum Wahhâbiyah tidak pernah ingin dibatasi dengan aturan main dan etika dalam berkomunikasi! Apa yang mau mereka lakukan, ya mereka lakukan, jangan ada yang menanyakan mengapa? “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS.21[Al Anbiyâ’];23)

Atau jangan-jangan keberatan mereka atas penamaan/penisbatan itu sebenarnya bersifat politis dan demi kepentingan “Da’wah Pemurnian Tauhidi ala mereka”, agar kaum awam tidak lagi mengingat potret kelam pendiri sekte Mazhab ini yang akrab dengan doktrin pengafiran dan pencucuran darah-darah suci kaum Muslimin lain selain pengikut mazhabnya, sebab kalau mereka menyadari hal itu pasti mereka akan merasa jijik terhadapnya! Bisa jadi itulah alasan hakiki dibalik keberatan itu, namum kami tidak ingin bersepekulasi atau sû’dzdzan, mungkin ada alasan lain yang luhur. Wallahu A’lam.

*************************************************************************************

Siapakah Wahhabi?

Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc

Selubung Makar di Balik Julukan Wahhabi

Di negeri kita bahkan hampir di seluruh dunia Islam, ada sebuah fenomena ‘timpang’ dan penilaian ‘miring’ terhadap dakwah tauhid yang dilakukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi An-Najdi rahimahullahu[1]. Julukan Wahhabi pun dimunculkan, tak lain tujuannya adalah untuk menjauhkan umat darinya. Dari manakah julukan itu? Siapa pelopornya? Dan apa rahasia di balik itu semua …?

Dan ternyata, memunculkan istilah ‘Wahhabi’ sebagai julukan bagi pengikut dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, merupakan trik sukses mereka untuk menghempaskan kepercayaan umat kepada dakwah tauhid tersebut. Padahal, istilah ‘Wahhabi’ itu sendiri merupakan penisbatan yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz berkata: “Penisbatan (Wahhabi -pen) tersebut tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Semestinya bentuk penisbatannya adalah ‘Muhammadiyyah’, karena sang pengemban dan pelaku dakwah tersebut adalah Muhammad, bukan ayahnya yang bernama Abdul Wahhab.” (Lihat Imam wa Amir wa Da’watun Likullil ‘Ushur, hal. 162) Tak cukup sampai di situ. Fitnah, tuduhan dusta, isu negatif dan sejenisnya menjadi sejoli bagi julukan keji tersebut. Tak ayal, yang lahir adalah ‘potret’ buruk dan keji tentang dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang tak sesuai dengan realitanya. Sehingga istilah Wahhabi nyaris menjadi momok dan monster yang mengerikan bagi umat. Fenomena timpang ini, menuntut kita untuk jeli dalam menerima informasi. Terlebih ketika narasumbernya adalah orang kafir, munafik, atau ahlul bid’ah. Agar kita tidak dijadikan bulan-bulanan oleh kejamnya informasi orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu. Meluruskan Tuduhan Miring tentang Wahhabi [1].

Abu Salafy berkata:

Lihatlah kenaifan cara berfikir pimpinan tertinggi Seke Wahhabiyah Ben Baz di atas. dan apa yang kami tulis rasanya sudah cukup untuk membuktikan kenaifan dan kesalahannya.

Dan untuk meraih simpati Umat Islam, ia mengaitkan kesinisan terhadap Wahhabyiah adalah hasil trik sukses musuh-musuh Islam! Bukan karena doqma-doqma konyol Sekte Wahhabiyah sendiri

6 Tanggapan to “Mengapa Mereka Enggan Disebut Wahabi? (1)”

  1. No Wahabi said

    ya beginilah wahabi si “abu pokoknya” tidak konsisiten dan hipokrit. menjuluki orang lain seenak udel seperti contoh diatas.

    # mereka menjuluki sururiyyun padahal nama pendirinya Muhammad bin surur (kenapa wahabi nggak menyebut Muhammadi?)

    # Mereka menyebut Quthubiyyun, padahal nama pendirinya Sayid Quthub, (kenapa wahabi tidak menyebut Sayyidun?)

    kalo semua pendiri madzhab yang bernama Muhammad disebut Muhammadi maka akan banyak aliran bernama Muhammadi apa nggak tambah binung?

    ya inilah wahabi asal asbun dan “POKOKNYA”

    kenapa mereka ngotot nggak mau disebu “Wahabi”? Mungkin malu karena Imamnya si ibnu Abdul wahab itu banyak membantai umat Islam yang dituduh syirik dan kafir !!

    PANTESAN PARA PENGIKUT WAHABI NGGAK BERANI MENGOMENTARI ARTIKEL INI KARENA KEDOK DAN KEMUNAFIKANNYA TERBUKA!

  2. imam wahyudi said

    selamanya pengkiut wahabi selalu berpikr naif, mau menang sendiri dan paling bener sendiri…. tapi kalau sudah dipojokkan dengan bukti dan dalil eeeh malah marah-marah…. mencaci maki… menuduh bid’ah! musuh Tauhid! Kuburiyyun! dll.
    semoga aja mereka diberi hidayah Allah.

  3. Pemikiran wahhabi sangat absurd, mereka lebih mendahulukan emosi dari pada pemikiran jernih, lebih senang menuding dari pada koreksi diri.

    Dimana wahhaby datang maka fitnahpun berkecamuk, mau belajar untuk menjadi jahat ? baca dan ikuti buku-buku wahhabi!

  4. Dedy Jogja said

    السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة

    Alhamdulillah, blog ini dapat menjadi sumber informasi yang baik untuk masyrakat Islam di Indonesia. Terutama orang2 Islam yang awam maupun orang2 Wahabi Indonesia. Saya juga banyak menemui masalah2 dengan Orang-orang Wahabi dalam diskusi, seperti yang telah diungkapkan semua di atas: Mereka tak mau disebut Wahabi, mereka suka bicara kotor(mungkin ini oknum saja), keras, merasa benar sendiri, mudah menuduh bid’ah atau kafir. Semoga kita semua mendapatkan Ampunan, taufik dan hidayah dari Allah.Amin.

  5. Alhamdulillah semoga blog ini bisa menyadarkan temen2 yg awam masalah wahabi. saya di busan korsel juga mengalami seperti itu. malah dituduh syi’ah, juga mereka menuduh habib-habib di indonesia sudah terkontaminasi syi’ah (menggeneralisir ), dia lupa wali songo juga banyak habibnya.
    mari kita do’akan temen2 kita yg sdh masuk wahabi aga diberi hifayah oleh Allah SWT

  6. Paimo said

    Rasulullah sudah memperingatkan, akan keluar tanduk setan dari Najd. Wahhabi penyebar fitnah dan teror. Mereka disebut sebagai kaum yang paling setia menemani Dajjal hingga akhir. Mereka kaum yang senantiasa membuat perpecahan di antara umat Islam. Hanya Wahhabi saja yang rela berbagi kedaulatan bersama Inggris. Mereka alat Zionisme. Mereka memerangi sesama muslim kemudian menguasai negeri tersebut, setelah itu giliran Amerika datang membasmi mereka agar mereka mengungsi ke negara muslim yang lain untuk membuat kekacauan yang sama, setelah itu Amerika akan datang lagi. Lihat kasus Afghanistan, selanjutnya Pakistan yang sedang dibuat kacau dan Amerika tinggal menunggu suksesnya Wahhabi disana, dst.

    Mereka akan dibasmi oleh pemuda Ibnu Tamim dari Yaman, yang sepertinya sudah keluar sejak 2004. Kemungkinan adalah Zaidiyyah yang akan membasmi mereka. Saya yakin Zaidiyyah benar, cukup dengan melihat siapa musuhnya. Yaman ditekan oleh Amerika untuk membasmi Zaidiyyah. Yaman minta bantuan Saudi yang Wahhabi. Saudi mengirim militernya dan mendatangkan sukarelawan Al-Qaeda dari Afghanistan. Itu cukup bagi saya untuk yakin mendukung Zaidiyyah, ditambah lagi fakta, blogger2 yang sefaham dengan Wahhabi pada bersyukur ketika terjadi insiden yang menewaskan salah satu pemimpin Zaidiyyah. Semoga ini titik awal dibasminya Wahhabi. Bagi kaum Wahhabi, segera bertobatlah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: