Mereka Bicara Salafy & Wahabi

nGumpulin Tulisan Menyorot Salafy Wahabi

Salafy Menurut Yusuf al-Qardhawy

Posted by bicarasalafy pada Desember 21, 2007

Salafy Menurut Yusuf al-Qardhawi

Sebaigamana kita ketahui bahwa Dr. Yusuf al-Qardhawi adalah salah seorang salafy dan juga mengaku sebagai pengikut salaf. tapi menurut para pengikut salafy atau wahabi yang menganggap diri mereka salafy/wahabi tulen maka beliau dianggap bukan salafy, dan na’as-nya selain dianggap bukan salafy beliau juga divonis sesat.

Fatwa tersebut bersebaran di situs-situs dan blog-blog wahabi ekstrim atau tulen. Seakan-akan mereka telah mendapat wewenang dari Allah SWT dan Rasul-Nya yang mulia untuk mensesatkan umat Islam yang berseberangan dengan pemikiran dan manhaj-nya. Pensesasatan Yusuf al-Qardhawi bisa dilihat disini dan tigabelas vonis kesesatan Dr. Yusuf al-Qardhawi lainnya oleh wahabi/salafy bisa disimak disini

Dibawah ini kami sajikan artikel Dr. Yusuf al-Qardhawy tentang salafy menurut beliau.

PEMIKIRAN SALAFY

Oleh: Dr. Yusuf al-Qardhawy

Sumber: Media Isnet

Yang dimaksud dengan “Pemikiran Salafi” di sini ialah kerangka berpikir (manhaj fikri) yang tercermin dalam pemahaman generasi terbaik dari ummat ini. Yakni para Sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan setia, dengan mempedomani hidayah Al-Qur’an dan tuntunan Nabi SAW.

Kriteria Manhaj Salafi yang Benar

Yaitu suatu manhaj yang secara global berpijak pada prinsip berikut :

  1. Berpegang pada nash-nash yang ma’shum (suci), bukan kepada pendapat para ahli atau tokoh.
  2. Mengembalikan masalah-masalah “mutasyabihat” (yang kurang jelas) kepada masalah “muhkamat” (yang pasti dan tegas). Dan mengembalikan masalah yang zhanni kepada yang qath’i.
  3. Memahami kasus-kasus furu’ (kecil) dan juz’i (tidak prinsipil), dalam kerangka prinsip dan masalah fundamental.
  4. Menyerukan “Ijtihad” dan pembaruan. Memerangi “Taqlid” dan kebekuan.
  5. Mengajak untuk ber-iltizam (memegang teguh) akhlak Islamiah, bukan meniru trend.
  6. Dalam masalah fiqh, berorientasi pada “kemudahan” bukan “mempersulit”.
  7. Dalam hal bimbingan dan penyuluhan, lebih memberikan motivasi, bukan menakut-nakuti.
  8. Dalam bidang aqidah, lebih menekankan penanaman keyakinan, bukan dengan perdebatan.
  9. Dalam masalah Ibadah, lebih mementingkan jiwa ibadah, bukan formalitasnya.
  10. Menekankan sikap “ittiba’” (mengikuti) dalam masalah agama. Dan menanamkan semangat “ikhtira’” (kreasi dan daya cipta) dalam masalah kehidupan duniawi.

Inilah inti “manhaj salafi” yang merupakan khas mereka. Dengan manhaj inilah dibinanya generasi Islam terbaik, dari segi teori dan praktek. Sehingga mereka mendapat pujian langsung dari Allah di dalam Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi serta dibuktikan kebenarannya oleh sejarah. Merekalah yang telah berhasil mentransfer Al-Qur’an kepada generasi sesudah mereka. Menghafal Sunnah. Mempelopori berbagai kemenangan (futuh). Menyebarluaskan keadilan dan keluhuran (ihsan). Mendirikan “negara ilmu dan Iman”. Membangun peradaban robbani yang manusiawi, bermoral dan mendunia. Sampai sekarang masih tercatat dalam sejarah.

Citra “Salafiah” Dirusak oleh Pihak yang Pro dan Kontra

Istilah “Salafiah” telah dirusak citranya oleh kalangan yang pro dan kontra terhadap “salafiah”. Orang-orang yang pro-salafiah – baik yang sementara ini dianggap orang dan menamakan dirinya demikian, atau yang sebagian besar mereka benar-benar salafiyah – telah membatasinya dalam skop formalitas dan kontroversial saja, seperti masalah-masalah tertentu dalam Ilmu Kalam, Ilmu Fiqh atau Ilmu Tasawuf. Mereka sangat keras dan garang terhadap orang lain yang berbeda pendapat dengan mereka dalam masalah-masalah kecil dan tidak prinsipil ini. Sehingga memberi kesan bagi sementara orang bahwa manhaj Salaf adalah metoda “debat” dan “polemik”, bukan manhaj konstruktif dan praktis. Dan juga mengesankan bahwa yang dimaksud dengan “Salafiah” ialah mempersoalkan yang kecil-kecil dengan mengorbankan hal-hal yang prinsipil. Mempermasalahkan khilafiah dengan mengabaikan masalah-masalah yang disepakati. Mementingkan formalitas dan kulit dengan melupakan inti dan jiwa.

Sedangkan pihak yang kontra-salafiah menuduh faham ini “terbelakang”, senantiasa menoleh ke belakang, tidak pernah menatap ke depan. Faham Salafiah, menurut mereka, tidak menaruh perhatian terhadap masa kini dan masa depan. Sangat fanatis terhadap pendapat sendiri, tidak mau mendengar suara orang lain. Salafiah identik dengan anti pembaruan, mematikan kreatifitas dan daya cipta. Serta tidak mengenal moderat dan pertengahan.

Sebenarnya tuduhan-tuduhan ini merusak citra salafiah yang hakiki dan penyeru-penyerunya yang asli. Barangkali tokoh yang paling menonjol dalam mendakwahkan “salafiah” dan membelanya mati-matian pda masa lampau ialah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta muridnya Imam Ibnul-Qoyyim. Mereka inilah orang yang paling pantas mewakili gerakan”pembaruan Islam” pada masa mereka. Karena pembaruan yang mereka lakukan benar-benar mencakup seluruh disiplin ilmu Islam.

Mereka telah menumpas faham “taqlid”, “fanatisme madzhab” fiqh dan ilmu kalam yang sempat mendominasi dan mengekang pemikiran Islam selama beberapa abad. Namun, di samping kegarangan mereka dalam membasmi “ashobiyah madzhabiyah” ini, mereka tetap menghargai para Imam Madzhab dan memberikan hak-hak mereka untuk dihormati. Hal itu jelas terlihat dalam risalah “Raf’l – malaam ‘anil – A’immatil A’lam” karya Ibnu Taimiyah.

Demikian gencar serangan mereka terhadap “tasawuf” karena penyimpangan-penyimpangan pemikiran dan aqidah yang menyebar di dalamnya. Khususnya di tangan pendiri madzhab “Al-Hulul Wal-Ittihad” (penyatuan). Dan penyelewengan perilaku yang dilakukan para orang jahil dan yang menyalahgunakan “tasawuf” untuk kepentingan pribadinya. Namun, mereka menyadari tasawuf yang benar (shahih). Mereka memuji para pemuka tasawuf yang ikhlas dan robbani. Bahkan dalam bidang ini, mereka meninggalkan warisan yang sangat berharga, yang tertuang dalam dua jilid dari “Majmu’ Fatawa” karya besar Imam Ibnu Taimiyah. Demikian pula dalam beberapa karangan Ibnu-Qoyyim. Yang termasyhur ialah “Madarijus Salikin syarah Manazil As-Sairin ila Maqomaat Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in”, dalam tiga jilid.

Mengikut Manhaj Salaf Bukan Sekedar Ucapan Mereka

Yang pelu saya tekankan di sini, mengikut manhaj salaf, tidaklah berarti sekedar ucapan-ucapan mereka dalam masalah-masalah kecil tertentu. Adalah suatu hal y ang mungkin terjadi, anda mengambil pendapat-pendapat salaf dalam masalah yang juz’i (kecil), namun pada hakikatnya anda meninggalkan manhaj mereka yang universal, integral dan seimbang. Sebagaimana juga mungkin, anda memegang teguh manhaj mereka yang kulli (universal), jiwa dan tujuan-tujuannya, walaupun anda menyalahi sebagian pendapat dan ijtihad mereka.

Inilah sikap saya pribadi terhadap kedua Imam tersebut, yakni Imam Ibnu Taimiyah dan Ibnul-Qoyyim. Saya sangat menghargai manhaj mereka secara global dan memahaminya. Namun, ini tidak berarti bahwa saya harus mengambil semua pendapat mereka. Jika saya melakukan hal itu berarti saya telah terperangkap dalam “taqlid” yang baru. Dan berarti telah melanggar manhaj yang mereka pegang dan perjuangkan sehingga mereka disiksa karenanya. Yaitu manhaj “nalar” dan “mengikuti dalil”. Melihat setiap pendapat secara obyektif, bukan memandang orangnya. Apa artinya anda protes orang lain mengikut (taqlid) Imam Abu Hanifah atau Imam Malik, jika anda sendiri taqlid kepada Ibnu Taimiyah atau Ibnul-Qoyyim

Juga termasuk menzalimi kedua Imam tersebut, hanya menyebutkan sisi ilmiah dan pemikiran dari hidup mereka dan mengabaikan segi-segi lain yang tidak kalah penting dengan sisi pertama. Sering terlupakan sisi Robbani dari kehidupan Ibnu Taimiyah yang pernah menuturkan kata-kata: “Aku melewati hari-hari dalam hidupku dimana suara hatiku berkata, kalaulah yang dinikmati ahli syurga itu seperti apa yang kurasakan, pastilah mereka dalam kehidupan yang bahagia”.

Di dalam sel penjara dan penyiksaannya, beliau pernah mengatakan: “Apa yang hendak dilakukan musuh terhadapku? Kehidupan di dalam penjara bagiku merupakan khalwat (mengasingkan diri dari kebisingan dunia), pengasingan bagiku merupakan rekreasi, dan jika aku dibunuh adalah mati syahid”.

Beliau adalah seorang laki-laki robbani yang amat berperasaan. Demikian pula muridnya Ibnul-Qoyyim. Ini dapat dirasakan oleh semua orang yang membaca kitab-kitabnya dengan hati yang terbuka.

Namun, orang seringkali melupakan, sisi “dakwah” dan “jihad” dalam kehidupan dua Imam tersebut. Imam Ibnu Taimiyah terlibat langsung dalam beberapa medan pertempuran dan sebagai penggerak. Kehidupan dua tokoh itu penuh diwarnai perjuangan dalam memperbarui Islam. Dijebloskan ke dalam penjara beberapa kali. Akhirnya Syaikhul Islam mengakhiri hidupnya di dalam penjara, pada tahun 728 H. Inilah makna “Salafiah” yang sesungguhnya.

Bila kita alihkan pandangan ke zaman sekarang, kita temukan tokoh yang paling menonjol mendakwahkan “salafiah”, dan paling gigih mempertahankannya lewat artikel, kitab karangan dan majalah pembawa missi “salafiah”, ialah Imam Muhammad Rasyid Ridha. Pem-red majalah “Al-Manar’ yang selama kurun waktu tiga puluh tahun lebih membawa “bendera” salafiah ini, menulis Tafsir “Al-Manar” dan dimuat dalam majalah yang sama, yang telah menyebar ke seluruh pelosok dunia.

Rasyid Ridha adalah seorang “pembaharu” (mujaddid) Islam pada masanya. Barangsiapa membaca “tafsir”nya, sperti : “Al-Wahyu Al-Muhammadi”, “Yusrul-Islam”, “Nida’ Lil-Jins Al-Lathief”, “Al-Khilafah”, “Muhawarat Al-Mushlih wal-Muqollid” dan sejumlah kitab dan makalah-makalahnya, akan melihat bahwa pemikiran tokoh yang satu ini benar-benar merupakan “Manar” (menara) yang memberi petunjuk dalam perjalanan Islam di masa modern. Kehidupan amalinya merupakan bukti bagi pemikiran “salafiah”nya.

Beliaulah yang merumuskan sebuah kaidah “emas” yang terkenal dan belakangan dilanjutkan Imam Hasan Al-Banna. Yaitu kaidah :

“Mari kita saling bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati. Dan mari kita saling memaafkan dalam masalah-masalah yang kita berbeda pendapat.”

Betapa indahnya kaidah ini jika dipahami dan diterapkan oleh mereka yang meng-klaim dirinya sebagai “pengikut Salaf”.

____________________________

(disalin dari buku “Aulawiyaat Al Harokah Al Islamiyah fil Marhalah Al Qodimah” karya Dr.Yusuf Al Qordhowi, edisi terjemahan Penerbit Usamah Press)

21 Tanggapan to “Salafy Menurut Yusuf al-Qardhawy”

  1. Tulisan yang membuka wawasan, thanks.🙂

  2. Sejuk…
    Beliau -Yusuf al-Qadhawi_ yang seringkali dianggap sesat oleh mereka, tidak bereaksi secara berlebihan dan keras.

  3. bicarasalafy said

    @manusiasuper

    salam

    makasih balik atas kunjungannya mas!

  4. bicarasalafy said

    @ram ram muhammad

    Salam,

    harusnya memang begitu!
    sepatutnya kita menghargai pendapat orang lain walau berbeda dengan kita?!
    soal kritik mengkritik itu biasa sepanjang ditunjang dengan dalil dan argumen, dan hindari mensesatkan orang lain gitu kan enak!

  5. abu hanzhalah zevian said

    @ Assalamu’alaikum…
    Mereka bicara salafy tanpa tau apa dan bagaimana manhaj salaf yang sebenarnya..
    berhentilah menuliskan kata-kata tanpa ‘ilmu saudaraku…

  6. Andi said

    Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh.
    menyimak diskusi di atas, saya tertarik dan ingin berbagi pengalaman dengan teman-teman.
    Saya adalah mahasiswa di jgja lingkungan keluarga saya terbagi menjadi dua pemahaman.waktu kecil saya di sekolahkan di tk masyithoh(yayasan NU),sedangkan sekolah dasar saya adalah Muhammadiyyah.
    Sampai SMP saya berada di masjid Muhammadiyyah walaupun jamaah juga belum paham apa itu mahaamadiyyah,apa itu NU.Sehingga bercampurlah amalan-amalah di masjid itu.dan saya pun belum tahu apa itu Muhammadiyyah,apa itu NU.
    Kemudian saya melanjutkan ke MAN.Walaupun notabene negeri tetapi lingkungan NU mendominasi.
    Sementara saya ikut menjadi remaja masjid yang Lingkungan Muhammadiyyah.Dari situ saya juga belajar”ideologi muhammadiyyah” setiap kali ada pengajian yang diisi oleh ustad Muhammadiyyah,mantan ustad NU.
    Kemudian saya di MAN belajar sejarah islam,mulai dari aliran-aliran,sampai sejarah “wahabi”.Namun posisi saya adalah sebagai orang ketiga artinya saya diposisikan sebagai orang yang luar atau orang yang tidak memihak salah satu aliran.
    Di luar sekolah saya banyak membaca buku-buku majalah islam diantaranya sabili(“punya ikhwanul muslimin”),Hidayatullah,Hidayah(‘condong ke sufi’),dsb.Waktu itu saya belum berani membaca buku-buku/ majalah salaf walaupun saya pernah membaca buku bimbingan masyarakat karya Ust.Jamil Zainu,yang saya belum tahu kalau bermanhaj Salaf.
    Dalam waktu itu saya menjadi simpatisan PKS,sampai saya kuliah semester II.Kemudian saya mengalami masa pencarian jati diri mana islam yang benar?
    saya juga kadang-kadang membaca majalah islamia yang diterbitkan oleh Universitas Islam Malaysia yang sering membantah islam liberal(JIL) yang di ketuai oleh Ulil Abshar Abdala,dengan seniornya Gus Dur,Nurchlis Madjid dan dosen-dosen UIN, dengan filsafat.jadi filsafat dibantah dengan filsafat.
    Seiring dengan munculnya Islam garis keras akhir-akhir ini saya terus bertanya bagaimana hukum bom bunuh diri dalam islam ? bagaimana hukum pengkafiran?
    Saya pernah mengunjungi situs syariahonline milik ikhwanul muslimin,disana saya dapati tidak ada dalil qot’i landasan mereka,
    Masa kuliah inilah saya membaca banyak pemikiran islam mulai dari ikhwanul muslimin,Hizbut Tahrir,Jamaah Tabligh,Majelis mujahidin,Islam Liberal dsb.
    kemudian dari ketidak tahuan saya tentang bom bunuh diri, saya mendatangi ustadz lulusan Madinah di sebuah pondok pesantren di jogja.Saya sering menanyakan banyak masalah-masalah dalam islam.Pernah saya bertanya kepada dua Ustadz,Ustadz tersebut dan sahabatnya.
    Saya heran “Ustadz berjenggot,berpakaian gamis tapi mengharamkan bom bunuh diri? sedangkan syekh Yusuf Qordhowi membolehkan?”.
    Kemudian saya disarankan untuk mondok belajar agama dari awal,
    Kemudian saya hampir tiap malam mengikuti kajian di rumah teman ustad tersebut yang lain.Ustadz ini sampai sekarang belum tahu kalau saya pernah mengunjungi/sering bertanya tentang agama kepada sahabatnya.
    Di sana saya mendapat ilmu aqidah, yang dibahas Aqidah Thohawiyyah dengan syarah oleh Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Ulama Hadits terbesar abad ini,kemudian sebelumnya adalah fatwa-fatwa seputar terorisme yaitu penjelasan penjelasan haramnya bom bunuh diri, haramnya demonstrasi dengan dalil-dalil maupun pendapat para sahabat radhiyallohu anhum,oleh Ulama’ Ulama’ besar Ahlus Sunnah seperti Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani,Syekh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin,Syekh ibnu Baz dan Haiah Khibarul ulama (Majelis Ulama) Saudi.Di samping itu saya juga menambah ilmu agama dengan mengikuti kajian-kajian di sekitar kampus UGM.

    Dari kajian-kajian tersebut saya menjadi tahu akar-akar pemikiran-pemikiran bid’ah.perjuangan Syekhul islam Ibnu Taimiyyah,Imam Ahmad,dsb.
    dan ternyata para imam fiqih seperti Imam Syafii,Hambali,Maliki dan Hanafi,mereka tidak fanatik kepada salah satu mazhab tetapi mereka berada dibawah satu naungan yaitu Al-Qur’an dan Sunnah,Dalam satu manhaj yaitu ahlusunnah wal jamaah/ manhaj salaf

    Dalam buku ” membahas ilmu-ilmu hadits”ternyata istilah salaf sudah ada sejak lama.

    Sebuah nasehat yang masih membekas dalam jiwa saya adalah nasehat ustad Muslim pada saya kurang lebih:”antum nggak usah membaca buku-buku yang membingungkan itu ikutlah kajian di pondok saya,(dalam belajar agama) yang penting bersihkan hati antum (dalam mencari kebenaran)”.

  7. bicarasalafy said

    @Mas Adi

    salam,

    Lanjutkan kan terus studi anda tentang agama, pelajari berbagai aliran dalam Islam dan argumentasi masing-masing tanpa fanatik. Silahkan pilih aliran, madzhab, atau sekte apa saja tapi jangan lakukan klaim-klaim paling benar sendiri dan menganggap orang lain sesat atau kafir!

    Dari kajian-kajian tersebut saya menjadi tahu akar-akar pemikiran-pemikiran bid’ah.perjuangan Syekhul islam Ibnu Taimiyyah,Imam Ahmad,dsb.
    dan ternyata para imam fiqih seperti Imam Syafii,Hambali,Maliki dan Hanafi,mereka tidak fanatik kepada salah satu mazhab tetapi mereka berada dibawah satu naungan yaitu Al-Qur’an dan Sunnah,Dalam satu manhaj yaitu ahlusunnah wal jamaah/ manhaj salaf

    benar, tapi kenapa para pengikut ibin taymiah, bin baz, ibin utsaimin dll gampang sekali mengkafirkan dan mensesatkan orang? Bukankah madzhab itu hasil ijtihad para ulama sebagaimana wahabi/salafi juga!

    kalo boleh tahu apa difinisi dan siapa yang dikategorikan “ahlussunnah” ?

  8. abu hanzhalah zevian said

    ya akhy…
    kenapa antum selalu menuduh kami gampang sekali mengkafirkan dan mensesatkan orang…Wallahul musta’an..wallahul musta’an..?? Tunjukan buktinya ya akhy…
    Kalo kami mudah sekali dalam menjatuhkan vonis “kafir” atau “sesat” tanpa ‘ilmu, tanpa hujjah, tanpa terpenuhi syarat-syaratnya, dan tanpa hilang segala penghalangnya…
    Wallahi…kalo antum memang muslim…berbicaralah dan berdiskusilah dengan terbuka…kami tidak melayani jidal. Tapi sungguh apabila blog itu dibiarkan tanpa antum moderasi maka ujung-ujungnya akan mengakibatkan permasalahan baru yang tidak akan pernah terselesaikan karena enggannya kita merujuk kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan pemahaman Generasi terbaik ummat ini Radiyallahu ‘anhum ajma’in.
    Barokallahu fikum…
    sebenarnya apa maksud antum membikin blog ini??

    • arjun said

      Saya punya beberapa teman dari salafy, dan mereka termasuk personal yang tidak gampang mengkafirkan dan menyesatkan orang
      Memang ada beberapa oknum yang terkesan mudah sekali menyesatkan rang lain (saya pribadi pernah dituduh seorang syi’ah yang bertakiyah hanya karena bertanya sesuatu yang belum saya pahami betul)
      Jadi menurut saya ada 2 kemungkinan dari oknum yang gampang mengkafirkan ini: 1.pihak yang ingin membuat kesan agar salafy itu ‘agak goror’ dengan pernyataan pengkafirannya 2. pihak yang memang bermanhaj salafy, namun masih baru dalam proses belajar, ada kemungkinan pihak ini termakan godaan syaitan karena baru mendapatkan hidayah sehingga langsung merasa yang paling benar (bukankah ini tidak sesuai dengan ajaran salafy juga?)

  9. bicarasalafy said

    @abu hanzalah

    salam.

    kenapa antum selalu menuduh kami gampang sekali mengkafirkan dan mensesatkan orang…Wallahul musta’an..wallahul musta’an..?? Tunjukan buktinya ya akhy…
    Kalo kami mudah sekali dalam menjatuhkan vonis “kafir” atau “sesat” tanpa ‘ilmu, tanpa hujjah, tanpa terpenuhi syarat-syaratnya, dan tanpa hilang segala penghalangnya……”

    Akhi Abu hanzalah memang golongan saudara termasuk Imam saudara Ibin Abdul Wahab kalo dibilang gampang memvonis orang “kafir”, “sesat” “syirik” dst, jawabannya sama dengan saudara, mereka bilang pake hujjah dan syarat-syarat nya terpenuhi.

    jadi yang perlu saudara fahami adalah “syarat-syarat terpenuhi” itu menurut kriteria siapa? Rasulullah saw atau kriteria madzhab atau Imam saudara, yang tentunya belum tentu benar menurut syarat (baca pemahaman/ijtihad) ulama lain selain wahabi/salafy. akibatnya dimata kebanyakan ulama wahabi banyak umat Islam diluar wahabi dianggap “sesat” atau “syirik”. yang akhir-akhirnya menjurus ke vonis pengkafiran contoh-contohnya banyak ya akhi!

    Di blog yang baru lahir ini saja akan saudara temukan bukti-bukti itu. liat aja ini:

    1. Fatwa-fatwa Ulama Terakhir tentang sesatnya Jama’ah Tabligh

    2. Fatwa tentang kesesatan Aidl Al-Qarny padahal beliau seorang yang mengaku salafy/wahabi juga

    3. Seperti artikel yang anda tanggapi ini tentang kesesatan Yusuf Qardhawy

    ma’af mas sepertinya fatwa-fatwa para ulama salafy/wahabi ini mewakili Rasulullah saw langsung!

    sebenarnya apa maksud antum membikin blog ini??”

    Ma’af kalo saudara dan ikhwan salafy mau berkaca diri tentu saudara memahami kenapa sekarang banyak bermunculan blog-blog atau situs yang membicarakan wahabi/salafy?

    Aneh ketika ulama dan kelompok saudara dengan gampang menyerang dan memvonis orang lain saudara diam saja. tapi giliran kelompok saudara di serang balik, kelompok saudara seperti kebakaran jenggot!

    kalo boleh nanya sebenarnya ikhwan salafy/wahabi membikin blog blog ini, ini dan yang ini dst maksudnya apa ya? kok isinya menyalahkan orang saja !

  10. Abu Abdullah said

    Koreksi kembali literaturnya dengan benar….yaa akhii salafy..! jangan mudah memvonis orang! “Kita hanyalah DU’AT bukan HAKIM!” Ajaran Islam memerintahkan kita ber-ISLAM dengan KAAAFFAH!

  11. ummu_zahra said

    ikuti kajian yang menuju Quran n sunnah. jadikan islam indah. buktikan salaf bukan hanya bisa menjelekkan saudara muslim. banyak hal yang masih bisa diurusi untuk dakwah kita.

  12. IKA said

    Berbahagia dengan orang yg asing, (knp kita harus berdebat dengan masalah agama, ingat tujuan kita hanya satu 4w1 Swt, apakah kita patut hrs pecah hny suatu manhaj saja?! mohon di renungkanlah wahai kawan

  13. Irfan said

    Ana cuma mau berbagi pengalaman saja, hampir mirip dengan akhi Andi, ana pun dari kecil aktif di Madrasah NU, setelah dewasa aktif di PKS dan banyak mengikuti kajian dan pemikiran Ikhwanul Muslimin, namun belakangan sekitar 5 tahun terakhir ana banyak mendengar tudingan dari ikhwan di PKS atau IM, bahwa salafy itu cuma bisa bikin pecah belah dan gampang membid’ahkan orang lain, ana jadi tertarik untuk mendalami apa dan siapa itu salafy, dan Alhamdulillah sekarang ana sudah sedikit paham, ternyata dengan bermanhaj salaf ibadah saya lebih tenang dan lebih percaya diri, karena setiap mau beramal selalu merujuk kepada dalil, dan tudingan2 terhadap salafy yang dulu ana dengar ternyata karena mereka itu tidak mau disalahkan, walaupun ulama salaf telah merujuk dalil-dalil yang syar’i, mereka lebih cendrung menggagungkan akalnya daripada dalil, jadi saran saya cobalah kita dengar tudingan2 orang lain, kalau itu sesuai qur’an sunnah, kenapa kita harus menghindar/membenci?
    wassalam

  14. Sdr. dan Teman-Teman,
    Assalamu ‘alaikum wr. wb.

    Pandangan kritis atau penilaian-penilaian dari kalangan salafi terhadap kaum muslimin lainnya merupakan yang sah-sah saja, apalagi yang disampaikan berusaha dengan argumen-argumennya. Ilmu Islam ini sangat luas seluas dari lautan samudra, sehingga tentunya kalangan salafi sendiri DAPAT MEMPERHATIKAN pandangan-pandangan berimbang dari kaum muslimin lain tersebut.

    PANDANGAN BERIMBANG ini perlu mendapatkan perhatian juga, sehingga kita tidak menjadi orang yang mengikuti satu pandangan tanpa mengetahui pandangan lainnya. Dan kami secara pribadi menemukan beberapa pandangan ketika diberikan PANDANGAN BERIMBANG, langsung sepertinya tidak boleh atau tidak diperkenankan sama sekali. Dan kadangkala memunculkan kalimat-kalimat yang tidak pantas disampaikan bagi orang yang selalu mengatakan sebagai pengikut salafush sholeh.

    Beberapa penilaian berimbang secara kritis terhadap pandangan Syeikh Al-Banni Rah yang diberikan oleh kalangan ulama yang juga mempunyai kedalaman ilmunya, bahkan memperlihatkan banyak kontradiksi diantara buku-buku Syeikh Al-Banni Rah sendiri terhadap analisa tingkatan penilaian hadits. Dan ini jelas menjadi penilaian kritis dari Ulama lainnya. Jika kontrakdiksi itu satu atau kurang dari sepuluh tentunya hal itu menjadi tidak signifikan, tetapi jika telah diberikan penilaian bahwa kontradiksi ini lebih dari 100 buah. Hal ini menjadi lain.

    Sehingga tentunya para Ulama yang berkompeten perlu melakukan analisa terhadap penilaian-penilaian Syeikh Al-Banni Rah sendiri, sehingga tidak menjadi sebuah keraguan-keraguan dikemudian hari. Dan kami melihat cukup banyak judul buku yang memberikan pandangan tersebut. Disamping tentunya juga kalangan salafi perlu terbuka untuk mencari kebenaran, meskipun itu tidak disampaikan dari ulama salafi sendiri. Ini merupakan contoh, dimana kalangan salafi sendiri perlu mendapatkan pandangan berimbang terhadap pandangan-pandangan yang disampaikan kepada kaum muslimin.

    Dan kami sendiri mencoba memberikan pandangan berimbang yang kami ketahui secara jelas terutama berkaitan dengan usaha da’wah dan tabligh, hal ini untuk memberikan wacana terbuka dan berimbang untuk kalangan kaum muslimin. Kebenaran itu dari Allah swt, sehingga selalu kita berusaha mencari kebenaran itu sendiri melalui ilmu, iman, amal, da’wah dan shabar. Terimakasih.

  15. YANG GILA SIAPA YA……………..

    KALAU WAHABI BOLEH MENGKAFIRKAN ORANG LAIN YANG SESAMA MUSLIM, EMANGNYE MEREKA ALLAH (MAHA SUCI ENGKAU YA ALLAH DARI PRASANGKA YANG BEGITU CULAS!!!!!!!!!!!!!!!!!)

    WAHAI SAUDARA-SAUDARAKU SESAMA MUSLIM, YOK JANGAN BERTENGKAR MELULU.

    UDAH SALAH NGOTOT LAGI

  16. armand said

    Kita tak pernah habis-habisnya mengeleng-gelengkan kepala dgn i’tikad, cara berpikir dan prilaku para wahabiyyun ini. Bagi mereka hujatan dan tuduhan kepada manhaj lain adalah bagian dari dakwah dan nasehat tak peduli bagaimana caranya. Namun mereka harus bebas dari kritikan. Saya juga sdh masuk ke beberapa blog Salafy, tidak ada bedanya!
    Kafir, bid’ah, zindik, syirik dan hujatan-hujatan lain thd Syiah, NU, dan beberapa manhaj lain yg berbeda faham dgn mereka sdh menjadi sarapan harian bagi mereka. Tapi yg sungguh menyebalkan dan bikin gondok adalah tanggapan-tanggapan yg kritis yg menegur prilaku mereka tdk pernah bisa masuk. Namun belakangan, karena udah ngerti tabiat mereka seperti itu, yah sdh, hanya berdo’a semoga Allah swt saja yg akan memberikan keadilan-Nya.

    Salam

  17. abu faraas said

    “Mari kita saling bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati. Dan mari kita saling memaafkan dalam masalah-masalah yang kita berbeda pendapat.”…=> RANCU…ga jelas..samar !!!

  18. priyo sigit said

    Assalamualaikum,

    Sebetulnya semuanya sudah sunatullah, dan udah dari sononya kita ini beda2..
    Mari kita tonton kelak di akhir hayat kita semua..
    Kita akan menuai semua akan menuai hasilnya.. Tentunya Hanya Allah SWT yang paling adil..

    Wassalamualaikum,

  19. Bayu Wahdana said

    Khilafiyah dalam Islam ibarat “manusia”, katakan ada 4 orang yang mencari arti manusia, seseorang memegang tangan manusia, satu orang memegang kaki manusia, satunya lagi memegang badan manusia dan satunya lagi memegang kepala manusia, tentu hal tersebut masing-masing berbeda persepsi dalam mengartikan manusia, padahal yang mereka pegang itu adalah satu kesatuan yang utuh, yaitu “Manusia”. wallahu ‘alam bil muwafiq

  20. nasywa said

    BERDAKWAH DENGAN HIKMAH DAN NASEHAT YANG BAIK!!!
    SATU AYAT SAJA NGGAK PAHAM…NGAKU2 AHLUS SUNNAH,CONTOH BGMN AKHLAQ RASULULLAH,HAL YG PALING DASAR SJ BELUM BISA….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: