<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Mereka Bicara Salafy &#38; Wahabi</title>
	<atom:link href="http://bicarasalafy.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bicarasalafy.wordpress.com</link>
	<description>nGumpulin Tulisan Menyorot Salafy Wahabi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 01 Dec 2011 08:55:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='bicarasalafy.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Mereka Bicara Salafy &#38; Wahabi</title>
		<link>http://bicarasalafy.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bicarasalafy.wordpress.com/osd.xml" title="Mereka Bicara Salafy &#38; Wahabi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://bicarasalafy.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>BENARKAH ALLAH ADA DILANGIT?</title>
		<link>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/12/01/benarkan-allah-ada-dilangit/</link>
		<comments>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/12/01/benarkan-allah-ada-dilangit/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Dec 2011 08:52:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bicarasalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Tajsim dan Tasybih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bicarasalafy.wordpress.com/?p=421</guid>
		<description><![CDATA[BENARKAN ALLAH ADA DILANGIT? SUMBER: www.taqorruban.com Oleh : Ayub, SKom Banyak aliran di Indonesia yang mengatasnamakan kembali kepada Al Qur&#8217;an dan Sunnah, salah satunya adalah WAHABI atau sekarang biasa dikenal dengan aliran SALAFY. Kita bisa lihat ajaran-ajaran mereka di web mereka sendiri diantaranya adalah : www.salafy.or.id Banyak ajarannya yang bertentangan dengan yang dunia Islam yakini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=421&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"><strong>BENARKAN ALLAH ADA DILANGIT?</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span> <a href="http://www.taqorruban.com/index.php?i=unik/langit" target="_blank">www.taqorruban.com</a></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800080;"><strong>Oleh : Ayub, SKom</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Banyak aliran di Indonesia yang mengatasnamakan kembali kepada Al Qur&#8217;an dan Sunnah, salah satunya adalah WAHABI atau sekarang biasa dikenal dengan aliran SALAFY. Kita bisa lihat ajaran-ajaran mereka di web mereka sendiri diantaranya adalah : <a href="http://www.salafy.or.id/">www.salafy.or.id</a> Banyak ajarannya yang bertentangan dengan yang dunia Islam yakini selama ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Wahabi adalah ajaran-ajaran yang dibawa oleh Muhammad bin Abdul Wahab (lahir 1115 H wafat 1206 H), yang sempat berkuasa di Arab Saudi, dan kini mulai berkurang kekuasannya, tapi kini malah lari ke Indonesia dan banyak juga pengikutnya. Mereka ke Indonesia tidak membawa nama &#8220;WAHABI&#8221; tapi membawa nama SALAFY atau organisasi Islam lainnya. Mereka mempunyai ciri khas selalu berkata &#8220;KEMBALI KEPADA AL QUR&#8217;AN DAN SUNNAH&#8221;, &#8220;ITU BID&#8217;AH INI BID&#8217;AH&#8221;, &#8220;ITU SYIRIK INI SYIRIK&#8221;, &#8220;MEMERANGI BID&#8217;AH, SYIRIK DAN KHURAFAT&#8221; dan lain-lain. <span id="more-421"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Muhammad bin Abdul Wahab sangat dimusuhi saudaranya sendiri, Sulaiman bin Abdul Wahab yang mengarang sebuah kitab &#8220;Ashshowa&#8217;ilqul Ilahiyah fi roddi &#8216;alal Wahabiyah&#8221; (Petir Tuhan yang menolak ajaran Wahabi)</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu yang mereka gencar menyerang aliran saingannya yaitu Ahlus Sunnah Wal Jama&#8217;ah adalah tentang ALLAH ada di Langit dan bersemayam di &#8216;Arsy. Wahabi meyakini bahwa ALLAH ada di langit secara hakiki (dzat-Nya) bukan secara majazi (bukan arti sebenarnya). Pendapat mereka ini sangat mengagetkan saya, ketika saya membaca sebuah kitab bernama FAT-HUL MAJID syarah Kitabut Tauhid karangan Syekh Abdurrohman bin Hasan di toko buku Walisongo, Kwitang, Jakarta Pusat.</p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam kitab aslinya WAHABI yaitu MAJMU&#8217;ATUT TAUHID yang merupakan kumpulan risalah oleh Syekhul Islam Ahmad Ibnu Taymiyah al Haroni, Muhammad bin Abdul Wahhab An Najdi (Pelopor Aliran Wahabi), dan Syekh Abdurrohman bin Hasan, disebutkan dalam halaman 34 cetakan Darul Fikr, Syekh Abdurrohman bin Hasan berkata :</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;WAHUWAL &#8216;ALIYYUL KABIIR, Dan Dia Maha TINGGI dan Maha BESAR, yaitu tinggi kadarnya, tinggi kuasanya, dan tinggi DZATnya. &#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ayat ARROhMAANU &#8216;ALAL &#8216;ARSYISTAWA, sesungguhnya arti ISTIWA&#8217; itu adalah ISTAQORRO (menetap) , WARTAFA&#8217;A (naik/tinggi/terangkat), WA &#8216;ALAA (dan tinggi) dan semuanya berma&#8217;na satu&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Dan panjang lebar Abdurrohamn bin Hasan menjelaskan dalil-dalil yang menunjukkan ALLAH ada di atas langit, di Arsy&#8217; dan dia mengatakan semua sahabat nabi dan para Imam mengatakan seperti itu, ALLAH ada di &#8216;Arsy secara dzat. Padahal semua ayat dan hadits yang dia beberkan sebagai dalil tidak menyebutkan secara DZAT ALLAH itu ada di ATAS &#8216;ARSY. Dia saja yang menafsirkan ayat dan hadits tersebut bahwa ALLAH benar-benar secara DZAT (HAKIKI) bukan MAJAZI (Kiasan), berada di ATAS.</p>
<p style="text-align:justify;">Bukankah ini menjadikan ALLAH membutuhkan tempat (makhluk) yang bernama &#8216;ARSY ? Bukankah &#8216;ARSY dalam Al Qur&#8217;an disebutkan membutuhkan malaikat Hamlatul Arsy (yang membawa Arsy) dan &#8216;Arsy di ayas air (Surat Hud ayat 7) ? Jadi pantaskan ALLAH membutuhkan diangkat oleh MALAIKAT di atas air? Suatu penafsiran yang keliru. Dan bertentangan dengan ayat LAYSA KAMITSLIHI SYAY-U (Tidak ada yang menyamai-Nya). WALAM YAKULLAHUU KUFUWAN AhAD (Dan tidak ada yang menyamainya satu pun), INNALLAAHA LAGHONIYYUN &#8216;ANIL &#8216;AALAAMIIIN (Sungguh ALLAH tidak butuh alam semesta)</p>
<p style="text-align:justify;">Benarkah ALLAH ada di langit secara hakiki yaitu dzat ALLAH benar-benar ada di langit dan bersemayam di &#8216;Arsy? Secara harfiyah memang banyak ayat-ayat yang menerangkan keadaan ALLAH ada di langit, tapi banyak juga keterangan ALLAH ada dimana-mana, FA-AYNA TUWALLUU FA-TSAMMA WAJHULLAAH, &#8220;Dimana mereka berpaling di situ ada Wajah ALLAH&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara logika (hukum &#8216;Aqli) bisa kita jawab dengan pertanyaan, &#8220;Jika dzat ALLAH ada di langit, dimana ALLAH ketika langit belum dicipitakan dan dimana pula ketika langit dihancurkan saat kiamat nanti?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Atau : &#8220;Apakah benar-benar dzatnya? Jika benar-benar diartikan ALLAH dzat-Nya ada di langit, tapi mengapa ALLAH juga ada dimana-mana? Apakah ALLAH lebih dari satu ?</p>
<p style="text-align:justify;">Atau : &#8220;Apakah benar ALLAH ISTAQORRO (Menetap di langit), bukankah tiap sepertiga malam terakhir selalu turun ke langit dunia bagi penduduk bumi sebelah dan sepertiga malam lagi bagi penduduk bumi belahan satunya, bukankah ini menjadikan ALLAH jalan-jalan tidak betah di langit? Dan IRTAFA&#8217;A (terangkat) siapa yang mengangkat? dan &#8216;ALAA (yang tinggi itu langit dari kita di bumi apa ALLAHnya berfisik tinggi?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kitab Iqozhul Himam Syarh Al Hikam dijelaskan:</p>
<h2 style="text-align:justify;">.</h2>
<h2 style="text-align:right;">وقال سيدنا علي كرم الله وجهه الحق تعالى ليس من شيء ولا في شيء ولا فوق شيء ولا تحت شيء إذ لو كان من شيء لكان مخلوقاً ولو كان فوق شيء لكان محمولاً ولو كان في شيء لكان محصوراً ولو كان تحت شيء لكان مقهوراً اه وقيل له يا ابن عم رسول الله صلى الله عليه وسلم أين كان ربنا أو هل له مكان فتغير وجهه وسكت ساعة ثم قال قولكم أين الله سؤال عن مكان وكان الله ولا مكان ثم خلق الزمان والمكان وهو الآن كما كان دون مكان ولا زمان</h2>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Dan telah berkata Sayyidina Ali (semoga ALLAH muliakan wajahnya) Al Haqq (ALLAH) Ta&#8217;ala bukanlah dari sesuatu, dan bukan di dalam sesuatu, dan bukan di atas sesuatu dan bukan di bawah sesuatu, karena jika ALLAH dari sesuatu sungguh DIA diciptakan, jika DIA di atas sesuatu sungguh DIA bisa dibawa, jika DIA di dalam sesuatu maka sungguh DIA bisa terkurung, dan jika di bawah sesuatu maka DIA bisa dipaksa. Dan dikatakan kepada Sayyidina Ali: Wahai anak pamannya Rosulullah SAW, dimana Tuhan kita berada? Atau apakah dia bertempat? Maka berubahlah muka Sayyidina Ali dan beliau diam sesaat, kemudian beliau berkata : Perkataan kalian dimana ALLAH adalah pertanyaan tentang tempat, dan ALLAH itu ada, dan tempat belum ada, kemudian ALLAH ciptakan waktu dan tempat, dan DIA sekarang sebagaimana DIA ada, tanpa tempat dan tanpa waktu&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">ALLAH tidaklah berada di langit sebagaimana awalnya ALLAH ada seperti hadits berikut ini :</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;KAANALLAAHU WALAM YAKUN SYAY-UN QOBLAHU, WA KAANA &#8216;ARSYUHU &#8216;ALAL MAA-I, WA KATABA FIDZ DZIKRI KULLA SYAY-IN, TSUMMA KHOLAQOS SAMAAWAATI WAL ARDLO&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;ALLAH ada dan tidak ada sesuatupun sebelumnya, dan &#8216;Arsynya ALLAH ada di atas air, dan ALLAH menulis di lauhul mahfudz segala sesuatu, kemudian ALLAH ciptakan langit dan bumi&#8221;. (HR. Imam Bukhori hadits ke 3190, 3191, 4365, 4386, 7418)</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits lainnya :</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;INNALLAAHA QODDARO MAQOODIROL KHOLAAIQI QOBLA AN YAKHLUQOS SAMAWATI WAL ARDO BIKHOMSIINA ALFA SANATIN WA KAANA &#8216;ARSYUHU &#8216;ALAL MAA-I&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Sesungguhnya ALLAH telah menentukan takdir para makhluk 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi, dan &#8216;Arsynya ada di atas air&#8221;<br />
(HR. Imam Muslim hadits ke 2653)</p>
<p style="text-align:justify;">Dimana ALLAH ketika langit belum tercipta, dimana ALLAH ketika itu 50.000 tahun lamanya?</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun ayat-ayat yang secara harfiyah menunjukkan ALLAH ada di atas, di langit, di mana-mana, tidak boleh kita artikan secara harfiyah atau lahiriyah saja karena bisa berakibat SYIRIK. Karena menyatakan ALLAH sama dengan makhluk, yang membutuhkan tempat dan waktu. Itu semua mempunyai arti kiasan, contoh : ALLAH ada di atas, di langit itu berarti ALLAH Maha Tinggi, bukan berati dzat ALLAH ada di atas, ada di langit, boleh ditunjuk ke atas.</p>
<p style="text-align:justify;">ALLAH tidak di atas, tidak di depan, tidak di belakang, tidak di bawah, tidak di samping, tidak dimana-mana. Tidak boleh menunjuk ALLAH di atas, seperti banyak disebutkan orang, &#8220;Serahkan saja sama yang di atas&#8221;. Ini bisa SYIRIK jika diartikan dzat ALLAH ada di atas atau di langit. ALLAH berfirman, &#8220;LAYSA KAMI-TSLIHII SYAY-UW WAHUWAS SAMI&#8217;UL BASHIR&#8221;, &#8220;Tidak ada yang menyerupai ALLAH dan DIA Maha Mendengar Maha Melihat&#8221;,</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam tafsir Ibnu Katsir pada surat Al A&#8217;rof ayat 54 disebutkan :</p>
<h2 style="text-align:justify;">.</h2>
<h2 style="text-align:right;">وأما قوله تعالى: { ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ } فللناس في هذا المقام مقالات كثيرة جدا، ليس هذا موضع بسطها، وإنما يُسلك في هذا المقام مذهب السلف الصالح: مالك، والأوزاعي، والثوري، والليث بن سعد، والشافعي، وأحمد بن حنبل، وإسحاق بن راهويه وغيرهم، من أئمة المسلمين قديما وحديثا، وهو إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولا تعطيل. والظاهر المتبادر إلى أذهان المشبهين منفي عن الله، فإن الله لا يشبهه شيء من خلقه، و { لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ } [ الشورى:11 ] بل الأمر كما قال الأئمة -منهم نُعَيْم بن حماد الخزاعي شيخ البخاري -: &#8220;من شبه الله بخلقه فقد كفر، ومن جحد ما وصف الله به نفسه فقد كفر&#8221;. وليس فيما وصف الله به نفسه ولا رسوله تشبيه، فمن أثبت لله تعالى ما وردت به الآيات الصريحة والأخبار الصحيحة، على الوجه الذي يليق بجلال الله تعالى، ونفى عن الله تعالى النقائص، فقد سلك سبيل الهدى.</h2>
<p style="text-align:justify;">Dalam keterangan ini Ibnu Katsir menyatakan dalam mengartikan ALLAH beristiwa&#8217; di Arsy, yang dipakai adalah pendapat para imam salafus soleh seperti Imam Malik Auza&#8217;i, Ats Tsauri, Al Layts bin Sa&#8217;d, Syafii, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rohawaih dan lain-lain, yang menyatakan bahwa arti beristiwa&#8217; di atas Arsy adalah Istiwa&#8217; sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut tanpa memberikan arti caranya bagaimana, menyerupai apa, dan juga tidak mengingkari istiwa&#8217;nya ALLAH SWT. ALLAH tidak sama dengan makhluk-Nya. Berkata beberapa imam seperti gurunya Imam Bukhori yaitu Nu&#8217;aim bin Hammad Al Khoza&#8217;i, &#8220;Siapa yang menyerupai ALLAH dengan makhluk-Nya maka dia telah kafir, siapa yang menentang sifat yang ALLAH sifati dirinya sendiri maka dia telah kafir&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah bukti nyata juga bahwa ALLAH tidak bertempat yaitu doa Nabi Muhammad SAW saat mau tidur, diriwayatkan dari Abu Huroiroh ra :</p>
<h2 style="text-align:justify;">.</h2>
<h2 style="text-align:right;">اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنْ الْفَقْرِ</h2>
<p style="text-align:justify;">Dalam hadits ini disebutkan Engkaulah Yang Zhohir maka tidak ada apapun di atas Engkau, dan Engkau Yang Bathin maka tidak ada apapun di bawah Engkau.</p>
<p style="text-align:justify;">(HR. Imam Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad)</p>
<p style="text-align:justify;">Maha Suci ALLAH dari yang mereka tuduhkan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bicarasalafy.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bicarasalafy.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bicarasalafy.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bicarasalafy.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bicarasalafy.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bicarasalafy.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bicarasalafy.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bicarasalafy.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bicarasalafy.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bicarasalafy.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bicarasalafy.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bicarasalafy.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bicarasalafy.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bicarasalafy.wordpress.com/421/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=421&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/12/01/benarkan-allah-ada-dilangit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/257bb80357a13f2016c61cc444aa4943?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bicarasalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KESALAHAN-KESALAHAN SYEIKH AL-ALBANI DALAM MELEMAHKAN SUATU HADITS</title>
		<link>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/12/01/kesalahan-kesalahan-syeikh-al-albani-dalam-melemahkan-suatu-hadits/</link>
		<comments>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/12/01/kesalahan-kesalahan-syeikh-al-albani-dalam-melemahkan-suatu-hadits/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Dec 2011 08:33:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bicarasalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Imam Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bicarasalafy.wordpress.com/?p=417</guid>
		<description><![CDATA[KESALAHAN-KESALAHAN SYEIKH AL-ALBANI DALAM MELEMAHKAN SUATU HADITS SUMBER: http://aswaja.webnode.com Tujuan kami mengutip kesalahan-kesalahan Syeikh Al-Albani ini bukan untuk memecah belah antara muslimin tapi tidak lain adalah untuk lebih meyakinkan para pembaca bahwa Syeikh ini sendiri masih banyak kesalahan dan belum yakin serta masih belum banyak mengetahui mengenai hadits karena masih banyak kontradiksi yang beliau kutip [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=417&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"><strong>KESALAHAN-KESALAHAN SYEIKH AL-ALBANI DALAM MELEMAHKAN SUATU HADITS</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span> <span style="color:#0000ff;"><a href="http://aswaja.webnode.com/news/kesalahan-kesalahan-syeikh-al-albani-dalam-melemahkan-suatu-hadits-/" target="_blank"><span style="color:#0000ff;">http://aswaja.webnode.com</span></a></span></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Tujuan kami mengutip kesalahan-kesalahan Syeikh Al-Albani ini bukan untuk memecah belah antara muslimin tapi tidak lain adalah untuk lebih meyakinkan para pembaca bahwa Syeikh ini sendiri masih banyak kesalahan dan belum yakin serta masih belum banyak mengetahui mengenai hadits karena masih banyak kontradiksi yang beliau kutip didalam buku-bukunya. Dengan demikian hadits atau riwayat yang dilemahkan, dipalsukan dan sebagainya oleh Syeikh ini serta pengikut-pengikutnya tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya, harus diteliti dan diperiksa lagi oleh ulama madzhab lainnya. <span id="more-417"></span></p>
<p>Contoh-contoh kesalahan Syeikh Albani ini yaitu umpamanya disatu halaman atau bukunya mengatakan hadits ..Lemah tapi dihalaman atau dibuku lainnya mengatakan hadits (yang sama itu) &#8230;.Shohih atau Hasan. Begitu juga beliau disatu buku atau halaman mengatakan bahwa perawi&#8230;. adalah tidak Bisa Dipercaya banyak membuat kesalahan dan sebagainya, tapi dibuku atau halaman lainnya beliau mengatakan bahwa perawi (yang sama ini) Dapat Dipercaya dan Baik. Begitu juga beliau disatu halaman atau bukunya memuji-muji perawi&#8230;atau ulama&#8230;tapi dibuku atau halaman lainnya  beliau ini mencela perawi atau ulama (yang sama tersebut). Juga diantara ulama-ulama pengeritik Al-Albani ini ada yang berkata; Kontradiksi tentang hadits Nabi saw. itu atau perubahan pendapat terdapat juga pada  empat ulama pakar yang terkenal (Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafii dan Imam Hanbali) atau ulama lainnya!</p>
<p>Perubahan pendapat para ulama ini biasanya yang berkaitan dengan pendapat atau ijtihadnya sendiri. Misalnya; Disalah satu kitab mereka membolehkan suatu masalah sedangkan pada kitabnya yang lain memakruhkan atau mengharamkan masalah yang sama ini atau sebaliknya. Perubahan pendapat ulama ini kebanyakan tidak ada sangkut pautnya dengan hadits yang mereka kemukakan sebelum dan sesudahnya, tapi kebanyakan yang bersangkutan dengan pendapat atau ijtihadnya sendiri waktu mengartikan hadits yang bersangkutan tersebut. Dan seandainya diketemukan adanya kontradiksi mengenai hadits yang disebutkan ulama ini pada kitabnya yang satu dengan kitabnya yang lain, maka kontradiksi ini tidak akan kita dapati lebih dari 10 hadits. Jadi bukan ratusan yang diketemukan.</p>
<p>Tapi yang lebih aneh lagi ulama golongan Salafi (baca:Wahabi) tetap mempunyai keyakinan tidak ada kontradiksi atau kesalahan dalam hadits yang dikemukakan oleh al-AlBani tersebut tapi lebih merupakan ralat, koreksi atau rujukan. Sebagaimana alasan yang mereka ungkapkan sebagai berikut; umpama al-Albani menetapkan dalam kitabnya suatu hadits kemudian dalam kitab beliau lainnya menyalahi dengan kitab yang pertama ini bisa dikatakan bahwa dia meralat atau merujuk hal tersebut! Alasan ini baik oleh ulama maupun awam (bukan ulama) tidak bisa diterima baik secara aqli (akal) maupun naqli (menurut nash). Seorang yang dijuluki ulama pakar oleh sekte Wahabi dan sebagai Imam Muhadditsin karena ilmu haditsnya seperti samudra yang tidak bertepian, seharusnya sebelum menulis satu hadits, beliau harus tahu dan meneliti lebih dalam apakah hadits yang akan ditulis tersebut shohih atau lemah, terputus dan sebagainya. Sehingga tidak memerlukan ralatan yang begitu banyak lagi pada kitabnya yang lain. Apalagi ralatan tersebut –yang diketemukan para ulama– bukan puluhan tapi ratusan! Sebenarnya yang bisa dianggap sebagai ralatan yaitu bila sipenulis menyatakan dibukunya sebagai berikut; hadits ..…yang saya sebutkan pada kitab .… sebenarnya bukan sebagai hadits &#8230;..(dhoif, maudhu’ dan sebagainya) tapi sebagai hadits&#8230;&#8230; ( shohih dan sebagainya). Dalam kata-kata semacam ini jelas si penulis telah mengakui kesalahannya serta meralat pada kitabnya yang lain. Selama hal tersebut tidak dilakukan maka ini berarti bukan ralatan atau rujukan tapi kesalahan dan kekurang telitian si penulis.</p>
<p>Golongan Salafi/Wahabi ini bukan hanya tidak mau menerima keritikan ulama-ulama yang tidak sependapat dengan ulama mereka, malah justru sebaliknya mengecam pribadi ulama-ulama yang mengeritik ini sebagai orang yang bodoh, golongan zindik, tidak mengerti bahasa Arab, dan lain sebagainya. Mereka juga menulis hadits-hadits Nabi saw. dan wejangan ulama-ulamanya –untuk menjawab kritikan ini– tetapi sebagian isinya tidak ada sangkut pautnya dengan kritikan yang diajukan oleh para ulama madzhab selain madzhab Salafi (baca:Wahabi)!! Alangkah baiknya kalau golongan Salafi ini tidak mencela siapa/ bagaimana pribadi ulama pengeritik itu, tapi mereka langsung membahas atau menjawab satu persatu dengan dalil yang aqli dan naqli masalah yang dikritik tersebut. Sehingga bila jawabannya itu benar maka sudah pasti ulama-ulama pengeritik ini dan para pembaca akan menerima jawaban golongan Wahabi dengan baik. Ini tidak lain karena keegoisan dan kefanatikan pada ulamanya sendiri sehingga mereka tidak mau terima semua keritikan-keritikan tersebut, dan mereka berusaha dengan jalan apa pun untuk membenarkan riwayat-riwayat atau nash baik yang dikutip oleh al-Albani maupun ulama mereka lainnya.  Sayang sekali golongan Salafi ini merasa dirinya yang paling pandai memahami ayat al-Qur’an dan Sunnah Rasulallah saw., paling suci, dan merasa satu-satunya golongan yang memurnikan agama Islam dan sebagainya. Dengan demikian mudah mensesatkan, mensyirikkan sesama muslimin  yang tidak sepaham dengan pendapatnya.</p>
<p>Mari kita sekarang meneliti sebagian pilihan/seleksi isi buku Syeikh Saqqaf tentang kesalahan-kesalahan al-Albani yang kami kutip bahasa Inggrisnya dan kami terjemahkan serta susun semampunya dari versi bahasa Inggris dengan judul ‘Al-Albani’s Weakening of Some of Imam Bukhari and Muslim’s Ahadit. Kitab asli bahasa Arabnya berjudul ‘Tanaqadat al-Albani al-Wadihat’ (Kontradiksi yang nyata/ jelas pada Al-Albani) oleh Syeikh Saqqaf, Amman, Jordania.</p>
<p>AL-ALBANI&#8217;S WEAKENING OF SOME OF IMAM BUKHARI AND MUSLIM&#8217;S AHADITH.</p>
<p>Al-Albani melemahkan beberapa hadits dari Imam Bukhori dan Imam Muslim.</p>
<p>Al-Albani has said in &#8220;Sharh al-Aqeedah at-Tahaweeah, pg. 27-28&#8243; (8th edition, Maktab al-Islami) by Shaykh Ibn Abi al-Izz al-Hanafi (Rahimahullah), that any Hadith coming from the Shohih collections of al-Bukhari and Muslim is Shohih, not because they were narrated by Bukhari and Muslim, but because the Ahadith are in fact correct. But he clearly contradicts himself, since he has weakened Ahadith from Bukhari and Muslim himself! Now let us consider this information in the light of elaboration :-</p>
<p>Syekh Al-Albani telah berkata didalam  Syarh Al-Aqidah at-Tahaweeah hal.27-28 cet.ke 8 Maktab Al-Islami oleh Sjeik Ibn Abi Al-Izz Al-Hanafi (Rahimahullah). “Hadits-hadits shohih yang dikumpulkan oleh Bukhori dan Muslim bukan karena diriwayatkan oleh mereka tapi karena hadits-hadits tersebut sendiri shohih”. !</p>
<p>Tetapi dia (Albani) telah nyata berlawanan dengan omongannya sendiri karena pernah melemahkan hadits dari dua syeikh tersebut. Mari kita lihat beberapa hadits dari Imam Bukhori dan Imam Muslim yang dilemahkan oleh Syekh al-Albani keterangan berikut ini :</p>
<p>Selected translations from volume 1.</p>
<p>Terjemahan-terjemahan yang terpilih dari jilid (volume) 1.</p>
<p>No.1: (*Pg. 10 no. 1 ) Hadith: The Prophet (Sall Allahu alaihi wa Aalihi wa Sallim) said: &#8220;Allah says I will be an opponent to 3 persons on the day of resurrection: (a) One who makes a covenant in my Name but he proves treacherous, (b) One who sells a free person (as a slave) and eats the price (c) And one who employs a laborer and gets the full work done by him, but doesn&#8217;t pay him his wages.&#8221; [Bukhari no 2114-Arabic version, or see the English version 3/430 pg 236]. Al-Albani said that this Hadith was DAEEF in &#8220;Daeef al-Jami wa Z iyadatuh, 4/111 no. 4054&#8243;. Little does he know that this Hadith has been narrated by Ahmad and Bukhari from Abu Hurayra (Allah be pleased with him)!!</p>
<p>No.1:    (Hal. 10 nr.1) Sabda Rasulallah saw. bahwa Allah swt.berfirman: Aku musuh dari 3 orang pada hari kebangkitan ; a)  Orang yang mengadakan perjanjian atas NamaKu, tetapi dia sendiri melakukan pengkhianatan atasnya b) Orang yang menjual orang yang merdeka sebagai budak dan makan harta hasil penjualan tersebut c) orang yang mengambil buruh untuk dikerjakan dan bekerja penuh untuk dia, tapi dia tidak mau membayar gajihnya. (Bukhori no.2114 dalam versi bahasa Arab atau dalam versi bahasa Inggris  3/430 hal. 236). Al-Albani berkata dalam Dhaif Al-jami wa Ziyadatuh 4/111 nr. 4054. bahwa hadits ini lemah. Dia (Al-Albani) memahami hanya sedikit tentang hadits, hadits diatas ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Bukhori dari Abu Hurairah ra.</p>
<p>No.2: (*Pg. 10 no. 2 ) Hadith: &#8220;Sacrifice only a grown up cow unless it is difficult for you, in which case sacrifice a ram.&#8221; [Muslim no. 1963-Arabic edition, or see the English version 3/4836 pg. 1086]. Al-Albani said that this Hadith was DAEEF in &#8220;Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 6/64 no. 6222.&#8221; Although this Hadith has been narrated by Imam&#8217;s Ahmad, Muslim, Abu Dawood, Nisai and Ibn Majah from Jaabir (Allah be pleased with him)!!</p>
<p>No.2:    (Hal. 10 nr.2) Hadits : “Korbanlah satu sapi muda kecuali kalau itu sukar buatmu maka korbanlah satu domba jantan” ( Muslim nr.1963 dalam versi bahasa Arab yang versi bahasa Inggris 3/4836 hal.1086). Al-Albani berkata Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 6/64 nr. 6222 bahwa hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah dari Jabir ra.</p>
<p>No.3: (*Pg. 10 no. 3 ) Hadith: &#8220;Amongst the worst people in Allah&#8217;s sight on the Day of Judgement will be the man who makes love to his wife and she to him, and he divulges her secret.&#8221; [Muslim no. 1437- Arabic edition]. Al-Albani claims that this Hadith is DAEEF in &#8220;Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 2/197 no. 2005.&#8221; Although it has been narrated by Muslim from Abi Sayyed (Allah be pleased with him)!!</p>
<p>No.3:   (Hal.10 nr.3)  Hadits: ‘Termasuk orang yang paling buruk dan Allah swt. akan mengadilinya pada hari pembalasan yaitu suami yang berhubung- an dengan isterinya dan isteri berhubungan dengan suaminya dan dia menceriterakan rahasia isterinya (pada orang lain) ‘ (Muslim nr.1437 penerbitan dalam bahasa Arab). Al-Albani menyatakan dalam Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 2/197 nr. 2005  bahwa hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Abi Sayyed ra.</p>
<p>No.4: (*Pg. 10 no. 4 ) Hadith: &#8220;If someone woke up at night (for prayers) let him begin his prayers with 2 light rak&#8217;ats.&#8221; [Muslim no. 768]. Al-Albani stated that this Hadith was DAEEF in &#8220;Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 1/213 no. 718.&#8221; Although it is narrated by Muslim and Ahmad from Abu Hurayra (may Allah be pleased with him)!!</p>
<p>No.4:     (Hal.10 nr.4) Hadits: “Bila seorang bangun malam (untuk sholat), maka mulailah sholat dengan 2 raka’at ringan” (Muslim nr. 768). Al-Albani dalam Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 1/213 nr. 718 menyatakan bahwa hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah.</p>
<p>No.5: (*Pg. 11 no. 5 ) Hadith: &#8220;You will rise with shining foreheads and shining hands and feet on the Day of Judgement by completing Wudhu properly. . . . . . . .&#8221; [Muslim no. 246]. Al-Albani claims it is DAEEF in &#8220;Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 2/14 no. 1425.&#8221; Although it has been narrated by Muslim from Abu Hurayra (Allah be pleased with him)!!</p>
<p>No.5:    (Hal.11 nr. 5) Hadits: ‘Engkau akan naik keatas dihari kiamat dengan cahaya dimuka, cahaya ditangan dan kaki dari bekas wudu’ yang sempurna’ (Muslim nr 246). Al-Albani dalam Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 2/14 nr. 1425 menyatakan bahwa hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah.</p>
<p>No.6: (*Pg. 11 no. 6 ) Hadith: &#8220;The greatest trust in the sight of Allah on the Day of Judgement is the man who doesn&#8217;t divulge the secrets between him and his wife.&#8221; [Muslim no's 124 and 1437] Al-Albani claims it is DAEEF in &#8220;Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 2/192 no. 1986.&#8221; Although it has been narrated by Muslim, Ahmad and Abu Dawood from Abi Sayyed (Allah be pleased with him)!!</p>
<p>No.6:    (Hal.11 nr. 6) Hadits: ‘orang yang dimuliakan disisi Allah pada hari pembalasan (kiamat) ialah yang tidak membuka rahasia antara dia dan isterinya’. (Muslim nr.124 dan 1437). Al-Albani dalam Dhaeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 2/192 nr. 1986 menyatakan bahwa hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad dan Abu Daud dari Abi Sayyed.</p>
<p>No.7: (*Pg. 11 no. 7 )Hadith: &#8220;If anyone READS the last ten verses of Surah al-Kahf he will be saved from the mischief of the Dajjal.&#8221; [Muslim no. 809]. Al-Albani said that this Hadith was DAEEF in &#8220;Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 5/233 no. 5772.&#8221;</p>
<p>NB- The word used by Muslim is MEMORIZED and not READ as al-Albani claimed; what an awful mistake! This Hadith has been narrated by Muslim, Ahmad and Nisai from Abi Darda (Allah be pleased with him)!! (Also recorded by Imam Nawawi in &#8220;Riyadh us-Saliheen, 2/1021&#8243; of the English ed&#8217;n).</p>
<p>No.7:   (Hal.11 nr.7) Hadits: ‘Siapa yang membaca 10 surah terakhir dari Surah Al-Kahfi, akan dilindungi dari kejahatan Dajjal ‘  (Muslim nr. 809). Al-Albani dalam Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 5/233 nr. 5772 menyatakan hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad dan Nasa’i dari Abi Darda ra. juga dikutip oleh Imam Nawawi dalam Riyadhos Sholihin 2/1021 dalam versi Inggris).</p>
<p>NotaBene: Didalam riwayat Muslim disebut Menghafal (10 surat terakhir Al-Kahfi) bukan Membaca sebagaimana yang dinyatakan Al-Albani, ini adalah kesalahan yang nyata !</p>
<p>No.8: (*Pg. 11 no. 8 ) Hadith: &#8220;The Prophet (Sall Allahu alaihi wa Aalihi wa Sallim) had a horse called al-Laheef.&#8221; [Bukhari, see Fath al-Bari of Hafiz Ibn Hajar 6/58 no. 2855]. But Al-Albani said that this Hadith was DAEEF in &#8220;Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 4/208 no. 4489.&#8221; Although it has been narrated by Bukhari from Sahl ibn Sa&#8217;ad (Allah be pleased with him)!!! Shaykh Saqqaf said: &#8220;This is only anger from anguish, little from a lot and if it wasn&#8217;t for the fear of lengthening and boring the reader, I would have mentioned many other examples from al-Albani&#8217;s books whilst reading them. Imagine what I would have found if I had traced everything he wrote?&#8221;</p>
<p>AL-ALBANI&#8217;S INADEQUACY IN RESEARCH (* Vol. 1 pg. 20) Shaykh Saqqaf said: &#8220;The strange and amazing thing is that Shaykh l-Albani misquoted many great Hadith scholars and disregards them by his lack of knowledge, either directly or indirectly! He crowns himself as an unbeatable source and even tries to imitate the great scholars by using such terms like &#8220;Lam aqif ala sanadih&#8221;, which means &#8220;I could not find the chain of narration&#8221;, or using similar phrases! He also accuses some of the best memorizers of Hadith for lack of attention, even though he is the one best described by that!&#8221;</p>
<p>No. 8 (Hal.11 nr. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Hadits: Rasulallah saw. mempunyai seekor kuda bernama Al Laheef’’ (Bukhori, lihat Fath Al-Bari oleh Hafiz ibn Hajar 6/58 nr.2855). Tapi Al-Albani dalam &#8220;Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 4/208 nr. 4489 berkata bahwa hadits ini lemah. Walaupun diriwayatkan oleh Bukhori dari Sahl Ibn Sa’ad ra.</p>
<p>Syeikh Segaf berkata : Ini hanya marah dari sakit hati ! Kalau tidak karena takut terlalu panjang dan pembaca menjadi bosan karenanya saya akan sebutkan banyak contoh-contoh dari buku-buku Al-Albani &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..)</p>
<p>AL-ALBANI TIDAK SESUAI DALAM PENYELIDIKANNYA (jilid 1 hal.20)</p>
<p>Syeikh Seggaf berkata: ‘ Sangat heran dan mengejutkan, bahwa Syeikh Al-Albani menyalahkan dan menolak hadits-hadits yang banyak diketengahkan oleh ulama-ulama pakar ahli hadits baik secara langsung atau tidak secara langsung, tidak lain semuanya ini karena kedangkalan ilmu Al-Albani ! . Dia mendudukkan dirinya sebagai sumber yang tidak pernah dikalahkan. Dia sering meniru kata-kata para ulama pakar (dalam menyelidiki suatu hadits)  ‘Lam aqif ala sanadih’  artinya ‘ Saya tidak menemukan rantaian sanadnya’ atau dengan kata-kata yang serupa. Dia juga menyalahkan beberapa ulama pakar penghafal Hadits yang terbaik untuk kurang perhatian, karena dia sendiri merasa sebagai penulis yang paling baik.</p>
<p>Now for some examples to prove our point:</p>
<p>Beberapa contoh-contoh bukti yang dimaksud berikut ini :</p>
<p>No.9: (* Pg. 20 no. 1 ) Al-Albani said in &#8220;Irwa al-Ghalil, 6/251 no. 1847&#8243; (in connection to a narration from Ali): &#8220;I could not find the sanad.&#8221; Shaykh Saqqaf said: &#8220;Ridiculous! If this al-Albani was any scholar of Islam, then he would have known that this Hadith can be found in &#8220;Sunan al-Bayhaqi, 7/121&#8243; :- Narrated by Abu Sayyed ibn Abi Amarah, who said that Abu al-Abbas Muhammad ibn Yaqoob who said to us that Ahmad ibn Abdal Hamid said that Abu Usama from Sufyan from Salma ibn Kahil from Mu&#8217;awiya ibn Soayd who said, &#8216;I found this in my fathers book from Ali (Allah be pleased with him).&#8217;&#8221;</p>
<p>No.9: (Hal. 20 nr.1) Al-Albani dalam &#8220;Irwa Al-Ghalil, 6/251 nr. 1847&#8243; berkata: (riwayat dari Ali): ‘ Saya tidak menemukan sanadnya”.</p>
<p>Syeikh Seggaf berkata: ‘Menggelikan! Bila Al-Albani ini orang yang terpelajar dalam Islam maka dia akan tahu bahwa hadits ini ada dalam Sunan Al-Baihaqi 7/121 diriwayatkan dari Abi Sayyed ibn Abi Amarah yang katanya bahwa Abu Al-Abbas Muhammad ibn Yaqub berkata pada kami bahwa Ahmad ibn Abdal Hamid berkata, bahwa Abu Usama dari Sufyan dari Salma ibn Kahil dari Mu’awiyah ibn Soayd berkata, Saya menemukan ini dalam buku ayah saya dari Ali kw.</p>
<p>No.10: (* Pg. 21 no. 2 ) Al-Albani said in &#8216;Irwa al-Ghalil, 3/283&#8242;: Hadith of Ibn Umar &#8216;Kisses are usury,&#8217; I could not find the sanad.&#8221; Shaykh Saqqaf said: &#8220;This is outrageously wrong for surely this is mentioned in &#8216;Fatawa al-Shaykh ibn Taymiyya al-Misriyah (3/295)&#8217;: &#8216;Harb said Obaidullah ibn Mu&#8217;az said to us, my father said to me that Soayd from Jiballa who heard Ibn Umar (Allah be pleased with him) as saying: Kisses are usury.&#8217; And these narrators are all authentic according to Ibn Taymiyya!&#8221;</p>
<p>No.10:   (Hal.21 nr.2) Al-Albani dalam &#8216;Irwa Al-Ghalil, 3/283&#8242; berkata; Hadits dari Ibn Umar  (Ciuman-ciuman adalah bunga yang tinggi [riba’) Saya tidak menemukan sanadnya.</p>
<p>Syeikh Seggaf berkata: Ini kesalahan yang sangat aneh ! Ini sudah ada didalam Fatwa Syeikh Ibn Taimiyya Al-Misriyah 3/295: “Harb berkata bahwa Ubaidullah ibn Mu’az berkata pada kita; ayah saya berkata bahwa Suaid dari Jiballa mendengar dari Ibn Umar ra berkata: ‘ Ciuman-ciuman itu adalah (bunga?) yang tinggi ‘ Dan perawi-perawi dapat dipercaya menurut Ibn Taimiyyah !</p>
<p>No.11: (* Pg. 21 no. 3 ) Hadith of Ibn Masood (Allah be pleased with him): "The Qur'an was sent down in 7 dialects. Everyone of its verses has an explicit and implicit meaning and every interdiction is learly defined." Al-Albani stated in his checking of "Mishkat ul-Masabih, 1/80 no. 238" that the author of Mishkat concluded many Ahadith with the words "Narrated in Sharh us-Sunnah," but when he examined the chapter on Ilm and in Fadail al-Qur'an he could not find it! Shaykh Saqqaf said: "The great scholar has spoken! Wrongly as usual. I wish to say to this fraud that if he is seriously interested in finding this Hadith we suggest he looks in the chapter entitled 'Al-Khusama fi al-Qur'an' from Sharh-us-Sunnah (1/262), and narrated by Ibn Hibban in his Shohih (no. 74), Abu Ya'ala in his Musnad (no.5403), Tahawi in Sharh al-Mushkil al-Athar (4/172), Bazzar (3/90 Kashf al-Asrar) and Haythami has mentioned it in Majmoo'a al-Zawaid (7/152) and he has ascribed it to Bazzar, Abu Ya'ala and Tabarani in al-Awsat who said that the narrators are trustworthy."</p>
<p>No.11:    (Hal.21 nr.3) Hadits dari Ibn Mas’ud ra : ‘Al-Qur’an diturunkan dalam tujuh (macam) bahasa, setiap ayat ada yang jelas dan ada yang kurang jelas dan setiap larangan itu jelas ....(ada batasnya) ‘ Al-Albani dalam Mishkat ul-Masabih, 1/80 nr. 238 menyatakan menurut penyelidikannya bahwa pengarang/penulis Mishkat memutuskan banyak hadits dengan kata-kata “diceriterakan/diriwayatkan dalam Syarh As Sunnah” tapi waktu dia (Albani) menyelidiki bab masalah Ilmu dan Keutamaan Al-Qur’an tidak menemukan hal itu !</p>
<p>Syeikh Seggaf berkata: ‘Ulama yang paling pandai telah berbicara  kesalahan yang sudah biasa. Dengan kebohongan itu saya ingin mengata= kan, bila dia benar-benar tertarik untuk menemukan ini hadits,  kami mengusulkan agar dia melihat dalam bab yang berjudul  'Al-Khusama fi Al-Qur'an van Sharh-us-Sunnah (1/262) dan diriwayatkan oleh Ibn Hibban dalam shohihnya nr. 74, Abu Ya’la dalam Musnadnya nr. 5403, Tahawi dalam Sharh Al Mushkil Al-Athar 4/172, Bazzar dalam Kash Al-Asrar 3/90, Haitami telah menyatakan dalam Majmu’a Al-Zawaid 7/152 dan dia merujuk kepada Bazzar, Abu Ya’la dan Tabrani dalam Al-Awsat yang berkata bahwa semua perawinya bisa dipercayai.</p>
<p>No.12: (* Pg. 22 no. 4 ) Al-Albani stated in his "Shohihah, 1/230" while he was commenting on Hadith no. 149: "The believer is the one who does not fill his stomach. . . . The Hadith from Aisha as mentioned by Al-Mundhiri (3/237) and by Al-Hakim from Ibn Abbas, I (Albani) could not find it in Mustadrak al-Hakim after checking it in his 'Thoughts' section." Shaykh Saqqaf said: "Please don't encourage the public to fall into the void of ignorance which you have tumbled into! If you check Mustadrak al-Hakim (2/12) you will find it! This proves that you are unskilled at using book indexes and the memorization of Hadith!"</p>
<p>No.12:    (hal.22 nr.4) Al-Albani berkata dalam Shahiha, 1/230 waktu dia memberi komentar tentang hadits nr. 149;  “ Orang yang beriman ialah orang yang perutnya tidak kenyang...     “  hadits ini dari Aisyah yang disebutkan dalam Al-Mudhiri 3/237 dan Al-Hakim dari Ibn Abbas. Saya (Albani) tidak menemukan dalam Mustadrak Al-Hakim setelah penyelidikannya dan menurut pasal pikirannya.</p>
<p>Syeikh Seggaf berkata: Tolong jangan berani menjatuhkan masyarakat kepada kebodohan yang sia-sia, yang mana engkau sudah terperosok didalamnya! Kalau engkau akan mencari dalam Mustadrak Al-Hakim 2/12 maka dia akan engkau dapati ! Ini membuktikan bahwa engkau sendiri tidak ahli menggunakan buku index dan memberitakan dari Hadits.</p>
<p>No.13: (* Pg. 23 ) Another ridiculous assumption is made by al-Albani in his "Shohihah, 2/476" where he claims that the Hadith: "Abu Bakr is from me, holding the position of (my) hearing" is not in the book 'Hilya'. We suggest you look in the book "Hilya , 4/73!"</p>
<p>No.13:    (Hal.23)  Lebih menggelikan lagi  dugaan yang dibuat oleh Al-Albani dalam Shohihah, 2/476 yang mana dia menyatakan bahwa hadits: ‘Abu Bakar dari saya dan dia menempati posisi saya’ tidak ada didalam ‘Hilya’. Saya usulkan agar anda melihat didalam "Hilya, 4/73 " !</p>
<p>No.14: (*Pg. 23 no. 5 )Al-Albani said in his "Shohihah, 1/638 no. 365, 4th edition": "Yahya ibn Malik has been ignored by the 6 main scholars of Hadith, for he was not mentioned in the books of Tahdhib, Taqreeb or Tadhhib." Shaykh Saqqaf: "That is what you say! It is not like that, for surely he is mentioned in Tahdhib al-Tahdhib of Hafiz ibn Hajar al-Asqalani (12/19 Dar al-Fikr edition) by the nickname Abu Ayoob al-Maraagi!! So beware!</p>
<p>No.14 (Hal.23 nr. 5) Al-Albani dalam "Shohihah, 1/638 nr. 365, cet.ke 4" mengatakan : Yahya Ibn Malik tidak dikenal/termasuk  6 ahli hadits karena dia ini tidak tercatat Tahdzib, Taqreeb dan Tadzhib.</p>
<p>Syeikh Seggaf berkata: ‘Itu menurut anda!  Sebenarnya bukan begitu,  nama julukannya ialah Abu Ayub Al-Maraagi dan ini ada didalam Tahdzib, Al-Tahdzib disebutkan oleh Hafiz ibn Hajar Al-Asqalani 12/19 cet.Dar Al-Fikr ! Hati-hatilah!</p>
<p>FURTHER EXAMPLES OF AL-ALBANI'S CONTRADICTIONS</p>
<p>MASIH BANYAK CONTOH KONTRADIKSI DARI AL-ALBANI !</p>
<p>No 15 : (* Pg. 7 )Al-Albani has criticized the Imam al-Muhaddith Abu'l Fadl Abdullah ibn al-Siddiq al-Ghimari (Rahimahullah) for mentioning in his book "al-Kanz al-Thameen" a Hadith from Abu Hurayra (Allah be pleased with him) with reference to the narrator Abu Maymoona: "Spread salaam, feed the poor. . . ."</p>
<p>Al-Albani said in "Silsilah al-Daeefa, 3/492", after referring this Hadith to Imam Ahmad (2/295) and others: "I say this is a weak sanad, Daraqutni has said 'Qatada from Abu Maymoona from Abu Hurayra: Unknown, and it is to be discarded.'" Al-Albani then said on the same page: "Notice, a slapdash has happened with Suyuti and Munawi when they came across this Hadith, and I have also shown in a previous reference, no. 571, that al-Ghimari was also wrong for mentioning it in al-Kanz." But in reality it is al-Albani who has become slapdashed, because he has made a big contradiction by using this same sanad in "Irwa al-Ghalil, 3/238" where he says, "Classified by Ahmad (2/295), al-Hakim . . . from Qatada from Abu Maymoona, and he is trusted as in the book 'al-Taqreeb', and Hakim said: 'A Shohih sanad', and al-Dhahabi agreed with Hakim! So, by Allah glance at this mistake! Who do you think is wrong, the Muhaddith al-Ghimari (also Suyuti and Munawi) or al-Albani?</p>
<p>No.15.  (Hal.7) Al-Albani mengeritik Imam Al-Muhaddith Abu'l Fadl Abdullah ibn Al-Siddiq Al-Ghimari (Rahimahullah) waktu mengetengahkan hadits dari Abu Hurairah ra. dalam kitabnya Al-Kanz Al-Thameen yang bertalian dengan perawi Abu Maymuna ; ‘Sebarkan salam, beri makan orang-orang miskin..’</p>
<p>” Al-Albani berkata dalam Silsilah Al-Daifa, 3/492 setelah merujuk hadits ini pada Imam Ahmad 2/295 dan lain-lain : Saya berkata bahwa sanadnya lemah, Daraqutni juga berkata ‘Qatada dari Abu Maymoona dari Abu Hurairah tidak dikenal dan itu harus dikesampingkan “.  Al-Albani berkata pada halaman yang sama; ‘Pemberitahuan, pukulan bagi Suyuti dan Munawi, waktu mereka menemukan hadits ini, dan saya juga telah menunjuk kan dalam referensi yang lalu nr. 571 bahwa Al-Ghimari itu telah salah menyebutkan (hadits) itu dalam Al-kanz.</p>
<p>Tetapi sebenarnya Al-Albani-lah yang terkena pukulan,  sebab sangat bertentangan dengan perkataannya dalam  Irwa Al-Ghalil, 3/238  yang meng gunakan sanad yang sama, katanya: ‘ Diklasifikasikan oleh Ahmad (2/295), al-Hakim....dari Qatada dari Abu Maymuna dan orang mepercayainya sebagaimana yang disebutkan didalam buku Al-Taqreeb dan Hakim berkata;  Sanad yang shohih dan Al-Dhahabi sepakat dengan Hakim !</p>
<p>Begitulah Allah langsung melihatkan kesalahan tersebut ! Sekarang siapa- kah yang selalu salah;  Ahli hadits( Al-Ghimari, Suyuti, Munawi) atau Al-Albani ?</p>
<p>No 16 : (* Pg. 27 no. 3 ) Al-Albani wanted to weaken a Hadith which allowed women to wear golden jewellery, and in the sanad for that Hadith there is Muhammad ibn Imara. Al-Albani claimed that Abu Haatim said that this narrator was: "Not that strong," see the book "Hayat al-Albani wa-Atharu. . . part 1, pg. 207." The truth is that Abu Haatim al-Razi said in the book 'al-Jarh wa-Taadeel, 8/45': "A good narrator but not that strong. . ." So note that al-Albani has removed the phrase "A good narrator !"</p>
<p>NB-(al-Albani has made many of the Hadith which forbid Gold to women to be Shohih, in fact other scholars have declared these Hadith to be daeef and abrogated by other Shohih Hadith which allow the wearing of gold by women. One of the well known Shaykh's of the "Salafiyya" - Yusuf al-Qardawi said in his book: 'Islamic awakening between rejection and extremism, pg. 85: "In our own times, Shaykh Nasir al-Din al-Albani has come out with an opinion, different from the consensus on permitting women to adorn themselves with gold, which has been accepted by all madhahib for the last fourteen centuries. He not only believes that the isnad of these Ahadith is authentic, but that they have not been revoked. So, he believes, the Ahadith prohibit gold rings and earrings." So who is the one who violates the ijma of the Ummah with his extreme opinions?!)</p>
<p>No 16    (Hal.27 nr. 3) Al-Albani mau melemahkan hadits yang membolehkan wanita memakai perhiasan emas dan dalam sanad hadits itu ada Muhammad ibn Imara. Al-Albani menyatakan bahwa Abu Haatim berkata perawi ini ” tidak kuat “, lihat buku Hayat Al-Albani wa-Atharu ..jilid 1 hal.207.</p>
<p>Yang benar ialah bahwa Abu Haatim Al-Razi dalam buku 'Al-Jarh wa-Taadeel, 8/45 berkata: “ Perawi yang baik tapi tidak sangat kuat....”  Jadi lihat pada catatan Al-Albani bahwa kalimat “Perawi yang baik “ dibuang !</p>
<p>NotaBene: Al-Albani telah membuat/menulis banyak hadits yang menyata- kan larangan emas (dipakai) untuk wanita menjadi Shohih, padahal kenyataannya para Ulama lain menyatakan hadits-hadits ini lemah dan berlawanan dengan hadits Shohih yang memperbolehkan pemakaian (perhiasan) emas oleh kaum wanita. Salah seorang Syeikh ‘Salafiah’ terkenal, Yusuf Al-Qardawi berkata dalam bukunya Islamic awakening between rejection and extremism, halaman 85 : “Dalam zaman kita sendiri Syeikh Nasir al-Din telah muncul dengan suatu pendapat yang bertentangan dengan kesepakatan tentang pembolehan wanita-wanita menghias diri mereka dengan emas, yang telah diterima/ disetujui oleh semua madzhab selama empat belas abad terakhir. Dia tidak hanya mempercayai bahwa sanad dari hadits-hadits ini dapat dipercaya, tapi bahwa hadits-hadits ini belum dicabut/dihapus. Maka dia percaya hadits-hadits tersebut melarang cincin dan anting-anting emas “. Lalu siapa yang merusak kesepakatan (ijma’) ummat dengan pendapat-pendapatnya yang ekstrem ?</p>
<p>No 17: (* Pg. 37 no. 1 )Hadith: Mahmood ibn Lubayd said, "Allah's Messenger (Sall Allahu alaihi wa Aalihi wa Sallim) was informed about a man who had divorced his wife 3 times (in one sitting), so he stood up angrily and said: 'Is he playing with Allah's book whilst I am still amongst you?' Which made a man stand up and say, 'O Allah's Messenger, shall I not kill him?'" (al-Nisai). Al-Albani declared this Hadith to be Daeef in his checking of "Mishkat al-Masabih, 2/981, 3rd edition, Beirut, 1405 A.H; Maktab al-Islami", where he says: "This man (the narrator) is reliable, but the isnad is broken or incomplete for he did not hear it directly from his father." Al-Albani then contradicts himself in the book "Ghayatul Maram Takhreej Ahadith al-Halal wal Haram, no. 261, pg. 164, 3rd Edn, Maktab al-Islami, 1405 A.H"; by saying it is SHOHIH!!!</p>
<p>No 17  (Hal. 37 nr. 1) Hadits : Mahmud ibn Lubayd berkata; ‘Rasulallah saw. telah diberitahu mengenai seorang yang telah mencerai isterinya 3x dalam satu waktu, oleh karena itu dia berdiri dengan marah dan berkata; ‘Apakah dia bermain-main dengan Kitabullah, sedangkan aku masih berada dilingkungan engkau ? Yang mana berdiri seorang untuk berkata ; Wahai Rasulallah, apakah  dia tidak saya bunuh saja ? (Al-Nisa’i).</p>
<p>Al-Albani menyatakan hadits ini lemah menurut penyelidikannya dari kitab ‘Mishkat Al-Masabih 2/981 cet.ketiga, Beirut 1405 A.H. de Maktab Al-Islami ‘ yang mengatakan “ Perawinya bisa dipercaya tapi isnadnya terputus atau tidak komplit, karena dia tidak mendengar langsung dari ayahnya”. Al-Albani berkata berlawanan dengan dirinya sendiri dalam buku Ghayatul Maram Takhreej Ahadith Al-Halal wal-Haram, nr. 261, hal. 164, cet.ketiga  Maktab Al-Islami, 1405 A.H" telah mengatakan bahwa hadits itu Shohih !!</p>
<p>No 18 : (* Pg. 37 no. 2)Hadith: "If one of you was sleeping under the sun, and the shadow covering him shrank, and part of him was in the shadow and the other part of him was in the sun, he should rise up." Al-Albani declared this Hadith to be SHOHIH in "Shohih al-Jami al-Sagheer wa Ziyadatuh (1/266/761)", but then contradicts himself by saying it is DAEEF in his checking of "Mishkat ul-Masabih, 3/1337 no. 4725, 3rd Ed" and he has referred it to the Sunan of Abu Dawood!"</p>
<p>No 18 (Hal.37 nr.2) Hadits; “Bila salah satu dari engkau tidur dibawah sinar matahari dan bentuk naungan telah menutupinya dan sebagian darinya didalam naungan dan sebagiannya lagi dibawah sinar matahari, maka dia harus bangun” . Al-Albani menyatakan hadits ini shohih dalam Shohih Al-Jami Al-Sagheer wa Ziyadatuh (1/266/761) tapi perkataannya berlawanan dengannya karena mengatakan hadits ini lemah dalam penyelidikannya dari Mishkat ul-Masabih 3/1337 nr.4725 cet.ketiga dan dia merujuk hadits ini pada Sunan Abu Daud.</p>
<p>No 19 : (* Pg. 38 no. 3 )Hadith: "The Friday prayer is obligatory on every Muslim." Al-Albani rated this Hadith to be DAEEF in his checking of "Mishkat al-Masabih, 1/434", and said: "Its narrators are reliable but it is discontinuous as is indicated by Abu Dawood". He then contradicts himself in "Irwa al-Ghalil, 3/54 no. 592", and says it is SHOHIH!!! So beware o wise men!</p>
<p>No. 19  (Hal.38 nr. 3) Hadits : “Sholat Jum’at itu wajib bagi setiap Muslim” Al-Albani menganggap hadits ini lemah dalam penyelidikannya dari De Mishkat Al-Masabih, 1/434 dan katanya; Perawi dari hadits ini bisa dipercaya, tetapi terputus sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu Daud. Kalau begitu dia bertentangan dengan perkataannya dalam’ Irwa Al-Ghalil 3/54 nr. 592’ dan mengatakan hadits ini Shohih ! Hati-hatilah sedikit, wahai orang bijaksana !</p>
<p>No 20 : (* Pg. 38 no. 4 ) Al-Albani has made another contradiction. He has trusted Al-Muharrar ibn Abu Hurayra in one place and then weakened him in another. Al-Albani certifies in "Irwa al-Ghalil, 4/301" that Muharrar is a trustee with Allah's help, and Hafiz (Ibn Hajar) saying about him "accepted", is not accepted, and therefore the sanad is Shohih. He then contradicts himself in "Shohihah 4/156" where he makes the anad DAEEF by saying: "The narrators in the sanad are all Bukhari's (i.e.; used by Imam al-Bukhari) men, except for al-Muharrar who is one of the men of Nisai and Ibn Majah only. He was not trusted accept by Ibn Hibban, and that's why al-Hafiz Ibn Hajar did not trust him, Instead he only said 'accepted!'" So beware of this fraud!</p>
<p>No.20  (Hal. 38 nr. 4). Al-Albani membuat lagi kontradiksi. Dia disatu tempat mempercayai Al-Muharrar ibn Abu Huraira kemudian ditempat lain dia melemahkannya. Al-Albani menerangkan dalam Irwa Al-Ghalil 4/301 bahwa Al-Muharrar dengan bantuan Allah seorang yang dapat dipercayai dan Hafiz (Ibnu Hajar) berkata mengenai dia “dapat diterima”,  tidak dapat diterima, dan oleh karenanya sanadnya Shohih.</p>
<p>Maka dia (Albani) berlawanan dengan omongannya dalam Shohihah 4/156 yang mana dia melemahkan sanad sambil mengatakan: ‘Perawi-perawi dalam sanad ialah semua orang-orang didalam Bukhori (lain kata orang-orang yang dicantumkan oleh Imam Bukhori) kecuali Al-Muharrar dia hanya salah satu dari orang-orang Nasa’i dan Ibn Majah . Dia tidak dipercaya oleh Ibn Hibban dan oleh karenanya Al Hafiz Ibn Hajar tidak mempercayainya, daripada itu dia hanya mengatakan “dapat diterima” .Hatilah-hatilah dari kebohongan !</p>
<p>No 21 : (* Pg. 39 no. 5 ) Hadith: Abdallah ibn Amr (Allah be pleased with him): "The Friday prayer is incumbent on whoever heard the call" (Abu Dawood). Al-Albani stated that this Hadith was HASAN in "Irwa al-Ghalil 3/58", he then contradicts himself by saying it is DAEEF in "Mishkatul Masabih 1/434 no 1375"!!!</p>
<p>No.21    (Hal. 39 nr. 5) Hadits: Abdullah ibn Amr ra. “ Sholat Jumat wajib bagi orang yang sudah mendengar panggilan (adzan)” (Abu Daud). Al-Albani menyatakan hadits ini Hasan dalam “Irwa Al-Ghalil 3/58”,  dan dia berlawanan dengan perkataannya yang menyatakan hadits ini lemah dalam Mishkatul Masabih 1/434 nr. 1375 !</p>
<p>No 22 : (* Pg. 39 no. 6 )  Hadith: Anas ibn Malik (Allah be pleased with him) said that the Prophet (Sall Allahu alaihi wa Aalihi wa Sallim) used to say : "Do not be hard on yourself, otherwise Allah will be hard on you. When a people were hard on themselves, then Allah was hard on them." (Abu Dawood) Al-Albani stated that this Hadith was DAEEF in his checking of "Mishkat, 1/64", but he then contradicts himself by saying that this Hadith is HASAN in "Ghayatul Maram, pg. 141"!!</p>
<p>No.22    (Hal. 39 nr. 6) Hadits : Anas ibn Malik ra. berkata  bahwa Rasulallah saw. telah bersabda: “Janganlah keras terhadap dirimu, dengan demikian Allah juga akan keras terhadapmu, bilamana manusia keras terhadap dirinya maka Allah akan keras juga terhadap mereka”. (Abu Daud). Al-Albani menurut penyelidikannya di Mishkat 1/64, mengatakan bahwa hadits ini lemah. Tapi dia lalu berlawanan dengan perkataannya di  "Ghayatul Maram, hal. 141 bahwa hadits ini Hasan  !!</p>
<p>No 23: (* Pg. 40 no. 7 ) Hadith of Sayyida Aisha (Allah be pleased with her): "Whoever tells you that the Prophet (Peace be upon him) used to urinate while standing, do not believe him. He never urinated unless he was sitting." (Ahmad, Nisai and Tirmidhi ) Al-Albani said that this sanad was DAEEF in "Mishkat 1/117." He then contradicts himself by saying it is SHOHIH in "Silsilat al-Ahadith al-Shohihah 1/345 no. 201"!!! So take a glance dear reader!</p>
<p>No.23    (Hal.40 nr. 7) Hadits dari ‘Aisyah ra : “Siapapun yang mengatakan bahwa Rasulallah saw biasa kencing dengan berdiri, janganlah dipercayai. Beliau tidak pernah kencing kecuali dengan duduk” (Ahmad,Nasa’i dan Tirmidzi). Al-Albani dalam Mishkat 1/117 mengatakan sanad hadits ini lemah. Dia bertentangan dengan perkataannya di “Silsilat Al-Ahadits al-Shohihah 1/345 nr.201”  bahwa hadits ini Shohih !</p>
<p>No 24 : (* Pg. 40 no. 8 ) Hadith "There are three which the angels will never approach: The corpse of a disbeliever, a man who wears ladies perfume, and one who has had sex until he performs ablution" (Abu Dawood). Al-Albani corrected this Hadith in "Shohih al-Jami al-Sagheer wa Ziyadatuh, 3/71 no. 3056" by saying it was HASAN in the checking of "Al-Targhib 1/91" [Also said to be Hasan in the English translation of 'The Etiquettes of Marriage and Wedding, pg. 11]. He then makes an obvious contradiction by saying that the same Hadith was DAEEF in his checking of &#8220;Mishkatul-Masabih, 1/144 no. 464&#8243; and says that the narrators are trustworthy but the chain is broken between Al-Hasan al-Basri and Ammar (Allah be pleased with him) as al-Mundhiri had said in al-Targhib (1/91)!!</p>
<p>No.24    (Hal.40 nr.8) Hadits : “Tiga macam orang yang malaikat tidak mau mendekatinya : Mayit orang kafir, lelaki yang memakai minyak wangi wanita dan orang yang telah berhubungan sex (junub) sampai dia bersuci ” (Abu Daud). Al-Albani telah membenarkan hadits ini dalam Shohih Al-Jami Al-Sagheer wa Ziyadatuh 3/71 nr. 3056 dengan mengatakan hadits itu Hasan dalam penyelidikan dari Al-Targhib 1/91 (juga mengatakan Hasan dalam Terjemahannya kedalam bahasa Inggris “The Etiquettes of Marriage and Wedding, page 11). Dia membuat kontradiksi yang nyata dalam penyelidikannya dalam Mishkatul-Masabih 1/144 nr. 464 mengatakan hadits yang sama ini Lemah, dan dia berkata bahwa perawi-perawinya patut di- percaya tapi rantai sanadnya terputus antara Hasan Basri dan Ammar  sebagaimana yang disebutkan juga oleh Al-Mundhiri dalam Al-Targhib 1/91 !!</p>
<p>No 25 : (* Pg. 42 no. 10 ) It reached Malik (Rahimahullah) that Ibn Abbas (Allah be pleased with him) used to shorten his prayer, in distances such as between Makkah and Ta&#8217;if or between Makkah and Usfan or between Makkah and Jeddah. . . . Al-Albani has weakened it in &#8220;Mishkat, 1/426 no. 1351&#8243;, and then contradicts himself by saying it is SHOHIH in &#8220;Irwa al-Ghalil, 3/14&#8243;!!</p>
<p>No.25    (Hal. 42 nr. 10) Telah sampai (riwayat) dari Malik rh “bahwa Ibn Abbas ra. biasa menyingkat (menggashor) sholatnya dalam jarak antara Makkah dan Ta’if atau antara Makkah dan Usfan atau antara Makkah dan Jeddah&#8230;..”  Al-Albani telah melemahkannya dalam Mishkat, 1/426 nr.1351, dan dia bertentangan dengan perkataannya di Irwa al-Ghalil 3/14 yang mengatakan ini Shahih !</p>
<p>No 26 : (* Pg. 43 no. 12 ) Hadith: &#8220;Leave the Ethiopians as long as they leave you, because no one takes out the treasure of the Ka&#8217;ba except the one with the two weak legs from Ethiopia.&#8221; Al-Albani has weakened this Hadith in his checking of &#8220;Mishkat 3/1495 no. 5429&#8243; by saying: &#8220;The sanad is DAEEF.&#8221; But then he contradicts himself as is his habit, by correcting it in &#8220;Shohihah, 2/415 no. 772.&#8221;</p>
<p>No. 26.  (Hal.43 nr.12) Hadits : “Tinggalkan orang-orang Ethiopia selama mereka meninggalkanmu, sebab tidak ada orang yang mengambil barang berharga dari Ka’bah kecuali seorang Ethopia yang dua kakinya lemah” . Al-Albani dalam penyelidikannya di Mishkat 3/1495 nr. 5429 mengatakan sanadnya Lemah. Tapi sebagaimana biasa dia bertentangan dengan perkata- annya dengan membenarkannya dalam Shahihah 2/415 nr. 772 !</p>
<p>An example of al-Albani praising someone in one place and then disparaging him in another place in his books</p>
<p>Contoh (Sifat) dari Al-Albani ialah pertama memuji seseorang disatu tempat dibukunya dan dilain tempat mengecilkan orang tersebut.!!</p>
<p>No 27 : (* Pg. 32 ) He praises Shaykh Habib al-Rahman al-Azami in the book &#8216;Shohih al Targhib wa Tarhib, page 63&#8242;, where he says: &#8220;I want you to know one of the things that encouraged me to. . . . which has been commented by the famous and respected scholar Shaykh Habib al-Rahman al-Azami&#8221; . . . . And he also said on the same page, &#8220;And what made me more anxious for it, is that its checker, the respected Shaykh Habib al-Rahman al-Azami has announced. . . .&#8221; Al-Albani thus praises Shaykh al-Azami in the above mentioned book; but then makes a contradiction in the introduction to &#8216;Adaab uz Zufaaf (The Etiquettes of Marriage and Wedding), new edition page 8&#8242;, where he said: &#8220;Al-Ansari has used in the end of his letter, one of the enemies of the Sunnah, Hadith and Tawhid, who is famous for that, is Shaykh Habib al-Rahman al-Azami. . . . . For his cowardliness and lack of scholarly deduction. . . ..&#8221;</p>
<p>No.27    (Hal. 32) Dia (Albani) memuji Syeikh Habib al-Rahman al-Azami didalam Shahih al Targhib wa Tarhib hal. 63 yang mana katanya ; “Saya ingin agar engkau mengetahui satu dari beberapa hal bahwa saya memberanikan diri untuk&#8230;.yang dikomentari oleh ulama yang terkenal dan terhormat Syeikh Habib al-Rahman al-Azami “&#8230;. dan dia (Albani) mengatakan pada halaman yang sama “Dan apa yang membuat saya rindu untuknya, orang yang menyelidiki sesuatu dan mengumumkannya yaitu yang terhormat Syeikh Habib al-Rahman al-Azami “.  Al-Albani memuji Syeikh al-Azami dalam buku yang tersebut diatas. Tapi kemudian membuat penyangkalan dalam ‘Adaab uz Zufaaf (Akhlak Perkawinan dan Pernikahan), edisi baru hal.8 yang dia berkata;  Al-Ansari telah membiasakan akhir dari tulisannya, salah satu musuh dari Sunnah, Hadits dan Tauhid, yang cukup terkenal , ialah Syaikh Habib al-Rahman al-Azami&#8230;&#8230;karena ketakutan dan kekurangan ilmunya&#8230;.””</p>
<p>NB &#8211; (The above quotation from Adaab uz Zufaaf is not found in the English translation by his supporters, which shows that they deliberately avoided translating certain parts of the whole work). So have a glance at this!</p>
<p>NB: (Kutipan diatas dari ‘Adaab uz Zufaaf , tidak terdapat didalam terjemahan bahasa Inggris oleh pendukung-pendukungnya yang mana menunjukkan bahwa mereka dengan sengaja tidak mau menterjemahkan bagian-bagian tertentu). Ini perlu diperhatikan !</p>
<p>SELECTED TRANSLATIONS FROM VOLUME 2</p>
<p>Terjemahan-terjemahan pilihan dari jilid (volume) 2</p>
<p>No 28 : (* Pg. 143 no. 1 ) Hadith of Abi Barza (Allah be pleased with him): &#8220;By Allah, you will not find a man more just than me&#8221; (Sunan al-Nisai, 7/120 no. 4103). Al-Albani said that this Hadith was SHOHIH in &#8220;Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 6/105 no. 6978&#8243;, and then he astonishingly contradicts himself by saying it is DAEEF in &#8220;Daeef Sunan al-Nisai, pg. 164 no. 287.&#8221; So beware of this mess!</p>
<p>No.28     (Hal.143 nr.1) Hadits dari Abi Barza ra: “ Demi Allah, Engkau tidak akan menemukan seorang  lebih benar dari saya “(Sunan Al-Nisai 7/120 nr. 4103) Al-Albani berkata bahwa hadits ini Shohih dalam Shohih Al-Jami wa Ziyadatuh 6/105 nr.6978 dan kemudian lebih mengherankan dia bertentang- an dengan perkataannya dalam Daeef Sunan Al-Nisai hal. 164 nr. 287 yang mengatakan itu Lemah. HATI-HATILAH DARI PENGACAUN INI !</p>
<p>No 29 : (* Pg. 144 no. 2 ) Hadith of Harmala ibn Amru al-Aslami from his Uncle: &#8220;Throw pebbles at the Jimar by putting the extremity of the thumb on the fore-finger.&#8221; (Shohih Ibn Khuzaima, 4/276-277 no. 2874) Al-Albani acknowledged its weakness in &#8220;Shohih Ibn Khuzaima&#8221; by saying that the sanad was DAEEF, but then contradicts himself by saying it is SHOHIH in &#8220;Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 1/312 no. 923!&#8221;</p>
<p>No 29    (Hal. 144 nr. 2) Hadits dari Harmala ibn Amru al-Aslami dari pamannya: “Letakkanlah batu kerikil pada ujung ibu jari diatas jari depan (telunjuk) pada lemparan jumrah “ (Shohih Ibn Khuzaima, 4/276-277 nr.2874). Al-Albani memberitahu kelemahan ini (hadits) dalam Shohih Ibn Khuzaima sambil mengatakan sanad hadits ini Lemah, tapi kemudian dia bertentangan sendiri  yang mengatakan Shohih dalam &#8220;Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 1/312 no. 923 !&#8221;</p>
<p>No 30 : (* Pg. 144 no. 3 ) Hadith of Sayyidina Jabir ibn Abdullah (Allah be pleased with him): &#8220;The Prophet (Peace be upon him) was asked about the sexually defiled [junubi]. . . can he eat, or sleep. . . He said :&#8217;Yes, when this person makes wudhu.&#8217;&#8221; (Ibn Khuzaima no. 217 and Ibn Majah no. 592). Al-Albani has admitted its weakness in his comments on &#8220;Ibn Khuzaima, 1/108 no. 217&#8243;, but then contradicts himself by correcting the above Hadith in &#8220;Shohih Ibn Majah, 1/96 no. 482 &#8220;!!</p>
<p>No 30    (Hal. 144 nr.3) Hadits dari Sayyidina Jabir ibn Abdullah ra. : “Rasulallah saw. ditanyai tentang Junub (orang yang belum suci setelah bersetubuh) &#8230;apa boleh dia makan atau tidur&#8230;Beliau saw. bersabda : Boleh, bila orang ini wudu dahulu “ (Ibn Khuzaima nr. 217 dan Ibn Majah nr.592). Al-Albani telah mengikrarkan kelemahannya didalam komentarnya di Ibn Khuzaima 1/108 nr. 217, Tetapi kemudian kontradiksi sendiri dengan membenarkan hadits tersebut dalam Shohih Ibn Majah 1/96 nr. 482).</p>
<p>No 31 : (* Pg. 145 no. 4 ) Hadith of Aisha (Allah be pleased with her): &#8220;A vessel as a vessel and food as food&#8221; (Nisai, 7/71 no. 3957). Al-Albani said that it was SHOHIH in &#8220;Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 2/13 no. 1462&#8243;, but then contradicts himself in &#8220;Daeef Sunan al-Nisai, no. 263 pg. 157&#8243;, by saying it is DAEEF!!!</p>
<p>No. 31   (Hal.145 nr.4)    Hadits dari Aisyah ra ; “ Perahu sebagai perahu (berlayar) dan makanan sebagai makanan “ (Nasai 7/71 nr. 3957). Al-Albani mengatakan hadits ini Shohih dalam Shohih al-Jami wa Ziyadatuh 2/13 nr.1462, tetapi kemudian menyangkal sendiri dengan mengatakan Lemah dalam Daeef Sunan al-Nisai nr. 263 hal. 157. !!</p>
<p>No 32 : (* Pg. 145 no. 5 ) Hadith of Anas (Allah be pleased with him): &#8220;Let each one of you ask Allah for all his needs, even for his sandal thong if it gets cut.&#8221; Al-Albani said that the above Hadith was HASAN in his checking of &#8220;Mishkat, 2/696 no. 2251 and 2252&#8243;, but then contradicts himself in &#8220;Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 5/69 no. 4947 and 4948&#8243;!!!</p>
<p>No 32    (Hal.145 nr. 5) Hadits dari Anas ra : “Mintalah setiap kamu pada Allah semua yang engkau butuhkan walaupun mengenai tali sandalnya bila telah putus” Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini Hasan dalam penyelidik- annya di Mishkat 2/696 nr. 2251 dan 2252, tetapi kemudian dia bertentangan sendiri dalam Daeef al-jami wa Ziyadatuh 5/69 nr. 4947 dan 4948 !!</p>
<p>No 33 : (* Pg. 146 no. 6 ) Hadith of Abu Dharr (Allah be pleased with him): &#8220;If you want to fast, then fast in the white shining nights of the 13th, 14th and 15th.&#8221; Al-Albani declared it to be DAEEF in &#8220;Daeef al-Nisai, pg. 84&#8243; and in his comments on &#8220;Ibn Khuzaima, 3/302 no. 2127&#8243;, but then contradicts himself by calling it SHOHIH in &#8220;Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 2/10 no. 1448&#8243; and also corrected it in &#8220;Shohih al-Nisai, 3/902 no. 4021&#8243;!! So what a big contradiction!</p>
<p>NB- (Al-Albani mentioned this Hadith in &#8216;Shohih al-Nisai&#8217; and in &#8216;Daeef al-Nisai&#8217;, which proves that he is unaware of what he has and is classifying, how inept!).</p>
<p>No. 33 (Hal.146 nr.6) Hadits dari Abu Dzar ra : “Bila engkau ingin berpuasa, maka puasalah pada bulan purnama tanggal 13, 14 dan 15 “ . Al-Albani menyatakan hadits ini Lemah dalam Daeef al-Nisai hal. 84 dan dalam komentarnya di Ibn Khuzaima 3/302 nr. 2127. Tetapi kemudian kontradiksi sendiri yang menyebutnya Shohih dalam Shohih al-Jami wa Ziyadatuh 2/10 nr. 1448 dan pula membenarkan itu dalam Shohih al-Nisai  3/902 nr. 4021 !!  Ini adalah kontradiksi yang besar !</p>
<p>NB: (Al-Albani menyebutkan hadits ini dalam Shohih al-Nisai dan dalam Daeef al-Nisai, ini semua menunjukkan bahwa dia tidak hati-hati/ceroboh atas apa yang telah dia perbuat, semuanya tidak layak)</p>
<p>No 34 : (* Pg. 147 no. 7 )Hadith of Sayyida Maymoonah (Allah be pleased with her): &#8220;There is nobody who has taken a loan and it is in the knowledge of Allah. . . .&#8221; (Nisai, 7/315 and others). Al-Albani said in &#8220;Daeef al-Nisai, pg 190&#8243;: &#8220;Shohih, except for the part al-Dunya.&#8221; Then he contradicts himself in &#8220;Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 5/156&#8243;, by saying that the whole Hadith is SHOHIH, including the al-Dunya part. So what an amazing contradiction!</p>
<p>No.34    (Hal. 147 nr.7) Hadits dari Siti Maymunah ra ; “ Tidak seorangpun yang menerima pinjaman dan itu (selalu)dalam pengetahuan Allah” (Nisai, 7/315 dan lain-lain). Al-Albani berkata dalam Daeef al-Nisai hal.190 ; ‘Shohih, kecuali bagian al-Dunya’. Kemudian dia menayangkal sendiri dalam Shohih al Jami wa Ziyadatuh 5/156, dengan mengatakan bahwa semua Hadits ini Shohih termasuk bagian al-Dunya. Ini kontradiksi yang sangat menakjubkan !</p>
<p>No 35 : (* Pg. 147 no. 8 )Hadith of Burayda (Allah be pleased with him): &#8220;Why do I see you wearing the jewellery of the people of hell&#8221; (Meaning the Iron ring), [Nisai, 8/172 and others. . .]. Al-Albani has said that it was SHOHIH in &#8220;Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 5/153 no. 5540&#8243;, but then contradicts himself by saying it is DAEEF in &#8220;Daeef al-Nisai, pg. 230&#8243;!!!</p>
<p>No.35    (Hal. 147 nr. 8)  Hadits dari Buraidah ra: “Mengapa saya melihat engkau memakai perhiasan dari penghuni neraka (Maksudnya cincin besi)”. (Nisai 8/172 dan lain-lainnya&#8230;.). Al-albani telah mengatakan hadits in Shohih dalam Shahih al-jami wa Ziyadatuh 5/153 nr. 5540. Tetapi kemudian dia menyangkal sendiri dengan mengatakan Lemah dalam Daeef al-Nisai hal.230) !</p>
<p>No 36 : (* Pg. 148 no. 9 )Hadith of Abu Hurayra (Allah be pleased with him): &#8220;Whoever buys a carpet to sit on, he has 3 days to keep it or return it with a cup of dates that are not brownish in colour&#8221; (Nisai 7/254 and others). Al-Albani has weakened it with reference to the &#8217;3 days&#8217; part in &#8220;Daeef Sunan al-Nisai, pg. 186&#8243;, by saying: &#8220;Correct, except for 3 days.&#8221; But the &#8216;genius&#8217; contradicts himself by correcting the Hadith and approving the &#8217;3 days&#8217; part in &#8220;Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 5/220 no. 5804&#8243;. So wake up (al-Albani)!!</p>
<p>No.36    (Hal.148 nr. 9) Hadits dari Abu Huraira ra ; “ Siapapun membeli permadani untuk diduduki, dia mempunyai waktu tiga hari untuk menyimpan- nya atau mengembalikannya dalam beberapa waktu selama warnanya tidak menjadi coklat (karena kotor) ”. (Nisai 7/254 dan lain-lainya). Al-Albani telah melemahkan hadits ini pada bagian “tiga hari” dengan menyebut referensi- nya dalam Daeef Sunan al-nisai hal. 186, sambil katanya “Benar/Shohih kecuali kata-kata tiga hari”.Tetapi ‘orang cerdik ini’ menyangkal sendiri dengan membenarkan hadits itu dan termasuk bagian kata-kata “tiga hari” dalam Shohih al-jami wa Ziyadatuh 5/220 nr. 5804“. Bangunlah hai al-Albani!</p>
<p>No 37 : (* Pg. 148 no. 10 )Hadith of Abu Hurayra (Allah be pleased with him): &#8220;Whoever catches a single rak&#8217;ah of the Friday prayer has caught (the whole prayer).&#8221; (Nisai 3/112, Ibn Majah 1/356 and others). Al-Albani has weakened it in &#8220;Daeef Sunan al-Nisai, no. 78 pg. 49&#8243;, where he said: &#8220;Abnormal (shadh), where Friday is mentioned.&#8221; He then contradicts himself by saying SHOHIH, including the Friday part in &#8220;Irwa, 3/84 no. 622 .&#8221; May Allah heal you!</p>
<p>No.37    (Hal. 148 nr.10) Hadits Abu Hurairah ra : “Siapapun yang mendapati satu raka’at dari Sholat Jum’at itu telah memadainya  (untuk semua sholat)”. (Nisai 3/112, Ibn Majah 1/356 dan lain-lainnya). Al-Albani telah melemahkan ini dalam Daeef Sunan al-Nisai, nr. 78 hal. 49, dimana dia telah berkata; ‘Luar biasa (shadh), bilamana disitu disebutkan hari jumat’. Kemudian dia kontradiksi sendiri dengan mengatakan Shohih termasuk bagian hari Jum’at dalam Irwa, 3/84 nr. 622 !!  Semoga Allah menyembuhkanmu !</p>
<p>AL-Albani and his Defamation and Authentication of Narrators at will !</p>
<p>Al-Albani dan Fitnahannya Dan Perawi-perawi yang dipercaya kesenangannya !</p>
<p>No 38 : (* Pg 157 no 1 ) KANAAN IBN ABDULLAH AN-NAHMY :- Al-Albani said in his &#8220;Shohihah, 3/481&#8243; : &#8220;Kanaan is considered Hasan, for he is attested by Ibn Ma&#8217;een.&#8221; Al-Albani then contradicts himself by saying, &#8220;There is weakness in Kanaan&#8221; (see &#8220;Daeefah, 4/282&#8243;)!!</p>
<p>No 38    (Hal. 157 nr.1) Kanan Ibn Abdullah An-Nahmy : Al-Albani berkata dalam Shohihah, 3/481 ; “Kanaan telah dianggap sebagai Hasan, untuk itu telah dinyatakan oleh Ibn Ma’een. Kemudian Al-Albani menyangkal sendiri dengan katanya “ Ada kelemahan pada Kanaan” (lihat Daeefah, 4/282) !!</p>
<p>No 39 : (* Pg. 158 no. 2 ) MAJA&#8217;A IBN AL-ZUBAIR :- Al-Albani has weakened Maja&#8217;a in &#8220;Irwa al-Ghalil, 3/242&#8243;, by saying, &#8220;This is a weak sanad because Ahmad has said: &#8216;There is nothing wrong with Maja&#8217;a', and Daraqutni has weakened him. . .&#8221; Al-Albani then made a contradiction in his &#8220;Shohihah, 1/613&#8243; by saying: &#8220;His men (the narrators) are trusted except for Maja&#8217;a who is a good narrator of Hadith.&#8221; An amazing contradiction!</p>
<p>No 39    (Hal.158. nr.2) Maja’a Ibn Al-Zubair : Al-Albani telah melemahkan Maja’a dalam Irwa al-Ghalil, 3/242, dengan katanya. “ Ini adalah sanad yang lemah sebab Ahmad telah berkata ‘ Tidak ada kesalahan dengan Maja’a, dan Daraqutni telah melemahkan dia&#8230;’“. Al-Albani telah membuat kontradiksi dalam bukunya Shohihah 1/613 dengan mengatakan “ Perawi-perawinya bisa dipecaya kecuali Maja’a, itu seorang perawi hadits yang baik“. Suatu pertentangan yang menakjubkan !!!</p>
<p>No 40 : (* Pg. 158 no. 3 ) UTBA IBN HAMID AL-DHABI :- Al-Albani has weakened him in &#8220;Irwa al-Ghalil, 5/237&#8243; by saying: &#8220;And this is a weak (Daeef) sanad which has three defects. . . . the second defect is the weakness of al-Dhabi, the Hafiz said: &#8216;A truthful narrator with hallucinations&#8217;&#8221;. Al-Albani then makes an obvious contradiction in &#8220;Shohihah, 2/432&#8243;, where he said about a sanad which mentions Utba: &#8220;And this is a good (Hasan) sanad, Utba ibn Hamid al-Dhabi is trustworthy but has hallucinations, and the rest of the narrators in the sanad are trusted.&#8221; !!</p>
<p>No 40  (Hal. 158 nr.3) Utba Ibn Hamid Al-Dhabi; Al-Albani telah melemahkan dia dalam Irwa al-Ghalil 5/237 sambil katanya ; “ Dan ini adalah sanad lemah yang mempunyai tiga kekeliruan&#8230;.kekeliruan kedua ialah kelemahan dari al- Dhabi, Hafiz berkata ; ‘ Seorang perawi jujur dengan khayalan’ . Kemudian Al-Albani  membuat kontradiksi yang nyata dalam Shohihah 2/432, dimana dia ber- kata tentang sanad yang menyebut Utba; ”Dan ini sanad yang baik (Hasan), Utba ibn Hamid al-Dhabi dapat dipercaya&#8230;..tapi mempunyai khayalan, dan lain daripada sanad perawi itu semuanya dapat dipercaya”.</p>
<p>No 41: (* Pg. 159 no. 4 )HISHAM IBN SA&#8217;AD :- Al-Albani said in his &#8220;Shohihah, 1/325&#8243;: &#8220;Hisham ibn Sa&#8217;ad is a good narrator of Hadith.&#8221; He then contradicts himself in &#8220;Irwa al-Ghalil, 1/283&#8243; by saying: &#8220;But this Hisham has a weakness in memorizing&#8221; So what an amazement !!</p>
<p>No 41  (Hal. 159 nr. 4) Hisham Ibn Sa’ad ; Al-Albani berkata dalam Shohihah 1/325; “ Hisham ibn sa’ad ialah perawi hadits yang baik”. Kemudian dia bertentangan sendiri dalam Irwa al-Ghalil 1/283 sambil katanya ; “Tapi Hisham ini lemah dalam hafalan”. Sesuatu yang mengherankan !!</p>
<p>No 42 : (* Pg. 160 no. 5 ) UMAR IBN ALI AL-MUQADDAMI :- Al-Albani has weakened him in &#8220;Shohihah, 1/371&#8243;, where he said: &#8220;He in himself is trusted but he used to be a very bad forger, which makes him undependable. . . .&#8221; Al-Albani then contradicts himself again in &#8220;Shohihah, 2/259&#8243; by accepting him and describing him as being trustworthy from a sanad which mentions Umar ibn Ali. Al-Albani says: &#8220;Classified by Hakim, who said: &#8216;A Shohih Isnad (chain of transmission)&#8217;, and al-Dhahabi went along with it, and it is as they have said.&#8221; So what an amazement !!!</p>
<p>No 42  (Hal.160 nr. 5) Umar Ibn Ali Al-Muqaddami ; Al-albani telah melemahkan dia dalam Shohihah 1/371, dimana dia berkata ; “ Dia merasa dirinya bisa dipercaya, tapi dia sebagai Pemalsu yang sangat jelek, dengan menjadikan dirinya tidak dipercayai&#8230;” Al-Albani membuat kontradiksi baru lagi dalam Shohihah 2/259 mengakui dia (Umar ibn Ali) dan mengatakan bila ada sanad yang menyebut Umar Ibn Ali maka bisa dipercayainya. Al-Albani berkata “ Diklasifikasikan oleh Hakim yang mana berkata : “Shohih isnadnya” (rantaian perawinya) dan Al-Dhahabi mengakuinya juga dan mereka (berdua) mengatakan demikian adalah benar “. Itu sangat mengherankan !</p>
<p>No 43: (* Pg. 160 no. 6 )ALI IBN SA&#8217;EED AL-RAZI :- Al-Albani has weakened him in &#8220;Irwa, 7/13&#8243;, by saying: &#8220;They have said nothing good about al-Razi.&#8221; He then contradicts himself in another &#8216;fantastic&#8217; book of his, &#8220;Shohihah, 4/25&#8243;, by saying: &#8220;This is a good (Hasan) sanad and the narrators are all trustworthy.&#8221; So beware !!!</p>
<p>No 43 (Hal. 160. nr. 6) Ali Ibn Sa’eed Al-Razi ; Al-Albani telah melemahkan dia dalam Irwa 7/13, dengan katanya : “Mereka telah mengatakan tidak ada yang benar tentang al-Razi” Dia kemudian menyangkal sendiri  dalam ‘buku lainnya yang  ‘indah/hebat’ Shohihah, 4/25, sambil mengatakan “Ini adalah baik (Hasan) sanadnya dan perawi-perawinya semua bisa dipercaya”. Berhati-hatilah !!</p>
<p>No 44: (* Pg. 165 no. 13 ) RISHDIN IBN SA&#8217;AD :- Al-Albani said in his &#8220;Shohihah, 3/79&#8243; : &#8220;In it (the sanad) is Rishdin ibn Sa&#8217;ad, and he has been declared trustworthy.&#8221; But then he contradicts himself by declaring him to be DAEEF in &#8220;Daeefah, 4/53&#8243;; where he said: &#8220;And Rishdin ibn Sa&#8217;ad is also daeef.&#8221; So beware!!</p>
<p>No 44: (Hal. 165 nr. 13) Rishdin Ibn Sa’ad : Al-Albani berkata dalam Shohihah 3/79 : “ Ada dalam sanad Rishdin ibn Sa’ad, dan dia telah menyatakan bisa dipercaya”. Tetapi kemudian dia bertentangan sendiri dalam penyataannya yang mengatakan Lemah tentang dia (Rishdin) dalam Daeefah 4/53, dimana dia berkata : “dan Rishdin ibn Sa’ad ini juga lemah “. BERHATI-HATILAH !!</p>
<p>No 45: (* Pg. 161 no. 8 ) ASHAATH IBN ISHAQ IBN SA&#8217;AD :- What an amazing fellow this Shaykh!! Al-Albani!! Proves to be. He said in &#8220;Irwa al-Ghalil, 2/228&#8243;: &#8220;His status is unknown, and only Ibn Hibban trusted him.&#8221; But then he contradicts himself by his usual habit! Because he only transfers from books and nothing else, and he copies without knowledge; this is proven in &#8220;Shohihah, 1/450&#8243;, where he said about Ashaath: &#8220;Trustworthy&#8221;. So what an amazement !!!</p>
<p>No 45 (Hal. 161 nr. 8)  Ashaath Ibn Ishaq Ibn Sa’ad : Betapa mengherankan lelaki (Al-Albani) ini !! Terbukti, dia berkata dalam Irwa al-Ghalil 2/228, “Keadaannya/statusnya tidak dikenal, dan hanya Ibn Hibban mempercayai dia”. Tetapi kemudian dia bertentangan sendiri, seperti kebiasaannya! Karena dia hanya mengalihkan/menyalin dari buku-buku dan tidak ada lain- nya, dan dia mengutip/menyalin tanpa adanya ilmu pengetahuan. Ini dibukti- kan dalam Shohihah 1/450, dimana dia berkata tentang Ashaath : “Dapat dipercaya”. Keajaiban yang luar biasa!!</p>
<p>Nr.46: (* Pg. 162 no. 9 ) IBRAHIM IBN HAANI :- The honourable!! The genius!! The copier!! Has made Ibrahim ibn Haani trustworthy in one place and has then made him unknown in another. Al-Albani said in &#8216;Shohihah, 3/426&#8242;: &#8220;Ibrahim ibn Haani is trustworthy&#8221;, but then he contradicts himself in &#8220;Daeefah, 2/225&#8243;, by saying that he is unknown and his Ahadith are refused!!</p>
<p>No 46:  (Hal.162 nr.9) Ibrahim Ibn Haani : “Paling terhormat ! Paling Pandai ! Tukang Menyalin ! Dia (Albani) telah membuat Ibn Haani ‘dapat dipercaya‘ disatu tempat dan membuat dia ‘tidak dikenal’ ditempat lainnya.. Al-Albani berkata dalam Shohihah 3/426; “ Ibrahim ibn Haani ialah dapat dipercaya”, tetapi kemudian dia bertentangan sendiri dalam Daeeah, 2/225 dengan katanya “bahwa dia itu tidak dikenal dan haditsnya itu tertolak ! “.</p>
<p>No 47: (* Pg. 163 no. 10 ) Al-Ijlaa Ibn Abdullah Al-Kufi : Al-Albani has corrected a sanad by saying it is good in &#8220;Irwa, 8/7&#8243;, with the words: &#8220;And its sanad is good, the narrators are trustworthy, except for Ibn Abdullah al-Kufi who is truthful.&#8221; He then contradicts himself by weakening the sanad of a Hadith where al-Ijlaa is found and has made him the reason for declaring it DAEEF (see &#8216;Daeefah, 4/71&#8242;); where he said: &#8220;Ijlaa ibn Abdullah has a weakness.&#8221; Al-Albani then quoted Ibn al-Jawzi&#8217;s (Rahimahullah) words by saying: &#8220;Al-Ijlaa did not know what he was saying .&#8221;!!!</p>
<p>No 47:  (Hal. 163 nr. 10) Al-Ijlaa Ibn Abdullah Al-Kufi ; Al-Albani memperbaiki sanad sambil mengatakan itu baik dalam Irwa 8/7, dengan kata-kata : “ Dan sanad tersebut adalah baik , perawi-perawi semua dapat dipercaya, kecuali Ibn Abdullah al-Kufi dia adalah jujur “. Dia kemudian kontradiksi sendiri dengan melemahkan sanad dari hadits yang diketemukan al-Ijlaa dan dia membuat alasan baginya untuk menyatakannya lemah (lihat Daeefah 4/71) , dimana dia berkata: “ Ijlaa ibn Abdullah mempunyai kelemahan “ Al-Albani menukil kata-kata Ibn al-Jawzi’s (Rahimahullah) yang berkata ; “ Al-Ijlaa tidak mengetahui apa yang dia katakan “ !!!</p>
<p>No 48: (* Pg. 67-69 ) ABDULLAH IBN SALIH : KAATIB AL-LAYTH :- Al-Albani has criticised Al-Hafiz al-Haythami, Al-Hafiz al-Suyuti, Imam Munawi and the Muhaddith Abu&#8217;l-Fadl al-Ghimari (Allah&#8217;s mercy be upon them) in his book &#8220;Silsilah al-Daeefah, 4/302&#8243;, when checking a Hadith containing the narrator Abdullah ibn Salih. He says on page 300: &#8220;How could Ibn Salih be all right and his Hadith be good, even though he has got many mistakes and is of little awareness, which also made some fraudulent Hadiths enter his books, and he narrates them without knowing about them!&#8221; He has not mentioned that Abdullah ibn Salih is one of Imam al-Bukhari&#8217;s men (i.e. used by al-Bukhari), because it does not suit his mode, and he does not state that Ibn Ma&#8217;een and some of the leading critics of Hadith have trusted him. Al-Albani has contradicted himself in other places in his books by making Hadiths containing Abdullah ibn Salih to be good, and here they are :- Al-Albani said in &#8220;Silsilah al-Shohihah, 3/229&#8243; : &#8220;And so the sanad is good, because Rashid ibn Sa&#8217;ad is trustworthy by agreement, and who is less than him in the men of Shohih, and there is also Abdullah ibn Salih who has said things that are unharmful with Allah&#8217;s help!!&#8221;.&#8221;</p>
<p>Al-Albani also said in &#8220;Shohihah, 2/406&#8243; about a sanad which contained Ibn Salih: &#8220;a good sanad in continuity.&#8221; And again in &#8220;Shohihah, 4/647&#8243;: &#8220;He&#8217;s a proof with continuity”</p>
<p>NB- (Shaykh Saqqaf then continued with some important advice, this has been left untranslated for brevity but one may refer to the Arabic for further elaboration). By the grace of Allah, this is enough from the books of Shaykh Saqqaf to convince any seeker of the truth, let alone the common folk who have little knowledge of the science of Hadith. If anyone is interested for hundreds of other similar quotes from Shaykh Saqqaf, then I suggest you write to the following address to obtain his book Tanaqadat al-Albani al-Wadihat (The Clear Contradictions of al-Albani).</p>
<p>No 48:  (Hal. 67-69) Abdullah Ibn Salih: Kaatib Al-Layth: Al-albani telah mengeritik Al-Hafiz al-Haitami, Al-Hafiz al-Suyuti, Imam Munawi dan ahli hadits Abu’l-Fadzl al-Ghimari (rh) dalam bukunya Silsilah al-Daeefah 4/302, waktu mengontrol hadits yang didalamnya ada perawi Abdullah ibn Salih. Dia  (Albani) berkata pada halaman 300 ; “Bagaimana dapat Ibn Salih menjadi benar dan haditsnya menjadi baik, dia sendiri sangat banyak membuat kesalahan dan yang mana juga memasukkan beberapa hadits palsu didalam bukunya, dan dia meyebutkan sanad-sanadnya tapi dia sendiri tidak mengenal mereka.”</p>
<p>Dia (Albani) tidak menyebutkan bahwa Abdullah Ibn Salih ialah salah satu orang dari orang-orangnya Imam Bukhori (yaitu dipakai oleh Bukhori), karena (Albani) tidak cocok dengan caranya (Albani) dan dia (Albani) tidak menyebutkan bahwa Ibn Ma’een dan beberapa kritikus dari hadits telah mempercayai dia (Abdullah Ibn Salih). Al-Albani telah berlawanan dengan perkataannya sendiri, dalam tempat lain dibuku-bukunya telah mengatakan bahwa semua hadits yang diketengahkan Abdullah ibn Salih adalah baik, sebagai berikut :</p>
<p>Al-Albani berkata dalam de Silsilah Al-Shohihah, 3/229 : “ Dan sanad itu baik, karena Rashid ibn Saad telah disepakati dapat dipercaya dan lebih rendah dari dia dalam lingkungan orang-orang yang Shohih dan juga Abdullah ibn Salih telah mengatakan sesuatu yang tidak bahaya dengan bantuan Allah “Al-Albani juga berkata dalam Shohihah 2/406 mengenai sanad yang didalamnya ada Ibn Salih  “sanad berkesinambungan yang baik” Dan lagi  dalam Shohihah 4/647;  “Dia adalah bukti dalam berkesinambungan”</p>
<p>NB: (kemudian Syeikh Seggaf meneruskan dengan beberapa wejangan yang penting, demi keringkasan sengaja tidak diterjemahkan , tetapi bila orang ingin merujuknya bisa lihat bahasa Arabnya). Dengan karunia Allah, ini telah cukup dari buku-buku Syeikh Seggaf untuk meyakinkan siapa saja yang mencari kebenaran, biarkan orang-orang itu sendiri  bersama-sama mengetahui sedikit tentang ilmu hadits. Bila ada orang tertarik untuk mendapatkan buku yang didalamnya ada  ratusan kutipan yang serupa (tentang Al-Albani) yang berjudul Tanaqadat Al-Albani Al-Wadihat  silahkan anda menulis kealamat: IMAM AL-NAWAWI HOUSE POSTBUS 925393 AMMAN JORDAN.</p>
<p>Setelah kita menyimak berbagai contoh kesalahan dan penyimpangan yang dilakukan dengan sengaja atau tidak oleh ‘Yang Terhormat Al-Muhaddis Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani’ oleh ‘Al-Alamah Syeikh Muhamad  Ibn Ali Hasan As-Saqqof’ dimana dalam kitabnya tersebut beliau (Rahima- hullah) menunjukkan ± 1200 kesalahan dan penyimpangan dari Syeikh Al-Albani dalam kitab-kitab yang beliau tulis seperti contoh diatas. Maka kita bisa menarik kesimpulan bahwa bidang ini tidak dapat digeluti oleh sembarang orang, apalagi yang tidak memenuhi kualifikasi sebagai seorang yang layak untuk menyadang gelar ‘Al-Muhaddits’ (Ahli Hadits) dan tidak memperoleh pendidikan formal dalam bidang ilmu hadits dari Universitas-universitas Islam yang terkemuka dan ‘Para Masyaik’h yang memang ahli dalam bidang ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bicarasalafy.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bicarasalafy.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bicarasalafy.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bicarasalafy.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bicarasalafy.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bicarasalafy.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bicarasalafy.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bicarasalafy.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bicarasalafy.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bicarasalafy.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bicarasalafy.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bicarasalafy.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bicarasalafy.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bicarasalafy.wordpress.com/417/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=417&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/12/01/kesalahan-kesalahan-syeikh-al-albani-dalam-melemahkan-suatu-hadits/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/257bb80357a13f2016c61cc444aa4943?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bicarasalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mesranya Tentara Arab Saudi Dan Amerika.</title>
		<link>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/11/20/mesranya-tentara-arab-saudi-dan-amerika/</link>
		<comments>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/11/20/mesranya-tentara-arab-saudi-dan-amerika/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Nov 2011 04:39:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bicarasalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bloger Bicara Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Imam Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bicarasalafy.wordpress.com/?p=412</guid>
		<description><![CDATA[Mesranya Tentara Arab Saudi Dan Amerika. SUMBER: http://salafytulen.wordpress.com Raja Abdullah, pemimpin Arab Saudi dikenal dekat dengan AS. Bahkan terhadap mantan presiden AS George W. Bush, Raja Abdullah banyak memberikan bantuan secara finansial dan juga keleluasaan dalam menentukan kebijakan militer AS dan Barat di Arab Saudi yang juga berimbas pada kawasan Timur Tengah. Tidak jauh dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=412&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"><strong>Mesranya Tentara Arab Saudi Dan Amerika.</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span> <a href="http://salafytulen.wordpress.com/2010/05/07/mesranya-tentara-saudi-dan-amerika/" target="_blank">http://salafytulen.wordpress.com</a></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Raja Abdullah,<a href="http://abusalafy.wordpress.com/2010/07/20/kedubes-arab-saudi-washington-70-tahun-hubungan-mesra-arab-saudi-yang-salafy-dengan-amerika/" target="_blank"> pemimpin Arab Saudi dikenal dekat dengan AS</a>. Bahkan terhadap mantan<a href="http://abusalafy.wordpress.com/2009/12/16/potret-ketaqwaan-raja-arab-saudi-al-wahhabi-al-salafy/" target="_blank"> presiden AS George W. Bush</a>, Raja Abdullah banyak memberikan bantuan secara finansial dan juga keleluasaan dalam menentukan kebijakan militer AS dan Barat di Arab Saudi yang juga berimbas pada kawasan Timur Tengah.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak jauh dengan rajanya, tentara Arab Saudi pun mau tak mau menjadi akrab dengan tentara AS. Ibaratnya, guru kencing berdiri, ya murid pun kencing berlari. Mereka sering mengadakan acara bersama. Mulai latihan perang bersama, sampai acara santai. Berikut foto-foto yang menunjukan betapa “mesranya” hubungan antara tentara AS dan Arab Saudi.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-412"></span></p>
<p><img class="aligncenter" src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/internasional/1americansaudi.jpg" alt="" width="370" /></p>
<p style="text-align:center;">Seorang komandan tentara Saudi menyambut kedatangan para tentara AS.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/abfoto/1americansaudi2.jpg" alt="" width="370" /></p>
<p style="text-align:center;">Para pembesar militer AS tengah menyusun rencana, sementara tentara-tentara Saudi Arabia merubunginya.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/abfoto/1americansaudi4.jpg" alt="" width="370" /></p>
<p style="text-align:center;">“Nih lihat, iPhone terbaru. Di sini  udah ada belum?” Mungkin begitu kata si tentara AS pamer <em>gadget</em> terbarunya.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/abfoto/1americansaudi5.jpg" alt="" width="370" /></p>
<p style="text-align:center;">Dua komandan berbeda negara, berbeda ideologi saling menjabat tangan dalam acara sarasehan.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/abfoto/1americansaudi6.jpg" alt="" width="370" /></p>
<p style="text-align:center;">“Ha ha ha…. situ bisa aja. Bercandanya jangan kelewatan dong!”</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/abfoto/1americansaudi7.jpg" alt="" width="370" /></p>
<p style="text-align:center;">Seorang perwira AS tengah memberikan briefing pada tentara Saudi.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/abfoto/1americansaudi8f%281%29.jpg" alt="" width="370" /></p>
<p style="text-align:center;">Dan kini, tentara AS pun bebas jalan-jalan atau sekadar olah raga di kota-kota Saudi. Dipandu tentara Saudi lagi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bicarasalafy.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bicarasalafy.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bicarasalafy.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bicarasalafy.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bicarasalafy.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bicarasalafy.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bicarasalafy.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bicarasalafy.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bicarasalafy.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bicarasalafy.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bicarasalafy.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bicarasalafy.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bicarasalafy.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bicarasalafy.wordpress.com/412/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=412&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/11/20/mesranya-tentara-arab-saudi-dan-amerika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/257bb80357a13f2016c61cc444aa4943?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bicarasalafy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/internasional/1americansaudi.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/abfoto/1americansaudi2.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/abfoto/1americansaudi4.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/abfoto/1americansaudi5.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/abfoto/1americansaudi6.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/abfoto/1americansaudi7.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/abfoto/1americansaudi8f%281%29.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Dari Muhammad bin Abdul Wahab hingga Kerajaan Arab Saudi</title>
		<link>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/11/20/dari-muhammad-bin-abdul-wahab-hingga-kerajaan-arab-saudi/</link>
		<comments>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/11/20/dari-muhammad-bin-abdul-wahab-hingga-kerajaan-arab-saudi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Nov 2011 04:16:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bicarasalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bloger Bicara Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Kejahatan Rezim Salafy/Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Pemusyrikan Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Pengkafiran Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Pensesatan Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi Dan Khawarij]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bicarasalafy.wordpress.com/?p=408</guid>
		<description><![CDATA[Dari Muhammad bin Abdul Wahab hingga Kerajaan Arab Saudi SUMBER: http://salafyindonesia.wordpress.com Pada tahun 1800 seluruh Jazirah Arab telah dikuasai. Dan keamiran pun berubah menjadi kerajaan Saudi Arabia. Untuk kesekian kalinya kita dibuat kagum sekaligus benci. Dua sikap psikologis itu beradu. Kita kagum karena lagi-lagi mayoritas muslim dapat menjaga persatuan dalam menghadapi imperialis Inggris yang berusaha [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=408&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Dari Muhammad bin Abdul Wahab hingga Kerajaan Arab Saudi</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span> <a href="http://salafyindonesia.wordpress.com/2007/02/14/dari-ibnu-abdul-wahab-hingga-kerajaan-arab-saudi/" target="_blank">http://salafyindonesia.wordpress.com</a></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 1800 seluruh Jazirah Arab telah dikuasai. Dan keamiran pun berubah menjadi kerajaan Saudi Arabia. Untuk kesekian kalinya kita dibuat kagum sekaligus benci. Dua sikap psikologis itu beradu. Kita kagum karena lagi-lagi mayoritas muslim dapat menjaga persatuan dalam menghadapi imperialis Inggris yang berusaha menguasai berbagai wilayah-wilayah Arab.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita juga benci karena lagi-lagi Salafisme (Wahabisme edisi hard cover) memperagakan ‘teologi horor’ dengan mengusung jargon jihad, membajak kata ‘Ahlussunnah wal Jamaah’. Mazhab ‘kaca mata kuda’ –karena tidak melihat dan menganggap kelompok lain- ini didirikan Muhammad bin Abdul Wahab dari keluarga klan Tamim yang menganut mazhab Hanbali. Ia lahir di desa Huraimilah, Najd, yang kini bagian dari Saudi Arabia, tahun 1111 H [1700 M] masehi, dan meninggal di Dar’iyyah pada tahun 1206 H [1792 M.].</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-408"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ia sangat terpengaruh oleh tulisan-tulisan seorang ulama besar bermazhab Hanbali bernama Ibnu Taimiyah yang hidup di abad ke 4 M.. Untuk menimba ilmu, ia juga mengembara dan belajar di Makkah, Madinah, Baghdad dan Bashrah [Irak], Damaskus {Syria], Iran, Afghanistan dan India. Di Baghdad ia mengawini seorang wanita kaya. Ia mengajar di Bashrah selama 4 tahun. Ketika pulang ke kampung halamannya ia menulis buku yang kemudian menjadi rujukan kaum pengikutnya, “<em>Kitabut’Tauhid</em>“. Para pengikutnya menamakan diri mereka dengan sebutan kaum <em>Al-Muwahhidun</em> (para pengesa Tuhan). Seakan hanya kelompok itulah yang pengesa Allah secara murni tanpa terpolusi dengan kesyirikan. Sedang kelompok-kelompok lain yang tak sepaham mereka anggap sebagai kelompok pelaku syirik, bid’ah dan khurafat yang sesat.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Muhammad bin Abdul Wahab pindah ke Uyaynah. Dalam khotbah-khotbah Jumat di Uyaynah, ia terang-terangan mengkafirkan semua kaum Muslimin yang dianggapnya melakukan bid’ah [inovasi], dan mengajak kaum Muslimin agar kembali menjalankan agama seperti di zaman Nabi. Di kota itu ia mulai menggagas dan meletakkan teologi ultra-puritannya. Ia mengutuk berbagai tradisi dan akidah kaum Muslimin, menolak berbagai tafsir Al-Qur’ân yang dianggapnya mengandung bid’ah atau inovasi. Mula-mula ia menyerang mazhab Syiah (di luar Ahlusunah), lalu kaum Sufi, kemudian ia mulai melanjutkan penyerangan terhadap kaum Ahlusunah secara keseluruhan dengan cara yang brutal. Dengan mengecap mereka dengan berbagai julukan buruk seperti <em>Quburiyuun </em>(pemuja kubur) dikarenakan mereka semua sepakat bahwa kuburan para nabi, rasul dan para kekasih Ilahi (<em>Waliyullah</em>) harus dihormati sesuai ajaran pendahulu (Salaf) yang sesuai dengan ajaran Rasul, para Sahabat setia beliau, juga para Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in.</p>
<p style="text-align:justify;">Tatkala masyarakat mulai merasa seperti duduk di atas bara, Muhammad bin Abdul Wahab diusir oleh penguasa [<em>amir</em>] setempat pada tahun 1774. Ia lalu pindah ke Al-Dar’iyyah, sebuah oase ibu kota keamiran Muhammad bin Sa’ud, masih di Najd Tahun 1744. Di situlah Muhammad bin Abdul Wahab mendapat angin segar dalam menyebarkan ajaran sesatnya. Ia dihidupi, diayomi dan dilindungi langsung oleh sang Amir Dar’iyah, Muhammad bin Saud. Akhirnya Amir Muhammad bin Saud dan Muhammad bin ‘Abdul Wahab saling membaiat dan saling memberi dukungan untuk mendirikan negara teokratik dan mazhab Muhammad bin Abdul Wahab pun dinyatakan sebagai mazhab resmi wilayah kekuasaan Ibnu Saud. Dan Muhammad bin ‘Abdul Wahab akhirnya diangkat menjadi qadhi (hakim agama) wilayah kekuasaan Ibnu Saud. Hubungan keduanya semakin dekat setelah Ibnu Saud berhasil mengawini salah seorang putri Muhammad bin ‘Abdul Wahab.</p>
<p style="text-align:justify;">
Penaklukan dan pembantaian pun dilakukan, terutama terhadap kabilah-kabilah dan kelompok Ahlusunah yang menolak mazhab mereka (Wahaby), hingga terbentuklah sebuah emirat lalu diubah menjadi monarki dengan nama keluarga, Saudi Arabia, sejak tahun 1932 hingga kini.</p>
<p style="text-align:justify;">
Pada bulan April tahun 1801, mereka membantai kaum Syi’ah di kota Karbala’ (salah satu kota suci kaum Syiah di Irak). Seorang penulis Wahabi menuliskan: “Pengikut Ibnu Saud mengepung dan kemudian menyerbu kota itu. Mereka membunuh hampir semua orang yang ada di pasar dan di rumah-rumah. Harta rampasan [<em>ghanimah</em>] tak terhitung Mereka hanya datang pagi dan pergi tengah hari, mengambil semua milik mereka. Hampir dua ribu orang dibunuh di kota Karbala”.</p>
<p style="text-align:justify;">Muhammad Finati, seorang muallaf Italia yang ikut dalam pasukan Khalifah daulah Usmaniyyah yang mengalahkan kaum Wahabi menulis : “Sebagian dari kami yang jatuh hidup-hidup ke tangan musuh yang kejam dan fanatik itu, dipotong-potong kaki dan tangan mereka secara semena-mena dan dibiarkan dalam keadaan demikian. Sebagian dari mereka, aku saksikan sendiri dengan mata kepala tatkala kami sedang mundur. Mereka yang teraniaya ini hanya memohon agar kami berbelas kasih untuk segera mengakhiri hidup mereka”.</p>
<p style="text-align:justify;">Kabilah-kabilah yang tidak mau mengikuti mazhab mereka dianggap kafir, ‘yang halal darahnya’. Dengan demikian mereka (Wahaby) tidak dinamakan perampok dan kriminal lagi, tapi kaum ‘mujahid’ yang secara teologis dibenarkan membunuh kaum ‘kafir’ termasuk wanita dan anak-anak, merampok harta dan memperkosa istri dan putri-putri mereka yang dianggap sah sebagai <em>ghanimah</em> (rampasan perang). Hanya sedikit yang dapat melarikan diri.</p>
<p style="text-align:justify;">
Setelah lebih dari 100 tahun kemudian, kekejaman itu masih juga dilakukan. Tatkala memasuki kota Tha’if tahun 1924, mereka menjarahnya selama tiga hari. Para qadhi dan ulama diseret dari rumah-rumah mereka, kemudian dibantai dan ratusan yang lain dibunuh</p>
<p style="text-align:justify;">Kerajaan Inggris membantu Wahabisme dengan uang, senjata dan keterampilan, sehingga kekuasaan Ibnu Saud menyebar ke seluruh jazirah Arab yang pada masa itu berada dalam kekhalifahan Usmaniyah dengan tujuan melemahkan khilafah itu. Jadi yang menggembosi kekuasaan daulah dan kekhalifahan Usmani adalah kelompok yang terkenal dengan sebutan Wahaby yang sekarang ini mengaku sebagai kelompok Salafy. Orang bisa membacanya dalam buku Hempher, ‘Confession of a British Spy’. Hampher seorang orientalis yang menjalin persahabatan dengan Ibnu Abdul Wahab. Tahun 1800 seluruh Jazirah Arab telah dikuasai dan keamiran berubah menjadi kerajaan Saudi Arabia.</p>
<p style="text-align:justify;">
Umumnya kaum intelektual dan ulama Ahlusunah – penganut 4 mazhab ‘resmi’ Hanafi, Syafi’i, Maliki dan Hanbali– menganggap kaum Wahhabi, termasuk pendirinya, sebagai orang-orang yang berpikir sangat linier, literer sambil menolak metafoar [<em>Majaz</em>], sangat denotatif dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadis. Mereka menganggap mazhab selainnya (Wahaby) sebagai sesat dan menyesatkan dengan berpatokan pada hadis: “<em>Kullu bid’ah dhalaalah wa kullu dhalaalah fî n-naar</em>”. (semua inovasi itu sesat dan semua yang sesat itu masuk neraka). Kata “bid’ah” yang mereka tuduhkan hanyalah kata pelembut, untuk ‘kafir’, dan menganggap berziarah ke kubur termasuk kubur Nabi, tawassul, baca qunut, talqin, tahlil, istighatsah, berzikir berjamaah, membaca maulid diba’ ataupun burdah yang berupa puji-pujian pada Nabi yang biasa dilakukan kaum Muslimin adalah sebagai bid’ah, dan pelakunya akan masuk neraka, alias kafir. Dari sinilah akhirnya kaum Wahaby yang mengaku sebagai pengikut Salafy ini layak diberi gelar “Kelompok Takfir” (<em>jama’ah takfiriyah</em>), kelompok yang suka mengkafirkan golongan lain yang tidak sepakat dengan ajarannya.</p>
<p style="text-align:justify;">
Oleh karena itu, tempat-tempat bersejarah Islam seperti rumah tempat lahir Nabi, rumah Ummul Mu’minin Khadijah tempat tinggal Nabi dan banyak tempat-tempat bersejarah lain yang masuk wilayah kerajaan Arab Saudi kini telah dihancurkan. Kalau tidak mendapat protes dari segenap kaum Muslimin sedunia niscaya kuburan Nabi pun sudah diratakan dengan tanah, sebagaimana yang terjadi di makam para sahabat dan syuhada’ Uhud di Baqi’ (Madinah) dan para keluarga Rasul di Ma’la (Makkah).</p>
<p style="text-align:justify;">
Di Indonesia, misalnya, kaum Nahdhiyyin (NU) ‘kebingungan’, karena kaum Wahabi ‘membajak’ atribut Ahlussunnah Wal Jamaah, padahal istilah ini yang biasa dipakai oleh penganut keempat mazhab Sunnah; mazhab Syafi’i, Hanbali, Hanafi dan Maliki. Akhir-akhir ini mereka ikut-ikutan memakai jubah dan serban seperti yang dikenakan kaum Nahdhiyin. Walau demikian, sangat mudah untuk melihat tanda-tanda zahir dari kelompok tersebut. Mereka suka mesyirikkan dan membid’ahkan kelompok muslim lainnya. Dari sisi penampilan pun mereka mempunyai ciri khas sendiri. Selain suka mencukur rambut kepala, mereka juga berlomba dalam masalah panjang-panjangan jenggot dan tinggi-tinggian celana bahkan bisa sampai ke pertengahan betis.</p>
<p style="text-align:justify;">
Belakangan ini kita sering mendengar berita tentang eskalasi kekerasan di Saudi Arabia, termasuk penghancuran pipa minyak yang dilakukan oleh kaum fundamentalis Wahhabi, yang disebut-sebut sebagai tempat kelahiran Al-Qaeda. Bin Laden sang ketua al-Qaedah adalah seorang Wahabi tulen kelahiran Arab Saudi. Ia dibesarkan dan dijadikan anak angkat oleh CIA – USA. Konon anak angkat itu kini telah menjadi anak durhaka terhadap ibu angkatnya, USA. Bidan yang melahirkan wahabisme adalah kekuatan Imperialis Inggris, dan kini menjadi ‘kartu as’ pemerintahan biadab USA untuk menciptakan perpecahan dalam tubuh umat Islam. Nampaknya, skenario keji ini mulai menunjukkan hasil yang menggembirkan bagi USA dan kekuatan anti Islam lainnya ketika isu-isu tentang ancaman perang saudara di Irak menjadi headline seluruh media Barat yang diikuti secara ‘latah’ oleh media-media Indonesia. Jadi antara Inggris (pembonceng Zionis di Tim-Teng), keluarga Saud, Wahabisme dan USA (sekutu Inggris dan Israel) adalah mata rantai yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karenanya tidak terlalu mengherankan jika Wahaby selalu menghamba terhadap kerajaan Saudi. Dan sementara keluarga Saudi selalu  bertekuk lutut di hadapan USA saudara kembar Inggris (penyokong kekuasaan keluarga Saud) dalam banyak masalah, termasuk memberi dukungan secara sembunyi-sembunyi terhadap Zionisme Internasional dan turut membenci negara-negara yang anti Israel. Hal itu karena Israel mendapat dukungan penuh dari USA dan Inggris.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Wallahu A’lam</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bicarasalafy.wordpress.com/408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bicarasalafy.wordpress.com/408/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bicarasalafy.wordpress.com/408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bicarasalafy.wordpress.com/408/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bicarasalafy.wordpress.com/408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bicarasalafy.wordpress.com/408/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bicarasalafy.wordpress.com/408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bicarasalafy.wordpress.com/408/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bicarasalafy.wordpress.com/408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bicarasalafy.wordpress.com/408/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bicarasalafy.wordpress.com/408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bicarasalafy.wordpress.com/408/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bicarasalafy.wordpress.com/408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bicarasalafy.wordpress.com/408/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=408&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/11/20/dari-muhammad-bin-abdul-wahab-hingga-kerajaan-arab-saudi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/257bb80357a13f2016c61cc444aa4943?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bicarasalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ribut-Ribut Sesama Salafy/Wahbi: Membedah Otak Abdul Hakim Abdat (Ahli Hadats &#8211; bukan Ahli Hadits)</title>
		<link>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/06/13/ribut-ribut-sesama-salafywahbi-membedah-otak-abdul-hakim-abdat-ahli-hadats-bukan-ahli-hadits/</link>
		<comments>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/06/13/ribut-ribut-sesama-salafywahbi-membedah-otak-abdul-hakim-abdat-ahli-hadats-bukan-ahli-hadits/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2011 14:20:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bicarasalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Wahabi-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy VS Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bicarasalafy.wordpress.com/?p=401</guid>
		<description><![CDATA[SALAFY VS SALAFY Dibawah ini tulisan salah satu situs sekte Salafy/Wahabi yang menghujat sesama yang mengaku salafy/wahabi, Wallahu A&#8217;lam mana yang paling tulen salafynya kita simak saja perseteruan diantara pengikut sekte yang paling suka mengklain sebagai kelompok yang paling benar ini sebagai &#8220;Ibrah&#8221; atau contoh&#8230;!! ____________________________ Membedah Otak Abdul Hakim Abdat (Ahli Hadats &#8211; bukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=401&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"><strong>SALAFY VS SALAFY</strong></span></p>
<blockquote><p>Dibawah ini tulisan salah satu situs sekte Salafy/Wahabi yang menghujat sesama yang mengaku salafy/wahabi, Wallahu A&#8217;lam mana yang paling tulen salafynya kita simak saja perseteruan diantara pengikut sekte yang paling suka mengklain sebagai kelompok yang paling benar ini sebagai &#8220;Ibrah&#8221; atau contoh&#8230;!!</p></blockquote>
<p>____________________________</p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>Membedah Otak Abdul Hakim Abdat (Ahli Hadats &#8211; bukan Ahli Hadits)</strong></span></p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER</span>:<a href="http://salafy.catatanku.com/2007_02/96.html" target="_blank"> http://salafy.catatanku.com/2007_02/96.html</a></strong></p>
<p><strong>(Menjawab Pelecehan Abdul Hakim Abdat)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Beberapa poin bantahan Abu Mas��d terhadap talbis Abdul Hakim Abdat dan Ihya��t Turats-link :<br />
*(Bagi awam terutama) Masalah LIPIA bukan (semata) karena adanya hizbi, Asy��ry, madhabi. Bukan karena itu. Tetapi pengaruh jeleknya lebih besar dari pengaruh baiknya. Jadi ini adalah buhtan dan talbis dari Abdul Hakim.</p>
<p>*Perbedaan antara Jami��h Islamiyyah dengan LIPIA banyak sekali.<br />
Diantaranya : Jami��h Islamiyyah adalah termasuk salah satu sumber dakwah salafiyyah dan termasuk sumber para da��nya. Ini tidak ada yang mengingkari kecuali orang-orang yang congkak. <span id="more-401"></span></p>
<p>Adapun LIPIA, sumber apa? Sejak 20 tahun sampai hari ini, sumber apa wahai Hakim? Mamba�� dakwah ila hizbiyyah! Sumber daripada dakwah-dakwah hizbiyyah! Antum lihat sendiri wahai Abdul Hakim!</p>
<p>Yang ada di sekitar kalian bagaimana yang keluar setiap tahun? Kenyataannyapun seperti itu ! Bahkan para alumni-alumni LIPIA yang mengatasnamakan dirinya para daê salafiyyah, perhatikan! Seperti Fariq Ghozim Anuz (penerjemah Darul Haq, di bawah naungan Al Sofwah, red)atau Yazid atau yang lainnya yang mereka mengatasnamakan dirinya salafiyyah!</p>
<p>Tanya sama Fariq, darimana engkau tahu pemahaman salaf ni? Kalau tidak dusta, tidak akan dia menjawab dari LIPIA! Kenapa demikian? Semenjak tahun 1994 ketika saya di Mekah, 1994-1995. Saya pertama kali mendengar nama Fariq Anuz, mendengar nama ini, kawan saya dari Jogja, Sa��d Abu Abdillah. Apa kata dia? Ŭawan ini jangan langsung dikencengi, karena masih agak gini-gini?, artinya si Fariq ini masih dalam keadaan kacau manhajnya. Bagaimana ditegaskan bahwa LIPIA masih termasuk sumber dakwah salafiyyah?</p>
<p>Kemudian Yazid Jawaz. Termasuk nama yang kondang ini, dhong dheng ereng-ereng (istilah Jawa, yakni sudah hebat sekali, red). Dari mana dia paham manhaj salaf? Tanya sama Yazid! Dan jangan berbelit-belit, jangan plin-plan wahai Yazid! Atau da�� salafiyyah (baca:hizbi yang mengaku salafi) lainnya seperti Abubakar Al-Multaway, Abubakar mluntir ini, menurut kami dia bukan salafi, bahkan hizbi!</p>
<p>Adapun jawaban atas dia hizbi, langsung tanya pada kami karena pemaparan masalah ini ada pada kami, tidak cukup 2 kaset atau 3 kaset! Juga di Jawa Timur, Ainul Haris pemegang yayasan ůodai Fithrah?, Nida��l Fithrah Surabaya! Menurut kami dia adalah hizbi! (pada kaset bagian lain:Yang jadi makelar dari jebolan-jebolan LIPIA ini banyak sekali seperti Nida��l Fithrah, Al Sofwa, ini lulusan-lulusan LIPIA. Jadi makelar. Ainul Haris, Abubakar Al-Multaway mluntir, mencantumkan nama-nama daê kemudian mengirimkannya ke Saudi untuk mendapatkan bantuan-bantuan kemudian disebarluaskan.</p>
<p>Setelah itu diatur, dikotak-kotak kemudian diadu domba dengan kawan-kawannya. Ini kelakuan orang-orang yang lulus dari LIPIA! Adapun untuk menyingkap kedoknya si Ainul Haris dan Abubakar ini, maka datanglah pada kami! Akan kami ungkapkan, yang nggak mungkin kamu menjawabnya, Insya Allah ! Jadi mana sumber dakwah salafiyyah yang ada di situ?!</p>
<p>?..kita tidak dibebani oleh Allah untuk menyensus da��-da�� salafiyyah, tetapi karena kebutuhan, (maka) kita sebutkan agar Abdul Hakim ini sadar dan mengoreksi lagi akalnya, sampai dimana kesesatannya, maka kita sebutkan. Dengan demikian maka bagaimana kita tegaskan bahwasanya ma��ad ini (LIPIA) adalah ma��ad yang bagus, bagus sekali?! Na��dzubillah.</p>
<p>Thayyib, perkara kedua :<br />
Para santri di Jami��h Islamiyyah sangat mudah dalam mengambil ilmu dari para ulama, al-kibar salafiyyin yang berada di luar Jami��h dan yang ada di dalam Jami��h. Tidak ada seorangpun yang mendustakan atau mengingkari! Seandainya mereka benar-benar mau paham salafiyyah secara sebenarnya mereka sangat mudah. Tetapi kalau di LIPIA mereka akan kemana mencarinya? Kemana? Yazidpun jarang masuk LIPIA, Abu Qatadah (pengkhianat yang pernah duduk di majelisnya Syaikh Muqbil, julukan kerennya Ųatad si Pedang Tumpul yang Haus akan Fulus?) yang datang dari Yaman itupun jarang ke LIPIA! mungkin nggak pernah. Mubarok (Mubarak Ba Mu��llim, Ma��ad Ali Al Irsyad, red) -pun datang ke sana sekitar dua kali pada tahun ini, bagaimana? Mereka jumpa sama siapa? Padahal Yazid-pun ��ndana hizbi!! Untuk mengetahui yang sebenarnya Yazid ini hizbi atau tidak, datang pada kami, kita jelaskan! Perhatikan di sini! Bahkan Abdul Hakim sekarang ini dalam keadaan maskhut! Adapun Yazid, hizbi tulen!!</p>
<p>*Kaidah Abdul Hakim untuk menyatakan baiknya sesuatu diantaranya LIPIA, kembali kepada asas atau asas didirikannya walaupun telah berubah dengan perubahan apa saja tetap sebagaimana asasnya.</p>
<p>Perhatikan: perkataan Abdul Hakim ini tidak memberi faedah sama sekali dalam menghukumi LIPIA itu bagus atau tidak bagus. Bahkan yang mu��abar dalam menghukumi adalah keadaan yang selama atau sekarang ini ada. Ūdza tsabata shifah tsabatal ismu, wa idza tsabatal ismu tsabatal hukmu? (kama qala Ibnu Hazm). Nama itu Tsabit ketika tsabitnya sifat yang ada. Hukum itu Tsabit atau tetap sebagaimana semula ketika nama itu Tsabit sesuai dengan sifatnya. Jadi adanya hukum, tsabitnya hukum, tetapnya hukum karena tetapnya nama tidak berubah?..</p>
<p>Banyak sekali para ��lim dari kalangan ulama menghukumi si fulan hizbi walaupun asas atau awal pertama dia belajarnya dalam keadaan salafi. Atau muassasah ini adalah hizbiyyah, kenapa ditegaskannya hizbiyyah? Karena sifat yang ada. Seperti Ihya��t Turats Al-Kuwaiti!! Ihya��t Turats Al-Kuwaiti ditegaskan oleh para Masyayikh salafiyyin termasuk muassasah hizbiyyah! Ditegaskan oleh Syaikh Ali, Syaikh Rabi?, Syaikh Muqbil rahimahullahu Ta��la dan yang lainnya. Bahkan kita sudah sama-sama menegaskannya, walaupun sebagian kawan-kawan kamu wahai Abdul Hakim masuk terlibat dalam muassasah ini! Ini semua tidak kembali kepada asas tetapi kepada sifat yang selama ini berlaku padanya.</p>
<p>Jadi engkau (hanya) melihat kepada pondasi didirikannya ma��ad itu diatasnya! Engkau tidak melihat kenyataan-kenyataan yang selama ini ada. Ini termasuk tadlis dan talbis! Ini termasuk penyimpangan manhaj!!</p>
<p>?.Banyak sekali ikhwaniyyun, Ikhwanul Muslimin yang mengaku mereka salafi. NII yang ada di Tenggulun ini (Lamongan, ingat Amrozi cs?-trkrptr) sekitar 2 km dari pondok ini, mereka juga termasuk menggembar-gemborkan salaf. NII yang dipimpin oleh Abdullah Sungkar kemudian Abubakar Ba��syir dan yang lainnya termasuk orang-orang yang mengaku mengikuti salaf. Tetapi kenyataannya bagaimana? Kenyataannya bagaimana? Ini yang perlu kita utamakan.</p>
<p>Dengan demikian wahai Abdul Hakim, dengan tinjauanmu terhadap LIPIA agar kembali kepada asas dan tidak peduli atas perubahan yang ada termasuk menunjukkan tentang bodohnya kamu dari manhaj para ulama dan jauhnya kamu dari jalan yang lurus! Ini termasuk kesalahan yang sangat besar! Sangat menyolok! Sangat mungkar! Ini semua karena apa? Karena ��uper? kamu! Kurangnya engkau pergaulan dari kawan-kawan salafiyyah! kawan-kawan salafiyyin! Dan termasuk ��eper? kamu, ��ebanyakan pergaulan? dengan ikhwaniyyin! Hizbiyyin! sehingga kalian jauh terpengaruh. Pada diri kamu terkumpul 2 sifat: kuper dan keper, kurang pergaulan dari salafiyyin dan kebanyakan pergaulan dari ikhwaniyyin, sehingga demikianlah kenyataanya.</p>
<p>*Kata Abdul Hakim:��aum salaf lughahnya lemah?</p>
<p>Subhanallah, ini pelecehan yang tidak ada tandingannya terhadap usaha yang mati-matian, berat memikul dakwah ini sehingga berupaya untuk memahamkan ummat kepada jalan yang benar. Dengan bahasa yang menurut mereka pinter dari kalangan LIPIA, apa yang mereka kerjakan? Mana omongan kamu pembuktiannya? Jangan ngomong saja wahai Hakim! Mana? Dan kamu sendiri seorang lulusan yang pernah belajar di LIPIA I��ad lughawiyah, pernah kamu membuka ma��ad yang isinya mengitqan-memantapkan bahasa arab sehingga kaum salaf bisa kuat? Mana buktinya? Mana madrasah kamu? Terakhir ini kami dengar kamu mau bergabung dengan Yazid untuk membikin madrasah di Bogor. Mana pelaksanaannya? Coba kuatkan mereka dengan bahasa yang bagus, sehingga santri kamu bisa belajar ke sana! Itulah omongan makelar yang tidak ada buktinya! Subhanallah, pintar sekali kamu menipu orang dengan lisan kamu! Termasuk mentahdzir dirinya sendiri dengan ucapannya itu (kaum salaf?)Naudzubillah minal dhalal wa minal ahmaq! Ini termasuk hal yang sangat berbahaya, memuji ahlul ahwa? di LIPIA bahwa mereka termasuk orang-orang yang fushahah dalam bahasa, mana manhajnya? Engkau puji mereka walau manhajnya kacau balau? Jadi salafiyyin di Indonesia ini seolah-olah tidak ada gunanya karena tidak bisa berbahasa arab.</p>
<p>Inilah omongan Abdul Hakim tentang LIPIA yang tidak akan menggembirakan kecuali hanya untuk hizbiyyin yang ada di situ! Adapun salafiyyun yang benar-benar paham manhaj salaf, tidak akan terkecoh, buktinya salafiyyin tidak berbondong-bondong untuk mendaftarkan diri ke sana ! ?Bukti (lain) yang sangat nyata adalah alumni-alumni LIPIA yang sebanyak itu semenjak 20 tahun yang lalu sampai hari ini berapa diantara mereka yang berdakwah dengan dakwah salaf? Ini kalau ada.</p>
<p>*Ucapan Abdul Hakim bahwa majelis-majelis Syaikh Muqbil, Syaikh Utsaimin, Syaikh bin Bazz dan Syaikh Rabi? semuanya dicampuri oleh hizbiyyin dan ikhwaniyyin. Bagaimana sikap Masyayikh? Memang kenyataannya seperti itu.</p>
<p>Kita tegaskan: ini adalah ungkapan yang mengandung talbis yaitu penyamaran dan membikin rancunya pemahaman, khususnya pada salafiyyin dan membikin gembiranya hizbiyyun karena termasuk mendukung apa yang mereka ada di atasnya. Yang senantiasa mereka bersedia untuk bercampur aduk dengan siapapun, yang penting menguntungkan kelompok mereka ataupun diri mereka.</p>
<p>Termasuk gegabah Abdul Hakim ketika menyamakan LIPIA dengan majelisnya Masyayikh salafiyyin. Bahkan kalimatnya umum, seolah-olah di dunia ini tidaklah lepas kecuali harus campur aduk itu. Sikap yang lancang ini tidak dipikirkan oleh Abdul Hakim bahwasanya ini termasuk tha�� (celaan) terhadap salafiyyinnya, bahkan celaan terhadap Masyayikh! Syaikh Muqbil, Syaikh Rabi? dan lainnya. Seolah-olah Syaikh Muqbil mendiamkan keadaan para pengajar di situ.</p>
<p>Dan para thalabul ��lm di situ sebagaimana yang ada di LIPIA yang mereka juga memberikan pengaruh atas kawan-kawannya yang lain- santri-santri salafy lainnya. Padahal kenyataannya kita semua mengetahui bagaimana sikap kerasnya Syaikh Muqbil terhadap hizbiyyin! Bahkan beliau memberikan wewenang khusus kepada santri yang dipercaya untuk mengusir hizbiyyin dari situ!</p>
<p>Janganlah kita terkecoh dengan ucapan Abdul Hakim yang berisi tadlis dan talbis, makar terhadap salafiyyah dan para du��tnya! Dari mana engkau tahu bahwa hizbiyyin yang ada di majelisnya Syaikh Rabi?, mereka mengajar dan memiliki pengaruh yang kuat terhadap salafiyyin yang ada di situ? Dari mana engkau tahu? Siapa yang membawa berita itu? Sementara engkau menolak orang yang membawa berita tentang (bahayanya) LIPIA (ingat ucapan AH: antum tidak tahu LIPIA! Saya 20 tahun! Laisal khabar kal mu��yyanah, apalagi beritanya dari orang-orang yang dha��f! Bentrok itu sanadnya! Dha��fun jiddan!ha?ha?Nggak benar). Ini termasuk sikap tanaqud, bertentangan antara perkataan pertama dan perkataan selanjutnya. Tidak mantap, bahkan berputar-putar dalam membela LIPIA yang rusak itu.</p>
<p>(Sumber : Kaset Ceramah Abdul Hakim Abdat di Riau dan kaset Bantahan Abu Mas��d terhadap Abdul Hakim dan Yazid cs (Ihya��t Turats-links).</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>Transkriptor: Abu Dzulqarnain Abdul Ghafur Al-Malanji)</strong></span></p>
<p>________________________</p>
<p><span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"><strong>ARTIKEL TERKAIT</strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>Peneliti Hadats dari Jakarta melecehkan Salafy &amp; Ulamanya</strong></span></p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span><a href="http://salafy.catatanku.com/2007_02/95.html" target="_blank"> http://salafy.catatanku.com/2007_02/95.html</a></strong></p>
<div>
<p><span style="color:#800080;"><strong><span style="color:#ff00ff;">Penulis:</span> Abu Dzulqarnain Abdul Ghafur Al-Malanji</strong></span></p>
<p>Ketika ditanya tentang LIPIA-Jakarta, Abdul Hakim Abdat menjawab:<br />
LIPIA bagus, antum sudah pernah ke LIPIA belum? Saya 20 tahun di LIPIA, sejak berdirinya LIPIA sampai sekarang saya di situ. Saya tahu sampai sekecil-kecilnya! Bagus, banyak.</p>
<p>Banyak orang mengatakan bahwa ustadz-ustadz LIPIA berbau ikhwani?<br />
Abdul Hakim Abdat : Tentu, di Jami��h Islamiyah (Universitas Islam Madinah, KSA, red) di sana banyak juga yang ikhwani sebagiannya. Di Jami��h, nggak kepalang tanggung, LIPIA, ini Jami��h, di (ma��ad, red) Syaikh Muqbil juga banyak, sekarang ini tidak ada yang mungkin, tapi asas LIPIA didirikan itu atas manhaj salaf. Saya kenal orang perorangnya, karena mengontraknya pertama kali gedung dengan paman saya. Sayalah orang pertama yang ada di LIPIA itu!</p>
<p>Dan orang-orang dahulu takut masyarakat Indonesia masuk ke LIPIA karena takut dituduh Wahabi. Dan telah masyhur LIPIA itu manhajnya Wahabi. Ini tahun 1980. Hah. Belum ada orang LIPIA itu di Raden Saleh. Dan dia nyewa gedung dengan paman saya. Jadi saya punya kebebasan. Dan saya juga sekolah orang-orang pertama di situ dengan masuk I��ad Lughawiyah.</p>
<p>Tapi sebagian gurunya tentu tidak ada yang selamat. Nggak bisa orang Saudi itu ngontrol secara ini. Ada sebagian gurunya yang ikhwani, tapi asas didirikannya LIPIA itu manhaj ahlussunnah didirikan Saudi. Manhajnya bagus! Dan sekarang mudirnya Doktor Ali itu manhajnya bagus, dan berkata kepada saya ketika ada kesepakatan antara saya dengan doktor Ali untuk mengeluarkan orang-orang yang manhajnya tidak bagus. Itu?.selentingan, antum belum pernah pergi ke sana. Antum tidak tahu LIPIA, saya 20 tahun! Laisal khabar kal mu��yyanah, apalagi beritanya dari orang-orang yang dha��f! Bentrok itu sanadnya! Dha��fun jiddan! Ha..ha..Nggak benar!</p>
<p>Tidak terjadi itu ustadz? Maksudnya usaha pengeluaran?<br />
Abdul Hakim Abdat : Anak-anak muridnya? Kalau gurunya tidak bisa semuanya, nggak bisa. Antum mau ngajar lughah di sana?! Ganti��n?! Nggak ada. Ŭaum salaf lughahnya lemah! Sayangnya, anak-anak salaf.? Sehingga doktor Ali pernah bilang sama saya:Ǻa Hakim, murid-murid antum ini jangan hanya manhajnya doang yang bagus, tapi pinter dong! Bisa mengalahkan mereka?, begitu. Harus cerdik, pinter.</p>
<p>Nah guru-gurunya sekarang boleh banyak, sekarang siapa saja bisa. Kalau antum, kalau antum mau ngajar di LIPIA juga bisa ��alau antum bagus manhaj salafnya, kemudian lughahnya cerdik antum bisa ngajar. Bisa ngajar. Sekarang mulai terbuka. Anak-anak yang masuk ke LIPIA itu yang bermacam-macam karena di situ ijinnya dengan pemerintah adalah lughah dahulu.</p>
<p>?.Dan dari lembaga ini keluar anak-anak murid yang ngerti bahasa Arab dan manhajnya bagus, tidak ada satupun pelajaran bahasa Arab yang terbaik di seluruh Indonesia ini selain di LIPIA yang saya tahu.</p>
<p>?..Ada yang bisa buat seperti LIPIA? Nggak ada! Kalau begitu kaidahnya, maka tidak boleh juga masuk ke Jami��h Islamiyyah! Nggak ada satupun antum bisa masuki! Nah ini yang salah dari perjalanan manhaj salaf! Nggak boleh bersikap seperti itu! Itulah hidup! Itu mah hidup di dunia khayal, tutup mata tinggal di gunung! Nggak benar, antum harus hidup dengan kenyataan, nggak ada satupun juga bisa dimasuki. Aaaa..gitu. He?he?he..(tertawa)</p>
<p>Nggak ada, nggak ada sekarang, semua dicampuri dengan itu, hatta di majelis Syaikh Muqbil, Syaikh Utsaimin, Syaikh bin Bazz,?sikap Masyayikh itu. Memang kenyataannya seperti itu, Syaikh Rabi?. Jadi kenyataan seperti itu, apalagilah LIPIA, lembaga yang lebih kecil tentunya bisa. Dan orang-orang Saudi kesulitan mencari guru bahasa Arab yang mengajar. Di sini orang-orang manhaj salaf mau merobah!</p>
<p>Sekarang mau doctor Ali, saya jamin, hatta orang salafnya pinter, bisa dirubah langsung, antum? Antum bisa di Jakarta? Mau menjadi guru? Aa, bisa kagak? Nggak bisa kan?! Nggak bisa! Coba ustadz-ustadz yang mentahdzir LIPIA sini bisa dicatet jadi direkturlah, Insya Allah , ha.ha, hayo. Saya yang bakal bilang pada doktor Ali. Nggak ada, kurang, minim, aa? jadi jangan CUMA NGOMONG, harus tatbiqul ��mal, begitu manhaj salaf. Ngomong &#8211; ��mal, ngomong &#8211; amal, begitu.</p>
<p>Saya perjanjian dengan doktor Ali dan dipersilahkan rubah. ũakim masukin murid-muridmu ke sini semuanya, itu peralihan?. Banyak anak-anak daftar semuanya, daftar, berubah, sama dengan Jami��h Islamiyah, orang dari fikrah mana aja kan masuk, masuk, ada yang sufinya. Nah begitu, antum harus pergaulannya luas, jangan kuper!</p>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bicarasalafy.wordpress.com/401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bicarasalafy.wordpress.com/401/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bicarasalafy.wordpress.com/401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bicarasalafy.wordpress.com/401/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bicarasalafy.wordpress.com/401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bicarasalafy.wordpress.com/401/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bicarasalafy.wordpress.com/401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bicarasalafy.wordpress.com/401/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bicarasalafy.wordpress.com/401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bicarasalafy.wordpress.com/401/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bicarasalafy.wordpress.com/401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bicarasalafy.wordpress.com/401/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bicarasalafy.wordpress.com/401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bicarasalafy.wordpress.com/401/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=401&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/06/13/ribut-ribut-sesama-salafywahbi-membedah-otak-abdul-hakim-abdat-ahli-hadats-bukan-ahli-hadits/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/257bb80357a13f2016c61cc444aa4943?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bicarasalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Download Gratis: Anti Virus Wahabi/Salafy</title>
		<link>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/06/13/download-gratis-anti-virus-wahabi/</link>
		<comments>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/06/13/download-gratis-anti-virus-wahabi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2011 08:32:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bicarasalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Taymiah]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Pemalsuan Salafy/Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemusyrikan Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Pengkafiran Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Pensesatan Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bicarasalafy.wordpress.com/?p=390</guid>
		<description><![CDATA[Download Gratis: Anti Virus Wahabi SUMBER: Ummati Press Virus Wahabi sangat berbahaya. Jika anda sudah terkena virus Wahabi, maka anda akan ringan lidah dalam berucap: “Musyrik! Kafir! Bid’ah! TBC! dan ucapan-ucapan lain yang jelek-jelek kepada saudara sendiri sesama Muslim.  Nah, jika anda mengenali gejala-gaejala terkena virus Wahabi dalam pikiran anda, segera obati jangan biarkan berlarut-larut, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=390&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#800000;"><strong>Download Gratis: Anti Virus Wahabi</strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span><span style="color:#0000ff;"> <a href="http://ummatiummati.wordpress.com/" target="_blank"><span style="color:#0000ff;">Ummati Press</span></a></span></strong></span></p>
<p>Virus Wahabi sangat berbahaya. Jika anda sudah terkena virus Wahabi, maka anda akan ringan lidah dalam berucap: “Musyrik! Kafir! Bid’ah! TBC! dan ucapan-ucapan lain yang jelek-jelek kepada saudara sendiri sesama Muslim.  Nah, jika anda mengenali gejala-gaejala terkena virus Wahabi dalam pikiran anda, segera obati jangan biarkan berlarut-larut, nanti akan susah diobati. Untuk mendownload Obat Anti Virus Wahabi&#8230; <span id="more-390"></span></p>
<p><strong>Silahkan <a href="http://ummatiummati.wordpress.com/2010/05/04/agar-dapat-hidayah-kembali-ke-ahlussunnah-waljamaah/" target="_blank">KLIK DISINI</a></strong></p>
<p><strong>Disini Juga <a href="http://ummatiummati.wordpress.com/tag/download-gratis/" target="_blank">Gratis dan LENGKA</a></strong></p>
<p><strong>DOWNLOAD &amp; SEBARKAN DENGAN MENYEBARKAN FILE-FILE INI ANDA TELAH MEMBANTU MENGHENTIKAN PENYEBARAN VIRUS SALAFY&#8230;.. Silahkan <a href="http://ebooksalafy.wordpress.com/" target="_blank">KLIK DISINI</a></strong></p>
<p><strong>Silahkan juga Download File-file Anti Virus Salafy <a href="http://ebooksalafy.wordpress.com/2010/04/05/donwload-sebarkan-2/" target="_blank">DISINI</a></strong></p>
<div>
<div id="post-36">
<h2><a href="http://ebooksalafy.wordpress.com/2010/04/05/audio/" target="_blank">Audio</a></h2>
<div>
<div>
<ol>
<li>Ghazali Hasbullah – Bidaah Wahabi. <span style="color:#ff0000;">mp3</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257271591/900eeb36/Ghazali_Hasbullah_-_Bidaah_Wah.html">Download</a></li>
<li>Ustaz Sahul Hamid – Gerakan Wahabi.<span style="color:#ff0000;"> mp3</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257271167/f9fcfa10/Ustaz_Sahul_Hamid_-_Gerakan_Wa.html">Download</a></li>
</ol>
<ol>
<li>Debat wahabi Nu 1. <span style="color:#ff0000;">amr</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257273889/251f099d/DebatwahabiNu.html">Download</a></li>
<li>Debat Wahabi Nu 2. <span style="color:#ff0000;">amr</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257274543/fc700465/DebatWahabiNu2.html">Download</a></li>
<li>MUI VS Salafy 1. <span style="color:#ff0000;">amr</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257921680/5e732b0b/MUI_VS_Salafy_1.html">Download</a></li>
<li>MUI VS Salafy 2.<span style="color:#ff0000;"> amr</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257946138/a484a16e/MUI_VS_Salafy_2.html">Download</a></li>
</ol>
<p><strong>Download Semuanya Di :<a href="http://www.4shared.com/dir/35822924/5ad1bc47/sharing.html" target="_blank"> DISINI</a></strong></p>
<p><strong>Bergabunglah di Group Virus Salafy <a href="http://ebooksalafy.wordpress.com/2010/04/04/bergabunglah-di-grup-virus-salafy/" target="_blank">DISINI</a></strong></p>
<p><strong>DAN<a href="http://id-id.facebook.com/group.php?gid=106041629433525&amp;ref" target="_blank"> DI FACE BOOK </a></strong></p>
<p>__________________________________</p>
</div>
</div>
</div>
<h2><a title="Permanent link to EBOOK" href="http://ebooksalafy.wordpress.com/2010/04/02/donwload-sebarkan/" rel="bookmark">EBOOK</a> <span style="color:#008000;">Anti Virus Wahabi</span></h2>
<ol>
<li>Inilah Ibnu Taymiyah.<span style="color:#ff0000;"> chm</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257846547/b72f5141/Inilah_Ibnu_Taymiyah.html">Download</a></li>
<li>Kitab Kasyfu Syubuhat DoktrinTakfir Wahabi. <span style="color:#ff0000;">chm</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257265924/b88881f1/Kitab_Kasyfu_Syubuhat_DoktrinT.html">Download</a></li>
<li>Membongkar Salafy Wahaby – Kilasan Tentang Salafy.<span style="color:#ff0000;"> chm</span> <a href="http://www.4shared.com/file/8edBp5oq/MEMBONGKAR_SALAFY_WAHABY_-_Kil.html">Download</a></li>
<li>Salafy Indonesia, Membongkar Kedok Kaum Salafiyyun. <span style="color:#ff0000;">chm</span> <a href="http://www.4shared.com/file/DE1XTTKx/Salafy_Indonesia_Membongkar_Ke.html">Download</a></li>
<li>Melucuti Kedok Salafy Penjajah Haramain, Pembenci Ahlul Bait. <span style="color:#ff0000;">chm</span> <a href="http://www.4shared.com/file/lCg23PfA/Melucuti_Kedok_Salafy_Penjajah.html">Download</a></li>
<li>Bukti Pennghancuran Kediaman Nabi SAW Oleh Wahhabi Laknatullah.<span style="color:#ff0000;"> chm</span> <a href="http://www.4shared.com/file/xSy67PgB/Bukti_Pennghancuran_Kediaman_N.html">Download</a></li>
<li>Menyingkap Tipudaya Fitnah Wahabi.chm <a href="http://www.4shared.com/file/UBVUez-m/Menyingkap_Tipudaya_Fitnah_Wah.html">Download</a></li>
</ol>
<ol>
<li>55 Dalil Kesesatan Wahabiyyah. <strong><span style="color:#ff0000;">pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257810798/7c31365f/55_DALIL_KESESATAN_WAHABIYYAH.html">Download</a></strong></li>
<li>Ajaran Sesat Wahabi.<strong> <span style="color:#ff0000;">pdf </span><a href="http://www.4shared.com/file/257811879/26550b1f/AJARAN_SESAT_WAHABI.html">Download</a></strong></li>
<li>Aliansi Wahabi &amp; Dinasti Al-Saud. <strong><span style="color:#ff0000;">pdf </span><a href="http://www.4shared.com/document/YUmjD5At/Aliansi_Wahabi__Dinasti_Al-Sau.html">Download</a></strong></li>
<li>Allah Ada Tanpa Tempat Dan Tanpa Arah. <strong><span style="color:#ff0000;">pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/document/PeCNsiMa/Allah_Ada_Tanpa_Tempat_Dan_Tan.html">Download</a></strong></li>
<li>Aqidah.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/document/XyRJf9dn/AQIDAH.html">Download</a></strong></li>
<li>Aqidah Ahli Sunnah Dan Pertentangannya Dengan Aliran Wahabiyyah. <strong><span style="color:#ff0000;">pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257812288/c9e80d7e/AQIDAH_AHLI_SUNNAH_DAN_PERTENT.html">Download</a></strong></li>
<li>Aqidah Imam Syafi’i –  Allah Ada Tanpa Tempat Dan Tanpa Arah. <strong><span style="color:#ff0000;">pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257391367/8e1443ba/Aqidah_Imam_Syafii__w_204_h__-.html">Download</a></strong></li>
<li>Aqedah Indonesia.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/document/khMQbe47/Aqeedah_indonesian.html">Download</a></strong></li>
<li>Arab Saudi. <strong><span style="color:#ff0000;">pdf </span><a href="http://www.4shared.com/document/ijHgDUmJ/ARAB_SAUDI.html">Download</a></strong></li>
<li>Bantahan Terhadap Kaum Musyabbihah. <strong><span style="color:#ff0000;">pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257393885/58c52872/BANTAHAN_TERHADAP_KAUM_MUSYABB.html">Download</a></strong></li>
<li>Bukti Menunjukkan Wahhabi Bukan Muslim. <strong><span style="color:#ff0000;">pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257812810/1b66bbd3/Bukti_menunjukkan_Wahhabi_buka.html">Download</a></strong></li>
<li>Bukti Scan Kitab Wahaby Pengkafiran Wahaby Salafy. <strong><span style="color:#ff0000;">pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257815625/d768092c/Bukti_Scan_Kitab_Wahaby_Pengka.html">Download</a></strong></li>
<li>Ciri-ciri golongan Salafy Wahhaby.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/document/a86x3aHj/CIRI-CIRI_GOLONGAN_SALAFIYYAH_.html">Download</a></strong></li>
<li>Daftar Pertanyaan Menggugurkan Aqidah Tajsim Wahhaby. <strong><span style="color:#ff0000;">pdf </span><a href="http://www.4shared.com/file/257816891/2bda961a/Daftar_Pertanyaan_menggugurkan.html">Download</a></strong></li>
<li>Dalil-Dalil Ziarah Kubur.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257844807/7192cf9d/DALIL-DALIL_ZIARAH_KUBUR.html">Download</a></strong></li>
<li>Gerakan Salafi Modern Di Indonesia. <strong><span style="color:#ff0000;">pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/document/Y6ngZofP/gerakan_salafi_modern_di_indon.html">Download</a></strong></li>
<li>Ibnu Katsir Membungkam Wahhaby.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/document/DxUZoxVV/Para_Sahabat_Dan_Imam_Empat_Ma.html">Download</a></strong></li>
<li>Ibnu Taymiah.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257512383/e366ad1f/Ibnu_Taymiah.html">Download</a></strong></li>
<li>Ibnu Taymiah Menolak Tafsir Nabi SAW.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257817893/7d689053/Ibnu_Taymiah_Menolak_Tafsir_Na.html">Download</a></strong></li>
<li>Imam Al-Ghazali – Allah Ada Tanpa Tempat dan Tanpa Arah.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257391613/c0f3d38f/Imam_Al-Ghazali__Allah_Ada_Tan.html">Download</a></strong></li>
<li>Jauhilah Golongan Salafiyyah.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/document/Vd96aFXR/JAUHILAH_GOLONGAN_SALAFIYYAH.html">Download</a></strong></li>
<li>Kajian Ilmiah Tentang Harokah Salafy.<strong> pdf <a href="http://www.4shared.com/document/CxLtHKOe/kajian_ilmiah_tentang_harokah_.html">Download</a></strong></li>
<li>Kaum Wahhabiy Mujassimah Memalsu Atas Nama Salaf.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/document/89KjBd7Y/Kaum_Wahhabiy_Mujassimah_Memal.html">Download</a></strong></li>
<li>Kenalilah – Akidahmu. <strong><span style="color:#ff0000;">pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257452685/3212bfa4/Kenalilah-Akidahmu.html">Download</a></strong></li>
<li>Kesesatan Wahhabi.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257450206/cec20441/Daftar_Kesesatan_wahaby_salafy.html">Download</a></strong></li>
<li>Kesesatan Aqidah Ruububiyah Uluhiyah Asmawa Shifat Salafy.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257850037/e6ae7301/Kesesatan-Aqidah-Ruububiyah-Ul.html">Download</a></strong></li>
<li>Kesesatan Nashiruddin Al-Albany.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/document/A-1KO-7L/KesesatanNashiruddinAl-Albany.html">Download</a></strong></li>
<li>Kitab Al-Aqidah.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257456590/d6475364/Kitab_Al-Aqidah_print3.html">Download</a></strong></li>
<li>Kritik HTI kepada Salafy<em>. </em><strong><span style="color:#ff0000;">pdf<em> </em></span><a href="http://www.4shared.com/document/EC5mf-fD/Kritik_HTI_kepada_Salafy.html">Download</a></strong><em><br />
</em></li>
<li>Memahami Karakter Salafi.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/document/8X4nwj3r/memahamikaraktersalafi.html">Download</a></strong></li>
<li>Membongkar ajaran Wahabi dari a sampe z. <strong><span style="color:#ff0000;">pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257387669/776cda3a/Membongkar_ajaran_Wahabi_dari_.html">Download</a></strong></li>
<li>Membongkar Aqidah Sesat Wahhabi.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/document/2KKRAlNY/Membongkar_Aqidah_Sesat_Wahhab.html">Download</a></strong></li>
<li>Mengenal Salafy dari 2 Sisi.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257500942/a22ab668/Mengenal_Salafy_dari_2_Sisi.html">Download</a></strong></li>
<li>Meniti Kesempurnaan Iman. <strong><span style="color:#ff0000;">pdf </span><a href="http://www.4shared.com/file/257284170/cb0d3911/Meniti_Kesempurnaan_Iman__Sang.html">Download</a></strong></li>
<li>Menyingkap Tipu Daya &amp; Fitnah Keji Fatwa-Fatwa Kaum Salafi &amp; Wahabi.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/document/PQuUPeVg/MENYINGKAP_TIPU_DAYA__FITNAH_K.html">Download</a></strong></li>
<li>Para Sahabat Dan Imam Empat Madzhab; Allah Ada Tanpa Tempat. <strong><span style="color:#ff0000;">pdf </span><a href="http://www.4shared.com/document/r6hCyDjs/Ibnu_Katsir_Membungkam_Wahhaby.html">Download</a></strong></li>
<li>Penjelasan Yang Tepat Bahawa Allah Wujud Tanpa Bertempat. <strong><span style="color:#ff0000;">pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/document/8FObXjdy/Penjelasan_Yang_Tepat_Bahawa_A.html">Download</a></strong></li>
<li>Prinsip Pemikiran Salafi.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257494543/95195919/PRINSIP_PEMIKIRAN_SALAFI.html">Download</a></strong></li>
<li>Salafy.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/document/Q7s_808k/Salafy.html">Download</a></strong></li>
<li>Sejarah Kelam Salafi.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257496237/7273d5c9/SEJARAH_KELAM_SALAFI.html">Download</a></strong></li>
<li>Sejarah Wahabi. <strong><span style="color:#ff0000;">pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257848894/738f9ad6/Sejarah_Wahabi.html">Download</a></strong></li>
<li>Seri Anekdot Akidah Salafi <strong><a href="http://www.4shared.com/document/w3A4oIGF/Seri_Anekdot_Akidah_Salafi.html">Download</a></strong></li>
<li>Seri Kebohongan Ibnu Taymiah. <strong><span style="color:#ff0000;">pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/document/iVALU3H3/Seri_Kebohongan_Ibnu_Taymiah.html">Download</a></strong></li>
<li>Tabarruk.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/document/atgifgpD/Tabarruk.html">Download </a></strong></li>
<li>Tafsir Makna istiwa.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/document/PQ-UoFEV/Tafsir_Makna_istiwa.html">Download</a></strong></li>
<li>Tawassul,pdf <a href="http://www.4shared.com/document/K7j12wAP/Tawassul.html">Download</a></li>
<li>Telaah Kritis Atas Doktrin Faham Salafi-Wahabi.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257323137/2d3e9a0b/Telaah_Kritis_Atas_Doktrin_Fah.html">Download</a></strong></li>
<li>Tuhan Itu Tidak Di Langit.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/document/F25k4qlk/Tuhan_Itu_Tidak_Di_Langit.html">Download</a></strong></li>
<li>Wahabi Salafi Aswaja.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257476738/5b37b4d2/WAHABI_Salafi_Aswaja.html">Download</a></strong></li>
<li>Wahabi-Kebangkitan Berawal Pemurnian.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/document/i_n_Nz4v/WAHABI-KEBANGKITAN_BERAWAL_PEM.html">Download</a></strong></li>
<li>Wahhabisme Pemahaman Agama Yang Sakit. <strong><span style="color:#ff0000;">pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257818571/5d5e5ff4/Wahhabisme_Pemahaman_Agama_Yan.html">Download</a></strong></li>
</ol>
<ol>
<li>Seri Penolakan Terhadap Wahabi. <strong><span style="color:#ff0000;">zip</span> <a href="http://www.4shared.com/file/257327237/a01ab305/Siri_Penolakan_Terhadap_Wahabi.html">Download</a></strong></li>
<li>Kholil Abou Fateh. <strong><span style="color:#ff0000;">exe</span> <a href="http://www.4shared.com/file/F-5FyV6X/ALLAHADATANPATEMPAT.html">Download</a></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#ff0000;"><em> NEW</em></span></strong></p>
<ol>
<li>Aqidah Ahlusunnah kalahkan aqidah palsu kaum Mujasimmah.<strong><span style="color:#ff0000;"> pdf</span>  <a href="http://www.4shared.com/document/DpnpTeIg/Aqidah_Ahlusunnah_kalahkan_aqi.html">Download</a></strong></li>
<li>Pusat Fatwa Mesir dan al-azhar Pembagian tauhid versy Wahhaby adalah Sesat. <strong><span style="color:#ff0000;">pdf</span> <a href="http://www.4shared.com/document/V8v3DlSY/Pusat_Fatwa_Mesir_dan_al-azhar.html">Download</a></strong></li>
</ol>
<p><strong>Kalau Anda Mengalami Masalah Dalam Download, Kunjungi :</strong></p>
<p><strong><span style="color:#0000ff;"><a href="http://www.4shared.com/dir/35822924/5ad1bc47/sharing.html" target="_blank"><span style="color:#0000ff;">http://www.4shared.com/dir/35822924/5ad1bc47/sharing.html</span></a></span></strong></p>
<h2><span style="color:#008000;">Semua Materi Download juga bisa di</span><span style="color:#0000ff;">-<a href="http://www.4shared.com/dir/35822924/5ad1bc47/sharing.html" target="_blank"><span style="color:#0000ff;">KLIK Di <strong>Sini</strong></span></a></span></h2>
</div>
<h1></h1>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bicarasalafy.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bicarasalafy.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bicarasalafy.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bicarasalafy.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bicarasalafy.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bicarasalafy.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bicarasalafy.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bicarasalafy.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bicarasalafy.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bicarasalafy.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bicarasalafy.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bicarasalafy.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bicarasalafy.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bicarasalafy.wordpress.com/390/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=390&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/06/13/download-gratis-anti-virus-wahabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/257bb80357a13f2016c61cc444aa4943?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bicarasalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rekam Jejak Wahhabisme</title>
		<link>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/05/22/rekam-jejak-wahhabisme/</link>
		<comments>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/05/22/rekam-jejak-wahhabisme/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 May 2011 15:31:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bicarasalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Berdialog Dengan Bloger Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Bloger Bicara Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Taymiah]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Imam Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemusyrikan Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Pengkafiran Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Pensesatan Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid dan Syirik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bicarasalafy.wordpress.com/?p=386</guid>
		<description><![CDATA[Rekam Jejak Wahhabisme SUMBER: IrfanPermana&#8217;s Blog Oleh: Irfan Permana Gerakan Wahhabisme mengawali kemunculannya di jazirah Arab pada abad ke-18 dengan pertumpahan darah dan jatuhnya banyak korban. Ironisnya, ini terjadi di antara kaum Muslim sendiri. Tak heran, sebab doktrin yang dogmatis, intoleran, sangat literal dan kaku yang diusung kelompok ini telah melahirkan penolakan total terhadap aliran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=386&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#800080;"><strong>Rekam Jejak Wahhabisme</strong></span></p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span> <a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/" target="_blank">IrfanPermana&#8217;s Blog</a></strong></p>
<p><strong><span style="color:#008000;">Oleh:</span> Irfan Permana</strong></p>
<p>Gerakan Wahhabisme mengawali kemunculannya di jazirah Arab pada abad ke-18 dengan pertumpahan darah dan jatuhnya banyak korban. Ironisnya, ini terjadi di antara kaum Muslim sendiri. Tak heran, sebab doktrin yang dogmatis, intoleran, sangat literal dan kaku yang diusung kelompok ini telah melahirkan penolakan total terhadap aliran pemikiran lain sampai ke tingkat yang membabi buta, yakni doktrin <em>takfiri</em>, yang menganggap kelompok lainnya sebagai kafir. Atas dasar klaim purifikasi, yaitu pemurnian ajaran untuk kembali kepada Islam yang benar (menurut versi mereka), gerakan ini mengijinkan perlawanan terhadap semua kaum Muslim yang dipandang tidak sejalan dengan ajarannya. Maka perpecahan di tubuh Islam pun menjadi tak terelakkan. Peradaban Islam pun menjadi semakin jauh tertinggal karena terlalu disibukkan dengan persoalan internal yang sudah usang.</p>
<p><span id="more-386"></span></p>
<p><strong>I.  Wahhabi Sebagai Sekte Tersendiri</strong></p>
<p>Istilah Wahhabi tidak diproklamirkan oleh pendiri ataupun pengikutnya, melainkan datang dari orang-orang yang berada di luar. Nama tersebut diambil dari perumus doktrin ajaran ini, yaitu <strong>Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb</strong> (1115 H/ 1703 M – 1206 H/ 1791 M). Hingga saat ini, Wahhabi dijadikan mazhab resmi di Arab Saudi yang pahamnya mendominasi berbagai aspek kehidupan di sana.</p>
<p>Pengikut aliran ini sendiri menolak sebutan Wahhabi, sebab sejak awal telah menjadi stigma yang melahirkan kesan buruk, sehingga mereka lebih memilih istilah <em>al-Muwahhidûn</em> atau <em>Ahl al-Tawhîd</em>, yang berarti orang-orang yang mentauhidkan Allah. Namun justru nama yang mereka gunakan itu mencerminkan keinginan untuk menggunakan secara eksklusif prinsip tauhid yang merupakan landasan pokok Islam. Menurut Prof. Hamid Algar, tidak ada alasan untuk menerima monopoli atas prinsip tauhid tersebut, sebab gerakan ini merupakan hasil ijtihad seorang anak manusia yang bisa benar bisa juga salah. Maka, cukup beralasan dan lazim untuk menyebutnya “Wahhabisme” dan “kaum Wahhabi”.<a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_edn1">[1]</a></p>
<p>Para pengikut Wahhabi menyatakan diri bahwa tujuan mereka semata-mata hanya untuk memurnikan tauhid. Tauhid harus dimurnikan sebab telah bercampur dengan apa yang mereka namakan sebagai syirik, tahayul, bid’ah dan khurafat. Islam yang sarat beban historis harus dirampingkan dan dibersihkan dengan cara mengembalikan umat Islam kepada induk ajarannya, Al-Qur’an dan Al-Sunnah.</p>
<p>Wahhabisme merupakan fenomena yang bersifat spesifik, yang mesti dipandang sebagai mazhab pemikiran terpisah atau sekte tersendiri. Para pengamat, khususnya non-Muslim, banyak yang melakukan deskripsi ringkas keliru tentang mereka dengan menyebutnya sebagai kelompok Sunni ekstrim atau konservatif. Padahal sejak awal, para ulama Sunni sendiri menganggap mereka bukan bagian dari <em>Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah</em>. Hal itu disebabkan karena <span style="color:#0000ff;"><em>hampir seluruh praktik, tradisi, dan kepercayaan yang merupakan bagian integral Islam Sunni, dikecam oleh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab.</em></span> Bahwa kaum Wahhabi kini dianggap sebagai Sunni<a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_edn2"><sup><sup>[2]</sup></sup></a>, hal itu mengindikasikan bahwa istilah “Sunni” telah diberi makna yang sangat longgar, yakni sekadar pengakuan terhadap legitimasi empat khalifah yang pertama. Bahkan istilah Sunni yang berkembang sekarang tidak lebih berarti “non-Syi’ah”.<a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_edn3"><sup><sup>[3]</sup></sup></a> Karena itulah, penulis menganggap Wahhabi merupakan sekte atau mazhab tersendiri dalam Islam.</p>
<p><strong>II.  Perjalanan Wahhabisme dalam Sejarah</strong></p>
<p>Pendiri gerakan Wahhabi, Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, berasal dari keluarga klan Tamim yang menganut mazhab Hambali, dan sangat terpengaruh oleh tulisan-tulisan seorang ulama bermazhab Hambali bernama Ibnu Taimiyah yang hidup di abad ke-14 M.</p>
<p>Sebelum menjadi mubaligh, ia banyak melakukan perjalanan ke berbagai wilayah yang motifnya tidak begitu jelas<a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_edn4">[4]</a>. Mekkah, Madinah, Baghdad dan Bashrah (Irak), Damaskus (Syria), Qum (Iran), Afghanistan serta India adalah wilayah yang sempat ia kunjungi. Setelah berkelana dan belajar di berbagai kota, lantas ia pun membawa doktrin-doktrin yang kemudian dijadikan landasan pemikiran dan keyakinannya, yang nantinya dinilai bermasalah oleh mayoritas kalangan Sunni ataupun Syi’ah.</p>
<p>Sebagian peneliti meragukan motif utama Wahhabisme sebagai gerakan keagamaan murni. Mereka mengajukan bukti yang mengarah kepada keraguan tersebut. Salah satunya adalah bukti yang diajukan oleh Dr. Abdullah Mohammad Sindi, seorang professor yang berasal dari Saudi Arabia. Dalam makalahnya yang berjudul <span style="color:#0000ff;">&#8220;<em>Britain and the Rise of Wahhabism and the House of Saud</em></span><span style="color:#0000ff;">&#8220;(buku ini bisa anda download</span><span style="color:#ff0000;"><a href="http://www.kanaanonline.org/articles/00361.pdf"><span style="color:#ff0000;"> disini</span></a></span> <span style="color:#ff0000;">[Pdf]</span> <span style="color:#0000ff;">-red-)</span><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_edn5">[5]</a>, ia mengutip sebuah memoar yang ditulis seorang agen rahasia Inggris yang berjuluk Hempher.</p>
<p>Dalam <span style="color:#0000ff;">“<em>Confession of a British Spy</em>”</span><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_edn6">[6]</a>, demikian judul memoar tersebut, Hempher mengakui adanya sebuah konspirasi Inggris untuk menggoyang kekuasaan Imperium Ottoman (Utsmaniyah) serta untuk menciptakan konflik di antara kaum Muslim.</p>
<p><span style="color:#0000ff;">Hempher</span> yang berpura-pura memeluk Islam itu menjalin persahabatan panjang dengan Muhammad bin ‘Abdul Wahhab. Hingga akhirnya berhasil melakukan <em>brainwash </em>terhadap Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, sehingga mampu meyakinkannya bahwa kebanyakan kaum Muslim saat itu telah menyimpang dari ajaran yang benar. Dan Muhammad bin ‘Abdul Wahhab adalah manusia terpilih yang bisa menyelamatkan Islam dari berbagai penyimpangan.</p>
<p>Tentang kepribadian Ibn Abdul-Wahhab, Hempher menggambarkannya sebagai seorang yang tidak stabil, berperangai buruk, gugup, sombong, dan bodoh.<a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_edn7">[7]</a></p>
<p>Jika memoar tersebut benar adanya, maka tak diragukan bahwa gerakan Wahhabisme sejak awal sudah terlibat dalam konspirasi yang disusun oleh kolonial Inggris. Namun karena adanya sebagian peneliti yang meragukan memoar tersebut dengan menunjukkan beberapa kejanggalan, maka tidak menutup kemungkinan bahwa gerakan Wahhabisme pada awalnya memang merupakan gerakan keagamaan. Meskipun pada perkembangan berikutnya, adanya campur tangan Inggris tak bisa dipungkiri lagi.</p>
<p>Untuk menarik berbagai analisa dari sebuah gerakan kontroversial ini, penulis membagi perjalanan sejarah Wahhabisme dalam tiga periode:</p>
<p><strong><em>Periode Pertama (1744-1818): Babak Awal Aliansi Wahhabi-Saudi</em></strong></p>
<p><em>Huraymilah</em> terletak di <em>Najd</em>, sebuah wilayah di bagian timur jazirah Arab. Di sinilah dakwah Ibnu ‘Abdul Wahhab dimulai setelah kembali dari pengembaraannya. Ajarannya yang keras itu mengalami penolakan dari masyarakat setempat, termasuk dari ayah dan saudaranya sendiri.</p>
<p>Pada periode ini, Ibnu ‘Abdul Wahhab menyusun sebuah buku kecil sederhana yang diberi judul <span style="color:#0000ff;"><em>Kitâb al-Tawhîd</em></span>, sebuah rujukan yang miskin bobot intelektual, sebab di dalamnya tidak ada penjelasan yang menunjukkan bangunan kerangka berpikir sang penulis. Tentang kitab ini, simak komentar<span style="color:#0000ff;"> Prof. Hamid Algar:</span></p>
<blockquote><p><em>Alih-alih menguraikan doktrin Islam yang paling fundamental seperti tercermin dari judulnya, buku kecil itu hanya berisi kumpulan hadits tanpa diberi komentar, yang disusun dalam enam puluh tujuh bab.</em></p></blockquote>
<p>……</p>
<blockquote><p><em>Adalah lebih mendekati kebenaran untuk mengatakan buku ini dan karya-karya lain Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab merupakan catatan-catatan seorang pelajar.</em></p></blockquote>
<p>……</p>
<blockquote><p><em>Tampaknya para pelindung Wahhabisme merasa malu dengan ketipisan karya Muhammad bin ‘Abd Wahhab, sehingga mereka memandang karya itu perlu dipertebal ukurannya</em>.<a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_edn8">[8]</a></p></blockquote>
<p>Setelah empat belas tahun menyebarkan ajarannya, ia kembali ke tempat kelahirannya, ‘<span style="color:#0000ff;"><em>Uyaynah</em></span>, yang kini memiliki kondisi yang lebih menguntungkan. Penguasa setempat, yaitu <em><span style="color:#0000ff;">‘Utsman ibn Mu’ammar</span></em> memperluas perlindungannya kepada Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab dan bersumpah untuk setia kepada pemahaman tauhid yang didakwahkan oleh Ibnu ‘Abdul Wahhab.</p>
<p>Perlindungan penguasa membuat Ibnu ‘Abdul Wahhab semakin tak terkendali. Ia semakin terang-terangan mengkafirkan semua kaum Muslimin yang dianggapnya melakukan bid’ah. Ia mulai mengutuk berbagai tradisi dan akidah kaum Muslimin serta menolak berbagai tafsir Al-Qur’an yang dianggapnya menyimpang.</p>
<p>Namun ini tidak berlangsung lama. Penguasa saat itu, ‘Utsman ibn Mu’ammar, menyerah kepada pimpinan suku yang kuat di wilayah itu, sehingga pada tahun 1744 ia diusir penguasa baru yang membuatnya pindah ke<span style="color:#0000ff;"><em> Al-Dir’iyyah</em></span> (masih di Najd), ibu kota keamiran <span style="color:#0000ff;"><em>Muhammad bin Sa’ud</em></span>, yang notabene bermusuhan dengan amir ‘Uyainah saat itu. Di sinilah Ibnu ‘Abdul Wahhâb mendapat perlindungan. Selanjutnya terbentuklah sebuah aliansi permanen yang meliputi tiga aspek: politik, keagamaan, dan perkawinan. Di bidang politik, sebagai amir Ibnu Sa’ud mendapatkan legitimasi keagamaan; dalam bidang keagamaan Ibnu ‘Abdul Wahhab diuntungkan dengan diangkatnya menjadi qadi serta ajarannya dinyatakan sebagai mazhab resmi; dan dalam perkawinan Ibnu Sa’ud mengawini salah seorang putri Muhammad bin ‘Abdul Wahhab. Sebuah aliansi yang tentu saja menguntungkan kedua belah pihak. Prof. Abdullah Mohammad Sindi menyebutkan bahwa lagi-lagi Inggris mengambil peran penting dalam rangka terwujudnya aliansi tersebut. Melalui dukungan uang dan senjata, Inggris semakin mudah menghasut mereka aliansi tersebut.<a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_edn9">[9]</a></p>
<p>Inilah babak awal lahirnya sebuah negara teokratik yang kelak mengontrol ketat segala macam bentuk interpretasi keagamaan khususnya di Arab Saudi.</p>
<p>Muhammad bin Saud kemudian menyatakan secara terbuka penerimaannya terhadap berbagai pemikiran dan pandangan keagamaan Muhammad bin Abdul Wahhab. Tahun 1159 H/ 1746 M, aliansi Wahhabi-Saudi melakukan proklamasi formal jihad melawan semua orang yang tidak sejalan dengan pemahaman tauhid Wahhabisme, yaitu orang-orang yang dianggap sebagai kafir, musyrik, dan murtad. Mula-mula mereka menyerang mazhab Syi’ah, kemudian kaum sufi, lalu mulai menyerang orang-orang Sunni. Semua yang tidak mau mengikuti mazhab mereka dianggap kafir dan halal darahnya.</p>
<p>Dalam kurun waktu 10 tahun, aliansi tersebut tumbuh pesat menjadi kekuatan dominan di jazirah Arab. Wilayah kekuasaan Muhammad bin Sa’ud berkembang seluas 30 mil persegi.<a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_edn10">[10]</a></p>
<p>Tahun 1206 H/ 1791 M, tidak lama sesudah bentrokan dengan penguasa Madinah, Muhammad bin ‘Abdul Wahhab meninggal. Namun hal ini tidak mengurangi motivasi untuk melakukan penaklukan dan pembantaian. Malah, kekuatan mereka tumbuh semakin besar.</p>
<p>Pada bulan April tahun 1801, mereka membantai kaum Syi’ah di Karbala, tercatat 4000 orang dibantai secara kejam. Secara brutal pula mereka menghancurkan makam Imam Husain di sana. Tahun 1810 mereka membunuh orang-orang tak bersalah di jazirah Arab. Di Makkah mereka menjarah orang-orang yang menunaikan ibadah haji. Di Madinah mereka menyerang dan menodai Masjid dan makam Nabi.</p>
<p>Menyadari kekuatan yang semakin besar, maka target selanjutnya adalah melepaskan diri dari Imperium Utsmani. Tidak butuh waktu lama, ekspansi Wahhabi berhasil menimbulkan instabilitas di wilayah kekhalifahan tersebut, terutama di semenanjung Arabia, Irak dan Syam.</p>
<p><strong><em>Periode Kedua (1818-1932): Kekalahan dan Kebangkitan Baru</em></strong></p>
<p>Pendudukan kaum Wahhabi atas Haramain memaksa pewaris kekhalifahan yang resmi, yakni Kerajaan Utsmaniyah, untuk bertindak tegas. Terlebih, berbagai aksi teror yang dilancarkan kelompok Wahhabi itu telah membangkitkan kemarahan kaum Muslim sedunia. Untuk menindaklanjutinya, Istanbul mengirim pasukan Mesir untuk menumpas gerakan tersebut. Tahun 1818 M,<span style="color:#0000ff;"><em> Ibrahim Pasya</em></span> dari Mesir mengalahkan kelompok Wahhabi. Dir’iyyah pun diratakan dengan tanah. Abdullah al-Sa’ud, amir saat itu, beserta dua pengikutnya diseret ke Istanbul. Di depan publik kepalanya dipenggal. Sebagian lagi dibawa ke Kairo untuk ditahan di sana. Ini merupakan sebuah pelajaran yang hendak ditunjukkan Kerajaan Utsmaniyah kepada orang-orang yang menggabungkan ambisi politik dengan penyimpangan agama.</p>
<p>Kekalahan itu membuat kelompok Wahhabi yang tersisa semakin terbakar api permusuhan terhadap kelompok Muslim lainnya. Tapi ironisnya, <span style="color:#0000ff;"><em>semakin mendekatkan diri kepada kolonial Inggris</em></span>. Ini terlihat ketika tahun 1851, <span style="color:#0000ff;"><em>Faisal Ibn Turki al-Saud</em></span> yang sebelumnya berhasil meloloskan diri dari tahanannya di Kairo, kembali <span style="color:#0000ff;"><em>meminta dukungan Inggris.</em></span> Sebagai tindak lanjut hubungan itu, tahun 1865 Inggris mengirim <span style="color:#0000ff;">Kolonel Lewis Pelly</span> ke Riyadh untuk membuat suatu perjanjian.</p>
<p>Di awal abad ke-20, tatkala kekuatan dan strategi Inggris semakin berhasil merongrong kekhalifahan Utsmaniyah, kembali pemimpin Wahhabi saat itu, Abdul ‘Aziz, dimanfaatkan. Lagi-lagi, teror kembali dilakukan kelompok Wahhabi. Dilaporkan, sekitar 1200 orang yang membangkang dibantai secara kejam.<a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_edn11">[11]</a></p>
<p>Berkat sokongan Inggris, perlahan tapi pasti aliansi Wahhabi-Saudi di bawah kepemimpinan <span style="color:#0000ff;"><em>Abdul ‘Aziz</em></span> berhasil menaklukkan hampir seluruh jazirah Arab. Puncaknya, tahun 1932 kerajaan Saudi Arabia terbentuk. Ini menandai periode kebangkitan baru aliansi Wahhabi-Saudi.</p>
<p><strong><em>Periode Ketiga (1932-Sekarang): Patron Baru dan Melemahnya Ikatan</em></strong></p>
<p>Periode ini ditandai dengan perolehan atas kekayaan minyak dan peralihan dari Inggris ke Amerika sebagai patron asing utama mereka. Kembali aliansi ini dijadikan instrumen istimewa untuk kepentingan Amerika dan sekutunya di Timur Tengah.</p>
<p>Melalui kucuran petrodollar, dalam beberapa dekade terakhir ini Saudi dan Wahhabismenya itu berupaya tidak saja menghilangkan stigma buruk yang melekat kepadanya, tetapi juga secara dramatis berusaha meningkatkan citra diri di tengah dunia Islam. Oleh karena itu, Wahhabisme kini telah disajikan sebagai gerakan reformis yang semata-mata bertujuan untuk melakukan purifikasi di tubuh Islam. Sang pendiri, Muhammad Ibn Abdul-Wahhab pun ditampilkan sebagai tokoh pembaharu yang telah berhasil memurnikan Islam dari berbagai noda.</p>
<p>Hal-hal memalukan yang menjadi sorotan dunia pun berusaha dieliminasi. Perlakuan diskriminasi terhadap kaum perempuan sebagai warga kelas tiga semakin dikurangi. Tetapi isu-isu sektarian yang menyangkut perlakuan buruk terhadap mazhab minoritas, terutama Syi’ah, tetap berlangsung.<a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_edn12">[12]</a></p>
<p>Namun seiring berjalannya waktu, gejala melemahnya ikatan antara kelompok keagamaan Wahhabi dan keluarga Saudi pun semakin kentara. Pemicu utamanya adalah maraknya korupsi, gaya hidup hedonis, serta mulai munculnya gejala sekularisasi. Sejumlah kecil orang mulai berani mengecam dan berani mengungkap penyimpangan-penyimpangan rezim Saudi.</p>
<p>Pemberontakan di Mekkah bulan November 1979, yang dipimpin oleh<span style="color:#0000ff;"><em> Juhaiman Muhammad ‘Utaibi</em></span>, seorang mantan Kopral Garda Nasional Saudi, menjadi peringatan awal adanya kekecewaan pada sebagian kalangan terhadap kerajaan Saudi. Dikuasainya Masjidil Haram oleh sekelompok bersenjata cukup mengejutkan dunia. Gejolak politik pun meledak. Lalu <span style="text-decoration:underline;"><em>tentara Amerika dan Eropa bersatu membantu pemerintah Saudi memulihkan situasi di tanah suc</em></span>i.<a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_edn13">[13]</a></p>
<p>Perang teluk 1991 dan ekspansi besar kehadiran Amerika semakin membuat lebarnya jurang antara kelompok Wahhabi dan rezim Saud.</p>
<p>Sementara pemerintah Saudi semakin mesra dengan Amerika, para ulama Wahhabi justru menganggap Amerika dan sekutunya adalah musuh yang harus diperangi. Lantas orang bertanya, jika demikian, di mana ulama-ulama Wahhabi ketika Irak diluluhlantakkan Amerika, ketika Hizbullah menahan gempuran Israel selama 33 hari, juga ketika genosida terhadap rakyat Palestina berlangsung hingga kini? Jawabnya sederhana: haram membantu perjuangan orang-orang yang tidak seakidah dengan mereka.<a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_edn14">[14]</a> Itu pula yang menyebabkan kerajaan Saudi setengah hati ketika mendukung penyerangan Amerika terhadap tentara Taliban di Afghanistan yang nota bene berpaham Wahhabi.</p>
<p>Maka ketika World Trade Center di New York luluh lantak pada tanggal 11 September 2001, ulama Wahhabi bernama <span style="color:#0000ff;"><em>‘Abdullah bin Jibrin</em></span> mengeluarkan fatwa yang tidak hanya membenarkan serangan terhadap WTC, tetapi juga mengutuk orang-orang murtad dan kaum Muslim yang berkolaborasi dengan Amerika, sebuah kategori yang jelas di dalamnya termasuk keluarga Kerajaan Saudi.<a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_edn15">[15]</a> Namun meski demikian, masih banyak jajaran ulama Wahhabi yang tetap setia dengan rezim Saudi.</p>
<p><strong>III.  Salafisme: Wajah Baru Wahhabisme?</strong></p>
<p>Ada pengertian yang agak kabur antara Wahhabisme dan Salafisme, apakah keduanya sama atau berbeda. Pasalnya, kaum Wahhabi sering pula mengatasnamakan diri sebagai <em>As-Salaf</em>. Namun jika ditinjau dari kategorisasi historis, terdapat perbedaan di antara keduanya.</p>
<p>Sebagai respons terhadap berbagai perkembangan yang terjadi di dunia Islam, berkaitan dengan makin luasnya dominasi kaum imperialis Barat, muncullah tokoh-tokoh pembaharu seperti Jamal al-Din al-Afghani, Muhammad ‘Abduh, Rasyid Ridha, lalu dilanjutkan dengan Ikhwan al-Muslimin, dan singkatnya diteruskan oleh berbagai tokoh dan gerakan yang dikenal sebagai Salafiyah.</p>
<p>Diantara tokoh-tokoh pembaharu di atas, Rasyid Ridha dikenal paling fundamentalis dan konservatif. Seperti Ibn Abdul Wahhab, referensi langsungnya adalah kepada masa lalu dan para pendahulu yang saleh (<em>al-salaf al-shâlih</em>), karena itu gerakan mereka disebut sebagai <em>Salafiyah</em>. Namun tidak seperti Wahhabisme, gerakan ini berusaha merekonsiliasi ide-ide “modern” dan Islam dengan menemukan (dan menafsirkan) kembali kebaikan-kebaikan yang menurut mereka terdapat dalam agama.<a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_edn16">[16]</a></p>
<p>Akibat situasi politik di dunia Arab, era 1960-an tercipta hubungan yang lebih erat antara Salafi dan Wahhabi ketika tejadi perang dingin antara kubu Mesir dan Arab Saudi. Di bawah payung organisasi Liga Dunia Muslim yang dibentuk Arab Saudi tahun 1962, kaitan lebih erat antara kaum Salafi dan Wahhabi terwujud. Para anggota Ikhwan al-Muslimin di Mesir (dan belakangan di Suriah) hampir sulit disalahkan jika mereka mendekatkan diri kepada Arab Saudi, mengingat serangan-serangan yang mereka terima di negeri mereka sendiri. Padahal kekhawatiran mereka sangat beralasan, yakni semakin prihatin dengan cengkeraman imperialisme asing. Mungkin itulah sebabnya orang-orang dengan kecenderungan Salafi seperti Rasyid Ridha, yang dengan perasaan kecewa tengah mencari seorang pahlawan, mulai bersimpati pada Wahhabisme.</p>
<p>Di tengah transformasi Islam yang berkembang di Timur Tengah saat itu, salah satu yang dikenal bercorak keras adalah yang lahir dari buah pemikiran <span style="color:#0000ff;"><em>Sayyid Quthb</em></span> (w.1960). Awalnya ia menggambarkan kondisi masyarakat kontemporer sebagai neo-Jahiliyyah, namun kemudian ditafsirkan secara radikal oleh aliran Islamis yang lebih muda dan ekstrem di Mesir (dan di beberapa tempat di Timur Tengah). Implikasi paling serius yang telah dielaborasi adalah konsep <em>takfir</em>. Muslim nominal (Islam “KTP”) telah menjadi kafir dan karena itu secara potensial diperbolehkan dibunuh.<a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_edn17">[17]</a></p>
<p>Watak radikal itulah barangkali yang membuat sebagian orang menyamakan Salafisme dengan Wahhabisme. Memang Salafisme memiliki sejumlah kesamaan pandangan keberagamaan dengan Wahhabisme, tetapi perbedaannya cukup mencolok. Adapun yang membedakannya adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Salafi lebih menekankan persuasi daripada pemaksaan dalam rangka mengajak kaum Muslim untuk menerima pandangan mereka.</li>
<li>Salafi memiliki kesadaran dan pengetahuan mengenai krisis politik dan sosial-ekonomi yang melanda dunia Islam.</li>
<li>Salafi merekonsiliasikan ide-ide modern dengan nilai-nilai dalam Islam.</li>
</ol>
<p>Perbedaan di atas bisa ditarik ketika—sekali lagi—istilah Salafisme dikaitkan dengan kategorisasi historis sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya.<span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em> Mengingat saat ini agak kabur untuk membedakan keduanya, terutama yang berkembang di Indonesia.</em></span></p>
<p><strong>IV.  Sekilas Ajaran Wahhabisme</strong></p>
<p>Setelah memaparkan sejarah perkembangan Wahhabisme, penting kiranya untuk sedikit menyinggung doktrin utama ajaran mereka.</p>
<p>Dari paparan sejarah sebelumnya, sebetulnya dapat terbaca bagaimana corak ajaran mereka. Namun di bagian ini penulis akan mencoba meringkasnya seraya menambahkan beberapa poin yang penulis anggap penting.</p>
<p><span style="color:#0000ff;">Kaum Wahhabi, seperti pendirinya, adalah orang-orang yang berpikir sangat linier, literal, kaku, serta sangat denotatif dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits</span>. Umumnya mereka menolak majâz (metafora). Bagi mereka, semua inovasi itu sesat dan semua yang sesat itu masuk neraka. Sehingga bid’ah hanyalah sebuah eufimisme, kata pelembut untuk ‘kafir’.<a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_edn18">[18]</a></p>
<p><span style="color:#0000ff;">Mereka juga menolak keberadaan seni dan budaya dalam Islam</span>, serta tidak mementingkan peninggalan sejarah Islam. Oleh karena itu, tempat-tempat bersejarah Islam seperti rumah tempat kelahiran Nabi, rumah Ummul Mu’minîn Khadîjah, serta tempat tinggal Nabi dihancurkan. Padahal, menurut Syaikh Ja’far Subhani, awalnya Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab memusatkan upayanya hanya untuk menghancurkan kuburan-kuburan saja, bukan menghancurkan setiap peninggalan yang ditinggalkan Rasulullah dan para sahabatnya yang mulia. Tetapi para pengikutnya kini telah meluaskan usahanya dengan melakukan pemusnahan setiap peninggalan Islam, dengan dalih perluasan kedua tempat suci, Makkah dan Madinah.<a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_edn19">[19]</a> Ini tentu sangat disayangkan dan penting untuk diperhatikan kaum Muslim di seluruh dunia.</p>
<p>Kian hari umat Islam mengalami persoalan yang kian menumpuk. Namun bagi Wahhabi, persoalan utama umat Islam terletak pada masalah tauhid, di mana mereka membaginya menjadi tiga bagian:<a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_edn20">[20]</a> <em> </em></p>
<p><strong><em>1). Tauhid al-Rububiyyah</em></strong></p>
<p>Tauhid ini mengandung arti pengakuan bahwa hanya Allah semata yang memiliki sifat <em>rabb</em>, penguasa dan pencipta dunia, yang menghidupkan dan mematikan. Tauhid ini sekadar pengakuan verbal yang dengannya saja belum memadai untuk mencapai kualitas sebagai Muslim. <em> </em></p>
<p><strong><em>2). Tauhid al-Asma wa al-Sifat</em></strong></p>
<p>Mengandung pengertian hanya membenarkan nama dan sifat yang disebut dalam Al-Qur’an. Tidak diperbolehkan menerapkan nama-nama tersebut kepada siapapun selain Tuhan. Ini merupakan ulangan dari apa yang dirumuskan oleh Ibn Taymiyyah yang mengecam antropomorfisme. <em> </em></p>
<p><strong><em>3). Tauhid al-‘Ibâdah</em></strong></p>
<p>Mengandung pengertian bahwa seluruh ibadah hanya ditujukan kepada Allah. Tauhid inilah yang dianggap paling penting, yang membatasi secara tegas antara Islam dan kufur, antara tauhid dan syirik. Di sini <em>tauhîd al-‘ibâdah</em> didefinisikan secara negatif, dalam arti menghindari praktik-praktik tertentu; bukan secara afirmatif. Inilah yang mengakibatkan perasaan takut terhadap apa yang dianggap sebagai penyimpangan. Ini membantu menjelaskan mengapa Wahhabisme memiliki watak yang sangat keras.<a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_edn21">[21]</a> Maka segala macam bentuk tawassul, ziyarah, tabarruk, syafâ’ah, hingga praktik-praktik yang telah menjadi tradisi dalam Islam Sunni dan Syi’ah seperti maulid, dianggap sebagai pelanggaran atas <em>tauhîd al-‘ibâdah</em>.</p>
<p><strong>Dalam pandangan Wahhabi, bid’ah dibagi menjadi dua</strong>: 1). Bid’ah dalam adat dan tradisi; 2). Bid’ah dalam agama. Bid’ah yang pertama hukumnya mubah/boleh, sedangkan yang kedua haram dan sesat. Bid’ah yang kedua kemudian dibagi lagi menjadi dua: <span style="color:#0000ff;"><em>bid’ah qawliyyah i’tiqadiyyah</em></span> dan <span style="color:#0000ff;"><em>bid’ah fi al-‘ibadah</em>.</span></p>
<p>Bagi Wahhabi, kaum Syi’ah, Sufi, dan kebanyakan kaum Sunni telah melakukan bid’ah baik <em>bid’ah qawliyyah i’tiqadiyyah</em> maupun <em>bid’ah fi al-‘ibadah</em>. Maka dari itu boleh (bahkan harus) diperangi.</p>
<p><strong>V.  Refleksi</strong></p>
<p>Wahhabisme pada awalnya memang merupakan sebuah gerakan keagamaan murni hasil pemikiran seorang anak manusia sebagai respons terhadap praktik-praktik lokal keberagamaan yang dipandang menodai kemurnian Islam. Bahwa kemudian ia dijadikan alat oleh Inggris untuk menancapkan hegemoninya, ini adalah hal lain yang memang tak dapat dipungkiri, bukti-bukti sejarah menunjukkan demikian. Namun mengatakannya bahwa sejak awal memang sudah diatur oleh Inggris, memerlukan bukti-bukti yang lebih kuat lagi. Adapun memoar <span style="color:#0000ff;">‘<em>Confession of a British Spy</em>’ tidak cukup kuat dijadikan bukti karena mengandung beberapa kejanggalan, walaupun tetap patut dibaca untuk ‘meraba’ situasi jazirah Arab saat itu.</span></p>
<p>Jika saja aliansi Wahhabi-Saudi tak memiliki kekayaan berupa cadangan minyak raksasa, gerakan Wahhabisme mungkin hanya tergores dalam catatan sejarah sebagai gerakan pemikiran yang secara intelektual bersifat marjinal dan berumur pendek saja. Namun nasib baik sebagai negeri kaya raya mampu membuat mereka eksis hingga saat ini. Mereka memiliki modal kuat sehingga mampu menyebarluaskan paham Wahhabisme di dunia Islam, hingga ke Indonesia.<a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_edn22">[22]</a> Dan penyebaran paham Wahhabisme di Indonesia terbilang cukup pesat. <span style="color:#0000ff;">Inilah salah satu sebab mengapa Indonesia yang sebelumnya sering disebut sebagai contoh <em>par excellence</em> masyarakat Muslim yang lembut dan sejuk, perlahan mengalami radikalisasi akibat pengaruh ideologi dan kebudayaan luar.</span></p>
<p>Karakteristik Wahhabisme yang sangat kaku telah ikut membunuh tradisi dialektika yang mewarnai peradaban Islam berabad-abad lamanya. Contoh konkretnya bisa didapati di Makkah dan Madinah. <span style="color:#0000ff;">Sangat disayangkan bahwa Haramain yang telah berabad-abad lamanya menjadi pusat intelektual dunia Islam, di tangan Wahhabi berakhir. Nyaris tak menyisakan apapun kecuali lembaga-lembaga dakwah Wahhabisme yang secara absurd diberi label Universitas.</span> Padahal kegiatan intelektual menentukan perkembangan peradaban suatu bangsa. Selama masih dalam genggaman kekuasaan Wahhabi, sulit mengembalikan Makkah dan Madinah ke masa-masa awal ketika kedua kota tersebut masih menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam.</p>
<p>Imbas ekspansi Wahhabisme menyentuh pula aspek seni dan budaya. Fakta yang ditemukan kini, <span style="color:#0000ff;">nyaris tak ada peninggalan seni dan budaya Islam di Arab Saudi</span>. Maka menjadi sebuah ancaman serius ketika mereka berhasil mengekspor pahamnya hingga berhasil memberangus seni dan budaya yang merupakan muatan lokal suatu wilayah.</p>
<p>Memang sulit diterima ketika Wahhabisme menolak keragaman budaya dan apresiasi terhadap seni. Sejak dulu kala keragaman seni dan budaya dalam Islam begitu kaya, ekspresinya amat berwarna. Bahkan dalam pandangan sufistik, seni merupakan manifestasi keindahan ilahiah yang mampu membangkitkan gairah spiritualisme.</p>
<p>Hal lainnya yang patut menjadi sorotan adalah masalah persatuan Islam. Cara-cara radikal yang mereka tempuh telah mengantarkan kepada tindakan kontra produktif. <span style="color:#0000ff;">Persatuan Islam yang selama ini telah dijaga utuh oleh berbagai kalangan baik Sunni ataupun Syi’ah terancam secara serius akibat pandangan sempit kelompok Wahhabi, yang sayangnya lagi, mudah dijadikan alat adu domba oleh musuh Islam yang sesungguhnya.</span></p>
<p>Telah banyak sarjana, baik Muslim maupun non-Muslim, yang merasa prihatin dengan implikasi negatif ekspansi Wahhabisme. Mereka cukup produktif menghasilkan karya ilmiah untuk mengungkap sejarah kelam Wahhabisme. Sayangnya, isu ini bukan sesuatu yang menarik bagi sebagian besar masyarakat kita. Maka akibat sikap lalai, tak heran jika paham Wahhabisme dengan mudahnya masuk ke sekolah-sekolah hingga ke Universitas.<a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_edn23">[23]</a></p>
<p>Mungkin membingungkan mengapa para mahasiswa dapat tertarik pada pandangan Wahhabisme. Namun ketertarikan itu bisa jadi wajar, mengingat para mahasiswa terbiasa dengan pandangan dunia rasionalistik yang didorong oleh studi mereka di bidang teknologi, rekayasa dan ilmu alam. Lantas mereka mendapati di dalam Wahhabisme ada Islam yang (seolah) telah dirasionalkan, yakni Islam yang telah dibersihkan dari kompleksitas teologi dan kerumitan sufisme, yang dinilai sebagai tambahan yang tergolong bid’ah. Singkatnya, mereka menemukan bahwa Islam yang disajikan dalam bentuk sederhana dan “hitam-putih” cocok bagi mereka.</p>
<p>Perlu dicatat bahwa <span style="color:#0000ff;">tidak semua paham Wahhabi dan Salafi yang ada sekarang setuju dengan cara-cara kekerasan.</span> Ini seiring dengan dinamika kehidupan, spektrum yang terbentuk menjadi semakin lebar dan melahirkan kategorisasi-kategorisasi baru. Dalam hal ini, selama mereka tidak menggunakan cara-cara kekerasan, dakwah mereka tidak dapat disalahkan. Justru ini menjadi PR besar bagi kita untuk berusaha menyajikan ilmu-ilmu agama “orisinil” sebagai menu yang mengundang selera anak-anak muda sejak dini. Sebab, bisa jadi mudahnya mereka terdoktrin oleh ajaran Wahhabisme disebabkan karena kebanyakan dari mereka belum menyadari betapa samudera keilmuan Islam sesungguhnya begitu luas dan mempesona.[]</p>
<hr size="1" />
<p><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_ednref1">[1]</a> Algar, Hamid. <em>Wahhabisme, Sebuah Tinjauan Kritis</em>, Jakarta: Paramadina, 2008, hal 28</p>
<p><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_ednref2">[2]</a> Kaum Wahhabi sendiri menganggap mereka sebagai representasi dari <em>Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah</em>.</p>
<p><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_ednref3">[3]</a> Algar, Hamid, op. cit., hal 30</p>
<p><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_ednref4">[4]</a> Hamid Algar memandang motif perjalanan Ibnu ‘Abdul Wahhab masih tanda tanya. Sejarawan lainnya mengatakan untuk urusan bisnis atau sekadar bersenang-senang. Ada juga yang mengatakan motif perjalanannya itu untuk menimba ilmu.</p>
<p><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_ednref5">[5]</a> Abdullah Mohammad Sindi, <em>Britain and the Rise of Wahhabism and the House of Saud</em>, e-Bulletin Vol.IV 16 January 2004, www.kanaanonline.org</p>
<p><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_ednref6">[6]</a> Meskipun catatan atau buku berjudul <em>Confession of a British Spy</em> ini diragukan keasliannya oleh sebagian kalangan, termasuk Prof. Hamid Algar, namun cukup layak dibaca untuk mengetahui gambaran situasi di jazirah Arab saat itu.</p>
<p><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_ednref7">[7]</a> Waqf Ikhlâs, <em>Confession of a British Spy, </em>Istanbul: Waqf Ikhlas Publications No.14, Eight Edition, 2001</p>
<p><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_ednref8">[8]</a> Algar, Hamid, op. cit., hal 30, 44, 45, 47</p>
<p><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_ednref9">[9]</a> Dr. Mohammad Abdullah Sindi, op. cit.</p>
<p><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_ednref10">[10]</a> Ibid.</p>
<p><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_ednref11">[11]</a> Ibid.</p>
<p><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_ednref12">[12]</a> International Crisis Group, dalam jurnal tertanggal 19 September 2005, melaporkan bahwa intimidasi terhadap kaum minoritas Syi’ah terus berlangsung, bahkan di sekolah-sekolah guru-guru secara terbuka mengkafirkan Syi’ah di depan para siswanya. Belum lagi fatwa ulama Wahhabi yang terang-terangan menghalalkan darah kaum Syi’ah.</p>
<p><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_ednref13">[13]</a> Trofimov, Yaroslav, <em>Kudeta Mekkah</em>, eBook, Pustaka Alvabet, <a href="http://books.google.co.id/books?id=gPYcKbf6sxIC&amp;printsec=frontcover&amp;hl=en#v=onepage&amp;q=&amp;f=false">http://books.google.co.id/books?id=gPYcKbf6sxIC&amp;printsec=frontcover&amp;hl=en#v=onepage&amp;q=&amp;f=false</a></p>
<p><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_ednref14">[14]</a> Isu ini bisa dicek di beberapa website Wahhabi/ Salafi baik di luar maupun dalam negeri. Sebagai contoh:  <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=1086">http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=1086</a></p>
<p><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_ednref15">[15]</a> Algar, Hamid, op.cit., hal 119</p>
<p><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_ednref16">[16]</a> Fealy, Greg dan Anthony Bubalo, <em>Jejak Kafilah, Pengaruh Radikalisme Timur Tengah di Indonesia</em>, Bandung: Mizan, 2007, hal 32</p>
<p><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_ednref17">[17]</a> Ibid, hal 41</p>
<p><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_ednref18">[18]</a> Muhsin Labib, <em>Wahabisme Dan ‘Teologi Penyesatan’</em>, <a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2007/02/28/wahabisme-dan-%E2%80%98teologi-penyesatan%E2%80%99/">http://irfanpermana.wordpress.com/2007/02/28/wahabisme-dan-%E2%80%98teologi-penyesatan%E2%80%99/</a></p>
<p><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_ednref19">[19]</a> Subhani, Ja’far, <em>Al-Milal wa Al-Nihal</em>, <em>Studi Tematis Mazhab Kalam</em>, Pekalongan: Penerbit Al-Hadi, 1997, hal 363</p>
<p><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_ednref20">[20]</a> Algar, Hamid, op.cit., hal 69</p>
<p><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_ednref21">[21]</a> Ibid, hal 72</p>
<p><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_ednref22">[22]</a> Greg Fealy dan Anthony Bubalo dalam bukunya, Jejak Kafilah, mengatakan bahwa tiga organisasi di Indonesia secara khusus menerima dukungan dana signifikan dari Arab Saudi. Mereka adalah DDII, Al-Irsyad, dan Persis. (Fealy, Greg dan Anthony Bubalo, Jejak Kafilah, Bandung: Mizan, 2007)</p>
<p><a href="http://irfanpermana.wordpress.com/2010/05/13/rekam-jejak-wahhabisme/#_ednref23">[23]</a> Baca tulisan Prof. Komaruddin Hidayat yang dipublikasikan di website alamat berikut: <a href="http://news.okezone.com/read/2009/10/23/58/268509/radikalisme-islam-menyusup-ke-smu">http://news.okezone.com/read/2009/10/23/58/268509/radikalisme-islam-menyusup-ke-smu</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bicarasalafy.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bicarasalafy.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bicarasalafy.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bicarasalafy.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bicarasalafy.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bicarasalafy.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bicarasalafy.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bicarasalafy.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bicarasalafy.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bicarasalafy.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bicarasalafy.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bicarasalafy.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bicarasalafy.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bicarasalafy.wordpress.com/386/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=386&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/05/22/rekam-jejak-wahhabisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/257bb80357a13f2016c61cc444aa4943?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bicarasalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>J Algar (SP) Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza: Apakah Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami Seorang Sahabat Nabi SAW?</title>
		<link>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/04/24/j-algar-sp-dialog-dengan-blogger-wahabisalafy-abu-jauza-apakah-abdurrahman-bin-%e2%80%98aaisy-al-hadhrami-seorang-sahabat-nabi-saw/</link>
		<comments>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/04/24/j-algar-sp-dialog-dengan-blogger-wahabisalafy-abu-jauza-apakah-abdurrahman-bin-%e2%80%98aaisy-al-hadhrami-seorang-sahabat-nabi-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Apr 2011 13:36:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bicarasalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Berdialog Dengan Bloger Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Bloger Bicara Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Taymiah]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Tajsim dan Tasybih]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid dan Syirik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bicarasalafy.wordpress.com/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami Seorang Sahabat Nabi SAW? SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran Di tulis Oleh: J Algar (SP) Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami adalah seorang yang diperselisihkan status persahabatannya dan diperselisihkan sanad-sanad hadisnya. Sebagian ulama mengatakan ia sahabat Nabi dan sebagian yang lain menolak status persahabatannya. Satu-satunya hadis yang diriwayatkan olehnya adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=232&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#800000;"><strong>Apakah Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami Seorang Sahabat Nabi SAW?</strong></span></p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span><a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/12/03/apakah-abdurrahman-bin-%E2%80%98aaisy-al-hadhrami-seorang-sahabat-nabi-saw/" target="_blank"> Blog Analisis Pencari Kebenaran</a><a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/12/03/apakah-abdurrahman-bin-%E2%80%98aaisy-al-hadhrami-seorang-sahabat-nabi-saw/" target="_blank"><br />
</a></strong></p>
<p><span style="color:#008000;"><strong>Di tulis Oleh: J Algar (SP)<br />
</strong></span></p>
<p>Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami adalah seorang yang diperselisihkan status persahabatannya dan diperselisihkan sanad-sanad hadisnya. <span style="text-decoration:underline;"><em>Sebagian ulama mengatakan ia sahabat Nabi dan sebagian yang lain menolak status persahabatannya</em>.</span> Satu-satunya hadis yang diriwayatkan olehnya adalah hadis Ru’yatullah dimana <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Nabi SAW melihat Allah SAW dengan sebaik-baik bentuk di dalam mimpi</em>.</span></span> Dalam pembahasan sebelumnya kami telah membuktikan bahwa <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/10/31/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%E2%80%9D2/" target="_blank"><em>hadis Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami tersebut mudhtarib</em></a>. Oleh karena itu pendapat yang rajih dalam hal ini adalah Ia bukan seorang sahabat Nabi dan hadisnya mudhtharib.</p>
<p><span id="more-232"></span></p>
<p>Sebagian orang yang bersikeras mempertahankan keshahihan hadis <span style="text-decoration:underline;"><em>“Melihat Allah SWT dalam sebaik-baik bentuk di dalam mimpi”</em><em>Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami seorang sahabat</em>.</span> menolak bahwa hadis tersebut mudhtharib dan menyatakan bahwa Orang tersebut berhujjah dengan hadis-hadis yang menurutnya menjadi bukti persahabatan Ibnu ‘Aaisy karena dalam hadis-hadis tersebut terdapat lafaz <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>“mendengar langsung dari Rasulullah SAW”</em> atau <em>lafaz yang menyiratkan pertemuan Ibnu ‘Aaisy dengan Nabi SAW</em>.</span></span></p>
<p>Hujjah orang tersebut adalah hujjah yang batil bahkan tidak bernilai hujjah karena <em>hadis-hadis yang dimaksud tidaklah tsabit sebagai bukti persahabatan Ibnu ‘Aaisy Al Hadhrami</em>. Kami akan membahas hadis-hadis tersebut dan membuktikan bahwa <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>satu-satunya hadis yang dimiliki Ibnu ‘Aaisy Al Hadhrami adalah hadis ru’yah yang mudhtharib</em>.</span></span> Sebelum memasuki pembahasan hadis-hadis tersebut, kami akan mengulas sedikit mengenai <em>bagaimana seorang perawi itu dinyatakan oleh ulama sebagai Sahabat Nabi</em>. Seorang ulama tidaklah bertemu langsung dengan sahabat Nabi sehingga pernyataan mereka bukanlah hujjah yang mutlak akan <em>persahabatan seorang perawi dengan Nabi SAW</em>. Sehingga hujjah ulama juga perlu dinilai dengan kritis. Ada beberapa cara yang digunakan ulama diantaranya</p>
<ul>
<li><em>Melalui kabar yang mutawatir baik dari kitab hadis maupun kitab sirah seperti para sahabat besar yaitu Ali, Abu Bakar, Umar, Utsman, Thalhah dan yang lainnya.</em></li>
<li><em>Melalui kabar shahih baik dalam hadis maupun sirah, disini bisa sahabat itu sendiri yang meriwayatkan hadis langsung dari Nabi SAW atau kesaksian sahabat lain bahwa orang tersebut adalah sahabat Nabi SAW.</em></li>
<li><em>Melalui kesaksian seorang tabiin tsiqat yang meriwayatkan langsung dari sahabat tersebut.</em></li>
</ul>
<p>Seandainya seorang perawi diperselisihkan status persahabatannya maka yang harus dilakukan adalah <span style="text-decoration:underline;">menilai dasar-dasar yang digunakan oleh ulama tersebut.</span> <em>Apa dasarnya ulama yang menetapkannya sebagai sahabat</em> dan <em>apa dasarnya ulama yang menolak status persahabatannya.</em> Dasar dan hujjah yang kuat itulah yang kita jadikan pegangan bukannya taklid semata terhadap perkataan ulama dan seenaknya menafikan ulama lain yang menyelisihinya.</p>
<p>Jika kita memperhatikan dengan cermat, Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami tidak disebutkan baik dalam kitab hadis maupun kitab sirah kecuali dari <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>hadis yang ia riwayatkan</em>.</span></span> Tidak ada keterangan sejarah mengenai kehidupannya baik tahun lahir maupun tahun wafat . Satu-satunya bukti keberadaan dirinya adalah hadis yang ia riwayatkan sendiri yaitu <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>hadis Nabi SAW melihat Allah SWT dalam sebaik-baik bentuk di dalam mimpi</em>.</span></span> Oleh karena itu satu-satunya cara mengetahui persahabatannya dengan Nabi SAW adalah <em>dengan menilai hadis yang diriwayatkannya Apakah tsabit atau tidak.</em></p>
<p>Kami telah katakan bawa satu-satunya hadis yang dimiliki Ibnu ‘Aaisy Al Hadrami  adalah hadis Ru’yah yang mudhtharib tetapi sebagian orang menolaknya dan mengatakan kalau Ibnu ‘Aaisy memiliki hadis-hadis lain sebagai bukti persahabatannya. Sayang sekali hadis yang mereka maksud tidak tsabit(kuat) milik Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis-hadis Yang Dinisbatkan pada Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhramy</strong></p>
<p><strong>Hadis Pertama Ibnu ‘Aaisy</strong><br />
Hadis pertama yang dijadikan hujjah persahabatan Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami adalah hadis yang dikutip Ibnu Hajar dalam <em>Al Ishabah</em> 4/324 no 5152 biografi Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Nu’aim Al Ashbahani dalam <em>Ma’rifat As Shahabah</em> no 1886</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا محمد بن أحمد بن الحسن ثنا محمد بن عثمان بن أبي شيبة  ثنا أبي  ثنا أبو معاوية  عن سهيل  عن أبيه  عن عبد الرحمن بن عائش  قال  قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  من نزل منزلا  فقال  أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق ، لم ير في منزله ذلك شيئا يكرهه حتى يرتحل عنه  قال سهيل  قال أبي  فلقيت عبد الرحمن بن عائش في المنام  فقلت له  حدثك النبي صلى الله عليه وسلم هذا الحديث ؟ قال  نعم</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah dari Suhail dari Ayahnya dari Abdurrahman bin ‘Aaisy yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa yang singgah di suatu tempat kemudian mengucapkan ‘Aku berlindung dengan Kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa-apa yang diciptakanNya’ maka tidak ada sesuatu yang ia benci di tempat itu sampai ia meninggalkannya”. Suhail berkata “Ayahku berkata ; Aku bertemu Abdurrahman bin ‘Aaisy di dalam mimpi kemudian aku bertanya ‘Apakah Nabi SAW menceritakan hadis ini kepadamu?’. Ia menjawab “benar”.</em></p>
<p>Hadis ini baik dari segi sanad maupun matannya tidak dapat dijadikan hujjah persahabatan Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami. Dari segi matannya hadis ini tidak menunjukkan <em>adanya pendengaran langsung dari Rasulullah SAW</em>, di hadis ini lafaz hadis tersebut <em><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">“Abdurrahman bin ‘Aaisy berkata Rasulullah SAW bersabda”</span></span>.</em> Lafaz <em>qala qala</em> ini adalah lafaz yang tidak menunjukkan pendengaran langsung [dimana seorang tabiin bisa memursalkan hadis dengan lafaz ini]. Sedangkan pernyataan Abdurrahman bin ‘Aaisy di akhir hadis <span style="text-decoration:underline;"><em>kalau Nabi SAW menceritakan hadis tersebut kepadanya</em></span> berasal dari<em> <span style="text-decoration:underline;">mimpi Abu Shalih</span></em> dan <span style="text-decoration:underline;"><em>mimpi tentu tidak bisa menjadi hujjah</em>.</span></p>
<p>Dari segi sanadnya [terlepas dari kontroversi kedudukan salah satu perawinya] hadis ini bukanlah milik <em>Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami</em>. Abu Shalih As Saman tidak meriwayatkan hadis dari Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami. Dalam <em>Tahdzib Al Kamal</em> 17/202 no 3864 Al Mizi berkata tentang <em>Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami</em></p>
<h2 style="text-align:right;">روى عنه خالد بن اللجلاج وربيعة بن يزيد وأبو سلام الأسود</h2>
<p><em>Telah meriwayatkan darinya Khalid bin Al Lajlaaj, Rabi’ah bin Yazid dan Abu Sallam Al Aswad.<br />
</em><br />
Sebenarnya yang meriwayatkan dari Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami hanyalah<span style="text-decoration:underline;"> <em>Khalid Al Lajlaaj dan Abu Sallam Al Aswad</em></span> sedangkan Rabi’ah bin Yazid tidak tsabit meriwayatkan dari Abdurrahman bin ‘Aaisy [sebagaimana yang akan dijelaskan nanti]. Kedua perawi tersebut [Khalid dan Abu Sallam] meriwayatkan hadis Abdurrahman bin ‘Aaisy  yaitu <span style="color:#000080;"><em>hadis ru’yah dimana jika dikumpulkan periwayatan mereka akan tampak adanya idhthirab (kekacauan)</em>.</span> Tidak ada keterangan yang menyatakan bahwa Dzakwan Abu Shalih As Saman [Ayahnya Suhail] meriwayatkan hadis dari <em>Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami</em> baik dalam biografi Ibnu ‘Aaisy atau biografi Dzakwan dalam <em>Tahdzib Al Kamal </em>8/513-514 no 1814.</p>
<p>Hadis ini sebenarnya bukan milik Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami tetapi milik Ibnu ‘Aaisy Al Juhani. Ibnu Makula dalam <em>Al Ikmal</em> 6/19 telah membedakan <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami </em></span></span>dengan<span style="color:#0000ff;"> <em>Ibnu ‘Aaisy Al Juhani</em>.</span> Ia menyebutkan</p>
<h2 style="text-align:right;">ابن عائش الجهنى له صحبة روى عن النبي صلى الله عليه وسلم روى حديثه سهيل بن أبى صالح عن أبيه عن ابن عائش</h2>
<p><em>Ibnu ‘Aaisy Al Juhani seorang sahabat, meriwayatkan dari Nabi SAW, hadisnya diriwayatkan oleh Suhail bin Abi Shalih dari Ayahnya dari Ibnu ‘Aaisy.</em></p>
<p>Hal yang sama juga diungkapkan oleh Daruquthni dalam <em>Al Mu’talif Wal Mukhtalif</em> 2/156, ia menulis keterangan tentang <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu ‘Aaisy Al Juhani</em> </span></span>tepat setelah menyebutkan keterangan tentang <em><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Abdurrahman bin ‘Aaisy </span></span>Al Hadhrami</em>. Daruqutni berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">ابن عائش الجهني له صحبة روى حديثه سهيل بن أبي صالح عن أبيه عن ابن عائش واختلف فيه</h2>
<p><em>Ibnu ‘Aaisy Al Juhani seorang sahabat hadisnya diriwayatkan oleh Suhail bin Abi Shalih dari Ayahnya dari Ibnu ‘Aaisy, padanya ada perselisihan.</em></p>
<p>Abu Nu’aim melakukan kekeliruan dalam kitabnya <em>Ma’rifat As Shahabah</em>. Abu Nu’aim mencampuraduk perawi yang bernama Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami dan Ibnu ‘Aaisy Al Juhani. Abu Nu’aim menganggap keduanya adalah satu orang yang sama. Dalam <em>Ma’rifat As Shahabah</em> no 1886 ia menyatakan</p>
<h2 style="text-align:right;">عبد الرحمن بن عائش الحضرمي وقيل <span style="color:#0000ff;">الجهني</span> يعد في الشاميين مختلف في صحبته وفي سند حديثه</h2>
<p><em>Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadrami dikatakan juga <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Al Juhani</span></span> termasuk penduduk Syam, diperselisihkan status persahabatannya dan dalam sanad hadisnya</em>.</p>
<p>Padahal Ibnu ‘Aaisy Al Hadhrami dan Ibnu ‘Aaisy Al Juhani adalah dua orang yang berbeda. Sehingga para ulama ketika menuliskan keterangan tentang mereka menempatkannya dalam tempat yang berbeda.</p>
<ul>
<li>Adz Dzahabi menuliskan nama Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami dalam <em>Tajrid Asma As Shahabah</em> 1/350 no 3712[dimana ia berkata<em> “diperselisihkan persahabatannya”</em>] dan menuliskan nama Ibnu ‘Aaisy Al Juhani dalam <em>Tajrid Asma Shahabah</em> 2/214 no 2473.</li>
<li>Ibnu Atsir dalam <em>Usudul Ghabah </em>3/479 menyebutkan biografi Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami [dimana ia berkata<em> “tidak shahih kalau ia sahabat”</em>] kemudian dalam <em>Usudul Ghabah</em> 6/360 menyebutkan keterangan tentang Ibnu ‘Aaisy Al Juhani.</li>
<li>Ibnu Nashiruddin Ad Dimasyq dalam<em> Taudhih Al Musytabih</em> 6/37 juga membedakan kedua orang ini Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadrami dan Ibnu ‘Aaisy Al Juhani.</li>
</ul>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis Kedua Ibnu ‘Aaisy</strong><br />
Hadis kedua yang dijadikan hujjah untuk membuktikan persahabatan Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami adalah hadis yang disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya <em>Al Ishabah</em> 4/324 no 5152. Ibnu Hajar berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">وروينا في الذكر للفريابي من طريق إسماعيل بن جعفر أخبرني سهيل بن أبي صالح عن أبيه عن بن عائش أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من قال حين يصبح لا إله إلا الله وحده لا شريك له الحديث وفيه فكان ناس ينكرون ذلك ويقولون لابن عائش لأنت سمعت هذا من رسول الله صلى الله عليه وسلم قال نعم فأرى رجل ممن كان ينكر ذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم في المنام فقال يا رسول الله أنت قلت كذا وكذا فقص عليه حديثه فقال صلى الله عليه وسلم صدق بن عائش</h2>
<p><em>Diriwayatkan dalam Adz Dzikr Al Faryabi dengan jalan Ismail bin Ja’far yang berkata telah mengabarkan kepadaku Suhail dari Ayahnya dari Ibnu ‘Aaisy bahwa Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa yang membaca di waktu pagi ‘Tidak ada Tuhan selain Allah dan tiada sekutu bagi-Nya –al hadis-. Dan orang-orang mengingkari hal itu, mereka berkata kepada Ibnu ‘Aaisy “Apakah kamu mendengar hadis ini dari Rasulullah?”. Ia menjawab “benar”. Kemudian seorang laki-laki dari kalangan mereka melihat Rasulullah SAW di dalam mimpi, ia berkata “Wahai Rasulullah apakah anda berkata begini begitu dan ia menyebutkan hadisnya. Rasulullah SAW menjawab “Ibnu ‘Aaisy benar”.</em></p>
<p>Hadis ini juga sebenarnya bukan milik <em>Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami</em>. Ibnu ‘Aaisy yang dimaksud dalam hadis ini adalah <em><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Abu ‘Ayyasy Az Zuraqi</span></span>.</em> Ia seorang sahabat dan hadis yang dikutip oleh Ibnu Hajar itu sebenarnya telah disebutkan dalam<em> Sunan Abu Dawud </em>2/741 no 5077 dan <em>Sunan Ibnu Majah</em> 2/1272 no 3867, berikut lafaz Abu Dawud</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا موسى بن إسماعيل ثنا حماد ووهيب نحوه عن سهيل عن أبيه عن ابن أبي عائش وقال حماد عن أبي عياش أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ” من قال إذا أصبح لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير كان له عدل رقبة من ولد إسماعيل وكتب له عشر حسنات وحط عنه عشر سيئات ورفع له عشر درجات وكان في حرز من الشيطان حتى يمسي وإن قالها إذا أمسى كان له مثل ذلك حتى يصبح ” قال في حديث حماد فرأى رجل رسول الله صلى الله عليه و سلم فيما يرى النائم فقال يارسول الله إن أبا عياش يحدث عنك بكذا وكذا قال ” صدق أبو عياش ” قال أبو داود رواه إسماعيل بن جعفر وموسى الزمعي وعبد الله بن جعفر عن سهيل عن أبيه عن ابن عائش</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad dan Wuhaib seperti itu dari Suhail dari Ayahnya dari Ibnu Abi ‘Aaisy dan Hammad berkata dari Abi Ayyasy bahwa Rasulullah SAW bersabda barang siapa membaca di waktu pagi “Tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Maka orang tersebut akan mendapatkan pahala seperti memerdekakan budak dari keturunan Isma’il, akan dituliskan sepuluh kebaikan untuknya, akan dihapus darinya sepuluh dosa, dan dinaikkan kedudukannya sepuluh derajat. Dia juga akan dijaga dari setan hingga datang waktu sore. Jika pada waktu sore ia membaca doa itu maka ia akan mendapatkan yang seperti itu pula hingga datang waktu pagi.” Dalam hadits Hammad disebutkan, “Seorang laki-laki melihat Rasulullah SAW di dalam mimpi, kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah, Abu Ayyasy menceritakan tentangmu begini dan begitu!” Beliau bersabda: “Abu Ayyasy benar.” Abu Dawud berkata, ” Isma’il bin Ja’far, Musa Az Zam’i dan Abdullah bin Ja’far meriwayatkannya dari Suhail, dari Ayahnya, dari Ibnu ‘Aaisy.</em></p>
<p>Jika kita memperhatikan dengan baik maka sudah jelas <span style="text-decoration:underline;"><em>Ibnu ‘Aaisy yang dimaksud disini adalah Abu Ayyasy Az Zuraqi bukannya Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami</em>.</span> Para ulama memasukkan hadis ini dalam biografi<span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"> <em>Abu Ayyasy Az Zuraqi</em> </span></span>seperti yang disebutkan Bukhari dalam <em>Tarikh Al Kabir</em> juz 3 no 1280. Dalam biografi<span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"> <em>Zaid bin Shamit Abu Ayyasy Az Zuraqi</em> </span></span>tersebut Bukhari juga menyebutkan hadis dengan sanad dengan nama Ibnu ‘Aaisy, artinya Bukhari mengakui kalau orang yang dimaksud Ibnu ‘Aaisy dalam hadis ini adalah Zaid bin Shamit Abu Ayyasy Az Zuraqi.</p>
<p>Anehnya Ibnu Hajar sendiri dalam <em>Al Ishabah</em> 7/295 no 10310 menyebutkan kalau Ibnu ‘Aaisy yang dimaksud dalam hadis ini adalah Abu Ayyasy. Ibnu Hajar berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">أبو عياش وقيل بن عائش وقيل بن أبي عياش روى عن النبي صلى الله عليه وسلم من قال إذا أصبح لا إله إلا الله الحديث من رواية سهيل بن أبي صالح عن أبيه عنه أخرج حديثه أبو داود والنسائي وابن ماجة</h2>
<p><em>Abu Ayyasy dikatakan juga Ibnu ‘Aaisy, dikatakan juga Ibnu Abi Ayasy meriwayatkan dari Nabi SAW  “barangsiapa yang di waktu pagi membaca “Tiada Tuhan Selain Allah-al hadis- . Ini riwayat Suhail bin Abi Shalih dari Ayahnya yang meriwayatkan darinya[Abu Ayyasy]. Hadis ini dikeluarkan oleh Abu Dawud, Nasa’i dan Ibnu Majah.</em></p>
<p>Hal yang sama [bahwa Abu Ayyasy disebut juga Ibnu 'Aaisy] juga diungkapkan oleh Ibnu Hajar dalam <em>At Tahdzib</em> juz 12 no 895 biografi Abu Ayyasy Az Zuraqi dan dalam<em> At Taqrib</em> 2/446 dan disepakati oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth bersama Bashar Awad Ma’ruf dalam <em>Tahrir At Taqrib</em> no 8291. Jadi bisa dikatakan bahwa menjadikan hadis ini sebagai hujjah persahabatan Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadrami merupakan kecerobohan yang sangat dan tidak bernilai sama sekali.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis Ketiga Ibnu ‘Aaisy </strong><br />
Hadis terakhir yang dijadikan hujjah bahwa Abdurrahman bin ‘Aaisy sahabat adalah hadis dalam <em>Sunan Daruquthni </em>no 2183 [tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth]. Hadis tersebut adalah hadis mauquf yang mengandung pernyataan bahwa Abdurrahman bin ‘Aaisy sahabat Nabi.</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا أبو القاسم ابن منيع ثنا داود بن رشيد أبو الفضل الخوارزمي ثنا الوليد بن مسلم عن الوليد بن سليمان قال سمعت ربيعة بن يزيد قال سمعت عبد الرحمن بن عائش صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami Abu Qasim bin Mani’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Daud bin Rasyd Abu Fadhl Al Khawarizmi yang berkata telah menceritakan kepada kami Walid bin Muslim dari Walid bin Sulaiman yang berkata aku telah mendengar Rabi’ah bin Yazid berkata aku telah mendengar Abdurrahman bin ‘Aaisy  sahabat Rasulullah SAW mengatakan-al hadis-</em></p>
<p>Hadis ini juga tidak tsabit sanadnya ke Abdurrahman bin ‘Aaisy karena salah seorang perawinya yaitu<span style="text-decoration:underline;"> <em>Walid bin Muslim adalah seorang mudallis yang terkenal dengan tadlis taswiyah</em>.</span> Ibnu Hajar memasukkannya dalam <em>Thabaqat Al Mudallisin</em> no 127 pada martabat keempat. Sedangkan hadis di atas adalah<span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"> <em>riwayat ‘an ‘an ah Walid bin Muslim sehingga hadis tersebut sanadnya dhaif.</em></span></span> Maka dari itu kami katakan hadis tersebut bukan milik Abdurrahman bin ‘Aaisy karena sanad tersebut tidak tsabit sampai kepadanya.</p>
<p>Lagipula hujjah persahabatan Ibnu ‘Aaisy dalam hadis ini hanya berdasarkan lafaz yang menyebutkan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>Abdurrahman bin ‘Aaisy adalah sahabat</em>.</span> Lafaz tersebut kemungkinan besar adalah tambahan dari Walid bin Muslim. Dalam pembahasan hadis ru’yah Ibnu ‘Aaisy, <span style="text-decoration:underline;"><em>Walid bin Muslim adalah perawi yang masyhur dikenal meriwayatkan hadis ru’yah dengan lafal Ibnu ‘Aaisy mendengar langsung dari Rasulullah SAW</em></span>. Tentu saja setelah mengetahui hadis ru’yah maka Walid bin Muslim beranggapan kalau <span style="text-decoration:underline;"><em>Abdurrahman bin ‘Aaisy adalah sahabat Nabi</em></span> sehingga ketika ia meriwayatkan hadis Daruquthni ia menambahkan lafaz <span style="text-decoration:underline;"><em>“sahabat Rasulullah SAW”</em>.</span> Padahal hadis ru’yah yang dimaksud adalah hadis yang mudhtharib dan sumber mudhtharibnya adalah Abdurrahman bin ‘Aaisy maka tidak ada alasan menjadikan hadis yang mudhtarib sebagai hujjah persahabatan.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhramy Adalah Hadis Ru’yah Yang Mudhtarib</strong></p>
<p>Satu-satunya hadis yang tersisa dan dikatakan sebagai milik Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami adalah hadis ru’yah yang terbukti mudhtarib. Hadis Abdurrahman bin ‘Aaisy ini memiliki tiga jalan sanad yang menunjukkan kekacauan periwayatannya yaitu</p>
<p><span style="color:#0000ff;">Abdurrahman bin ‘Aaisy mengaku mengambil hadis tersebut langsung dari Rasulullah SAW.</span> Hadis tersebut diriwayatkan Al Ajuri dalam <em>Asy Syari’ah</em> no 1027, <em>Sunan Ad Darimi</em> 2/170 no 2149, <em>Al Ilal Tirmidzi</em> no 434, <em>Mukhtasar Qiyamul Lail Muhammad bin Nashr Al Marwadzi</em> 1/33 no 26, dan <em>Mu’jam As Shahabah Al Baghawi</em> hadis no 1924. Berikut sanad hadis tersebut dalam <em>Al Ilal Tirmidzi</em> no 434</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا يحيى بن موسى حدثنا الوليد بن مسلم حدثني عبد الرحمن بن يزيد بن جابرحدثنا خالد بن اللجلاج قال حدثني عبد الرحمن بن عائش الحضرمي قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Musa yang berkata telah menceritakan kepada kami Walid bin Muslim yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Yazid bin Jabir yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Lajlaaj yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Aaisy Al Hadhramy yang berkata aku mendengar Rasulullah SAW</em></p>
<p>Walid bin Muslim diikuti oleh Hammad bin Malik, Walid bin Yazid, Isa bin Yunus dan yang lainnya dalam menegaskan penyimakan Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami. Mereka semua meriwayatkan dengan jalan sanad dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Abdurraman bin ‘Aaisy Al Hadrami. <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/10/31/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%E2%80%9D2/" target="_blank">Walaupun begitu di hadis lain Khalid bin Al Lajlaaj meriwayatkan tanpa menegaskan sima’ nya Ibnu ‘Aaisy</a>.</p>
<p><span style="color:#0000ff;">Abdurrahman bin ‘Aaisy mengaku mengambil hadis tersebut dari seorang sahabat Nabi SAW. </span>Hadis tersebut diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dalam <em>At Tauhid </em>no 55 dan Ibnu Asakir dalam <em>Tarikh Dimasyq</em> 34/464 no 7069 dan <em>Tarikh Dimasyq</em> 34/465 no 7070. Berikut sanad hadis Ibnu Kuzaimah</p>
<h2 style="text-align:right;">ثنا أبو موسى محمد بن المثنى قال حدثني أبو عامر عبد الملك بن عمرو قال ثنا زهير وهو ابن محمد عن يزيد قال أبو موسى وهو يزيد بن جابر عن خالد بن اللجلاج عن عبدالرحمن بن عائش عن رجل من أصحاب النبي</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami Abu Musa Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepadaku Abu Amir Abdul Malik bin Amru yang berkata telah menceritakan kepada kami Zuhair dan dia Ibnu Muhammad dari Yazid, berkata Abu Musa dia Yazid bin Jabir dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Abdurrahman bin ‘Aaisy dari seorang sahabat Nabi -secara marfu’-</em></p>
<p>Dalam hadis lain disebutkan pula kalau <span style="color:#0000ff;">Abdurrahman bin ‘Aaisy mengambil hadis tersebut dari beberapa orang  sahabat Nabi.</span> Hadis tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Mandah dalam <em>Radd Al Jahmiyah</em> no 74 dan Ahmad bin Hanbal dalam <em>Musnad Ahmad</em> 4/66 no 16672 dan <em>Musnad Ahmad</em> 5/378 no 23258. Berikut sanad Ahmad bin Hanbal</p>
<h2 style="text-align:right;">ثنا أبو عامر ثنا زهير يعنى بن محمد عن يزيد بن يزيد يعنى بن جابر عن خالد بن اللجلاج عن عبد الرحمن بن عائش عن بعض أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami Abu Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Zuhair yakni bin Muhammad dari Yazid bin Yazid yakni bin Jabir dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Abdurrahman bin ‘Aaisy dari beberapa orang sahabat Nabi SAW –secara marfu’-</em></p>
<p><span style="color:#0000ff;">Abdurrahman bin ‘Aaisy mengambil hadis tersebut dari seorang tabiin</span> yaitu Malik bin Yakhaamir dari Muadz bin Jabal secara marfu’. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam <em>Sunan Tirmidzi</em> 5/368 no 3235, Ibnu Asakir dalam <em>Tarikh Dimasyq</em> 34/465-468 no 7071-7075,  <em>Al Ilal Tirmidzi</em> no 435 dan <em>Musnad Ahmad </em>5/243 no 22162. Berikut sanad Ahmad</p>
<h2 style="text-align:right;">ثنا أبو سعيد مولى بنى هاشم ثنا جهضم يعنى اليمامي ثنا يحيى يعنى بن أبي كثير ثنا زيد يعنى بن أبي سلام عن أبي سلام وهو زيد بن سلام بن أبي سلام نسبه إلى جده أنه حدثه عبد الرحمن بن عائش الحضرمي عن مالك بن يخامر أن معاذ بن جبل قال</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla Bani Hasyim yang berkata telah menceritakan kepada kami Jahdham yakni Al Yamami yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abi Katsir yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid yakni bin Abi Salam dari Abi Salam [dan dia Zaid bin Salam bin Abi Salam nasabnya bersambung kepada kakeknya] yang berkata telah menceritakan kepadanya Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami dari Malik bin Yakhaamir bahwa Muadz bin Jabal berkata –secara marfu’-.</em></p>
<p>Jika kita meringkas semua sanad hadis tersebut maka kita dapati tiga jalan sanad yaitu</p>
<ul>
<li><em>Jalan Khalid bin Al Lajlaaj dari Abdurraman bin ‘Aaisy dari Rasulullah SAW</em></li>
<li><em>Jalan Khalid bin Al Lajlaaj dari Abdurrahman bin ‘Aaisy dari seorang atau beberapa sahabat dari Rasulullah SAW</em></li>
<li><em>Jalan Abi Salam dari Abdurrahman bin ‘Aaisy dari Malik bin Yakhaamir dari Muadz bin Jabal dari Rasulullah SAW</em></li>
</ul>
<p>Siapapun yang mengenal ilmu hadis pasti mengetahui bahwa <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>keadaan sanad yang seperti ini disebut mudhtarib</em> </span></span>yaitu <em>kekacauan periwayatan yang tidak bisa dikompromikan</em>. Aneh bin ajaib ada yang mau mengatakan bahwa ketiga sanad tersebut memang benar artinya Abdurrahman bin ‘Aaisy memang mendengar langsung dari Rasulullah juga dari sahabat dan juga dari tabiin. Tentu saja pernyataan ini muncul dari mereka yang tidak paham artinya idhthirab karena dengan logika mereka ini maka tidak akan ada yang namanya idhthirab. Contoh</p>
<ul>
<li><em>Jika A meriwayatkan suatu hadis dari B kemudian ternyata</em></li>
<li><em>A meriwayatkan hadis yang sama dari C dari B dan ternyata</em></li>
<li><em>A meriwayatkan hadis yang sama dari D dari C dari B</em></li>
</ul>
<p>Dengan logika aneh mereka maka Itu tidak akan dihukum idhthirab karena bisa saja A memang meriwayatkan dari B, C dan D padahal sangat ma’ruf inilah yang dikenal sebagai mudhtharib dalam ilmu hadis. Mereka berhujjah dengan perkataan <em>“tidak semua idhthirab dhaif”</em> karena ada kasus dimana <span style="text-decoration:underline;"><em>seorang perawi mungkin meriwayatkan dengan banyak sanad.</em></span> Ini termasuk kesesatan berpikir yang tidak bisa membedakan umum dan khusus. Ada orang yang ditangkap polisi karena mencuri terus temannya berkomentar <em><span style="text-decoration:underline;">“ah tidak setiap yang ditangkap pencuri itu benar-benar mencuri”</span>.</em> Apakah hanya dengan perkataan temannya itu maka orang tersebut bukan pencuri?. Perkataan teman tersebut jelas tidak memiliki makna apapun kecuali <span style="text-decoration:underline;"><em>omongan basa basi yang bisa keluar dari mulut siapapun</em>.</span></p>
<p>Nah begitu pula dengan logika mereka itu, kalau memang mereka ingin menyatakan bahwa <em>idhthirabnya Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadrami itu tidak dhaif</em> ya silakan dibawakan buktinya bukannya malah berbasa basi. Tunjukkan buktinya dan tidak perlu mengklaim atau menuduh orang lain mengklaim.</p>
<p>Mereka mau menganalogikan kasus tersebut dengan kasus riwayat Az Zuhri. Kalau mau menganalogikan dengan sesuatu maka carilah analogi yang tepat dan memang persis dengan kasus Ibnu ‘Aaisy bukannya kasus Az Zuhri dalam <em>Shahih Muslim</em> no 1691</p>
<h2 style="text-align:right;">وحدثني أبو الطاهر وحرملة بن يحيى. قالا: أخبرنا ابن وهب. أخبرني يونس. ح وحدثنا إسحاق بن إبراهيم. أخبرنا عبدالرزاق. أخبرنا معمر وابن جريج. كلهم عن الزهري، عن أبي سلمة، عن جابر ابن عبدالله، عن النبي صلى الله عليه وسلم، نحو رواية عقيل عن الزهري، عن سعيد وأبي سلمة، عن أبي هريرة</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepadaku Abu Thaahir dan Harmalah bin Yahyaa, mereka berdua berkata telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Wahb telah mengkhabarkan kepadaku Yuunus. Dan telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibraahiim telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdurrazzaaq telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar dan Ibnu Juraij. Mereka semua (Yuunus, Ma’mar, dan Ibnu Juraij) dari Az-Zuhriy, dari Abu Salamah, dari Jaa</em>bir <em>bin ‘Abdillah, dari Nabi SAW -semisal riwayat ‘Uqail, dari Az-Zuhriy, dari Sa’iid dan Abu Salamah, dari Abu Hurairah.</em></p>
<p>Jika kita ringkas maka sanad ini adalah sebagai berikut</p>
<ul>
<li><em>Az Zuhri dari tabiin [Abu Salamah] dari sahabat [Abu Hurairah]</em></li>
<li><em>Az Zuhri dari tabiin [Sa’id Al Musayyab] dari sahabat [Abu Hurairah]</em></li>
<li><em>Az Zuhri dari tabiin [Abu Salamah] dari sahabat [Jabir RA]</em></li>
</ul>
<p>Muhammad bin Syihab Az Zuhri adalah <span style="text-decoration:underline;"><em>seorang hafiz yang dikenal tsiqat</em> </span>dan ia meriwayatkan hadis ini dari dua orang tabiin yaitu <span style="text-decoration:underline;"><em>Sa’id bin Al Musayyab dan Abu Salamah</em>.</span> Periwayatan Az Zuhri dari keduanya jelas diterima karena dua alasan</p>
<ul>
<li><em>Az Zuhri seorang tsiqat dan tsabit [dikenal memiliki banyak guru] sehingga kesaksian ia meriwayatkan dari dua orang bisa diterima</em></li>
<li><em>Az Zuhri memang bertemu dengan Sa’id bin Al Musayyab dan Abu Salamah. Az Zuhri lahir antara tahun 50-75 H sedangakan Sa’id wafat setelah tahun 90 H dan Abu Salamah wafat tahun 94 H. Berdasarkan tahun lahir tahun wafat Az Zuhri mungkin untuk bertemu keduanya.</em></li>
</ul>
<p>Begitu pula dengan Abu Salamah, ia adalah seorang tabiin yang memang dikenal meriwayatkan dari Abu Hurairah dan Jabir. Jadi sanad tersebut memang tsabit dan tidak mudhtharib.</p>
<p>Kasus Ibnu ‘Aaisy sangat berbeda dengan Az Zuhri. Tidak ada alasan kuat yang membuat periwayatan Ibnu ‘Aaisy harus diterima semuanya.</p>
<ul>
<li><em>Ibnu ‘Aaisy tidak dikenal tsiqat dan ia tidak terbukti sahabat sehingga tidak ada alasan kalau semua periwayatannya harus diterima. </em></li>
<li><em>Apalagi tidak ada bukti dalam tarikh soal tahun lahir dan wafatnya sehingga kita tidak tahu apakah Ibnu ‘Aaisy memang bertemu baik dengan Rasulullah SAW, sahabat ataupun tabiin. Bisa saja disini ia berdusta, keliru atau ikhtilat soal periwayatannya.</em></li>
</ul>
<p>Ada hal lain yang patut diperhatikan. <span style="text-decoration:underline;"><em>Jika seorang sahabat telah mendengar suatu hadis langsung dari Rasulullah SAW</em></span> maka sungguh aneh sekali ia perlu repot-repot untuk meriwayatkan hadis tersebut [hadis yang sama] dari sahabat apalagi dari tabiin. Bukan berarti kami menolak <span style="text-decoration:underline;"><em>ada sahabat yang meriwayatkan dari tabiin</em> </span>tetapi masalahnya jika <span style="text-decoration:underline;"><em>ia sudah mendengar hadis tersebut langsung dari Rasulullah</em></span> maka tidak ada perlunya ia meriwayatkan hadis tersebut dari sahabat atau tabiin. Adanya periwayatan melalui tabiin atau sahabat justru menimbulkan keraguan soal <em>ia mendengar langsung hadis tersebut dari Rasul SAW</em>, dengan kata lain mungkin saja terjadi waham atau kekeliruan pada lafal <em>“sami’tu”</em>.</p>
<p>Analogi yang lebih tepat dengan kasus Ibnu ‘Aaisy adalah jika kasusnya seperti ini</p>
<ul>
<li><em>Az Zuhri yang dimaksud terkadang meriwayatkan dari Abu Salamah atau Said bin Musayyab dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW</em></li>
<li><em> Az Zuhri terkadang meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW</em></li>
<li><em> Az Zuhri terkadang meriwayatkan dari Rasulullah SAW</em></li>
</ul>
<p>Nah silakan saja kalau ada kasus seperti ini dan mau dihukumi tidak idhthirab. Mudhtharib atau tidak dilihat dari sanad hadisnya. Kalau suatu sanad memang terbukti mudhtarib maka tidak ada jalan untuk mengingkarinya, kecuali kalau memang bisa dibuktikan sanad tersebut bisa ditarjih atau dijama’.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Kekeliruan Ulama Yang Menetapkan Ibnu ‘Aaisy Shahabat</strong></p>
<p>Hal aneh lain ada orang yang berhujjah bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>Ibnu ‘Aaisy sahabat berdasarkan perkataan ulama yang berdalil dengan hadis Walid [lafaz sima’ langsung Ibnu ‘Aaisy]</em>.</span> Ini jelas cara berpikir yang keliru. Justru yang sedang kita permasalahkan adalah <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>apakah riwayat Walid tersebut memang tsabit dan bisa diterima karena terbukti kalau Ibnu ‘Aaisy mengalami idhthirab?</em>.</span></span></p>
<p>Sama halnya dengan kasus begini<span style="color:#0000ff;"> <em>si A sedang berada di suatu rumah</em>.</span> Kemudian si B dan si C berdebat mengenai siapa pemilik rumah tersebut. Kata si B <span style="color:#0000ff;"><em>“siapa yang tinggal di sana?”</em>.</span> Si C menjawab<em> <span style="color:#008000;">“ya si A lah”</span></em><span style="color:#008000;">.</span> Si B bertanya <span style="color:#0000ff;"><em>“kamu tahu dari mana”</em>.</span> Si C menjawab <span style="color:#008000;"><em>“lha dia yang punya rumah itu”</em>.</span> Si B bertanya lagi <span style="color:#0000ff;"><em>“lho memangnya dia yang punya rumah itu?”</em></span>. Si C menjawab<em> <span style="color:#008000;">“lha iya toh, kan dia yang tinggal di sana”</span></em>. Wah wah muter-muter aja terus.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Mengapa hadis Ru’yah Ibnu ‘Aaisy tidak dikatakan mudhtharib?. </span><span style="color:#0000ff;"><em>Ya karena Ibnu ‘Aaisy  sahabat</em>. </span><span style="text-decoration:underline;">Kok bisa Ibnu ‘Aaisy dikatakan sahabat?</span>. <span style="color:#0000ff;"><em>Ya kan dari hadis Ru’yah yang ia dengar dari Rasul SAW</em>.</span> <span style="text-decoration:underline;">Lho bukannya hadis itu mudhtarib?.</span> <span style="color:#0000ff;"><em>nggak dong kan Ibnu ‘Aaisy itu sahabat.</em></span> <span style="text-decoration:underline;">Kok bisa Ibnu ‘Aaisy dikatakan sahabat?.</span><span style="color:#0000ff;"> <em>Ya dari hadis Ru’yah yang ia dengar dari Rasul SAW</em></span>. <span style="text-decoration:underline;">Mana bisa, hadis itu kan mudhtharib.</span> <span style="color:#0000ff;"><em>Nggak dong kan Ibnu ‘Aaisy itu sahabat jadi hadis itu gak mudhtharib</em>.</span> <span style="text-decoration:underline;">Apa buktinya Ibnu ‘Aaisy sahabat?.</span> <span style="color:#0000ff;"><em>Buktinya Hadis ru’yah itu yang ia dengar dari Rasul SAW</em>. </span><span style="text-decoration:underline;"> Hadis itu jelas mudhtharib.</span> <span style="color:#0000ff;"><em>Gak lah Ibnu ‘Aaisy itu sahabat jadi gak mungkin mudhtharib</em></span>.<span style="text-decoration:underline;"> Kok bisa Ibnu ‘Aaisy dikatakan sahabat?.</span> Terus berputar tanpa henti….</p>
<p>Tentu saja cara berpikir seperti ini tidak usah kita hiraukan, biarkanlah ia tenggelam dalam dunianya sendiri. Jika ia tidak mau menerima hujjah orang lain maka tidak perlulah kita memperhatikan apa yang dikatakannya. Ilmu itu tidak hanya banyak membaca tetapi juga <span style="text-decoration:underline;"><em>berpikir dengan jernih dan logika berpikir yang baik</em>.</span> Banyak membaca tetapi logikanya gak beres ya tidak berguna juga kan. Kalau memang mau membuktikan<em> <span style="text-decoration:underline;">suatu hadis tidak mudhtharib</span></em><span style="text-decoration:underline;"> dengan alasan <em>perawinya sahabat</em>.</span> Maka buktikan dulu kalau ia sahabat, dan kalau mau membuktikan ia sahabat jangan menggunakan <em>hadis pertama yang justru ingin dibuktikan bahwa ia tidak mudhtharib</em>. Hadis itu membutuhkan bukti agar ia tidak mudhtharib bukannya menjadi bukti. Inikan logika sirkuler yang menyesatkan.</p>
<p>Selain itu kami akan menanggapi pernyataan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>Ibnu ‘Aaisy itu adalah orang yang ma’ruf bukannya tidak dikenal</em>.</span> Pernyataan ini jelas keliru. Ibnu ‘Aaisy keberadaannya hanya dikenal dari hadis ini saja. Hal yang ma’ruf adalah <span style="text-decoration:underline;"><em>statusnya yang diperselisihkan apakah sahabat atau tidak?</em>. </span>Mereka yang menetapkan ia sahabat hanya bersandar pada hadis ru’yah ini. Nah jika telah dibuktikan hadis tersebut mudhtharib maka tidak shahih statusnya sebagai sahabat dan jadilah ia sebagai orang yang tidak dikenal.</p>
<p>Mereka yang mengumpulkan sanad hadis Ibnu ‘Aaisy mengakui kalau hadis tersebut mudhtharib oleh karena itu mereka menolak status persahabatan Ibnu ‘Aaisy. Dalam hal ini ulama yang berpendapat bahwa Ibnu ‘Aaisy sahabat seperti Al Baghawi, Ibnu Qani’, Ibnu Sakan, Abu Nu’aim [Abu Nu’aim dalam <em>Ma’rifat As Shahabah</em> menyebutkan kalau <em>ia diperselisihkan status persahabatannya</em>] dan yang lainnya keliru karena mereka tidak mengumpulkan sanad-sanad hadisnya sehingga mereka tidak tahu kalau hadis tersebut mudhtharib.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Kritik Hujjah Ibnu Hajar Dalam Al Ishabah Yang Menetapkan Ibnu ‘Aaisy Shahabat</strong></p>
<p>Tetapi ada juga ulama yang mengumpulkan sanad-sanadnya seperti Ibnu Hajar dalam <em>Al Ishabah</em> no 5152 dan disini Ibnu Hajar melakukan tarjih dengan menguatkan <em>hadis sima’ langsung Ibnu ‘Aaisy dari Rasulullah yaitu hadis Walid</em>. Kami katakan <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;"><em>tarjih yang dilakukan Ibnu Hajar itu tidak benar dan terkesan dipaksakan</em>.</span></span></p>
<p>Mengenai hadis Walid yang menegaskan<span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em> Ibnu ‘Aaisy mendengar langsung dari Rasulullah SAW</em></span>. Ibnu Hajar menolak pernyataan Ibnu Khuzaimah, Bukhari dan Tirmidzi bahwa lafal itu kesalahan Walid. Ibnu Hajar mengatakan bahwa Walid diikuti oleh yang lain seperti Walid bin Yazid, Hammad, Isa bin Yunus dan yang lainnya.</p>
<p><strong>Kami katakan </strong>: Ibnu Hajar benar tetapi mereka semua tetap meriwayatkan dengan jalan dari <em><span style="text-decoration:underline;">Khalid bin Al Lajlaaj dari Ibnu ‘Aaisy</span>.</em> Khalid bin Al Lajlaaj hanya ditsiqahkan oleh Ibnu Hibban. Khalid bin Al Lajlaaj dimasukkan Ibnu Hibban dalam <em>Ats Tsiqat</em> juz 4 no 2513 dan berkata <span style="text-decoration:underline;">“dia tergolong orang yang utama di zamannya”</span>. Kami tidak menolak predikat ta’dil terhadap Khalid bin Al Lajlaaj tetapi jika Walid bin Muslim yang tsiqah saja bisa dikatakan salah oleh para ulama maka apalagi Khalid bin Al Lajlaaj yang hanya mendapat predikat shaduq dari Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> 1/262. Tidak menutup kemungkinan Khalid bin Al Lajlaaj melakukan kesalahan dan jika bukan dia maka yang melakukan kesalahan adalah <span style="text-decoration:underline;"><em>Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami sendiri</em></span>.</p>
<p>Mengenai hadis dimana <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>Ibnu ‘Aaisy mendengar dari seorang atau beberapa sahabat Nabi</em>.</span> Ibnu Hajar membuat keraguan dengan melemahkan salah seorang perawinya yaitu<span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"> <em>Zuhair bin Muhammad</em>.</span> Ibnu Hajar mengutip bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>Zuhair bin Muhammad riwayatnya lemah jika yang meriwayatkan darinya penduduk Syam</em></span>. <strong>Kami katakan</strong> : Tentu saja keraguan ini tidak bermakna karena dalam hadis ini yang meriwayatkan dari Zuhair bin Muhammad adalah<span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"> <em>Abdul Malik bin Amru</em></span> dan dia bukan penduduk Syam melainkan penduduk Bashrah yang tsiqat [At Tahdzib juz 6 no 764]. Pada dasarnya Ibnu Hajar hanya mengutip Bukhari dan Ahmad yang berkata mengenai Zuhair bin Muhammad dalam <em>At Tahdzib</em> juz 3 no 645. Lengkapnya Bukhari berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">قال البخاري ما روى عنه أهل الشام فإنه مناكير وما روى عنه أهل البصرة فإنه صحيح</h2>
<p><em>Bukhari berkata “jika yang meriwayatkan darinya penduduk Syam maka terdapat banyak riwayat mungkar dan jika yang meriwayatkan darinya penduduk Bashrah maka riwayat itu shahih”.</em></p>
<p>Mengenai hadis dimana<span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"> <em>Ibnu ‘Aaisy meriwayatkan dari Malik bin Yakhaamir dari Muadz</em></span>. Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadis ini diperselisihkan, ia mengutip hadis lain<span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"> <em>riwayat Musa bin Khalaf bahwa yang meriwayatkan dari Malik bin Yakhaamir adalah Abu Abdurrahman As Saksaki</em></span> selanjutnya Ibnu Hajar mengutip<em> pernyataan Ahmad bahwa hadis ini lebih shahih</em> dan<span style="text-decoration:underline;"> <em>pernyataan Ibnu Sakan kalau Abu Abdurrahman As Saksaki bukanlah Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami</em>.</span> Intinya Ibnu Hajar mencoba untuk membuktikan bahwa riwayat Ibnu ‘Aaisy dalam hadis Muadz itu tidak tsabit dan yang benar adalah riwayat Abu Abdurrahman As Saksaki.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Kami katakan</strong> : perkataan Ibnu Hajar itu terlalu dipaksakan. Kami akan mencermati dua hal, yang pertama yaitu pernyataan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis dengan lafaz Abu Abdurrahman As Saksaki itu shahih</em>.</span> Hadis tersebut sebenarnya diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam <em>Mu’jam Al Kabir</em> 20/109 no 216 dengan sanad berikut</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا حفص بن عمر بن الصباح الرقي ثنا محمد بن سنان العوقي ثنا جهضم بن عبد الله اليمامي وحدثنا محمد بن محمد التمار البصري ثنا محمد بن عبد الله الخزاعي ثنا موسى بن خلف العمي [ قالا ] ثنا يحيى بن أبي كثير عن زيد بن سلام عن جده ممطور عن أبي عبد الرحمن السكسكي عن مالك بن يخامر عن معاذ بن جبل قال</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar bin Ash Shabaah Ar Raqy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sinan Al Uuqy yang berkata telah menceritakan kepada kami Jahdham bin Abdullah Al Yamami. Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muhammad At Tammar Al Bashri yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah Al Khuza’i telah menceritakan kepada kami Musa bin Khalaf Al ‘Ammy. Keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abi Katsir dari Zaid bin Sallam dari kakeknya Mamthur dari Abi Abdurrahman As Saksaki dari Malik bin Yakhaamir dari Muadz bin Jabal yang berkata –secara marfu’-.</em></p>
<p>Jika kita memang harus mentarjih atau memilih salah satu antara <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis dengan nama Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami </em></span>dan <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis dengan nama Abu Abdurrahman As Saksaki</em></span> maka yang pertama jelas lebih shahih.</p>
<ul>
<li>Mengenai jalan pertama Thabrani dari Jahdham bin Abdullah maka dalam sanadnya ada <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>Hafsh bin Umar bin Ash Shaabah</em></span> dia adalah seorang Syaikh shaduq yang dikatakan Ibnu Hibban<span style="text-decoration:underline;"><em> “melakukan kesalahan”</em></span> dan Abu Ahmad Al Hakim berkata<span style="text-decoration:underline;"><em> “hadisnya tidak diikuti”</em></span> [Lisan Al Mizan juz 2 no 1342]. Dalam hadis ini ia bertentangan dengan Muadz bin Hanii [tsiqah At Taqrib 2/193] dan Abu Sa’id maula bani Hasym [tsiqah Tahrir At Taqrib no 3918]  yang keduanya lebih tsiqah dari dirinya.</li>
<li>Mengenai jalan kedua Thabrani dari<span style="color:#003300;"> Musa bin Khalaf,</span> <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>M</em><em>usa bin Khalaf </em></span>adalah seorang yang shaduq hasanul hadis tetapi ia dikatakan juga<span style="text-decoration:underline;"> <em>tidak kuat oleh Abu Daud dan Daruquthni, didhaifkan oleh Ibnu Ma’in</em></span>. Sedangkan Musa bertentangan dengan riwayat yang tsabit dari Jahdhaam bin Abdullah [Musnad Ahmad dan Sunan Timidzi] dimana ia seorang yang tsiqah [Tahrir At Taqrib no 982]</li>
<li>Kedua jalan Thabrani riwayat Jahdham dan Musa mereka meriwayatkan dari <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>Y</em><em>ahya bin Abi Katsir </em></span>dan <span style="text-decoration:underline;"><em>Yahya meriwayatkan dari Zaid bin Sallam dengan an ‘an ah</em>.</span> Yahya disebutkan juga bahwa ia seorang mudallis martabat kedua dalam<em> Thabaqat Al Mudallisin</em> no 63. Sedangkan riwayat Ahmad yang menyebutkan nama <span style="text-decoration:underline;"><em>Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami</em>,</span> Yahya meriwayatkan dengan lafal “tsana” sehingga riwayat Ahmad ini kedudukannya jelas lebih shahih dari riwayat Ath Thabrani.</li>
</ul>
<p>Pada dasarnya kami tidak menolak riwayat Thabrani, bagi kami <span style="text-decoration:underline;"><em>Abu Abdurrahman As Saksaki yang dimaksud dalam hadis ini adalah Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadrami</em></span> seperti yang dikatakan Daruquthni dalam <em>Al Ilal </em>no 973. Walaupun Ibnu Hajar berhujjah bahwa kedua orang ini berbeda maka ia tidak bisa menafikan bahwa <em><span style="text-decoration:underline;">riwayat Muadz dengan nama Abdurrahman bin ‘Aaisy itu memang ada dan sanadnya sampai ke Ibnu ‘Aaisy itu memang shahih </span></em>[ini hal kedua yang harus dicermati]. Jadi kita anggap ada dua orang yang meriwayatkan dari Malik bin Yakhaamir yaitu</p>
<ul>
<li><em>Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami [riwayat Ahmad dan Tirmidzi]</em></li>
<li><em> Abu Abdurrahman As Saksaki [riwayat Thabrani]</em></li>
</ul>
<p>Seandainya kedua orang ini berbeda maka apakah itu berarti <em>hadis yang ada nama Ibnu ‘Aaisy</em> menjadi bukan milik Ibnu ‘Aaisy tetapi milik As Saksaki?. Lha kan katanya dua orang itu berbeda maka hadis Ibnu ‘Aaisy ya tetap milik Ibnu ‘Aaisy dan tetap menunjukkan bahwa hadis Ibnu ‘Aaisy idhthirab. Apa yang dilakukan Ibnu Hajar itu terkesan dipaksakan, ia ingin melemahkan riwayat Muadz sehingga baginya yang tsabit <span style="text-decoration:underline;"><em>hanya riwayat Walid bahwa Ibnu ‘Aaisy mendengar langsung dari Rasulullah</em></span>. Dengan begitu maka Ibnu Hajar dapat menyingkirkan illat mudhtharib hadis tersebut. Padahal telah kami tunjukkan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>tarjih yang dilakukan Ibnu Hajar itu tidaklah benar</em>.</span> Riwayat tersebut tidak bisa dikompromikan atau dipilih salah satu, sehingga tetaplah ia sebagai mudhtharib.</p>
<p>Hadis Ru’yah Ibnu ‘Aaisy sudah jelas mudhtharib dan <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis ini tidak bisa dijadikan hujjah akan persahabatan Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami </em></span>sehingga pendapat yang benar dalam hal ini <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami bukan sahabat Nabi SAW</em>.</span> Sebelum kami menutup pembahasan ini kami akan menampilkan para Ulama yang menyatakan bahwa Abdurrahman bin ‘Aaisy bukan sahabat Nabi [sebagai tambahan]</p>
<ul>
<li>Al Bukhari menyatakan<em> “Abdurrahman bin ‘Aaisy tidak bertemu dengan Nabi SAW” </em>[ <em>Al Ilal Tirmidzi</em> no 435].</li>
<li>Abu Hatim berkata <em>“keliru yang mengatakan ia sahabat”</em> [<em>At Tahdzib</em> juz 6 no 417 dan <em>Al Jarh Wat Ta’dil</em> 5/262 no 1240]</li>
<li>At Tirmidzi berkata <em>“ia tidak mendengar dari Nabi SAW”</em> [<em>At Tahdzib</em> juz 6 no 417]</li>
<li>Ibnu Khuzaimah berkata <em>“ia tidak mendengar dari nabi SAW”</em> [<em>At Tauhid </em>no 54]</li>
<li>Abu Zur’ah berkata <em>“ia tidak dikenal”</em> [<em>At Tahdzib</em> juz 6 no 417 dan <em>Al Jarh Wat Ta’dil</em> 5/262 no 1240]</li>
<li>Ibnu Atsir berkata <em>“tidak shahih kalau ia sahabat karena hadisnya mudtharib”</em> [<em>Usudul Ghabah</em> 3/465]</li>
<li>Ibnu Abdil Barr berkata <em>“tidak shahih kalau ia sahabat karena hadisnya mudhtharib”</em> [<em>Al Isti’ab</em> 2/838]</li>
<li>Abu Sa’id Al  Alaiy memasukkan nama Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhramy dalam <em>Jami’ Al Tahsil Fi Ahkam Al Marasil </em>no 435 dan mengakui kalau <em>hadisnya mudhtharib.</em></li>
<li>Al Hafiz Ala Ad-Din Ibnu Qalij menyatakan<em> “tidak shahih kalau ia sahabat karena hadisnya mudhtharib”</em> [<em>Al Inabah Ila Ma’rifat Al Mukhtalaf Fiim Min As Shahabah</em> no 666]</li>
<li>Syaikh Syu’aib Al Arnaut dan Bashar Awad Ma’ruf menyatakan <em>“tidak shahih kalau ia sahabat”</em> dan mereka juga menyebutkan kalau <em>ia mastur</em> [<em>Tahrir Taqrib At Tahdzib</em> no 3911]</li>
</ul>
<p>Dan diantara para ulama yang mengakui kalau hadis Ibnu ‘Aaisy dhaif karena mudhtharib adalah</p>
<ul>
<li>Ad Daruqutni menyatakan<span style="text-decoration:underline;"><em> “tidak shahih karena semuanya mudhtharib” </em></span>[<em>Al Ilal Daruquthni</em> no 973]</li>
<li>Ibnu Jauzi menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis Ibnu ‘Aaisy tersebut mudhtharib</em></span> [<em>Al Ilal Al Mutanahiyah</em> kitab Tauhid hadis ke-13]</li>
<li>Muhammad bin Nashr Al Marwadzi menyatakan<span style="text-decoration:underline;"><em> hadis tersebut mudhtharib dan tidak tsabit sanadnya di sisi orang-orang yang mengenal ilmu hadis</em></span> [<em>Mukhtasar Qiyamul Lail</em> 1/33 no 26]</li>
<li>Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam tahqiqnya terhadap Musnad Ahmad telah menyatakan<span style="text-decoration:underline;"> <em>hadis Ibnu ‘Aaisy dhaif karena mudhtharib</em></span> [<em>Musnad Ahmad tahqiq Syaikh Al Arnauth</em> no 16672, no 22162, dan no 23258]</li>
</ul>
<p>Tentu saja mereka yang mengakui hadis tersebut mudhtharib akan mengakui bahwa<span style="text-decoration:underline;"> <em>hadis ini dhaif karena mudhtharib </em><em>tersebut.</em></span> Sebagai catatan terakhir kami katakan<span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"> <em>riwayat Ibnu ‘Aaisy ini tidak akan naik derajatnya dengan hadis-hadis lain semisal hadis Simmak bin Harb</em></span> karena terdapat perbedaan yang mendasar pada kedua lafaz hadis tersebut [selain itu hadis penguat yang dimaksud sanadnya bermasalah]. Hadis Ibnu ‘Aaisy <span style="text-decoration:underline;"><em>menyebutkan secara rinci soal kejadian melihat Allah SWT tersebut yang terjadi di dalam mimpi </em></span>sedangkan <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/11/01/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%E2%80%9D-4/" target="_blank">hadis Simmak bin Harb dan yang lainnya</a><em> </em><span style="text-decoration:underline;"><em>tidak menyebutkan soal mimpi</em></span> padahal justru yang menjadi <span style="text-decoration:underline;color:#3366ff;"><em>hujjah adalah mimpinya</em></span>. Bukankah yang menjadi keyakinan Salafy itu<span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"> <em>penglihatan (ru’yah) tersebut terjadi di dalam mimpi</em>.</span> Hal ini yang ternyata tidak bisa dilihat oleh para pengikut salafiyun sehingga dengan mudahnya mereka berkata bahwa <em>hadis tersebut saling menguatkan</em>. <strong>Kesimpulan </strong>: tetap seperti yang berulang kali kami katakan<span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"> <em>Abdurrahman bin “Aaisy Al Hadhrami bukan sahabat Nabi karena hadis bukti persahabatannya mudhtharib dan tidak bisa dijadikan hujjah.</em></span></p>
<p>__________________________</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;">ARTIKEL TERKAIT</span></strong></p>
<ol>
<li><a href="../2009/11/17/sp-dialog-dengan-blogger-wahabisalafy-abu-jauza-pembahasan-sanad-hadis-ummu-thufail-%E2%80%9Cnabi-melihat-allah-dalam-bentuk-pemuda-berambut-lebat%E2%80%9D/" target="_blank">J Algar (SP) Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza: Pembahasan Sanad Hadis Ummu Thufail “Nabi Melihat Allah Dalam Bentuk Pemuda Berambut Lebat”</a></li>
<li><a href="../2009/11/17/sp-dialog-dengan-blogger-wahabisalafy-abu-jauza-ibnu-taimiyyah-menshahihkan-hadis-%E2%80%9Cnabi-melihat-allah-swt-dalam-bentuk-pemuda-amrad%E2%80%9D/" target="_blank">J Algar (SP) Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza: Ibnu Taimiyyah Menshahihkan Hadis “Nabi Melihat Allah SWT Dalam Bentuk Pemuda Amrad”.</a></li>
<li><a href="../2009/11/18/j-algar-sp-dialog-dengan-blogger-wahabisalafy-abu-jauza-kedudukan-hadis-%E2%80%9Cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%E2%80%9D-1/" target="_blank">J Algar (SP) Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza: Kedudukan Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk” [1]</a></li>
<li><a href="../2009/11/18/j-algar-sp-dialog-dengan-blogger-wahabisalafy-abu-jauza-kedudukan-hadis-%E2%80%9Cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%E2%80%9D-2/" target="_blank">J Algar (SP) Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza: Kedudukan Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk” [2]</a></li>
<li><a href="../2009/11/18/j-algar-sp-dialog-dengan-blogger-wahabisalafy-abu-jauza-kedudukan-hadis-%E2%80%9Cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%E2%80%9D-3/" target="_blank">J Algar (SP) Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza: Kedudukan Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk” [3]</a></li>
<li><a href="../2009/11/18/j-algar-sp-dialog-dengan-blogger-wahabisalafy-abu-jauza-kedudukan-hadis-%E2%80%9Cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%E2%80%9D-3-2/" target="_blank">J Algar (SP) Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza: Kedudukan Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk” [4]</a></li>
<li><a href="../2009/11/18/j-algar-sp-dialog-dengan-blogger-wahabisalafy-abu-jauza-bantahan-terhadap-salafy-hadis-dhaif-nabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk/" target="_blank">J Algar (SP) Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza: Bantahan Terhadap Salafy : Hadis Dhaif Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk [6]</a></li>
<li><a href="../2009/11/19/j-algar-sp-dialog-dengan-blogger-wahabisalafy-abu-jauza-kekacauan-salafy-dalam-membela-hadis-%E2%80%9Cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%E2%80%9D/" target="_blank">J Algar (SP) Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza: Kekacauan Salafy Dalam Membela Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk” [7]</a></li>
<li><a href="../2009/11/01/abu-salafy-dialog-dengan-blogger-wahabisalafy-abu-jauza-hadis-melihat-tuhan-1/" target="_blank">Abu Salafy Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza “Hadis Melihat Tuhan” (1)</a></li>
<li><a href="../2009/11/03/abu-salafy-dialog-dengan-blogger-wahabisalafy-abu-jauza-%E2%80%9Chadis-melihat-tuhan%E2%80%9D-2-2/" target="_blank">Abu Salafy Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza “Hadis Melihat Tuhan” (2)</a></li>
<li><a href="../2009/11/17/189/" target="_blank">Abu Salafy Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza “Hadis Melihat Tuhan” (3)</a></li>
<li><a href="../2009/11/17/abu-salafy-dialog-dengan-blogger-wahabisalafy-abu-jauza-%E2%80%9Chadis-melihat-tuhan%E2%80%9D-4/" target="_blank">Abu Salafy Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza “Hadis Melihat Tuhan” (4)</a></li>
<li><a href="../2009/11/17/abu-salafy-dialog-dengan-blogger-wahabisalafy-abu-jauza-%E2%80%9Chadis-melihat-tuhan%E2%80%9D-5/" target="_blank">Abu Salafy Dialog Dengan Blogger Wahabi/Salafy Abu Jauza “Hadis Melihat Tuhan” (5)</a></li>
</ol>
<p><strong><br />
</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bicarasalafy.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bicarasalafy.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bicarasalafy.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bicarasalafy.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bicarasalafy.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bicarasalafy.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bicarasalafy.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bicarasalafy.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bicarasalafy.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bicarasalafy.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bicarasalafy.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bicarasalafy.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bicarasalafy.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bicarasalafy.wordpress.com/232/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=232&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/04/24/j-algar-sp-dialog-dengan-blogger-wahabisalafy-abu-jauza-apakah-abdurrahman-bin-%e2%80%98aaisy-al-hadhrami-seorang-sahabat-nabi-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/257bb80357a13f2016c61cc444aa4943?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bicarasalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membantah Salafy: Dimanakah Masyriq Pada Hadis Fitnah [Najd] : Rabiah Mudhar Ahlul Masyriq.</title>
		<link>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/03/11/dimanakah-masyriq-pada-hadis-fitnah-najd-rabiah-mudhar-ahlul-masyriq/</link>
		<comments>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/03/11/dimanakah-masyriq-pada-hadis-fitnah-najd-rabiah-mudhar-ahlul-masyriq/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Mar 2011 14:45:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bicarasalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Berdialog Dengan Bloger Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Bloger Bicara Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bicarasalafy.wordpress.com/?p=348</guid>
		<description><![CDATA[Dimanakah Masyriq Pada Hadis Fitnah [Najd] : Rabiah Mudhar Ahlul Masyriq SUMBER: Analisis Pencari Kebenaran Dimanakah Masyriq Pada Hadis Fitnah [Najd] : Rabiah Mudhar Ahlul Masyriq Tulisan ini bisa dibilang pengulangan yang disertai dengan sedikit tambahan untuk membungkam para salafy berkaitan dengan hadis Najd. Seperti yang kita ketahui bersama, salafy berkeras [bin ngotot] kalau Najd [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=348&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#993300;"><strong>Dimanakah Masyriq Pada Hadis Fitnah [Najd] : Rabiah Mudhar Ahlul Masyriq</strong></span></p>
<p><span style="color:#993300;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2011/02/15/dimanakah-masyriq-pada-hadis-fitnah/" target="_blank">Analisis Pencari Kebenaran</a></strong></span></p>
<p><strong>Dimanakah Masyriq Pada Hadis Fitnah [Najd] : Rabiah Mudhar Ahlul Masyriq</strong></p>
<p>Tulisan ini bisa dibilang pengulangan  yang disertai dengan sedikit tambahan untuk membungkam para salafy  berkaitan dengan hadis Najd. Seperti yang kita ketahui bersama, salafy  berkeras [bin ngotot] kalau Najd yang dimaksud dalam hadis Fitnah Najd  adalah Iraq bukannya Najd yang ada di Jazirah Arab. Cara pendalilan  mereka ini telah kami bahas dan merupakan fallacy [sesat pikir] yang  sangat nyata [bagi yang belum membacanya maka silakan membaca beberapa  tulisan kami tentang Najd].</p>
<ul>
<li><a href="http://secondprince.wordpress.com/2010/09/21/hadis-tanduk-setan-kontroversi-najd-dan-iraq/" target="_blank">Hadis Tanduk Setan Kontroversi Najd dan Irak</a></li>
<li><a href="http://secondprince.wordpress.com/2010/10/05/analisis-hadis-tanduk-setan-najd-bukan-iraq/" target="_blank">Analisis Hadis Tanduk Setan Najd Bukan Irak</a></li>
<li><a href="http://secondprince.wordpress.com/2010/10/19/najd-bukan-iraq-bantahan-bagi-salafy/" target="_blank">Najd Bukan Irak Bantahan Bagi Salafy</a></li>
</ul>
<p>.</p>
<p><span id="more-348"></span></p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis Fitnah Timur</strong> : <strong>Najd</strong></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا وكيع عن  عكرمة بن عمار عن سالم عن ابن عمر قال خرج رسول الله صلى الله عليه و سلم  من بيت عائشة فقال رأس الكفر من ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان يعني<span style="color:#0000ff;"> المشرق</span></h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami Abu  Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’  dari Ikrimah bin ‘Ammar dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata  “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari pintu rumah Aisyah  dan berkata “sumber kekafiran datang dari sini dari arah munculnya  tanduk setan yaitu<span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"> timur</span> <strong>[Shahih Muslim 4/2228 no 2905]</strong></em></p>
<h2 style="text-align:right;">وحدثني حرملة بن يحيى أخبرنا ابن وهب  أخبرني يونس عن ابن شهاب عن سالم بن عبدالله عن أبيه أن رسول  الله صلى  الله عليه و سلم قال وهو مستقبل<span style="color:#0000ff;"> المشرق</span> ها إن الفتنة ههنا ها إن  الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepadaku Harmalah  bin Yahya yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb yang  berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Salim bin  ‘Abdullah dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  berkata dan Beliau menghadap kearah <span style="color:#0000ff;">timur</span> “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, dari arah munculnya tanduk setan” <strong>[Shahih Muslim 4/2228 no 2905]</strong></em></p>
<p>Kedua hadis di atas dengan jelas  menyebutkan tentang masyriq [timur] sebagai arah tempat datangnya fitnah  atau arah munculnya tanduk setan. Pertanyaannya adalah timur yang  dimana?. Salafy mengatakan bahwa di masa arab dahulu <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>istilah timur barat sama halnya dengan istilah kanan kiri</em>.</span> Artinya di sebelah kanan adalah timur dan disebelah kiri adalah barat.  Salafy menginginkan dengan pengertian tersebut maka arah timur yang  dimaksud tidak mesti tepat di timur arah mata angin sekarang. Syubhat  salafy ini terbantahkan dengan adanya berbagai hadis shahih yang  menunjukkan kalau arah timur yang dimaksud adalah arah matahari terbit.  Yaitu hadis berikut</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله ثنا أبي ثنا أبو سعيد مولى  بنى هاشم ثنا عقبة بن أبي الصهباء ثنا سالم عن عبد الله بن عمر قال صلى  رسول الله صلى الله عليه و سلم الفجر ثم سلم فاستقبل<span style="color:#0000ff;"> مطلع الشمس</span> فقال ألا ان الفتنة ههنا ألا ان الفتنة ههنا حيث يطلع قرن الشيطان</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  ‘Abdullah yang menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah  menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla bani hasyim yang berkata telah  menceritakan kepada kami Uqbah bin Abi Shahba’ yang berkata telah  menceritakan kepada kami Salim dari ‘Abdullah bin Umar yang berkata  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat fajar  kemudian mengucapkan salam dan menghadap <span style="color:#0000ff;">kearah matahari terbit </span>seraya bersabda “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” <strong>[Musnad Ahmad 2/72 no 5410 dengan sanad shahih]</strong></em></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا موسى بن هارون ثنا عبد الله بن محمد  بوران نا الأسود بن عامر نا حماد بن سلمة عن يحيى بن سعيد عن سالم عن بن  عمر أن النبي صلى الله عليه و سلم استقبل <span style="color:#0000ff;">مطلع الشمس</span> فقال من ها هنا يطلع قرن الشيطان وها هنا الفتن والزلازل والفدادون وغلظ القلوب</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami Musa  bin Harun yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin  Muhammad Fuuraan yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin  ‘Aamir yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah  dari Yahya bin Sa’id dari Salim dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu  ‘alaihi wasallam menghadap <span style="color:#0000ff;">kearah matahari terbit</span> seraya berkata “dari sini muncul tanduk setan, dari sini muncul fitnah  dan kegoncangan dan orang-orang yang bersuara keras dan berhati kasar <strong>[Mu’jam Al Awsath Thabrani 8/74 no 8003 dengan sanad shahih]</strong></em></p>
<p>Tidak hanya soal arah yang dimaksud timur matahari terbit.  Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] juga menyebutkan nama tempat  yang dimaksud yang sesuai dengan arah <span style="color:#0000ff;">timur matahari terbit </span>dari  Madinah. Tempat tersebut adalah Najd</p>
<h2 style="text-align:right;">حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى  قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ  عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي  شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ  اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا  وَ<span style="color:#0000ff;">فِي نَجْدِنَا</span> قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami  Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun  dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi  wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam  kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga <span style="color:#0000ff;">Najd kami?</span>”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah muncul tanduk setan” <strong>[Shahih Bukhari 2/33 no 1037]</strong></em></p>
<p>Najd disini bukanlah Iraq karena antara  Najd dan Iraq hanya Najd yang merupakan tempat dengan arah timur  matahari terbit dari Madinah. Salafy bisa saja berdalih kalau Iraq juga  terletak di timur madinah dengan alasan kanan Madinah adalah timur dan  kiri Madinah adalah barat tetapi dalih tersebut tertolak dengan  penjelasan arah  yang dimaksud adalah timur matahari terbit. Irak tidak  terletak pada arah timur matahari terbit. Siapapun yang berada di  Madinah dan menyaksikan arah terbitnya matahari kemudian ia menelusuri  jalan dengan arah tersebut maka ia akan sampai di Najd bukan di Iraq.</p>
<p>Selain menunjukkan nama tempat tersebut,  Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] juga menyebutkan ciri-ciri  orang atau penduduk di tempat tersebut. Diantaranya Rasulullah  [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebutkan kalau orang-orang disana  [tempat munculnya fitnah] adalah orang yang berhati sombong dan angkuh  termasuk pengembala unta atau dikenal dengan sebutan Ahlul wabar.</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا يحيى بن يحيى قال قرأت على مالك عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال<span style="color:#0000ff;"> رأس الكفر نحو الشرق</span> والفخر والخيلاء في أهل الخيل والإبل الفدادين أهل الوبر والسكينة في أهل الغنم</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami Yahya  bin Yahya yang berkata qara’tu ala [aku membacakan kepada] Malik dari  Abi Zanad dari Al A’raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wasallam bersabda <span style="color:#0000ff;">“sumber kekafiran datang dari timur</span>,  kesombongan dan keangkuhan adalah milik orang-orang pengembala kuda dan  unta Al Faddaadin Ahlul Wabar [arab badui] dan kelembutan ada pada  pengembala kambing <strong>[Shahih Muslim 1/71 no 52]</strong></em></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبدالله بن عبدالرحمن أخبرنا أبو  اليمان عن شعيب عن الزهري حدثني سعيد بن المسيب أن أبا هريرة قال سمعت  النبي صلى الله عليه و سلم يقول جاء أهل اليمن هم أرق أفئدة وأضعف قلوبا  الإيمان يمان والحكمة يمانية السكينة في أهل الغنم والفخر والخيلاء في  الفدادين أهل الوبر قبل <span style="color:#0000ff;">مطلع الشمس</span></h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman yang berkata telah mengabarkan kepada kami  Abul Yaman dari Syu’aib dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan  kepadaku Sa’id bin Al Musayyab bahwa Abu Hurairah berkata aku mendengar  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Penduduk Yaman datang,  mereka bertingkah laku halus dan berhati lembut iman di Yaman, hikmah di  Yaman, kelembutan ada pada penggembala kambing sedangkan kesombongan  dan keangkuhan ada pada orang-orang Faddadin Ahlul Wabar [arab badui] <span style="color:#0000ff;">di arah terbitnya matahari</span><strong> [Shahih Muslim 1/71 no 52] </strong></em></p>
<p>Kedua hadis di atas menyebutkan tempat  munculnya fitnah adalah tempat pada arah timur matahari terbit dimana  orang-orang disana dikenal sebagai pengembala unta, orang yang berhati  kasar sombong dan angkuh yang merupakan tabiat kebanyakan dari ahlul  wabar atau arab badui. Ahlul wabar bisa diartikan sebagai orang arab  badui karena tempat tinggal mereka terbuat dari al wabr atau bulu. Di  masa Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam] Ahlul wabar tinggal di Najd.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Rabi’ah dan Mudhar Ahlul Masyriq</strong></p>
<p>Selain menyebutkan ciri-ciri mereka,  Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] juga menyebutkan kabilah  mereka yang dikenal sebagai Rabiah dan Mudhar. Rabi’ah dan Mudhar  dikenal sebagai Ahlul Masyriq [penduduk timur] di masa Nabi [shallallahu  ‘alaihi wasallam]</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا مسدد حدثنا يحيى عن إسماعيل قال  حدثني قيس عن عقبة بن عمرو أبي مسعود قال أشار رسول الله صلى الله عليه  وسلم بيده نحو اليمن، فقال الإيمان يمان هنا هنا، ألا إن القسوة وغلظ  القلوب في الفدادين، عند أصول أذناب الإبل، حيث يطلع قرنا الشيطان، في<span style="color:#0000ff;"> ربيعة ومضر</span></h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya dari Isma’il  yang berkata telah menceritakan kepadaku Qais bin Uqbah bin Amru Abi  Mas’ud yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  mengisyaratkan tangannya kearah Yaman dan berkata “Iman di Yaman disini  dan kekerasan hati adalah milik orang-orang Faddadin [arab badui atau  pedalaman] yang sibuk dengan unta-unta mereka dari arah munculnya tanduk  setan [dari] <span style="color:#0000ff;">Rabi’ah dan Mudhar</span> <strong>[Shahih Bukhari no 3126]</strong></em></p>
<p>Dalil-dalil di atas hanya pengulangan  dari tulisan kami sebelumnya tetapi disini akan kami tambahkan sedikit  dalil shahih kalau Rabiah dan Mudhar adalah penduduk Masyriq [timur] di  masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Berikut hadis yang memuat  keterangan tentang Rabi’ah dan Mudhar</p>
<h2 style="text-align:right;">حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ  حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي جَمْرَةَ قَالَ  كُنْتُ أُتَرْجِمُ بَيْنَ ابْنِ عَبَّاسٍ وَبَيْنَ النَّاسِ فَقَالَ إِنَّ  وَفْدَ عَبْدِ الْقَيْسِ أَتَوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ الْوَفْدُ أَوْ مَنْ الْقَوْمُ قَالُوا رَبِيعَةُ  فَقَالَ مَرْحَبًا بِالْقَوْمِ أَوْ بِالْوَفْدِ غَيْرَ خَزَايَا وَلَا  نَدَامَى قَالُوا إِنَّا نَأْتِيكَ مِنْ شُقَّةٍ بَعِيدَةٍ وَبَيْنَنَا  وَبَيْنَكَ هَذَا الْحَيُّ مِنْ كُفَّارِ مُضَرَ وَلَا نَسْتَطِيعُ أَنْ  نَأْتِيَكَ إِلَّا فِي شَهْرٍ حَرَامٍ فَمُرْنَا بِأَمْرٍ نُخْبِرُ بِهِ  مَنْ وَرَاءَنَا نَدْخُلُ بِهِ الْجَنَّةَ فَأَمَرَهُمْ بِأَرْبَعٍ  وَنَهَاهُمْ عَنْ أَرْبَعٍ أَمَرَهُمْ بِالْإِيمَانِ بِاللَّهِ عَزَّ  وَجَلَّ وَحْدَهُ قَالَ هَلْ تَدْرُونَ مَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ وَحْدَهُ  قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ  إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامُ الصَّلَاةِ  وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ وَتُعْطُوا الْخُمُسَ مِنْ  الْمَغْنَمِ وَنَهَاهُمْ عَنْ الدُّبَّاءِ وَالْحَنْتَمِ وَالْمُزَفَّتِ  قَالَ شُعْبَةُ رُبَّمَا قَالَ النَّقِيرِ وَرُبَّمَا قَالَ الْمُقَيَّرِ  قَالَ احْفَظُوهُ وَأَخْبِرُوهُ مَنْ وَرَاءَكُمْ</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  Muhammad bin Basyaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Ghundar  yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abi Jamrah  yang berkata saya pernah menjadi penterjemah antara Ibnu Abbas dan  orang-orang. [Ibnu Abbas] berkata “sesungguhnya<span style="color:#0000ff;"> delegasi [utusan] Abdul Qais</span> pernah  mendatangi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Beliau [shallallahu  ‘alaihi wasallam] berkata “siapakah utusan itu atau kaum itu?”. [para  sahabat] berkata <span style="color:#0000ff;">“Rabi’ah”. </span>Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “selamat datang kaum atau  utusan semoga tidak ada kesedihan dan penyesalan. Mereka berkata “kami  datang dari perjalanan jauh dan <span style="color:#0000ff;">diantara tempat tinggal kami dan tempat tinggal-Mu terdapat perkampungan kaum kafir Mudhar </span>sehingga  kami tidak bisa datang kepadaMu kecuali pada bulan haram maka  perintahkanlah kepada kami perintah yang dapat kami ajarkan kepada  orang-orang di tempat kami dan karenanya kami dapat masuk surga. Maka  Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] memerintahkan kepada mereka empat  hal dan melarang mereka empat hal, memerintahkan mereka untuk beriman  kepada Allah ‘azza wajalla satu-satunya. Beliau [shallallahu ‘alaihi  wasallam] berkata “tahukah kalian arti beriman kepada Allah  satu-satunya?”. Mereka berkata “Allah dan Rasul-Nya yang lebih  mengetahui”. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “bersaksi  bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah dan  mendirikan Shalat dan menunaikan zakat dan berpuasa di bulan ramadhan  dan memberikan seperlima [khumus] dari harta rampasan perang [ghanimah] .  Dan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] melarang mereka dari meminum Ad  Dubaa’ Al Hantam dan Al Muzaffat. Syu’bah berkata “terkadang Beliau  [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebutkan An Naqiir dan terkadang  berkata Muqayyir. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata  “hafalkanlah itu dan kabarkanlah kepada orang-orang di tempat kalian” <strong>[Shahih Bukhari 1/29 no 87] </strong></em></p>
<p>Hadis di atas menjelaskan bahwa kabilah  Abdul Qais adalah salah satu dari Kabilah Rabi’ah dan diantara tempat  tinggal mereka dan tempat tinggal Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di  madinah terdapat tempat tinggal kabilah Mudhar [yang masih kafir].  Pertanyaannya siapakah kabilah Abdul Qais ini dan dimana mereka tinggal.  Terdapat dalil shahih yang menyebutkan kalau Abdul Qais termasuk  penduduk Masyriq [timur]</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا أحمد قال حدثنا شباب قال حدثنا عون  بن كهمس قال حدثنا هشام بن حسان عن محمد بن سيرين عن أبي هريرة عن النبي  قال خير أهل المشرق عبد القيس</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami Ahmad  yang berkata telah menceritakan kepada kami Syabaab yang berkata telah  menceritakan kepada kami ‘Aun bin Kahmas yang berkata telah menceritakan  kepada kami Hisyaam bin Hassaan dari Muhammad bin Sirin dari Abu  Hurairah dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang bersabda <span style="color:#0000ff;">“penduduk Masyriq [timur] yang paling baik adalah Abdul Qais”</span> <strong>[Mu’jam Al Awsath Thabrani 2/171 no 1615]</strong></em></p>
<p>Hadis ini <span style="color:#0000ff;">sanadnya shahih</span> diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya. Berikut adalah keterangan mengenai para perawinya</p>
<ul>
<li><span style="color:#0000ff;">Ahmad syaikh [guru] Thabrani</span> dalam sanad di atas adalah Ahmad bin Husein bin Nashr Abu Ja’far Al  ‘Askariy . Daruquthni menyatakan kalau ia seorang yang tsiqat [Su’alat  Hamzah 1/146 no 144]</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Syabab </span>adalah  Khalifah bin Khayaath termasuk salah satu syaikh [guru] Bukhari. Ibnu  Adiy menyatakan ia hadisnya lurus shaduq. Ibnu Hibban memasukkannya  dalam Ats Tsiqat dan menyatakan ia mutqin. Maslamah berkata “tidak ada  masalah padanya” [At Tahdzib juz 3 no 304]. Adz Dzahabi menyatakan ia  shaduq [Al Kasyf no 1409]</li>
<li><span style="color:#0000ff;">‘Aun bin Kahmas</span> adalah salah satu perawi Abu Dawud. Telah meriwayatkan darinya jamaah  tsiqat. Ahmad bin Hanbal berkata “tidak dikenal”. Ibnu Hibban  memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Abu Dawud berkata “tidak disampaikan  kepadaku kecuali yang baik” [At Tahdzib juz 8 no 313]. Ibnu Hajar  menyatakan ia maqbul tetapi dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau ia  seorang yang shaduq hasanul hadis [Tahrir Taqrib At Thadzib no 5225].  Adz Dzahabi menyatakan “tsiqat” [Al Kasyf no 4319]</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Hisyam bin Hassaan</span> adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ibnu Ma’in, Al Ijli,  Ibnu Saad Ibnu Syahin, Utsman bin Abi Syaibah dan Ibnu Hibban menyatakan  tsiqat. Abu Hatim dan Ibnu Adiy berkata “shaduq”. [At Tahdzib juz 11 no  75]. Ibnu Hajar menyatakan tsiqat dan termasuk orang yang tsabit  riwayatnya dari Ibnu Sirin [At Taqrib 2/266]</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Muhammad bin Sirin</span> adalah  perawi kutubus sittah tabiin yang dikenal tsiqat. Ibnu Hajar menyatakan  ia tsiqat tsabit dan ahli ibadah [At Taqrib 2/85]. Adz Dzahabi  menyatakan ia tsiqat hujjah [Al Kasyf no 4898]</li>
</ul>
<p>Hadis di atas menyebutkan kalau  Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebut Abdul Qais sebagai  ahlul masyriq [penduduk timur] yang paling baik. Apakah masyriq [timur]  yang dimaksud?. Arah timur manakah yang dimaksud?. Dimana sebenarnya  tempat tinggal kabilah Abdul Qais?. Perhatikan hadis berikut</p>
<h2 style="text-align:right;">حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى  قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا  إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَهْمَانَ عَنْ أَبِي جَمْرَةَ الضُّبَعِيِّ عَنْ ابْنِ  عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ أَوَّلَ جُمُعَةٍ جُمِّعَتْ بَعْدَ جُمُعَةٍ  فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي  مَسْجِدِ<span style="color:#0000ff;"> عَبْدِ الْقَيْسِ بِجُوَاثَى مِنْ الْبَحْرَيْنِ</span></h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  Muhammad bin Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu  ‘Aamir Al ‘Aqdiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin  Thahman dari Abi Jamrah Adh Dhuba’iy dari Ibnu Abbas yang berkata  “sesungguhnya shalat jum’at yang pertama dilakukan setelah shalat jum’at  di masjid Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah di masjid<span style="color:#0000ff;"> kabilah Abdul Qais di Juwatsa daerah Bahrain</span> <strong>[Shahih Bukhari 2/5 no 892]</strong></em></p>
<p>Jadi kabilah Abdul Qais yang termasuk  salah satu kabilah Rabi’ah tinggal di Bahrain. Dimanakah Bahrain?.  Bahrain adalah kawasan yang terletak di sebelah timur arah matahari  terbit dari madinah. Kalau Bahrain adalah tempat tinggal kabilah Abdul  Qais maka dimanakah tempat tinggal kafir Mudhar yang disebutkan dalam  hadis  Bukhari sebelumnya terletak di antara madinah [tempat tinggal  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Bahrain [tempat tinggal Abdul  Qais]. Jawabannya gampang, ambil peta dan lihat tempat itu adalah Najd.</p>
<h2 style="text-align:right;">أخبرنا عمر بن سعيد بن سنان قال أخبرنا  أحمد بن أبي بكر عن مالك عن عبد الله بن دينار عن ابن عمر أنه قال رأيت  رسول الله صلى الله عليه و سلم يشير نحو المشرق ويقول ( ها إن الفتنة ها  هنا إن الفتنة ها هنا من حيث يطلع قرن الشيطان ) قال أبو حاتم رضي الله عنه  مشرق المدينة هو البحرين و مسيلمة منها وخروجه كان أول حادث حدث في  الإسلام</h2>
<p><em>Telah mengabarkan kepada kami Umar  bin Sa’id bin Sinaan yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ahmad  bin Abu Bakar dari Malik dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar yang  berkata sesungguhnya aku melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi  wasallam] mengarahkan tangannya kea rah timur dan berkata “dari sini  fitnah dari sini fitnah dari sini dari arah munculnya tanduk setan”. Abu  Hatim berkata <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;">“timur madinah adalah Bahrain, Musailamah berasal darinya dan keluar darinya dialah yang pertama membuat bid’ah dalam islam”</span> <strong>[Shahih Ibnu Hibban 15/24 no 6648 Syaikh Al Arnauth berkata “shahih dengan syarat Bukhari Muslim] </strong></em></p>
<p>Kawasan Bahrain dan sekitarnya termasuk  Najd adalah kawasan yang di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]  dikenal sebagai masyriq [timur] sehingga penduduknya Rabi’ah dan Mudhar  disebut sebagai ahlul masyriq.</p>
<p><a href="http://bicarasalafy.files.wordpress.com/2011/03/najd-bahrain.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-349" title="najd-bahrain" src="http://bicarasalafy.files.wordpress.com/2011/03/najd-bahrain.jpg" alt="" width="468" height="458" /></a>.</p>
<p>Jadi hadis fitnah yang katanya muncul  dari arah timur matahari terbit dari arah munculnya tanduk setan dari  Rabiah dan Mudhar maka sangat jelas tempat yang dimaksud adalah Najd  sebagaimana yang tertera jelas dalam hadis shahih.</p>
<p><strong>Catatan </strong>: sedikit  tentang Bahrain, dahulu Bahrain meliputi daerah kawasan timur yaitu  Ahsa, Qatif dan Awal. Sekarang Ahsa dan Qatif menjadi bagian dari  propinsi timur Arab Saudi dan Awal menjadi yang sekarang dikenal sebagai  kepulauan Bahrain. Jadi dahulu Bahrain itu bersebelahan dengan Najd.  Selengkapnya tentang Bahrain dapat dibaca <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahrain" target="_blank">disini.</a> Gambar dicomot dari Mbah Gugel blog-nya salafytobat</p>
<p>_________________________</p>
<p><span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"><strong>ARTIKEL TERKAIT</strong></span><strong><br />
</strong></p>
<ol>
<li><a href="../2011/03/11/2011/01/11/hadis-tanduk-setan-kontroversi-najd-dan-iraq/" target="_blank">Hadis Tanduk Setan : Kontroversi Najd dan Iraq?</a></li>
<li><a href="../2011/03/11/2011/01/11/analisis-hadis-tanduk-setan-najd-bukan-iraq/" target="_blank">Analisis Hadis Tanduk Setan : Najd Bukan Iraq</a></li>
<li><a href="../2011/01/13/membantah-abu-jauza-najd-bukan-iraq-bantahan-bagi-salafy/" target="_blank">Membantah Abu Jauza: Najd Bukan Iraq? : Bantahan Bagi Salafy</a></li>
<li><a href="http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/03/11/hadis-khawarij-kaitannya-dengan-najd-dan-arah-timur/" target="_blank">Hadis Khawarij Kaitannya Dengan Najd Dan Arah Timur</a></li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bicarasalafy.wordpress.com/348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bicarasalafy.wordpress.com/348/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bicarasalafy.wordpress.com/348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bicarasalafy.wordpress.com/348/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bicarasalafy.wordpress.com/348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bicarasalafy.wordpress.com/348/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bicarasalafy.wordpress.com/348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bicarasalafy.wordpress.com/348/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bicarasalafy.wordpress.com/348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bicarasalafy.wordpress.com/348/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bicarasalafy.wordpress.com/348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bicarasalafy.wordpress.com/348/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bicarasalafy.wordpress.com/348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bicarasalafy.wordpress.com/348/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=348&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/03/11/dimanakah-masyriq-pada-hadis-fitnah-najd-rabiah-mudhar-ahlul-masyriq/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/257bb80357a13f2016c61cc444aa4943?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bicarasalafy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bicarasalafy.files.wordpress.com/2011/03/najd-bahrain.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">najd-bahrain</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hadis Khawarij Kaitannya Dengan Najd Dan Arah Timur</title>
		<link>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/03/11/hadis-khawarij-kaitannya-dengan-najd-dan-arah-timur/</link>
		<comments>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/03/11/hadis-khawarij-kaitannya-dengan-najd-dan-arah-timur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Mar 2011 08:49:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bicarasalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Berdialog Dengan Bloger Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Bloger Bicara Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi Dan Khawarij]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bicarasalafy.wordpress.com/?p=344</guid>
		<description><![CDATA[Hadis Khawarij Kaitannya Dengan Najd Dan Arah Timur SUMBER: Analisis Pencari Kebenaran Hadis Khawarij Kaitannya Dengan Najd Dan Arah Timur Sebagian dari pengikut salafy menjadikan hadis khawarij sebagai hujjah untuk menetapkan kalau hadis fitnah tanduk setan merujuk ke Irak bukan ke Najd. Mereka menunjukkan kalau khawarij itu muncul di Irak dan terdapat hadis yang mengkaitkannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=344&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#993300;"><strong>Hadis Khawarij Kaitannya Dengan Najd Dan Arah Timur</strong></span></p>
<p><span style="color:#993300;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2011/02/06/hadis-khawarij-kaitannya-dengan-najd-dan-arah-timur/" target="_blank">Analisis Pencari Kebenaran</a></strong></span></p>
<p><strong>Hadis Khawarij Kaitannya Dengan Najd Dan Arah Timur</strong></p>
<p>Sebagian dari pengikut salafy menjadikan <em>hadis khawarij sebagai hujjah untuk menetapkan kalau hadis fitnah tanduk setan merujuk ke Irak bukan ke Najd</em>.  Mereka menunjukkan kalau khawarij itu muncul di Irak dan terdapat hadis  yang mengkaitkannya dengan arah timur. Sayang sekali mereka tidak  memperhatikan kalau sebenarnya Najd juga punya kaitan yang erat dengan  khawarij. Bisa dibilang munculnya khawarij itu bermula dari Najd.</p>
<p><span id="more-344"></span></p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis Asal Mula Khawarij</strong></p>
<h2 style="text-align:right;">حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا  شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ  الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ  بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْسِمُ قِسْمًا أَتَاهُ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ  فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ فَقَالَ وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ  إِذَا لَمْ أَعْدِلْ قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ  فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي فِيهِ فَأَضْرِبَ عُنُقَهُ  فَقَالَ دَعْهُ فَإِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ  مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا  يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ  السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ يُنْظَرُ إِلَى نَصْلِهِ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ  شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى رِصَافِهِ فَمَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ  يُنْظَرُ إِلَى نَضِيِّهِ وَهُوَ قِدْحُهُ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ  ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى قُذَذِهِ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ قَدْ سَبَقَ  الْفَرْثَ وَالدَّمَ آيَتُهُمْ رَجُلٌ أَسْوَدُ إِحْدَى عَضُدَيْهِ مِثْلُ  ثَدْيِ الْمَرْأَةِ أَوْ مِثْلُ الْبَضْعَةِ تَدَرْدَرُ وَيَخْرُجُونَ  عَلَى حِينِ فُرْقَةٍ مِنْ النَّاسِ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ فَأَشْهَدُ أَنِّي  سَمِعْتُ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ وَأَشْهَدُ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ قَاتَلَهُمْ  وَأَنَا مَعَهُ فَأَمَرَ بِذَلِكَ الرَّجُلِ فَالْتُمِسَ فَأُتِيَ بِهِ  حَتَّى نَظَرْتُ إِلَيْهِ عَلَى نَعْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ الَّذِي نَعَتَهُ</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami Abul  Yaman yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri  yang berkata telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin ‘Abdurrahman  bahwa Abu Sa’id Al Khudri radiallahu ‘anhu berkata kami bersama  Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Beliau sedang membagi  harta rampasan perang, tiba-tiba datanglah Dzul Khuwaisirah dan dia seorang laki-laki dari bani Tamim, ia berkata “wahai Rasulullah berbuat adillah?”.  Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “celaka engkau, siapa  yang bisa berlaku adil jika aku dikatakan tidak berlaku adil, sungguh  celaka dan rugi jika aku tidak berlaku adil”. Umar berkata “wahai  Rasulullah izinkanlah aku memenggal lehernya”. Rasulullah [shallallahu  ‘alaihi wasallam] berkata “biarkanlah ia, sesungguhnya ia memiliki para sahabat  dimana salah seorang dari kalian menganggap kecil shalat kalian  dibanding shalat mereka dan puasa kalian dibanding puasa mereka, mereka  membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka  keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya. Dilihat  mata panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat pegangan panahnya maka  tidak nampak apapun, dilihat batang panahnya maka tidak nampak apapun,  dilihat bulu panahnya maka tidak nampak apapun sungguh ia mendahului  kotoran dan darah. Ciri-ciri mereka adalah seorang laki-laki hitam yang  salah satu lengannya seperti payudara perempuan atau seperti daging yang  bergerak-gerak dan mereka keluar saat terjadi perselisihan di antara  orang-orang. Abu Sa’id berkata “aku bersaksi bahwa aku mendengar hadis  ini dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan aku bersaksi  bahwa Ali bin Abi Thalib telah memerangi mereka dan ketika itu aku  bersamanya, maka ia [Ali] memerintahkan untuk mencari laki-laki itu,  akhirnya orang itu ditangkap dan dibawa kehadapannya maka aku bisa  melihat ciri-ciri yang disebutkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi  wasallam] <strong>[Shahih Bukhari 4/200 no 3610]</strong></em></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا محمد بن رمح بن المهاجر أخبرنا الليث  عن يحيى بن سعيد عن أبي الزبير عن جابر بن عبدالله قال أتي رجل رسول الله  صلى الله عليه و سلم  بالجعرانة منصرفه من حنين وفي ثوب بلال فضة ورسول  الله صلى الله عليه و سلم  يقبض منها يعطى الناس فقال يا محمد اعدل قال  ويلك ومن يعدل إذا لم أكن  أعدل ؟ لقد خبت وخسرت إن لم أكن أعدل فقال عمر  بن الخطاب رضي الله عنه دعني  يا رسول الله فأقتل هذا المنافق فقال معاذ  الله أن يتحدث الناس أني أقتل  أصحابي إن هذا وأصحابه يقرأون القرآن لا  يجاوز حناجرهم يمرقون منه كما يمرق  السهم من الرمية</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  Muhammad bin Rumh bin Muhajir yang berkata telah mengabarkan kepada kami  Laits dari Yahya bin Sa’id dari Abu Zubair dari Jabir bin ‘Abdullah  yang berkata “seseorang datang kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi  wasallam] di Ji’ranah setelah pulang dari perang Hunain. Ketika itu  dalam pakaian Bilal terdapat perak maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi  wasallam] membagikannya kepada manusia. Orang tersebut berkata “wahai Muhammad berlaku adillah?”.  Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “celaka engkau,  siapa yang bisa berlaku adil jika aku dikatakan tidak berlaku adil?  Sungguh celaka dan rugi jika aku tidak berbuat adil. Umar berkata “wahai  Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] izinkanlah aku membunuh  munafik ini”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “aku  berlindung kepada Allah dari pembicaraan orang-orang bahwa aku membunuh  sahabatku sendiri, sesungguhnya orang ini dan para sahabatnya suka  membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka  keluar darinya seperti anak panah yang lepas dari busurnya” <strong>[Shahih Muslim 2/740 no 1063]</strong></em></p>
<p>Jadi sebenarnya cikal bakal khawarij sudah muncul dizaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yaitu <em>dari salah seorang sahabat Nabi yang dipanggil Dzul Khuwaisirah berserta para sahabatnya</em>.  Ibnu Hajar memasukkannya dalam kitabnya Al Isabah dimana ia mengatakan  kalau Ibnu Atsir memasukkan Dzul Khuwaisirah sebagai sahabat Nabi dan ia  seorang laki-laki dari bani tamim, selain itu diriwayatkan kalau  namanya adalah Hurqus bin Zuhair [Al Isabah  2/411 no 2452]. Disebutkan  pula kalau ada yang mengatakan ia adalah Dzu Tsudayyah orang yang  terbunuh bersama khawarij lainnya di Nahrawan [Al Isabah 2/409 no 2448]</p>
<p>Dzul Khuwaisirah  termasuk penduduk Bani Tamim dan di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi  wasallam] penduduk Bani Tamim tinggal di wilayah timur jazirah arab  yaitu Najd. Bani Tamim adalah suku arab keturunan Tamim bin Murr bin Ad  yang nasabnya sampai kepada Ilyas bin Mudhar, jadi mereka termasuk bani  Mudhar.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Bani Tamim Tinggal Di Najd</strong></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا محمد بن المثنى حدثنا مؤمل بن  إسماعيل حدثنا نافع بن عمر بن جميل الجمحي حدثني بن أبي مليكة حدثني عبد  الله بن الزبير أن الأقرع بن حابس قدم على النبي صلى الله عليه و سلم فقال  أبو بكر يا رسول الله استعمله على قومه فقال عمر لا تستعمله يا رسول الله  فتكلما عند النبي صلى الله عليه و سلم حتى ارتفعت أصواتهما فقال أبو بكر  لعمر ما أردت إلا خلافي قال ما أردت خلافك قال فنزلت هذه الآية { يا أيها  الذين آمنوا لا ترفعوا أصواتكم فوق صوت النبي } فكان عمر بن الخطاب بعد ذلك  إذا تكلم عند النبي صلى الله عليه و سلم لم يسمع كلامه حتى يستفهمه قال  وما ذكر بن الزبير جده يعني أبا بكر</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami  Mu’ammal bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami Nafi’  bin Umar bin Jamil Al Jimahiy yang berkata telah menceritakan kepadaku  Ibnu Abi Mulaikah yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin  Zubair bahwa Aqra’ bin Habis mendatangi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka Abu Bakar berkata “jadikanlah ia sebagai wakilmu atas kaumnya”.  Umar berkata “jangan jadikan ia sebagai wakilmu, wahai Rasulullah”.  Mereka terus membicarakannya disamping Nabi [shallallahu ‘alaihi  wasallam] sehingga suara mereka semakin keras. Abu Bakar berkata kepada  Umar “tidak ada yang kau inginkan kecuali menyelisihiku”. Umar berkata  “aku tidak bermaksud menyelisihimu”. Maka turunlah ayat “wahai  orang-orang yang beriman janganlah meninggikan suara kalian melebihi  suara Nabi” [al hujurat ayat 2] maka Umar bin Khattab sejak saat itu  jika berbicara kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] hampir tidak  terdengar perkataannya hingga Beliau sering menanyakannya. Ibnu Zubair  tidak menyebutkan tentang kakeknya Abu Bakar. <strong>[Shahih Sunan Tirmidzi 5/387 no 3266]</strong></em></p>
<h2 style="text-align:right;">حَدَّثَنَا يَسَرَةُ بْنُ صَفْوَانَ بْنِ  جَمِيلٍ اللَّخْمِيُّ حَدَّثَنَا نَافِعُ بْنُ عُمَرَ عَنْ ابْنِ أَبِي  مُلَيْكَةَ قَالَ كَادَ الْخَيِّرَانِ أَنْ يَهْلِكَا أَبُو بَكْرٍ  وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا رَفَعَا أَصْوَاتَهُمَا عِنْدَ  النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَدِمَ عَلَيْهِ  رَكْبُ بَنِي تَمِيمٍ فَأَشَارَ أَحَدُهُمَا بِالْأَقْرَعِ بْنِ حَابِسٍ  أَخِي بَنِي مُجَاشِعٍ وَأَشَارَ الْآخَرُ بِرَجُلٍ آخَرَ قَالَ نَافِعٌ  لَا أَحْفَظُ اسْمَهُ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ لِعُمَرَ مَا أَرَدْتَ إِلَّا  خِلَافِي قَالَ مَا أَرَدْتُ خِلَافَكَ فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا فِي  ذَلِكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا  تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ } الْآيَةَ قَالَ ابْنُ الزُّبَيْرِ فَمَا كَانَ  عُمَرُ يُسْمِعُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ  هَذِهِ الْآيَةِ حَتَّى يَسْتَفْهِمَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ ذَلِكَ عَنْ  أَبِيهِ يَعْنِي أَبَا بَكْرٍ<em> </em></h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  Yasarah bin Shafwan bin Jamil Al Lakhmiy yang berkata telah menceritakan  kepada kami Nafi’ bin Umar bahwa Ibnu Abi Mulaikah berkata “hampir saja  dua orang terbaik celaka yaitu Abu Bakar dan Umar. Keduanya telah  meninggikan suaranya di sisi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] ketika datang kafilah dari bani Tamim. Salah satu dari mereka menunjuk Aqra’ bin Habis saudara bani Mujasyi’ menjadi pemimpin.  Dan yang lainnya menunjuk seorang lainnya. Nafi’ berkata ‘aku tidak  hafal namanya’. Kemudian Abu Bakar berkata kepada Umar “tidak ada yang  kau inginkan kecuali menyelisihiku”. Umar menjawab “aku tidak bermaksud  menyelisihimu”. Suara keduanyapun meninggi membicarakan itu, maka  turunlah ayat “wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu meninggikan  suara melebihi suara Nabi” [Al Hujurat ayat 2]. Ibnu Zubair berkata  “setelah itu, Umar tidak pernah memperdengarkan kepada Rasulullah  [shallallahu ‘alaihi wasallam] sampai Beliau meminta kejelasannya dan  Ibnu Zubair tidak menyebutkan itu dari ayahnya yaitu Abu Bakar <strong>[Shahih Bukhari 6/137 no 4845]</strong></em></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا هناد بن السري حدثنا أبو الأحوص عن   سعيد بن مسروق عن عبدالرحمن بن أبي نعم عن أبي سعيد الخدري قال بعث علي رضي   الله عنه وهو باليمن بذهبة في تربتها إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم   فقسمها رسول الله صلى الله عليه و سلم بين أربعة نفر الأقرع بن حابس   الحنظلي وعيينة بن بدر الفزاري وعلقمة بن علاثة العاشمري ثم أحد بني كلاب   وزيد الخير الطائي ثم أحد بني نبهان قال فغضبت قريش فقالوا أتعطي صناديد   نجد وتدعنا ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم إني إنما فعلت ذلك   لأتألفهم</h2>
<p><em>Telah  menceritakan kepada kami  Hanaad bin As Sariy yang berkata telah  menceritakan kepada kami Abul  Ahwash dari Sa’id bin Masruq dari  ‘Abdurrahman bin Abi Na’m dari Abu  Sa’id Al Khudri yang berkata Ali  radiallahu ‘anhu yang sedang berada di  Yaman, mengirimkan emas yang  masih dalam bijinya kepada Rasulullah  [shallallahu ‘alaihi wasallam]  kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi  wasallam]  membagikannya kepada  empat orang yaitu Aqra’ bin Habis Al Hanzhali,   Uyainah bin Badr Al Fazari, Alqamah bin Ulatsah Al ‘Asymiri yaitu  salah  seorang dari Bani Kilab, dan Zaid Al Khair At Tha’iy yaitu salah   seorang dari Bani Nabhan. Orang-orang Quraisy marah dan berkata Apakah   Beliau  [shallallahu ‘alaihi wasallam] memberi para pemimpin Najd,   dan tidak memberikan kepada kita? Rasulullah [shallallahu ‘alaihi   wasallam] bersabda “Aku melakukan itu adalah untuk menarik hati mereka”.   <strong>[Shahih Muslim 2/741 no 1064]</strong></em></p>
<p>Hadis-hadis di atas menyebutkan kalau  Aqra’ bin Habis Al Hanzhaliy adalah orang terkemuka dari bani Tamim  sehingga ia dicalonkan sebagai pemimpin atas kaumnya dan dalam hadis itu  disebutkan kalau ia salah seorang pemuka atau pemimpin Najd. Maka  disini terdapat dalil yang menunjukkan kalau bani Tamim di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tinggal atau menetap di Najd.</p>
<p>Maka disini kita melihat<em> apa kaitannya Khawarij dengan Najd</em>.  Mereka yang nantinya menjadi khawarij dan diperangi oleh Imam Ali  ternyata sudah ada di zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan  pencetusnya adalah Dzul Khuwaisirah seorang laki-laki dari bani Tamim.  Pada masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam], Dzul Khuwaisirah dan para  sahabatnya beserta keturunannya termasuk dalam bani Tamim dan tinggal  di Najd.</p>
<p>Sejak zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi  wasallam] sebagian penduduk Tamim dikenal dengan sikapnya yang tidak  baik kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Mereka dikenal dengan  sikapnya yang kasar walaupun harus diakui tidak semua bani Tamim seperti  itu.</p>
<h2 style="text-align:right;">حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ  غِيَاثٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا جَامِعُ بْنُ  شَدَّادٍ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ مُحْرِزٍ أَنَّهُ حَدَّثَهُ عَنْ عِمْرَانَ  بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَقَلْتُ نَاقَتِي بِالْبَابِ  فَأَتَاهُ نَاسٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا  بَنِي تَمِيمٍ قَالُوا قَدْ بَشَّرْتَنَا فَأَعْطِنَا مَرَّتَيْنِ ثُمَّ  دَخَلَ عَلَيْهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ فَقَالَ اقْبَلُوا الْبُشْرَى  يَا أَهْلَ الْيَمَنِ إِذْ لَمْ يَقْبَلْهَا بَنُو تَمِيمٍ قَالُوا قَدْ  قَبِلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالُوا جِئْنَاكَ نَسْأَلُك عَنْ هَذَا  الْأَمْرِ قَالَ كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ وَكَانَ  عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ وَخَلَقَ  السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَنَادَى مُنَادٍ ذَهَبَتْ نَاقَتُكَ يَا ابْنَ  الْحُصَيْنِ فَانْطَلَقْتُ فَإِذَا هِيَ يَقْطَعُ دُونَهَا السَّرَابُ  فَوَاللَّهِ لَوَدِدْتُ أَنِّي كُنْتُ تَرَكْتُهَا</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami Umar  bin Hafsh bin Ghiyats yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku  yang berkata telah menceritakan kepada kami Al’Amasy yang berkata telah  menceritakan kepada kami Jami’ bin Syadad dari Shafwan bin Muhriz  sesungguhnya telah mengabarkan kepadanya dari ‘Imran bin Hushain  radiallahu ‘anhum yang berkata “aku masuk menemui Rasulullah  [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan aku mengikat untaku di pintu.  Kemudian datanglah orang-orang dari bani Tamim. Rasulullah [shallallahu  ‘alaihi wasallam] bersabda “terimalah kabar gembira wahai bani Tamim”. Mereka berkata “sungguh engkau telah memberi kami kabar gembira maka berikanlah kami sesuatu yang lain” mereka mengucapkannya dua kali  kemudian masuklah orang-orang Yaman, maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “terimalah kabar gembira wahai orang-orang Yaman karena bani Tamim telah menolaknya”. Mereka berkata “kami menerima wahai Rasulullah”  mereka  berkata “kami datang kepadamu untuk bertanya urusan ini”. Rasulullah  [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Allah telah ada dan tidak ada  apa-apa selain-Nya, kemudian Arsy- Nya di atas air dan dituliskan segala  sesuatu dalam Az Zikru kemudian Allah menciptakan langit dan bumi.  Tiba-tiba seseorang memanggilku “untamu terlepas wahai Ibnu Hushain”.  Aku keluar dan untaku hilang di tengah padang pasir. Demi Allah alangkah  baiknya kubiarkan saja unta itu<strong> [Shahih Bukhari 4/105-106 no 3191]</strong></em></p>
<p>Hadis ini menunjukkan tabiat orang-orang  bani Tamim yang tidak memiliki kepedulian terhadap ilmu agama. Dalam  riwayat lain disebutkan bahkan <em>wajah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjadi berubah ketika mendengar jawaban dari orang-orang bani Tamim</em>.  Jadi bisa dimaklumi kalau orang-orang dengan tabiat seperti ini menjadi  cikal bakal kaum khawarij. Tentu saja sekali lagi kami tidak menyatakan  bahwa begitulah semua orang dari bani Tamim, sudah cukup dikenal  sebagian sahabat Nabi dari bani Tamim yang setia dan taat kepada Nabi  [shallallahu ‘alaihi wasallam].</p>
<p>Pernah suatu ketika delegasi bani tamim  datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diantara mereka  terdapat Aqra’ bin Habis At Tamimi, Uyainah bin Hishn, Qais bin Harits,  Qais bin Ashim, dan Utharid bin Hajib. Mereka datang ke rumah Nabi  shallallahu ‘alaihi wasallam dan berteriak memanggil Nabi shallallahu  ‘alaihi wasallam dari luar sehingga turunlah ayat <em>“sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu ke luar kamarmu kebanyakan mereka tidak mengerti”</em> [Al Hujurat ayat 4] dan diantara mereka terdapat Utharid bin Hajib yang berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">فقام عطارد بن حاجب فقال الحمد لله الذي له  علينا الفضل والمن وهو أهله الذي جعلنا ملوكا ووهب لنا أموالا عظاما نفعل  فيها المعروف وجعلنا أعز أهل المشرق وأكثره عددا وأيسره عدة ، فمن مثلنا في  الناس ؟ ألسنا برءوس الناس وأولي فضلهم ؟ فمن فاخرنا فليعدد مثل ما عددنا  وإنا لو نشاء لأكثرنا الكلام ولكنا نحيا من الإكثار فيما أعطانا وإنا نعرف  بذلك أقول هذا لأن تأتوا بمثل قولنا وأمر أفضل من أمرنا ثم جلس</h2>
<p><em>Maka Uthaarib bin Haajib berdiri dan  berkata “segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kami  keutamaan dan karunia dan Dialah yang berhak untuk dipuji. Dia yang  telah menjadikan kami sebagai raja dan memberikan kepada kami harta yang  banyak kemudian kami berbuat baik dengan harta itu. Dia menjadikan kami sebagai orang-orang timur [ahlul masyriq] yang paling kuat,  paling banyak jumlahnya dan lengkap persenjataannya. Siapakah diantara  manusia yang seperti kami?. Bukankah kami adalah pemimpin mereka dan  paling utama diantara mereka?. Siapa yang dapat menyaingi kami maka  hendaknya ia menyebutkan seperti apa yang telah kami sebutkan. Dan jika  kami mau kami bisa mengatakan yang lebih banyak lagi tetapi kami malu  menyebutkan semua yang telah diberikan kepada kami, hal itu telah kami  ketahui. Inilah perkataan kami dan hendaknya kalian mengatakan seperti  yang telah kami katakan atau bahkan lebih utama dari apa yang kami  sebutkan, kemudian ia duduk </em><strong>[Sirah Ibnu Hisyam 2/562]</strong></p>
<p>Kisah ini menyebutkan bagaimana tabiat  kasar dari bani tamim. Mereka berteriak memanggil Nabi dari luar bilik  Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan tentu sebagai sebuah delegasi  tidak sewajarnya bersikap seperti itu. Dari kisah di atas kita dapat  melihat bahwa <em>bani Tamim memang dikenal sebagai orang-orang timur [masyriq] di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam </em>sehingga mereka dengan bangga mengatakannya di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Disini kita dapat melihat <em>apa kaitannya Khawarij dengan arah timur?</em>.  Khawarij dicetuskan oleh Dzul Khuwaisirah dari bani tamim dan para  sahabatnya yang dikenal sebagai orang-orang timur [masyriq] di zaman  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis Sahl bin Hunaif  Tentang Khawarij</strong></p>
<h2 style="text-align:right;">أخبرنا محمد بن آدم بن سليمان عن محمد بن  فضيل عن بن إسحاق عن يسير بن عمرو قال دخلت على سهل بن حنيف قلت له أخبرني  ما سمعت من رسول الله صلى الله عليه و سلم في الحرورية قال أخبرك ما سمعت  من رسول الله صلى الله عليه و سلم لا أزيد عليه سمعت رسول الله صلى الله  عليه و سلم وضرب بيده نحو المغرب قال يخرج من هاهنا قوم يقرؤون القرآن لا  يجاوز تراقيهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية <em> </em></h2>
<p><em>Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Adam bin Sulaiman dari Muhammad bin Fudhail dari Abu Ishaq dari Yusair bin ‘Amru  yang berkata “aku masuk menemui Sahl bin Hunaif kemudian aku berkata  ‘kabarkanlah padaku apa yang engkau dengar dari Rasulullah [shallallahu  ‘alaihi wasallam] tentang Haruriyah, [Sahl] berkata aku akan mengabarkan  kepadamu apa yang aku dengar dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi  wasallam] tidak lebih, aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi  wasallam] dan Beliau memukulkan tangannya ke arah barat  dan berkata “akan keluar dari sini kaum yang membaca Al Qur’an tetapi  tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak  panah yang lepas dari busurnya” <strong>[Sunan Nasa’i 5/32 no 8090]</strong></em></p>
<p><strong>Hadis ini sanadnya shahih</strong>,  Muhammad bin Adam bin Sulaiman adalah gurunya Nasa’i dan Abu Hatim. Abu  Hatim menyatakan shaduq, Nasa’i menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 9 no  41] dan selebihnya adalah perawi Bukhari Muslim.</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا علي بن  مسهر عن الشيباني عن يسير بن عمرو قال سألت سهل بن حنيف هل سمعت النبي صلى  الله عليه و سلم يذكر الخوارج ؟ فقال سمعته ( وأشار بيده نحو المشرق ) قوم  يقرأون القرآن بألسنتهم لا يعدوا تراقيهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم  من الرمية</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami Abu  Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ali  bin Mushir dari Asy Syaibani dari Yusair bin ‘Amru yang berkata “aku  bertanya kepada Sahl bin Hunaif “apakah engkau mendengar Rasulullah  [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebutkan tentang Khawarij?. Sahl  berkata aku mendengarnya, dan ia menyisyaratkan tangannya ke arah timur [dan  berkata] muncul kaum yang membaca Al Qur’an dengan lisan mereka tetapi  tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak  panah yang lepas dari busurnya <strong>[Shahih Muslim 2/750 no 1068]</strong></em></p>
<h2 style="text-align:right;">حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ  حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا الشَّيْبَانِيُّ حَدَّثَنَا  يُسَيْرُ بْنُ عَمْرٍو قَالَ قُلْتُ لِسَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ هَلْ سَمِعْتَ  النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي الْخَوَارِجِ  شَيْئًا قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ وَأَهْوَى بِيَدِهِ قِبَلَ الْعِرَاقِ  يَخْرُجُ مِنْهُ قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ  تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ  الرَّمِيَّةِ</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami Musa  bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahid yang  berkata telah menceritakan kepada kami Asy Syaibani yang berkata telah  menceritakan kepada kami Yusair bin ‘Amru  yang berkata ‘aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif apakah engkau pernah  mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan sesuatu  tentang khawarij?. [Sahl] berkata “aku mendengarnya mengatakan dan ia mengarahkan tangannya ke Irak  “akan keluar darinya kaum yang membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati  tenggorokan mereka, mereka keluar dari islam seperti anak panah lepas  dari busurnya” <strong>[Shahih Bukhari 9/17 no 6934]</strong></em></p>
<p>Kalau kita perhatikan ketiga hadis Sahl bin Hunaif di atas, semuanya berujung pada sanad yang sama yaitu <em>dari Abu Ishaq Asy Syaibani dari Yusair bin ‘Amru dari Sahl bin Hunaif</em> tetapi terdapat keanehan dalam penunjukkan isyarat. Terkadang disebutkan <em>isyarat ke arah barat</em>, terkadang disebutkan <em>isyarat ke arah timur</em> dan terkadang disebutkan <em>isyarat ke arah Iraq</em>. Ketidak akuratan ini kemungkinan berasal dari Yusair bin ‘Amru, ia dinyatakan tsiqat oleh Al Ijli, Ibnu Hibban dan Ibnu Sa’ad tetapi walaupun begitu Ibnu Hazm menyatakan <em>“tidak kuat”</em> [At Tahdzib juz 11 no 639].</p>
<p>Riwayat yang mahfuzh adalah yang menyatakan <em>penunjukkan isyarat ke arah timur</em> karena terdapat hadis dengan lafaz yang jelas kalau Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyatakan <em>“timur”</em> yaitu hadis dimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda</p>
<h2 style="text-align:right;">قال قوم يخرجون من المشرق يقرأون القرآن لا يجاوز تراقيهم يمرقون من الدين مروق السهم من الرمية</h2>
<p><em>[Rasulullah] bersabda “akan keluar  suatu kaum dari arah timur, mereka membaca Al Qur’an tetapi tidak  melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah  yang lepas dari busurnya”</em></p>
<p>Hadis dengan lafaz ini diriwayatkan  dengan sanad yang shahih dari Ali radiallahu ‘anhu dan Abu Sa’id Al  Khudri radiallahu ‘anhu. Riwayat Ali disebutkan Ahmad dalam <em>Fadhail Ash Shahabah</em> no 1223, Ibnu Abi Ashim dalam <em>As Sunnah </em>no 913, Abu Ya’la dalam <em>Musnad</em>-nya 1/375 no 482 dan Nasa’i dalam <em>Sunan Nasa’i</em> 5/162 no 8568. Riwayat Abu Sa’id Al Khudri disebutkan dalam <em>Musnad Abu Ya’la </em>2/408 no 1193 dengan sanad yang shahih.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Keutamaan Yang Memerangi Khawarij</strong></p>
<p>Tidak diragukan kalau khawarij ini telah  diperangi oleh Imam Ali di Nahrawan sebagaimana yang telah disebutkan  dalam riwayat yang shahih. Jika kita melihat hadis-hadis tersebut secara  keseluruhan maka diketahui bahwa <em>asal muasal khawarij ini berasal dari Najd dan kebanyakan mereka adalah dari bani tamim pengikut Dzul Khuwaisirah</em>.  Mereka bersama-sama keluar dengan Imam Ali untuk memerangi Muawiyah  tetapi akhirnya dalam peristiwa tahkim mereka membelot dari Imam Ali  sehingga terjadilah perperangan di Nahrawan Irak. Terdapat keutamaan  yang besar bagi mereka yang memerangi kaum khawarij. Hal ini telah  disebutkan oleh Imam Ali dalam riwayat yang shahih</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا إسماعيل ثنا  أيوب عن محمد عن عبيدة عن على رضي الله عنه قال ذكر الخوارج فقال فيهم مخرج  اليد أو مودن اليد أو مثدن اليد لولا ان تبطروا لحدثتكم بما وعد الله  الذين يقتلونهم على لسان محمد قلت أنت سمعته من محمد قال إي ورب الكعبة إي  ورب الكعبة إي ورب الكعبة</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata  telah menceritakan kepada kami Ismail  yang berkata telah menceritakan  kepada kami Ayub dari Muhammad dari ‘Abidah dari Ali radiallahu ‘anhu,  ia berkata Ali menyebutkan tentang khawarij, lalu berkata “di antara  mereka ada seorang laki-laki hitam yang pendek tangannya atau salah satu  dari kedua tangannya pendek seperti payudara wanita . Sekiranya  aku tidak takut kalian menjadi sombong , niscaya akan aku katakana apa  yang dijanjikan Allah sesuai dengan lisan Muhammad ganjaran kepada  orang-orang yang membunuh mereka. Aku berkata “apakah kamu  mendengarnya dari Muhammad?”. Ali berkata “Ya demi Tuhan pemilik Ka’bah  , Ya demi Tuhan pemilik Ka’bah, Ya demi Tuhan pemilik Ka’bah” <strong>[Musnad Ahmad 1/83 no 6262 Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih dengan syarat Bukhari Muslim”]</strong></em></p>
<p>Siapakah yang memerangi mereka, tidak  diragukan lagi kalau yang memerangi mereka adalah pengikut Imam Ali  yaitu para penduduk Iraq, merekalah yang mendapatkan keutamaan yang  disebutkan Imam Ali di atas. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Abu  Sa’id Al Khudri yang berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">قال أنتم قتلتموهم يا أهل العراق</h2>
<p><em>Abu Sa’id berkata “kalian telah memerangi mereka wahai penduduk Irak”</em></p>
<p>Riwayat Abu Sa’id ini disebutkan dengan sanad yang shahih oleh Nasa’i dalam <em>Sunan Nasa’i</em> 5/158 no 8558 dan Abdullah bin Ahmad dalam <em>As Sunnah</em> no 1346, kemudian juga disebutkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam <em>As Sunnah </em>no 1412 dengan lafaz <em>“segala puji bagi Allah yang menjadikan penduduk Irak memerangi mereka”</em></p>
<p><em>.</em></p>
<p><em>.</em></p>
<p><em>.</em></p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Hadis  Khawarij tidaklah menjadi hujjah untuk menafikan hadis Najd bahkan bisa  dikatakan kalau khawarij sendiri bersumber dari Najd. Perang terhadap  kaum khawarij yang dilakukan imam Ali memang terjadi di Nahrawan Iraq  tetapi sumber munculnya atau asal usul khawarij itu bermula dari  penduduk Najd yaitu Dzul Khuwaisirah dan para sahabatnya. Jadi disini  hadis fitnah Najd masih klop atau sesuai dengan hadis fitnah khawarij. <strong>Salam Damai</strong></p>
<p><strong>_______________________</strong></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#ff0000;"><strong>ARTIKEL TERKAIT</strong></span><span style="color:#800000;"><strong><br />
</strong></span></span></p>
<ol>
<li><a href="../2011/01/11/hadis-tanduk-setan-kontroversi-najd-dan-iraq/" target="_blank">Hadis Tanduk Setan : Kontroversi Najd dan Iraq?</a></li>
<li><a href="../2011/01/11/analisis-hadis-tanduk-setan-najd-bukan-iraq/" target="_blank">Analisis Hadis Tanduk Setan : Najd Bukan Iraq</a></li>
<li><a href="http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/01/13/membantah-abu-jauza-najd-bukan-iraq-bantahan-bagi-salafy/" target="_blank">Membantah Abu Jauza: Najd Bukan Iraq? : Bantahan Bagi Salafy</a></li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bicarasalafy.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bicarasalafy.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bicarasalafy.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bicarasalafy.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bicarasalafy.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bicarasalafy.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bicarasalafy.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bicarasalafy.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bicarasalafy.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bicarasalafy.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bicarasalafy.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bicarasalafy.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bicarasalafy.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bicarasalafy.wordpress.com/344/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=344&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/03/11/hadis-khawarij-kaitannya-dengan-najd-dan-arah-timur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/257bb80357a13f2016c61cc444aa4943?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bicarasalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Waduh Ternyata Menurut Salafy/Wahabi Ustad Firanda Seorang Pendusta (Bag.3)</title>
		<link>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/03/11/waduh-ternyata-menurut-salafywahabi-ustad-firanda-seorang-pendusta-bag-3/</link>
		<comments>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/03/11/waduh-ternyata-menurut-salafywahabi-ustad-firanda-seorang-pendusta-bag-3/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Mar 2011 08:30:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bicarasalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Wahabi-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ketidak Jujuran Bloger Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Bloger Salafy Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy Menurut Yang Ngaku Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy VS Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bicarasalafy.wordpress.com/?p=337</guid>
		<description><![CDATA[Salafy vs Salafy DUSTA FIRANDA DITENGAH BADAI FITNAH YANG SEDANG MELANDA (bag:3) SUMBER: Salafybpp.Com Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Hafizhahulloh Selasa, 08 Pebruari 2011 01:28 Waduh, Ternyata Firanda Seorang Pendusta…… Tentang kedustaan Firanda, telah kami jelaskan sebelumnya bahwa yang menghukumi dustanya Firanda bukanlah seorang ustadz yang berasal dari Indonesia,  namun seorang Syaikh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=337&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"><strong>Salafy vs Salafy</strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>DUSTA FIRANDA DITENGAH BADAI FITNAH YANG SEDANG MELANDA (bag:3)</strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>SUMBER: </strong></span><a href="http://www.salafybpp.com/fataawa/106-dusta-firanda-ditengah-badai" target="_blank"><strong>Salafybpp.Com</strong></a></p>
<p><span style="color:#008000;"><strong>Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Hafizhahulloh </strong></span><br />
<span style="color:#800080;">Selasa, 08 Pebruari 2011 01:28</span></p>
<p><strong>Waduh, Ternyata Firanda Seorang <span style="color:#ff0000;">Pendusta……</span></strong></p>
<p><a href="http://bicarasalafy.files.wordpress.com/2011/03/daun.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-339" title="daun" src="http://bicarasalafy.files.wordpress.com/2011/03/daun.jpg" alt="" width="145" height="108" /></a>Tentang  kedustaan Firanda, telah kami jelaskan sebelumnya bahwa yang menghukumi  dustanya Firanda bukanlah seorang ustadz yang berasal dari Indonesia,   namun seorang Syaikh dari kota Nabi <em>Shallallahu Alaihi Wasallam</em> yang masyhur yang sangat dikenal kiprahnya dalam dakwah salafiyah, yaitu Syaikh<strong>: Abdullah Bin Abdurrahim Al-Bukhari <em>Hafizhahullah Ta’ala</em></strong>.  Beliau benar- benar mengetahui akhlak Firanda yang sangat buruk ini,  sebab beliau yang menghadapinya secara langsung tentang fitnah keji yang  dia sebarkan olehnya. Berikut ini fatwa Beliau:</p>
<p><span id="more-337"></span></p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>&#8230;..عندكم  فتنة وعندنا ما فيه فتنة أيضا عندنا فتنة نحن أيضا وفتن أكثر من التي  عندكم إذا نبغى نمشي وراء كل واحد من هؤلاء كلما تفوه واحد من هؤلاء  المجرمون ما أكثرهم لا كثرهم الله ما ندرس الناس ولا نؤلف ولا نكتب ولا  نعلم ولا ننشر دينا </strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>من  أفجرهم الان وأخبثهم وأكذبهم الآن هذا الخبيث الذي يسمى فيرندا الأندونيسي  هذا الخبيث, أيوى الكذاب هذا الأشر يمشي في المدينة عند بعض الطلبة وبين  الناس يشوش وأن الشيخ عبد الله لم يبق أحدا يتكلم في الجميع ويتكلم في كذا  ويتكلم في الشيخ العباد وابنه وما أدري من, لأنه لما جاؤوني هنا ومن معه من  أتباع علي مصري وتكلمت عليهم وعلى سفههم هذا السفيه الأرعن علي مصري  وموقفه العام الماضي الذي كان ولمت هذا فيرندا على كتابه عن إحياء التراث  وخبث إحياء التراث وبينت لهم من هي إحياء التراث </strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>قالوا  والله يا شيخ ما ندري ما ندري أيش جزاك الله خيرا قد بينت قلت: ها الآن  بينت ماذا ستفعل الآن؟ طبعا هذا الرجل خرج من عندي وخلاص ما هو عارف كيف</strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>يفعل  يتصرف , بدأ يشيع هذا الكذب وهذا الفجور والخبث, بل إخوانه الذين كانوا  معه منهم نور إحسان ومن معه قالوا: يا شيخ ما فهمنا هذا الكلام منك وأنت  تعلم أن هذا الرجل خبيث كذاب فاجر يفجر في الكذب كمان فنحن بارك الله فيك  كل يوم نحن عندنا فتة وكل يوم عندنا طلاب فتنة لو أننا ننشغل بهؤلاء ما  دعونا الناس وما درسنا وما علمنا يا أخي اتركوه&#8230;.</strong><strong> </strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>(شريط مفرغ)</strong><strong> </strong></h2>
<p><strong>Terjemahan :</strong></p>
<p><em>“Ditempat  kalian terjadi fitnah, apakah ditempat kami tidak terjadi fitnah? Kami  juga mengalami fitnah, bahkan fitnah yang lebih banyak dibanding kalian,  kalau kita terus berjalan dibelakang setiap mereka, yakni setiap orang  dari mereka para pelaku kejahatan berbicara, dan jumlah mereka sungguh  banyak –semoga  Allah tidak menambah lagi jumlah mereka  menyebabkan kita tidak lagi mengajar manusia, tidak lagi membuat karya  ilmiah, tidak lagi menulis, tidak lagi mengajar dan menyebarkan agama.</em></p>
<p><em>termasuk  orang yang paling fajir diantara mereka (ahli fitnah). paling buruk dan  pendusta sekarang ini adalah si jahat yang dikenal dengan nama Firanda  yang berasal dari Indonesia. Si jahat dan pendusta besar ini berjalan di  kota Madinah mendatangi sebagian para pelajar dan sebagian orang, dan  membuat kisruh bahwa <strong>Syaikh Abdullah (al-Bukhari)</strong> tidak  menyisakan satupun, semuanya dikritik, dia mengkritisi si fulan,  mengkritisi Syaikh al-Abbad dan anaknya dan saya tidak tahu siapa lagi,  sebab ketika mereka datang kepadaku, dia bersama yang lain dari  pengikutnya Ali Musri dan aku membicarakan mereka dan kebodohan mereka,  si bodoh yang ngawur Ali Musri dan sikap dia pada tahun yang lalu. Dan  aku mencela Firanda atas bukunya yang berbicara tentang Ihya At-Turats,  Aku jelaskan kebobrokan Ihya At-Turats dan memaparkan kepada mereka  siapa itu Ihya At-Turats. mereka berkata: <strong>Demi Allah wahai Syekh, kami benar-benar tidak tahu, jazakallah khaer engkau telah menjelaskannya</strong>. Maka saya berkata : <strong>nah, sekarang aku telah menjelaskan, apa yang akan kamu lakukan sekarang?</strong> Tentunya  orang ini (maksudnya Firanda,pen) dia keluar dari kediamanku dalam  keadaan dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan dan perbuat setelah  menyebarkan kedustaan, kefajiran dan kejahatan ini. Bahkan  teman-temannya yang ketika itu bersamanya, diantara mereka Nur Ihsan dan  yang bersamanya, mereka berkata: wahai syaikh, kami tidak memahami  ucapanmu ini dengan pemahaman itu, dan engkau telah mengetahui bahwa  orang ini (maksud mereka Firanda,pen) jahat dan pendusta,fajir, bahkan  kelewat batas dalam berdusta pula. Maka kita semoga Allah memberkatimu-  setiap hari kami menghadapi fitnah, dan setiap hari kami menghadapi para  pencari fitnah. Kalau sekiranya kita menyibukkan diri dengan mereka,  kita tidak akan mendakwahi manusia, tidak mengajar lagi, ya akhi,  tinggalkan mereka…</em></p>
<p>Anda bisa mendengarkan File Audio dari Fatwa <strong>Asy Syaikh Abdullah Al-Bukhari <em>Hafizhahullah</em></strong><em>,</em> di atas dalam Format MP3. Silahkan Mendownload,..! <a href="http://www.salafybpp.com/download.html"><strong>KLIK DISINI,.!</strong></a></p>
<p>___________________________</p>
<p><span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"><strong>TULISAN SEBELUMNYA</strong></span></p>
<ul>
<li><a href="../2011/03/11/waduh-ternyata-menurut-salafywahabi-ustad-firanda-seorang-pendusta-bag-1/" target="_blank">Waduh Ternyata Menurut Salafy/Wahabi Ustad Firanda Seorang Pendusta (Bag. 1)</a></li>
<li><a href="http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/03/11/waduh-ternyata-menurut-salafywahabi-ustad-firanda-seorang-pendusta-bag-2/" target="_blank">Waduh Ternyata Menurut Salafy/Wahabi Ustad Firanda Seorang Pendusta (Bag. 2)</a></li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bicarasalafy.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bicarasalafy.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bicarasalafy.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bicarasalafy.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bicarasalafy.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bicarasalafy.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bicarasalafy.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bicarasalafy.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bicarasalafy.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bicarasalafy.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bicarasalafy.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bicarasalafy.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bicarasalafy.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bicarasalafy.wordpress.com/337/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=337&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/03/11/waduh-ternyata-menurut-salafywahabi-ustad-firanda-seorang-pendusta-bag-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/257bb80357a13f2016c61cc444aa4943?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bicarasalafy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bicarasalafy.files.wordpress.com/2011/03/daun.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daun</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Waduh Ternyata Menurut Salafy/Wahabi Ustad Firanda Seorang Pendusta (Bag. 2)</title>
		<link>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/03/11/waduh-ternyata-menurut-salafywahabi-ustad-firanda-seorang-pendusta-bag-2/</link>
		<comments>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/03/11/waduh-ternyata-menurut-salafywahabi-ustad-firanda-seorang-pendusta-bag-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Mar 2011 08:03:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bicarasalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Wahabi-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ketidak Jujuran Bloger Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Bloger Salafy Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy VS Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi Bicara Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bicarasalafy.wordpress.com/?p=332</guid>
		<description><![CDATA[Salafy vs Salafy DUSTA FIRANDA DITENGAH BADAI FITNAH YANG SEDANG MELANDA (bag:2) SUMBER: Salafybpp.Com Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Hafizhahulloh Minggu, 09 Januari 2011 10:18 Siapa yang menyembunyikan fatwa? Dalam buku fitnah karya Firanda –hadanallahu wa iyyahu-, dia mengutip terjemahan nasehat Syaikh Bin Baaz –rahimahullah-  sebagai berikut: “…..Kelima : kebanyakan perkataan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=332&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"><strong>Salafy vs Salafy</strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>DUSTA FIRANDA DITENGAH BADAI FITNAH YANG SEDANG MELANDA (bag:2)</strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>SUMBER: </strong></span><a href="http://www.salafybpp.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=99:dusta-firanda-ditengah-badai-fitnah-yang-sedang-melanda-bag2&amp;catid=31:nasehat-a-bantahan&amp;Itemid=46" target="_blank"><strong>Salafybpp.Com</strong></a></p>
<p><span style="color:#008000;"><strong>Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Hafizhahulloh </strong></span><br />
<span style="color:#800080;">Minggu, 09 Januari 2011 10:18</span></p>
<p><strong><em>Siapa yang menyembunyikan fatwa?</em></strong></p>
<p><a href="http://bicarasalafy.files.wordpress.com/2011/03/fatwa2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-333" title="fatwa2" src="http://bicarasalafy.files.wordpress.com/2011/03/fatwa2.jpg" alt="" width="145" height="108" /></a>Dalam  buku fitnah karya Firanda –hadanallahu wa iyyahu-, dia mengutip  terjemahan nasehat Syaikh Bin Baaz –rahimahullah-  sebagai berikut:</p>
<p>“…..Kelima  : kebanyakan perkataan yang dilontarkan (baik berupa tuduhan maupun  celaan) sama sekali tidak benar, namun hanya merupakan  persangkaan-persangkaan keliru yang dihiasi oleh syaitan kepada para  pengucapnya.</p>
<p>Syaitan memperdaya mereka dengan hal ini. Allah berfirman:</p>
<p><span id="more-332"></span></p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>يَا  أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ  بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ  بَعْضًا</strong></h2>
<p><em>“Hai  orang- orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka,  sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu  mencari-cari kesalahan orang lain danjanganlah sebagian kamu menggunjing  sebagian yang lain.”</em> <strong>(QS.Al-Hujuraat:12)</strong></p>
<p>Seorang mukmin hendaknya membawa perkataan saudaranya sesama muslim kepada makna yang paling baik.Sebagian salaf berkata,</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>لاَ تَظُنَّنَّ بِكَلِمَةٍ خَرَجَتْ مِنْ أَخِيْكَ سُوْءً وَأَنْتَ تَجِدُ لَهَا فِي الخَيْرِ مَحْمَلًا</strong></h2>
<p><em>“Janganlah  sekali-kali engkau menyangka dengan prasangka yang buruk terhadap  sebuah kalimat yang keluar dari (mulut) saudaramu, padahal kalimat  tersebut masih bisa engkau bawa kepada (makna) yang baik.”</em></p>
<p><strong>(Buku fitnah Firanda, hal:67)</strong></p>
<p>Apa  yang disebutkan Syaikh Bin Baaz rahimahullah ini memang perlu kita  renungkan lalu kita amalkan, dan saya berharap kita bisa  mengamalkannya,Allahumma yassir. Namun ketika saya membaca makalah yang  ditulis Firanda yang dengan entengnya melemparkan tuduhan kepada yang  lain dengan tuduhan <strong><em>“fatwa telah disembunyikan” ????&#8230;.</em></strong></p>
<p>Begitu  mudahnya dia melemparkan tuduhan tanpa mendahulukan sikap husnuz zhan  yang disebutkan dalam buku fitnahnya, saya tidak mengerti apa yang  menyebabkan Firanda menyelisihi kaedahnya sendiri. Atau mungkin sikap  husnuz zhan hanya diterapkan kepada orang- orang yang turut serta  mengambil sumbangan dari ihya At-Turats tanpa perlu merasa khawatir akan  pengaruh yang mereka bawa?, adapun yang memberi peringatan dari  bahayanya pengaruh mereka yang selalu menimbulkan perpecahan  dimana-mana, tidak perlu menerapkan sikap husnuz zhan kepada mereka,  sehingga dengan mudahnya melemparkan tuduhan “menyembunyikan fatwa  masyayikh”. Subhanallah, apa tidak ada kemungkinan lain yang lebih baik  untuk membawa kepada persangkaan yang lebih sehat…..?</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى</strong></h2>
<p><em>“Dan  janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu  untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat  kepada takwa.”</em></p>
<p><strong>(QS.Al-Maidah:8)</strong></p>
<p><strong><em>Fatwa disembunyikan, kenapa takut?</em></strong></p>
<p>Walhamdulillah,  tak ada fatwa yang perlu untuk disembunyikan, dan juga mengapa harus  disembunyikan?. Berkenaan dengan fatwa Syaikh Ubaid hafizhahullah dalam  salah satu kunjungan ke rumah Beliau, yang akhirnya saya dituduh oleh  Firanda menyembunyikan fatwa yang telah ditanyakan kepada Beliau  tentang Ihya At-Turats. Saya memang belum sempat mentranskrip lalu  menerjemahkan fatwa Beliau selama ini, seperti halnya fatwa- fatwa para  masyayikh lainnya yang masih tersimpan dalam komputer saya, juga belum  sempat saya transkrip dan terjemahkan, dalam keadaan sangat ingin fatwa  ini segera disebarkan. Hal ini disebabkan karena kesibukan mengajar,  menulis artikel lain, dan yang lainnya. Sebagai contoh, fatwa Syaikh  Khalid Azh-Zhufairi hafizhahullah yang membantah berita dusta yang  disebarkan orang- orang yang membenci Syaikh Rabi’ hafizhahullah bahwa  Beliau diusir dari Madinah, Syaikh Khalid hafizhahullah telah  membantahnya dalam beberapa poin, dan bantahan ini sudah ada beberapa  tahun lalu sejak awal kedatangan beliau ke Indonesia, dan saya  berkeinginan untuk mentranskripnya, namun hingga kini belum sempat saya  melakukannya,  bukan karena  kesengajaan ingin menyembunyikan fatwa.</p>
<p>Demikian  pula fatwa Syaikh Abdullah Bukhari hafizhahullah yang menjelaskan  tentang kedustaan Firanda, juga masih tersimpan filenya pada kami,  padahal rekaman itu sudah lama, namun belum sempat kami transkrip dan  menerjemahkannya untuk dikonsumsi oleh ahlus sunnah agar mengetahui  siapa Firanda sebenarnya, bukan karena kami sengaja menyembunyikan  fatwa, namun kesempatanlah yang belum kami miliki untuk melakukannya.  Semoga dalam kesempatan lain kami akan menampilkan transkripnya, berikut  file suara Beliau hafizhahullah, agar kemudian Firanda tidak lagi  melemparkan tuduhan kepada kami bahwa <strong><em>“fatwa telah disembunyikan”…</em></strong>, semoga ini menjadi hadiah yang bermanfaat bagi al-akh Firanda.</p>
<p><strong><em>Ini fatwa Syaikh Ubaid Hafizhahullah</em></strong></p>
<p>Berikut ini fatwa Syaikh Ubaid hafizhahullah yang dengannya saya dituduh menyembunyikannya:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>السؤال:  ما نصيحتكم لبعض الإخوة الذين يغترون بحركات جمعية إحياء التراث حيث إن  بعضهم يزعمون بأن إحياء التراث الآن قد تغيرت وصارت سلفية؟</strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>جواب الشيخ عبيد حفظه الله تعالى:</strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>هذه  العبارة عبارة التغير ووصف تغير من بدعة وهواء إلى سنة هذه العبارة يدندن  بها الإخوان المسلمون وقصده ترخيص أهل الضلال والدعوة إلى قبولهم وقبول ما  يصدرونه </strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>وجمعية  إحياء التراث قد تكلمت عليها كثيرا في مجالس متعددة في السعودية وفي  الكويت فهي علي ما هو عليه لا تتغير,فإذا عملت إحياء التراث الكويتية تغيرت  والرؤوس فيها وأهل الحل والعقد فيها إلى رجال سلفيين يوجهونها إلى نشر  السنة المحضة الخالية من الشوب شوب البدعة فنحن معه وإذا دعوني إلى  الانضمام إلى أعمالهم وقدرت على ذلك ما ترددت </strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>بقي هل يؤخذ العون من هذه الجمعيات والجمعيات المنحرفة سواء في ذلك جمعية إحاء التراث أو غيرها هذا له حالتان:</strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>الحالة الأولى: حال الطلب صاحب الحاجة يذهب إلى هذه الجمعية ويمد يده إليها (كلمة  غير واضحة) فهذا الأولى عدمه لأن كل صاحب مبدأ منحرف يغتنم حاجة الطرف  الآخر ولا ينفك منه ذو الحاجة من فرض ما يريد هذا المنحرف ولو بعد حين </strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>الحالة  الثانية: أن تتبرع هذه الجماعة المنحرفة تبرعا مطلقا غير مشروط ,تتبرع بما  ينفع أهل الإسلام بقطر أو في أقطار كبناء مساجد ومدارس ودفع أموال لحاجات  هذه المدارس وهذه المساجد ويدعون الأمر لأهل البلد أو أهل قطر ولا يملون  عليهم أي شيء تبرع مطلق .فهذا لا بأس به إن شاء الله تعالى ودليل هذا قوله  صلى الله عليه وسلم:</strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>(إن الله ليؤيد هذا الدين بالرجل الفاجر))</strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>حتى  لو أن كافرا عرض على أهل القرية سواء كان هذا الكافر حاكما أو غير الحاكم  .بناء مسجد في قريته فقط البناء فنحن نقبله منه ولا مانع أن نقول شكرا  أحسنت ,ولكن لا نقول جزاك الله خيرا أحسن الله إليك أثابك الله لا, لأن هذا  الدعاء من خصائص أهل الإسلام ولكن نقول شكرا أحسنت .هذا هو بارك الله فيك  بالنسبة للعون الذي يأتي إلى أهل السنة من جماعات منحرفة</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan : </strong></p>
<p><em>Apa  nasehat Engkau kepada sebagian ikhwan yang terpedaya dengan gerakan  ihya At-Turats dimana sebagian mereka menyangka bahwa Ihya At-Turats  sekarang ini telah berubah dan menjadi salafiyah?</em></p>
<p><em><strong>Beliau –hafizhahullah- menjawab :</strong></em></p>
<p><em>Ungkapan  ini yaitu ungkapan “berubah” dan menyifati sesuatu “berubah” dari  bid’ah menuju sunnah.Ungkapan ini seringkali didengungkan oleh ikhwanul  muslimin yang bertujuan untuk memberi kelonggaran kepada orang-orang  sesat dan mengajak mereka untuk menerimanya dan menerima apa yang  berasal dari mereka. Organisasi Ihya At-Turats telah sering aku jelaskan  diberbagai majelis baik di Arab Saudi maupun di Kuwait, <strong>dan Masih tetap seperti dulu dan tidak ada perubahan.</strong> Apabila kegiatan-kegiatan Ihya At-Turats al-Kuwaitiyah telah  berubah,para pemimpinnya , ahlul halli wal’aqd-nya juga telah berubah  menjadi orang-orang yang bermanhaj salafy yang mengarahkan Ihya  At-Turats untuk menyebarkan sunnah semata yang bersih dari noda bid’ah  maka kami akan bersamanya. Jika mereka mengajak aku untuk bergabung  dalam kegiatan-kegiatan mereka dan aku mampu melakukan hal itu maka aku  tidak akan ragu (untuk bergabung).</em></p>
<p><em><strong>Kemudian:</strong> apakah boleh diambil bantuan dari organisasi ini dan  organisasi-organisasi yang menyimpang apakah itu organisasi ihya  At-Turats atau yang lainnya,ini ada dua keadaan:</em></p>
<p><em><strong>Pertama</strong>:  keadaan meminta, orang yang memiliki kebutuhan mendatangi organisasi  ini dan menjulurkan tangannya kepadanya, (kata kurang jelas…..) <strong>maka  lebih utama tidak melakukannya, sebab setiap orang yang memiliki  penyimpangan memanfaatkan kebutuhan yang dikehendaki pihak lain, dan  yang butuh tidak dapat berlepas darinya tatkala diharuskannya dia  melakukan apa yang diinginkan oleh orang yang menyimpang ini meskipun  dimasa yang akan datang.</strong></em></p>
<p><em><strong> </strong></em></p>
<p><em><strong>Keadaan kedua</strong>:</em></p>
<p><em>Jama’ah yang menyimpang ini memberi sumbangan secara mutlak tanpa syarat,  menyumbang dengan sesuatu yang memberi manfaat bagi kaum muslimin  disebuah kampung atau beberapa kampung, seperti membangun masjid,  sekolah,memberi harta untuk kebutuhan sekolah-sekolah ini dan  masjid-masjid,<strong>dan menyerahkan segala urusan kepada penduduk negeri tersebut atau penduduk kampung tersebut,  dan mereka tidak mendikte mereka sedikitpun, namun sumbangan secara mutlak</strong>. Maka ini tidak mengapa insya Allah Ta’ala. Dalilnya adalah sabda Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam :</em></p>
<p><em><strong>(إن الله ليؤيد هذا الدين بالرجل الفاحر)) </strong></em></p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah azza wajalla, menguatkan agama ini melalui seorang yang fajir”</em></p>
<p><em>Bahkan  meskipun orang kafir yang menawarkan kepada penduduk kampung, sama saja  apakah kafir ini penguasa atau bukan, untuk membangun masjid di  kampungnya,sekedar membangun masjid. Maka kita terima darinya,dan tidak  mengapa untuk kita katakan kepadanya: terima kasih,engkau telah berbuat  baik. Namun kita tidak mengucapkan “semoga Allah membalasmu kebaikan”,  “semoga Allah berbuat baik kepadamu”, “semoga Allah memberimu pahala”,  sebab do’a ini termasuk kekhususan kaum muslimin .Namun kita katakan :  terima kasih engkau telah berbuat baik. Barakallahu fiik . Ini berkenaan  tentang bantuan yang datang kepada ahlus sunnah dari jama’ah-jama’ah  yang menyimpang.</em></p>
<p>.</p>
<p><strong>(Pertemuan dirumah Syaikh Ubaid Al-Jabiri Hafizhahullah, rekamannya ada pada kami).</strong></p>
<p>Dalam fatwa Syaikh Ubaid Al-Jabiri hafizhahullah Ta’ala ini, ada beberapa hal yang dapat kita simpulkan:</p>
<p><strong><em>Pertama :</em></strong></p>
<p>Dalam  hal meminta dana kepada organisasi yang menyimpang, baik ihya At-Turats  ataupun yang lainnya sebaiknya tidak dilakukan, sebab hal itu akan  memberi pengaruh kepada orang yang menerima dana tersebut, cepat atau  lambat. Karena kebiasaan mereka yang selalu memanfaatkan orang-orang  yang butuh kepada hartanya.</p>
<p><strong><em>Kedua :</em></strong></p>
<p>Mereka  memberi sumbangan tanpa syarat secara mutlak, tanpa didikte sedikitpun,  maka hal ini tidak mengapa, bahkan dari orang kafir sekalipun.</p>
<p>Cobalah  anda perhatikan, fatwa Syaikh ini dengan jelas merinci permasalahan  mengambil dana dari yayasan menyimpang, bahwa tidak mengapa mengambil  dana dari mereka jika tanpa disertai syarat apapun, baik syarat idaari  (administrasi) atau yang lainnya. Tapi <strong>Firanda</strong> sebagai “perwakilan yang tidak resmi” berusaha menjadi jubir <strong>(juru bicara)</strong> Syaikh Ubaid yang menafsirkan fatwa Beliau.Dia mengatakan:</p>
<p>“Persyaratan  yang dimaksud bukanlah persyaratan membuat laporan kerja atau yang  sifatnya idaari (administrasi) akan tetapi persyaratan yang bisa merusak  manhaj seseorang, seperti syarat untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran  yang menyimpang.”</p>
<p>Lihatlah  penafsiran Firanda terhadap ucapan Syaikh Ubaid, lalu perhatikan pula  fatwa Beliau diatas, jauh panggang dari api, atau sebagian  mengistilahkannya “<strong><em>kurang nyambung”.</em></strong></p>
<p>Saya benar- benar merasa heran dengan tuduhan Firanda kepada saya bahwa saya sengaja menyembunyikan fatwa Beliau ini, padahal apa yang Beliau sebutkan ini sama sekali tidak bertentangan dengan apa yang telah kami jelaskan dalam buku <strong>“menjalin ukhuwwah diatas minhaj ukhuwwah”.</strong> Perhatikan apa yang saya sebutkan dalam <strong>“menjalin ukhuwwah,hal:32- 33:</strong></p>
<p>“Pada  saat kaum muslimin berusaha mengenal dakwah salafiyyah secara murni dan  konsekwen serta senantiasa berpijak diatas al-Qur’an dan sunnah  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan pemahaman yang benar dari  salafus shalih dengan bimbingan para ulama ahlus sunnah wal jama’ah,  mereka dikejutkan dengan sepak terjang organisasi ihya At-Turats  al-Kuwaiti ini di bumi Indonesia. Mengandalkan dananya, mereka  menyalurkan kepada beberapa organisasi, yayasan atau pondok pesantren  untuk memenuhi kebutuhan mereka, seperti membangun masjid, menanggung  anak yatim, menggaji para du’at (guru) dan semisalnya.</p>
<p><strong><em>Kalau  permasalahnnya berhenti sampai di sini, tentu hal itu tidak  dipersoalkan oleh para ulama yang memberi peringatan dari bahaya  organisasi tersebut</em></strong>.  Ternyata tidak demikian, penyaluran dana itu diikuti dengan kegiatan  yang justru menjadi pemicu terbesar semakin terpecahnya Ahlus sunnah di  negeri ini.” Selesai penukilan.</p>
<p>Jadi  permasalahannya bukan sekedar pemberian sumbangan, akan tetapi pengaruh  Ihya At-Turats yang tidak hanya menyerahkan sumbangan semata, namun  dampak dari sumbangan mereka untuk melakukan intervensi terhadap dakwah  salafiyah di berbagai negeri, termasuk Indonesia.</p>
<p>Coba anda perhatikan fatwa Syaikh Muqbil rahimahullah yang juga dinukil Firanda berikut ini:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>جاءني  أناس من الكويت منهم الأخ عبدالله السبت وقالوا: نحن لا نستطيع أن نساعدك  إلا إذا كنت مرتبطًا بمؤسسة حكومية؟ فقلت لهم: ونحن لا نبيع دعوتنا لأحد،  فإن شئتم أن تساعدوا الدعوة بدون شرط ولا قيد فعلتم، وإن كان هناك شروط  فيغنينا الله عز وجل عن مساعدتكم.</strong></h2>
<p><em>“Beberapa  orang dari Kuwait datang menemuiku, diantaranya Al-Akh Abdullah  As-Sabt, dan mereka berkata: Kami tidak mampu untuk membantumu kecuali  jika engkau terkait dengan yayasan negeri?. Maka aku berkata kepada  mereka : <strong>&#8220;Dan kami tidak menjual dakwah kami kepada seorangpun,  jika kalian berkehendak untuk membantu dakwah tanpa syarat dan tanpa  ikatan maka silahkan lakukan, dan jika ada persayaratan maka Allah akan  mencukupkan kami dari membutuhkan bantuan kalian&#8221;, selesai penukilan.</strong></em></p>
<p>perhatikan  yang beliau sebutkan, tatkala Abdullah As-Sabt yang enggan memberi  sumbangan karena mensyaratkan agar ma’had beliau dibawah naungan yayasan  negeri, yang ini juga bagian dari idaari (administrasi), bukan syarat  agar mereka menyebarkan pemikiran menyimpang dan menyesatkan., namun  Syaikhuna Al-Wadi’I rahimahullah menolak mentah- mentah permintaan  mereka. Tapi anehnya, Firanda tidak mengomentari fatwa Syaikh Muqbil  rahimahullah ini seperti halnya dia mengomentari fatwa Syaikh Ubaid  hafizhahullah. Apa yang disembunyikan?</p>
<p>Ihya  At-Turats tatkala memberi sumbangan, tentu tidak serta merta memberi  syarat untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran sesat mereka, itu tidak  akan mereka lakukan. Namun ada proses, camkan penjelasan dari Syaikh  ubaid:” <strong><em>dan  yang butuh tidak dapat berlepas darinya tatkala diharuskannya dia  melakukan apa yang diinginkan oleh orang yang menyimpang ini meskipun  dimasa yang akan datang.”</em></strong></p>
<p>Hal ini sejalan dengan apa yang disebutkan Imam Al-Barbahari rahimahullah:</p>
<h2 style="text-align:right;">مثل أصحاب البدع مثل العقارب يدفنون  رؤوسهم وأبدانهم في التراب ويخرجون أذنابهم فإذا تمكنوا لدغوا وكذلك أهل  البدع هم مختفون بين الناس فإذا تمكنوا بلغوا ما يريدون</h2>
<p><em>“Perumpamaan  ahli bid’ah seperti kalajengking, mereka menyembunyikan kepala dan  badannya ke dalam tanah dan mengeluarkan ekornya, jika mereka punya  kesempatan maka merekapun segera menyengatnya. Demikian pula ahli  bid’ah, mereka bersembunyi ditengah manusia, jika mereka punya  kesempatan, maka mereka menyampaikan apa yang mereka inginkan.”</em></p>
<p><strong>(Thabaqaat al-hanaabilah:2/44)</strong></p>
<p>Perhatikan pula nasehat dari Imam Al-jarh wat-ta’dil Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali Hafizhahullah berikut ini:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>أحذِّر  إخواني السلفيين من مكايد الجمعيات السياسة التي تلبس لباس السلفية، ولها  اتجاهات ومناهج مضادة للسلفية ومنهجها ، تتصيَّد هذه الجمعيات أهل المطامع  الدنيوية بالدعم</strong><strong> </strong><strong>المالي والمعنوي تحت ستار دعم السلفية، فلايشعر العقلاءالنبهاء إلا وقد تحول أولئك</strong><strong> </strong><strong>المدعومون إلى معاول تهدم الدعوة السلفية ومناصبة أهلهاالعداء والخصومات</strong><strong> </strong><strong>الشديدة الظالمة والسعي في إسقاط علماء وأعلام هذه</strong><strong> </strong><strong>الدعوة.</strong><strong> </strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>كما فعلت وتفعل ( جمعية إحياء التراث السياسية الكويتيةوفروعها في الإمارات</strong><strong> </strong><strong>والبحرين،  حيث ضربوا الدعوة السلفية في اليمن، ومصر، والسودان، والهند،  وباكستان،وبنجلادش، فلا يقبل دعمها طامعون إلا رأيت الانشقاقات والصراعات  والفتن بين عملائها والسلفيين الثابتين على الحق الذين أدركوا مكايد هذه  الجمعيات وخططها السياسية الماكرة ولمسوا بأيديهم ، ورأوا بأبصارهم  وبصائرهم النهايات المؤلمة المخزية لمن يمدون</strong><strong> </strong><strong>أيديهم  الخائنة الذليلةإلى هذه الجمعيات وأموالها ، التي تجمع باسم الفقراء  والمساكين والمنكوبين، ثم تكرِّس هذه الأموال إلى أولئك الخونة الذين باعوا  دينهم فأصبحوا لعباً وأبواقاً لهذه الجمعيات، وإن شئت فسمِّهم جنوداً  مجندين لحرب السلفية وأهلها في كل البلدان . اهـ </strong><strong> </strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>من نصيحته حفظه الله للأخوة السلفيين بالعراق </strong><strong> </strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>بتاريخ11/4/1430هـ</strong><strong> </strong></h2>
<p><em>“Aku  peringatkan saudara- saudaraku salafiyyin dari makar  organisasi-organisasi ini, politik yang mengenakan pakaian salafiyah,  yang memiliki tujuan dan manhaj yang bertentangan dengan salafiyah dan  manhajnya, dimana organisasi ini berusaha menjerat orang- orang yang  cinta dunia dengan bantuan harta dibawah slogan “membantu salafiyah”.  Lalu orang-orang yang berakal dan bijak tidak merasa hingga orang-orang  yang diberi bantuan inipun berubah menuju penyimpangan yang meruntuhkan  dakwah salafiyah dan menanamkan permusuhan dan pertengkaran sengit yang  disertai kezaliman dan usaha untuk menjatuhkan para ulama dan  tokoh-tokoh dakwah ini. Sebagaimana yang telah dan sedang dilakukan oleh  organisasi politik Ihya At-Turats al-kuwaitiyah dan cabang- cabangnya  di Emirat dan Bahrain, dimana mereka memukul dakwah salafiyah di Yaman,  Mesir, Sudan, India, Pakistan, dan Bangladesh. Tidaklah orang- orang  yang tamak menerima bantuannya melainkan engkau melihat perpecahan,  pergolakan, berbagai fitnah akan timbul antara peneriman sumbangannya  dengan salafiyyin yang kokoh diatas al-haq yang memahami makar  oraganisasi ini dan berbagai trik-trik politik yang penuh dengan tipu  daya. Mereka (salafiyyin) menyentuh dengan tangan-tangan mereka, melihat  dengan mata dan ilmu mereka akhir yang menyakitkan dan menghinakan bagi  mereka yang menjulurkan tangan- tangan khianat dan rendah mereka kepada  organisasi ini dan hartanya yang dikumpulkan atas nama orang-orang  fakir miskin, dan yang ditimpa musibah. Lalu kemudian harta-harta ini  diserahkan kepada para pengkhianat itu yang telah menjual agamanya lalu  mereka menjadi bahan permainan dan corong bagi organisasi ini. Jika  engkau ingin, maka sebut saja mereka sebagai tentara yang dipersenjatai  untuk memerangi dakwah salafiyah dan pemeluknya disetiap negeri.”</em></p>
<p><em><strong>(Nasehat Beliau kepada ikhwan salafiyin di Iraq,tanggal 11-4-1430 H).</strong></em></p>
<p>Kalaulah pengaruh <strong><em>“fulus”</em></strong> Ihya At-Turats yang menimpa <strong>Firanda</strong> dan yang bersamanya hanya sekedar merendahkan kedudukan Syaikh Robi’  Hafizhahullah, itu sudah cukup menunjukkan kesesatannya. Tapi ternyata  pengaruhnya tidak berhenti sampai disini………</p>
<p>Semoga Allah memberi kemudahan kepada saya untuk menambah tulisan ini dalam kesempatan lain, insya Allah Ta’ala.</p>
<p>Adapun  menyembunyikan fatwa jihad oleh seorang ustadz, saya sendiri tidak  memahami maksud Firanda, fatwa yang mana dan siapa ustadz yang  menyembunyikan fatwa itu?. Saya sudah bertanya kepada beberapa ustadz,  tapi tidak satupun yang mengetahui hal ini. Fatwa yang mana dan ustadz  siapa?  Fa’tuu burhaanakum in kuntum shadiqiin.</p>
<p>( Bersambung insya Allah dengan judul…….<span style="color:#0000ff;">.<span style="color:#3366ff;"> <strong><em>SAYA MENOLAK BERDIALOG </em></strong></span></span>)</p>
<p><strong>Ditulis oleh:</strong></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>Abu Karimah Askari bin Jamal</strong></span></p>
<p>_________________________________________</p>
<p><span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"><strong>TULISAN SEBELUMNYA</strong></span></p>
<ul>
<li><a href="http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/03/11/waduh-ternyata-menurut-salafywahabi-ustad-firanda-seorang-pendusta-bag-1/" target="_blank">Waduh Ternyata Menurut Salafy/Wahabi Ustad Firanda Seorang Pendusta (Bag. 1)</a></li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bicarasalafy.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bicarasalafy.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bicarasalafy.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bicarasalafy.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bicarasalafy.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bicarasalafy.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bicarasalafy.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bicarasalafy.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bicarasalafy.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bicarasalafy.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bicarasalafy.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bicarasalafy.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bicarasalafy.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bicarasalafy.wordpress.com/332/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=332&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/03/11/waduh-ternyata-menurut-salafywahabi-ustad-firanda-seorang-pendusta-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/257bb80357a13f2016c61cc444aa4943?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bicarasalafy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bicarasalafy.files.wordpress.com/2011/03/fatwa2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">fatwa2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Waduh Ternyata Menurut Salafy/Wahabi Ustad Firanda Seorang Pendusta (Bag. 1)</title>
		<link>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/03/11/waduh-ternyata-menurut-salafywahabi-ustad-firanda-seorang-pendusta-bag-1/</link>
		<comments>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/03/11/waduh-ternyata-menurut-salafywahabi-ustad-firanda-seorang-pendusta-bag-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Mar 2011 07:44:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bicarasalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Wahabi-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ketidak Jujuran Bloger Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Bloger Salafy Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy Menurut Yang Ngaku Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy VS Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bicarasalafy.wordpress.com/?p=328</guid>
		<description><![CDATA[Salafy vs Salafy DUSTA FIRANDA DITENGAH BADAI FITNAH YANG SEDANG MELANDA (bag:1) SUMBER: Salafybpp.Com Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Hafizhahulloh Selasa, 04 Januari 2011 05:35 Firanda memfitnah ulama ahlus sunnah Gelar “kadzdzab” (gemar berdusta) yang disematkan oleh salah seorang ulama besar di Madinah Asy-Syaikh Abdullah bin Abdirrahim Al-Bukhari Hafizhahullah kepada seorang pelajar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=328&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"><strong>Salafy vs Salafy</strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>DUSTA FIRANDA DITENGAH BADAI FITNAH YANG SEDANG MELANDA (bag:1)</strong></span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>SUMBER: </strong></span><a href="http://www.salafybpp.com/categoryblog/97-dusta-firanda-ditengah-badai-fitnah-yang-sedang-melanda-bag1.html" target="_blank"><strong>Salafybpp.Com</strong></a></p>
<p><span style="color:#008000;"><strong>Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Hafizhahulloh </strong></span><br />
<span style="color:#800080;">Selasa, 04 Januari 2011 05:35</span></p>
<p><strong><em>Firanda memfitnah ulama ahlus sunnah</em></strong></p>
<p><a href="http://bicarasalafy.files.wordpress.com/2011/03/dusta.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-329" title="dusta" src="http://bicarasalafy.files.wordpress.com/2011/03/dusta.jpg" alt="" width="145" height="108" /></a>Gelar <strong>“kadzdzab”</strong> (gemar berdusta) yang disematkan oleh salah seorang ulama besar di  Madinah Asy-Syaikh Abdullah bin Abdirrahim Al-Bukhari Hafizhahullah  kepada seorang pelajar di Madinah yang bernama <strong>Firanda Andirja</strong> memang merupakan gelar yang layak disandangnya. Mengapa tidak, Firanda  seakan tiada henti menghembuskan fitnahnya dengan menyebarkan berbagai  kedustaan dikalangan salafiyyin dengan menyebarkan berita-berita palsu  yang kandungannya adalah upaya merendahkan kedudukan para ulama dan Da’i  Ahlus sunnah ditengah umatnya.</p>
<p><span id="more-328"></span></p>
<p>Belum lama kita mendengarkan <strong><em>“haditsul ifk”</em></strong> Firanda yang menyebarkan fitnah dusta dengan mengatasnamakan Asy-Syaikh  Rabi’ bahwa Beliau meninggalkan kota Madinah dan menetap di Makkah  karena diusir dari Madinah. <strong><em>“Subahanaka hadza buhtaanun ‘azhim”</em></strong>,  betapa lancangnya anda berdusta atas nama seorang yang disebut oleh  Imam Al-Albani sebagai “pembawa bendera al-jarhu wat-ta’dil” dizaman  ini.</p>
<p>Mungkin dia berkata: bukan saya yang mengatakan itu, tapi saya hanya menukil.</p>
<p>Kami katakan: Anda terkena ucapan anda sendiri, bukankah anda sendiri menyebutkan dalam <em>“buku fitnah”</em> anda yang berjudul “lerai pertikaian sudahi permusuhan” sebagai berikut:</p>
<p>“Imam  al-Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya, al-Adab al-Mufrad (no.324),  demikian juga Ibnu Abid Dun-ya dalam kitabnya, ash-shamt (no.260), dan  dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam shahih al-Adab (no.247), dari  ‘Ali, ia berkata:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>القَائِلُ كَلِمَةَ الزُّوْرِ وَالذِيْ يَمُدُّ بِحَبْلِهَا فِي الإِثْمِ سَوَاءٌ</strong></h2>
<p><em>“Pengucap perkataan dusta adalah sama dosanya dengan orang yang memanjangkan tali perkataan tersebut.”</em></p>
<p>Makna ucapan ‘Ali <em>“yang memanjangkan tali perkataan tersebut”, </em>yaitu menyebarkannya.”</p>
<p><strong>(Dinukil dari buku fitnah Firanda, hal:26)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tak  lama setelah itu, ia kembali berulah di kota Nabi Shallallohu ‘alaihi  wasallam, dengan menyebarkan berita palsu berikutnya bahwa Asy-Syaikh  Abdullah Al-Bukhari –Hafizhahullah Ta’ala- menjelekkan Syaikh  Abdurrazzaq Al-Abbad –Hafizhahullah-, yang menyebabkan Syaikh Abdullah  Al-Bukhari marah besar kepadanya dan tidak memaafkannya hingga dia  datang kerumah Beliau. Menurut berita dari Syaikh Al-Bukhari bahwa dia  telah datang untuk meminta maaf,namun gelar <strong>“pendusta”</strong> tersebut masih saja Beliau sematkan kepada hamba Allah yang satu ini,  dan gelar itu memang pantas disematkan kepadanya. Selamat berbahagia  dengan gelar ini wahai Firanda dari salah seorang ulama besar Madinah  Nabawiyyah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Anehnya, Firanda menyebutkan dalam buku fitnahnya (hal:32), ia berkata:</p>
<p>“Ada  sebagian orang yang tidak bisa mengendalikan lisannya.Tidak peduli  dengan apa yang diucapkannya.Tidak peduli siapapun yang sedang ia <em>ghibah,</em> yang ia bicarakan, yang ia rendahkan, yang ia jatuhkan harga dirinya.”</p>
<p>(Buku fitnah Firanda:32)</p>
<p style="text-align:left;">Benar  apa yang anda katakan, terlebih lagi kalau yang sedang dibicarakan itu  seorang ulama senior yang dikenal sebagai pembela sunnah Rasulullah  Shallallohu ‘alaihi wasallam, dan pembela manhaj salafi, semisal Syaikh  Rabi’ Hafizhahullah Ta’ala.Al-Hafizh Ibnu Asakir rahimahullah berkata:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>اعلم يا أخي وفقنا الله وإياك لمرضاته وجعلنا ممن يخشاه ويتقيه حق تقاته أن لحوم العلماء مسمومة وعادة الله في هتك أستار منتقصيهم معلومة وأن من أطلق لسانه في العلماء بالثلب بلاه الله قبل موته بموت القلب فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم </strong></h2>
<p><em>“Ketahuilah wahai saudaraku –semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada kami dan kalian untuk menggapai ridha-Nya dan  menjadikan kami dan kalian termasuk orang- orang yang takut kepada-Nya  dan bertakwa kepada-Nya- bahwa sesungguhnya daging para ulama itu  beracun, dan kebiasaan Allah ‘azza wajalla,  dalam  membongkar kedok orang- orang yang merendahkannya adalah hal yang telah  dimaklumi, dan barangsiapa yang melontarkan ucapannya dengan menjelekkan  para ulama, maka Allah ‘azza wajalla,  menghukumnya  sebelum dia mati dengan kematian hatinya, hendaknya berhati- hati orang-  orang yang menyelisihi perintahnya akan tertimpa fitnah atau tertimpa  azab yang pedih.”</em></p>
<p>Berkata Abdullah bin Mubarak rahimahullah:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>من استخف بالعلماء ذهبت آخرته ومن استخف بالأمراء ذهبت دنياه ومن استخف بالإخوان ذهبت مروءته</strong></h2>
<p><em>“Barangsiapa  yang merendahkan para ulama maka hilang akhiratnya, dan siapa yang  merendahkan penguasa maka hilang dunianya, dan siapa yang merendahkan  saudaranya maka hilang harga dirinya.”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berkata Ahmad bin Adzro’I rahimahullah:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>الوقيعة في أهل العلم لا سيما أكابرهم من كبائر الذنوب</strong></h2>
<p>“Mecela para ulama terkhusus yang senior dikalangan mereka termasuk dosa besar.”</p>
<p>Berkata Malik bin Dinar:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>كفى بالمرء شرا ألا يكون صالحا وهو يقع في الصالحين</strong></h2>
<p>“Cukuplah kejahatan bagi seseorang yang menunjukkan dia bukan orang saleh tatkala dia merendahkan orang- orang saleh.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz Sadhan –hafizhahullah- berkata:</p>
<p>“Berhati-hatilah  dari sifat lancang dengan lisan dan telunjuknya terhadap lembaran hidup  para ulama, dan berusaha memperburuk citra mereka atau menyebarkan  berbagai tuduhan atas mereka.Sebab hal itu akan membuka pintu kejahatan  yang lebar, yang dapat menyeretnya kepada kerusakan dan membuat  kerusakan baik secara hakiki maupun secara maknawi, bukan hanya menimpa  yang mengucapkannya saja, namun menyebabkan rusaknya seluruh  masyarakat.Untuk menjelaskan bahayanya perkara ini dikatakan bahwa:  sesungguhnya merendahkan para ulama dan meremehkan mereka, lebih besar  dosa dan kejahatannya dibanding merendahkan selain mereka. Sebab  merendahkan para ulama bukan hanya sekedar merendahkan pribadinya saja,  namun mengarah kepada sikap merendahkan apa yang mereka bawa berupa  ilmu, dan apa yang mereka miliki dari agama dan akhlaq.Oleh karenanya,  dikhawatirkan atas orang yang merendahkan para ulama akan ditimpa  hukuman yang disegerakan, disebabkan buruknya perbuatan dan  kejahatannya.”</p>
<p>(Manzilatul ulama,Syaikh As-Sadhan,hal:33)</p>
<p>Lalu beliau menyebutkan salah satu bentuk merendahkan para ulama:</p>
<p>“mengotori  lisannya dengan meng-ghibah mereka atau tidak membela kehormatan mereka  tatkala dighibahi, dan musibah yang terbesar adalah tatkala seseorang  merasa nikmat dengan merusak kehormatan mereka baik dengan ucapan,  pendengaran atau menunjukkan tanda menerima. Perbuatan ini menunjukkan  keburukan hati dan kejelekan maksud, bagaimana mungkin dia menghalalkan  dirinya untuk melakukan perbuatan yang kotor itu. Meng-ghibah seorang  muslim adalah haram berdasarkan nash al-Qur’an</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا</strong></h2>
<p>“Dan jangan sebagian kalian mengghibah sebagian lainnya.”</p>
<p><strong>(QS.Al-Hujurat:12)</strong></p>
<p>Sebab  seorang muslim yang tidak berilmu memiliki kemuliaan dengan sebab  islam, lalu bagaimana dengan seorang alim yang kedudukannya jauh lebih  mulia dibanding yang lain, dengan kemuliaan ilmunya dan besar  manfaatnya?.”</p>
<p><strong>(Manzilatul ulama:55)</strong></p>
<p>Namun  ternyata kebiasaan berdusta Firanda tidak juga berhenti, dan gelar yang  telah dilekatkan kepadanya tidak membuatnya jera dan bertaubat kepada  Allah ‘azza wajalla,  bahkan masih saja terus menyebarkan fitnah dan dusta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>(Bersambung insya Allah…. Dengan judul:</strong> <span style="color:#3366ff;"><strong>SIAPA YANG MEYEMBUNYIKAN FATWA?</strong></span>)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bicarasalafy.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bicarasalafy.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bicarasalafy.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bicarasalafy.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bicarasalafy.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bicarasalafy.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bicarasalafy.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bicarasalafy.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bicarasalafy.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bicarasalafy.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bicarasalafy.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bicarasalafy.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bicarasalafy.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bicarasalafy.wordpress.com/328/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=328&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/03/11/waduh-ternyata-menurut-salafywahabi-ustad-firanda-seorang-pendusta-bag-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/257bb80357a13f2016c61cc444aa4943?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bicarasalafy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bicarasalafy.files.wordpress.com/2011/03/dusta.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dusta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membantah Abu Jauza: Najd Bukan Iraq? : Bantahan Bagi Salafy</title>
		<link>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/01/13/membantah-abu-jauza-najd-bukan-iraq-bantahan-bagi-salafy/</link>
		<comments>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/01/13/membantah-abu-jauza-najd-bukan-iraq-bantahan-bagi-salafy/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Jan 2011 14:49:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bicarasalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Berdialog Dengan Bloger Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Bloger Bicara Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bicarasalafy.wordpress.com/?p=320</guid>
		<description><![CDATA[Najd Bukan Iraq? : Bantahan Bagi Salafy SUMBER: Analisis Pencari Kebenaran Artikel dibawah ini adalah bantahan balik  J. Algar atas tulisan Abu al Jauza &#8220;Najd Bukan ‘Iraq ?&#8221; yang membantah tulisan J. Algar Sebelumnya &#8220;Analisis Hadis Tanduk Setan : Najd Bukan Iraq&#8221; -Bicara Salafy- Oleh J Algar Ini merupakan kelanjutan dari tulisan kami sebelumnya yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=320&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#800000;"><strong>Najd Bukan Iraq? : Bantahan Bagi Salafy</strong></span></p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER: </span><a href="http://secondprince.wordpress.com/2010/10/19/najd-bukan-iraq-bantahan-bagi-salafy/" target="_blank"><span style="color:#0000ff;">Analisis Pencari Kebenaran</span></a></strong></p>
<blockquote><p><span style="color:#993300;"><em>Artikel dibawah ini adalah bantahan balik <strong><span style="color:#800000;"> J. Algar</span></strong> atas tulisan <strong>Abu al Jauza</strong> </em></span><a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/10/najd-bukan-iraq.html" target="_blank"><span style="color:#0000ff;"><em>&#8220;Najd Bukan ‘Iraq ?&#8221;</em></span></a><span style="color:#993300;"><em><a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/10/najd-bukan-iraq.html" target="_blank"> </a> yang membantah tulisan J. Algar Sebelumnya</em></span><span style="color:#0000ff;"><strong> </strong></span><a href="http://secondprince.wordpress.com/2010/10/05/analisis-hadis-tanduk-setan-najd-bukan-iraq/" target="_blank"><span style="color:#0000ff;"><em>&#8220;Analisis Hadis Tanduk Setan : Najd Bukan Iraq&#8221;</em></span></a> <strong><span style="color:#800000;"><em>-Bicara Salafy-</em></span></strong></p></blockquote>
<p><span style="color:#008000;"><strong> Oleh J Algar</strong></span></p>
<p>Ini merupakan kelanjutan dari tulisan  kami sebelumnya yang berjudul <a href="http://secondprince.wordpress.com/2010/10/05/analisis-hadis-tanduk-setan-najd-bukan-iraq/" target="_blank">Analisis Hadis Tanduk Setan : Najd Bukan  Iraq?.</a> Tulisan kami tersebut ternyata ditanggapi oleh <a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/10/najd-bukan-iraq.html" target="_blank">salah satu situs  salafy</a> dan kali ini kami berusaha meluruskan bantahannya yang berkesan  “tidak paham dengan tulisan orang lain”. Sudah sewajarnya sebelum  membantah tulisan orang lain kita hendaknya memahami betul-betul tulisan  yang ingin dibantah supaya tidak terjadi pengulangan-pengulangan yang  tidak perlu. kita akan lihat bersama tanggapan orang tersebut tetapi  sebelumnya kami akan memperjelas lagi hujjah atau dalil kalau tempat  yang dimaksud sebagai fitnah itu adalah Najd. Silakan perhatikan  hadis-hadis berikut <span id="more-320"></span></p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;">وحدثني حرملة بن يحيى أخبرنا ابن وهب أخبرني يونس عن ابن شهاب عن سالم بن عبدالله عن أبيه<br />
أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال وهو مستقبل المشرق ها إن الفتنة ههنا  ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepadaku Harmalah  bin Yahya yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb yang  berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Salim bin  ‘Abdullah dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  berkata dan <span style="color:#0000ff;">Beliau menghadap kearah timur</span> “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, dari <span style="color:#0000ff;">arah munculnya tanduk setan</span>” <strong>[Shahih Muslim 4/2228 no 2905]</strong></em></p>
<p><em><strong>.<br />
</strong></em></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله ثنا أبي ثنا أبو سعيد مولى  بنى هاشم ثنا عقبة بن أبي الصهباء ثنا سالم عن عبد الله بن عمر قال صلى  رسول الله صلى الله عليه و سلم الفجر ثم سلم فاستقبل مطلع الشمس فقال ألا  ان الفتنة ههنا ألا ان الفتنة ههنا حيث يطلع قرن الشيطان</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  ‘Abdullah yang menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah  menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla bani hasyim yang berkata telah  menceritakan kepada kami Uqbah bin Abi Shahba’ yang berkata telah  menceritakan kepada kami Salim dari ‘Abdullah bin Umar yang berkata  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat fajar  kemudian mengucapkan salam dan <span style="color:#0000ff;">menghadap kearah matahari terbit</span> seraya bersabda <span style="color:#0000ff;">“fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan”</span> <strong>[Musnad Ahmad 2/72 no 5410]</strong></em></p>
<p><em><strong>.<br />
</strong></em></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا وكيع عن  عكرمة بن عمار عن سالم عن ابن عمر قال خرج رسول الله صلى الله عليه و سلم  من بيت عائشة فقال رأس الكفر من ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان يعني المشرق</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami Abu  Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’  dari Ikrimah bin ‘Ammar dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata  “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari pintu rumah Aisyah  dan berkata “sumber kekafiran datang dari sini dari arah munculnya  tanduk setan yaitu timur<strong> [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]</strong></em></p>
<p><em><strong>.<br />
</strong></em></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا مسدد حدثنا يحيى عن إسماعيل قال  حدثني قيس عن عقبة بن عمرو أبي مسعود قال أشار رسول الله صلى الله عليه  وسلم بيده نحو اليمن، فقال الإيمان يمان هنا هنا، ألا إن القسوة وغلظ  القلوب في الفدادين، عند أصول أذناب الإبل، حيث يطلع قرنا الشيطان، في  ربيعة ومضر</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya dari Isma’il  yang berkata telah menceritakan kepadaku Qais bin Uqbah bin Amru Abi  Mas’ud yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  mengisyaratkan tangannya kearah Yaman dan berkata “Iman di Yaman disini  dan kekerasan hati adalah milik <span style="color:#0000ff;">orang-orang Faddadin</span> [arab badui yang bersuara keras] di belakang unta-unta mereka dari <span style="color:#0000ff;">arah munculnya tanduk setan</span> [dari] Rabi’ah dan Mudhar<strong> [Shahih Bukhari no 3126]</strong></em></p>
<p><em><strong>.<br />
</strong></em></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا يحيى بن يحيى قال قرأت على مالك عن  أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال  رأس الكفر نحو الشرق والفخر والخيلاء في أهل الخيل والإبل الفدادين أهل  الوبر والسكينة في أهل الغنم</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami Yahya  bin Yahya yang berkata qara’tu ala Malik dari Abi Zanad dari Al A’raj  dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda  “sumber kekafiran datang dari timur, kesombongan dan keangkuhan adalah  milik orang-orang pengembala kuda dan unta<span style="color:#0000ff;"> Al Faddaadin Ahlul Wabar</span> [arab badui] dan kelembutan ada pada pengembala kambing <strong>[Shahih Muslim 1/71 no 52]</strong></em></p>
<p><em><strong>.<br />
</strong></em></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبدالله بن عبدالرحمن أخبرنا أبو  اليمان عن شعيب عن الزهري حدثني سعيد بن المسيب أن أبا هريرة قال سمعت  النبي صلى الله عليه و سلم يقول جاء أهل اليمن هم أرق أفئدة وأضعف قلوبا  الإيمان يمان والحكمة يمانية السكينة في أهل الغنم والفخر والخيلاء في  الفدادين أهل الوبر قبل مطلع الشمس</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman yang berkata telah mengabarkan kepada kami  Abul Yaman dari Syu’aib dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan  kepadaku Sa’id bin Al Musayyab bahwa Abu Hurairah berkata aku mendengar  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Penduduk Yaman datang,  mereka bertingkah laku halus dan berhati lembut iman di Yaman, hikmah di  Yaman, kelembutan ada pada penggembala kambing sedangkan kesombongan  dan keangkuhan ada pada orang-orang <span style="color:#0000ff;">Faddadin Ahlul Wabar [arab badui] </span>di <span style="color:#0000ff;">arah terbitnya matahari</span><strong> [Shahih Muslim 1/71 no 52]</strong></em></p>
<p><em><strong>.<br />
</strong></em></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا موسى بن هارون ثنا عبد الله بن محمد  بوران نا الأسود بن عامر نا حماد بن سلمة عن يحيى بن سعيد عن سالم عن بن  عمر أن النبي صلى الله عليه و سلم استقبل مطلع الشمس فقال من ها هنا يطلع  قرن الشيطان وها هنا الفتن والزلازل والفدادون وغلظ القلوب</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami Musa  bin Harun yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin  Muhammad Fuuraan yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin  ‘Aamir yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah  dari Yahya bin Sa’id dari Salim dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu  ‘alaihi wasallam menghadap <span style="color:#0000ff;">ke arah matahari terbit </span>seraya  berkata “dari sini muncul tanduk setan, dari sini muncul fitnah dan  kegoncangan dan orang-orang yang bersuara keras dan berhati kasar <strong>[Mu’jam Al Awsath Thabrani 8/74 no 8003]</strong></em></p>
<p><em><strong>.<br />
</strong></em></p>
<p><strong>Hadis riwayat Thabrani di atas sanadnya shahih</strong>. <span style="color:#0000ff;">Musa bin Harun Abu ‘Imran</span> seorang imam yang tsiqat [Su’alat Al Hakim no 229]. <span style="color:#0000ff;">Abdullah bin Muhammad bin Muhaajir Fuuraan</span> adalah sahabat Ahmad bin Hanbal seorang yang tsiqat ma’mun [Takmilat Al Ikmal Muhammad bin Abdul Ghaniy no 4757]. <span style="color:#0000ff;">Aswad bin ‘Aamir</span> seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/102]. <span style="color:#0000ff;">Hammad bin Salamah</span> seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/238]. <span style="color:#0000ff;">Yahya bin Sa’id Al Anshari</span> seorang yang tsiqat tsabit [At Taqrib 2/303]</p>
<p>Hadis-hadis di atas menyebutkan kalau tempat munculnya fitnah tersebut adalah <em>timur </em>Madinah dan arah timur yang dimaksud adalah <span style="color:#0000ff;"><em>arah matahari terbit </em></span>dari Madinah. Dengan fakta ini saja maka diketahui bahwa Najd merupakan tempat yang lebih sesuai daripada Iraq karena <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>Najd terletak di arah timur matahari terbit dari Madinah</em></span> sedangkan <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>Iraq tidak terletak di arah matahari terbit dari Madinah</em>.</span> Dari hadis-hadis di atas juga diketahui kalau tempat yang dimaksud  tertuju pada kediaman orang-orang arab badui Rabi’ah dan Mudhar. Telah  ma’ruf bahwa pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Najd merupakan  kediaman orang-orang arab badui [ahlul wabar] Rabi’ah dan Mudhar  bukannya Iraq, Jadi semua hadis-hadis di atas menyiratkan kalau tempat  fitnah yang dimaksud adalah Najd. Oleh karena itu jika menerapkan metode  tarjih maka hadis Najd lebih didahulukan daripada hadis Iraq.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis Ubadillah bin ‘Abdullah bin ‘Aun </strong></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا الحسن بن علي المعمري ثنا إسماعيل بن  مسعود ثنا عبيد الله بن عبد الله بن عون عن أبيه عن نافع عن ابن عمر أن  النبي صلى الله عليه وسلم قال اللهم بارك لنا في شامنا، اللهم بارك في  يمننا، فقالها مراراً، فلما كان في الثالثة أو الرابعة، قالوا يا رسول  الله! وفي عراقنا؟ قال إنّ بها الزلازل والفتن، وبها يطلع قرن الشيطان</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami Hasan  bin Ali Al-Ma’mariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismaail  bin Mas’ud yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin  ‘Abdillah bin ‘Aun dari ayahnya, dari Naafi’ dari Ibnu ‘Umar bahwa Nabi  shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah, berikanlah keberkatan  kepada kami pada Syaam kami dan pada Yamaan kami”. Beliau [shallallaahu  ‘alaihi wasallam] mengatakannya beberapa kali. Ketika beliau mengatakan  yang ketiga kali atau yang keempat, para shahabat berkata “Wahai  Rasulullah, dan juga Iraq kami?”. Beliau bersabda  “Sesungguhnya di sana  terdapat kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk  setan”<strong> [Mu’jam Al Kabiir Ath Thabrani 12/384 no 13422].</strong></em></p>
<p>Kami sebelumnya mengatakan <strong>hadis ini tidak shahih </strong>karena  Ubaidillah telah menyelisihi dua orang perawi tsiqat yaitu Azhar bin  Sa’d dan Husain bin Hasan dimana keduanya menyebutkan lafaz Najd bukan  lafaz Iraq. Orang tersebut membantah dengan berkata</p>
<blockquote><p><em>Saya katakan : Nampaknya orang ini  sedang berandai-andai dengan pemikirannya. Yang dikatakan ta’arudl  (dalam matan) dalam ilmu hadits adalah jika bertentangan dalam makna dan  tidak bisa untuk dijamak. Pengandai-andaiannya bahwa lafadh Najd dan  ‘Iraq adalah bertentangan (ta’arudl) adlah sesuai dengan definisi dan  keinginannya. Bukan sesuai dengan ilmu ushul hadits dan ushul-fiqh yang  ma’ruf. Telah saya tulis sebelumnya bahwa lafadh Najd dan ‘Iraq tidak  bertentangan dan bisa dijamak. Sesuai dengan lisan dan pemahaman orang  ‘Arab. Telah saya sebutkan perkataan Al-Khaththaabiy dan Al-Kirmaaniy  bagaimana makna kata ‘Najd’ bagi orang ‘Arab (bukan menurut orang  tersebut).</em></p></blockquote>
<p>Sungguh orang ini patut dikasihani,  bagaimana mungkin ia bisa tidak mengerti panjang lebar hujjah kami dalam  masalah ini. Lafaz Najd dan Iraq bertentangan karena <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>keduanya adalah nama negeri yang berbeda</em></span></span>.  Seandainya pun kedua lafaz itu mau dijamak maka itu berarti kedua  tempat tersebut adalah tempat munculnya fitnah. Bukan seperti logika  aneh salafy yang mengatakan kalau <em>Najd adalah Iraq</em>. Perhatikan baik-baik hadis berikut</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;">حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى  قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ  عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي  شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ  اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا  وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا  يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami  Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun  dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi  wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam  kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga <span style="color:#0000ff;">Najd kami?</span>”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah muncul tanduk setan” <strong>[Shahih Bukhari 2/33 no 1037]</strong></em></p>
<p><em><strong>.<br />
</strong></em></p>
<p>Zahir hadis di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan <em>Syam</em> dan <em>Yaman</em>,  keduanya adalah nama Negri yang sudah ada di zaman Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian para sahabat bertanya bagaimana  dengan <em>“Najd kami”.</em> Tentu saja secara zahir maksud Najd disini  adalah nama suatu Negeri seperti halnya Syam dan Yaman. Dan telah kami  sebutkan bahwa di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah  masyhur Negeri yang bernama Najd dan negri itu berbeda dengan Iraq  seperti dalam hadis berikut</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا محمد بن عبد الله بن عمار الموصلي  قال حدثنا أبو هاشم محمد بن علي عن المعافى عن أفلح بن حميد عن القاسم عن  عائشة قالت وقَّت رسول الله صلى الله عليه وسلم لأهل المدينة ذا الحُليفة  ولأهل الشام ومصر الجحفة ولأهل العراق ذات عرق ولأهل نجد قرناً ولأهل اليمن  يلملم</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Ammar Al Maushulli yang berkata telah  menceritakan kepada kami Abu Haasyim Muhammad bin ‘Ali dari Al Mu’afiy  dari Aflah bin Humaid dari Qasim dari Aisyah yang berkata Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di  Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam dan Mesir di Juhfah, bagi <span style="color:#0000ff;">penduduk Iraq</span> di Dzatu ‘Irq, bagi <span style="color:#0000ff;">penduduk Najd</span> di Qarn dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam <strong>[Shahih Sunan Nasa’i no 2656]</strong></em></p>
<p><em><strong>.<br />
</strong></em></p>
<h2 style="text-align:right;">أخبرنا قتيبة حدثنا الليث عن سعيد بن أبي  سعيد أنه سمع أبا هريرة يقول بعث رسول الله صلى الله عليه وسلم خيلا قبل  نجد فجاءت برجل من بني حنيفة يقال له ثمامة بن آثال سيد أهل اليمامة فربط  بسارية من سواري المسجد مختصر</h2>
<p><em>Telah mengabarkan kepada kami  Qutaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Laits dari Sa’id  bin Abi Sa’id yang mendengar Abu Hurairah berkata Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wasallam mengutus pasukan berkuda ke<span style="color:#0000ff;"> Najd</span> kemudian pasukan ini datang dengan membawa seorang laki-laki dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal pemimpin <span style="color:#0000ff;">penduduk Yamamah </span>kemudian diikat di salang satu tiang masjid, demikian secara ringkas. <strong>[Shahih Sunan Nasa’i Syaikh Al Albani no 712]</strong></em></p>
<p><em><strong>.<br />
</strong></em></p>
<p>Hadis di atas bahkan menyebutkan kalau Najd yang dimaksud termasuk <em>Yamamah </em>yang  pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terletak tepat disebelah  timur Madinah dan yang sekarang telah menjadi daerah Riyadh dan  sekitarnya. Justru <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>membedakan Najd dan Iraq telah sesuai dengan lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam</em><em> </em></span>dan  pemahaman para sahabat bahwa Najd dan Iraq memang kedua tempat yang  berbeda pada masa itu. Jadi tidak ada gunanya perkataan ulama yang  dicatut oleh orang salafy itu.</p>
<p>Kembali ke hadis riwayat Thabrani di  atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan Syam dan Yaman,  kemudian para sahabat bertanya bagaimana dengan “Iraq kami”. Anehnya  salafy langsung bisa paham kalau Iraq yang dimaksud disini adalah nama  suatu negeri tapi kalau di hadis Najd salafy jadi pura-pura tidak paham.  Salafy itu mengutip perkataan Ibnu Mandzur</p>
<h2 style="text-align:right;">وما ارتفع عن تِهامة إِلى أَرض العراق، فهو نجد</h2>
<p><em>“Semua <span style="color:#0000ff;">tanah yang tinggi</span> dari <span style="color:#0000ff;">Tihaamah</span> sampai tanah ‘Iraaq, maka itu Najd” [lihat dalam Lisaanul-‘Arab].</em></p>
<p>Bagi kami tidak ada masalah dengan  istilah itu. Najd yang ada pada hadis tanduk setan adalah nama suatu  negeri yang memang sudah masyhur dikenal sahabat sebagaimana halnya  negeri Syam dan Yaman. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para  sahabat telah membedakan Najd dan Iraq jadi tidak ada gunanya perkataan  Ibnu Mandzur disini. Apalagi kalau diperhatikan ternyata ulama lain  justru mengatakan hal yang lebih aneh yaitu Al Khaththabi [sebagaimana  yang ditulis sendiri oleh salafy itu]. Ia berkata</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;">نجد: ناحية المشرق، ومن كان بالمدينة كان  نجده بادية العراق ونواحيها، وهي مشرق أهلها، وأصل النجد: ما ارتفع من  الأرض، والغور: ما انخفض منها، وتهامة كلها من الغور، ومنها مكة، والفتنة  تبدو من المشرق، ومن ناحيتها يخرج يأجوج ومأجوج والدجال، في أكثر ما يروى  من الأخبار</h2>
<p><em><span style="color:#0000ff;">“Najd adalah arah timur</span>.  Dan bagi Madinah, najd-nya gurun ‘Iraaq dan sekelilingnya. Itulah arah  timur bagi penduduk Madinah. Asal makna dari najd adalah : setiap tanah  yang tinggi; sedangkan ghaur adalah setiap tanah yang rendah. <span style="color:#0000ff;">Seluruh wilayah Tihaamah adalah ghaur</span>,  termasuk juga Makkah. Fitnah muncul dari arah timur; dan dari arah itu  pula akan keluar Ya’juuj, Ma’juuj, dan Dajjaal sebagaimana terdapat  dalam kebanyakan riwayat” [I’laamus-Sunan, 2/1274].</em></p>
<p>Anehnya Al Khattabi mengatakan kalau <em>Najd adalah arah timur</em> dan menurut Al Khaththabi <em>timurnya madinah adalah Iraq</em> maka Najd-nya madinah adalah Iraq. Pertanyaannya sejak kapan Najd yang  secara etimologi [asal kata] bermakna tanah yang tinggi berubah maknanya  menjadi <em>“arah timur”</em>?. Kemudian apa gunanya perkataan Ibnu Mandzur <em>“semua tanah yang tinggi dari Tihamah sampai Iraq maka itu Najd”</em> padahal Al Khaththabi mengatakan<em> seluruh wilayah Tihamah adalah ghaur</em>. Salafy itu hanya bisa bertaklid tetapi tidak bisa memahami perkataan ulama yang ia kutip.</p>
<p>Pada dasarnya setiap kata memiliki makna  secara etimologi tetapi selain itu ternyata ada beberapa kata yang  dalam perkembangannya berubah secara historis. Seperti halnya kata Najd  secara etimologi memang bermakna tanah yang tinggi, tetapi secara  historis maksud Najd yang ada dalam hadis Tanduk setan adalah nama suatu  negri yang masyhur saat itu yaitu Najd di sebelah timur Madinah oleh  karena itu para sahabat menisbatkannya dengan kata <em>“Najd kami”</em>.  Negri ini dinamakan Najd karena memang tempat tersebut adalah dataran  tinggi. Tidak hanya Najd, kata Iraq pun secara etimologi bermakna <em>“daerah tepian”</em> atau <em>“daerah yang terletak diantara sungai sungai”</em> dan secara historis Iraq dikenal sebagai nama suatu negri karena memang  negri tersebut terletak diantara sungai sungai sehingga dinamakan Iraq.  Pada hadis tanduk setan, kata Najd dan Iraq yang dinisbatkan dengan  kata <em>“kami” </em>adalah nama suatu Negri bukan makna kata secara etimologi.</p>
<blockquote><p><em>Adapun ‘Ubaidullah sendiri, maka  Al-Bukhaariy berkata : “Ma’ruuful-hadiits” [At-Taariikh Al-Kabiir, 5/388  no. 1247]. Abu Haatim berkata :  “Shaalihul-hadiits” [Al-Jarh  wat-Ta’diil, 5/322 no. 1531].</em></p></blockquote>
<p>Kita telah buktikan kalau <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>Najd dan Iraq yang ada di hadis Ibnu Umar adalah dua negri yang berbeda</em></span> sehingga penjamakan yang dilakukan oleh salafy itu terlalu memaksa.  Kesannya justru malah mendistorsi makna hadis tersebut. Yang  meriwayatkan dari  Ibnu ‘Aun dari Nafi’ ada tiga orang yaitu Husain bin  Hasan, Azhar bin Sa’d dan Ubaidillah. Husain dan Azhar menyebutkan kalau  tempat yang dimaksud adalah Najd sedangkan Ubaidillah menyebutkan Iraq.  Ubaidillah telah menyelisihi dua orang perawi tsiqat yang meriwayatkan  dari Nafi’ sedangkan kedudukannya sendiri paling tinggi hanya dikatakan <em>“shalihul hadits”</em>.  Perawi seperti ini jika bertentangan dengan perawi yang lebih tsiqat  maka hadisnya tidak bisa diterima. Kaidah ini sesuai dengan yang berlaku  dalam ilmu hadis.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis Ziyaad bin Bayaan</strong></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا علي بن سعيد قال نا حماد بن إسماعيل  بن علية قال نا ابي قال نا زياد بن بيان قال نا سالم بن عبد الله بن عمر عن  ابيه قال صلى النبي صلى الله عليه و سلم صلاة الفجر ثم انفتل فأقبل على   القوم فقال اللهم بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مدنا وصاعنا اللهم بارك  لنا في شامنا ويمننا فقال رجل والعراق يا رسول الله فسكت ثم قال اللهم  بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مدنا وصاعنا اللهم بارك لنا في حرمنا  وبارك لنا في شامنا ويمننا فقال رجل والعراق يا رسول الله قال من ثم يطلع  قرن الشيطان وتهيج الفتن</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami ‘Ali  bin Sa’id yang berkata telah menceritkankepada kami Hammaad bin  Ismaa’iil bin ‘Ulayyah yang berkata telah menceritakan kepada kami  ayahku yang berkata telah mencertakan kepada kami Ziyaad bin Bayaan  yangberkata telah menceritakan kepada kami Saalim bin ‘Abdillah bin  ‘Umar dari ayahnya yang berkata Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam  pernah shalat shubuh, kemudian berdoa, lalu menghadap kepada  orang-orang. Beliau bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami  pada Madinah kami berikanlah keberkatan kepada kami pada mudd dan shaa’  kami. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan  Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata “dan ‘Iraq, wahai Rasulullah ?”.  Beliau diam, lalu bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami  pada Madinah kami berikanlah keberkatan kepada kami pada mudd dan shaa’  kami. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada tanah Haram kami,  dan berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”.  Seorang laki-laki berkata “dan ‘Iraq, wahai Rasulullah ?”. Beliau  bersabda “dari sana akan muncul tanduk setan dan bermunculan fitnah” <strong>[Mu'jam Al Awsath Ath Thabraani 4/245 no 4098]. </strong></em></p>
<p><em><strong>.<br />
</strong></em></p>
<p>Pada tulisan sebelumnya kami menyatakan bahwa<strong> hadis ini tidak shahih</strong> karena mengandung illat [cacat] pada <span style="color:#0000ff;">Ziyaad bin Bayaan.</span> Ziyaad bin Bayaan dikatakan oleh Adz Dzahabi <em>“tidak shahih hadisnya”</em>. Bukhari berkata <em>“dalam sanad hadisnya perlu diteliti kembali”</em> [Al Mizan juz 2 no 2927] ia telah dimasukkan Adz Dzahabi dalam kitabnya  Mughni Ad Dhu’afa no 2222 Al Uqaili juga memasukkannya ke dalam Adh  Dhu’afa Al Kabir 2/75-76 no 522. <a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/10/najd-bukan-iraq.html" target="_blank">Salafy itu menanggapi dengan berkata</a></p>
<blockquote><p><em>Saya katakan : Ia hanya menyebutkan  jarh-nya saja. Padahal kedudukan yang benar atas diri Ziyaad bin Bayaan  adalah shaduuq lagi ‘aabid [Taqriibut-Tahdziib, hal. 343 no. 2068].  An-Nasaa’iy berkata : “Tidak mengapa dengannya (laisa bihi ba’s)”. Ibnu  Hibbaan memasukkanya dalam Ats-Tsiqaat, dan berkata : “Ia seorang syaikh  yang shaalih”. Tautsiq Ibnu Hibbaan jika dijelaskan seperti ini adalah  diterima, sebagaimana penjelasan Al-Mu’allimiy Al-Yamaaniy dalam  At-Tankiil.</em></p></blockquote>
<p>Mengenai perkataan Nasa’i maka begitulah  yang dinukil Ibnu Hajar dalam At Tahdzib tetapi mengenai perkataan Ibnu  Hibban maka ini patut diberikan catatan. Ibnu Hibban tidak hanya  menta’dil Ziyaad bin Bayaan, Ibnu Hibban juga memasukkan nama Ziyaad bin  Bayaan dalam kitabnya <em>Adh Dhu’afa</em> yang memuat nama perawi dhaif menurutnya. Ibnu Hibban berkata “<em>Ziyaad bin Bayaan mendengar dari Ali bin Nufail, dalam sanad hadisnya perlu diteliti kembali (fii isnad nazhar)</em>” [Al Majruhin no 365].</p>
<blockquote><p><em>Ibnu ‘Adiy memasukkan dalam  Al-Kaamil karena mengambl pertimbangan perkataan Al-Bukhaariy. Dan sebab  pendla’ifan Al-Bukhaariy pun dijelaskan, yaitu dengan sebab hadits  Al-Mahdiy. Al-Bukhaariy berkata : “Fii isnadihi nadhar”. Jarh ini kurang  shariih.</em></p></blockquote>
<p>Perkataan salafy kalau jarh ini kurang  sharih hanyalah andai-andai dirinya yang memang tidak bisa memahami  dengan baik. Justru jarh Bukhari telah dijelaskan bahwa dalam sanad  hadis Ziyaad bin Bayaan perlu diteliti kembali [fii isnadihi nazhar]. <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>Ziyaad bin Bayaan terbukti meriwayatkan hadis mungkar </em></span>dan  kemungkarannya terletak pada sanad hadis tersebut. Hadis yang dimaksud  adalah hadis Al Mahdi dimana Ziyad bin Bayaan membawakan dengan sanad  dari Ali bin Nufail dari Ibnu Musayyab dari Ummu Salamah secara marfu’.  Hadis ini yang diingkari oleh Bukhari dan pengingkaran tersebut terletak  pada sanadnya. Ibnu Ady dalam Al Kamil dengan jelas mengatakan kalau  Bukhari mengingkari hadis Ziyad bin Bayaan ini.</p>
<p>Al Uqaili sependapat dengan pengingkaran  Bukhari dan menunjukkan kalau yang tsabit hadis dengan lafaz seperti  itu adalah perkataan Sa’id bin Al Musayyab bukan hadis Nabi shallallahu  ‘alaihi wasallam [Adh Dhu’afa Al Uqaili 2/75 no 522]. Ibnu Jauzi dalam  Al Ilal Al Mutanahiyah juga menegaskan bahwa hadis dengan lafaz seperti  itu adalah perkataan Ibnu Musayyab bukan hadis Nabi dan disini Ziyaad  bin Bayaan yang merafa’kan atau menyambungkan hadis tersebut kepada Nabi  shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi kesimpulannya Ziyaad bin Bayaan  tertuduh meriwayatkan hadis mungkar dan pengingkaran Bukhari terhadap  hadisnya justru menunjukkan kalau disisi Bukhari Ziyaad bin Bayaan  adalah seorang yang dhaif. Perkataan Bukhari ini adalah perkataan yang  tsabit bersumber darinya dan kedudukan dirinya lebih dijadikan pegangan  daripada penta’dilan Nasa’i. Apalagi telah ma’ruf dalam ilmu hadis bahwa  jarh yang mufassar lebih didahulukan dari ta’dil.</p>
<blockquote><p><em>Ibnu ‘Adiy pun menyebutkan  pentautsiqan Abul-Maliih (Al-Hasan bin ‘Umar – seorang yang tsiqah) pada  Ziyaad bin Bayaan saat menyebutkan sanad hadits Al-Mahdiy; Abul-Maliih  berkata : “Telah menceritakan kepada kami seorang yang tsiqah”. Ibnu  ‘Adiy menjelaskan : “Telah menceritakan kepada kami sorang yang tsiqah,  maksudnya adalah Ziyaad bin Bayaan”. Kemudian Ibnu ‘Adiy menyebutkan  sanad yang lain yang menjelaskan hal tersebut [Al-Kaamil, 4/144-145 no.  697].</em></p></blockquote>
<p>Perkataan salafy ini sangat patut diberikan catatan, entah ia pura-pura tidak tahu atau memang tidak tahu bahwa <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>tautsiq Abul Maliih ini tidaklah tsabit</em></span>.</span> Ibnu Ady membawakan dengan sanad telah menceritakan kepada kami<span style="color:#0000ff;"> Ahmad bin Abdurrahman bin Yazid bin ‘Aqaal Al Harrani</span> yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far An Nufaili yang  berkata telah menceritakan kepada kami Abul Maliih yang berkata telah  menceritakan kepada kami seorang yang tsiqah [Al Kamil 3/196. Hadis ini  tidak tsabit karena Ahmad bin Abdurrahman Al Harrani adalah seorang yang  dhaif. Adz Dzahabi memasukkannya kedalam perawi dhaif seraya mengutip  jarh Abu Arubah [Al Mughni 1/46 no 346]. Ibnu Jauzi memasukkannya dalam  Adh Dhu’afa [Adh Dhu’afa Ibnu Jauzi no 200]. Al Haitsami berkata <em>“riwayat Thabrani dalam Al Ausath dari syaikh-nya Ahmad bin ‘Abdurrahman bin ‘Aqaal dan dia dhaif”</em> [Majma’ Az Zawaid 5/65 no 8057]. Jadi tautsiq Abul Maliih disini  tidaklah benar. Apalagi penetapan kalau orang yang dimaksud Ziyaad bin  Bayaan tidak nampak dalam sanad tersebut melainkan dugaan Ibnu Adiy.</p>
<blockquote><p><em>Hal yang sama pada Al-‘Uqailiy,  dimana ia memasukkan dalam Adl-Dlu’afaa dengan pijakan perkataan  Al-Bukhaariy di atas [2/430-431 no. 523]. Adz-Dzahabiy pun demikian,  yaitu menyandarkan ketidakshahihan haditsnya pada hadits Al-Mahdiy. Akan  tetapi ia memberikan penghukuman akhir terhadap Ziyaad : “Shaduuq”  [Al-Kaasyif, 2/408 no. 1671].</em></p></blockquote>
<p>Al Uqaili dalam hal ini sepakat dengan  Al Bukhari dan disini ia telah menjelaskan kalau hadis Ziyaad bin Bayaan  adalah mungkar dan yang benar hadis tersebut adalah perkataan Ibnu  Musayyab. Mengenai perkataan Adz Dzahabi walaupun ia menyatakan Ziyaad  bin Bayaan shaduq ia sendiri telah menyebutkan dalam <em>Al Mizan</em> dan <em>Al Mughni</em> kalau <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>Ziyaad bin Bayaan tidak shahih hadisnya</em></span> dan penulisannya dalam dua kitab tersebut menunjukkan kalau Adz Dzahabi  lebih cenderung dengan pendapat yang menjarh Ziyaad bin Bayaan.</p>
<blockquote><p><em>Oleh karenanya, pentautsiqan  An-Nasaa’iy, Ibnu Hibbaan, dan Abul-Maliih lebih kuat dari perkataan  yang mendla’ifkannya. Kaidah mengatakan : Ta’diil lebih didahulukan  daripada jarh yang mubham.</em></p></blockquote>
<p>Pentautsiqan Nasa’i adalah penukilan  sedangkan jarh Bukhari terhadap Ziyaad bin Bayaan berasal dari kitab  Bukhari sendiri. Pentautsiqan Ibnu Hibban juga bertentangan dimana ia  sendiri memasukkan Ziyaad bin Bayaan dalam kitabnya Adh Dhu’afa  sedangkan pentautsiqan Abul Maliih tidak tsabit. Tidak benar kalau jarh  terhadap Ziyaad dikatakan mubham justru jarh terhadapnya mufassar yaitu  dimana ia telah meriwayatkan hadis dengan sanad yang mungkar dan ini  telah terbukti dari riwayat-riwayat yang disebutkan oleh para ulama  seperti Al Bukhari, Al Uqaili dan Ibnu Jauzi. Mengenai pernyataan Ibnu  Hajar dalam At Taqrib kalau Ziyaad bin Bayaan seorang yang shaduq, itu  telah dikritik dalam Tahrir Taqrib At Tahdzib bahwa kedudukan sebenarnya  Ziyaad bin Bayaan adalah <em>“dhaif ya’tabaru bihi”</em> [Tahrir At Taqrib no 2057].</p>
<p>Kedudukan hadis yang diriwayatkan perawi  seperti Ziyaad bin Bayaan jika bertentangan dengan hadis shahih maka  hadisnya mesti ditolak. Hadis tanduk setan yang sanadnya shahih adalah  hadis dengan lafaz Najd sedangkan hadis dengan lafaz Iraq matannya  mungkar. Sebagaimana telah kami tunjukkan bahwa di hadis shahih Najd  merupakan tempat timbulnya fitnah.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis ‘Abdullah bin Syawdzab</strong></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا محمد بن عبد العزيز الرملي حدثنا ضمرة بن ربيعة عن <span style="color:#0000ff;">ابن شوذب عن توبة العنبري</span> عن سالم عن ابن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اللهم بارك لنا  في مدينتنا وفي صاعنا، وفي مدِّنا وفي يمننا وفي شامنا. فقال الرجل يا رسول  الله وفي عراقنا ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم بها الزلازل والفتن،  ومنها يطلع قرن الشيطان</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  Muhammad bin ‘Abdul Aziiz Ar Ramliy yang berkata telah menceritakan  kepada kami Dhamrah bin Rabi’ah dari<span style="color:#0000ff;"> Ibnu Syaudzab dari Taubah Al Anbariy </span>dari Salim dari Ibnu ‘Umar yang berkata Rasulullah shallallaahu ‘alaihi  wa sallam bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada  Madinah kami, pada shaa’ kami, pada mudd kami, pada Yaman kami, dan pada  Syaam kami”. Seorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, dan pada  ‘Iraaq kami ?”. Beliau menjawab “di sana terdapat kegoncangan dan fitnah  dan di sana pula akan muncul tanduk setan” <strong>[ Ma’rifah Wal Tarikh Yaqub Al Fasawiy 2/746-747]</strong></em></p>
<p><em><strong>.<br />
</strong></em></p>
<p>Mengenai hadis ini kami katakan <em>Ibnu Syawdzab melakukan tadlis</em>,  ia tidak mendengar hadis ini dari Taubah Al ‘Anbari. Terdapat hadis  yang menyebutkan kalau ia mendengar hadis tersebut melalui perantara.</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله بن العباس بن الوليد بن مزيد البيروتي حدثني أبي أخبرني أبي حدثني <span style="color:#0000ff;">عبد الله بن شوذب حدثني عبد الله بن القاسم ومطر الوراق وكثير أبو سهل عن توبة العنبري</span> عن سالم بن عبد الله بن عمر عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال  اللهم بارك في مكتنا وبارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في شامنا وبارك لنا  في يمننا اللهم بارك لنا في صاعنا وبارك لنا في مدنا فقال رجل يا رسول الله  وعراقنا فأعرض عنه فرددها ثلاثا وكان ذلك الرجل يقول وعراقنا فيعرض عنه ثم  قال بها الزلازل والفتن وفيها يطلع قرن الشيطان</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  Abdullah bin ‘Abbas bin Walid bin Mazyad Al Bayruutiy yang berkata telah  menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepadaku <span style="color:#0000ff;">Abdullah  bin Syawdzab yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin  Qasim, Mathr Al Waraaq dan Katsir Abu Sahl dari Taubah Al Anbariy</span> dari Salim bin Abdullah bin Umar dari ayahnya bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan  kepada Mekkah kami, dan berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah  kami, pada shaa’ kami, pada mudd kami, pada Yaman kami, dan pada Syaam  kami”. Seorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, dan pada ‘Iraaq kami  ?”. Beliau menjawab “di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di  sana pula akan muncul tanduk setan” <strong>[Musnad Asy Syamiyyin Thabrani 2/246 no 1276]</strong></em></p>
<p><em><strong>.<br />
</strong></em></p>
<p>Pada riwayat pertama <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>Ibnu Syawdzab membawakan hadis dengan lafaz ‘an ‘anah dari Taubah Al ‘Anbari</em></span> kemudian pada riwayat kedua<span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em> Ibnu Syawdzab membawakan hadis dengan lafaz telah menceritakan padanya  Abdullah bin Qasim, Mathr Al Waraaq dan Katsir Abu Sahl dari Taubah</em></span>.  Sanad ini menjadi bukti bahwa pada riwayat pertama Ibnu Syawdzab  melakukan tadlis. Riwayat ‘an ‘an ah-nya dari Taubah ia dengar dari para  syaikh-nya.</p>
<p>Illat [cacat] riwayat Ibnu Syawdzab disini adalah <span style="color:#0000ff;">ia  menggabungkan hadis dari ketiga syaikh-nya yaitu Abdullah bin Qasim,  Mathr Al Waraaq dan Katsir Abu Sahl dalam satu lafaz matan hadis</span>.  Tetapi tidak disebutkan lafaz matan hadis yang ia sebutkan itu adalah  milik siapa. Apakah ketiga syaikh-nya menyebutkan dengan matan yang sama  yang mengandung lafaz Iraq atau hanya salah satu saja dari syaikh-nya  yang menyebutkan lafaz Iraq. Jika kemungkinan yang kedua maka itu  berarti Ibnu Syawdzab menggabungkan sanad hadis ketiga syaikh-nya dengan  menyebutkan matan yang mengandung lafaz Iraq. Kemungkinan ini cukup  beralasan mengingat Ibnu Syawdzab sendiri terbukti melakukan tadlis dari  hadis ini. Jika semua syaikh-nya itu tsiqat tsabit maka tidak ada  masalah dengan kemungkinan ini tetapi ternyata diantara syaikh-nya  terdapat perawi yang banyak melakukan kesalahan dalam hadis yaitu Mathr Al Waraaq  jadi terdapat kemungkinan kalau lafaz Iraq itu berasal dari kesalahan<span style="color:#0000ff;"> Mathr Al Waraaq</span>. Mengapa dikatakan kesalahan karena telah disebutkan di  awal pembahasan di atas kalau tempat yang dimaksud adalah Najd bukannya  Iraq. Jadi kemungkinan kalau perawi disini melakukan kesalahan dengan  menyebutkan lafaz Najd menjadi illat [cacat] hadis tersebut. Salafy itu  mengatakan</p>
<blockquote><p><em>Pertama, menyandarkan keterputusan  Ibnu Syaudzab dengan Taubah hanya karena Ibnu Syaudzab juga meriwayatkan  melalui perantaraan ‘Abdullah bin Al-Qaasim, Mathr, dan Katsiir bin  Sahl; dari Taubah, bukan sebab yang kuat. Alasannya, telah ma’ruf bahwa  salah satu guru/syaikh dari Ibnu Syaudzab adalah Taubah Al-‘Anbariy  [lihat : Tahdziibul-Kamaal, 15/94]. Jadi bukan satu hal yang mustahil ia  meriwayatkan dari Taubah, dan bersamaan dengan itu ia juga meriwayatkan  melalui perantaraan orang lain. Semuanya dihukumi bersambung.</em></p></blockquote>
<p>Alasan yang dikemukan salafy kalau  Taubah ma’ruf dikenal sebagai syaikh-nya Ibnu Syawdzab patut diberikan  catatan. Dalam Tahdzib Al Kamal juga disebutkan kalau salah satu Syaikh  Ibnu Syawdzab adalah Hasan Al Bashri [Tahdzib Al Kamal 15/94] dan Abu  Hatim mengatakan kalau <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>Ibnu Syawdzab tidak melihat Hasan dan tidak mendengar dari-nya</em></span> [Al Marasil Ibnu Abi Hatim 1/116 no 94]. Bagaimana mau dikatakan  syaikh-nya kalau tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar  darinya?. Jadi mengatakan Taubah ma’ruf sebagai syaikh Ibnu Syawdzab  berdasarkan penyebutan dalam Tahdzib Al Kamal bukan hujjah yang kuat.  Sejauh yang kami tahu, tidak ada hadis Ibnu Syawdzab dari Taubah Al  ‘Anbari kecuali dari hadis ini dan di hadis ini ia terbukti melakukan  tadlis.</p>
<blockquote><p><em>Misalnya, Hafsh bin Ghiyaats  meriwayatkan hadits puasa Syawal melalui jalan Sa’d bin Sa’iid bin Qais  [Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykilil-Aatsaar 6/123 no.  2345 dan Ath-Thabaraaniy 4/136 no. 3912]. Namun, di lain kesempatan ia  juga meiwayatkan melalui perantaraan Yahyaa bin Sa’iid bin Qais.  Keduanya adalah riwayat bersambung. Hafsh bin Ghiyaats sendiri berkata :  “Kemudian aku bertemu dengan Sa’d bin Sa’iid, lalu ia menceritakan  kepadaku (hadits ini)” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy 4/136 no.  3912].</em></p></blockquote>
<p>Dalam contoh yang disebutkan salafy itu jelas-jelas Hafsh bin Ghiyaats mengatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>“kemudian aku bertemu Sa’d bin Sa’id lalu ia menceritakan kepadaku”</em></span>.  Kalau sudah seperti ini ya mana mungkin mau dikatakan tadlis berbeda  dengan contoh yang ia sebutkan tidak ada pengakuan dari Ibnu Syawdzab  kalau ia bertemu dengan Taubah atau tidak ada Ibnu Syawdzab menyebutkan  dengan lafaz sima’ langsung dari Taubah. Riwayat Ibnu Syawdzab dari  Taubah adalah riwayat ‘an anah dan riwayat Ibnu Syawdzab dari ketiga  syaikhnya dari Taubah itu dengan lafaz sima’ langsung. Jadi dalam hadis  tanduk setan dengan lafaz Iraq, Ibnu Syawdzab terbukti melakukan tadlis.  Kasus seperti ini termasuk salah satu cara ulama untuk menetapkan  seseorang itu melakukan tadlis atau tidak.</p>
<blockquote><p><em>Kedua, taruhlah kita terima bahwa  riwayat Al-Fasawiy di atas munqathi’; maka sejak kapan meriwayatkan  hadits secara munqathi’ seperti ini langsung di-ta’yin melakukan tadlis ?  Jelas beda antara irsal dan tadlis. Pensifatan tadlis itu hanya  diterima jika ada perkataan para ulama yang menjelaskan bahwa ia orang  yang melakukan tadlis.</em></p></blockquote>
<p>Pernyataan salafy ini menunjukkan kalau  ia memang susah sekali untuk memahami tulisan orang dengan baik.  Sebelumnya kami mengatakan kalau <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>Ibnu Syawdzab tidak mendengar <strong>hadis ini</strong> dari Taubah</em></span>.  Apa buktinya? Buktinya adalah terdapat riwayat kalau Ibnu Syawdzab  mengambil hadis ini dengan perantaraan ketiga syaikh-nya dari Taubah.  Kami pribadi tidak pernah memastikan bahwa Ibnu Syawdzab tidak mendengar  satupun hadis dari Taubah atau Ibnu Syawdzab tidak pernah bertemu  dengan Taubah. Illat [cacat] yang kami sebutkan adalah Ibnu Syawdzab  tidak mendengar hadis ini dari Taubah. Bisa saja dikatakan <em>kalau Ibnu Syawdzab pernah bertemu dengan Taubah Al Anbari</em>,  tetapi ini adalah kemungkinan yang perlu dibuktikan walaupun kami  sendiri tidak menafikan kemungkinan ini. Berbeda halnya dengan salafy  yang dengan angkuhnya mengatakan kalau Taubah ma’ruf dikenal sebagai  syaikh-nya Ibnu Syawdzab padahal kemungkinan irsal tetap ada. Oleh  karena kemungkinan bertemu antara Ibnu Syawdzab dan Taubah itu masih ada  maka kami menggunakan kata-kata tadlis bukan irsal. Sangat maklum kalau  pengertian tadlis adalah seorang perawi semasa dan pernah bertemu  dengan perawi lain tetapi ia meriwayatkan suatu hadis dari perawi lain  tersebut [yang sebenarnya ia dengar melalui perantara] tetapi ia  mengatakan seolah-olah ia mengambil hadis itu langsung dari perawi lain  tersebut.</p>
<p>Yang lebih lucu bin ajaib adalah  perkataan salafy kalau pensifatan tadlis hanya diterima jika ada ulama  yang menjelaskan bahwa ia melakukan tadlis. Lha memangnya seorang ulama  bisa tahu si perawi melakukan tadlis dengan cara apa, wangsit dari  langit, asal tebak sesuai selera, atau sok berasa-rasa. Dalam ilmu hadis  justru disebutkan kalau salah satu cara ulama mensifatkan tadlis kepada  seorang perawi adalah dengan melihat hadis yang ia riwayatkan. Jika  terdapat riwayat bahwa ia membawakan suatu hadis dengan ‘an anah dari  seorang perawi [semasa dan pernah bertemu] dan disaat lain ia  menyebutkan riwayat dengan sima’ langsung melalui perantara dari perawi  tersebut maka orang ini dikatakan melakukan tadlis.</p>
<blockquote><p><em>Kalau hanya sekedar meriwayatkan  secara maushul di satu jalan dan mursal/munqathi’ di jalan yang lain,  itu bukan tadlis namanya. Saya pingin tahu rujukannya di kitab ilmu  hadits yang menjelaskan kaedah aneh ini. Jika ini diterapkan, maka  jumlah perawi mudallis yang ditulis Ibnu Hajar dalam Ath-Thabaqaat akan  bertambah tebal dua kali lipat atau lebih.</em></p></blockquote>
<p>Lha iya, saya juga pingin tahu rujukan  mana yang mengatakan seperti yang salafy katakan itu. Seharusnya salafy  itu memahami dulu tulisan orang lain dengan baik baru membantah. Jika  kasus seperti Ibnu Syawdzab ini tidak dikatakan tadlis dengan alasan <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>mungkin saja Ibnu Syawdzab juga mendengar hadis ini dari Taubah secara langsung</em> </span></span>maka kami katakan dengan cara seperti ini mungkin jumlah perawi  mudallis yang ditulis Ibnu Hajar dalam Ath Thabaqaat akan berkurang dua  kali lipat atau lebih.  Kenapa? karena setiap perawi tidak bisa dituduh  melakukan tadlis [kecuali ia sendiri yang mengaku] bisa saja dikatakan  mungkin saja ia mendengar secara langsung. Kami perjelas kembali jika  ada suatu hadis diriwayatkan oleh seorang perawi [kita sebut A] dengan  dua kondisi</p>
<ul>
<li><em>A meriwayatkan dengan ‘an anah dari B</em></li>
<li><em>A meriwayatkan dengan sima’ langsung dari C dari B</em></li>
</ul>
<p>Maka si A dikatakan melakukan tadlis  dalam riwayat ini. Jika mau dikatakan A juga mendengar langsung hadis  ini dari si B maka harus dicari riwayat  yang memang menyebutkan riwayat  A dari si B dengan lafal sima’ langsung sehingga dari sini baru kita  dapat menyebutkan kalau A mengambil hadis ini secara langsung dari B dan  C sehingga terangkatlah ia dari tuduhan melakukan tadlis dalam hadis  tersebut.</p>
<blockquote><p><em>Ketiga, taruhlah kita terima bahwa  riwayat Al-Fasaawiy di atas munqathi’, justru riwayat Ibnu Syaudzaab  yang secara shaarih berkata : “Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah  bin Al-Qaasim, Mathr, dan Katsiir bin Sahl, dari Taubah Al-‘Anbariy”  menunjukkan penyambungan riwayat munqathi’ tadi.</em></p></blockquote>
<p>Lha iya, justru riwayat inilah yang  langsung kita fokuskan untuk dibahas dan dikritik dengan menunjukkan  illat [cacat] yang berupa <em>kemungkinan kesalahan perawinya yaitu Mathar Al Warraq</em>. Riwayat Al Fasawy langsung kita palingkan pada riwayat Ibnu Syawdzab dari ketiga syaikh-nya.</p>
<blockquote><p><em>Keempat, ‘Abdullah bin Al-Qaasim  adalah seorang yang shaduuq. Mathr Al-Warraaq ini adalah shaduuq, namun  banyak salahnya. Katsiir (bin Ziyaad) Abu Sahl ini adalah seorang yang  tsiqah. Ketiganya meriwayatkan dari Taubah, dari Saalim, dari Ibnu ‘Umar  secara marfuu’. Riwayat ketiganya saling menjadi saksi dengan yang  lain, sehingga tidak ragu untuk mengatakan bahwa riwayat ini shahih.</em></p></blockquote>
<p>Pernyataan ini kembali membuktikan ia  tidak memahami atau tidak berniat mau memahami illat [cacat] yang kami  sebutkan. Satu hal yang harus kami tekankan kembali disini, <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>Ibnu  Syawdzab menggabungkan ketiga sanad dari gurunya itu dalam satu sanad  hadis bukannya membawakan sanad beserta matan hadis dari guru-gurunya  secara terpisah</em></span>. Pada pembahasan sebelumnya kami menunjukkan bahwa dalam penggabungan sanad seperti ini terdapat dua kemungkinan</p>
<ul>
<li><em>Ibnu Syawdzab mendengar langsung  dari ketiga Syaikhnya yaitu Abdullah bin Qasim, Mathr dan Katsir Abu  Sahl dimana ketiganya memang menyebutkan lafaz “Iraq”.</em></li>
<li><em>Ibnu Syawdzab mendengar langsung  dari ketiga syaikhnya dimana lafaz Iraq tersebut hanya berasal dari  salah satu Syaikhnya sehingga disini Ibnu Syawdzab menggabungkan sanad  hadis tersebut dan matan hadis yang berlafaz Iraq berasal dari salah  satu syaikhnya.</em></li>
</ul>
<p>Untuk kemungkinan pertama maka benarlah  apa yang dikatakan oleh salafy itu bahwa ketiga syaikh-nya itu saling  menjadi saksi dengan yang lain. Tetapi mengenai kemungkinan kedua maka  itu tidak bisa, jika lafaz Iraq itu berasal dari Mathar Al Warraq maka  sudah jelas dhaif.</p>
<blockquote><p><em>Oleh karena itu, perkataan : Illat  atau cacat yang ada pada riwayat Ibnu Syawdzab adalah tidak diketahui  dari syaikhnya yang mana lafaz Iraq tersebut berasal; tidak perlu  dihiraukan.</em></p></blockquote>
<p>Silakan saja, sejak kapan salafy itu  menghiraukan argumen orang lain. Pada pembahasan sebelumnya kami telah  menunjukkan kepada pembaca contoh penggabungan sanad seperti ini, kami  tidak keberatan untuk menyebutkannya kembali.</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;">أخبرنا أبو عبد الله الحافظ ثنا أبو علي الحسين بن علي الحافظ أنا <span style="color:#0000ff;">أبو يعلى الموصلي ثنا واصل بن عبد الأعلى و عبد الله بن عمر</span> ثنا محمد بن فضيل عن أبيه قال سمعت سالم بن عبد الله بن عمر يقول :<span style="color:#0000ff;"> يا أهل العراق</span> و ما أسألكم للصغيرة و أركبكم للكبيرة سمعت أبي عبد الله بن عمر يقول :  رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : إن الفتنة تجيء من ها هنا و أومأ  بيده نحو المشرق من حيث يطلع قرنا الشيطان و انتم يضرب بعضكم رقاب بعض و  إنما قتل موسى الذي قتل من آل فرعون خطا فقال الله عز و جل قتلت نفسا  فنجيناك من الغم و فتناك فتونا</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami Abu  ‘Abdullah Al Hafizh yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ali  Husain bin Ali Al Hafizh yang berkata telah menceritakan kepada kami <span style="color:#0000ff;">Abu Ya’la Al Maushulli yang berkata telah menceritakan kepada kami Waashil bin ‘Abdul A’laa dan ‘Abdullah bin ‘Umar </span>berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail, dari  ayahnya yang berkata Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar  berkata <span style="color:#0000ff;">“Wahai penduduk ‘Iraaq</span>,  aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian  untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar  berkata Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda ‘Sesungguhnya  fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari  arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama  lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari  keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla  berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami  selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa  cobaan.” (Thaahaa: 40)”. <strong>[Syu’aib Al Iman Baihaqi 4/346 no 5348].</strong></em></p>
<p><em><strong>.<br />
</strong></em></p>
<p>Pada hadis riwayat Baihaqi ini disebutkan bahwa Abu Ya’la menggabungkan sanad kedua syaikh-nya yaitu <em>Abdullah bin Umar bin Aban </em>dan <em>Washil bin ‘Abdul A’la</em> dengan satu matan hadis. Padahal sebenarnya matan hadis Abdullah bin  Umar bin Aban berbeda dengan matan hadis Washil bin Abdul A’la. Hadis  riwayat Baihaqi di atas yang mengandung lafaz <em>“wahai penduduk irak”</em> adalah matan hadis Abdullah bin Umar bin Aban sedangkan matan hadis Washil bin Abdul A’la tidak ada lafaz <em>“wahai penduduk irak”</em>. Buktinya adalah apa yang tertera dalam Musnad Abu Ya’la</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;">حدثنا واصل بن عبد الأعلى الكوفي</span> حدثنا ابن فصيل عن ابيه عن سالم عن ابن عمر قال سمعت رسول الله  صلى الله  عليه و سلم – يقول : إن الفتنة تجيء من ها هنا وأومأ بيده نحو المشرق حيث  يطلع قرن الشيطان وأنتم يضرب بعضكم بعض رقاب بعض وإنما قتل موسى الذي قتل  من آل فرعون خطأ قال الله له : { وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا }</h2>
<p><em><span style="color:#0000ff;">Telah menceritakan kepada kami Washil bin Abdul A’la Al Kufiy</span> yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail dari ayahnya  dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata aku mendengar Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “‘Sesungguhnya fitnah itu datang  dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua  tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya  membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu  karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan  kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari  kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” <strong>[Musnad Abu Ya’la 9/383 no 5511 dishahihkan oleh Husain Salim Asad]</strong></em></p>
<p><em><strong>.<br />
</strong></em></p>
<h2 style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;">حدثنا عبد الله بن عمر بن أبان</span> حدثنا محمد فضيل عن أبيه قال : سمعت سالم بن عبد الله بن عمر يقول <span style="color:#0000ff;">يا أهل العراق ما أسألكم عن الصغير وأترككم للكبير</span> !  ! سمعت أبي عبد الله بن عمر يقول : سمعت رسول الله ـ صلى الله عليه و سلم ـ  يقول : الفتنة تجيء من ها هنا ـ وأومأ بيده نحو المشرق ـ وأنتم يضرب بعضكم  رقاب بعض وإنما قتل موسى ـ صلى الله عليه و سلم ـ الذي قتل من آل فرعون  خطأ قال الله { وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا }</h2>
<p><em><span style="color:#0000ff;">Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Umar bin Aban</span> yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari  ayahnya yang berkata aku mendengar Salim bin Abdullah bin Umar berkata <span style="color:#0000ff;">“Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar.</span> Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata Aku pernah  mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda  ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke  arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas  leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang  berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza  wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia,  lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan  beberapa cobaan.”<strong> [Musnad Abu Ya’la 9/420 no 5570 dishahihkan oleh Husain Salim Asad]</strong></em></p>
<p><em><strong>.<br />
</strong></em></p>
<p>Perhatikanlah riwayat Baihaqi  sebelumnya, Abu Ya’la menggabungkan sanad hadis dimana ia mengambil  hadis tersebut dari kedua syaikhnya yaitu Abdullah bin Umar bin Aban dan  Washil bin Abdul A’la kemudian meriwayatkan dengan satu matan yang ada  lafaz “wahai penduduk Iraq”. Lafaz ini berasal dari Abdullah bin Umar  bin Aban sedangkan pada riwayat Washil bin Abdul A’la tidak ada lafaz  tersebut. Ini contoh nyata kalau seorang perawi bisa saja menggabungkan  sanad para syaikhnya dan membawakan matan salah satu syaikhnya saja.  Seandainya ini seandainya lho, Abdullah bin Umar bin Aban ini dhaif maka  lafaz tersebut “wahai penduduk Irak…” adalah dhaif. Tidak bisa  dikatakan kalau Washil bin ‘Abdul A’la menjadi saksi atas lafaz tersebut  karena matan hadis Washil tidak memuat lafaz yang dimaksud.</p>
<p>Kembali ke riwayat Ibnu Syawdzab dari ketiga syaikh-nya maka kami katakan <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>tidak ada penjelasan dari Ibnu Syawdzab kalau lafaz tersebut milik syaikh-nya yang mana</em>.</span> Bisa saja memang dari ketiga syaikh-nya tetapi bisa saja dari salah  satu syaikhnya. Poin kami disini kemungkinan dhaif itu ada apalagi <em>Ibnu Syawdzab terbukti melakukan tadlis</em> maka bisa saja disini lafaz matan itu milik Mathar Al Waraaq tetapi  Ibnu Syawdzab menggabungkan sanadnya dengan syaikh-nya yang lain.</p>
<blockquote><p><em>Anehnya, ada metode pilih-pilih  perawi saat orang itu berkata : Terdapat kemungkinan kalau riwayat Ibnu  Syawdzab dengan lafaz Iraq ini berasal dari Mathar bin Thahman Al Warraq  dan disebutkan Ibnu Hajar kalau ia seorang yang shaduq tetapi banyak  melakukan kesalahan [At Taqrib 2/187]. Mengapa harus Mathar bin Thahmaan  ? Ya, karena ia adalah perawi yang paling mungkin untuk dijadikan  alasan pendla’ifan. Padahal, sanad hadits itu satu, dimana Mathar ini  diikuti (punya mutaba’ah) dari ‘Abdullah bin Al-Qaasim dan Katsiir bin  Ziyaad Abu Sahl.</em></p></blockquote>
<p>Lucu sekali salafy ini, kami telah panjang lebar menjelaskan dan jelas-jelas kami katakan disitu <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>terdapat <strong>kemungkinan</strong> kalau lafaz tersebut berasal dari Mathar Al Warraq</em>.</span> Kami tidak berani memastikan tetapi kami menunjukkan kemungkinan ini apalagi telah kami kutip perkataan Abu Nu’aim</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;">كذا رواه ضمرة عن ابن شوذب عن توبة  ورواه الوليد بن مزيد عن ابن شوذب عن مطر عن توبة</h2>
<p><em>Begitulah riwayat Dhamrah dari Ibnu  Syawdzab dari Taubah dan telah meriwayatkan Walid bin Mazyad dari Ibnu  Syawdzab dari Mathar dari Tawbah<strong> [Hilyatul Auliya 6/133]</strong></em></p>
<p><em><strong>.<br />
</strong></em></p>
<p>Perhatikan baik-baik disini Abu Nu’aim  hanya menyebutkan Mathar padahal setelah itu ia menyebutkan hadis Ibnu  Syawdzab dari ketiga syaikh-nya. Mengapa Abu Nu’aim hanya menyebutkan  Mathar dalam komentarnya di atas?. Mengapa Abu Nu’aim tidak menyebutkan  Abdullah bin Qasim dan Katsir Abu Sahl?. Abu Nu’aim pilih-pilih perawi?.  Bagi kami disini terdapat isyarat kalau matan tersebut adalah milik  Mathar Al Warraq. Kemungkinan dhaif yang kami paparkan disini menjadi  illat [cacat] karena hadis ini bertentangan dengan hadis shahih kalau  tempat keluarnya fitnah tersebut adalah Najd. Jadi pada awalnya kami  menganggap hadis Iraq matannya mungkar sehingga kemungkinan dhaif atau  illat yang seperti itu sudah cukup menjadi alasan kalau hadis tersebut  tidak bisa dijadikan hujjah</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis Salim bin ‘Abdullah bin Umar</strong></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبدالله بن عمر بن أبان وواصل بن  عبدالأعلى وأحمد بن عمر الوكيعي ( واللفظ لابن أبان ) قالوا حدثنا ابن فضيل  عن أبيه قال سمعت سالم بن عبدالله بن عمر يقول<span style="color:#0000ff;"> يا أهل العراق ما أسألكم عن الصغيرة وأركبكم للكبيرة </span> سمعت أبي عبدالله بن عمر يقول سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول إن  الفتنة تجئ من ههنا وأومأ بيده نحو المشرق من حيث يطلع قرنا الشيطان وأنتم  يضرب بعضكم رقاب بعض وإنما قتل موسى الذي قتل من آل فرعون خطأ فقال الله  عز و جل له { وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا } [ 20 / طه / 40 ]  قال أحمد بن عمر في روايته عن سالم لم يقل سمعت</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, Waashil bin ‘Abdul A’laa, dan Ahmad bin  ‘Umar Al Wakii’iy [dan lafaznya adalah lafaz Ibnu Abaan] ketiganya  berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail, dari ayahnya yang  berkata Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata <span style="color:#0000ff;">“Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar.</span> Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata Aku pernah  mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda  ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke  arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas  leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang  berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza  wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia,  lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan  beberapa cobaan.” [Thaahaa: 40]”. Berkata Ahmad bin Umar dalam  riwayatnya dari Salim tanpa mengatakan “aku mendengar”<strong> [Shahih Muslim 4/2228 no 2905].</strong></em></p>
<p><em><strong>.<br />
</strong></em></p>
<p>Hadis ini shahih dan menunjukkan kalau  Salim bin ‘Abdullah bin Umar sedang mengingatkan penduduk Iraq atas  sikap mereka. Perhatikan baik-baik perkataan Salim terhadap penduduk  Iraq hanya berupa kata-kata <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>“Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar”</em></span> selebihnya ia menyebutkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  tentang fitnah sampai akhir hadis. Jadi sangat wajar kalau kami katakan  Salim sedang mengingatkan atas sikap penduduk Irak karena sikap mereka  tersebut dapat menimbulkan fitnah.</p>
<blockquote><p><em>Adapun perkataannya bahwa perkataan  tabi’in tidak menjadi hujjah, maka ini bukan konteksnya. Konteks yang  berlaku di sini adalah perkataan Saalim diterima dalam penafsiran  hadits. Asal perkataan perawi terhadap hadits yang dibawakannya lebih  didahulukan daripada selainnya. Ini yang ma’ruf.</em></p></blockquote>
<p>Silakan saja, sebagai suatu penafsiran  maka itu mengandung kemungkinan benar atau salah. Apalagi jika hadis  yang dimaksud terkait dengan ramalan maka penafsiran Salim tidak  bersifat mutlak. Kaidah <em>perkataan perawi terhadap hadis yang dibawakannya lebih didahulukan</em> jelas tidak relevan disini karena perkara yang ada dalam hadis Salim  adalah Nubuwat atau ramalan, bisa jadi si perawi kurang memahami hadis  tersebut karena dimasa ia hidup belum nampak nubuwatnya. Diketahui dari  hadis shahih yang diriwayatkan oleh Salim sendiri bahwa arah timur yang  dimaksud dalam hadis tanduk setan adalah <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>arah matahari terbit</em></span> sedangkan<span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"> <em>Irak tidak terletak pada arah matahari terbit dari Madinah</em>.</span> Berdasarkan fakta yang ada sekarang Irak terletak di arah timur laut  yang lebih dekat ke utara dari Madinah. Sejak kapan matahari terbit dari  arah ini di madinah. Silakan bagi siapa yang berminat untuk pergi ke  Madinah dan lihat dimana arah matahari terbit disana, kemudian teruslah  berjalan menelusuri arah itu. Apakah akan sampai di Irak? silakan  pembaca menjawabnya sendiri.</p>
<p>Lagipula terdapat hadis lain riwayat  Nafi dari Ibnu Umar kalau tempat yang dimaksud adalah Najd dan ini  sesuai dengan hadis Salim bahwa tempat tersebut terletak pada arah  matahari terbit dari Madinah. Jadi bisa saja Salim tidak mengetahui  dengan tepat arah yang dimaksud [karena keterbatasan ilmu alam saat itu]  dan bisa saja Salim tidak mengetahui hadis Najd yang diriwayatkan oleh  Nafi’. Yang ia tahu adalah hadis dengan lafaz timur sehingga ia  menafsirkan timur disini bisa termasuk Irak. Oleh karena itu kami  katakan <em><span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;">perkataan tabiin  tidak menjadi hujjah disini karena yang menjadi hujjah adalah hadis  shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam</span>.</em> Terakhir ada  hadis pamungkas yang dijadikan hujjah oleh salafiyun bahwa timur yang  dimaksud Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Iraq.</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا بن نمير ثنا حنظلة عن سالم بن عبد الله بن عمر عن بن عمر قال رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم <span style="color:#0000ff;">يشير بيده يؤم العراق</span> ها ان الفتنة ههنا ها ان الفتنة ههنا ثلاث مرات من حيث يطلع قرن الشيطان</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  ‘Abdullah telah menceritakan kepadaku ayahku [Ahmad bin Hanbal] yang  berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair yang berkata telah  menceritakan kepada kami Hanzalah dari Salim bin ‘Abdullah bin Umar dari  Ibnu Umar yang berkata “aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wasallam <span style="color:#0000ff;">mengisyaratkan tangannya ke Iraq</span> [dan bersabda] “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, tiga kali dari arah munculnya tanduk setan” <strong>[Musnad Ahmad 2/143 no 6302]</strong></em></p>
<p><em><strong>.<br />
</strong></em></p>
<p><strong>Hadis ini khata’ [salah] </strong>dan  kesalahan ini kemungkinan berasal dari Ibnu Numair [atau bisa saja  terjadi tashif]. Telah diriwayatkan dari Salim, Nafi dan Abdullah bin  Dinar dari Ibnu Umar <em>semuanya dengan lafaz timur </em>dan telah diriwayatkan dari jama’ah tsiqat dari Salim hadis tersebut semuanya dengan lafaz <em>“timur”</em> bukan Iraq bahkan Hanzalah bin Abi Sufyan sendiri juga meriwayatkan dari Salim hadis dengan<em> lafaz timur.</em> Disebutkan dalam Shahih Muslim 4/2228 no 2905 dan Musnad Ahmad 2/40 no  4980 riwayat Ishaq bin Sulaiman dari Hanzalah bin Abi Sufyan dari Salim  dari ayahnya secara marfu’ dengan lafaz timur</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا إسحاق بن  سليمان سمعت حنظلة سمعت سالما يقول سمعت عبد الله بن عمر يقول رأيت رسول  الله صلى الله عليه و سلم <span style="color:#0000ff;">يشير إلى المشرق</span> أو قال إن رسول الله صلى الله  عليه و سلم يشير إلى المشرق يقول ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا من حيث يطلع الشيطان قرنيه</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata  telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sulaiman yang berkata aku  mendengar Hanzalah berkata aku mendengar Salim berkata aku mendengar  Abdullah bin Umar berkata “aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wasallam <span style="color:#0000ff;">mengisyaratkan tangannya ke arah timur</span> atau [Ibnu Umar] berkata  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya ke arah timur dan bersabda “ fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan”<strong> [Musnad Ahmad 2/40 no 4980]</strong></em></p>
<p><em><strong>.<br />
</strong></em></p>
<p>Riwayat Ishaq bin Sulaiman Ar Razi dari  Hanzalah ini sesuai dengan riwayat shahih yang lain dimana disebutkan  dengan lafaz timur. Ishaq bin Sulaiman adalah seorang yang tsiqat dan  memiliki keutamaan [At Taqrib 1/81] sedangkan Abdullah bin Numair adalah  seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/542]. Jadi riwayat Ishaq bin Sulaiman  dari Hanzalah lebih didahulukan daripada riwayat Ibnu Numair.</p>
<p>Selain itu bukti kalau hadis ini khata’  adalah pada hadis Muslim dimana Salim mengingatkan penduduk Iraq, Salim  sendiri tidak mengutip hadis ini padahal hadis ini mengandung lafaz  Iraq. Salim malah membawakan hadis dengan lafaz timur yang menunjukkan  bahwa lafaz timur itulah yang tsabit sedangkan lafaz Iraq adalah  kesalahan dari perawinya. Bukankah kalau mau mengingatkan penduduk Irak  maka digunakan hadis yang memang menunjukkan kata Irak. Ada baiknya  salafy itu melihat hadis berikut</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا موسى بن إسماعيل حدثنا جويرية، عن نافع، عن عبد الله رضي الله عنه قال قام النبي صلى الله عليه وسلم خطيبا، <span style="color:#0000ff;">فأشار نحو مسكن عائشة</span>، فقال هنا الفتنة – ثلاثا – من حيث يطلع قرن الشيطان</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami Musa  bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami Juwairiah dari  Nafi’ dari ‘Abdullah radiallahu’anhu yang berkata Nabi shallallahu  ‘alaihi wasallam berdiri menyampaikan khutbah kemudian Beliau <span style="color:#0000ff;">berisyarat menunjuk tempat tinggal Aisyah</span> dan berkata “disini fitnah” tiga kali dari arah munculnya tanduk setan <strong>[Shahih Bukhari no 2937]</strong></em></p>
<p><em><strong>.<br />
</strong></em></p>
<p>Hadis dengan lafaz seperti ini anehnya  ditolak oleh para salafiyun dengan alasan telah diriwayatkan oleh  jama’ah dengan lafaz timur dan itulah yang tsabit. Pada hadis ini  dikatakan kalau yang sebenarnya ditunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi  wasallam adalah arah timur. Kalau tempat tinggal Aisyah yang sangat  dekat itu saja bisa terjadi salah persepsi maka apalagi hadis dengan  lafaz Iraq. Karena telah ma’ruf bahwa Iraq itu terletak sangat jauh dari  Madinah. Jadi jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengarahkan  tangannya ke suatu arah maka yang dipersepsi oleh mereka yang melihat  adalah arah seperti arah timur atau barat. Jika memang tempatnya dekat  seperti rumah Aisyah ra, rumah Hafsah ra atau rumah salah satu sahabat  ra maka mereka yang melihat dapat mengetahui bahwa Nabi shallallahu  ‘alaihi wasallam memang menunjuk ke tempat tersebut. Tetapi jika tempat  yang dimaksud adalah Iraq yang jauh sekali dari Madinah,<span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"> <em>bagaimana  mungkin orang tahu kalau yang ditunjuk oleh Nabi shallallahu ‘alaihi  wasallam adalah Iraq padahal dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wasallam tidak ada disebutkan Iraq</em></span>, disinilah keanehan lafaz  tersebut. Sudah jelas bahwa hadis-hadis shahih dari Ibnu Umar [termasuk  riwayat Salim] menyebutkan kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  mengisyaratkan tangannya ke arah timur dan timur yang dimaksud disini  adalah arah matahari terbit arah munculnya tanduk setan dan sekali lagi  Irak tidak terletak pada arah matahari terbit dari Madinah.</p>
<p>Soal pernyataan salafy bahwa para ulama  terdahulu menjelaskan kalau tempat yang dimaksud adalah Irak maka kami  katakan terdapat juga ulama yang mengatakan kalau tempat yang ada pada  hadis fitnah itu adalah tepat di timur Madinah termasuk Najd. Kami  sebelumnya sudah mengutip pernyataan <span style="color:#0000ff;">Ibnu Hibban </span>dimana ia setelah mengutip hadis tanduk setan menyebutkan kalau timur  yang dimaksud adalah timur madinah yaitu bahrain tempat keluarnya  Musailamah yang pertama kali membuat bid’ah di dalam islam dengan  mengaku sebagai Nabi [Shahih Ibnu Hibban 15/24 no 6648]</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong><strong> </strong></p>
<p><strong>Kesimpulannya</strong> hadis  tanduk setan dengan lafaz Iraq tidaklah shahih baik dari segi matan  maupun sanad, sebagiannya dhaif dan sebagian mengandung illat.  Seandainya kita menutup mata terhadap illat [cacat] tersebut, itu tetap  saja tidak mendukung hujjah salafy. Karena itu berarti ada dua hadis  yang menunjukkan tempat munculnya fitnah yaitu Najd dan Irak. Jika kedua  hadis tersebut diterima maka ada dua tempat dimana munculnya fitnah  yang dimaksud oleh hadis tersebut yaitu<span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"> <em>Najd dan Irak</em></span>. Sedangkan logika salafy kalau <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>Najd adalah Irak</em></span> sudah jelas fallacy. Adakah salafy memahami hal ini? Tidak tidak dan  tidak, sejak kapan salafy bisa memahami logika berpikir yang baik.  Kebanyakan mereka hanya sibuk membaca kitab dan sibuk membantah  disana-sini tapi cara berpikir benar tidak dipelajari dengan baik.  Akibatnya sangat susah berdialog dengan mereka yang ngaku-ngaku salafy,  sudah ditunjukkan kalau mereka fallacy ya tetap tidak paham dan  berulang-ulang mereka membantah kembali hal yang sama. <strong>Salam Damai</strong></p>
<p><strong>____________________</strong></p>
<p><span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><strong>TULISAN TERKAIT</strong></span></p>
<ol>
<li><a href="http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/01/11/hadis-tanduk-setan-kontroversi-najd-dan-iraq/" target="_blank"><span style="color:#0000ff;">Hadis Tanduk Setan : Kontroversi Najd dan Iraq?</span></a></li>
<li><a href="http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/01/11/analisis-hadis-tanduk-setan-najd-bukan-iraq/" target="_blank"><span style="color:#0000ff;">Analisis Hadis Tanduk Setan : Najd Bukan Iraq</span></a></li>
</ol>
<p><span style="color:#008000;"><strong><br />
</strong></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bicarasalafy.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bicarasalafy.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bicarasalafy.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bicarasalafy.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bicarasalafy.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bicarasalafy.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bicarasalafy.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bicarasalafy.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bicarasalafy.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bicarasalafy.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bicarasalafy.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bicarasalafy.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bicarasalafy.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bicarasalafy.wordpress.com/320/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=320&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/01/13/membantah-abu-jauza-najd-bukan-iraq-bantahan-bagi-salafy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/257bb80357a13f2016c61cc444aa4943?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bicarasalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Analisis Hadis Tanduk Setan : Najd Bukan Iraq</title>
		<link>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/01/11/analisis-hadis-tanduk-setan-najd-bukan-iraq/</link>
		<comments>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/01/11/analisis-hadis-tanduk-setan-najd-bukan-iraq/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Jan 2011 16:01:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bicarasalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Berdialog Dengan Bloger Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Bloger Bicara Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bicarasalafy.wordpress.com/?p=315</guid>
		<description><![CDATA[Analisis Hadis Tanduk Setan : Najd Bukan Iraq SUMBER: Analisis Pencari Kebenaran . Oleh J Algar Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya, yang akan membahas lebih rinci bahwa tempat yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah Najd bukan Iraq. Tulisan ini juga akan membahas lebih rinci mengenai hadis Iraq yang sering dijadikan hujjah oleh salafiyun. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=315&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#800000;"><strong>Analisis Hadis Tanduk Setan : Najd Bukan Iraq</strong></span></p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2010/10/05/analisis-hadis-tanduk-setan-najd-bukan-iraq/" target="_blank"><span style="color:#0000ff;">Analisis Pencari Kebenaran</span></a></strong></p>
<p><strong>.</strong><strong><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong><span style="color:#008000;"><strong>Oleh J Algar</strong></span></p>
<p>Tulisan ini adalah lanjutan dari <a href="http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/01/11/hadis-tanduk-setan-kontroversi-najd-dan-iraq/" target="_blank"><span style="color:#0000ff;">tulisan  sebelumnya,</span></a> yang akan membahas lebih rinci bahwa tempat yang dimaksud  dalam hadis tersebut adalah Najd bukan Iraq. Tulisan ini juga akan  membahas lebih rinci mengenai hadis Iraq yang sering dijadikan hujjah  oleh salafiyun. <span id="more-315"></span></p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;">وحدثني حرملة بن يحيى أخبرنا ابن وهب  أخبرني يونس عن ابن شهاب عن سالم بن عبدالله عن أبيه أن رسول الله صلى الله  عليه و سلم قال وهو  مستقبل المشرق ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا  ها إن الفتنة ههنا من  حيث يطلع قرن الشيطان</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepadaku Harmalah  bin Yahya yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb yang  berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Salim bin  ‘Abdullah dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  berkata dan Beliau menghadap kearah timur “fitnah datang dari sini,  fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, dari arah munculnya  tanduk setan” <strong>[Shahih Muslim 4/2228 no 2905]</strong></em></p>
<p>.</p>
<p>Hadis ini juga diriwayatkan dalam Shahih  Bukhari 4/181 no 3511 dan Sunan Tirmidzi 4/530 no 2268 dengan jalan  dari Ibnu Syihab Az Zuhri dari Salim dari ayahnya secara marfu’. Az  Zuhri memiliki mutaba’ah yaitu Hanzalah bin ‘Abi Sufyan sebagaimana yang  disebutkan dalam Shahih Muslim 4/2228 no 2905 dan Musnad Ahmad 2/40 no  2980 dengan jalan dari Ishaq bin Sulaiman dari Hanzalah dari Salim dari  ayahnya secara marfu’.</p>
<p>Kemudian Az Zuhri juga memiliki  mutaba’ah dari Fudhail bin Ghazwan dari Salim dari ayahnya secara marfu’  sebagaimana yang disebutkan dalam Musnad Abu Ya’la 9/383 no 5511 dengan  sanad yang shahih. Dan dari Ikrimah bin ‘Ammar dari Salim dari ayahnya  Ibnu Umar secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim  4/2228 no 2905. Dan dari Umar bin Muhammad bin Zaid Al Madini dari Salim  dari ayahnya secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan dalam Musnad  Abdu bin Humaid 1/241 no 739 dengan sanad yang shahih. Az Zuhri, Ikrimah  bin ‘Ammar, Hanzalah, Fudhail dan Umar bin Muhammad semuanya  meriwayatkan dari Salim dari Ibnu Umar dari Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wasallam dengan lafaz bahwa<span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"> <em>fitnah tersebut datang dari Timur.</em></span></p>
<p>Salim bin ‘Abdullah bin Umar memiliki  mutaba’aah dari Nafi’ dan ‘Abdullah bin Dinar. Diriwayatkan dari Nafi’  dari Ibnu Umar secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih  Muslim 4/2228 no 2905, Musnad Ahmad 2/18 no 4679 dan Musnad Ahmad 2/91  no 5659.</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا قتيبة بن سعيد حدثنا ليث ح وحدثني  محمد بن رمح أخبرنا الليث عن نافع عن ابن عمر أنه سمع رسول الله صلى الله  عليه و سلم وهو مستقبل المشرق يقول ألا إن الفتنة ههنا ألا إن الفتنة ههنا  من حيث يطلع قرن الشيطان</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  Qutaibah bin Sa’id yang berkata menceritakan kepada kami Laits. Dan  telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh yang berkata telah  mengabarkan kepada kami Laits dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang mendengar  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Beliau menghadap ke Timur  seraya bersabda “dari sini fitnah, dari sini fitnah dari arah munculnya  tanduk setan” <strong>[Shahih Muslim 4/2228 no 2905]</strong></em></p>
<p>Diriwayatkan dari Malik dari ‘Abdullah  bin Dinar dari Ibnu Umar secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan dalam  Al Muwatta 2/975 no 1757, Musnad Ahmad 2/73 no 5428, Shahih Ibnu Hibban  15/24 no 6648 dan Shahih Bukhari 4/123 no 3279</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;">حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ  عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ  عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى  اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشِيرُ إِلَى الْمَشْرِقِ فَقَالَ هَا إِنَّ  الْفِتْنَةَ هَا هُنَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَا هُنَا مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ  قَرْنُ الشَّيْطَانِ</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  ‘Abdullah bin Maslamah dari Malik dari ‘Abdullah bin Dinar dari  ‘Abdullah bin Umar radiallahu ‘anhuma yang berkata aku melihat  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya ke  timur dan berkata “fitnah akan datang dari sini, fitnah akan datang dari  sini dari arah munculnya tanduk setan” <strong>[Shahih Bukhari 4/123 no 3279]</strong></em></p>
<p>.</p>
<p>Sebagaimana yang terlihat Salim bin  ‘Abdullah, Nafi’ dan Abdullah bin Dinar semuanya meriwayatkan dari Ibnu  Umar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan lafaz bahwa<span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"> <em>fitnah tersebut datang dari timur dari arah munculnya tanduk setan</em>.</span> Secara zahir jelas arah yang dimaksud adalah tepat arah timur Madinah  yaitu arah matahari terbit karena dari arah itulah munculnya tanduk  setan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:</p>
<h2 style="text-align:right;">قال صل صلاة الصبح ثم أقصر عن الصلاة حتى تطلع الشمس حتى ترتفع فإنها تطلع حين تطلع بين قرني شيطان</h2>
<p><em>[Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wasallam] bersabda “kerjakanlah shalat shubuh kemudian tahanlah dari  mengerjakan shalat hingga matahari terbit sampai tinggi karena matahari  terbit diantara dua tanduk setan. <strong>[Shahih Muslim 1/569 no 832]</strong></em></p>
<p>.</p>
<p>Hal ini juga selaras dengan hadis shahih  yang menyebutkan kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap  kearah matahari terbit seraya mengucapkan <em>“fitnah datang dari sini”.</em> Hadis tersebut telah diriwayatkan dengan jalan yang shahih dari Uqbah  bin Abi Shahba’ dari Salim dari ayahnya secara marfu’ sebagaimana yang  disebutkan dalam Musnad Ahmad 2/72 no 5410</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله ثنا أبي ثنا أبو سعيد مولى  بنى هاشم ثنا عقبة بن أبي الصهباء ثنا سالم عن عبد الله بن عمر قال صلى  رسول الله صلى الله عليه و سلم الفجر ثم سلم فاستقبل مطلع الشمس فقال ألا  ان الفتنة ههنا ألا ان الفتنة ههنا حيث يطلع قرن الشيطان</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  ‘Abdullah yang menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah  menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla bani hasyim yang berkata telah  menceritakan kepada kami Uqbah bin Abi Shahba’ yang berkata telah  menceritakan kepada kami Salim dari ‘Abdullah bin Umar yang berkata  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat fajar  kemudian mengucapkan salam dan menghadap kearah matahari terbit seraya  bersabda “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah  munculnya tanduk setan” <strong>[Musnad Ahmad 2/72 no 5410]</strong></em></p>
<p>.</p>
<p>Hadis ini sanadnya shahih. Telah diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat [terpercaya].<span style="color:#0000ff;"><em> Abu Sa’id mawla bani hasyim</em></span> adalah <span style="color:#0000ff;"><em>Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ubaid Al Bashri</em></span>. Ahmad bin Hanbal,  Ibnu Ma’in, Ath Thabrani, Al Baghawi, Daruquthni dan Ibnu Syahin  menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 6 no 429]. Adz Dzahabi menyatakan ia  seorang yang hafizh dan tsiqat [Al Kasyf no 3238]. <span style="color:#0000ff;"><em>Uqbah bin Abi Shahba’ </em></span>telah  dinyatakan Ahmad bin Hanbal sebagai seorang syaikh yang shalih. Ibnu  Ma’in menyatakan ia tsiqat dan Abu Hatim berkata “tempat kejujuran” [Al  Jarh Wat Ta’dil 6/312 no 1738]. Hadis ini dengan jelas menyebutkan kalau  arah yang dimaksud adalah arah timur yaitu arah matahari terbit.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis Dengan Lafaz Najd </strong></p>
<p>Kemudian telah disebutkan dengan sanad  yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kalau tempat  yang dimaksud adalah Najd. Diriwayatkan dari Husain bin Hasan dari Ibnu  ‘Aun dari Nafi dari Ibnu Umar secara marfu’ [Shahih Bukhari 2/33 no  1037] dan dari Azhar bin Sa’d dari Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar  secara marfu’ [Shahih Bukhari 9/54 no 7094]</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;">حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى  قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ  عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي  شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ  اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا  وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا  يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami  Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun  dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi  wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam  kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”.  Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah  muncul tanduk setan” <strong>[Shahih Bukhari 2/33 no 1037]</strong></em></p>
<p>.</p>
<p>Hadis ini menjelaskan kalau tempat  munculnya fitnah yang dimaksud adalah Najd dan Najd memang terletak  tepat di timur Madinah pada arah matahari terbit dari Madinah. Najd yang  dimaksud dalam hadis ini adalah Najd yang memang sudah ada pada zaman  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Disebutkan dalam salah satu hadis  shahih bahwa Yamamah termasuk Najd dan penduduknya dari bani hanifah  termasuk penduduk Najd.</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;">أخبرنا قتيبة حدثنا الليث عن سعيد بن أبي  سعيد أنه سمع أبا هريرة يقول بعث رسول الله صلى الله عليه وسلم خيلا قبل  نجد فجاءت برجل من بني حنيفة يقال له ثمامة بن آثال سيد أهل اليمامة فربط  بسارية من سواري المسجد مختصر</h2>
<p><em>Telah mengabarkan kepada kami  Qutaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Laits dari Sa’id  bin Abi Sa’id yang mendengar Abu Hurairah berkata Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wasallam mengutus pasukan berkuda ke Najd kemudian pasukan ini  datang dengan membawa seorang laki-laki dari Bani Hanifah yang bernama  Tsumamah bin Utsal pemimpin penduduk Yamamah kemudian diikat di salang  satu tiang masjid, demikian secara ringkas. <strong>[Shahih Sunan Nasa’i Syaikh Al Albani no 712]</strong></em></p>
<p>.</p>
<p>Salafy merasa sangat keberatan kalau  Najd yang dimaksud dalam hadis tanduk setan tersebut adalah Najd yang  terletak tepat di timur Madinah. Salafy melakukan pembelaan dengan  mencatut hadis-hadis yang menunjukkan bahwa tempat yang dimaksud adalah  Iraq. Secara zahir, Iraq tidak terletak di arah timur Madinah. Iraq  tidak terletak di arah matahari terbit dari Madinah. Dari Madinah, Iraq  terletak di arah timur laut yang lebih dekat ke utara. Jadi dari segi  matan sudah jelas <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>hadis Iraq bermatan mungkar </em></span>karena bertentangan dengan dalil shahih dan fakta yang ada.</p>
<p>Salafy berapologi kalau Iraq juga  termasuk timur Madinah karena pada zaman dulu orang arab tidak mengenal  arah timur laut yang ada pada zaman dulu hanya arah timur dan barat.  Pernyataan ini jelas tidak bisa dijadikan hujjah karena telah disebutkan  dalam dalil yang shahih bahwa arah timur yang dimaksud adalah arah  matahari terbit dan telah disebutkan dalam dalil shahih bahwa arah  munculnya tanduk setan adalah pada arah matahari terbit. Arah matahari  terbit adalah tepat di arah timur dan Iraq tidak terletak di arah ini  dari Madinah.</p>
<p>Selain itu tidak jarang salafy mencatut  para ulama seperti Al Khattabi, Al Kirmany dan Syaikh Mahmud Syukri Al  Alusy. Kami katakan pendapat ulama tidak menjadi hujjah jika  bertentangan dengan dalil yang shahih. Ditambah lagi terdapat ulama yang  justru menyatakan bahwa arah timur yang dimaksud terletak tepat di  timur Madinah, Ibnu Hibban setelah mengutip hadis tanduk setan tersebut  menyebutkan kalau timur yang dimaksud adalah timur madinah yaitu bahrain  tempat keluarnya Musailamah yang pertama kali membuat bid’ah di dalam  islam dengan mengaku sebagai Nabi [Shahih Ibnu Hibban 15/24 no 6648].  Tidak diragukan lagi tempat keluarnya Musailamah ini adalah Najd dan ia  sendiri termasuk penduduk Najd.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis Dengan Lafaz Iraq</strong></p>
<p>Selain memiliki matan yang mungkar,  hadis-hadis yang dijadikan hujjah oleh salafy tersebut tidaklah shahih  dan mengandung illat [cacat] pada sanadnya. Berikut adalah hadis-hadis  yang dijadikan hujjah oleh salafy.</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا الحسن بن علي المعمري ثنا إسماعيل بن  مسعود ثنا عبيد الله بن عبد الله بن عون عن أبيه عن نافع عن ابن عمر أن  النبي صلى الله عليه وسلم قال اللهم بارك لنا في شامنا، اللهم بارك في  يمننا، فقالها مراراً، فلما كان في الثالثة أو الرابعة، قالوا يا رسول  الله! وفي عراقنا؟ قال إنّ بها الزلازل والفتن، وبها يطلع قرن الشيطان</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  Hasan bin Ali Al-Ma’mariy yang berkata telah menceritakan kepada kami  Ismaail bin Mas’ud yang berkata telah menceritakan kepada kami  ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Aun dari ayahnya, dari Naafi’ dari Ibnu  ‘Umar bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah,  berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan pada Yamaan kami”.  Beliau [shallallaahu ‘alaihi wa sallam ] mengatakannya beberapa kali.  Ketika beliau mengatakan yang ketiga kali atau yang keempat, para  shahabat berkata “Wahai Rasulullah, dan juga Iraq kami?”. Beliau  bersabda  “Sesungguhnya di sana terdapat kegoncangan dan fitnah, dan  disanalah akan muncul tanduk setan” <strong>[Mu’jam Al Kabiir Ath Thabrani 12/384 no 13422].</strong></em></p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis ini tidak shahih</strong>.  Hadis ini mengandung illat [cacat] Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Aun  dalam periwayatan dari Ibnu ‘Aun telah menyelisihi para perawi tsiqat  yaitu Husain bin Hasan [At Taqrib 1/214] dan ‘Azhar bin Sa’d [At Taqrib  1/74]. Kedua perawi tsiqat ini menyebutkan lafaz Najd sedangkan  Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Aun menyebutkan lafaz Iraq. Ubaidillah  bukan seorang yang tsiqat, Bukhari berkata “dikenal hadisnya” [Tarikh Al  Kabir juz 5 no 1247], Abu Hatim berkata “shalih al hadits” [Al Jarh Wat  Ta’dil 5/322 no 1531] dimana perkataan shalih al hadits dari Abu Hatim  berarti hadisnya dapat dijadikan i’tibar tetapi tidak bisa dijadikan  hujjah. Jika perawi seperti Ubadilillah ini menyelisihi perawi yang  tsiqat maka hadisnya tidak dapat dijadikan hujjah dan mesti ditolak.</p>
<p>Pernyataan bahwa hadis Ubadilillah tidak  bertentangan melainkan menafsirkan hadis Najd sehingga Najd yang  dimaksud adalah Iraq merupakan pernyataan yang bathil. Najd adalah Najd  sedangkan Iraq adalah Iraq. Najd yang dimaksud dalam hadis tanduk setan  adalah nama suatu negeri yang memang sudah ada di zaman Nabi shallallahu  ‘alaihi wasallam, oleh karena itu para sahabat menyebutnya “Najd kami”.  Lihat saja matan hadisnya yang dengan jelas menyebutkan <em><span style="text-decoration:underline;color:#800000;">Negeri Syam dan Yaman kemudian sahabat bertanya bagaimana dengan Najd kami, jadi Najd </span>disini adalah nama suatu negeri</em>. Pada zaman itu tidak ada yang menyebut Iraq sebagai Najd bahkan telah terbukti dengan <a href="http://secondprince.wordpress.com/2010/09/21/hadis-tanduk-setan-kontroversi-najd-dan-iraq/" target="_blank"><em>dalil shahih bahwa Najd dan Iraq adalah dua tempat yang berbeda</em></a>. Jadi menyatakan Najd adalah Iraq jelas tidak berdasar sama sekali.</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا علي بن سعيد قال نا حماد بن إسماعيل  بن علية قال نا ابي قال نا زياد بن بيان قال نا سالم بن عبد الله بن عمر عن  ابيه قال صلى النبي صلى الله عليه و سلم صلاة الفجر ثم انفتل فأقبل على   القوم فقال اللهم بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مدنا وصاعنا اللهم بارك  لنا في شامنا ويمننا فقال رجل والعراق يا رسول الله فسكت ثم قال اللهم  بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مدنا وصاعنا اللهم بارك لنا في حرمنا  وبارك لنا في شامنا ويمننا فقال رجل والعراق يا رسول الله قال من ثم يطلع  قرن الشيطان وتهيج الفتن</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  ‘Ali bin Sa’id yang berkata telah menceritkankepada kami Hammaad bin  Ismaa’iil bin ‘Ulayyah yang berkata telah menceritakan kepada kami  ayahku yang berkata telah mencertakan kepada kami Ziyaad bin Bayaan  yangberkata telah menceritakan kepada kami Saalim bin ‘Abdillah bin  ‘Umar dari ayahnya yang berkata Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam  pernah shalat shubuh, kemudian berdoa, lalu menghadap kepada  orang-orang. Beliau bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami  pada Madinah kami berikanlah keberkatan kepada kami pada mudd dan shaa’  kami. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan  Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata “dan ‘Iraq, wahai Rasulullah ?”.  Beliau diam, lalu bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami  pada Madinah kami berikanlah keberkatan kepada kami pada mudd dan shaa’  kami. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada tanah Haram kami,  dan berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”.  Seorang laki-laki berkata “dan ‘Iraq, wahai Rasulullah ?”. Beliau  bersabda “dari sana akan muncul tanduk setan dan bermunculan fitnah” <strong>[Mu'jam Al Awsath Ath Thabraani 4/245 no 4098]. </strong><br />
</em>.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Hadis ini tidak shahih</strong>. Hadis ini juga mengandung illat  [cacat]. Ziyaad bin Bayaan dikatakan oleh Adz Dzahabi “tidak shahih  hadisnya”. Bukhari berkata “dalam sanad hadisnya perlu diteliti kembali”  [Al Mizan juz 2 no 2927] ia telah dimasukkan Adz Dzahabi dalam kitabnya  Mughni Ad Dhu’afa no 2222 Al Uqaili juga memasukkannya ke dalam Adh  Dhu’afa Al Kabir 2/75-76 no 522. Perawi dengan kedudukan seperti ini  tidak bisa dijadikan hujjah apalagi jika ia meriwayatkan kabar yang  menyelisihi kabar shahih kalau daerah yang dimaksud adalah Najd bukan  Iraq sebagaimana yang diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Nafi’.</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا محمد بن عبد العزيز الرملي حدثنا  ضمرة بن ربيعة عن ابن شوذب عن توبة العنبري عن سالم عن ابن عمر قال قال  رسول الله صلى الله عليه وسلم اللهم بارك لنا في مدينتنا وفي صاعنا، وفي  مدِّنا وفي يمننا وفي شامنا. فقال الرجل يا رسول الله وفي عراقنا ؟ فقال  رسول الله صلى الله عليه وسلم بها الزلازل والفتن، ومنها يطلع قرن الشيطان</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  Muhammad bin ‘Abdul Aziiz Ar Ramliy yang berkata telah menceritakan  kepada kami Dhamrah bin Rabi’ah dari Ibnu Syaudzab dari Taubah Al  Anbariy dari Salim dari Ibnu ‘Umar yang berkata Rasulullah shallallaahu  ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami  pada Madinah kami, pada shaa’ kami, pada mudd kami, pada Yaman kami, dan  pada Syaam kami”. Seorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, dan pada  ‘Iraaq kami ?”. Beliau menjawab “di sana terdapat kegoncangan dan  fitnah dan di sana pula akan muncul tanduk setan” <strong>[ Ma’rifah Wal Tarikh Yaqub Al Fasawiy 2/746-747]</strong></em><strong><br />
</strong>.</p>
<p>Pada<a href="http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/01/11/hadis-tanduk-setan-kontroversi-najd-dan-iraq/" target="_blank"><span style="color:#0000ff;"> tulisan sebelumnya</span></a> kami menganggap tidak ada masalah pada sanad  hadis ini kecuali Taubah Al Anbary yang dikenal tsiqat tetapi dinyatakan  mungkar al hadits oleh Al Azdy. Setelah kami teliti kembali ternyata <strong>hadis ini juga mengandung illat [cacat] </strong>yaitu  Ibnu Syaudzab tidak mendengar hadis ini dari Taubah Al Anbary, ia  melakukan tadlis yaitu menghilangkan nama gurunya yang meriwayatkan dari  Taubah Al Anbary.</p>
<p>Hadis dengan matan seperti di atas  diriwayatkan juga dari Walid bin Mazyad Al Udzriy Al Bayruuti dari  Abdullah bin Syaudzaab dari Abdullah bin Qasim, Mathr, Katsir Abu Sahl  dari Taubah Al Anbary dari Salim dari ayahnya secara marfu’ sebagaimana  yang disebutkan oleh Al Fasawi dalam Ma’rifat Wal Tarikh 2/747, Ath  Thabrani dalam Musnad Asy Syamiyyin 2/246 no 1276, Ibnu Asakir dalam  Tarikh Dimasyq 1/130-131 dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya 6/133.</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله بن العباس بن الوليد بن  مزيد البيروتي حدثني أبي أخبرني أبي حدثني عبد الله بن شوذب حدثني عبد الله  بن القاسم ومطر الوراق وكثير أبو سهل عن توبة العنبري عن سالم بن عبد الله  بن عمر عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال اللهم بارك في مكتنا  وبارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في شامنا وبارك لنا في يمننا اللهم بارك  لنا في صاعنا وبارك لنا في مدنا فقال رجل يا رسول الله وعراقنا فأعرض عنه  فرددها ثلاثا وكان ذلك الرجل يقول وعراقنا فيعرض عنه ثم قال بها الزلازل  والفتن وفيها يطلع قرن الشيطان</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  Abdullah bin ‘Abbas bin Walid bin Mazyad Al Bayruutiy yang berkata telah  menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepadaku  Abdullah bin Syawdzab yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah  bin Qasim, Mathr Al Waraaq dan Katsir Abu Sahl dari Taubah Al Anbariy  dari Salim bin Abdullah bin Umar dari ayahnya bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan  kepada Mekkah kami, dan berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah  kami, pada shaa’ kami, pada mudd kami, pada Yaman kami, dan pada Syaam  kami”. Seorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, dan pada ‘Iraaq kami  ?”. Beliau menjawab “di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di  sana pula akan muncul tanduk setan” <strong>[Musnad Asy Syamiyyin Thabrani 2/246 no 1276]</strong><br />
</em>.</p>
<p>Dengan mengumpulkan semua hadis riwayat Ibnu Syaudzab maka diketahui kalau<span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"> <em>Ibnu Syaudzab terbukti melakukan tadlis</em>.</span> Riwayatnya dari Taubah Al Anbary dengan ‘an ‘anah ternyata ia dengar  dari Syaikhnya Abdullah bin Qasim, Mathr dan Katsir Abu Sahl. Ada  sedikit perbedaan lafaz antara riwayat Ibnu Syawdzab dari Taubah Al  Anbary dan riwayat Ibnu Syawdzab dari ketiga syaikhnya dari Taubah Al  Anbary yaitu pada riwayat dimana Ibnu Syawdzab menyebutkan mendengar  langsung dari Syaikhnya terdapat lafaz “ya Allah berilah keberkatan pada  Mekkah kami” sedangkan pada riwayat an ‘an ah Ibnu Syaudzab dari Taubah  Al Anbary tidak terdapat lafaz tersebut.</p>
<p>Illat atau cacat yang ada pada riwayat Ibnu Syawdzab adalah <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>tidak diketahui dari syaikhnya yang mana lafaz Iraq tersebut berasal</em>.</span> Disini terdapat kemungkinan</p>
<ul>
<li>Ibnu Syawdzab mendengar langsung dari  ketiga Syaikhnya yaitu Abdullah bin Qasim, Mathr dan Katsir Abu Sahl  dimana ketiganya memang menyebutkan lafaz “Iraq”.</li>
<li>Ibnu Syawdzab mendengar langsung dari  ketiga syaikhnya dimana lafaz Iraq tersebut hanya berasal dari salah  satu Syaikhnya sehingga disini Ibnu Syawdzab menggabungkan sanad hadis  tersebut dan matan hadis yang berlafaz Iraq berasal dari salah satu  syaikhnya.</li>
</ul>
<p>Terdapat kemungkinan kalau riwayat Ibnu Syawdzab dengan lafaz Iraq ini berasal dari <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>Mathar bin Thahman Al Warraq </em></span>dan  disebutkan Ibnu Hajar kalau ia seorang yang shaduq tetapi banyak  melakukan kesalahan [At Taqrib 2/187]. Abu Nu’aim ketika membawakan  riwayat Ibnu Syawdzab dari Taubah Al Anbary, ia berkata</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;">كذا رواه ضمرة عن ابن شوذب عن توبة  ورواه الوليد بن مزيد عن ابن شوذب عن مطر عن توبة</h2>
<p><em>Begitulah riwayat Dhamrah dari  Ibnu Syawdzab dari Taubah dan telah meriwayatkan Walid bin Mazyad dari  Ibnu Syawdzab dari Mathr dari Tawbah <strong>[Hilyatul Auliya 6/133]<br />
</strong></em><br />
Setelah itu Abu Nu’aim mengutip <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>riwayat Ibnu Syawdzab dari ketiga syaikhnya di atas</em>.</span> Jadi kemungkinan besar lafaz Iraq pada hadis ini berasal dari Mathr bin  Thahman. Dan telah ditunjukkan bahwa riwayat yang tsabit sanadnya  adalah <em>riwayat shahih dari Nafi’ dengan lafaz Najd.</em> Oleh karena itu matan hadis ini mungkar lafaz yang benar hadis ini  adalah Najd dan lafaz Iraq kemungkinan berasal dari kesalahan perawinya  yaitu Mathr bin Thahman syaikhnya Ibnu Syawdzab.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Peringatan Salim Terhadap Penduduk Iraq</strong></p>
<p>Ada hadis lain yang dijadikan hujjah  salafy untuk menyatakan kalau tempat tanduk setan yang dimaksud adalah  Iraq yaitu hadis Salim bin Abdullah bin Umar berikut</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبدالله بن عمر بن أبان وواصل بن  عبدالأعلى وأحمد بن عمر الوكيعي ( واللفظ لابن أبان ) قالوا حدثنا ابن فضيل  عن أبيه قال سمعت سالم بن عبدالله بن عمر يقول يا أهل العراق ما أسألكم عن  الصغيرة وأركبكم للكبيرة سمعت أبي عبدالله بن عمر يقول سمعت رسول الله صلى  الله عليه و سلم يقول إن الفتنة تجئ من ههنا وأومأ بيده نحو المشرق من حيث  يطلع قرنا الشيطان وأنتم يضرب بعضكم رقاب بعض وإنما قتل موسى الذي قتل من  آل فرعون خطأ فقال الله عز و جل له { وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك  فتونا } [ 20 / طه / 40 ] قال أحمد بن عمر في روايته عن سالم لم يقل سمعت</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, Waashil bin ‘Abdul A’laa, dan Ahmad bin  ‘Umar Al Wakii’iy [dan lafaznya adalah lafaz Ibnu Abaan] ketiganya  berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail, dari ayahnya yang  berkata Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata “Wahai  penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak  mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku,  Abdullah bin ‘Umar berkata Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu  ‘alaihi wa salam bersabda ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia  menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk  setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh  orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak  sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah  membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan  Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” [Thaahaa: 40]”. Berkata  Ahmad bin Umar dalam riwayatnya dari Salim tanpa mengatakan “aku  mendengar”<strong>[Shahih Muslim 4/2228 no 2905].</strong></em></p>
<p>.</p>
<p>Jika dilihat baik-baik tidak ada  penunjukkan bahwa timur yang dimaksud oleh Nabi shallallahu ‘alaihi  wasallam adalah Iraq. Disini Salim bin Abdullah bin Umar mengingatkan  penduduk Iraq bahwa terdapat hadis Nabi akan ada fitnah yang datang dari  arah timur.  Oleh karena itu Salim memberi peringatan kepada penduduk  Iraq agar mereka tidak menjadi fitnah yang dimaksud dalam hadis  tersebut. Telah lazim kalau mengingatkan seseorang bukan berarti menuduh  orang tersebut. Lagipula perkataan seorang tabiin tidaklah menjadi  hujjah jika telah jelas dalil shahih dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi  wasallam. Bisa jadi Salim tidak mengetahui hadis shahih dari Ibnu Umar  kalau tempat yang dimaksud adalah Najd sebagaimana yang telah  diriwayatkan dari Nafi’.</p>
<p>Hadis ini juga menjadi bukti kelemahan  hadis Ibnu Syawdzab dari Taubah Al Anbary. Perhatikanlah hadis riwayat  Muslim tersebut ia menggabungkan sanad hadis dimana ia mengambil hadis  tersebut dari ketiga syaikhnya yaitu <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>Abdullah bin Umar bin Aban, Washil bin Abdul A’la dan Ahmad bin Umar</em></span><em>.</em> kemudian meriwayatkan dengan satu matan yang ada lafaz  <em>“<span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;">wahai penduduk Iraq”</span>.</em><em> </em>Lafaz ini berasal dari Abdullah bin Umar bin Aban sedangkan pada riwayat Washil bin Abdul A’la tidak ada lafaz tersebut.</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا واصل بن عبد الأعلى الكوفي حدثنا ابن  فصيل عن ابيه عن سالم عن ابن عمر قال سمعت رسول الله  صلى الله عليه و سلم  – يقول : إن الفتنة تجيء من ها هنا وأومأ بيده نحو المشرق حيث يطلع قرن  الشيطان وأنتم يضرب بعضكم بعض رقاب بعض وإنما قتل موسى الذي قتل من آل  فرعون خطأ قال الله له : { وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا }</h2>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami  Washil bin Abdul A’la Al Kufiy yang berkata telah menceritakan kepada  kami Ibnu Fudhail dari ayahnya dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata  aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda  “‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke  arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas  leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang  berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza  wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia,  lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan  beberapa cobaan.” <strong>[Musnad Abu Ya’la 9/383 no 5511 dishahihkan oleh Husain Salim Asad]</strong></em></p>
<p>.</p>
<p>Jadi perkara perawi menggabungkan sanad  para syaikh-nya dengan mengambil satu matan saja dari salah satu  syaikh-nya adalah perkara yang ma’ruf dalam ilmu hadis. Jika semua  syaikh-nya itu perawi yang tsiqat tsabit maka tidak ada masalah tetapi  jika salah satu syaikh-nya dhaif atau banyak melakukan kesalahan maka  lafaz matan tersebut mengandung kemungkinan dhaif. Inilah illat [cacat]  yang ada pada riwayat Ibnu Syawdzab.</p>
<p>Selain itu bukti kalau hadis dengan  lafaz Iraq [riwayat Ibnu Syawdzab] tidak tsabit sampai ke Salim bin  ‘Abdullah dapat dilihat dalam hadis Muslim di atas dimana ketika Salim  mengingatkan penduduk Iraq, ia malah membawakan <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>hadis tanduk setan dengan lafaz timur</em>.</span> Kalau memang terdapat hadis tanduk setan dengan lafaz Iraq maka mengapa  pada saat itu Salim bin Abdullah bin Umar tidak menyebutkan hadis itu,  ia malah menyebutkan hadis tanduk setan dengan lafaz timur. Bukankah  sangat cocok kalau mau mengingatkan penduduk Iraq dengan hadis yang  memang mengandung lafaz Iraq?. Jadi Salim sendiri tidak mengetahui  adanya hadis tanduk setan dengan lafaz Iraq sehingga ketika ia  mengingatkan penduduk Iraq, ia malah mengutip hadis tanduk setan dengan  lafaz timur.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Berdasarkan penjelasan di atas maka tempat yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai <em>tempat munculnya atau datangnya fitnah adalah Najd di sebelah timur Madinah.</em> Hadis Najd telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih lagi tsabit  sedangkan hadis Iraq diriwayatkan dengan sanad yang tidak shahih dan  mengandung illat [cacat]. Dengan menerapkan metode tarjih maka Hadis  Najd lebih layak dijadikan pegangan sedangkan hadis Iraq tertolak dan  matannya dinilai mungkar. <strong>Salam Damai</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bicarasalafy.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bicarasalafy.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bicarasalafy.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bicarasalafy.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bicarasalafy.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bicarasalafy.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bicarasalafy.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bicarasalafy.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bicarasalafy.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bicarasalafy.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bicarasalafy.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bicarasalafy.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bicarasalafy.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bicarasalafy.wordpress.com/315/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bicarasalafy.wordpress.com&amp;blog=2363439&amp;post=315&amp;subd=bicarasalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/01/11/analisis-hadis-tanduk-setan-najd-bukan-iraq/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/257bb80357a13f2016c61cc444aa4943?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bicarasalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
